• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dahuri, R. 2000. Pendayagunaan Sumberdaya Perikanan. Jakarta: LISPI.

Fajar, U. 2009. Tranformasi Sturktur Agrarian dan Diferensi Sosial pada Komunitas Petani (Studi Kasus pada Empat Komunitas Petani Kakao di Propinsi Sulawesi Tenggah dan Nangroe Aceh Darusalam. Bogor: Disertasi Pascasarjana IPB Bogor.

Hamzah, A. 2008. Respon Komunitas Nelayan Terhadap Modernisasi Perikanan. Bogor: Tesis Pascasarjana IPB Bogor.

Hayami, Y dan M Kikuchi 1981. Dilema Ekonomi Desa. Suatu Pendekatan Ekonomi Terhadap Perubahan Kelembagaan di Asia. Jakarta: YOI

Hikmah Z. 2008. Analisis Konflik Nelayan dalam Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Selat Madura dalam Perspektif Sosiologi Hukum. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Kinseng, R. 2007. Konflik-Konflik Sumberdaya Alam pada Kalangan Nelayan di Indonesia. Bogor : Sodality.

Kinseng, R. 2011. Konflik Kelas Nelayan di Indonesia (Tinjauan Kasus Balikpapan). Bogor : IPB Pres.

Kusnadi. 2009. Keberadaan Nelayan dan Dinamika Ekonomi Pesisir : Penelitian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Jember : Lembaga Penelitian Universitas Jember.

Kusnadi. 2000. Nelayan, Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial. Bandung: HUP. Lauer, R.H. 1989. Perspektif Tentang Perubahan Sosial. (Terj). Jakarta: Bina

Aksara.

Masyhuri. 2001. Adaptasi Kelembagaan Ekonomi Masyarakat Nelayan dalam Pemanfaatan Sumberdaya Alam Indonesia. Jakarta: P2E-LIPI.

Masyhuri dan M Nadjib. 2000. Pemberdayaan Nelayan Tertinggal: Sebuah Uji Model Penanganan Kemiskinan. Jakarta: PEP- LIPI.

Mattulada. 1977. Masyarakat Pesisir Dilihat dari Sudut Antropologi dan Sosiologi, dalam Pengembangan Sumberdaya Lautan (Aspek Sosial Budaya). Ujung Pandang : Lephas.

Mubyarto. 1994. Nelayan dan Kemiskinan. Studi Ekonomi Antropologi di Dua Desa Pantai. Jakarta: Rajawali Press.

Moleong. 1993. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Neuman W, Lawrence, 1999. Sosial Research Methods. Qualitative and

Quantitative Approaches. Fourth Edition. United Satate of America. Popkin, S. 1986. Petani Rasional. Jakarta : Lembaga Penerbit Yayasan Padamu

Negeri.

Ray, C. 2002. A Mode of Production for Fragile Rural Economics: The Territorial Accumulation of Form of Capital. Journal of Studies.

Russel, W. 1989. Modes of Production in World History. London and New York : Routledge.

Saba, ES. 2003. Penguatan Makna Awig-Awig Dalam Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Bogor: Tesis Pascasarjana IPB.

Salman. 1995. Kemiskinan Struktural dan Polarisasi Sosial pada Masyarakat Nelayan. Ujung Pandang: Lephas.

70

Satria A. 2007. Strategi Pembangunan Desa Pesisir Mandiri. Makalah

disampaikan pada Semiloka “ Menuju Desa 2030“

Satria A. 2009. Ekologi politik nelayan. Jakarta : LkiS Printing Cemerlang. Satria A. 2001. Dinamika Modernisasi Perikanan. Formasi Sosial dan Mobilitas

Nelayan. Bandung : HUP.

Satria A. 2002. Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Jakarta: Cidesindo. Sajogyo, P. 1985. Sosiologi Pembangunan. Jakarta: FPS IKIP Jakarta dan

BKKBN.

Schoorl, J. W. 1993. Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Sedang Berkembang. Jakarta: PT Gramedia.

Solihin, A. 2005. Merancang Revitalisasi Perikanan. www.penulislepas.com Susan N. 2010. Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer.

Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Suseno, F. Magnis. 2001. Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

Suwarsono, dan So, AY 2000. Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: Penerbit LP3ES.

Winahyu dan Santiasi. 1993. Pengembangan Desa Pantai, dalam Mubyarto dkk, Dua Puluh Tahun Penelitian Pedesaan. Yogyakarta: Aditya Media.

http//www. Kementrian Kelautan dan Perikanan. http//www. Bps.

71

GLOSARIUM

ABK buruh nelayan yang bekerja pada perahu atau kapal motor besar. Biasanya dikelompokan menjadi dua kategori yaitu buruh nelayan yang memilki keterampilan khusus dan buruh nelayan yang tidak memiliki keterampilan khusus. Bakul pemilik modal yang meminjamkan biaya operasional

kepada pemilik perahu atau sebagai perantara yang meminjamkan es balok dan umpan kepada pemilik perahu. Diesel sebutan untuk kapal motor yang berukuran > 10 GT

Gillnet jaring nilon multifilamen yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis

Hawi sebutan nelayan lokal untuk alat tangkap pancing tradisional yang biasa dioperasian besama armada Lopi maupun Soma.

Isi Rima hasil tangkapan yang sengaja disisihkan untuk dibawa pulang oleh buruh nelayan atau ABK, atau hasil tangkapan yang diperoleh dari alat tangkap yang dibawa sendiri oleh buruh nelayan.

Jaring tembang jaring nilon yang digunakan untuk menangkap ikan tembang

Jaring rampus jaring nilon yang digunakan untuk menangkap ikan demersal

Jaring payang pukat kantong lingkar yang biasa digunakan oleh armada penangkapan perahu payang.

Jonso jenis perahu yang tebuat dari kayu atau fiber dengan kapasitas mulai dari 30-40 PK atau 10- 30 GT atau yang biasa disebut dengan Perahu Payang

Kampong Hugi sebutan lama untuk Desa Bugis yang berarti perkampungan orang yang berasal dari Bugis.

Lopi perahu tradisional yang terbuat dari kayu gelondongan yang diberi lubang pada salah satu sisinya, tenaga pengerak perahu ini masih menggunakan dayung.

Longline alat tangkap yang terdiri (tali utama) kemudian pada tali tersebut secara berderet pada jarak tertentu digantungkan tali-tali pendek yang ujungnya diberi mata pancing. Panjang tali tersebut bila direntangkan secara lurus dapat mencapai panjang ratusan meter, bahkan puluhan kilometer. Moke Uta pengetahuan lokal yang dipelajari secara turun temurun

oleh nelayan-nelayan di Desa Bugis. Pengetahuan moke uta ini berfungsi untuk menandai keberadaan ikan melaui cara-cara tradisional.

Ncuhi keturunan bangsawan yang membawahi tiap-tiap wilayah pada masa pemerintahan kesultanan Bima.

: : : : : : : : : : : : : : :

72

Ngaha Caru pesta laut yang biasa dilaksanakan oleh komunitas nelayan Bugis Sape. Acara ini biasanya dilaksanakan bertepatan dengan hari idul fitri dan idul adha.

Ncimbi buruh nelayan yang khusus bertugas membersihkan dan mengeluarkan air laut dari dalam perahu. Posisi ini biasanya dijalankan oleh anak-anak yang sudah tidak bersekolah dan terpaksa mengambil pekerjaan ini untuk membantu perekonominan keluaga.

Palele pemilik modal yang meminjamkan uang kepada ABK atau kepada pemilik perahu dan menampung hasil isi rima dari buruh nelayan atau hasil tangkapan dari perahu yang telah diikatnya dengan pinjaman.

Pu‟a sebutan untuk pemilik alat produksi perahu atau kapal Soma perahu tradisional yang terbuat dari kayu gelondongan yang

diberi lubang pada salah satu sisinya dan menggunakan kombinasi dayung dan layar sebagai tenaga pengerak. Sope perahu kayu yang sudah dikombinasikan dengan Mesin

Tempel yang berkapasitas antar 5 sampai 10 PK Tekong sebutan untuk juru mudi

Tukang cekki buruh nelayan seorang yang bertugas mengamati kelayakan tangkapan dari jumlah maupun jenis ikan yang akan ditangkap.

Tukang bage seorang bertugas memilah ikan berdasarkan ukuran dan jenisnya dan membagi bonus ikan (isi rima) untuk setiap buruh nelayan untuk di bawa pulang sebagai oleh-oleh dari mealut. : : : : : : : : :

74

75 Lampiran 1 (Lanjutan)

76

Lampiran 2 Data informan kunci

Keterangan :

PA : Penduduk Asli BN : Buruh Nelayan

PNG : Pendatang PK : Pemilik Kapal

TSD : Tamat SD PP : Pemilik Perahu

TSMP : Tamat SMP TSTM : Tamat STM

77 Lampiran 3 Peraturan-peratuaran terkait dengan jalur penangkapan dan alat

tangkap yang dapat digunakan dalam kegiatan penangkapan ikan

No Jenis

Peraturan

Bentuk Konten (Isi)

1 Peraturan pemerintah Keppres No. 39/1980 Tentang Penghapusan Jaring Trawl. Pasal 1

ayat (1) Menghapuskan kegiatan penangkapan ikan yang menggunakan jaring Trawl atau sejenisnya.

ayat (2) Dalam pengertian jaring Trawl termasuk pula alat penangkap ikan yang dipersamakan, yang perinciannya akan ditetapkan lebih lanjut.

Pasal 3

Terhitung mulai tanggal berlakunya keputusan ini sampai dengan tanggal 30 September 1980 dilaksanakan penghapusan secara bertahap terhadap seluruh kapal perikanan yang menggunakan jaring Trawl.

Pada tanggal 1 Oktober 1980 melarang semua kegiatan penangkapan ikan yang menggunakan jaring Trawl di seluruh wilayan perairan laut Indonesia.

2 Peraturan pemerintah (Govern-ment rules) SK Mentan No. 503/Kpts/Um/9/1980 Tentang Langkah-langkah Penghapusan Jaring Trawl Tahap Pertama

Perincian mengenai jaring Trawl adalah sebagai berikut:

Jenis-jenis jaring berbentuk kantong yang ditarik oleh sebuah kapal bermotor dan menggunakan alat penentuan suku jaring yang disebut gawang (beam) atau sepasang alat pembuka (otter board) dan jaring yang ditarik oleh dua buah kapal bermotor.

Jenis-jenis jaring Trawl termaksud dikenal dengan macam-macam pukat harimau, pukat tarik, trawl tarik, jaring tarik, jaring trawl ikan, pukat apollo, pukat dan sebagainya. 3 Peraturan pemerintah (Govern-ment rules) Keputusan Dirjen Perikanan No. Ik.340/DJ. 10106/97 tentang Alat Tangkap Ikan Berbentuk Kantong

Alat tangkap yang berbentuk Kantong Adalah alat penangkap ikan berbentuk kantong yang telah dirubah atau dimodifikasi sehingga bentuk komponen serta ukuran alat penangkap ikan tersebut menyerupai jaring Trawl, seperti Cantrang, Arad, Otok, Garuk Perang, dan lain-lain.

4 Peraturan pemerintah (Govern-ment rules)

Kep Mentan No. 392/Kpts/Ik. 120/4/99 tentang Jalur-jalur Penangkapan Ikan

Jalur I

0 – 3 mil, diperbolehkn untuk alat penangkapan ikan yang menetap, alat penangkapan ikan yang tidak menetap yang tidak dimodifikasi, dan kapal perikanan tanpa motor yang

panjangnya ≤ 10 m.

3 – 6 mil, diperbolehkan untuk alat penangkapan ikan yng tidak menetap yang dimodifikasi, kapal perikanan yang diperbolehkan yaitu;

a. Tanpa motor dan bermotor tempel ukuran panjang ≤

10 m.

b. Bermotor tempel dan bermotor dalam ukuran panjang maksimal 12 m/maksimal 5 GT

c. Pukat cincin (Purse seine) ukuran panjang maksimal 150 m.

d. Jaring insang hanyut (Drift gill net) ukuran panjang maksimal 1000 m

Jalur II

Wilayah perairan anatar > 6-12 mil diperuntukkan bagi kapal motor yang beukuran maksimal 60 GT,

Jalur III.

Wilayah penangkapan kapal motor berukuran 60 GT ke atas seperti longline

5 Aturan lokal masyarakat (local rules)

Karakteristik usaha penangkapan nelayan Bugis, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima

Alat tangkap ramah lingkungan seperti (Gill net dan Trammel net) dengan gerakan pasif.

Tidak mempermasalahkan kedatangan nelayan daerah lain dengan alat tangkap sejenis sebagaimana yang dimaksud sebagai alat tangkap ramah lingkungan.

78

Lampiran 4 Aturan lokal nelayan di wilayah perairan laut Desa Bugis dalam pengelolaan sumberdaya perikanan

79 Lampiran 5 Pedoman pengumpulan data di lapangan

80

Lampiran 6 Panduan wawancara

Untuk mendapatkan data primer dengan berbagi topik yang dituangkan dalam lampiran di atas, maka dilakukan wawancara dan studi riwayat hidup dengan panduan pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana asal usul terbentuknya komunitas nelayan di Desa Bugis ? bagaimana perkembangannya saat ini ?

2. Bagaimana kondisi masyarakat nelayan sebelum terjadinya perubahan moda produksi ? bagaimana gambaran alat penangkapan yang digunakan ? bagaimana struktur produksi, pola bagi hasil dan pola staratifikasinya ?

3. Kapan perubahan moda produksi atau perubahan teknologi penangkapan mulai dilakukan disini ? siapa yang berperan dalam perubahan teknologi penangkapan dan mengapa dilakukan perubahan teknologi tersebut ?

4. Bagaimana tahap-tahap perubahan teknologi penangkapan yang dilakukan nelayan di desa Bugis ? Bagaimana respon nelayan terhadap perubahan teknologi penangkapan tersebut ? bagaimana respon positif dan bagaimana respon negatif nelayan terhadap perubahan alat produksi tersebut ?

5. Apakah terjadi konflik antara nelayan yang mengunakan cara produksi lama dengan nelayan yang mengunakan cara produksi baru pada saat ini ? atau adakah konflik lain ? bagaimana pola konflik yang terjadi ?

6. Bagaimana kekuatan produksi pada setiap kapal dan alat tangkap misalnya : sumber daya manusia dan keterampilanya serta tingkat teknologi yang digunakan?

7. Bagaimana pola hubungan produksi pada setiap jenis kapal dan alat tangkap yang ada ? bagaimana peran dari masing-masing status dalam proses produksi nelayan?

8. Bagaimana pola stratifikasi nelayan berdasarkan pandangan masyarakat desa bugis ? apa yang dijadikan dasar dalam penentuan stratifikasi sosial tersebut ?

9. Bagaimana pola bagi hasil yang diterapkan untuk setiap Kapal dan alat tangkap pada saat ini ? dengan pola bagi hasil tersebut siapa yang menangung biaya operasional, biaya restribusi hasil tangkapan serta biaya perawatan jaring, mesin dan kapal ?

10.Dari sistem bagi hasil yang diterapkan apakah memperlihatkan adanya gejala eksploitasi terhadap buruh nelayan ? siapa yang lebih diuntungkan dalam sistem bagi hasil tersebut ? 11.Apakah sistem bagi hasil tersebut memicu terjadinya konflik antara pemilik kapal dengan

buruh nelayan/ABK ? Bagaimana potensi konflik yang terjadi antara kelas pemilik kapal dengan kelas buruh nelayan ?

12.Apakah ada peran pemilik modal dalam menunjang proses perubahan alat produksi nelayan di desa bugis ?

13.Bagaimana pola hubungan antara pemilik modal dengan pemilik kapal ? apa yang dijadikan dasar dalam pola hubungan tersebut ?

14.Bagaimana pola hubungan antara pemilik alat produksi (pemilik Kapal) dengan nelayan buruh atau ABK ? apa yang dijadikan sebagai dasar dalam pola hubungan tersebut ? Dalam pola hubungan tersebut apakah terdapat gejala eksploitasi ?

Panduan Wawancara Untuk Studi Riwayat Hidup

Panduan wawancara studi riwayat hidup sama dengan pertanyaan pertanyaan di atas namun ditambah dengan pertanyaan-pertnayaan dasar sebagai berikut :

1. Kapan mulai menjadi nelayan dan bagaimana sejarahnya sampai menjadi nelayan ?

2. Bagaimana kegiatan usahanya dan bagaimana perkembangannya dari awal hingga sekarang? 3. Bagaimana peran yang bersangkutan dalam komunitasnya dari awal hingga sekarang ?

4. Bagaimana dampak perubahan moda produksi nelayan terhadap usaha perikanannya ? Seiring dengan proses perubahan moda produksi (alat tangkap) bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi dalam komunitasnya ?

5. Apakah perubahan moda produksi nelayan dari yang tradisional ke moda produksi yang modern menyebabkan mobilitas vertikal atau horizontal bagi dirinya dan komunitasnya ? dengan adanya mobilitas tersebut apakah beliyau juga mengalami mobilitas vertikal atau horizontal ?

81 Lampiran 6 (Lanjutan )

Panduan Pengamatan Lapangan

Untuk melengkapi data hasil wawancara maka dilakukan pengamatan berperan serta terbatas terhadap :

1. Keadaan umum lokasi penelitian dan sarana prasarana perikanan yang menunjang kegiatan operasional nelayan.

2. Gambaran umum komunitas nelayan serta situasi dan kondisi pemukimannya, berbagai cara produksi dan bagaimana struktur relasi kerja dalam produksi nelayan.

3. Kegiatan di tempat pelelangan ikan (TPI) dan mekanisme kerjanya. Siapa yang mengelola TPI dan bagaimana peran TPI dalam menunjang kegiatan pemasaran hasil tangkap para nelayan ? 4. Sealain di TPI, akan diamati juga cara pemasaran hasil tangkap yang umum dilakukan oleh

nelayan di luar TPI. Adakah pihak-pihak yang berperan dalam pemasaran hasil tangkap selain di TPI dan bagaimana peranannya ?

5. Bagaimana mekanisme bagi hasil yang dilakukan pada masing-masing cara produksi. Adakah potensi konflik yang diakibatkan oleh adanya gejala eksploitasi terhadap buruh nelayan atau ABK pada sistem bagi hasil tersebut ?

6. Bagaimana mekanisme penjualan hasil tangkap yang dilakukan oleh pemilik kapal yang tidak terikat dengan pemilik modal ? bagaimana tingkat harganya ?

7. Bagaimana mekanisme penjualan hasil tangkap yang dilakukan oleh pemilik kapal yang telah terikat oleh pemilik modal ? bagaimana tingkat harganya ?

Panduan Studi Dokumen

Untuk menunjang data primer maka dilakukan studi dokumen untuk mendapatkan data-data sekunder sebagai berikut :

1. Keadaan umum lokasi penelitian (geografis, penduduk, tingkat pendidikan, agama, sarana dan prasarana perikanan, jenis-jenis usaha perikanan, serta data kepemilikan kapal dan alat produksi nelayan).

2. Mulai kapan perubahan moda produksi nelayan terjadi di desa bugis dan siapa saja yang berperan ?

3. Jumlah rumah tangga perikanan, jumlah buruh nelayan, jumlah pemilik perahu/kapal dan alat tangkap.

4. Data perkembangan jumlah dan jenis kapal dan alat tangkap

5. Data Perkembangan jumlah produksi per jenis kapal dan alat tangkap 6. Jumlah hari trip setiap jenis alat tangkap

7. Peta wilayah penangkapan untuk setiap jenis kapal dan alat tangkap 8. Peta lokasi penelitian

82

Lampiran 8 Jumlah dan persentase penduduk Desa Bugis berdasarakan jenis mata pencaharian tahun 2013

No Jenis Mata Pencahrian

Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1 Nelayan 1.800 56.67 2 Petani 906 28.52 3 Pedagang 291 9.16 4 Pengusaha Perikanan 134 4.21 5 PNS 28 0.88 6 Pengarjin/ Tukang 13 0.40 7 TNT-POLRI 3 0.09 8 Tenaga Kesehatan 1 0.03 Jumlah 3.176 100.00%

84

Lampiran 9 Jumlah rumah tangga perikanan di Desa Bugis tahun 2013

No Kategori Jumlah (jiwa) Persentase (%)

1 Nelayan Pemilik 625 22.12

2 Buruh Nelayan 1.805 63.89

3 Bakul 261 9.23

4 Pengusaha Perikanan 134 4.74

85 Lampiran 10 Jumlah dan persentase penduduk Desa Bugis berdaarkan tingkat

pendidikan tahun 2013 No Tinkat Pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1 Tamat SD 979 34.61 2 Tamat SLTP 896 31.68 3 Tamat SLTA 791 27.97 4 Tamat D1,D2,D3 79 2.79 5 Tamat S1 81 2.86 6 Tamat S2 2 0.07 Jumlah 2.828 100.00 %

86

Lampiran 11 Perkembangan jumlah armada penangkapan yang operasional di wilayah perairan laut Desa Bugis berdasarkan jenisnya pada periode tahun 2003 s/d 2012

Tahun Perahu Layar (Soma) Perahu Mesin Tempel (Sope) Perahu Payang (Jonso) Kapal Motor >100 GT Jumlah 2003 115 105 95 15 330 2004 110 102 95 18 325 2005 103 90 97 24 314 2006 97 81 97 24 299 2007 80 75 102 31 288 2008 77 73 101 31 282 2009 75 71 105 37 288 2010 71 68 107 45 291 2011 62 61 107 56 286 2012 50 57 109 59 275

87 Lampiran 12 Perkembangan jumlah alat tangkap yang operasional di wilayah perairan laut Desa Bugis berdasarkan jenisnya pada periode tahun 2003 s/d 2012 Tahun Jaring Tradisional Tasi dan Nilon Jaring Bendera / Gill Net Jaring Lingkar/ Jaring Payang Jaring Longline/ Minitrawl Jumlah 2003 117 115 105 28 365 2004 112 120 107 32 371 2005 107 90 110 43 350 2006 98 87 119 44 348 2007 84 82 122 57 345 2008 79 75 124 58 336 2009 77 73 125 61 336 2010 75 71 127 65 338 2011 67 68 128 67 330 2012 59 61 128 67 315

88

Lampiran 13 Foto-foto daerah penelitian

Kapal Motor >100GT Perahu Payang (Jonso)

Armada penangkapan Sope Armada penangkapan nelayan tradisional

Kantor Satker PPI Sape Pelabuah PPI Sape Bugis

89