Dalam tulisan Partokusumo (1995) disebutkan bahwa Pranatamangsa
adalah kalender yang dimiliki orang Jawa yang dipakai turun temurun sejak sebelum kedatangan bangsa Hindu di Pulau Jawa. Menurut Sindhunata (2008)
Pranatamangsa sudah menjadi budaya kehidupan petani Jawa karena sudah mendarah daging. Sebagai bagian dari budaya Jawa, Pranatamangsa mempunyai karakter yang terletak:
“…pada kemampuan untuk membiarkan dirinya dibanjiri oleh gelombang-gelombang kebudayaan yang datang dari luar. Kesadaran kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam penerapan
Sebagai ilustrasi apa saja gelombang yang masuk mempengaruhi
Pranatamangsa secara singkat akan saya beberkan sejarah penggunaan kalender di mana Pranatamangsa menjadi bagiannya. Petangan Jawi (secara harafiah berarti Hitungan Jawa) sudah ada di kalangan masyarakat Jawa sebelum pengaruh Hindu masuk, misalnya siklus pawukon22, paringkelan23, dlsb. Pedoman yang digunakan adalah perputaran matahari. Ketika pengaruh India dengan agama Hindu masuk ke Jawa, maka bersamaan masuk pula pengaruh penanggalan Saka yang dimulai pada tanggal 15 Maret 78 (Partokusumo, 1995). Menurut Ricklefs (1978) Kalender Saka yang diadopsi di Jawa didasarkan pada kombinasi sistem solar dan lunar atau
“luni-solar”. Kalender ini digunakan sampai awal abad ke-17 yaitu saat Sultan Agung secara resmi mengganti tahun Saka luni-solar dengan kalender Muslim yang berpedoman pada putaran bulan. Tujuan dari perubahan ini adalah supaya orang Muslim bisa menyesuaikan hari-hari suci agama Islam dengan penanggalan Muslim yang digunakan di Timur Tengah. Dalam kalender ini satu tahun ada 12
22
Pawukon adalah sistem penanggalan yang muncul dalam babad Jawa Kuno dari awal abad ke-10. Pawukon merupakan sistem penanggalan Jawa dengan siklus 210 hari, terdiri dari 30 wuku (minggu). Masing-masing wuku terdiri dari 7 hari, dimulai pada hari Minggu (Ahad, Radite) dan berakhir pada hari Sabtu (Setu, Tumpak). Tiap wuku ada nama sendiri. Nama tersebut menurut cerita turun temurun berasal dari nama seorang Raja dalam sejarah mitologi Jawa yaitu Raja Watugunung, nama kedua istrinya dan 27 anak laki-lakinya. Contoh nama wuku adalah Sinta, Landep, dlsb. (Ricklefs, 1978)
23
Paringkelan dari kata ringkel yang artinya hari apes atau tak diinginkan. Paringkelan adalah siklus hitungan waktu 6 hari untuk membaca keberuntungan atau kemalangan (primbon) untuk kerja-kerja terkait dengan pertanian. Nama-nama hari dalam paringkelan adalah Tungle (Godhong), Ariyang (Jalma, Uwong, Wong), Wurukung (Sato), Paningron (Iwak), Uwas (Manuk), Mawulu (Wiji). Siklus Ringkel ini diawali oleh hari Tungle atau Godhong. Paringkelan juga digunakan untuk menamai sub-pembagian wuku. Tepatnya disebut ringkel ing wuku. Sistem pawukon yang terdiri dari 30 wuku tadi dibagi menjadi 5 kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari 6 wuku. Setiap wuku dalam satu kelompok ada nama ringkel dan diawali dengan ringkel Jalma. Jadi perbedaan dengan ringkel hari apes tadi adalah bahwa ringkel hari diawali dengan Tungle atau Godhong, sedangkan untuk ringkel wuku diawali dengan Jalma. Berikut nama-nama ringkel dan wukunya: 1) Jalma (wuku 1,7, 13, 19, 25); 2) Sato (wuku 2, 8, 14,20, 26); Iwak (wuku 3,9,15, 21, 27); Manuk (wuku 4, 10, 16, 22, 28); Wuku (wuku 5, 11, 17, 23, 29); Godhong (wuku 6, 12, 18, 24, 30). (Ricklefs, 1978)
bulan di mana nama-nama bulan diadopsi dari nama Arab yang diadaptasi ke bahasa Jawa dan ada beberapa nama asli Jawa24.
Hitungan kalender yang diprakarsai Sultan Agung Anyakrakusuma ini disebut juga dengan Anno Javanico (Tahun Jawa) karena keunikan penghitungannya yang terletak pada keputusan Sultan Agung untuk tetap meneruskan hitungan Kalender Saka yang waktu itu jatuh pada 1554 (Ricklefs, 1978). Jadi kalender yang dibuat Sultan Agung dimulai dengan angka tahun 1555, tepatnya 1 Sura tahun Alip 1555, atau 1 Muharam tahun 1043 Hijriyah, atau tahun Syamsiah pada tanggal 8 Juli 1633 (Partokusumo, 1995). Menurut hitungan Ricklefs (1978) ini artinya bahwa tahun 1555 Saka-Anno Javanico panjangnya 470 hari, yaitu dimulai dengan tahun Saka pada bulan Maret 1633, dan berubah menjadi tahun Jawa-Muslim pada bulan Juli 1633, dan tahun Jawa-Muslim ini berakhir pada 26 Juni 1634.
Lebih jauh Ricklefs menjelaskan bahwa sebenarnya orang Jawa sudah menggunakan Kalender Saka dan Kalender Muslim secara bersamaan sejak masuknya Islam di Jawa, namun ia tidak mempunyai buktinya. Ia hanya memberikan kutipan pernyataan dari G.P. Rouffaer yang menyatakan bahwa sewindu sebelum tahun Jawa diresmikan Sultan Agung, Kalender Muslim Jawa sudah ada. Pembakuan Kalender Jawa-Muslim tersebut, menurut Partokusumo (1995), merupakan siasat politik untuk memusatkan kekuasaan agama dan politik kepada Sultan Agung, dan bukan untuk maksud memperluas pengaruh Islam. Selain menggabungkan sistem Kalender Jawa dan Hijriyah, Sultan Agung juga dianggap sebagai pelopor penggabungan ajaran tradisi ksatria Jawa dengan ajaran
24
Nama bulan-bulan dalam Anno Javanico: Sura (Muharam), Sapar, Mulud (Rabingulawal), Bakda Mulud (Rabingulakir), Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah (Arwah, Saban), Pasa (Puasa, Siyam, Ramelan), Sawal, Dulkangidah (Sela, Apit), Besar (Dulkijah)
Sufi “al-jihad al-akbar” seperti terdapat pada teks Suluk Garwa Kencana yang digubahnya (Ricklefs, 2007). Sultan Agung dan ajaran gabungan inilah yang nantinya menginsipirasi Pangeran Diponegoro untuk mengobarkan semangat perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda dan para bangsawan yang beraliansi dengan Belanda.
Digantinya tahun Saka menjadi tahun Jawa-Muslim ternyata tidak bisa diberlakukan untuk Pranatamangsa. Siklus tahun lunar yang dijadikan patokan
Anno Javanico tidak cocok untuk dijadikan patokan perubahan musim karena siklus musim mengikuti matahari. Oleh karena itu sistem Pranatamangsa yang didasarkan pada sistem quasi-solar tetap dipertahankan untuk tujuan pertanian dan digunakan berdampingan dengan kalender Jawa Muslim yang didasarkan pada siklus bulan. Pada awalnya bulan-bulan (mangsa) dalam satu tahun kalender
Pranatamangsa tidak secara spesifik diberi penanggalan. Setiap mangsa
panjangnya hanya dikira-kira dan setiap tahun bervariasi karena mungkin disesuaikan dengan waktu monsun dan hasil observasi bintang25. Nama masing-masing mangsa diberi nama berdasarkan angka dari satu sampai sepuluh, sedangkan dua nama terakhir diadopsi dari nama bulan yang digunakan di India di dalam bahasa Sanskerta dan kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Jawa.
Daldjoeni (1983) memberikan alasan-alasan mengapa dua nama terakhir tidak digunakan angka seperti yang lain. Pertama karena secara kultur historis, ada pendapat bahwa jumlah mangsa yang asli hanya ada 10. Alasan kedua didasarkan pada hasil riset yang dilakukan oleh Subardi yang menyimpulkan bahwa kedua
25
Prof. Drs. Indro Wuryatno dalam pidato ilmiah guru besarnya juga menyebutkan bahwa petani tradisional di masa silam berpedoman pada bintang untuk mengetahui peralihan setiap musim (Suara Karya, 15 September 1997). Profesor Indro adalah Guru Besar Lingkungan Uiversitas Sebelas Maret Surakarta.
mangsa terakhir dahulu merupakan musim kosong di mana petani mengistirahatkan sawahnya setelah panen padi besar sehingga musim kosong tersebut tidak perlu diberi nama. Alasan ketiga merupakan hasil pengamatan bintang dan penelitian Daldjoeni sendiri. Menurut Daldjoeni (1983) pada dua
mangsa terakhir tidak ada bintang pedoman baru yang bisa dilihat di langit, melainkan terjadi kemunculan kembali bintang Lumbung dan Tagih seperti di masa Karo dan Katelu. Bintang pedoman adalah bintang yang memberi tanda akan mulai dan berakhirnya suatu mangsa. Misalnya, Bintang Sapigumarang sebagai tanda akan mulainya mangsa Kasa.
Usia masing-masing bulan dalam Pranatamangsa yang sebelumnya tidak seragam karena tergantung pada kemampuan pengguna dalam membaca bintang atau tanda alam, kemudian oleh A.B. Cohen Stuart dan Sri Pakubuwana VII direvisi, dibuat lebih teratur, dicocokkan dengan sistem matahari yang dimulai dengan menggunakan awal musim panas di Belahan Bumi Utara (summer solstice) yaitu pada 21 Juni (Ricklefs, 1978 ). Pembakuan untuk Pranatamangsa tersebut dilakukan pada tahun 1855, lebih dari dua abad setelah ditetapkannya Tahun Jawa (Anno Javanico). Berikut adalah tabel nama mangsa dan masa berlakunya untuk sistem lama dan sistem yang dibakukan oleh Pakubuwana VII yang saya ambil dari Ricklefs (1978). Sistem Pranatamangsa seperti inilah yang masih dipakai oleh para informan sampai sekarang.
No Mangsa Sistem Lama Sistem Baku
1. Kasa Juli – Agustus 22/23 Juni – 2 Agustus
2. Karo Agustus – September 2/3 Agustus – 25 Agustus 3. Katiga September – Oktober 25/26 Agustus – 18 September 4. Kapat Oktober – November 18/19 September – 13 Oktober 5. Kalima November – Desember 13/14 Oktober – 9 November 6. Kanem Desember – Januari 9/10 November – 22 Desember 7. Kapitu Januari – Februari 22/23 Desember – 3 Februari 8. Kawolu Februari – Maret 3/4 Februari – 1 Maret
9. Kasanga Maret – April 1/2 Maret – 26 Maret 10. Kasepuluh April – Mei 26/27 Maret – 19 April
11. Dhesta Mei – Juni 19/20 April – 12 Mei
12. Sadha Juni – Juli 12/13 Mei – 22 Juni
Tabel 01. Nama mangsa serta durasinya dalam versi lama dan baru
Daldjoeni melakukan telaah dengan mencocokkan pembagian periode mangsa dengan asal & arah angin, pergeseran dan gerakan matahari, serta kemunculan rasi bintang di langit. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat korelasi erat antara gerak angin dan matahari, serta letak bintang dengan panjang pendek dan sifat suatu mangsa. Hasil hitungan tersebut kemudian dibuat dalam satu diagram (lihat gambar daur Pranatamangsa).
Berdasarkan diagram daur Pranatamangsa tersebut Daldjoeni (1983) memaparkan sifat dari satu putaran kalender Pranatamangsa antara lain sebagai berikut:
1. Satu tahun kalender Pranatamangsa terdiri dari 365 hari. Satu tahun ini kemudian dibagi menjadi dua (2) musim atau dua tengah tahunan, yaitu
mangsa terang (musim kemarau) dan mangsa udan (musim hujan). Masing-masing setengah tahunan terdiri dari 6 mangsa. Setiap empat tahun sekali jumlah hari pada mangsa Kawolu (ke delapan) bertambah satu. Pada tahun biasa (Wuntu) terdapat 26 hari, dan pada tahun Kabisat (dalam bahasa Jawa artinya tahun Wastu) menjadi 27 hari. MangsaKasa (pertama) dimulai pada saat matahari berada di belahan bumi utara (tropic of Cancer)
yakni tanggal 22 Juni. Mangsa Kapitu (ketujuh, atau paruh kedua tengah tahunan) dimulai pada tanggal 22 Desember ketika matahari berada di belahan bumi Selatan (tropic of Capricorn).
2. Petani membagi satu tahun kalender Pranatamangsa menjadi 4 mangsa
Empat musim tersebut dinamai: Katiga (terdiri dari mangsa Kasa, Karo, dan Katelu), Labuh (terdiri dari Kapat, Kalima, dan Kanem), Rendheng
(terdiri dari Kapitu, Kawolu, dan Kasanga), serta Mareng (terdiri dari Kasapuluh, Dhesta, dan Sadha). Mangsa Katiga adalah saat di mana tidak ada hujan sama sekali. Mangsa Labuh adalah peralihan antara musim kering ke musim penghujan. Mangsa Rendheng adalah musim penghujan dengan intensitas dan curah hujan tinggi. Sedangkan mangsa Mareng
adalah semakin menyusutnya curah hujan menuju musim kemarau.
3. Masyarakat petani Jawa juga menjuluki mangsa tertentu dengan nama lain yang disesuaikan dengan keadaan alam maupun keadaan atau kegiatan manusia. Periode Mangsa Sadha dan Kasa yang panjangnya 82 hari disebut juga dengan mangsa terang, atau musim kering. Periode mangsa kanem dan mangsa kapitu yang panjangnya 86 hari disebut mangsa udan
atau musim hujan. Sebelum mangsa terang datang, ada mangsa panen
yang biasanya terjadi pada mangsa dhesta atau musim ke sebelas. Sedangkan mangsa Karo juga disebut dengan mangsa paceklik atau musim langka makanan. Mangsa Kawolu, Kasanga, dan Kasapuluh juga disebut dengan mangsa pangarep-arep (penuh harapan), sedangkan mangsa Katelu, Kapapat, dan Kalima juga disebut dengan mangsa Semplah atau musim putus harapan.
Secara sederhana petani bisa menentukan saat mulai dan berakhirnya suatu mangsa dengan menghitung panjang bayangan manusia pada tengah hari atau dengan melihat konstelasi bintang di langit. Panjang bayangan tersebut tentu berkaitan dengan siklus perubahan posisi orbit matahari. Hal ini juga ditunjukkan
oleh Daldjoeni dalam diagram tersebut. Dari temuan tersebut Daldjoeni menyimpulkan bahwa periode musiman itu setiap tahun berulang secara teratur.