F. PENGUNGKAPAN LAINNYA
F.5. Archipelagic and Island State Forum
Archipelagic and Island State Forum adalah suatu forum yang diinisiasi oleh Indonesia sebagai tindak lanjut dari Ocean Conference di New York pada 5 Juni 2017. Latar belakang dibentuknya AIS adalah visi Poros Maritim Dunia yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo di East Asia Summit di Myanmar. Visi tersebut menjabarkan upaya Indonesia untuk memperkuat kapasitas dalam negeri
untuk memanfaatkan secara optimal potensi laut Indonesia dan membangun kerja sama antar kawasan di isu-isu kelautan dan maritim.
Untuk mewujudkan visi tersebut, telah dikeluarkan Peraturan Presiden
Nomor 16 tahun 2017 mengenai Kebijakan Kelautan Indonesia. Perpres tersebut
menggariskan bahwa Indonesia bercita-cita untuk mewujudkan "Negara maritim yang maju, berdaulat, mandiri, kuat, serta mampu memberikan kontribusi positif
bagi keamanan dan perdamaian kawasan dan dunia sesuai dengan kepentingan
nasional."
Salah satu upaya utama untuk meningkatkan kepemimpinan Indonesia adalah merangkul negara-negara pulau dan kepulauan (Archipelagic and Island
States) untuk menghadapi tantangan pembangunan yang menghambat
kemampuan mereka untuk hidup makmur dan tumbuh secara berkelanjutan. Negara-negara tersebut banyak menghadapi ancaman eksistensial yang mencakup perubahan iklim, bencana alam, polusi laut, sampah plastik di laut serta perikanan dan laut yang tidak berkelanjutan. Pontensi kegagalan melindungi lautan dan mengatasi perubahan iklim akan memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar bagi masyarakat di seluruh dunia, utamanya di negara kepulauan dan negara pulau.
Kesamaan tantangan dan peluang yang dihadapi negara pulau dan kepulauan memberikan peluang bagi Indonesia untuk memainkan peranan yang lebih aktif, inklusif, dan strategis pada tataran kawasan dan global. Sampai pada 2017, belum terdapat platform kerja sama kolaboratif antara 41 negara pulau dan 6 negara kepulauan terlepas dari tingkat kemapanan ekonomi masing-masing negara.
Oleh karena itu, Indonesia menginisiasi serangkaian kegiatan dalam bentuk
Archipelagic and Island States Forum (AIS Forum). Hal ini dimulai dengan penyelenggaran Sidang Pertama Tingkat Pejabat Tinggi di Jakarta pada 21 - 22 November 2017. Sidang ini menghasilkan pemahaman yang sama di antara negara-negara yang berpartisipasi bahwa suatu forum dapat menjadi sarana inovatif untuk mengatasi masalah perubahan iklim dan kelautan secara efektif.
Pada 1 November 2018 di Manado, Sidang Pertama Tingkat Menteri AIS Forum
telah menfasilitasi pencapaian kesepakatan antara 21 negara pulau dan kepulauan mengenai pembentukan AIS Forum. Hal ini tercermin dalam Manado Declaration
on the Establishment of AIS Forum. Deklarasi menyebutkan empat program utama, yaitu :
1. Mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim berupa kenaikan suhu dan kenaikan permukaan air laut;
2. Penerapan prinsip blue economy (termasuk pendanaan melalui mekanisme
blended finance dan blue bond);
3. Penanggulangan sampah plastik baik dari sisi demand dan supply; dan
4. Pengembangan good maritime and ocean governance.
Sidang Kedua Tingkat Menteri AIS Forum dengan tema Ecotourism serta side events antara lain 2019AIS Forum Starup and Bussines Summit pada 30 Oktober hingga 1 November 2019 di Manado serta KTT Pertama AIS Forum pada 2020.
Untuk menyambut momentum yang terbangun semenjak 2017, Pemerintah Indonesia juga menyelanggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AIS Forum 2020. Dalam pelaksanaanya kegiatan ini melibatkan sektor swasta, akademisi,
lembaga swadaya masyarakat, pengusaha, investor dan juga masyarakat.
Pendanaan Archipelagic and Island States Forum berasal dari pemerintah
Indonesia yang dilakukan melalui pembayaran kontribusi kepada The United Nations Development Programme (UNDP) oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Sesuai perjanjian keuangan antara Kementerian Koordinator Bidang kemaritiman dan Investasi dengan UNDP, jumlah total kontribusi yang harus diberikan terkait AIS Forum adalah sebesar USD1.000.000,00. Kontribusi ini dibayarkan secara bertahap selama tiga tahun, dengan rincian pembayaran setiap tahunnya adalah sebagai berikut:
Tabel 44
Kontribusi Kemenko Marves pada AIS Forum
Pembayaran
ke- Jatuh Tempo Pembayaran
Jumlah (USD) 1 5 July 2019 300.000 2 1 Maret 2020 350.000 3 1 Maret 2021 350.000 TOTAL 1.000.000
Pembayaran kontribusi ini harus dibayarkan sebelum tanggal jatuh tempo dan apabila terdapat kerugian (termasuk namun tidak terbatas kepada kerugian akibat
nilai tukar mata uang) maka akibat dari kerugian tersebut harus ditanggung oleh AIS Forum dan bukan UNDP. Pengelolaan administrasi kontribusi ini secara keseluruhan dilakukan berdasarkan aturan UNDP.
Pada tahun 2019 program AIS Forum ini menerima kontribusi dana sebesar Rp2.840.000.000,00. Tambahan anggaran ini diberikan oleh Kementerian Keuangan kepada Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
yang kemudian disalurkan untuk biaya program AIS Forum. Total biaya yang
digunakan untuk kegiatan pada tahun 2019 sebesar Rp358.020.180,00 sehingga terdapat sisa anggaran sebesar Rp2.481.979.820,00. Rincian penggunaan anggaran untuk program AIS pada tahun 2019 adalah sebagai berikut:
Tabel 45
Kontribusi Kemenko Marves pada AIS Forum
KODE URAIAN JUMLAH (Rp)
1 BIAYA PERSONIL DAN PERKANTORAN 500.000
A Biaya Personil 500.000
2 BIAYA KEGIATAN 328.174.867
B. Kegiatan Kantor 194.037.418
C. Kegiatan Kemitraan 134.137.449
TOTAL 328.674.867
Biaya Administrasi keuangan UNDP (GMS 8%) (26.293.989)
TOTAL 354.968.856
Pada tahun 2020 Rencana Anggaran Biaya program AIS Forum adalah sebesar Rp7.159.360.972,00. Total biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pada tahun 2020 adalah Rp4.501.201.051,00 sehingga terdapat sisa anggaran Rp2.658.159.920,00.
Rincian penggunaan anggaran untuk program AIS pada tahun 2020 adalah sebagai
berikut:
Tabel 46
Rincian Penggunaan Anggaran AIS Forum Tahun 2020
KODE URAIAN JUMLAH (Rp)
1 BIAYA PERSONIL DAN PERKANTORAN 1.470.443.742
A Perkantoran dan Operasional 325.986.888
B Personil 1.144.456.854
2 BIAYA PROGRAM UTAMA 1.202.054.234
Kepemilikan peralatan, perlengkapan dan properti lainnya yang berasal dari hasil belanja uang kontribusi menjadi hak UNDP. Hal-hal terkait dengan perpindahan kepemilikan ditentukan dan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dan peraturan yang berlaku di UNDP. Sampai dengan 13 Januari 2021 total aset yang dimiliki oleh Sekretariat AIS Forum sebesar Rp111.800.000,00. Aset ini terdiri dari Personal Computer, laptop dan peralatan pendukung perkantoran. Pelaksanaan audit dan penyusunan Laporan pertanggungjawaban terkait kontribusi ini disusun berdasarkan aturan yang berlaku di UNDP dan bekerja sama dengan perwakilan Pemerintah Republik Indonesia yang berada di Steering
Committee.
Apabila terdapat sisa kontribusi pada pelaksanaan rencana kerja, maka pihak yang berhak memegang sisa kontribusi tersebut adalah UNDP. Dana sisa kontribusi ini akan dikelola oleh UNDP sampai seluruh komitmen dan kewajiban yang terkait dengan AIS Forum selesai. Jika setelah seluruh rencana kerja telah dilaksanakan dan masih terdapat sisa dana kontribusi, maka UNDP akan melakukan realokasi dana sisa tersebut setelah berkonsultasi dengan Pemerintah Republik Indonesia