Pranatamangsa menyiratkan pemahaman masyarakat Jawa akan arti pentingnya harmoni terhadap alam sekitar dan sesama manusia. Sama seperti
Pranatamangsa yang juga terpengaruh ilmu dari Barat, cara pandang terhadap sesama manusia juga mendapat pengaruh dari kaum kolonial. Pengaruh ini sangat kuat dan dampaknya masih ada sampai sekarang. Hal yang akan saya uraikan berikut terkait pandangan dan perlakuan terhadap petani. Mubyarto (1983) menilai analisa Raffles tentang hubungan antara pemerintah Belanda dengan petani Jawa pada tahun 1816 relevan untuk dijadikan rujukan dalam membaca motivasi petani di jaman pembangunan paska kemerdekaan. Analisa Raffles tersebut antara lain menyebutkan bahwa perilaku petani yang enggan mematuhi kemauan pemerintah Belanda sehingga oleh Belanda mereka dicap pemalas dan pemboros, sebenarnya adalah cermin ketidakmampuan pemerintah penjajah waktu itu untuk memperhatikan kebutuhan petani dan perilaku pegawai perantara yang menyambungkan aspirasi pemerintah terhadap petani.
Petani waktu itu hanya dipandang sebagai alat untuk memproduksi sesuatu yang harus dikumpulkan petugas pemerintah tersebut untuk dipersembahkan kepada pemerintah penjajah. Menurut Mubyarto, motivasi petani untuk melakukan pekerjaan bertani, berkaitan erat dengan harapan-harapan mereka, dan harapan ini selalu terkait dengan janji dan perilaku pemerintah sendiri terhadap petani. Bila pemerintah, yang terwakili oleh petugas atau pegawainya masih belum memberikan perhatian terhadap kebutuhan petani, termasuk di dalamnya adalah kebutuhan untuk dipandang sebagai manusia yang bisa belajar, berkembang dan berubah, petani akan terus melakukan perlawanan. Pandangan yang
“mengecilkan” petani seperti ini cenderung orientalis, meminjam istilah yang pertama kali dipakai oleh Edward Said. Orientalisme di sini adalah pengetahuan atau pandangan yang dikonstruksikan dan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Pandangan tersebut kemudian menjadi stereotype terhadap kelompok yang dipandang tersebut sehingga seolah-olah pandangan tersebut menjadi sifat lahiriah yang tak terbantah dan tak terubah oleh apa pun (Ashcroft et al, 1998).
Salah satu pandangan orientalis terhadap petani adalah bahwa petani memiliki nilai budaya yang cenderung menjadi penghalang proses menuju modernisasi sehingga petani harus diberi pendidikan dan diberi penyuluhan untuk meningkatkan kemampuan teknisnya (Alexander, 1982). Pandangan ini merupakan kesimpulan yang menyederhanakan atau bahkan menurut Alexander dianggap sebagai aplikasi keliru (misapplication) dari thesis Geertz tentang shared poverty yang dijadikan justifikasi “ilmiah” dalam kebijakan pembangunan
ekonomi di Indonesia, terutama dalam pelaksanaan Revolusi Hijau di mana terdapat program yang bernama Bimas atau Bimbingan Massal. Dengan pandangan ini petani distereotipekan sebagai kelompok masyarakat yang tidak terdidik atau bodoh, harus diberi petunjuk dan penyuluhan.
Hal ini dialami juga oleh petani di desa Sumber. Salah satu pemimpin kelompok tani Sumber Rejeki, Pak Wardiyono, mengeluh bahwa ia sebagai petani sering dipandang sebelah mata, dianggap tidak mempunyai kemampuan untuk berpikir dan membuat keputusan. Ia menceritakan pengalaman waktu ia mewakili kelompok tani memprotes keputusan pemerintah memberi ijin Aqua “Danone”
untuk menyedot air dari Kapilaler. Ia sempat didatangi menteri pertanian pada waktu itu karena sang menteri tidak percaya bahwa ada petani yang bisa
berpikiran maju. Sang menteri mendatangi desanya untuk membuktikan bahwa ia benar-benar petani dan bukan sekedar aktivis provokator. Stereotiping ini begitu halusnya, turun temurun, bahkan sampai terinternalisasi di dalam pola pikir masyarakat sehingga petani pun juga menjadi percaya bahwa mereka memang ditakdirkan sebagai bagian dari kelas bawah yang bodoh. Hal ini begitu kelihatan ketika saya mengutarakan keinginan saya untuk bertanya dan belajar dari mereka tentang cara mereka bertani. Beberapa dari mereka menukas bahwa mereka tidak layak ditanyai karena mereka orang bodoh, mereka hanya dari kalangan masyarakat bawah yang serba tidak tahu.
Saya juga melakukan wawancara terhadap penyuluh pertanian dan petugas BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geologi). Kepada mereka saya tanyakan fenomena yang terjadi di bidang pertanian terkait petani dan perubahan iklim. Dari perbandingan hasil wawancara antara informan maupun dengan petugas pemerintah (penyuluh pertanian), saya menemukan bahwa penyuluh dan petani saling memberi label terhadap yang lain. Kepada petugas BMKG, Pak Agus Sudaryanto, saya menanyakan seputar informasi cuaca yang berfungsi untuk petani dan cara diseminasi informasi tersebut. Menurut beliau ramalan informasi curah hujan setiap bulan selalu disediakan oleh BMKG dan diberikan kepada dinas pertanian tingkat kabupaten agar mereka memperhitungkan jenis tanaman dan waktu tanam lalu menginformasikannya kepada petani lewat Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).
“BMG memberikan informasi secara umum ya, jadi artinya tidak hanya untuk pertanian,
tapi BMG hanya memberikan informasi umum yang sifatnya jangka pendek cuaca, jangka panjang iklim. Untuk itu BMG mempunyai instansi interface, yaitu instansi perantara, dalam hal ini untuk pertanian ya dinas pertanian, gitu lho. Maksudnya kalau memberikan informasi misalnya, O bulan depan untuk curah hujannya misalnya untuk kabupaten Klaten sekian, BMG hanya memberikan itu, curah hujan begini. Lha nanti dari dinas pertanian kalau curah hujannya segini nanti petani harus nanamnya gini, itu sudah porsinya dinas
Menurut Pak Darno, koordinator PPL untuk kecamatan Trucuk, PPL sudah memberikan informasi kepada petani tentang fenomena-fenomena cuaca, namun semua juga tergantung kepada petani untuk memutuskan pola tanamnya.
“Ya sebenarnya dengan adanya fenomena-fenomena El Nino, El Nina seperti sekarang sudah disosialisasikan. Memang sepertinya petani itu begini ya petani dulu dengan petani sekarang itu lain. Kalau dulu petani istilahnya itu nanem padi-padi-palawija, sekarang karena adanya lahan kepemilikan petani itu semakin sempit, alasannya apa ya, dulu pak tani itu punya lahan katakan dua pathok. Sama yang petani ini, ini punya anak 4, la kan terus dibagi empat. Jadi masing-masing karepe ngonongejar hasil gitu. “
(18 Juni 2009, Kantor PPL Kecamatan Trucuk)
Dari pernyataan itu tampak bahwa petugas penyuluh punya asumsi bahwa petani memutuskan pola tanam untuk keuntungan ekonomis semata, namun tidak memperhitungkan faktor lain, dan tidak mengindahkan petugas penyuluh. Pak Darno sebelumnya juga menerangkan bahwa petugas penyuluh sudah menyarankan agar petani menanam palawija untuk masa tanam bulan Juni itu, karena ketersediaan air untuk selanjutnya tidak cukup untuk menanam padi. Namun karena hujan yang masih saja turun, banyak petani yang memberanikan diri untuk menanam padi. Menurut beliau, petani lebih memilih menanam padi karena secara ekonomis memang penjualan padi lebih tinggi dibanding dengan penjualan palawija. Keputusan para petani yang menanam padi menjelang musim kemarau menurut pak Darno adalah keputusan “grudak gruduk” (ikut-ikutan).
Para informan yang saya wawancarai, rata-rata ingin menanam palawija untuk masa tanam ketiga supaya aman. Keputusan ini mereka ambil di tengah-tengah kebingungan mereka. Hal ini dilakukan karena mereka tidak tahu pasti sampai kapan hujan akan turun dan seberapa cukupkah air tersebut untuk padi yang ditanam. Keputusan itu juga biasanya dibicarakan dulu dengan tetangga atau
teman dalam satu kelompok tani, misalnya di kelompok tani Sumber Rejeki. Di dalam kelompok tersebut ada beberapa tokoh tani yang dianggap ahli, bahkan ada yang menjadi pendamping petani dari lembaga swadaya masyarakat yang sudah mendampingi mereka sejak paska-gempa tahun 2006. Selain itu petani yang masih menjadikan Pranatamangsa sebagai pedoman tahu bahwa Juni adalah mangsa Kasa (musim pertama) yaitu saat untuk menanam palawija karena sudah masuk
mangsa ketiga (musim kemarau) di mana, kata Pak Wito yaitu tamu Pak Sugi dari
Pedan, air pada saat “panas-panas ngeten niki isa sat mbak, nek mboten sat nggih .. Nek siyang niku toyane panas banget kados wedang” (panas-panas begini bisa
kering mbak, kalau tidak kering ya…kalau siang hari air menjadi hangat seperti
wedang).
Di lain pihak, informan memiliki pandangan sendiri tentang petugas penyuluh dan pola tanam, misalnya Mbah Supar mengatakan hal berikut:
“Kalau dari pemerintah kan musim tanam 1 & 2 itu sudah ada jadwal. Tapi kalau disesuaikan dengan pola tanam dari masyarakat yang punya itungan mangsa itu sok mboten cocok (kadang-kadang tidak cocok). Lha kalau pemerintah itu kan pertanian dengan teori untuk irigasi cukup, tapi tidak memperhitungkan kalau sawah itu tadah hujan. Paling-paling kita menggunakan disel. Kalau disel, pompa air apa sekaligus bisa serempak tanam, kan gak bisa? Harus bergilir. Kesulitan Mbak, kalau sawah tadah hujan seperti di sini. Pompa air harus gilir. Tidak bisa satu pompa untuk mengairi beberapa sawah. Pompa air itu sewa,
tapi kalau (istilah) sewa itu kan….”
(17 Mei 2009, Rumah Mbah Supar, dusun Sumber Wetan)
Pak Suradi memberikan alasan lain mengapa petani di desa tersebut tidak menurut petugas PPL:
“PPL juga memberikan penyuluhan masalah teknis pertanian, misalnya tentang pola tanam,
pupuk berimbang dll, namun petani sering gak manut . Hal itu terjadi misalnya karena lahan yang dikerjakan beda. PPL meminta agar urea yang dipake untuk 1 patok misalnya 1 sak, atau 0,5 kwintal, tapi petani sering memberi urea lebih dari yang dianjurkan. Karena petani mengenal dan mengerti bahwa tanah yang digarap dalam beberapa patok, punya karakter berbeda per patoknya. Maka apa yang diberikan PPL tidak bisa secara
mentah-mentah diaplikasikan pada semua tanah.”
Mbah Darno mempunyai tetembungan atau istilah untuk menyebut apa yang
dilakukan PPL yaitu “Gedhang uwoh pakel, nek mung omong we cul cul, le
nglakoni kuwi…”. Istilah itu aslinya di dalam bahasa Jawa berbunyi, Gedhang uwoh pakel, omong gampang le nglakoni angel. Artinya berbicara lebih mudah dari pada mengerjakan apa yang dibicarakan. Menurut Mbah Darjo apa yang diberikan petugas PPL ada yang dipakai ada yang tidak, karena petugas penyuluh itu hanya omong teori, sedangkan yang punya pengalaman praktik nyata adalah petani seperti dia. Padahal menurutnya teori dan praktik ini “sok-sok enten kegesehan” (kadang-kadang meleset).
Dari cerita di atas tampak bahwa ada jarak antara petugas penyuluh dan petani, baku pandang berdasarkan asumsi terhadap yang lain. Keadaan ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dilukiskan oleh Mubyarto di atas. Jarak antara petani dan penyuluh tersebut tercipta karena ideologi pembangunan yang diberlakukan paska kemerdekaan hanya bertujuan sekedar mimikri kemajuan atau modernitas negara-negara maju, yang notabene dulu pernah menjajah Indonesia. Dalam ideologi pembangunan petani tak ubahnya semut pekerja yang harus berproduksi untuk mencapai target tertentu sehingga nanti citra Indonesia menjadi naik karena laporan adanya peningkatan produksi. Di sisi lain, petani pun tidak kalah negatif dalam memandang petugas penyuluh. Selain bukti pandangan yang disampaikan para informan di atas, saya juga teringat dengan obrolan di rumah Pak Sugi dengan Pak Wito dari Pedan. Pak Wito menceritakan pengalaman berdebat dengan petugas penyuluh atau PPL.
“Kula wingi engkel-engkelan kalih PPLe. Wingi kan PPL-e maringi pelatihan. Nek resepe
pun padha kalih resep kula. Ning niki anu pak, Jenengan penggalih, kula bodho le…Ning
kula pun mrakteke. Ki tumpukane setengah meter, niku kleru. Pacul niku dawane pinten? Lha nek kula paling kandel niku 25 centi. Maksude napa? Nek ngaduk, niku saget kandas. Nek jenengan ken setengah meter. Lha niku disisir ping 3 men, iya nek pacule wutuh, nek
pacule gor kaya enthong? Kula ngotenke niku. Sak niki mang penggalih, kula ngoten. PPL niku omong, jane petani niku ana sing mudheng. Berarti ngeten niki Pak, kerjasama. Senajan kula penyuluh, sak jane kula niku nggih kalih golek sesuluh. Mbalik ngoten niku..
Lha terus anu…Nggen kula sing ler Jetis, nggene Pak Warno, niku dingge praktek PPL -PPL niku ngge nandur jagung. Padahal insinyure eneng. Lha kula kan, suku kula taksih
sakit ngangge krek nika ta, Le…aku terna nyang sawah, aku kudu nyang sawah. “Wis
diulatke seka ndalan ya ra nggenah, terus arep kokean ragad. Kula langsung kok, kuwi kokean ragad, nek ngge kula mboten. Niki insinyure tiyang pundi? (Jane enten mriku ning kula mboten ngerti pas niku), Niki nek para petani nggarape kaya jenengan niki, niku sawahe didol ngge tombok. Mang tinjo nggen kula. Kula nandur Lombok mawon tanpa olah tanah. Niku bagus. Nandur jagung kok kaya ngono. Saiki, bar dikoki, niki ditaju to, nandur biji, terus dikei rabuk hitam. Wa kleru pak26”
(15 Juni 2009, Rumah Pak Sugi, dusun Sumber Kulon)
Dari cerita tersebut intinya Pak Wito menceritakan bahwa ia mendapati petugas penyuluh melakukan kesalahan dalam memberikan pelatihan, maka ia kemudian memberikan koreksi. Pak Wito di situ juga mengkritik buruknya hasil tanaman garapan penyuluh. Dari cerita beliau saya menangkap kesan bahwa Pak Wito memandang penyuluh sebagai orang yang seharusnya dijadikan tempat bertanya, tidak boleh salah, dan seharusnya jika bercocok tanam hasilnya lebih baik dari petani biasa seperti dirinya. Pada waktu itu pandangan Pak Wito tersebut sedikit
26 Terjemahan bebas: “Saya beberapa waktu lalu berdebat dengan petugas PPL. Waktu itu petugas PPL memberi pelatihan (pembuatan kompos). Kalau resep yang dipakai sama dengan resep yang saya pakai. Tapi ini begini Pak, saya mohon perhatian Bapak. Saya ini memang bodoh…tapi saya sudah pernah praktik. Kalau (kotoran) ditimbun setinggi setengah meter, itu keliru. Cangkul itu panjangnya berapa? Menurut saya paling panjang itu 25 centimeter. Apa maksudnya (dengan menghitung panjang cangkul)? Supaya kalau mengaduk (kotoran untuk kompos) itu bisa rata sampai dasar. Kalau Anda minta supaya tinggi tumpukan kotoran setengah meter, walaupun dicangkul tiga putaran pun (tidak akan rata tercampur)…., Itu pun kalau cangkulnya utuh, kalau cangkulnya seperti sendok nasi? …. Saya omong begitu itu (kepada penyuluh). Sekarang coba Anda (pada saya, peneliti) pikir. PPL itu lalu bicara bahwa sebenarnya petani itu ada yang paham. Dengan demikian, ini namanya kerjasama Pak. Walau saya adalah penyuluh, sebenarnya saya juga dalam rangka belajar. Lha dia itu malah menjawab seperti itu….Lalu….kebon saya yang ada di utara Jetis, tempat Pak Warno, itu dipakai oleh para petugas penyuluh untuk praktik menanam jagung. Di antara petugas penyuluh ada insinyur (pertanian) juga. Pada waktu itu kaki saya masih sakit, masih memakai kruk penyangga kaki. Saya meminta anak saya untuk mengantarkan ke sawah. Saya lihat tanaman (hasil praktek penyuluh di kebun saya) kok tidak karuan, namun uang yang dikeluarkan sangat banyak. Langsung saya komentar, (praktik) cocok tanam seperti ini terlalu mahal. Kalau saya yang melakukan pasti tidak (akan semahal ini). Ini insinyurnya dari mana to? ..sebenarnya insinyurnya ada di situ, namun waktu itu saya tidak tahu. Kalau petani bercocok tanam seperti ini, pasti mereka harus jual sawah untuk menutup kerugian. Coba saja lihat hasil pertanian saya. Saya menanam cabe tanpa mengolah tanah pun, hasilnya bagus. Menanam jagung kok dengan cara seperti itu, habis ditaju, tabur biji, kok terus diberi pupuk hitam. Itu keliru Pak”
dikoreksi oleh anak laki-laki yang menyertai beliau. Menurut anaknya, si penyuluh sedang melakukan eksperimen, maka hasil pertanian bervariasi dalam satu lahan.
Pandangan negatif petani terhadap penyuluh ini menjadi ambivalen ketika posisi penyuluh yang dikritik ini pada saat yang sama juga diinginkan oleh si petani. Ambivalensi adalah istilah psikoanalisa yang menggambarkan hubungan fluktuatif antara menginginkan satu hal dan di lain sisi menolak atau menginginkan sebaliknya (Ashscroft, 1998).
Dalam percakapan saya dengan Mbah Darjo misalnya, beliau di satu sisi mengkritik dan memperlihatkan kecurigaan bahwa penyuluh melakukan korupsi untuk pengadaan pemberian bantuan bibit kedelai. Pada waktu itu saya menanyakan apakah Mbah Darjo menabung di bank, atau memiliki rekening bank. Beliau menjawab bahwa ia sempat membuka rekening bank sebagai syarat untuk menerima bantuan subsidi dari negara. Uang yang ditransfer ke rekening bank atas nama beliau, kemudian diambil oleh petugas penyuluh untuk dibelikan benih kedelai. Alokasi bantuan tersebut berupa uang dua belas ribu rupiah untuk satu paket kedelai bagi masing-masing anggota koperasi petani yang dipimpin oleh Mbah Darjo. Sebagai ganti, petani diminta untuk membayar seribu rupiah untuk satu paket subsidi kedelai tersebut. Dari 12 kg dalam 1 paket bantuan tersebut, rata-rata 1,5 kg-nya tidak layak tanam. Hal ini menimbulkan kemarahan pada Mbak Darjo dan beliau kemudian mengarahkan kemarahan kepada penyuluh. Menurutnya penyuluh bersekongkol dengan kroni mereka untuk menyediakan bibit murah berkualitas rendah, agar mereka bisa mengkorupsi sisa uang bantuan bibit itu. Kata beliau:
“Niku kan tengkulake kan pegawene (dengan suara pelan). Pamane kula-kula sing tampa dhuwit, nuku delene sampeyan, termasuk seka petani. Tak tuku. Njuk mengko tak wenehke karo petanine. Wonge dewe.”
(Itu yang menjadi tengkulak kan pegawai itu. Mbah Darjo memelankan suara ketika menyebut pegawai. Misalnya saya yang terima uang tersebut, lalu saya bersekongkol dengan Anda. Membeli kedelai dari Anda. Anda kan petani, berarti saya membeli kedelai dari hasil petani. Lalu kedelai tersebut saya berikan ke petani-petani penerima subsidi. Jadi ini dilakukan antar kroni pegawai itu).
(16 Juni 2009, Rumah Mbah Darjo, Dusun Plagan)
Namun dibalik kecurigaan dan kritik tersebut ada kerinduan Mbah Darjo untuk berada di posisi penyuluh, yaitu sebagai pegawai negeri. Paling tidak posisi itu ia dambakan untuk ditempati anaknya. Menurutnya, jadi petani tidak menguntungkan. Kalau tidak melakukan kerja apa pun, petani akan kelaparan. Hal itu tidak akan terjadi pada pegawai negeri, misalnya petugas penyuluh. Satu minggu tidak melakukan apapun, ia akan tetap mendapatkan gaji.
II. Ketika Musim Tak Menentu
Uraian dan analisa dalam sub-bab berikut adalah mengenai persepsi informan terhadap fenomena perbedaan hujan dalam beberapa dekade. Setelahnya adalah deskripsi data etnografi tentang dampak perubahan iklim terhadap hasil pertanian di desa Sumber, kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten.