• Tidak ada hasil yang ditemukan

V PERUBAHAN MODA PRODUKSI NELAYAN

HASIL BERSIH

III. Armada Penangkapan Kapal Motor >100GT Bentuk Armada Kapal Motor berkapasitas >100 GT

Alat Tangkap Jaring Minitrawl

Kekutan Jelajah >20 Km Lama melaut 7 – 15 Hari Jumlah Pekerja 10-15 Orang

41 berukuran 30 GT sampai berukuran lebih dari 100 GT. Untuk armada penangakapan berukuran besar seperti perahu payang dan Kapal Motor dapat mencapai panjang rata-rata antara 15 meter sampai 20 meter dengan lebar 3,5 sampai 4 meter dan dapat memuat ikan mulai dari 1,5 sampai 2,5 ton dan biasanya menggunakan alat tangkap jaring payang atau jaring lingkar untuk jenis perahu Payang dan jaring minitrawl ataualat tangkap longline untuk kapal motor >100 GT. Ukuran pukat yang biasanya dipakai pada Perahu payang dapat mencapai panjang 200 samapi 250 meter dengan lebar 30 meter sampai 40 meter. Menurut informasi dari nelayan setempat, untuk mendapatkan satu unit kapal beserta pukatnya nelayan harus memiliki uang sejumlah kurang lebih Rp 100.000.000 sampai Rp 110.000.000 untuk kapal bekas. Untuk mendapatkan Perahu payang (Jonso)yang Baru nelayan harus memiliki modal sekurangkurangya Rp 150.000.000 - Rp 220.000.000. Berdasarkan pemaparan diatas, dengan harga armada penangkapan modern yang begitu mahal, jelas nelayan kecil tidak akan mampu mengakses alat produksi modern tersebut dan bagi nelayan kecil yang tidak ingin terikat dengan para pemilik modal besar mereka terpaksa masih bertahan dengan menggunakan armada penangkapan tradisional yang berukuran kecil seperti, Lopi, Boseh atau Sope yang sudah menggunakan tenaga pengerak mesin tempel. Bagi nelayan kecil yang sama sekali tidak memiliki alat produksi dan armada penangkapan terpaksa hanya menjadi buruh angkut ikan atau buruh nelayan pada kapal-kapal besar milik juragan lokal maupun juragan pendatang.

Relasi Produksi dan Pola Bagi Hasil

Mulai awal tahun 1990-an di wilayah perairan Bugis Sape mulai masuk kapal motor berukuran lebih besar yaitu Kapal Motor berukuran di atas 30 GT yang pada awalnya dibawa oleh nelayan pendatang dari Bali dan Sulawesi. Kemudian Pada awal tahun 2000-an datang pula Kapal Motor yang berkapasitas diatas 100 GT yang juga milik dari pengusaha besar asal Bali. Pada awalnya Kapal Motor >100 GT tersebut hanya membongkar muatan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Bugis Sape, namun lambat laut Kapal Motor berkapasitas >100 GT ini sudah menetap di wilayah perairan laut Bugis Sape dan sebagian besar sudah menggunakan jasa para nelayan buruh dari Desa Bugis sebagai anak buah kapal.

Sangat berbeda dengan armada penagkapan perahu mesin tempel sebelunya, armada pengankapan perahu payang (Jonso) dan kapal motor >100 GT sudah menerapkan cara produksi dan pola hubungan kerja yang terorganisir dengan baik, misalnya pada armada penagkapan perahu payang sudah menggunakan tenaga masinis untuk menjalankan perahu pada saat melakukan operasi penangkapan. Selain mengoperasikan perahu, masinis juga bertugas membantu merawat dan memperbaiki mesin apabila di terjadi kerusakan, posisi masinis ini biasanya diisi oleh anak atau keluarga terdekat dari pemilik kapal. Perubahan cara produksi nelayan dari menggunakan armada penangkapan perahu mesin mempel (Sope) ke armada penangkapan perahu payang (Jonso) dan kapal motor >100 GT juga sangat terlihat perbedaanya dalam segi efektivitas dan efisiensi pada saat melaksanakan operasi penangkapan. Bagi kelompok nelayan yang menggunakan armada penangkapan perahu payang dan kapal motor jelas akan mendapatkan hasil yang jauh lebih banyak dan dapat menangkap beragam

42

jenis ikan dengan armada dan teknologi alat tangkap yang lebih modern dibandingkan dengan armada penangkapan Sope sebelumya. Perubahan pola hubungan produksi nelayan dari armada penangkapan perahu mesin tempel ke armada penangakapn perahu payang dan kapal motor >100 GT diuraikan pada Tabel 9.

Perubahan moda produksi nelayan berupa peralihan aramada penangkapan dari armada penangkapan Sope yang menggunakan tenaga pengerak mesin tempel ke armada penankapan Jonso dan Kapal Motor >100 GT telah berimplikasi pada perubahan pola rekrutmen buruh nelayan menjadi lebih selektif, dimana penilaian pemilik alat produksi terhadap buruh nelayan tidak semata-mata berdasarkan kekuatan fisik tetapi juga dinilai berdasarkan keterampilan dan keahlian tertentu, misalnya untuk posisi juru mudi, teknisi mesin dan penunjuk arah serta penentu lokasi penangkapan diperlukan keterampilan dan keahlian serta pengalaman tersendiri, dimana sifat dan pola rekruitmen pada kelompok nelayan yang mengoperasian aramada penangkapan perahu Payang dan Kapal Motor >100 GT ini sudah sangat selektif berdasarkan keahlian dan spesialisais berdasarkan keahlian kerja.

Dilihat dari sistem bagi hasil antara armada penagkapan Sope dan Jonso terlihat sedikit berbeda, dimana pada armada penangkapan Sope masih menggunakan sistem bagi hasil dengan perhitungan pembagian 2 (dua) bagian untuk juragan dan 1 (satu) bagian untuk masing-masing sawi dan ncimbi setelah dipotong seluruh biaya operasinal, sedangkan pada armada penangkapan Perahu payang (Jonso) menggunakan sistem bagi hasil yang dikombinasikan dengan sistem upah sedangkan pada armada penangkapan Kapal Motor >100 GT tidak Tabel 9 Pola hubungan produksi nelayan dari armada penangkapan perahu mesin tempel ke armada penangakapn perahu payang dan kapal motor >100 GT

I. Perahu Mesin Tempel (Sope)

Pembagian Kerja Ada, tapi belum terlalu jelas, terdiri dari : Juragan, Sawi dan tukang Ncimbi Pola Rekruitmen Sawi Berdasarkan ikatan kekerabatan Pola Hubungan produksi Kekeluargaan

II. Perahu Payang (Jonso)

Pembagian Kerja Pemabagian kerja sudah ada yang terdiri dari :

Juragan, Tekong (Juru Mudi), ABK Pengurus Perahu, Buruh Nelayan, Motoris (Bengkel Payang)

Pola Rekruitmen Sawi Bersifat selektif berdasarkan kecakapan dan pengalaman kerja

Pola Hubungan produksi Ada kecenderungan eksploitasi terhadap buruh nelayan

III. Kapal Motor >100GT

Pembagian Kerja Pemabagian kerja sangat jelas, yang terdiri dari :

Tekong (Juru Mudi), ABK Pengurus Kapal, Buruh Nelayan

Pola Rekruitmen Sawi Bersifat selektif berdasarkan keahliah dan spesialisasi Pola Hubungan produksi Ada kecenderungan eksploitasi terhadap buruh nelayan

43 lagi menggunakan sistem bagi hasil tapi sudah menggunakan sistem upah yang bagi menjadi dua kategori yaitu sistem upah khusus bagi ABK yang memiliki keahlian dan keterampilan khusus dan upah biasa bagi ABK atau buruh nelayan biasa.

Dalam pola hubungan produksi terdapat perbedaan antara ketiga armada penangkapan ini, dimana pada armada penangkapan Sope tidak ada target jumlah penangkapan dalam sekali putaran mealut dan masih menggunakan sistem bagi hasil yang proporsional, sehingga pola hubungan produsi tidak bersifat eksploitatif, sedangkan pada armada penangkapan perahu payangdan kapal motor >100 GT ada target jumlah pendapatan dalam sekali putaran melaut yang dibebankan oleh pemilik kapal kepada ABK dan para buruh nelayan, sehingga buruh nelayan harus bekerja keras untuk memenuhi target penangkapan tersebut, sementara upah yang diberlakukan oleh pemilik kapal tergolong masih rendah yaitu antara Rp.900.000 sampai dengan 1.500.000/Bulan, besaran upah tersebut dibawah standar upah minimum pekerja pada umunnya. Hal inilah yang menyebabkan hubungan kerja pada armada penangkapan perahu Payang dan Kapal Motor >100 GT dengan teknologi modern, sudah mengarah pada pola hubungan kerja yang bersifat eksploitatif terhadap buruh nelayan.

Pola Bagi Hasil pada Armada Penangkapan Perahu Payang

Perahu payang biasanya hanya digunakan untuk mengoperasikan jaring payang atau nama lainnya pukat kantong lingkar. Kekuatan produksi pada perahu payang adalah jumlah ABK yang terdiri dari 10 - 17 orang dengan posisi status yang heterogen, mesin tempel yang digunakan pada umumnya berukuran 40 PK. Dalam hubungan produksi terdapat status pemilik perahu, pengurus perahu, ABK, bengkel payang dan juru mudi. Status pengurus berperan dalam pengadaan perbekalan dan menjual hasil tangkapan.

Status ABK terdiri dari juru mudi yang bertanggung jawab terhadap operasional penangkapan, juru batu yang terdiri dari 2 orang yang bertanggung jawab untuk mengawasi posisi jaring, juru tembak 1 orang yang bertugas untuk menggiring ikan masuk ke dalam jaring, pengawas atau juru keker 1 orang yang bertugas mengamati dan mencari gerombolan ikan serta nelayan tanpa ketrampilan khusus yang disebut sebagai anak payang. Motoris berperan memperbaiki mesin di darat atau di bengkel dan harus selalu siap memperbaiki mesin pada saat diperlukan. Bengkel payang berperan memperbaiki kerusakan jaring dan dilakukan di darat. Ketika melakukan perbaikan jaring dibantu oleh anak payang. Pola hubungan antara pemilik perahu payang dengan ABK, pengurus kapal didasarkan pada sistem bagi hasil dengan atau tanpa pinjaman ikatan.

Ikatan antara pemilik perahu payang dengan ABK pengurus kapal adalah ikatan yang didasarkan pada pinjaman. Pembagian pinjaman tergantung kesepakatan antara ABK pengurus kapal dengan pemilik armada penangkapan. Ketika tidak mendapatkan hasil tangkapan maka pinjaman tidak dapat dikembalikan dan pemilik perahu harus memberi pinjaman lagi ketika operasional berikutnya sehingga kadang-kadang jumlah pinjaman akan membesar ketika musim paceklik, bahkan tanpa ada kegiatan melautpun pemilik tetap memberikan pinjaman bagi ABKnya.

44

Pinjaman ikatan ini juga merupakan jaminan sosial ketika musim paceklik. Pemilik perahu payang yang kekurangan modal akan berhubungan dengan pemilik modal yang dalam hal ini adalah Bakul atau Eksportir. Dengan pola hubungan yang didasarkan pada pinjaman ini maka pemilik perahu payang harus menjual hasil tangkapannya kepada bakul dengan tingkat harga yang lebih rendah dari pasaran. Pola bagi hasil yang diterapkan pada kelompok kerja perahu payang dapat dilihat pada Tabel 10.

Pola Bagi Hasil pada Armada Penangkapan Kapal Motor

Pada armada penangkapan Kapal Motor, pola hubungan antara pemilik kapal dengan ABK maupun buruh nelayan tidak lagi berdasarkan pola hubungan yang didasarkan pada sistem bagi hasil akan tetapi sudah beralih dengan menggunakan sistem upah yang dibagi menjadi dua kategori yaitu sistem upah khusus untuk ABK yang memiliki keterampilan khusus dan upah biasa untuk nelayan buruh.

Dalam pola hubungan produksi terdapat status pemilik kapal, tekong, motoris, ABK Khusus dan ABK biasa atau Buruh nelayan. Pola hubungan antara Tekong dan ABK khusus dengan pemilik kapal adalah pola hubungan yang didasarkan pada sistem upah khusus. Tekong biasanya akan mendapatkan bonus dari pemilik kapal apabila hasil tangkapan melimpah. Pola bagi hasil yang diterapkan pada kelompok kerja nelayan pada armada penangkapan Kapal Motor >100 GT dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 10 Pola bagi hasil yang diterapkan pada armada penangkapan perahu payang

PERHITUNGAN HASIL BERSIH

POLA STATUS BAGIAN KETERANGAN

Hasil penjualan -5% retribusi - upah tekong - upah motoris - upah buruh = Hasil bersih Bagi lima Pemilik 4 bagian atau 80% dari hasil penjualan ikan Pemilik menanggung biaya operasional, upah khusus juru mudi, upah motoris, upah buruh nelayan, biaya kerusakan mesin, alat dan perahu. ABK Pengurus Perahu 1 bagian atau 20% dari hasil bersih

Dibagi rata sesuai dengan jumlah ABK pengurus kapal Tekong Juru Mudi Upah Khusus (Bonus)

Sesuai kesepakan antara tekong dengan pemilik perahu, apabila hasil tangkapan memuaskan Tekong mendapat bonus dari pemilik perahu. Motoris

(Bengkel Kapal)

Upah Khusus

Sesuai kesepakan antara motoris dengan pemilik perahu

Buruh Nelayan

Upah Biasa Besarnya upah biasa : antara Rp.800.000 s.d 1.500.000/Bulan

45

Perhitungan upah khusus untuk Tekong berdasarkan banyaknya pendapatan untuk setiap trip dan tergantung dari tingkat keterampilannya. Untuk ABK pengurus kapal diberlakukan upah khusus dengan besaran upah antara 1.500.000 sampai 2.500.000/Bulan sedangkan untuk ABK biasa atau Buruh Nelayan diberlakukan sistem upah biasa dengan besaran upah antara Rp.900.000 sampai dengan 1.500.000/Bulan.

Ikhtisar

Sebelum terjadinya perubahan moda produksi nelayan, pada era sebelum tahun 1970-an, masyarakat nelayan di wilayah perairan laut Bugis Sape masih menggunakan armada penangkapan yang masih sederhana yaitu menangkap ikan dengan menggunakan perahu Soma dan Lopi yang digerakkan dengan layar dan dayung dengan alat tangkap pancing atau kail yang oleh masyarakat setempat di sebut Hawi dan jaring tasik. Pada saat itu pola hubungan produksi nelayan masih sangat sederhana dan hanya ada status pemilik dan buruh nelayan yang homogen. Pola hubungan antara pemilik perahu dan buruh nelayan merupakan pola hubungan yang didasarkan pada ikatan kekeluargaan. Sedangkan pola hubungan antara penjual dengan pemilik perahu merupakan pola hubungan yang didasarkan pada sistem komisi.

Seiring dengan peningkatan jumlah nelayan yang memamfaatkan wilayah penangkapan di wilayah perairan laut Bugis Sape, maka terjadi pula peningkatan persaingan pemanfaatan wilayah penangkapan, sehingga nelayan berusaha mengubah teknologi yang digunakan agar bisa mendapatkan hasil tangkapan yang lebih memuaskan, perubahan teknologi yang dilakukan berupa perubahan jenis perahu, alat tangkap dan tenaga penggerak perahu. Perubahan moda produksi nelayan berupa peralihan jenis dan spesifikasi armada penangkapan dari armada penangkapan tradisional Lopi dan Soma sampai pada pengunanaan armada Tabel 11 Pola bagi hasil yang diterapkan pada armada penangkapan kapal motor

>100 GT

SISTEM BAGI HASIL

STATUS BAGIAN KETERANGAN

Memakai mekanisme upah khusus dan upah biasa :

- Upah khusus diberlakukan pada Tekong dan ABK penggurus Kapal, sedangkan - Upah biasa diberlakukan pada buruh nelayan biasa

Pemilik Sisa dari

keseluruhan biaya operasional dan upah seluruh ABK

Pemilik menanggung biaya operasional, bonus khusus Tekong, upah ABK, upah buruh nelayan dan biaya kerusakan mesin. Tekong

(Juru Mudi)

Upah Khusus (Bonus)

Sesuai kesepakan antara Tekong dengan pemilik kapal

ABK Pengurus Kapal

Upah Khusus Besarnya upah hhusus : antara 1.500.000 s.d 2.500.000/Bulan

Buruh Nelayan

Upah Biasa Besarnya upah biasa : antara Rp.900.000 s.d 1.500.000/Bulan

46

penangkapan modern seperti perahu Payang dan kapal motor >100 GT dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Peralihan jenis dan spesifikasi armada penangkapan dari armada penangkapan tradisional Lopi dan Soma sampai pada armada penangkapan modern perahu payang dan kapal motor >100 GT

I. Perahu Dayung (Lopi) Sumber

Perubahan

1.Bentuk Perahu Lopi yaitu Perahu tradisional yang terbuat dari kayu gelondongan yang diberi lubang pada salah satu sisinya, tenaga pengerak perahu ini masih menggunakan dayung .

2.Alat Tangkap Pancing (Hawi), Jaring Tradisioanl (Jaring Tasik) 3.Kekuatan Jelajah Pingiran Pantai

4.Lama melaut 4 - 6 Jam / Hari 5.Jumlah Pekerja 1- 2 0rang

II. Perahu Layar (Soma)

1.Bentuk Perahu Soma yaitu perahu tradisional yang terbuat dari kayu gelondongan yang diberi lubang pada salah satu sisinya dan menggunakan kombinasi dayung dan layar sebagai tenaga pengerak

Nelayan Lokal

2.Alat Tangkap Pancing (Hawi), Jaring Tasi, Jaring Nilon 3.Kekuatan Jelajah Pingiran Pantai < 5 Km

4.Lama melaut 6-8 Jam / Hari

5. Jumlah Pekerja 2- 3 0rang

III. Armada Penangkapan Perahu Mesin Tempel (Sope)

1.Bentuk Perahu Sope yaitu perahu kayu yang sudah dikombinasikan dengan mesin tempel yang berkapasitas dari 5 sampai 10 PK.

Pemerintah dan Elit Nelayan Lokal 2.Alat Tangkap Pancing ulur, pancing rawa, jaring tembang atau

jaring rampus 3.Kekuatan Jelajah Antara 6 - 10 Km 4.Lama melaut 8–12 jam / hari 5.Jumlah Pekerja 3–5 0rang

IV. Armada Penangkapan Perahu Payang (Jonso)

1.Bentuk Armada Perahu Payang (Jonso) yaitu jenis perahu yang tebuat dari kayu atau fiber dengan kapasitas mulai dari 30-40 PK atau 10- 30 GT

Elit Nelayan Pendatang dari Sulawesi dan Bali diikuti oleh Nelayan Lokal 2.Alat Tangkap Jaring Payang atau (Jaring lingkar )

3.Kekuatan Jelajah Atara 10 – 20 Km 4.Lama melaut 3 – 7 Hari

5.Jumlah Pekerja 10–17 orang

V. Armada Penangkapan Kapal Motor >100GT

1.Bentuk Armada Kapal Motor berkapasitas lebih dari 100 GT Elit Nelayan

Pendatang dari Sulawesi dan Bali 2.Alat Tangkap Jaring minitrawl dan alat tangkap longline

3. Kekuatan Jelajah >20 Km 4.Lama melaut 7 – 15 Hari

47 Dengan bergulirnya perubahan moda produksi nelayan berupa peralihan jenis dan spesifikasi armada penangkapan di wilayah perairan laut Bugis Sape maka terjadi pula perubahan pada pola hubungan produksi dan perubahan pada pola bagi hasil dalam armada penangkapan. Dilihat dari sistem bagi hasil antara armada penagkapan tardisional seperti perahu perahu layar (Bose) dan perahu mesin tempel (Sope) dengan armada penangkapan yang sudah menggunakan teknologi modern terlihat memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Pada armada penangkapan tradisional seperti perahu Lopi dan Bose menggunakan sistem bagi hasil yang berdasarkan asas kekeluargaan.

Dalam armada penangkapan perahu mesin tempel (Sope) juga masih menggunakan sistem bagi hasil dengan perhitungan 2 bagian untuk juragan dan 1 bagian untuk masing-masing sawi setelah dipotong biaya operasinal, sedangkan pada armada penangkapan yang sudah menggunakan teknologi modern seperti perahu Payang (Jonso) sudah menggunakan sistem bagi hasil yang dikombinasikan dengan sistem upah. Pada armada penangkapan Kapal Motor >100 GT tidak lagi menggunakan sistem bagi hasil tapi sudah menggunakan sistem upah yang bagi menjadi dua kategori yaitu sistem upah khusus bagi ABK yang memiliki keahlian khusus dan upah biasa bagi ABK atau buruh nelayan biasa.

VI DAMPAK PERUBAHAN MODA PRODUKSI NELAYAN

Struktur Sosial Masyarakat Nelayan

Struktur dan stratifikasi sosial pada masyarakat nelayan di Desa Bugis cenderung sangat ditentukan oleh penguasaan aset dan alat produksi di bidang perikanan. Meskipun beragam sektor pekerjaan lain mulai tumbuh di Desa ini, namun sektor perikanan masih menjadi sektor yang diunggulkan oleh masyarakat setempat. Stratifikasi sosial yang muncul pada masyarakat nelayan di Desa Bugis dapat diidentifikasi dengan jelas dengan melihat ketidaksetaraan ekonomi antar lapisan masyarakatnya.

Sebagaimana umumnya masyarakat pesisir, masyarakat nelayan di Desa Bugis mengenal istilah-istilah yang khas dalam kehidupan sehari-hari, seperti istilah Eksportir, Tuan Takur atau yang lajim dikenal sebagai Bakul, Pu‟a atau Juragan dan Burru atau yang biasa disebut Sawi atau Bidak istilah-istilah tersebut sekaligus menjadi penanda dalam struktur dan stratifikasi sosial pada komunitas nelayan di Desa Bugis. Berikut diuraiakan masing-masing fungsi dan peran dari beberapa aktor dalam lapisan masyarakat nelayan di wilayah pesisir Bugis Sape : Eksportir

Dalam pola hubungan produksi pada kalangan nelayan, pihak eksportir merupakan aktor yang sangat berpengaruh terhadap jaringan kerja nelayan. Pihak ekportir menampung ikan hasil tangkapan nelayan yang berkualitas ekspor seperti ikan Tuna, Layur, Udang dan lain-lain. Biasanya yang menyetor ke eksportir adalah pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul ini menampung hasil tangkapan yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan oleh pihak eksportir. Biasanya pihak eksportir menyediakan pinjaman berupa es balok dan umpan untuk menangkap Ikan. Pinjaman diberikan kepada nelayan melalui Bakul atau

48

pedagang pengumpul dengan jaminan nelayan akan menjual hasil tangkapannya kepada Bakul atau pedagang pengumpul yang telah ditentukan oleh pihak eksportir dengan tingkat harga yang biasanya lebih rendah dari tingkat harga pasaran.

Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan memperlihatkan bahwa sebagian besar nelayan di wilayah pesisir Bugis Sape mulai dari buruh nelayan, pemilik perahu tradisional dan pemilik usaha perikanan komersial hampir semuanya terikat pada pemilik modal atau pihak eksportir ini. Ketidakmampuan nelayan pemilik dalam menyediakan biaya operasional melaut menyebabkan mereka selalu terikat kepada pemilik modal tersebut. Demikian juga nelayan ABK, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi keluarganya selama ditinggal melaut menyebabkan mereka terikat kepada pemilik modal seperti Bakul atau Palele.

Pengusaha Bakulan atau „Tuan Takur Besar‟

Istilah Tuan Takur ini dipakai untuk lapisan masyarakat nelayan yang berprofesi sebagai pengusaha Bakulan dan umumnya mempunyai aset yang besar dalam bidang perikanan dan kepemilikan properti pribadi di darat maupun di laut, seperti kepemilikan kapal, bangunan rumah yang bagus, alat transportasi, barang-barang elektronik dan sebagainya. Istilah Tuan Takur ini mulai dipakai oleh masyarakat nelayan di Desa Bugis pada saat awal-awal masuknya siaran Televisi yang menayangkan film-film Bolywood dari India yang terkenal dengan slogan Tuan Takur yang merujuk pada bos yang memiliki harta dan kekayaan yang melimpah.

Dalam struktur masyarakat nelayan di Desa Bugis Kelompok Tuan Takur ini tidak terlibat secara langsung dalam kegitan menangkap ikan, melainkan hanya sebagai pembeli pengumpul atau mendistribusikan hasil tangkapan para nelayan. Tuan Takur yang sukses biasanya mempunyai jaringan yang luas baik jaringan yang terbentuk dengan para nelayan maupun dengan para eksportir lokal maupun dengan eksportir di luar daerah.

Palele atau „Tuan Takur Kecil‟

Palele adalah pengusaha perikanan berskala kecil atau bisa dikatakan sebagai bakul kecil yang menampung hasil tangkapan nelayan atau hasil isi rima dari para buruh nelayan atau ABK. Ikan yang didapat oleh palele biasanya dijual langsung kepada konsumen atau menyetorkan kepada bakul besar. Selain menjual langsung ikan yang didapat dari Juragan atau buruh nelayan, palele biasanya mempunyai kegiatan menampung hasil isi rima dan dilakukan dengan bekerja sama dengan Bakul. Pola hubungan antara palele dengan bakul berdasarkan bagi keuntungan yaitu sekitas Rp.500 sampai Rp.1000 dari setiap 1 kilogram ikan yang didapatkan.

Antara pemilik perahu dengan palele biasanya terdapat ikatan yang didasarkan pada pinjaman berupa biaya operasional untuk melaut dengan jaminan Palele menampung hasil tangkapan utama dari pemilik perahu, sedangkan dalam pola hubungan antara ABK atau buruh nelayan dengan palele terikat uang pinjaman atau hutang piutang yang biasanya digunakan untuk keperluan rumahtangga dan kehidupan sehari-hari sebelum berangkat melaut dengan jaminan buruh nelayan tersebut harus menjual hasil isi rima atau bonus ikan dari hasil melaut kepada palele yang bersangkutan.