Lain dengan apa yang ditulis Ricklefs, menurut Daljoeni (1983) dan Partokusumo (1995) pembakuan Pranatamangsa ini hanya dilakukan oleh Sri Pakubuwana VII, tanpa menyebut keterlibatan A.B. Cohen Stuart. Saya lebih condong ke tulisan Ricklefs karena beberapa hal seperti yang akan saya beberkan berikut yang saya ambil dari pengantar buku berjudul Javanese Literature in Surakarta Manuscripts: Introduction and Manuscripts of the Kraton Surakarta
karya Nancy K. Florida (1993). Ketika Pranatamangsa dibakukan yaitu tahun 1855 pada waktu itu di Jawa, terutama di Kraton Surakarta masih berada pada era
“Renaissance Jawa” yaitu bangkitnya sastra Jawa yang pernah jaya sebelum abad
ke-16 di jaman emas Hindu-Budha klasik. Kejayaan budaya era klasik dianggap telah tersisih oleh masa vakum kebudayaan yang melingkupi masa-masa pengislaman pada akhir abad ke-15 sampai awal abad ke-18. Ketersisihan tersebut juga disebabkan oleh adanya perang, baik itu perang melawan kolonial maupun perang di antara para raja di Jawa. Setelah terjadi perpecahan dalam tubuh kerajaan di Jawa paska Perjanjian Giyanti tahun 1755 lalu diikuti oleh perpecahan Surakarta dengan kraton Mangkunegaran maka keadaan di Surakarta pada waktu itu dianggap lebih stabil. Pada waktu itulah punggawa kerajaan Surakarta mempunyai kesempatan untuk menekuni dunia sastra yang telah lama terbengkalai oleh perang. Alkisah, sastra puisi Jawa akhirnya berpaling dari Islam yang
“asing”, yang telah mendominasi sastra pesisir di abad-abad sebelumnya. Kraton
Surakarta dianggap sebagai pelopor kebangkitan budaya Jawa “adi luhung” yang
Menurut Nancy Florida, “kebangkitan budaya Jawa” ini tidak lepas dari
kendali pemerintah Kolonial Belanda. Diawali dengan didatangkannya para filolog Belanda dan Indo Belanda untuk mengumpulkan manuskrip berbahasa Jawa, memilih dari manuskrip yang terkumpul kemudian menyalin, lalu dari hasil penyalinan dan tulisan berdasarkan manuskrip tersebut para filolog ini melahirkan kanon sastra Jawa. Teks-teks hasil tulisan filolog ini digunakan untuk melatih para pegawai Belanda agar mereka lebih bisa memahami budaya Jawa. Memahami budaya Jawa di sini artinya bukan sekedar mengerti, namun untuk mempelajari bagaimana menakhlukkan dan mengontrol orang Jawa. Hasil penelitian para filolog ini nantinya digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk
membentuk atau mengkonstruksi budaya “tradisional Jawa” dengan memberikan
gambaran tentang bentuk budaya asli. Tujuan pengkonstruksian ini oleh Nancy digambarkan sebagai berikut:
“It would be in the interest of colonial authority to cultivate and frame a variety of elite culture in Java which could effectively control the indigenous population while excluding the rebellious and Islamic elements which had energized Dipanagara’s campaign.” (Nancy,
1993, hal. 13)
Perang Diponegoro memang merupakan salah satu pemicu pengubahan strategi kolonial Belanda dalam menguasai Jawa. Perang Diponegoro yang berlangsung lima tahun (1825-1830) bukan hanya telah membunuh banyak serdadu Belanda namun juga telah membuat bangkrut pemerintah Belanda. Pangeran Diponegoro berhasil menyebarkan semangat perang sabil dengan menyatukan ajaran Islam dan ajaran moral Jawa. Walaupun Belanda berhasil mengalahkan dan mengasingkannya, namun Belanda merasa perlu untuk mengubah strategi penguasaan Jawa agar bisa mencegah pemberontakan seperti yang dilakukan Pangeran Diponegoro. Perang itu memberi pelajaran pahit bagi
Belanda untuk tidak mengabaikan kekuatan Islam yang menjadikan pemberontakan itu kuat, terutama berkat kepiawaian sang pangeran membentuk dukungan dan jaringan kyai-kyai Islam yang berpengaruh di desa-desa. Untuk mencegah kekuatan subversi Islam di Jawa maka pemerintah Belanda memasukkan kerajaan di Jawa ke dalam hirarki kekuasaan kerajaan Belanda dan memperlakukan para punggawa kerajaan Jawa sebagai pegawai Belanda (pejalanjauh.com). Lalu pemerintah kolonial membuat para punggawa tersebut sibuk dengan pekerjaan yang berkaitan dengan kebudayaan, menjadikan kraton Surakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa, dan menjadikan kebudayaan dan sastra Islam sebagai budaya rendah.
Dengan latar belakang sejarah strategi kolonial di atas bisa sangat dipahami bahwa Cohen Stuart ada andil dalam perevisian Pranatamangsa. Stuart adalah filolog ternama yang menerbitkan buku Brata-Joeda, Indisch Javaansch Heldendicht dan kritiknya pada tahun 1860. Ia adalah ahli bahasa Jawa Kuno dan Kawi yang tahu seluk beluk budaya Jawa termasuk di dalamnya adalah
Pranatamangsa sebagai bagian dari budaya pertanian. Ia berada di Surakarta karena kraton Surakarta dijadikan pusat budaya Jawa oleh pemerintah kolonial dan berdasarkan penelitian Ricklefs tentang gerakan misionaris di Jawa diperoleh keterangan bahwa Hoezoo, salah satu misionaris, pernah bertemu A.B. Cohen Stuart di Surakarta pada tahun 1851 (Ricklefs, M.C., 2007). Disebutkan juga oleh Nancy Florida bahwa para filolog yang dikirim ke Surakarta menduduki posisi strategis. Mereka dijadikan pegawai kolonial dan menikmati hubungan dekat dengan para punggawa istana Surakarta. Tidak mengherankan bila ia banyak bertemu dengan sang raja Surakarta dan terlibat dalam perevisian Pranatamangsa.
Karena pedoman bertani ini merupakan peninggalan sejak jaman Jawa Kuno,
kemungkinan besar Pranatamangsa merupakan salah satu bagian dari rencana
Belanda untuk “me-renaissance-kan” Jawa agar kembali ke budaya Hindu-Budha. Ada kemungkinan pula bahwa pembakuan ini terkait dengan berlakunya politik Tanam Paksa di Jawa pada saat itu. Sistem Tanam Paksa yang berlaku dari tahun 1830-1870 di Jawa terutama menciptakan hubungan timbal balik antara petani di satu sisi dengan perusahaan perkebunan yang dikuasai oleh pemerintah Belanda dan didukung bangsawan-bangsawan Jawa (Geertz, 1976). Pada waktu itu perusahaan perkebunan mengembangkan tanaman tahunan yang bisa ditanam bergiliran dengan tanaman pangan terutama padi. Agar kedua jenis tanaman tumbuh dengan baik dan supaya tidak timbul pemberontakan yang disebabkan oleh dampak gagalnya panen, maka dibuatlah pembakuan sistem Pranatamangsa
yang disesuaikan dengan sistem penanggalan matahari yang notabene digunakan oleh Belanda dan juga digunakan dalam sistem pertanian mereka. Dengan demikian pemerintah Belanda bisa menyesuaikan jadwal pananaman tanaman perkebunan dengan tanaman pangan rakyat. Selain itu, dengan kesamaan sistem penanggalan, pemerintah penguasa waktu itu bisa lebih mudah mengontrol petani. Keputusan untuk menggunakan sistem Pranatamangsa yang sudah diwarisi orang Jawa dari nenek moyang merupakan langkah cerdik karena petani tidak kesulitan untuk menyesuaikan sistem lama dengan pembakuan baru. Selain itu mereka tidak merasa dipaksa untuk mengalami kesulitan dengan belajar sistem baru dan merasa tetap memiliki Pranatamangsa sebagai budaya milik sendiri.
Dari sejarah Pranatamangsa dan Kalender Jawa-Muslim tampak bahwa kepentingan politik bermain dibalik keputusan penggantian dan penggunaan suatu
sistem kalender. Keputusan tersebut tidak sekedar mempengaruhi nama kalender, namun juga berimplikasi pada pola bertani. Implikasi ini mungkin tidak secara drastis mengubah kebiasaan petani, namun terjadi secara gradual. Contohnya adalah terkikisnya kemampuan petani dalam menggunakan bintang sebagai pedoman membaca perubahan mangsa. Pembakuan Pranatamangsa memudahkan petani dalam menentukan masa tanam, karena petani tinggal melihat kalender dan keadaan curah hujan untuk menentukan waktu tanam. Pada jaman kolonial, mungkin jarang sekali petani yang memakai kalender karena keterbatasan terbitan dan peredaran kalender Masehi serta rendahnya tingkat melek huruf pada waktu itu. Jadi kemungkinan besar, untuk daerah yang dijadikan sasaran proyek Tanam Paksa di sekitar Jawa Tengah, kebiasaan penggunaan bulan-bulan kalender Masehi masih ditentukan oleh para ahli pertanian Belanda, karena mereka yang mempunyai akses terhadap terbitan kalender. Dari posisi terbatas di kalangan petani penyewa lahan pengetahuan untuk menggunakan bulan-bulan dalam kalender Masehi sebagai patokan masa tanam kemudian berkembang secara horizontal (getok tular) kepada petani lain. Atau dengan cara vertikal dari generasi tua ke generasi penerus (nelak).
Sementara itu, petani yang tidak memiliki kalender pada waktu itu menjadikan peristiwa atau tanda-tanda alam untuk dijadikan patokan perubahan musim. Misalnya dengan melihat tanaman tertentu yang tumbuh hanya pada saat musim tertentu, atau melihat perilaku binatang di sekitar. Seiring dengan perkembangan dan kemudahan teknologi cetak, dengan semakin banyaknya angka petani yang melek huruf, dibarengi kemajuan teknologi pertanian, maka kemampuan membaca alam sekitar juga semakin berkurang. Teknologi pertanian
memungkinkan petani menjadi tidak bergantung kepada hujan, sehingga petani tidak perlu menunggu hujan untuk bisa melakukan penanaman. Bahkan banyak petani yang bisa menanam padi tiga kali dalam satu tahun.
Dari uraian sejarah ini juga bisa ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan petani Jawa tentang alam lingkungannya lahir bahkan sebelum peradaban Hindu datang ke tanah Jawa. Pengetahuan itu dinamakan Pranatamangsa, artinya
“pengaturan musim” (Daldjoeni, 1983). Dengan pengetahuan tersebut petani
mempelajari tentang siklus alam, misalnya siklus hujan, dan musim kemarau yang sangat ditentukan oleh peredaran matahari. Pengetahuan tersebut dilandasi oleh pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap alam sekitar, dengan secara sederhana mengamati posisi dan kemunculan bintang, perilaku binatang pada saat tertentu, dan melihat tanda-tanda yang diperlihatkan tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka. Dari tanda-tanda alam tersebut para leluhur bangsa Jawa kemudian membaca watak suatu musim. Watak musim tersebut kemudian disematkan sebagai nama suatu musim atau mangsa yang memang memiliki watak bersangkutan. Tidak heran bila di dalam Pranatamangsa ada banyak sekali nama untuk suatu musim. Pengetahuan ini membuat petani Jawa bisa menyesuaikan jenis tanaman dan pada gilirannya nanti mereka juga menyesuaikan perilaku atau kebiasaan mereka. Memang bahwa pengetahuan petani jaman sekarang terhadap
Pranatamangsa tidak semendetail seperti jaman dahulu. Namun ia tetap dipergunakan dan dijadikan pedoman sampai sekarang. Walau rekam jejaknya begitu panjang, namun tidak bisa dibilang bahwa ia merupakan budaya asli Jawa. Karena ia telah mengalami modifikasi dengan adanya pengaruh budaya lain yang masuk ke Jawa.