• Tidak ada hasil yang ditemukan

Appeals to Principal

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN (Halaman 42-48)

Film ini menceritakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh dengan berbagai macam masalah sosial yang terjadi sehari-hari. Mulai dari sulitnya mencari pekerjaan, banyak lulusan sarjana yang masih menganggur, anak-anak terlantar yang terpaksa menikmati kehidupan sebagai anak jalanan, pencopet, pengasong dan pengamen. Diangkat pula beberapa karakter warga Indonesia yang hanya mengharapkan keberuntungan melalui kuis-kuis interaktif atau kuis-kuis berhadiah jutaan rupiah untuk mendapatkan uang dengan cara instant tanpa perlu bekerja. Ada pula masyarakat yang masih percaya akan ramalan tentang kehidupan rejeki dan jodoh mereka dimasa yang akan datang.

Pedas terkecap namun manis terucap, secara singkat mungkin seperti itulah film yang juga menghadirkan Aria Kusumadewa sebagai sutradara

pendamping ini, menyuarakan pesan-pesan curahan hati rakyatnya. Walau dibeberapa bagian terlihat raut marah dan dialog dengan tensi tinggi tetapi tetap saja masih terbilang “manis” dibanding “kepahitan” yang ditinggalkan oleh para perampok berpendidikan di negeri ini. Dengan arahan Deddy Mizwar sebagai sutradara dan cerita yang diolah oleh Musfar Yasin, film ini mengalir dengan cerita yang sangat bersahabat. Dalam artian tidak akan membebani otak penontonnya untuk mencerna isi keseluruhan cerita film. Kelucuan-kelucuan pun saling berbalas, ada saja adegan ataupun dialog yang cukup pintar untuk memancing tawa penonton. Deddy Mizwar memang tahu betul bagaimana harus mengeksekusi filmnya menjadi sebuah hiburan yang utuh dan kritikan-kritikannya melebur menjadi satu bersama jalinan cerita dan suguhan komedi yang jauh dari kesan murahan. Film ini bertambah cantik dengan pengambilan-pengambilan gambar yang sangat Indonesia sekali, menyorot tajam dan menggambarkan sudut kota yang sering terlupakan dengan “kuas” carut marut apa adanya, hasilnya adalah sebuah lukisan yang jujur. Komedi-komedi yang hadir juga sering muncul dari tingkah pola dan kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Secara keseluruhan, film Alangkah Lucunya “negeri ini” bisa diartikan sebuah cermin besar yang merefleksikan “kelucuan” negeri ini dan sebuah pesan sederhana.

C. Consequence

Kondisi bangsa ini sungguh sangat membuat hati penonton film ini miris karena secara tidak langsung kita dibuat sadar bahwa inilah keadaan bangsaku yang katanya sudah merdeka. Merdeka dari apa kalau begitu? Bagi mereka yang terbiasa mengejar materi, kepuasan dan kekayaan duniawi semata maka Indonesia sudah merdeka. Merdeka dalam arti yang semu. Lihatlah betapa naif dan butanya mati hati para anggota dewan negeri ini ketika mereka memaksa untuk berkunjung keluar negeri. Sementara rakyat negeri ini menjerit kekurangan minyak atau busung lapar yang mewabah dinegeri ini. Ketika bencana meradang dimana-mana, namun dengan alasan demi kepentingan negeri ini juga, mereka tetap pergi keluar negeri. Bila kita menyadari dan merenungi apa arti sesungguhnya dari kemerdekaan maka kita sesungguhnya belum merdeka. Kita masih menjadi budak dari segelintir orang yang dipenuhi oleh hawa nafsu untuk menguasai negeri ini demi kepentingan pribadi. Buktinya adalah korupsi, kolusi dan nepotisme masih menjadi hantu, mengakar dan menyebar keseluruh negeri tanpa bisa ada yang memberantasnya. Kemerdekaan dinegeri ini hanya dirasakan oleh rakyat dalam bentuk iring-iringan karnaval, serta panjat pinang atau berbagai perlombaan pada setiap tahunnya perayaan hari kemerdekaan. Merdeka yang sesungguhnya adalah bila negeri kita sudah terbebas dari kemiskinan, kebodohan dan korupsi. Bila kemakmuran dan keadilan sudah merata keseluruh negeri ini. Adil dalam arti kata seseorang dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain tanpa membedakan ras, suku, agama dan budaya.

4.4.3 Pembahasan

Berdasarkan beberapa adegan yang telah dipetakan kedalam poin-poin perangkat analisis framing, didapatlah beberapa kritik sosial yang disiratkan dalam film ini diantaranya, adegan ketika Muluk dan bang Syamsul menjelaskan tentang betapa pentingnya pendidikan untuk semua orang. Ketika ada pertanyaan dari salah seorang copet tentang bagaimana cara orang berpendidikan mencopet hingga dapat menghasilkan uang banyak, Muluk menjawabnya dengan sebuah kesimpulan bahwa orang yang berpendidikan ada juga yang menjadi pencopet tetapi tidak dalam jumlah kecil seperti yang biasa copet-copet itu lakukan, mereka melakukannya dengan cara yang berbeda, dan mereka orang-orang berpendidikan yang mencopet tidak disebut sebagai pencopet melainkan disebut sebagai koruptor. Tetapi disini bang Syamsul menjelaskan bahwa tujuan pendidikan itu bukan untuk menjadi koruptor, tetapi pendidikan itu adalah untuk mengangkat harkat dan martabat suatu bangsa. Digambarkan juga ketika bos copet memberi penjelasan tentang pentingnya pendidikan untuk semua orang bahkan untuk seorang copet sekalipun, karena ketua geng copet mall punya pengalaman tidak menyenangkan ketika ia harus lari kearah kantor polisi saat dikejar massa hanya karena ia tidak bisa membaca arah penunjuk jalan. Difilm ini juga disiratkan kritik sosial tentang pedagang kaki lima dan pengasong yang dilarang pemerintah untuk beroperasi. Pedagang kaki lima ini timbul dari adanya suatu kondisi pembangunan perekonomian dan pendidikan yang tidak merata diseluruh NKRI. Pedagang kaki lima juga timbul sebagai akibat dari tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi rakyat kecil yang tidak memiliki kemampuan dalam berproduksi. Begitu juga dengan pengasong dan pengamen. Mereka semua timbul sebagai akibat dari tidak meratanya pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Mereka yang tidak

mendapatkan pendidikan secara layak dan tidak mempunyai keahlian khusus harus terpaksa menjalani kehidupan seperti itu. Tetapi ketika hanya hal ini yang rakyat miskin bisa kerjakan, hal ini malah dilarang oleh pemerintah karena dianggap menggangu ketertiban lalu lintas. Padahal jelas tercantum dalam undang-undang dasar 45 sebagai berikut :

Pasal 31 UUD 45 :

1. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan

2. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dan pemerintah wajib membiayainya.

3. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

4. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

5. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai

Disamping itu juga, masih banyak lulusan sarjana yang menganggur. Hal ini menunjukkan tidak seimbangnya kebutuhan perusahaan dan banyaknya lulusan sarjana yang dibutuhkan untuk bekerja. Dengan kata lain, masih kurangnya ketersediaan lapangan pekerjaan di Indonesia. Padahal negara menjamin hak rakyat untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan seperti yang terdapat dalam pasal berikut :

Pasal 27 ayat (2) UUD 45 : Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Kritik sosial yang lainnya adalah seorang Jupri, wakil rakyat yang tidak cukup mewakili rakyatnya. Diangkatnya karakter seorang Jupri sebagai calon wakil rakyat hingga akhirnya berhasil menjadi anggota DPR, dalam masa kampanye nya Jupri melakukan berbagai hal agar masyarakat akan memilihnya pada saat pemilu. Mulai dari memasang poster dirinya, sampai membagi-bagikan kaos dengan wajah dirinya dikaos tersebut. Kondisi seperti ini sudah biasa untuk masyarakat negeri ini, setiap pemilihan umum tiba calon-calon anggota DPR berlomba-lomba menarik simpati masyarakat agar memilih mereka. Segala cara ditempuh, walau dengan membeli suara rakyat. Hal ini tidak dapat dipungkiri lagi, karena ini adalah kenyataan yang sering kali terjadi setiap pemilu. Dalam film ini diselipkan juga adegan dimana Jupri sudah menjadi anggota DPR dan bercerita kepada Haji Sarbini tentang permainan yang biasa ia mainkan ketika merasa jenuh ditengah rapat paripurna di gedung DPR. Ketika mereka anggota DPR sudah lelah memikirkan nasib rakyat, mereka bermain game untuk menghilangkan stress disela-sela rapat.

Kritik sosial tentang masyarakat Indonesia itu sendiri digambarkan pada semua lakon dalam film ini. Semua karakter dalam film ini sudah cukup mewakili berbagai macam karakter masyarakat Indonesia. Mulai dari Pipit yang gemar mengikuti kuis-kuis interaktif yang mengarah kepada pembodohan masyarakat, mengirimkan bungkus-bungkus makanan berhadiah jutaan rupiah yang mengarahkan masyarakat pada kemalasan dan berpikir instant dalam mencari uang. Kemudian tidak sedikit masyarakat Indonesia yang berminat pada ramalan dan jimat. Mereka yang percaya, lebih mengandalkan ramalan dan jimat itu

daripada kemampuan mereka sendiri. Alhasil, banyak orang yang lebih mengharapkan keberuntungan dibanding terus berusaha untuk menjadi lebih baik, mendapat pekerjaan yang baik, dan penghidupan yang layak.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN (Halaman 42-48)

Dokumen terkait