BAB III: KEGAGALAN MODERNITAS DALAM TEKNOLOGI MUSIK DI
1. Keterbatasan Expert System dan Symbolic Tokens di Indonesia
Seperti yang sudah saya jelaskan pada Bab II, yang dimaksud dengan expert
system adalah sistem canggih yang memungkinkan terjadinya mekanisme
pencabutan. Berkaitan dengan pembahasan ini, yang disebut expert system adalah komputer dan koneksi Internet yang cepat. Expert system memungkinkan manusia melakukan kegiatan secara efektif dan efisien. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi tidak hanya mempermudah hubungan masyarakat, tetapi juga mengubah keseluruhan kehidupan masyarakat global sampai pada lingkupnya yang paling kecil, yaitu individu.
Modernitas memungkinkan terjadinya pemampatan ruang dan waktu. Berkat teknologi internet kita dapat menikmati musik tanpa batas ruang dan waktu. Sebagai contoh ketika koneksi internet lancar konsumen dengan mudah melakukan streaming
lagu yang mereka inginkan, mungkin saja bersamaan dengan orang yang jaraknya sangat jauh dan berbeda zona waktu. Sebaliknya, tanpa expert system atau teknologi canggih, modernitas juga akan terhambat.
Bagian ini akan menjelaskan perilaku konsumen yang lebih memilih mengunduh lagu daripada streaming. Streaming adalah kegiatan mendengarkan
musik dengan menggunakan koneksi internet. Ketika tidak ada koneksi internet
streaming tidak mungkin dilakukan. Ketika koneksi Internet lancar maka streaming
dapat dilakukan dengan mudah, tetapi berbeda dengan kondisi yang terjadi di Indonesia. Di Indonesia koneksi internet tidak selalu lancar dan tidak mudah diakses. Karena itulah ketika koneksi internet lancar maka konsumen menggunakan kesempatan tersebut untuk mengunduh musik. Dengan mengunduh musik maka konsumen bisa menyimpan data dalam bentuk MP3 di komputer dan dapat diputar sewaktu-waktu tanpa harus terhubung dengan koneksi Internet.
Koneksi internet yang tidak lancar dan tidak mudah diakses menyebabkan konsumen musik lebih memilih mengunduh daripada streaming. Hal itu dapat kita lihat dari hasil wawancara berikut ini:
Ya jelas memilih unduh dong. Soalnya biar bisa diputar berulang-ulang kalo
Streaming kan enggak, terus kadang suka buffering ketika koneksi internetnya lagi
lemot.(Iman Distractor) 29
Hal senada juga diungkapkan oleh konsumen musik yang lain seperti berikut:
Lebih memilih download karena musik yang di download bisa disimpan dalam komputer dalam jangka waktu tidak terbatas dan suka-suka, kalau Streaming repot harus masang jaringan internet dulu untuk bisa Streaming dan tidak efisien (Yogi Surya) 30
Ada juga konsumen musik yang berpendapat sebagai berikut:
Rilisan Netlabel itu seperti merchandise. Terutama bagian info/artwork artist tersebut. Selain itu bisa disimpan di gadget dan memperdengarkannya ke teman-teman. (Wafig Giotama) 31
29
Iman Distractor adalah seorang pemerhati dan penikmat musik. Iman juga seorang penulis fanzine musik yang bernama Distractor.
30
Yogi Surya adalah konsumen musik sekaligus musisi yang tergabung dalam band Indie yang bernama Energy Nuclear.
31
Wafig Giotama adalah konsumen musik sekaligus musisi yang tergabung dalam band Indie yang bernama Answer Sheet.
Kutipan pertama dan kedua di atas menjelaskan bahwa koneksi internet yang menjadi alasan narasumber memilih mengunduh sebuah lagu daripada streaming. Selain itu dengan mengunduh lagu, narasumber dapat mendengarkan lagu yang diunduh berulang-ulang. Sedangkan kutipan ketiga memaparkan bahwa mendengarkan musik melalui netlabel tidak hanya sekadar mendengarkan musiknya saja. Terdapat kepuasan lain ketika konsumen juga dapat menyimpan atau membaca rilisan dari netlabel itu sendiri.
Dari kutipan-kutipan di atas saya melihat kegagalan expert system di Indonesia, yaitu ketika expert system tidak tersedia, masyarakat Indonesia membuat caranya sendiri yaitu mengunduh. Saya mengamati bahwa mengunduh itu memerlukan waktu, jadi tidak dapat dinikmati saat itu juga. Maksud saya ketika melakukan streaming dengan koneksi yang lancar, kita dapat menikmati musik tersebut pada saat itu juga tetapi dengan mengunduh orang perlu menunggu hasil yang diunduh lalu memutarnya. Dengan begitu dapat kita simpulkan bahwa kegagalan expert system juga berakibat pada gagalnya disembedding mechanisms
atau mekanisme pencabutan. Dengan gagalnya disembedding mechanisms modernitas juga terhambat karena ruang dan waktu tidak benar-benar tercabut. Maksudnya, dalam kondisi modernitas yang dibayangkan Giddens ruang dan waktu benar-benar tercabut, tetapi ketika expert system terganggu, mekanisme pencabutan ruang dan waku juga terganggu.
Giddens juga berbicara tentang arti kedirian dalam kondisi masyarakat modern. Bagi saya kebiasaan mengunduh merupakan bagian dari pembentukan identitas baru yang terjadi karena kegagalan expert system di Indonesia. Berkat expert system masyarakat modern memberikan kehidupan yang efektif dan lebih mudah, tetapi ketika expert system berkembang begitu pesat di satu bidang tanpa diikuti perkembangan yang pesat dibidang lain, maka mansyarakat akan membuat caranya sendiri untuk beradaptasi. Dalam hal ini teknologi informasi berkembang cepat, teknologi komputer berkembang pesat dan teknologi mendengarkan musik berkembang pesat tetapi teknologi dalam hal koneksi internet terganggu maka masyarakat berusaha menemukan celah untuk mengatasinya. Dalam hal ini ketika
expert system tidak bekerja dengan baik, tidak dimungkinkan melakukan streaming, karena itu untuk menikmati lagu tersebut konsumen menggunakan cara lain yaitu mengunduh.
Di sini netlabel berelasi erat dengan media internet. Keberadaan netlabel tidak dapat dilepaskan dari perkembangan media internet yang saat ini sedang berkembang pesat. Di sini internet sangat berpengaruh terhadap penyebaran musik dan konsumsi musik di Indonesia. Perkembangan netlabel di Indonesia juga tak dapat dipisahkan dari perkembangannya di dunia. Dalam salah satu wawancara saya dengan Wok The Rock, dia mengatakan bahwa mendapatkan ide mendirikan netlabel berasal dari keinginan dia untuk menyalurkan hasrat bermusiknya. Dalam pencarian di internet, Wok The Rock menemukan ide mengenai netlabel yang sudah ada di luar negeri. Wok The Rock bercerita sebelum mendirikan netlabel, dulu dia mempunyai
perusahaan rekaman yang merilis rekaman musik. Tetapi dengan perkembangan teknologi internet dan perubahan mengkonsumsi musik maka dia memutuskan untuk mendirikan netlabel. Menurutnya hal tersebut dipengaruhi oleh mudahnya akses internet dan kemudahan mendistribusikan musik melalui internet.
Dalam salah satu wawancara Wok The Rock menceritakan pengalamannya mengunduh lagu, seperti yang diungkapkan dibawah ini:
Dulu untuk mengunduh lagu tu susah, biasanya mengunduh hanya satu lagu, itupun kualitasnya jelek. Lalu muncul Rapidshare dan web yang menyediakan jasa pengunduhan. Baru setelah itu bisa download full album dengan kualitas bagus. (Wok The Rock)
Dari pernyataan Wok The Rock tersebut saya melihat bahwa modernitas mengubah segala tatanan sosial dari kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut terjadi secara ekstensif dan intensif. Perubahan secara ekstensif berarti perubahan tersebut meliputi batas wilayah geografis yang tak terbatas. Sedangkan perubahan intensif berarti perubahan tersebut juga terjadi dalam wilayah paling intim dalam kehidupan sehari-hari, termasuk identitas diri. Dalam kasus ini perkembangan teknologi berimbas pada perubahan mengkonsumsi musik secara global tanpa dibatasi oleh wilayah geografis. Hampir semua wilayah di dunia mengkonsumsi musik secra digital dan itu membentuk identitas baru dalam mengkonsumsi musik. Hal tersebut dapat kita lihat dari pengalaman Wok The Rock bahwa pada awalnya mengunduh lagu itu susah namun ketika muncul website pengunduhan yang memungkinkan menunduh full album maka kondisi saat itu berubah. Menurut saya perubahan tersebut terjadi secara ekstensif, maksudnya perubahan yang terjadi dalam
dunia internet secara global juga berpengaruh pada cara Wok The Rock mengkonsumsi musik. Ketika di dunia muncul website yang menyediakan jasa mengunduh musik full album maka akan lebih mudah pula bagi Wok The Rock untuk mendapatkan musik yang ia inginkan.
Wok The Rock juga mengungkapkan bahwa dia ingin membuat sebuah perusahaan rekaman yang dikemas secara bagus, Ia ingin membuat perusahaan rekaman berbasis internet yang gratis dan legal, seperti yang diungkapkan sebagai berikut:
Saya pernah mengunduh musik melalui iTunes dan kualitasnya sama dengan kita mengunduh Ilegal, MP3 128kbps, ya akhirnya saya males dong, apa bedanya sama yang Ilegal. Koneksi internet di sini juga ga memungkinkan untuk streming terus-terusan. Makanya saya ingin membuat perusahaan rekaman yang memungkinkan pengunduhan gratis, legal dan dengan semangat berbagi. (Wok The Rock)
Hal serupa juga diungkapkan oleh Arie Mindblasting. Ari adalah pendiri sekaligus pemilik netlabel Mindblasting yang berbais di Jember.
Sebelumnya yang jadi masalah adalah di mana saya bisa menyimpan musik di ranah internet dengan bebas dan gratis tanpa batasan waktu. Beberapa kali saya coba menyimpan file di beberapa filehoster gratisan. Akan tetapi ternyata dibatasi oleh waktu, selama 30 hari sudah di hapus atau delete dan berbagai masalah seperti, host
yang drop, berat untuk diakses dan sebagainya. (Arie Mindblasting)
Dari kutipan-kutipan di atas kita dapat melihat kegagalan expert system terjadi secara luas di Indonesia. Expert system berupa internet mengalami kendala yaitu koneksi yang lambat membuat konsumen musik di Indonesia kesulitan ketika ingin mendengarkan musik dengan cara streaming. Selain kegagalan expert system
mengenai koneksi, Kegagalan expert system lainnya mengenai berbagai masalah
system tersebut maka Wok The Rock dan Arie Mindblasting berusaha menemukan caranya sendiri dalam mendistribusikan musik mereka, yaitu membuat netlabel.
Selain tidak sempurnanya expert system di Indonesia, keterbatasan symbolic
tokens juga mempengaruhi perkembangan modernitas di Indonesia. Symbolic tokens
adalah media tukar yang dapat diterima oleh semua kelompok masyarakat, atau dalam hal ini adalah uang. Bukti bahwa symbolic tokens berpengaruh dalam perkembangan modernitas yaitu ketika konsumen tidak mengunduh melalui portal musik legal seperti iTunes karena mereka menganggap harga perlagu terlalu mahal dan tidak memiliki akses berupa kartu kredit. Namun konsumen juga mengunduh secara ilegal karena dianggap mudah. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapakan Ahmad Alvan Rahadi berikut ini:
Saya belum punya Pay Pal dan kartu kredit untuk iTunes, jadi saya download ilegal. Sudah sejak beberapa tahun yang lalu, dulu pake tape, nggak ada perbedaan kok. Cuma lebih simple aja karena nggak perlu muter bolak-balik kaset tape (Ahmad Alvan Rahadi) 32
Dalam kutipan di atas Alvan mengemukakan bahwa mengonsumsi musik dengan cara mengunduh dirasa lebih mudah daripada mengkonsumsi lagu melalui kaset (fisik). Di sini, Alvan lebih menekankan segi kepraktisan. Namun kita bisa melihat dari wawancara tersebut bahwa konsumen musik di Indonesia memiliki kesulitan dalam mengkonsumsi musik secara legal. Konsumen memiliki keterbatasan dalam pembayaran, dalam hal ini PayPal.
32
Ahmad Alvan Rahadi adalah penikmat musik sekaligus aktif dalam pergerakan musik indie di Malang.
Menurut saya itulah salah satu penyebab tidak meratanya modernitas di Indonesia karena salah satu syarat modernitas tidak terpenuhi, yaitu symbolic tokens. Dengan tidak tersedianya symbolic tokens tersebut, konsumen memilih mengunduh musik secara ilegal. Yang menarik dari pengamatan saya adalah teknologi pembayaran digital seperti PayPal diciptakan untuk mempermudah transaksi pembayaran, tetapi dalam kasus ini hal tersebut justru menjadi penghambat dalam transaksi pembayaran. Dalam hal ini saya melihat bahwa modernitas yang terjadi juga merupakan sebuah diskriminasi, maksud saya teknologi yang seharusnya menjadi solusi justru menimbulkan masalan baru. Seperti yang diungkapkan Giddens, modernitas yang terus berkembang membuat masyarakat tenggelam dalam masalah yang ingin diatasi.
Kegagalan expert system dan tidak memadainya symbolic tokens di Indonesia berpengaruh pada refleksifitas sebagai faktor yang mempengaruhi modernitas. Menurut Giddens (1990: 18) refleksifitas merupakan praktek sosial yang terus berubah berdasarkan informasi yang datang. Refleksifitas merujuk pada praktek keseharian yaitu pengalaman kita saat mengubah keputusan kita karena adanya informasi yang baru. Praktek keseharian atau realitas yang terjadi di Indonesia terbentuk karena kegagalan expert system dan tidak memadainya symbolic tokens. Kegagalan expert system dan tidak memadainya symbolic tokens memaksa orang untuk mencari cara-cara baru mengonsumsi musik, termasuk bila cara itu sebenarnya
pandang terhadap dunia sekitarnya dan terhadap dirinya sendiri. Dengan kata lain, adaptasi yang dipicu kegagalan modernitas membentuk identitas baru.
Dalam refleksifitas ini terjadi hubungan antara agen dan struktur yang terus menerus membentuk tindakan mereproduksi ulang. Pada dunia dalam kondisi
high-modernity seperti saat ini kegiatan mengkonsumsi musik melalui mengunduh musik
dulunya merupakan adaptasi dari kondisi tersebut. Kegiatan adaptasi tersebut dilakukan terus menerus dan membentuk identitas baru. Penyesuaian diri tersebut berubah menjadi semacam gerakan yang berkembang di seputar netlabel. Dengan kata lain netlabel terbentuk karena penikmat musik di Indonesia mengalami kesulitan dalam mengakses teknologi maka penikmat musik di Indonesia menemukan cara lain dengan membuat netlabel.
Selanjutnya Giddens (1990: 36) mengungkapkan bahwa refleksifitas merupakan karakteristik mendasar dari aktivitas manusia. Giddens menjelaskan bahwa tindakan mengamati atau monitoring kedirian seseorang merupakan tindakan dasar setiap orang. Dalam kasus netlabel, ketika penikmat musik di Indonesia mengalami kesulitan yang sama dalam menikmati musik maka dengan bersama-sama mereka membentuk teknologi yang memfasilitasi cara mengkonsumsi musik melalui internet. Teknologi tersebut bernama netlabel. Melalui netlabel ini konsumen musik mengkonstruksi identitas baru. Konstruksi indentitas baru tersebut terbentuk melalui berbagai masalah menikmati musik melalui internet. Perubahan identitas yang terjadi tersebut mengubah realitas dari cara mengkonsumsi dan mendistribusikan musik. Selanjutnya realitas yang baru tersebut mengubah kembali identitas pengguna
netlabel, dan terus menerus berputar seperti itu.Hal itu terjadi karena di kondisi high-modernity saat ini sudah tidak ada lagi realitas yang pakem atau realitas yang tunggal, atau dengan kata lain semuanya sudah tidak dapat diprediksi.