• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aplikasi L. salivarius sebagai Probiotik terhadap PenampilanAyam Broiler Bobot badan ayam

Ayam broiler jantan dipasarkan dengan bobot 2.7-2.8 kg pada umur 7 minggu dalam bentuk karkas atau dijual hidup (Leeson & Summers 2005). Dari rataan bobot badan akhir dan pertambahan bobot badan ayam selama 5 minggu pemeliharaan terlihat bahwa perlakuan penambahan probiotik dalam pakan ayam tidak menunjukkan hasil yang signifikan (P>0.05) bila dibandingkan dengan kontrol (Tabel 15), ini artinya penambahan probiotik tidak memperbaiki dan tidak menurunkan bobot badan ayam broiler. Hasil yang sama juga didapatkan dari penelitian Mansoub (2010). Pada penelitian Salarmoini dan Fooladi (2011) memberikan hasil yang berbeda dimana pemberian probiotik L. acidophilus 20 g/kg berat pakan dapat menaikkan bobot badan secara signifikan. Dampak probiotik yang bervariasi di berbagai lokasi atau sistem pemeliharaan dimungkinkan, karena probiotik bukan merupakan faktor tunggal, tetapi banyak faktor yang mempengaruhi kinerjanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja probiotik antara lain adalah: (1) komposisi mikrobiota inang, (2) dosis dan cara pemberian probiotik, (3) umur dan jenis inang, serta (4) kualitas dan jenis probiotik yang digunakan (Kompiang, 2009).

Tabel 15 Pengaruh pemberian pakan probiotik terhadap performa ayam broiler selama 35 hari pemeliharaan (n=50)

Ket : nilai merupakan rerata±SE, nilai dengan huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil yang beda nyata (P<0.05)

Bobot badan akhir ayam broiler kontrol dan seluruh perlakuan lebih rendah (sekitar 884.44 sampai 962.77 g setelah 5 minggu) dibanding bobot badan standar ayam broiler menurut Leeson & Summers (2005) sebesar 2.367 g. Hal ini

Parameter Penampilan Ayam

Kontrol Antibiotik Probiotik 1 Probiotik 2 Bobot badan awal (g/ekor) 43.20a±0.48 42.40a±0.75 42.80a±0.48 42.80a±0.80 Bobot badan akhir (g/ekor) 957.77a±20.80 884.44a±40.39 951.88a±19.48 962.77a±13.69 Pertambahan bobot badan (g/ekor/35 hari) 914.57a±21.07 842.04a±40.49 909.08a±19.79 919.97a±13.68 Konsumsi pakan (g/ekor/35 hari) 1513.22a±56.77 1593.94a±42.29 1592.05a±42.33 1609.15a±87.98

FCR 1.58a±0.07 1.81b±0.08 1.67ab±0.04 1.67a±0.08

Karkas (%) 69.03a±2.29 70.65a±2.22 70.89a±1.42 69.22a±1.16

Mortalitas (%) 2 2 2 0

57

kemungkinan karena nutrisi/kualitas pakan yang kurang baik bila dibandingkan dengan pakan komersil yang ada di pasaran, yang juga mengandung antibiotik dan hormon pertumbuhan. Kemungkinan juga dari bibit ayam (DOC) yang kurang baik yang tidak seragam (uneven), ada beberapa ayam yang masih terlihat kecil pada akhir pemeliharaan, sehingga mempengaruhi hasil data, selain itu juga kemungkinan karena energi dari makanan banyak digunakan untuk proses homeostasis ayam terhadap kondisi lingkungan. Suhu lingkungan yang nyaman untuk ayam berkisar 25-28oC dengan kelembaban 60-70%. Pada penelitian suhu kandang pada pagi hari rata-rata 26.54±0.83oC, siang hari mencapai 37.48±1.12oC sedang sore hari sebesar 34.87±1.76oC. Pada minggu pertama suhu pagi hari 26 ± 0.82oC dan siang hari mencapai 35.86 ± 1.21 (Lampiran 4), sedang suhu ideal udara kandang sesuai umur 1-7 hari adalah 34-32oC, oleh karena itu pada minggu awal kestabilan suhu dijaga dengan menambah pemanasan dengan lampu. Perbedaan suhu tubuh ayam dengan lingkungan akan menganggu proses metabolisme, terutama pada fase starter dimana ayam belum mampu beradaptasi dengan perubahan suhu lingkungan yang terjadi. Kelembaban kandang pada pagi hari rata-rata 74.20±4.43%, siang hari 82.80±2.54%, sedangkan pada sore hari sekitar 75.57±4.66%. Suhu dan kelembaban yang tinggi pada daerah tropis menyebabkan produktivitas yang baik sulit dicapai.

Pada penelitian broiler ini meskipun di akhir penelitian selama 5 minggu tidak terdapat perbedaan pertambahan bobot badan antara ayam kontrol dan ayam perlakuan dengan penambahan probiotik, tetapi diperoleh adanya perbedaan yang signifikan pada pertambahan bobot badan pada minggu pertama kehidupan ayam antara ayam probiotik dengan kontrol ( Gambar 14).

Gambar 14 Pertambahan bobot badan mingguan broiler yang diberi perlakuan pakan berbeda, R0 = pakan basal (kontrol), R1= pakan basal+antibiotik, R2= pakan basal + probiotik tunggal, R3= pakan basal + probiotik campuran.

0 50 100 150 200 250 300 350 0 1 2 3 4 5 6 P erta mbaha n bobot bada n (g /ekor /m ing g u) ) Umur (minggu) R0 R1 R2 R3

Pertambahan bobot badan mingguan pada ayam dengan pakan probiotik signifikan berbeda dengan kontrol pada minggu pertama, dimana mikrobiota yang terdapat di dalam saluran pencernaan ayam belum stabil dan ayam masih beradaptasi dengan lingkungan, sehingga dengan penambahan probiotik sangat membantu performa ayam. Akan tetapi pada kondisi yang telah stabil dan lingkungan yang mendukung kesehatan ayam penambahan probiotik tidak berpengaruh terhadap performa ayam (Gambar 15).

Konsumsi dan Konversi Pakan

Pakan yang dikonsumsi digunakan untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan untuk hidup pokok, produksi dan reproduksi. Berdasarkan Tabel 15, menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan (P>0.05) antara konsumsi pakan pada penambahan probiotik dengan kontrol. Hasil tersebut berbeda dengan penelitian Jin, et al (1998) bahwa penggunaan probiotik Lactobacillus dalam konsentrasi 0.05% dan 0.01% dapat menaikkan konsumsi pakan. Pada penelitian Mansoub (2010) menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan dalam konsumsi pakan antara ayam kontrol dengan ayam yang diberi perlakuan penambahan 0.5% dan 0.1% L casei dan L. acidophilus. Perbedaan hasil ini kemungkinan karena perbedaan jenis komposisi pakan, sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan probiotik dan perbedaan galur probiotiknya.

Gambar 15 Perbedaan pertambahan bobot badan ayam pada minggu pertama dengan minggu ke lima.

Konsumsi pakan hasil penelitian memiliki nilai rataan antara 1 513.22 sampai 1 609.15 g/ekor/35 hari. Konsumsi pakan tersebut masih rendah bila dibandingkan dengan standar dari Leeson & Summers (2005) sebesar 3 056 g.

59

Konsumsi pakan harian semua perlakuan pada umur 5 minggu sebesar 64.45 sampai 76.49 g/ekor/hari/, sedangkan konsumsi pakan standar menurut Leeson & Summers (2005) sebesar 167 g/ekor/hari. Kurangnya konsumsi pakan yang diberikan dapat berakibat pada pertambahan bobot badan, karena zat-zat yang dibutuhkan yang berasal dari konsumsi pakan menjadi berkurang dan juga respon terhadap keadaan lingkungan tropis yang panas, dimana ayam mengurangi makan dan memperbanyak minum, yang hal ini berdampak pada penurunan performa ayam. Temperatur yang tinggi akan menurunkan konsumsi pakan, karena proses pencernaan dan metabolisme menurun.

Pertambahan konversi pakan (Feed Conversion Ratio = FCR) merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang dikonsumsi dengan produksi yang dihasilkan. Angka konversi pakan menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan pakan. Konversi pakan ayam perlakuan lebih tinggi dan berbeda nyata bila dibandingkan dengan kontrol (Tabel 15), hal ini karena rataan konsumsi pakan kontrol yang lebih rendah menghasilkan pertambahan bobot badan akhir yang tidak berbeda dengan pertambahan bobot badan akhir ayam yang diberi perlakuan probiotik. Akan tetapi bila dibandingkan dengan perlakuan pemberian antibiotik, konversi pakan ayam probiotik lebih rendah sekitar 0.14 artinya terjadi penghematan pakan sebesar 140 g tiap penambahan 1 kg bobot badan ayam. Bobot karkas

Karkas merupakan bagian dari ayam broiler yang telah dipotong, dibului, dikeluarkan jeroan dan lemak abdominalnya dan dipotong kepala, leher dan kedua kakinya. Rataan persentase bobot karkas ayam yang diberi pakan yang mengandung probiotik tidak berbeda signifikan (P>0.05) dengan kontrol (Tabel 15). Penelitian dengan hasil yang sama dilakukan oleh Daud et al. (2007) yang menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara persentase karkas yang diberi antibiotik, probiotik, prebiotik dan kombinasi probiotik dan prebiotik. Menurut Rose (1997) rata-rata bobot karkas ayam pedaging berkisar antara 67-75% bobot hidup, dengan demikian pada penelitian ini persentase karkas berkisar antara 69.03-70.89% termasuk dalam rentang normal bobot karkas ayam.

Mortalitas

Mortalitas ayam pada perlakuan pemberian probiotik 1, antibiotik dan kontrol, masing-masing sebesar 2% (1 ekor) (Tabel 15). Kematian ini terjadi pada awal minggu dan bukan karena perlakuan pemberian pakan, tetapi karena ayam kejepit di penutup kandang (seng), dan kepanasan kena lampu. Secara keseluruhan mortalitas semua perlakuan rendah (dibawah 5%), hal ini menunjukkan bahwa manajemen yang dilakukan pada penelitian ini sangat baik yang meliputi kebersihan kandang, pengaturan suhu kandang, pemberian pakan, air minum, vitamin anti stress.

Aplikasi L. salivarius sebagai Probiotik terhadap Kesehatan Ayam Broiler Profil Darah

Pemeriksaan hematologis merupakan komponen yang penting dalam menilai status kesehatan ayam, karena dapat diketahui kondisi patologis dan fisiologis ayam dengan adanya perlakuan pemberian probiotik. Pemeriksaan hematologis meliputi penghitungan packed cell volume, hemoglobin, eritrosit/ sel darah merah dan leukosit/ sel darah putih. Keadaan profil darah ayam yang diberi tambahan probiotik pada pakannya tersaji pada Tabel 16.

Eritrosit adalah sel darah merah yang membawa hemoglobin ke dalam sirkulasi tubuh. Hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan (packed cell volume, PCV) adalah suatu ukuran volume eritrosit / sel-sel darah merah dibandingkan total volume darah, untuk mengetahui konsentrasi eritrosit dalam darah dan merupakan suatu indikasi tentang jumlah sel-sel darah merah yang beredar. Hemoglobin merupakan suatu senyawa kompleks globin yang dibentuk dari 4 sub unit, yang masing-masing mengandung suatu gugusan hem (turunan porfirin yang mengandung zat besi, Fe) yang dikonjugasi ke suatu polipeptida. Hemoglobin yang ada dalam eritrosit memungkinkan timbulnya kemampuan untuk mengangkut oksigen, serta penyebab warna merah pada darah.

Tabel 16 Profil darah ayam yang diberi perlakuan probiotik (n=5)

Ket : nilai merupakan rerata±SE, nilai dengan huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil yang beda nyata (P<0.05)

*kisaran normal ayam menurut Jain (1993)

Komponen Darah

Pakan basal Pakan basal + Pakan basal + Pakan basal + Kisaran normal * (kontrol) antibiotik Probiotik 1 Probiotik 2

Packed Cell Volume % 24.91a±1.66 25.63a±0.78 23.13a±1.52 24.58a±0.78 22-35 Haemoglobine, g/dl 7.95a±0.42 8.42a±0.30 7.47a±0.50 8.32a±0.26 7-13 Sel Darah Merah (106/mm3) 2.53a±0.27 3.03a±0.22 2.66a±0.20 2.67a±0.17 2.5 -3.5 Sel Darah Putih, (103/mm3) 8.92a±1.14 7.32a±2.31 10.28a±1.75 11.72a±1.08 4-12 Diferensiasi leukosit (%) Heterofil (%) 34.8a±8.39 44a±4.38 39.6a±7.95 40.8a±4.24 15-50 Limfosit (%) 57a±8.52 41.4a±2.59 48.6a±7.89 52.4a±3.70 40-75 Rasio Heterofil/Limfosit 0.80a±0.34 1.10a±0.16 1.16a±0.56 0.82a±0.14 0.45-0.5 Monosit (%) 5.0ab±0.55 6.4b±1.32 5.6b±0.92 2.6a±0.51 0-6 Eosinofil (%) 3.2a±1.20 8.2a±2.12 6.2a±1.39 4.2a±1.62 0-10 Perlakuan

61

Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa tidak ada perbedaan yang nyata dari packed cell volume, jumlah eritrosit /sel darah merah dan hemoglobin (P>0.05). Nilai packed cell volume dan jumlah eritrosit/sel darah merah berada dalam kisaran normal, tidak ada pengurangan sel darah merah, hal ini menunjukkan pemberian probiotik tidak menganggu kesehatan inang. Pada perlakuan pakan basal yang disuplementasi antibiotik terlihat jumlah eritrosit yang lebih tinggi, hal ini kemungkinan karena adanya protein yang lebih tinggi pada pakan (hasil analisa protein pakan sebesar 21%) dibandingkan protein pada pakan perlakuan lain, yaitu sebesar 19.13%. Protein merupakan unsur penting dalam pembentukan darah, protein ini akan dihidrolisis menjadi asam amino sebagai prekursor pembentukan eritrosit (Hoffbrand dan Pettit, 1996).

Sementara itu nilai hemoglobin (Hb) semua perlakuan berada kisaran normal. Hal ini menunjukkan seluruh ayam dalam perlakuan tidak mengalami gangguan dalam proses pembentukan hemoglobin, sehingga kemungkinan tidak ditemukan ayam yang mengalami anemi pada semua perlakuan dan fungsi hemoglobin dalam membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh tidak terganggu.

Untuk melawan benda asing (seperti bakteri dan virus), tubuh ayam melindungi dirinya sendiri melalui sistem kekebalan tubuh. Leukosit merupakan unit sistem pertahanan tubuh, bekerja menghancurkan agen penyerang dengan proses fagositosis dan membentuk antibodi (kekebalan). Respon pertahanan tubuh yang tertekan disebabkan oleh rusaknya jaringan-jaringan tubuh yang berfungsi membentuk dan mematangkan sel-sel yang bertugas dalam respon kekebalan, seperti bursa fabrisius, timus, sumsum tulang, limfa dan jaringan lainnya (Syahroni et al. 2005).

Pada penelitian ini, jumlah sel darah putih berada dalam kisaran normal (Tabel 16). Walaupun demikian ada kenaikan sel darah putih pada ayam yang diberikan probiotik. Hal ini diduga masing-masing ayam berupaya untuk melakukan mekanisme perlawanan terhadap bakteri probiotik yang dimasukkan ke tubuhnya. Meningkatnya rangsangan produksi leukosit merupakan proses timbulnya kekebalan sehingga membantu tubuh ayam dalam mencegah infeksi mikroba maupun benda asing yang masuk.

Persentase diferensiasi leukosit untuk semua perlakuan berada dalam kisaran normal. Meskipun demikian ada perbedaan antara perlakuan. Heterofil dari ayam yang diberi perlakuan probiotik dan antibiotik menunjukkan kenaikan dibandingkan kontrol, hal ini karena adanya respon dari heterofil yang merupakan pertahanan terdepan tubuh melawan infeksi mikroba atau benda asing. Limfosit pada ayam yang diberi perlakuan antibiotik menunjukkan jumlah terendah walaupun begitu perbedaannya tidak signifikan. Hal ini menunjukkan ayam tidak menggunakan kemampuannya melakukan perlawanan terhadap mikroba atau benda asing. Limfosit merupakan jumlah sel terbanyak dalam sel darah putih merupakan unsur kunci sistem kekebalan. Dua bentuk limfosit yang dikenal adalah limfosit T yang berasal dari timus dan limfosit B yang menghasilkan sel B.

Rasio heterofil/limfosit (H/L) dapat digunakan untuk menunjukkan tingkat cekaman yang dialami ayam pada lingkungan. Tidak ada perbedaan yang signifikan (P>0.05) rasio H/L kontrol dengan perlakuan. Pada penelitian menunjukkan rasio H/L kontrol dan seluruh perlakuan seluruh ayam berada diatas kisaran normal. Hal ini menunjukkan seluruh ayam dalam cekaman dengan adanya kondisi lingkungan yang tidak nyaman untuk pertumbuhannya. Kemungkinan adanya cekaman suhu dan kelembaban yang di atas kondisi nyaman untuk pertumbuhan ayam. Adanya kisaran suhu yang tinggi, terutama siang hari sebesar 37.48±1.12oC dan kelembaban sebesar 82.80±2.54%, menyebabkan terjadinya penurunan jumlah limfosit yang hal ini mengakibatkan sistem kekebalan menjadi lebih rendah. Adanya rasio H/L yang tinggi menunjukkan makin tingginya tingkat stress.

Monosit pada ayam yang diberi perlakuan probiotik 2 lebih rendah dan menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Peningkatan jumlah monosit merupakan indikasi respon peradangan dan adanya penyakit infeksi. Eosinofil pada ayam yang diberi perlakuan antibiotik meningkat jumlahnya dibanding kontrol, hal ini karena tubuh ayam sedang meningkatkan mekanisme perlawanan, akan tetapi semuanya masih dalam kisaran normal untuk ayam.

Organ limpatik

Bursa fabrisius adalah kelenjar limfoepitelial pada ayam yang terdapat di dorsal kloaka, terletak di antara kloaka dan sakrum. Bursa fabrisius berfungsi sebagai tempat pendewasaan dan diferensiasi bagi sel dari pembentuk antibodi, yang disebut sel B, dan mengandung sel T di belakang lubang salurannya. Juga berfungsi dalam menangkap antigen dan membentuk antibodi. Timus merupakan organ yang terdapat dalam rongga mediastinal anterior yang pada ayam meluas ke arah leher sampai sejauh kelenjar tiroid. Bursa fabricius dan timus tergolong dalam organ limfatik primer pada unggas karena kedua organ ini berfungsi mengatur produksi dan diferensiasi limfosit (Tizard, 1988).

Pemberian probiotik dengan kultur tunggal menghasilkan persentase bobot bursa fabricius lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya (Tabel 17) dan hal ini menunjukkan beda nyata (P<0,05) dengan perlakuan pemberian probiotik kultur campuran, kontrol dan antibiotik. Penurunan persentase bobot bursa fabricius disebabkan oleh menurunnya sel limfosit B, ini artinya isolat tunggal probiotik dapat menjaga kesehatan inang dengan mengurangi adanya paparan infeksi sehingga tubuh tidak banyak menghasilkan sel limfosit B.

63

Tabel 17 Persentase bobot bursa fabrisius dan timus ayam broiler umur 5 minggu (n=5)

Ket : nilai merupakan rerata±SE, nilai dengan huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil yang beda nyata (P<0.05)

Persentase bobot timus antar perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05), kemungkinan karena faktor lingkungan kandang yang terjaga sehingga tidak terlalu banyak terpapar mikroba. Meskipun demikian perlakuan dengan penambahan probiotik campuran menyebabkan adanya peningkatan persentase bobot timus. Hal ini disebabkan oleh aktifitas yang meningkat ketika menghasilkan antibodi dalam melawan benda asing yang masuk dalam tubuh.

Kolesterol Daging, kolesterol darah dan lemak daging

Lipid merupakan senyawa organik yang tidak larut dalam air yang berfungsi sebagai komponen struktural membran, sumber energi, dan lapisan pelindung. Lipida dibagi menjadi 4 golongan yaitu lemak netral (trigliserida), fosfolipid, kolesterol, dan asam lemak bebas (Lehninger, 1982). Jumlah kolesterol serum darah dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain: pakan, persediaan asam lemak bebas, adanya hormon progesteron dan kegiatan sistem enzim yang berperan dalam sintesis kolesterol.

Tabel 18 Kadar kolesterol serum darah ayam yang diberi perlakuan (n= 5)

Ket : nilai merupakan rerata±SE, nilai dengan huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil yang beda nyata (P<0.05)

Organ Dalam

Kontrol Antibiotik Probiotik 1 Probiotik 2 Bursa fabrisius (%) 0.06ab ±0.01 0.10ab±0.02 0.05a±0.01 0.11b ±0.03 Thymus (%) 0.21a±0.05 0.20a±0.01 0.22a±0.04 0.31a±0.01

Perlakuan

Parameter

Kontrol Antibiotik Probiotik 1 Probiotik 2 Kolesterol Darah (mg/dl) 101.66a±7.91 119.05a±11.05 105.21a±9.81 116.09a±13.01 Kolesterol Daging (mg/100g) 80.30a±9.66 82.82a±517 80.47a±3.05 80.13a±4.34 Lemak daging (%) 4.68a±1.09 3.71a±0.48 5.27a±0.90 4.54a±0.59

Kadar kolesterol serum darah ayam tidak berbeda nyata (P>0,05) antara semua perlakuan dengan kontrol (Tabel 18). Hal ini menunjukkan penambahan probiotik tidak menurunkan atau menaikkan kolesterol darah. Demikian juga dengan pemeriksaan kolesterol daging, semua perlakuan penambahan probiotik dan antibiotik tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan kontrol. Hal ini kemungkinan karena pakan yang mereka terima mempunyai kadar lemak yang sama yaitu sekitar 6.64 %, sementara itu 3 galur Lactobacillus salivarius sebagai komponen probiotiknya tidak mempunyai kemampuan menghidrolisa lemak (secara in vitro). Namun demikian ayam probiotik mempunyai rata-rata kadar kolesterol darah dan daging yang lebih rendah daripada pakan yang ditambahi antibiotik. Pemberian L. salivarius untuk menurunkan kadar kolesterol dapat melalui beberapa mekanisme, antara lain melalui pembuangan garam empedu melalui feses, dimana garam empedu yang terdekonjugasi tidak diserap oleh usus, dan lebih mudah terbuang dari saluran pencernaan dibandingkan dengan garam empedu yang terkonjugasi. Hal ini mengakibatkan semakin banyak kolesterol yang dibutuhkan untuk mensintesis garam empedu lagi sehingga akan menurunkan kadar kolesterol. Produk hasil fermentasi oleh BAL menghambat sintesa kolesterol dan mekanisme pengikatan kolesterol sehingga mencegah penyerapan kolesterol kembali ke hati (Lee et al. 2009).

Lemak merupakan salah satu kandungan utama makanan, yang merupakan sumber utama energi, namun konsumsi lemak berlebihan dapat menganggu kesehatan. Pada penelitian lemak daging yang diambil dari dada dan paha ayam masih rendah sebesar 3.71-5.27 %, hal ini kemungkinan karena pertumbuhan jaringan lemak terjadi setelah ayam berumur 45 hari ke atas dan menunjukkan bahwa penambahan probiotik tidak dapat menaikkan ataupun menurunkan persentase lemak daging secara signifikan (P>0,05) dibandingkan kontrol (Tabel 18). Hal ini berbeda dari penelitian Kalavathy et al. (2006) yang menjelaskan penambahan Lactobacillus dapat menurunkan secara signifikan kadar lemak karkas (13.29%) dari kontrol (14.06%) pada broiler umur 42 hari. Perbedaan deposisi lemak intramuskular dipengaruhi oleh spesies/ heritabilitas, lemak, umur ternak dan otot. Penurunan aktivitas otot akan meningkatkan deposisi lemak di dalam jaringan otot.

Nilai energi metabolis pakan

Kemampuan pakan untuk menyediakan energi adalah penting untuk menentukan nilai pakannya. Energi bahan pakan terkandung dalam karbohidrat, lemak dan protein yang ada pada pakan.Tidak semua energi yang terkandung dalam bahan pakan dapat digunakan oleh ayam, sebagian terbuang melalui feses dan urin. Energi metabolis merupakan pengurangan energi bruto pakan dengan energi yang terbuang melalui feses dan urin. Energi metabolis merupakan energi yang paling umum digunakan dalam penghitungan ketersediaan energi dalam pakan unggas (NRC 1994). Energi metabolis semu (EMS) adalah hasil pengurangan antara energi bruto dalam pakan dengan energi yang hilang melalui

65

feses dan urin, dimana pada unggas feses dan urin bercampur menjadi satu dan disebut ekskreta. EMSn (Energi metabolis semu terkoreksi nitrogen) biasanya paling banyak digunakan untuk memperkirakan nilai energi metabolis.

Tabel 19. Energi metabolis semu pakan perlakuan (n=5)

Keterangan : nilai merupakan rerata ± SD

Nilai EMSn dalam perhitungan lebih rendah dari nilai EMS, hal ini disebabkan karena EMSn memperhitungkan adanya konversi energi dari nitrogen sebesar 8,22 kkal/g yang keluar sebagai asam urat jika dioksidasi secara sempurna (Sibbald dan Wolynetz 1985). Tidak terdapat perbedaan kandungan energi metabolisme semu dan energi metabolisme semu terkoreksi nitrogen antara pakan kontrol dengan perlakuan. Hal ini menunjukkan penambahan probiotik tidak meningkatkan kandungan energi metabolisme semu.

Aplikasi L. salivarius sebagai Probiotik terhadap Mikrobiota Saluran Pencernaan Ayam Broiler

Komposisi mikrobiota saluran pencernaan ayam dilakukan dengan pendekatan tradisional pengkulturan dan berdasar gen 16S rRNA yaitu dengan menggunakan teknik T-RFLP.

Mikrobiota saluran pencernaan broiler yang dapat dikulturkan (Culturable bacteria)

Bakteri asam laktat dan bakteri koliform sebagai penyusun mikrobiota yang berasal dari ileum dan sekum diamati perkembangannya pada minggu ke empat dan ke lima dengan menggunakan media MRSA untuk bakteri asam laktat dan menggunakan media Mac Conkey untuk deteksi koliformnya. Koliform merupakan bakteri Gram negatif yang terdapat normal dalam usus manusia dan hewan, merupakan indikator adanya kontaminasi kotoran dan kondisi sanitasi yang kurang baik pada bahan pangan.

Secara keseluruhan populasi BAL pada ayam yang diberi perlakuan probiotik (baik R2, galur tunggal maupun R3 galur campuran) lebih tinggi jika dibandingkan dengan ayam yang tidak diberi perlakuan probiotik (R0, R1) (Gambar 16 dan 17). Hal ini diduga karena keberadaan probiotik (L. salivarius) yang mampu bertahan pada kondisi saluran pencernaan, dan juga mampu menciptakan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan BAL lainnya dalam

Parameter

R0 R1 R2 R3

Energi metabolisme semu (kkal/kg) 3066.20±254.39a3137.82±339.78a 2879.23±304.65a 3072.74±297.99a Energi metabolisme semu

terkoreksi nitrogen (kkal/kg) 2889.25±241.32a 2965.40±314.34a 2725.39±284.44a 2906.54±274.79a Perlakuan

saluran pencernaan dengan memproduksi asam laktat, yang memungkinkan lingkungan yang sesuai untuk BAL. BAL juga dapat menjaga keseimbangan antara mikroba patogen dan mikroba menguntungkan. Sementara itu populasi koliform lebih rendah dibandingkan dengan populasi BAL. Hal ini karena ada efek penghambatan pertumbuhan dari BAL terhadap populasi koliform. Ada kecenderungan bila jumlah BAL lebih tinggi akan menekan jumlah koliform makin rendah. Pada perlakuan R3 baik di ileum dan sekum akan menurunkan jumlah koliform sampai 3 siklus log.

Gambar 16 Pengaruh pakan probiotik terhadap populasi koliform dan bakteri asam laktat dalam ileum. (n=2), R0 = Pakan basal, R1 = Pakan basal+antibiotik, R2 = Pakan basal + probiotik 1 dan R1 = pakan basal + probiotik 2

67

Gambar 17 Pengaruh pakan probiotik terhadap populasi koliform dan bakteri asam laktat dalam sekum. (n=2), R0 = Pakan basal, R1 = Pakan basal+antibiotik, R2 = Pakan basal + probiotik 1 dan R1 = pakan basal + probiotik 2

Populasi BAL di ileum pada pakan perlakuan pada minggu ke lima cenderung lebih rendah dari minggu ke empat, hal ini kemungkinan karena pada minggu ke lima, ayam sudah tidak menerima perlakuan penambahan probiotik lagi. Berbeda dengan di ileum, BAL di sekum dapat bertahan dan stabil dari minggu ke empat sampai minggu ke lima. Kondisi anaerob dan adanya senyawa

Volatil Fatty acid (yang dihasilkan dari bakteri obligat anaerob) dapat menghambat pertumbuhan Enterobacteriaceae dalam sekum, sementara itu BAL terutama genus Lactobacillus dapat bertahan dan melimpah di sekum. Hal ini kemungkinan karena BAL dapat menggunakan substrat yang ada di sekum untuk menjaga homeiostasis dan pertumbuhannya, mampu berkompetisi untuk tempat melekat dan menghasilkan senyawa antimikroba dan metabolit lainnya. Pada penelitian berbasis pengkulturan, Salanitro (1974) melaporkan bahwa 77% isolat yang terdapat di sekum adalah anaerob obligat, yang terdiri dari gram negatif,

Dokumen terkait