• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V: KESIMPULAN

3. Apakah Netlabel Masih Bertahan di Masa Depan?

Sejauh ini saya masih bertanya-tanya apakah netlabel masih bisa terus bertahan di masa depan? Atau apakah netlabel akan memiliki wajah baru di masa depan? Berkaitan dengan pertanyaan tersebut saya teringat pada Wok The Rock yang dalam wawancara mengatakan, netlabel ini hanya sebuah alat atau tools yang tidak lebih dari teknologi komputer. Ketika di masa depan ada teknologi baru lagi, saya akan beralih menggunakan teknologi baru tersebut. Yang penting adalah passion saya untuk membuat perusahaan rekaman.” Dari pernyataan tersebut kita bisa melihat

bahwa modernitas dan perkembangan teknologi sangat berpengaruh terhadap tindakan seseorang. Ketika di masa depan ditemukan teknologi baru dalam dunia rekaman maka teknologi tersebut akan menyebar dan digunakan secara luas. Dengan kata lain, modernitas selalu berubah-ubah, baik itu teknologi informasi ataupun teknologi yang berhubungan dengan mesin.

Saat ini teknologi tersebut berkembang sangat cepat, melebihi batas-batas yang terjadi sebelumnya. Modernitas bersifat tidak bisa diprediksi karena keterbatasan dan pemicu yang berbeda-beda. Netlabel di masa depan akan

mempunyai wajah baru, atau mungkin tidak lagi menggunakan nama netlabel. Tidak ada yang mampu memprediksi ke mana arah modernitas yang terjadi, seperti yang

diungkapkan Sindhunata mengenai moderntas, “Dunia ini berlari. Lebih tepat lagi:

dunia ini tunggang-langgang. Artinya, begitu mau dipegang, dunia ini luput seperti

belut.”58

Penelitian ini memperlihatkan peran teknologi dalam proses pembentukan budaya. Ditinjau dari perkembangan teknologi rekaman, perubahan yang terjadi saat ini mungkin saja memiliki dampak yang lebih besar daripada ketika ditemukan alat perekam untuk pertama kalinya. Ketika ditemukan alat perekam untuk pertama kalinya musik menjadi bentuk komersil dan objek kapitalisme. Namun dengan ditemukannya teknologi internet kita mampu menduplikasi musik dengan mudah. Hal yang menjadi kekhawatiran korporat musik kini tidak dapat dihindari lagi, yaitu musik tidak bisa lagi dijual. Musik kembali menjadi produk yang bebas dinikmati oleh semua orang. Semua orang berhak berkarya, semua orang berhak menentukan pilihan musik yang ingin didengarkan, semua orang memiliki kebebasan yang sama dalam mendistribusikan musiknya melalui internet. Semua hal tersebut dapat dilakukan dimanapun, kapanpun, dan oleh siapapun. Semua orang memiliki kesempatan yang sama di era digital seperti saat ini. Kita sedang berada dalam sebuah era baru: Era Demokratisasi Musik!

58

GLOSARIUM

Band: Kumpulan yang terdiri atas dua atau lebih musisi yang memainkan alat musik. CD: Sebuah cakram optik yang digunakan untuk menyimpan data digital

DIY: Singkatan dari Do It Yourself; suatu etos kemandirian yang dimiliki oleh pegiat-pegiat subculture musik indie.

Download: Untuk menyalin data dari sumber utama ke perangkat periferal

eMusik: Toko musik online yang beroperasi dengan berlangganan. Pengguna eMusic berlangganan secara bulanan dengan fasilitas mengunduh yang tetap per bulannya dengan menggunakan mp3 player.

Indie: Sebuah gerakan bermusik yang mengandung perlawanan

Perusahaan rekaman indie: Perusahaan rekaman indie juga disebut minor label. Suatu perusahaan rekaman yang dibentuk secara swadaya.

Internet: Jaringan global yang menghubungkan jutaan komputer. Lebih dari 100 negara terhubung ke jaringan ini.

iPod: Media player portabel yang dirancang dan dipasarkan oleh Apple Inc

iTunes: Sebuah media player yang dibuat oleh Apple Computer yang digunakan untuk memainkan file musik atau video digital.

Kaset: Format rekaman audio dan playback.

Major Label: Perusahaan yang memiliki modal besar dan berorientasi pada profit. MP3: Jenis teknologi yang memungkinkan musik atau file audio untuk dikompresi ke

dalam jumlah yang sangat kecil tetapi dengan kualitas suara tetap terjaga. Napster: Layanan musik online. Layanan musik ini didirikan sebagai file layanan

internet sharing peer-to-peer yang menekankan berbagi file audio dalam format MP3.

Netlabel: Perusahaan rekaman yang mendistribusikan musik format audio digital melalui Internet.

Piringan hitam: Media penyimpanan suara analog yang terdiri dari piringan pipih dengan alur spiral tertulis dan termodulasi.

RBT (Ring Back Tone): Dering suara yang terdengar pada saluran telepon oleh pihak penelepon setelah panggilan dan sebelum panggilan dijawab

Tape recorder: Perangkat penyimpanan audio yang mencatat dan memainkan kembali suara.

Turntable: Perangkat yang diperkenalkan pada tahun 1877 untuk rekaman dan mereproduksi rekaman suara.

Daftar Pustaka

Appadurai, Arjun. 1996. Modernity at Large: Cultural dimensions of Globalization.

Mineapolis: University of Minnesota.

BASIS. Edisi Khusus Anthony Giddens, Januari- Februari tahun 2000. Yogyakarta. Bennet, Toni, dkk. 1993. Rock and Polular Music: Politics, Policies, and Institution.

New York: Rouledge.

Budiarto , Teguh. 2001. Musik Modern dan Ideologi Pasar. Yogyakarta:Tarawang Press.

Burnett, Robert. 1996. The Global Jukebox. London: Rouledge. Castells , Manuel. 1997. The Power of Identity. Oxford: Blackwell.

Connell, John dan Chris Gibson .2003.Sound Track : Popular Music, Identity and Place London: Rouledge.

Danet, Brenda dan Susan C. Herring. 2007. The Multilingual Internet : Language,

Culture and Comunication Online. New York: Oxford.

Giddens, Anthony. 1990. The Consequences of Modernity, Cambridge: Polity Press. Giddens, Anthony. 1993. Modernity And Identity: Self and Society in the Modern

Age. Cambridge: Blackwell Publisher.

Hebdige, Dick. 1979. Subculture: The Meaning Of Style. Routledge, London and New York.

Hebdidge, Dick. 2000. Cut and Mix : Culture, Identity and Carebean Music. New York: Rouledge.

Kim, Minjeong . (2007). The Creative Commons Liscense and Copyright Protection in The Digital Era: Uses of Creative Commons License Licenses. Journal of Computer-Mediated Communication, 13(1), article 10.

Machin , David .2010.Analyzing Popular Music: Image, Sound, and Text

Pitt, Ivan. L. 2010. Economic Analisis of Musical Copyright. New York: Springer. Pramudito, Andaru. 2010. Free Culture Sebagai Alternatif Dalam Gerakan Musik

Swadaya (Studi Kasus Netlabel Yes No Wave Music). Jakarta: Universitas Indonesia.

Putranto, Wendi. 2009 . Rolling Stone Music Biz, Manual Cerdas Mengusai Bisnis Musik Yogyakarta : Bentang Pustaka.

Redhead, Steve. 1997. Subculture to Clubculture. Massachusetts: Blackwell Publisher Ltd

Rez , Idhar .2008. Musik Records, Indie Label. Bandung: Dar! Mizan.

Rosen, Ronald S. 2008. Music and Copyright. New York: Oxford University Press, Inc.

Sauko, Paula. 2003. Doing Research in Cultural Studies. London: SAGE. Soetomo, Greg. 2003. Krisis Seni Krisis Kesadaran. Kanisius. Yogyakarta

Storey, John. 1996. Cultural Studies and the Study of Popular Culture: Theories and Methods. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Tschmuck , Peter. 2006. Creativity and Innovation in the Music Industry. Netherland: Springer.

www.creativecommons.org

Lampiran

Berikut ini adalah nama-nama narasumber yang berhasil diwawancarai. Wawancara dilakukan secara tatap muka dan menggunakan media internet (email dan facebook). Konsumen Netlabel

1. Iman Distraktor 2. Wafig Giotama 3. Alvan Ahmad Rahadi 4. Wednes Mandra 5. Pika

6. Indra Menus 7. Rifki

8. Yogi Surya Adam 9. Doan Mitasari 10.Eko marjani Musisi Netlabel

1. Denda Omnivora and The White Liar 2. ZOO

3. To-Die 4. Sabarbar 5. Belkastrelka Pemilik Netlabel

1. Wok The Rock (Yes No Wave Music) 2. Rizkan Al Maududi (Stone Age Records) 3. Arie Mindblasting (Mindblasting Records) 4. Hilman Fathoni (Ear Alert Records)