• Tidak ada hasil yang ditemukan

APLIKASI KONSEP KEBENARAN VAN TIL TERHADAP KONDISI PASCAMODERNISME

Dalam dokumen Penerapan Konsep Kebenaran Cornelius Van (Halaman 127-184)

Pada bab ini penulis akan mengaplikasikan konsep kebenaran Van Til terhadap kondisi pascamodernisme. Penulis akan menggunakan konsep kebenaran Van Til untuk menganalisa sumber masalah dari pascamodernisme. Dari mana pascamodernisme sampai kepada keadaannya sekarang, yaitu keadaan yang diwarnai dengan relativisme sosial, pluralisme, tribalisme. Penulis juga akan memperlihatkan bagaimana konsep kebenaran Van Til dapat menghindari problem bias, kebenaran sebagai alat untuk membenarkan kekuasaan, dan menghadapi problem kemajemukan.

Van Til sendiri, di dalam apologetika dan teologinya, bukan berhadapan dengan pascamodernisme. Pada zaman Van Til berstudi, filsafat yang berkembang di Amerika adalah idealisme. Filsafat ini tidak populer lagi pada zaman pascamodern dan digantikan dengan filsafat analitik. Di dalam kariernya, ia berjuang membela iman Kristen ortodok—yang bagi Van Til diekspresikan dengan konsisten di dalam iman reformed— melawan teologi-teologi non-reformed seperti liberalisme, neo-ortodok, Katolik Roma, Arminian, dan Calvinisme yang tidak konsisten. Selain itu, Van Til juga berapologetika dan memberikan kritik kepada filsafat non Kristen yang populer pada zamannya seperti: Plato, Kant, Dewey, idealisme, personalisme, filsafat proses. Jika demikian apakah benar mengkaitkan antara Van Til dengan pascamodernisme? Menurut hemat penulis, pascamodernisme ultra-kritis—pascamodernisme yang dibahas di dalam tesis ini—

merupakan modernisme yang dibawa sampai kepada konklusi logisnya yang paling ekstrim (penulis akan menguraikan hal ini lebih lanjut di bagian berikutnya). Pascamodernisme, dalam pengertian di atas, merupakan penjabaran secara konsisten filsafat Imannuel Kant. Sehingga kritik Van Til terhadap modernisme masih relevan dan dapat diaplikasikan juga kepada pascamodernisme. Namun aplikasi konsep kebenaran Van Til tidak hanya bertumpu pada tulisan Van Til semata tetapi juga akan menggunakan sumber-sumber lain yang relevan bagi konsep dan kritik Van Til. Penulis akan mulai dengan analisa akar masalah pascamodernisme.

KONDISI PASCAMODERNISME SEBAGAI DAMPAK KEJATUHAN

Menganalisa akar pascamodernisme ultra-kritis merupakan pekerjaan yang sukar. Kesukaran ini muncul karena adanya beberapa macam deskripsi mengenai pascamodernisme terutama berkenaan dengan peran Imannuel Kant. Pertanyaannya adalah: “Apakah pemikiran Kant merupakan benih-benih dari pascamodernisme atau justru lawan dari pascamodernisme karena Kant dianggap merupakan bagian dari modernisme?” Penulis tidak akan membahas masalah tersebut, cukup untuk disimpulkan bahwa ada bagian-bagian pemikiran Kant yang menjadi benih-benih pemikiran pascamodernisme dan ada pemikiran Kant yang merupakan bagian dari modernisme.256

Pemikiran Kant yang menjadi benih dari pascamodernisme adalah epistemologi Kant.

256Foucault, misalnya, mengatakan bahwa Kant memulai modernitas. Warisan Kant di dalam

modernitas menghasilkan dua jalur yang berbeda di dalam modernitas. Jalur pertama mengarah kepada penyelidikan “kebenaran analitik,” yaitu penyelidikan terhadap kemungkinan pengetahuan. Jalur yang kedua adalah jalur “ontologi kekinian” atau “ontologi diri sendiri.” Jalur kedua ini menyelidiki subyek yang berfilsafat itu sendiri. Jalur ini memperlihatkan historisitas dari semua penalaran mengenai yang universal. Foucault menolak warisan Kant pada jalur pertama. Ia mendekonstruksi subyek transenden yang menjadi subyek pengetahuan. Foucault mengambil jalur kedua dari warisan Kant. Oleh sebab itu, meski Foucault merupakan tokoh pascamodernisme tetapi ia membuat klaim yang mengejutkan bahwa ia berada pada tradisi Kantian, (lihat Paul Lakeland,Postmodernity[Minneapolis: Fortress, 1997] 14-15).

Kant, pada zamannya, berusaha untuk mengamankan Pencerahan dari serangan skeptisisme yang dimunculkan oleh David Hume. Usaha Kant ini membawanya kepada pencarian suatu filsafat tahan gempuran skeptisisme Hume. Pencarian filsafat tersebut sampai kepada suatu konsep epistemologi yang mengajarkan bahwa pikiran manusia memberikan tatanan dan makna kepada pengalaman-pengalaman manusia terhadap alam. Pikiran manusia pula yang memberikan aturan-aturan moral. Bahkan pikiran manusia yang memberikan struktur dan tatanan kepada alam. Benih pemikiran ini, pikiran manusia merupakan unsur utama yang membentuk pengalaman manusia terhadap dunia, akhirnya berakar dan bertumbuh menjadi konsep pascamodernisme.257 Pascamodernisme

mengajarkan bahwa tidak ada realitas di dalam dirinya sendiri yang terlepas dari paradigma (prasuposisi) kita. Paradigma kita bukan hanya berfungsi sebagai lensa yang melaluinya aturan, makna, dan kebenaran dipahami tetapi paradigma merupakan sumber dari hal-hal tersebut. Singkatnya, manusia adalah pengukur realitas karena manusia yang menciptakan realitas.

Pandangan Kant, sebagai benih pemikiran pascamodernisme, dapat kita sebut sebagai anti-realisme kreatif Kantian (Kantian creative anti-realism). Konsep fundamental dari anti-realisme kreatif Kantian adalah bahwa kita manusia bertanggung jawab bagi struktur dan hakekat dunia ini. Kita, pada dasarnya, adalah arsitek dari dunia ini. Pandangan ini tentu saja tidak menyangkal adanya kuda, gunung, planet, dan bintang-bintang, namun pandangan anti-realisme kreatif ini mengatakan bahwa eksistensi dan struktur fundamental mereka telah diberikan kepada mereka oleh aktivitas konseptual

257Untuk melihat perkembangan subyektivisme epistemologis Kant menjadi konsep relativisme

pascamodernisme lihat Ted Cabal, “An Introduction to Postmodernity: Where are We, How did We Get Here, and Can We Get Home?” http://www.sbts.edu/resources/sbjt/2001/Postmodernity.pdf; Cooper, “Reformed Apologetics” 113; D. Martin Fields, “Postmodernism,” http://capo.org/premise/95/sep/ p950805.html.

dari manusia bukan oleh aktivitas konseptual Allah yang berpribadi. Menurut pandangan ini seluruh dunia pengalaman kita—dunia pohon-pohon, dinosaurus, bintang— mendapatkan struktur dasarnya dari aktivitas pikiran manusia. Struktur fundamental dunia, seperti ruang, waktu, obyek, bilangan, kebenaran, kemungkinan, eksistensi, dan sebagainya, tidaklah ditemukan dan didapatkan begitu saja di dalam dunia ini tetapi dibangun oleh aktivitas mental atau konseptual kita. Pandangan anti-realisme kreatif ini yang mewarnai filsafat eksistensialisme Sartre, filsafat hermeneutika Heidegger, pascastrukturalisme Perancis, dan Richard Rorty.258 Pada akhirnya pandangan anti-

realisme kreatif ini akan menghasilkan relativisme. Jika setiap orang atau setiap komunitas membangun “dunianya” sendiri maka akan ada kemajemukan “dunia.” Tiap komunitas atau individu tersebut tidak dapat mengklaim bahwa “dunianya” lebih baik daripada “dunia” yang lain. Hasil akhirnya adalah relativisme.

Pada dasarnya pandangan anti-realisme kreatif ini memiliki kesamaan memiliki kesamaan dengan modernisme. Kesamaan ini terletak pada penggunaan rasio yang otonom. Gary Gutting, misalnya, seorang yang bersimpati dengan filsafat Rorty mengatakan bahwa: “Rorty’s pragmatism is certainly critical of classical formulations of the Enlightenment project. But, as I will show, properly clarified and modified, it renews rather than rejects the fundamental Enlightenment idea of human autonomy through reason.”259 Pada akhirnya pascamodernisme merupakan upaya menjadikan pikiran dan

258Alvin Plantinga, “Christian Philosophy at the End of Twentieth Century” dalam The Analytic Theist (ed. James F. Sennet; Grand Rapids: Eerdmans, 1998) 330-332; Alvin Plantinga “On Christian Scholarship” http://id-www.ucsb.edu/fscf/library/plantinga/OCS.html; lihat juga Scott Oliphint, “Non Sola Ratione: Three Presbyterians and the Postmodern Mind” http://mywebpages.comcast.net/oliphint/ Writings/Davis%20chapter %20cited.htm

259Gary Gutting,Pragmatic Liberalism and the Critique of Modernity(Cambridge: Cambridge University

praktek-praktek sosial manusia sebagai hakim tertinggi untuk kebenaran dan kehidupan manusia. Singkatnya, manusia menjadi pengukur segala sesuatu, “homo mensura.”

Bagi Van Til motif ini telah ditemukan jauh sebelumnya yaitu pada waktu manusia pertama jatuh dalam dosa. Pada waktu manusia pertama jatuh dalam dosa maka manusia menjadikan dirinya sendiri sebagai standar utama kebenaran dan kesalahan, tindakan yang benar dan tindakan yang salah. Ia menjadikan dirinya sendiri sebagai titik rujukan final bagi pengetahuannya.260 Manusia berdosa memprasuposisikan otonomi

moral dan intelektual manusia. Van Til menjelaskan:

Man has declared his independence from God. We may therefore call him the would-be autonomous man. This would be autonomous man assumes that he is ultimate and properly the final reference point in predication, i.e., reality must be interpreted by man in terms of man.261

Manusia otonomi mencoba menjadi “Tuhan” dan menyangkal kodratnya sebagai ciptaan Allah.

Pengaruh prasuposisi orang non-Kristen ini terhadap pengetahuan adalah skeptisisme di dalam pengetahuan. Orang tidak percaya berupaya membangun pengetahuan ideal yang sempurna dan lengkap. Tentu saja hal ini tidak mungkin karena ia bukan Allah dan dibatasi oleh tempat, waktu, sejarah, dan budaya. Hasilnya adalah skeptisisme yang dimanifestasikan di dalam zaman pascamodern dengan relativisme sosial dan pluralisme. Bahnsen memberikan alasan mengapa prasuposisi non-Kristen ini tidak dapat menjadi jaminan bagi pengetahuannya. Pertama, jika prasuposisi non- Kristen benar maka subyek yang mengetahui tidak berbeda dengan benda-benda lain di alam ini. Subyek pengetahuan tidak dapat dibedakan dari benda-benda lain meskipun ia

260Van Til,A Christian Theory47.

261Cornelius Van Til, The Protestant Doctrine of Scripture (Ripon: den Dulk Foundation, 1967)

memiliki pikiran yang sadar akan dirinya sendiri, memiliki kebebasan untuk mencari kebenaran, mengevaluasi pilihan-pilihan yang ada, dan membuat komitmen inteletual. Sebab pikiran manusia tidak lain hanya sekedar otak fisik yang, seperti obyek-obyek alam lainnya, ditentukan oleh proses kimia, biologi, dan fisika. Pikiran manusia sebagai produk probabilitas alam tidak dapat menjamin konsep-konsep universal, harus ada (necessary), relasi sebab akibat, atau perintah-perintah moral. Kedua, jika prasuposisi non-Kristen benar maka fakta-fakta yang ditemukan oleh manusia adalah fakta yang tidak memiliki kaitan satu dengan yang lain. Fakta-fakta tersebut merupakan fakta-fakta random dan tidak memiliki relasi dengan fakta-fakta yang lain. Fakta yang demikian tidak dapat membenarkan upaya kategorisasi, pencarian hukum-hukum alam, atau prediksi terhadap alam. Tidak ada jaminan bahwa rasio manusia dapat diterapkan kepada fakta-fakta tersebut sehingga logika manusia tidak memiliki jaminan untuk dapat beroperasi.262 Para filsuf pascamodernisme melihat hal ini dengan jelas. Bagi filsuf

pascamodernisme skeptisisme ini merupakan dampak dari manusia yang berakar di dalam ruang dan waktu. Skeptisisme tersebut disebabkan karena manusia berakar pada sejarah dan budaya di mana ia berada. Tetapi menurut Van Til, pada dasarnya problem ini berakar dari masalah etis, yaitu penolakan manusia terhadap Allah dan penyataan-Nya. Penolakan terhadap Allah dan penyataan-Nya menghasilkan problem pengetahuan dan epistemologis yaitu relativisme sosial dan pluralisme.

Kejatuhan manusia pertama dalam dosa memiliki dampak yang lain. Kejatuhan memiliki dampak terhadap struktur berpikir orang tidak percaya. Menurut Van Til, struktur pemikiran orang tidak percaya pada dasarnya adalah penolakan terhadap Allah Alkitab. Pada waktu manusia menyangkal Allah maka struktur berpikir manusia jatuh ke

dalam rasionalisme dan irasionalisme. Rasionalisme dan irasionalisme ini nampak pada kejatuhan Adam dan Hawa. Pada waktu kejatuhan Adam dan Hawa, mereka mempertanyakan apakah Allah sungguh-sungguh mengetahui kebenaran tentang buah pengetahuan yang baik dan jahat itu. Bagi mereka, Adam dan Hawa, belum ada seorangpun yang memiliki pengalaman memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat tersebut, tidak ada pula penyelidikan secara induktif yang memperlihatkan adanya kejahatan di dalam penggunaan buah pengetahuan yang baik dan jahat tersebut. Menurut Van Til, ini merupakan metode induktif dengan asumsi misteri ultima (ultimate mystery), bahwa misteri berlaku bagi Allah dan manusia. Ada kemungkinan-kemungkinan yang belum diketahui oleh baik Allah maupun oleh manusia. Strategi ini merupakan penyangkalan terhadap kemampuan Allah untuk mengidentifikasikan diri-Nya sendiri. Baik Allah maupun manusia tidak dapat mengetahui siapa dirinya sendiri sesungguhnya. Ini merupakan irasionalisme.263 Asumsinya bahwa realitas dikontrol oleh

nasib/kebetulan (chance), epistemologi dikuasai oleh misteri. Van Til menjelaskan: “Abstract possibility in metaphysics and ultimate mystery in epistemology are involved in one another.”264

Namun ada sisi lain dari kejatuhan Adam dan Hawa. Bagaimana manusia dengan aman mengabaikan perintah Allah? Bagaimana mereka mengetahui bahwa Allah tidak mengetahui apa yang akan terjadi ketika manusia tersebut memakan buah terlarang tersebut? Manusia, waktu mereka makan buah pengetahuan baik dan jahat, mengasumsikan bahwa hukuman yang mengancam mereka tidak akan terjadi. Setan memberi tahu manusia bahwa realitas tidak seperti yang dikatakan Allah. Realitas perlu

263Van Til,A Christian Theory48. 264Ibid.

dipahami oleh manusia maupun oleh Allah. Sebab itu manusia tidak perlu hidup di bawah otoritas perintah Allah. Manusia dapat menyelidiki apa yang terjadi di dalam sejarah dengan penyelidikannya yang independen. Manusia dapat menyelidiki hukum- hukum alam dengan hukum-hukum rasionalitas penalarannya. Hukum-hukum alam dapat diselidiki oleh hukum-hukum berpikir manusia. Hukum-hukum berpikir ini diterapkan baik kepada Allah maupun kepada manusia. Ini merupakan asumsi monistik, yaitu Allah dan manusia setara dan dapat diperlakukan sama. Strategi ini merupakan segi rasionalisme manusia berdosa. Asumsinya adalah realitas diatur oleh hukum-hukum yang dapat dipahami oleh pikiran manusia.265

Menurut Van Til, struktur pemikiran rasionalis dan irasionalis ini merupakan upaya manusia berdosa yang sia-sia dan saling menghancurkan dirinya sendiri. Jika irasionalisme benar maka ia salah. Jika semua pemikiran adalah produk dari kebetulan dan nasib bagaimana pikiran manusia dapat disandari untuk menghasilkan irasionalisme? Rasionalisme berjuang untuk mengatasi kebenaran yang sudah umum bagi semua orang yaitu bahwa pikiran manusia tidak mandiri dan tidak tepat menjadi kriteria final kebenaran. Karena itu rasionalis hanya dapat membela posisinya dengan membatasi rasionalismenya pada kebenaran-kebenaran tertentu yang, menurut rasionalis, nampak jelas dan terbukti dengan sendirinya. Kebenaran-kebenaran tersebut, misalnya, “kita ada,” “kita berpikir,” dan lain sebagainya. Dari kebenaran-kebenaran ini, orang rasionalis berupaya mendeduksi semua kebenaran lain dari kebenaran-kebenaran yang jelas tersebut dan menyangkal kebenaran-kebenaran lain yang tidak dapat dideduksi dari

265Ibid. 48-49. Struktur rasionalistik cenderung memandang pikiran manusia mampu

menggambarkan realitas dengan akurat dan pikiran manusia berfungsi sebagai otoritas final semua klaim pengetahuan. Struktur irasionalistik di dalam filsafat cenderung berwujud pengakuan akan keterbatasan dan kelemahan intelektual manusia, ketidaksanggupan rasio manusia untuk memahami segala sesuatu, dan kurangnya kepastian di dalam menghadapi skeptisisme dan misteri. (Bahnsen, Van Til’s316, catatan kaki 109).

sana. Akibatnya pikiran manusia hanya mengetahui dirinya sendiri atau hanya mengetahui pikirannya sendiri. Namun bila ada kebenaran-kebenaran lain yang muncul maka kepastian rasionalisme menjadi goyah. Sebab itu rasionalis yang konsisten akan, pada akhirnya, menyangkal akan adanya hal-hal yang lain kecuali “pikiran yang murni” (pure thought). Namun apakah “pikiran murni” ini yang bukan berbicara pemikiran tentang sesuatu? Apakah ide “pikiran murni” memiliki makna? Pengetahuan yang diagungkan oleh rasionalis adalah pengetahuan mengenai kekosongan.266 Orang tidak

percaya menjadi irasionalistik dengan menyangkal satu-satunya sumber aturan dan makna di dalam alam semesta ini, mereka menjadi rasionalistik dengan menempatkan dirinya di tempat Allah sebagai penentu kebenaran dan kesalahan.

Struktur pemikiran rasionalis dan irasionalis meskipun nampak bertentangan tetapi saling membutuhkan satu dengan yang lain. Irasionalis tidak dapat dengan konsisten mempertahankan posisinya. Ia memerlukan rasionalis dengan otonominya. Sedangkan rasionalis memerlukan irasionalis untuk dapat memasukan pengetahuan baru ke dalam sistemnya. Struktur pemikiran ini mewarnai seluruh filsafat Barat. Pada filsafat kuno motif rasionalis yang dominan sedangkan pada zaman modern motif irasionalis yang dominan. Dalam skema struktur pemikiran ini beberapa pemikir Barat yang relativis dan skeptis berada pada struktur pemikiran irasionalis. Mereka, antara lain, adalah sofis Yunani. Namun mereka ini, para sofis, juga bersifat rasionalistik karena mereka secara dogmatik membenarkan sikap skeptisisme mereka. Filsuf-filsuf yang lain, seperti Parmenides, Descartes, Spinoza, Leibniz, dan Hegel, berada pada struktur pemikiran rasionalis. Mereka percaya bahwa pikiran manusia yang mandiri merupakan standar final kebenaran. Namun mereka gagal membangun sebuah sistem pengetahuan

yang komprehensif berdasarkan rasio manusia mandiri. Pembelaan mereka terhadap rasionalisme memerlukan adanya mitos-mitos tertentu (dalam kasus Parmenides), asumsi yang tanpa argumen lagi (Descartes dan Spinoza), atau suatu dialektika penyangkalan diri (Hegel). Filsuf-filsuf yang besar, seperti Plato, Aristoteles, dan Kant, mencoba menggabungkan struktur pemikiran rasionalistik dengan irasionalistik. Mereka mencoba menjadi rasionalis di satu sisi—dengan konsep dunia (bentuk bagi filsuf Yunani, dunia fenomena bagi Kant)—dan irasionalistik mengenai hal yang lain (materi bagi para filsuf Yunani atau noumena bagi Kant).267

Di mana tempat para filsuf pascamodernisme di dalam struktur pemikiran orang non-Kristen ini? Mereka ini berada pada struktur pemikiran yang irasionalis. Mereka menyangkal kebenaran obyektif, pemikiran ilmiah, bahasa sebagai alat komunikasi rasional, adanya metanarasi, mengarah kepada relativisme, dan makna bergantung kepada pembaca. Namun mereka ini juga bersifat rasionalistik karena mereka bersikap pasti mengenai pandangan mereka. Pada waktu para filsuf pascamodern ini mengklaim bahwa pengetahuan merupakan alat pembenaran kuasa, bahwa tidak landasan bagi bahasa manusia, bahwa pembenaran hanya ada di dalam komunitas, maka klaim-klaim ini bersifat pasti dan merupakan kebenaran. Mereka berupaya mengajak dan membujuk orang lain untuk menganut pandangan mereka dengan cara menerbitkan konsep-konsep mereka di dalam bentuk tulisan. Hal ini merupakan sikap yang bertentangan dengan konsep mereka sendiri yang menyangkal kebenaran obyektif dan tunggal. Sehingga pada

267John M. Frame, “Presuppositional Apologetics” dalam Views on Apologetics (Ed. Steven B.

Cowan; Grand Rapids: Zondervan, 2000) 213. Bagaimana dengan agama-agama non-Kristen? Bagi Van Til, orang tidak percaya terutama menunjuk kepada sistem filsafat sekuler di Barat meski mencakup pula orang-orang dari agama-agama lain. Frame merevisi struktur pemikiran irasionalis dan rasionalis ini hingga menjangkau seluruh pemikiran non-Kristen termasuk agama non-Kristen. Ia membagi dua kategori pemikiran yaitu ateisme, penyembahan berhala, dan kategori ketiga adalah gabungan keduanya. Agama- agama non-Kristen di tempatkan dalam kategori penyembahan berhala karena menjadikan ilah lain sebagai Allah mereka. (Lihat John M. Frame,Apologetics to the Glory of God[Phillipsburg: P & R, 1994) 193-202.

dasarnya pascamodernisme merupakan pemikiran yang menghancurkan dirinya sendiri.268

PROBLEM BIAS/PERSPEKTIF

Di dalam kondisi pascamodern, menjadi jelas bahwa setiap manusia, bahkan komunitas, memiliki perspektif, paradigma, atau prasuposisinya masing-masing. Karena pengaruh prasuposisi maka tidak ada wilayah yang obyektif baik berupa fakta maupun dalam penggunaan rasio. Semua fakta diinterpretasi menurut prasuposisi masing-masing dan penggunaan rasio bergantung kepada prasuposisi seseorang. Jika tidak ada yang obyektif bahkan setiap orang tidak dapat keluar dari prasuposisinya maka yang ada adalah relativisme baik personal maupun sosial. Ini merupakan problem perspektif atau bias.

Bagi kalangan pascamodernis problem bias atau perspektif manusia merupakan hasil dari keterbatasan manusia. Manusia adalah makhluk yang berakar di dalam ruang dan waktu sehingga sangat dipengaruhi oleh kelas sosial, struktur ekonomi, semangat zaman, dan kebudayaan di mana ia hidup. Dengan kata lain problem perspektif dan bias berakar kepada masalah metafisik yaitu keterbatasan manusia dan oleh sebab itu bersifat inheren di dalam diri manusia. Tidak ada upaya yang dapat dilakukan manusia untuk mengatasi masalah perspektif atau bias ini. Bahkan, bagi filsuf pascamodernis, upaya untuk mengatasi bias atau perspektif ini, dengan cara membuat kebenaran obyektif dan sistem pemikiran yang komprehensif, dianggap sebagai sebuah kekerasan karena “memotong” konsep atau fakta yang tidak sesuai dengan konsep dan sistem berpikir yang

hendak mereka buat tersebut. Bagi filsuf pascamodernis mengatasi perspektif atau bias seseorang sama dengan melakukan tindakan kekerasan terhadap “yang lain.”269

Bagi Van Til masalah prasuposisi dan interpretasi merupakan bagian yang inheren di dalam diri manusia. Pada waktu manusia pertama belum jatuh ke dalam dosa, mereka memprasuposisikan Allah di dalam pengetahuan mereka. Prasuposisi ini tertanam di dalam diri mereka sebagai ciptaan. Manusia pertama menginterpretasi segala sesuatu sesuai dengan interpretasi Allah terhadap segala sesuatu tersebut. Manusia menerima penyataan Allah dari dalam dirinya sendiri, dari alam di sekelilingnya, dan dari Allah sendiri. Mereka receptively reconstructive.270 Pengetahuan yang manusia dapatkan

adalah pengetahuan analogis.271 Pengetahuan yang memprasuposisikan perbedaan

Penciptan dan ciptaan dan otoritas penyataan Allah atas pengetahuan mereka. Meskipun pengetahuan mereka tidak lengkap tetapi pengetahuan itu benar karena bergantung kepada Allah. Pengetahuan yang mereka dapatkan tentang fakta juga bersifat obyektif karena fakta dipahami dengan prasuposisi yang benar. Mereka juga menginterpretasi

269Lihat skema yang diajukan oleh James K. A. Smith,The Fall of Interpretation(Downers Grove:

InterVarsity, 2000) 23. Smith membahas masalah hermeneutika sebagai epistemologi. Ia memasukkan hermeneutika Derrida (seorang filsuf pascamodernis) ke dalam kategori hermeneutika sebagai mediasi kekerasan (violent mediation). Hermeneutika mediasi kekerasan berpandangan bahwa hermeneutika (interpretasi) sebagai bagian yang inheren di dalam diri manusia bahkan bersifat kekerasan. Interpretasi tidak dapat diatasi dan juga kekerasannya. Tokoh yang termasuk ke dalam kategori ini, selain Derrida, adalah Heidegger.

270Van Til,The Defense48-49.

271Van Til,An Introduction25. Apakah pengetahuan Adam dapat salah? Apakah ada perbedaan

perspektif di dalam pengetahuan Adam dan Hawa? Pertanyaan ini tidak dapat kita jawab dengan pasti. Penulis hanya bisa mengatakan bahwa kesalahan pengetahuan bukan suatu dosa dan dapat pula akibat dari

Dalam dokumen Penerapan Konsep Kebenaran Cornelius Van (Halaman 127-184)

Dokumen terkait