• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP KEBENARAN CORNELIUS VAN TIL

Dalam dokumen Penerapan Konsep Kebenaran Cornelius Van (Halaman 86-127)

Di dalam bab ini penulis akan membahas konsep kebenaran Cornelius Van Til. Untuk memahami konsep kebenaran Van Til penulis akan menguraikan secara singkat latar belakang pemikiran Van Til dan konsep-konsep epistemologisnya. Kemudian di bab selanjutnya penulis akan mengaplikasikan konsep kebenaran Van Til pada problem- problem pascamodernisme.

Di dalam kondisi pascamodern kita perlu membela dan mempertahankan konsep kebenaran dan bukan hanya isi dari klaim-klaim kebenaran itu sendiri. Bagaimana kita dapat membela suatu klaim kebenaran jika konsep kebenaran itu sendiri dipertanyakan oleh kalangan pascamodernisme? Untuk itu kita perlu kembali menegaskan suatu konsep kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan ditengah-tengah kondisi pascamodern ini. Kondisi pascamodern memberikan kepada kita tantangan pada waktu kita ingin menegaskan konsep kebenaran tersebut. Tantangan tersebut dapat kita ringkas dalam tiga tantangan. Tiga tantangan tersebut adalah: pertama, tantangan masalah perspektif dan masalah keberpihakan/bias. Apa yang seseorang lihat dan pahami dipengaruhi oleh faktor-faktor di mana ia berdiri, di mana ia hidup, siapa dia, apa yang ia upayakan untuk pahami, dan mengapa ia berupaya untuk memahami. Selama manusia masih hidup di dalam ruang dan waktu maka tidak ada seorang manusiapun yang bebas dari bias ini.

suatu masyarakat dipandang sebagai sarana pembenaran terhadap proposisi maupun proses pengesahan proposisi tersebut menjadi pengetahuan. Bahasa dan ide-ide bersilangan dengan, bahkan dibuat lebih rumit dengan, relasi-relasi dominasi kuasa. Bahkan pengetahuan merupakan produk dari jaringan kekuasaan. Ketiga, tantangan masalah kemajemukan. Bagi orang yang hidup dalam dalam zaman pascamodern satu ide yang jelas dan tidak dapat dibantah adalah adanya persaingan dan konflik klaim- klaim kebenaran yang menandai situasi pascamodern ini. Kita hidup di dalam zaman yang plural (majemuk). Di dalam situasi majemuk ini maka bagi beberapa orang klaim- klaim kebenaran bersifat eksklusivistik dan dengan demikian juga bersifat menindas. Tetapi bagi yang lain kebenaran harus bersifat inklusivistik, merangkul semua klaim- klaim kebenaran.183 Di tengah-tengah kondisi seperti ini kita, kalangan injili, harus

menegaskan kembali klaim kebenaran. Karena manusia perlu percaya bahwa apa yang ia percayai adalah benar dan manusia memiliki hak untuk percaya apa yang benar. Untuk itu kita mencari dari epistemologi tradisi Calvinis Belanda yaitu dari Cornelius Van Til untuk menjawab tantangan tersebut. Mengapa memilih Van Til? Pertama, dan ini yang terpenting, adalah karena ia berupaya secara konsisten mengembangkan suatu epistemologi yang bersumber dari dan mengacu kepada Alkitab. Alkitab bagi Van Til menjadi sumber pembenaran pengetahuan manusia bahkan epistemologi manusia. Alkitab menjadi titik awal epistemologis bagi iman Kristen. Pandangan seperti ini sesuai dengan keyakinan injili sehingga tepat bila kita memilih Van Til untuk menjadi sumber di dalam menghadapi tantangan epistemologi dari pascamodernisme. Kedua, Van Til, sebagai seorang epistemolog, mengembangkan suatu epistemologi yang berkaitan dengan kepercayaan teistik. Ia juga mengembangkan suatu keyakinan bahwa Alkitab (sebagai

suatu kepercayaan teistik) bukan hanya perlu bagi keyakinan religius tetapi juga bagi pengetahuan manusia pada umumnya.184 Ketiga, pemikiran Van Til sangat

berpengaruh—melalui murid-muridnya seperti Francis Schaeffer, John Frame, dan Greg Bahnsen—dikalangan reformed injili baik di Amerika maupun di Indonesia sendiri.

Pilihan kepada Van Til tentu menimbulkan pertanyaan: “Dapatkah konsep kebenaran Van Til, atau lebih luas lagi epistemologinya, menghadapi tantangan pascamodernisme? Dapatkah konsep kebenaran Van Til memuat hal-hal yang positif dari pascamodernisme sambil menghindari, bahkan melengkapi, hal-hal yang merupakan kelemahan-kelemahan dari pascamodernisme?” Pada bab ini kita hanya akan menguraikan konsep kebenaran Van Til. Pada bab keempat kita mencoba mengkaitkan konsep kebenaran Van Til ini dengan tantangan dari pascamodernisme seperti yang telah diringkas di atas. Namun sebelum kita membahas konsep kebenaran Van Til kita akan melihat sejenak latar belakang pemikiran Van Til dan karya-karyanya.

LATAR BELAKANG PEMIKIRAN VAN TIL DAN KARYA-KARYANYA

Cornelius Van Til lahir tanggal 3 Mei 1895 di desa Grootegast, Belanda. Ia adalah anak keenam dari Ite dan, istrinya, Klazina Van Til. Ite adalah seorang peternak hewan, yang memelihara dan menjual hewan-hewan.185 Pada usia sepuluh tahun

Cornelius Van Til dan keluarganya pindah ke Amerika Serikat tepatnya di Highland, Indiana. Di sana ia mempelajari bahasa Inggris dengan cepat. Pada tahun 1919, ketika ia berusia sembilan belas tahun, Van Til melanjutkan studi ke Calvin Preparatory School dan meneruskan studinya di Calvin College. Pada tahun 1921 ia meneruskan studinya ke

184Paul Pardi, “Can Epistemology be Saved?” http://www.biblicaldefense.org/Research_Center /Philosophy/Can%20Epistemology%20Be%20Saved.htm#_ednref6.

Calvin Theological Seminary. Karena studinya di Calvin College dan Seminary maka Van Til sangat akrab dengan karya-karya Abraham Kuyper (1837-1920) dan Herman Bavinck (1854-1921). Di Calvin Seminary ia belajar teologi dari Louis Berkhof dan filsafat Kristen dari W. H. Jellema. Tetapi Van Til hanya satu tahun berstudi di sana karena pada tahun 1922 ia pindah ke Princeton Theological Seminary, sebuah seminari Calvinis yang ortodok pada masa itu. Ia menyelesaikan M.Th-nya pada tahun 1925 dan menikah dengan Rena Klooster. Pada tahun 1927 ia menyelesaikan Ph.D-nya di bidang filsafat dengan disertasiGod and the Absolute. Van Til sempat menjadi pendeta jemaat pada tahun 1927 setelah ia lulus dari Princeton University dan menjadi dosen apologetika pada tahun 1928-1929 di Princeton Theological Seminary. Namun Van Til kemudian mengajar apologetika di Westminster Theological Seminary, Philadelphia, mulai dari tahun 1929 sampai pada masa pensiunnya tahun 1972. Di Westminster Theological Seminary Van Til menjadi terkenal dengan apologetika prasuposisionalismenya. Ia meninggal pada tanggal 17 April 1987 pada usia 92 tahun.186

Van Til banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh reformed Belanda seperti Abraham Kuyper dan Herman Bavinck. Mereka mempengaruhi Van Til sehingga dalam apologetika Van Til lebih banyak bersandar kepada tradisi reformed Belanda daripada reformed Amerika yang lebih banyak dipengaruhi oleh filsafat akal sehat (common sense) dari Skotlandia. Tradisi reformed Amerika di dalam teologi Old Princeton banyak menghasilkan apologetika yang bersifat evidensialisme, sebuah apologetika yang berupaya menerima tantangan evidensialisme187 dengan cara memperlihatkan bahwa

186Bahnsen,Van Til’s7-20.

187Evidensialisme merupakan klaim bahwa kepercayaan religius adalah irasional, tidak masuk akal, pelanggaran terhadap kewajiban epistemik kita, kecuali jika didukung oleh eviden-eviden atau argumen-

kekristenan memiliki dasar bukti dan argumen yang kuat. Sedangkan tradisi reformed Belanda banyak menghasilkan apologetika yang bersifat prasuposisionalisme seperti Herman Dooyeweerd, H. G. Stoker, dan D. Th. Vollenhoven. Selain tokoh-tokoh reformed Belanda, nama-nama seperti Benjamin B. Warfield, Charles Hodge, dan Geerhardus Vos juga turut mempengaruhi teologi Van Til. Mereka adalah orang-orang yang mengajar di Princeton Theological Seminary dan berada dalam tradisi Calvinis. Selain itu Van Til juga mempelajari filsafat idealisme188 di Princeton University.

Pengaruh filsafat idealisme nampak pada istilah-istilah yang sering digunakan Van Til seperti prasuposisi, universal konkrit, problem tunggal dan jamak, sistem absolut, metode implikasi, konsep pembatas.189 Van Til mengambil apa yang benar dari idealisme

(karena anugerah umum) dan mencangkokannya ke dalam iman Kristen reformed. Bagi Van Til konsep-konsep idealisme yang benar tersebut hanya dapat berkembang di dalam kerangka iman Kristen. Sehingga ketika Van Til menggunakan argumen, istilah-istilah, dan metode idealisme maka kita harus memandangnya sebagai transplantasi dan pencangkokan ke dalam terang kebenaran Alkitab. Namun Van Til juga menolak pemikiran idealisme yang menyamakan Pencipta dengan ciptaan dan menempatkan

argumen yang cukup (Merold Westphal, “A Reader’s Guide to ‘Reformed Epistemology,’” Perspectives 7/9 [November 1992] 10).

188Pada umumnya idealisme dapat didefinisikan sebagai pandangan yang mengatakan bahwa obyek, suatu obyek material partikular, tidak dapat eksis secara independen dari kesadaran (subyek yang sadar) terhadap mereka. Tidak ada sesuatu yang eksis kecuali ide-ide di dalam pikiran seseorang. Pandangan ini menempatkan pikiran dan nilai-nilai spiritual lebih tinggi dari pada hal-hal yang material. Tokoh-tokoh yang termasuk ke dalam filsafat ini antara lain: Berkeley (1685-1753), Fichte (1762-1814), Hegel (1770-1831). (Norman L. Geisler dan Paul D. Feinberg, Introduction to Philosophy[Grand Rapids: Baker, 1980] 143).

189Frame,Cornelius Van Til21. Bagi Van Til, istilah–istilah tersebut diberi pengertian yang baru. Prasuposisi merupakan komitmen hati seseorang yang paling mendasar yang akan membentuk wawasan dunia seseorang. Universal konkrit merupakan istilah yang menunjukan suatu konsep atau ide yang bersifat universal sekaligus konkrit dan bukan bersifat abstrak. Tunggal dan jamak merupakan problem filsafat Barat tentang bagaimana mengkaitkan yang partikular dengan yang universal. Sistem absolut merupakan sistem pengetahuan yang mencakup segala sesuatu. Metode implikasi merupakan metode mengkaitkan fakta partikular dengan suatu sistem pengetahuan yang absolut. Konsep pembatas merupakan konsep-konsep yang membatasi konsep-konsep lain di dalam sebuah sistem pengetahuan.

mereka di bawah struktur universal yang bersifat impersonal.190 Pemikiran filsafat yang

banyak mempengaruhi Van Til adalah filsafat Kristen seperti yang di kembangkan oleh Abraham Kuyper. Kuyper sendiri mengembangkan konsep wawasan dunia Kristen yang harus mengatur dan menguasai pemikiran orang Kristen. Bagi Kuyper, Kristus adalah Tuhan atas semua aspek kehidupan manusia oleh sebab itu semua pemikiran dan kehidupan manusia harus tunduk di bawah penguasaan Kristus. Pikiran yang tunduk kepada Kristus ini diperlihatkan melalui pengembangan pemikiran yang bersifat kristiani. Pemikiran yang bersifat kristiani ini diwarnai oleh wawasan dunia Kristen. Bagi Kuyper, wawasan dunia Kristen berasal dari Alkitab yang adalah penyataan Allah. Murid-murid Kuyper, seperti Herman Dooyeweerd dan D. Th. Vollenhoven, mengembangkan pemikiran Kuyper ini menjadi filsafat Kristen yang dikenal dengan nama filsafat Ide Kosmonomik (Cosmonomic Idea). Pada awal karirnya (setelah pertengahan 1930-an), Van Til mendapatkan pengaruh yang cukup signifikan dari filsafat Kosmonomik ini meski pada masa-masa berikutnya (pada tahun 1960-an) Van Til berbeda pandangan dengan tokoh-tokoh filsafat Kosmonomik ini berkaitan dengan peranan Alkitab di dalam filsafat Kristen serta perbedaan antara pengalaman naif dan pemikiran teoritis.191

Karya-karya Van Til sangat banyak. Ia menulis sekitar 30 buku dan silabus, serta 220 artikel dan tinjauan buku. Di antara buku-bukunya yang sangat terkenal adalah:The Defense of The Faith (1955), A Survey of Christian Epistemology (1969), A Christian Theory of Knowledge (1969), Christian Theistic Ethics (1971), An Introduction to Systematic Theology (1974), Christian Apologetics (1975), Christian-Theistic Evidences

(1976).

190Ibid. 191Ibid. 22.

PENGETAHUAN MANUSIA: PENGETAHUAN ANALOGIS

Pemikiran Van Til mengenai epistemologi sangat berlawanan dengan epistemologi Immanuel Kant. Kant menyatakan bahwa pikiran manusia seharusnya tidak pernah menundukan dirinya sendiri kepada otoritas di luar dirinya. Kant menolak ide penyataan Allah yang berotoritas dan mengembangkan konsep otonomi pikiran manusia. Pikiran manusia menjadi otoritas tertinggi bagi dirinya sendiri, menjadi kriteria kebenaran bagi dirinya sendiri, dan menjadi standar kebenaran etis bagi dirinya sendiri.

Kant juga mengatakan, di dalam upayanya menyatukan empirisisme dan rasionalisme, bahwa apa yang membuat pengalaman manusia dapat dimengerti adalah kategori-kategori di dalam pikiran manusia. Pikiran manusia yang menjadikan pengalaman manusia bermakna. Namun pikiran manusia tidak dapat menjangkau benda di dalam dirinya sendiri (thing in it’s self). Pikiran manusia hanya beroperasi sebatas persepsi indrawi manusia. Dengan cara demikian maka pikiran manusia bukan hanya bertindak sebagai otoritas tertinggi tetapi juga menggeser posisi Allah sebagai pencipta dan perencana inteletual alam yang di alami oleh manusia. Tentu saja peranan pikiran manusia sedemikian tidak dibuktikan dengan cara tradisional. Maka Kant mengajukan metode transendental yaitu metode yang berupaya mencari syarat bagi pengetahuan. Ia mengatakan bahwa pengetahuan manusia memprasuposisikan otonomi manusia. Filsafat Kant dengan jelas memprasuposisikan otonomi manusia.192

Apa yang diupayakan oleh Van Til merupakan pembalikan dari upaya Kant. Jika Kant mengajarkan agar manusia jangan tunduk kepada otoritas di luar dirinya maka Van Til mengajarkan bahwa jalan kepada kebenaran adalah tunduk kepada firman Allah yang

192Ibid. 45; lihat juga Colin Brown, Christianity and Western Thought(2 jilid; Downers Grove: IVP, 1990) I.327-328.

berotoritas. Jika Kant memprasuposisikan otonomi manusia sebagai syarat pengetahuan dan mengajukan filsafatnya secara transedental maka Van Til mengajarkan bahwa firman Allah merupakan prasuposisi yang membuat pengalaman manusia menjadi masuk akal dan pengetahuan menjadi mungkin.

Di dalam metafisikanya Van Til menekankan dua konsep yang sangat prinsipil.

Pertama, perbedaan kualitas maupun kuantitas antara Pencipta dengan ciptaan. Bagi Van Til, Allah adalah Allah yang menciptakan alam semesta termasuk manusia di dalamnya. Allah adalah Pencipta dan manusia adalah ciptaan. Allah cukup di dalam diri-Nya sendiri dan di dalam segala hal sedangkan manusia tidak cukup di dalam dirinya sendiri. Manusia memerlukan sesuatu di luar dirinya untuk menciptakan dia dan menopang dirinya. Kedua, Allah berdaulat atas segala sesuatu baik alam maupun manusia. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencana Allah. Ini nampak jelas di dalam pemeliharaan (providensia) Allah dan pemilihan (predestinasi) Allah atas manusia yang berdosa.

Dua konsep metafisika tersebut memiliki dampak terhadap pengetahuan manusia. Pengetahuan manusia harus memperlihatkan perbedaan dengan pengetahuan Allah. Pengetahuan Allah adalah pengetahuan Pencipta dan pengetahuan manusia adalah pengetahuan ciptaan. Pengetahuan manusia juga harus tunduk kepada kontrol dan otoritas Allah. Van Til mengatakan:

Christians believe in two levels of existence, the level of God’s existence as self- contained and the level of man’s existence as derived from the level of God’s existence. For this reason, Christians must also believe in two levels of knowledge, the level of God’s knowledge which is absolutely comprehensive and self- contained, and the level of man’s knowledge which is not comprehensive but is derivative and re-interpretative.193

Van Til menggunakan istilah “analogi” untuk menggambarkan dampak konsep metafisika tersebut terhadap pengetahuan manusia. Van Til mengatakan bahwa pengetahuan manusia merupakan analogi pengetahuan Allah. Di dalam istilah ini terdapat pengertian bahwa pengetahuan manusia bersifat ciptaan sehingga berbeda dari Allah sebagai Pencipta dan pengetahuan manusia ini tunduk kepada kontrol dan otoritas Allah.194 Van Til menjelaskan analogi demikian:

The system [of knowledge] that Christians seek to obtain may, by contrast, be said to be analogical. By this is meant that God is the original and that man is derivative. God has absolute self-contained system within himself. What comes to pass in history happens in accord with that system or plan by which he orders the universe. But man, as God’s creature, cannot have a replica of that system of God. He cannot have a reproduction of that system. He must, to be sure, think God’s thought after him; but this means that he must, in seeking to form his own system, constantly be subject to the authority of God’s system to the extent that this is revealed to him.195

Dengan istilah analogi ini Van Til ingin menekankan persetujuan, korespondensi, keserupaan, atau kesamaan (relasi analogis) antara pengetahuan Allah dan manusia. Pada saat yang sama istilah analogi juga ingin menekankan adanya unsur-unsur perbedaan antara cara Allah mengetahui dan cara manusia mengetahui.196 Bagi Van Til, karena

Allah adalah sumber kebenaran dan pengetahuan maka pengetahuan Allah bersifat orisinil sedangkan pengetahuan manusia sebagai ciptaan bersifat derivatif atau turunan. Hasilnya adalah pengetahuan manusia yang terbatas dan merupakan tiruan dari Allah. Pengetahuan manusia bukan pengetahuan Allah. Pengetahuan manusia tidak berada pada

194Frame, Cornelius Van Til 89. Istilah analogi yang digunakan oleh Van Til berbeda dengan istilah analogi yang digunakan oleh Thomas Aquinas. Bagi Aquinas istilah analogi digunakan untuk masalah keberadaan (being) dan masalah bahasa manusia terhadap Allah. Sedangkan bagi Van Til istilah analogi lebih berkaitan dengan masalah proses berpikirnya manusia apakah tunduk kepada Allah atau tidak. Weaver menyimpulkan demikian: “For [Van Til] analogy applies not to terms, but to overall process of human thought: man is God’s created analogue in both his being and his knowledge” (Gilbert Weaver, “Man: Analogue of God,” dalamJerusalem and Athens[ed. E. R. Geehan; Philadelphia: P & R, 1971] 327). Artikel ini adalah artikel yang membahas mengenai perbedaan konsep analogi antara Van Til dan Aquinas.

195Van Til,A Christian Theory16. Penekanan oleh Van Til. 196Bahnsen,Van Til’s225.

garis yang berkesinambungan dengan pengetahuan Allah. Pengetahuan manusia bersifat terbatas, diciptakan, dan berada pada level ciptaan. Namun demikian, meski pengetahuan manusia terbatas, tetapi pengetahuan manusia ini adalah tiruan yang terbatas dari pengetahuan Allah. Sehingga pengetahuan manusia yang terbatas tersebut tetap benar karena ia merupakan cerminan dari pengetahuan Allah. Untuk mendapatkan pengetahuan ini maka manusia harus berpikir dengan cara analogis. Manusia harus berpikir sesuai dengan pikiran Allah (think God’s thought after Him).

Bagi Van Til, pemikiran manusia harus mengikuti atau meniru pemikiran Allah pada levelnya sebagai ciptaan, dengan cara ini maka manusia berpikir dengan cara analogi dan menyadari adanya dua level proses mengetahui, yaitu level Allah yang bersifat orisinil dan absolut serta level manusia yang bersifat derivatif dan tiruan. Manusia mengetahui apa yang dapat ia ketahui (apakah dunia, diri sendiri, atau Allah) dengan cara berpikir secara analogis (analogously) terhadap pikiran Allah. Menurut Van Til, Allah dan manusia mengetahui obyek yang sama atau kebenaran-kebenaran yang sama dan standar kebenaran bagi Allah dan manusia adalah serupa yaitu pikiran Allah (God’s thought) tentang segala sesuatu yang kita ketahui. Sehingga Van Til mengatakan:

since the human mind is created by God and is therefore in itself naturally revelational of God, the mind may be sure that its system is true and corresponds on a finite scale to the system of God. That is what we meant by saying that it is analogical to God’s system.197

Bagi Van Til pengetahuan yang benar hanya dihasilkan jika pikiran manusia berkorespondensi dengan pikiran Allah. Van Til mengatakan:

197 Van Til, An Introduction 181. Van Til memang mengatakan bahwa kita tidak mungkin memiliki tiruan dari sistem pengetahuan yang dimiliki Allah (seperti dalam kutipan 193). Pikiran manusia tidak mungkin menjadi versi yang lebih kecil dari pikiran Allah (ingat perbedaan kualitatif Pencipta dan ciptaan). Tetapi Van Til mengakui bahwa manusia dapat memiliki tiruan yang terbatas dari sistem pengetahuan Allah. Manusia yang pikirannya berfungsi dengan baik dapat memiliki pemikiran yang sejajar dengan Allah dalam skalanya sebagai ciptaan.

when we think of human knowledge, correspondence is of primary importance. If there is to be true coherence in our knowledge there must be correspondence between our ideas of fact and God’s idea of these facts. Or rather we should say that our ideas must correspond to God’s ideas.198

Bagaimana manusia dapat mempunyai korespondensi dengan pikiran Allah? Bagaimana manusia dapat berpikir sesuai dengan pikiran Allah? Di sini peran dari penyataan (revelation) Allah menjadi penting. Manusia dapat berpikir sesuai dengan pikiran Allah jika manusia menerima informasi yang telah Allah nyatakan melalui penyatan diri-Nya sendiri di dalam alam dan Alkitab. Di dalam konteks penyataan Allah tersebut maka manusia menggunakan kemampuan rasional dan empirisnya, yang Allah telah berikan kepada manusia sebagai gambar dan rupa Allah, untuk mengetahui pikiran Allah. Karena Allah telah menempatkan manusia di dunia dengan panggilan untuk memahami dan mengelola dunia maka kita memiliki kemampuan yang diberikan Allah untuk mengamati (dengan indera kita), menguji, membuat abstraksi (dari data-data partikular), dan menerapkan kebenaran-kebenaran mengenai dunia. Karena rencana dan maksud Allah menentukan apapun yang terjadi maka kita perlu mengeksplorasi, menyelidiki, dan mengumpulkan data-data mengenai alam dan sejarah untuk mengetahui pikiran Allah mengenai alam dan sejarah tersebut. Karena pemikiran Allah itu koheren dan benar maka kita berupaya jelas secara konseptual dan konsisten di dalam pemikiran kita sehingga kita dapat berpikir sesuai dengan pikiran Allah tentang kebenaran-kebenaran dan relasi-relasinya. Dengan demikian ketika kita belajar sesuatu hal melalui penyelidikan empiris dan penalaran yang logis maka kita berpikir tentang pemikiran-

198 Cornelius Van Til,A Survey of Christian Epistemology (Philadelphia: den Dulk Foundation, 1969) 3. Van Til seringkali menggunakan istilah berpikir sesuai dengan pikiran Allah (thinking God’s thought after Him) untuk menyebut cara berpikir analogis.

pemikiran Allah, apa yang Allah pikirkan sebagai Pencipta dan Pemelihara dunia ini, pada level kita sebagai ciptaan.199

Bagi Van Til pemikiran analogis ini menghasilkan suatu kepastian. Memang manusia tidak dapat mengetahui segala sesuatu secara komprehensif, menyeluruh, dan total. Tetapi Allah memiliki pengetahuan yang komprehensif, menyeluruh, dan total.

Dalam dokumen Penerapan Konsep Kebenaran Cornelius Van (Halaman 86-127)

Dokumen terkait