BAB II: REVOLUSI MUSIK DIGITAL DAN INTERNET
3. Musik Digital dan Internet di Indonesia
Masuknya industri musik ke era digital secara signifikan telah mengubah wajah industri musik Indonesia. Pada awalnya akhir tahun 1990an orang masih mendengarkan musik melalui kaset atau CD. Seiring berkembanganya waktu maka orang mulai mendengarkan musik melalui komputer. Orang yang mendengarkan musik dari komputer atau MP3 player semakin banyak sementara pendengar musik dari stereo-tape semakin sedikit.
Dengan kehadiran internet dan teknologi MP3, kini kita dapat memiliki lagu dengan mudah dan murah. Selain itu musisi juga lebih mudah dalam memperkenalkan karyanya. Menurut Putranto (2009: 96) kini seiring dengan
perkembangan teknologi ketergantungan artis terhadap “otoritas” industri musik
Selain menimbulkan pengunduhan musik melalui internet, musik digital di Indonesia juga menyababkan pembajakan besar-besaran. Menurut Suyoso Karsono kondisi pembajakan di Indonesia yang sangat parah membuat bangkrut 117 perusahaan rekaman lokal. 15 Selanjutnya menurut Putranto (2009: 108) pada tahun 2006 total penjualan kaset, CD dan VCD mengalami punurunan 21% jika dibandingkan tahun 2005, dan terus menurun setiap tahunnya. Tidak hanya perusahaan rekaman dan artis, pemenrintah Indonesia juga mengalami kerugian yang tidak sedikit. Menurut Putranto (2009:118) pemerintah Indonesia mengalami kerugian sebanyak 3 trilyun rupiah karena kasus pelanggaran hak cipta yang disebabkan oleh pembajakan. Menurut IFPI (International Federation of the Phonographic Industry) Indonesia berada dalam daftar 10 Priority Countries pembajakan musik di seluruh dunia bersama Brasil, Kanada, Yunani, Korea Selatan, Cina, Italia, Meksiko, Rusia, dan Spanyol. 16
Penurunan rekaman fisik terjadi sejak ditemukannya new media di dunia. Sebelumnya di seluruh dunia juga terjadi penurunan akibat naiknya tren mengunduh musik secara digital. Tetapi di Indonesia penyebab utama penurunan penjualan fisik tetaplah pembajakan CD.17 Sebelum format MP3 keluar para pembajak menggelar produknya dalam bentuk CD Audio bajakan dengan harga jauh dibawah CD Audio
original. Begitu media MP3 mulai marak para pembajak menggelar produk bajakan
15
Putranto (2009:106) Mas Yos atau Suyoso Karsono adalah pendiri perusahaan rekaman pertama di Indonesia yang bernama Irama.
16
Putranto (2009:115) Indonesia menjdi Negara denga tingkat pembajakan yang tinggi, bahakan kaset dan CD bajakan di eksport ke Negara lain.
17
dalam bentuk CD kompilasi musik MP3 yang mampu memuat sampai beberapa album yang mencakup ratusan singles dengan harga yang lebih murah dari CD Audio bajakan (karena perbandingan harga dan jumlah lagu yang bisa didapat dalam satu CD).
Sekarang perubahan sedang kembali terjadi. Dulu orang masih suka beli CD kompilasi musik format MP3 bajakan. Sekarang kecenderunganya orang cenderung selektif dengan cara mengunduh lagu yang mereka inginkan saja. Menurut Putranto (2009: 108) selain pembajakan penyebab menurunnya penjualan fisik adalah perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang demikian pesat sehingga pola konsumsi orang berubah. Hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi juga terjadi secara global. Yang sebenarnya sedang terjadi adalah sebuah revolusi media yang disebabkan oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat.
Selain pembajakan besar-besaran wujud perdagangan musik yang berkembang di Indonesia adalah melalui internet dan Ring Back Tone (RBT). Bisa dilihat dari tren RBT yang laku keras penjualannya di atas satu juta download.18 Bergesernya konsumen kepada internet dan RBT telah memotong beberapa jalur distribusi industri, seperti distributor dan toko-toko kaset. Hal ini jelas menurunkan angka penjualan album rekaman dalam bentuk konvensional. Selain itu, saat ini produser rekaman harus berbagi keuntungan dengan provider telepon seluler. Tetapi di sisi lain, Putranto (2009:118) menyebutkan bahwa salah satu major label di
18
Indonesia mengungkapkan berhasil meraup untung 40 milyar rupiah dari penjualan RBT. Indonesia menduduki peringkat keempat di Asia dalam penjualan musik melalui telepon seluler.
Full track download seperti iTunes belum bisa berkembang di Indonesia sampai sekarang, dikarenakan lambannya akses internet. Selain itu juga karena banyaknya masyarakat yang menggunakan ponsel dan banyak beredarnya CD dan MP3 bajakan. 19 Bisnis penjualan musik digital di Indonesia dimulai dengan hadirnya perusahaan seperti IM:port, EquinoxDMD, Digital Beat Store, dan Indigo. Dari semuanya hanya IM:port dan Equinox DMD yang telah melakukan penjualan musik secara online. Keduanya telah beroprasi di Indonesia sejak 2006. 20
Penjualan musik seperti iTunes tidak berjalan dengan baik di Indonesia karena lambatnya koneksi Internet dan kesulitan akses disebabkan kepemilikan kartu kredit. Menurut Adib Hidayat dalam Music Biz: Music Apartheid (Rolling Stone Online) model digital download yang dipopulerkan oleh iTunes sejak tahun 2003 sebenarnya tidak layak untuk Indonesia karena sangat bergantung pada kepemilikan kartu kredit. Dari 240 juta orang Indonesia, hanya sekitar enam juta orang yang memiliki kartu kredit dan tidak semua dari mereka adalah pengguna Internet. Triawan Munaf, praktisi iklan yang juga ayah dari Sherina dan pernah memperkuat band Giant Steps, kemudian berbagi cerita tentang bagaimana susahnya membeli lagu, aplikasi, dan
19
Putranto (2009: 110-111) wawancara dengan Abdee Slank pendiri portal musik digital bernama IM:port.
20
Putranto (2009:120-121) iTunes tidak berkembang di Indonesia karen lambannya koneksi internet serta masalah kepemilikan kartu kredit di Indonesia.
film di iTunes/App Store di Indonesia. Karena akses membeli lagu, aplikasi, film di iTunes negara seperti Inggris atau Amerika yang memiliki koleksi lengkap tidak bisa dilakukan di Indonesia dengan memakai kartu kredit.
Di luar penjualan musik digital secara online, di Indonesia juga telah tersedia layanan distribusi musik digital yang dijual melalui kios-kios musik digital legal seperti Digital Beat Store (DB Store) dan Terra Group. DB Store kebanyakan menawarkan musik dari artis-artis Indonesia dengan harga jual Rp. 5.000,00 per lagu
(Putranto, 2009:121). Menurut David Karto, Penggagas DB Store. “Konsep awal DB
Store sebenarnya online, hanya setelah berkonsultasi dengan departemen IT ternyata Indonesia masih sulit sekali mengembangakan bisnis ke arah sana. Permasalahan utamanya muncul dari kapasitas bandwith yang kecil, sistem dan mekanisme pembayaran hingga pertanyaan perusahaan rekaman tentang Digital Right Management (DRM) yang diharapkan mamapu membatasi penduplikasian file MP3 secara Ilegal.” (Putranto, 2009:121-122)
Saat ini perubahan industri musik di Indonesia kembali terjadi. Salah satu yang menjadi isu utama dalam industri musik di Indonesia adalah sekarang penjualan RBT telah runtuh. Di Taiwan dan Singapura tren RBT telah mengalami penurunan drastis. Hal itu mungkin juga akan terjadi di Indonesia beberapa tahun ke depan. (Putranto, 2009:119). RBT mengalami penurunan yang parah dalam hal adopsi karena larangan atas layanan SMS premium yang kerap disalahgunakan oleh penyedia berbagai konten untuk mendapatkan uang secara cepat. Menurut Hidayat
dalam Music Biz: Music Apartheid (Rolling Stone Online) Ringback tone (RBT) yang menjadi penyelamat sebagian pihak di industri musik Indonesia mulai mengalami penurunan drastis. Kasus pencurian pulsa dari SMS premium membuat pihak Menkominfo dan BRTI (Badan Regulasi Teknologi Indonesia) melakukan pengaturan ulang untuk menertibkan beberapa layanan ponsel berlangganan termasuk RBT. Hal tersebut dilakukan mulai 18 Oktober 2011.
Menurut saya perkembangan musik digital di Indonesia berbeda dengan perkembangannya di negara-negara maju. Teknologi komputer dan internet di Indonesia tidak memungkinakan terjadinya modernitas seperti yang terjadi di negara-negara maju. Expert system tidak terjadi secara maksimal di Indonesia. Sebagai contoh, koneksi internet yang lambat membuat orang Indonesia mengalami kesulitan bila ingin mendengarkan atau mengunduh musik melalui internet. Selain itu koneksi internet juga tidak dimiliki oleh semua orang Indonesia, sehingga tidak semua orang mampu mengakses musik melalui internet. Menurut Ya'aro Hulu (General Manager Telkom Indonesia) berdasarkan penelitian pada tahun 2012, dari 100 rumah tangga di Indonesia hanya 34 saja yang memiliki peluang mengakses internet. Arinya koneksi internet di rumah tangga Indonesia baru 34 persen. 21
21
Melalui http://www.tribunnews.com, Ya'aro Hulu mengungkapkan rendahnya akses koneksi internet terhadap rumah tangga di Indonesia. Jika dibandingkan dengan negara maju seperti Korea Selatan, akses internet di Indonesia masih rendah karena di Korea Selatan 80% rumah tangga dapat mengakses internet dengan mudah. Telkom mempunyai target hingga 2014 harus ada 13 juta rumah yang sudah bisa mengakses internet.
Selain expert system yang tidak tersedia di Indonesia, hal lain yang mempengaruhi perkembangan musik digital di Indonesia adalah symbolic tokens.
Symbolic tokens merupakan alat tukar atau dalam kasus ini adalah kartu kredit. Di negara-negara maju semua orang memiliki kartu kredit dan kartu kredit tersebut dengan mudah dapat digunakan untuk membeli musik melalui internet. Di Indonesia kartu kredit hanya dimiliki oleh sebagian orang saja, Selain itu kartu kredit di Indonesia mengalami kesulitan jika digunakan untuk membeli musik melalui internet. Menurut GPT (Global Payment Tracker) 84% masyarakat Indonesia masih menggunakan uang tunai sebagai alat transaksi utama. GPT juga mencatat, lebih dari 25 persen konsumen memiliki kartu debit dan 2 persen konsumen memiliki kartu kredit.22 Dari hal tersebut kita dapat melihat bahwa masyarakat Indonesia mengalami kesulitan untuk mengakses musik digital secara legal disebabkan symbolic tokens
yang tidak tersedia.
Dengan tidak tersedianya expert system dan symbolic tokens di Indonesia maka perkembangan modernitas yang terjadi di Indonesia berbeda dengan modernitas yang terjadi di negara-negara maju. Dengan tidak tersedianya dua hal tersebut, perkembangan musik digital di Indonesia memicu akibat yang tidak diduga yaitu pembajakan besar-besaran. Ketika orang tidak dapat membeli dan menikmati musik secara legal maka orang Indonesia memilih mengunduh secara ilegal. Selain itu
22
Melalui Tempo.com GPT mengungakapkan kepemilikan kartu kredit di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan oleh negara-negara lain. Meskipun deminkian Indonesia memiliki potensi besar karena masyarakat Indonesia mulai terbiasa melakukan transaksi menggunakan pembayaran elektronik.
karena tidak semua orang Indonesia memiliki media mendengarkan musik melalui komputer maka masyarakat Indonesia menggunakan media lain yaitu VCD player dan telepon seluler. Hal itulah yang membuat hampir seluruh musik digital yang tersebar di Indonesia didapatkan dengan cara ilegal.