Kesimpulan
Sebagaimana telah diuraiakan pada rumusan masalah, penelitian ini berupaya mengkaji dan menganalisis bagaimana dan sejauh manakah pengaruh perubahan moda produksi nelayan sebagai akibat dari modernisasi perikanan
66
berimplikasi pada perubahan struktur sosial serta potensi konflik pada komunitas nelayan di wilayah perairan laut Desa Bugis. Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pembahasan yang telah dikemukan pada bab terdahulu dan berdasarkan tujuan dari penelitian ini, maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan :
Perubahan moda produksi nelayan berupa peralihan armada penangkapan tradisional ke armada penangkapan yang lebih modern terlihat sangat berdampak pada perubahan struktur sosial dalam komunitas nelayan di wilayah perairan laut Desa Bugis. Perubahan struktur sosial tersebut dipicu oleh munculnya beragam status dan pekerjaan dalam komunitas nelayan, dimana penggunaan armada penangkapan modern membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keahlian dan skil khusus dalam kegiatan produksi. Hal inilah yang mendorong munculnya berbagai posisi baru dalam kelompok nelayan, misalnya pada armada penangkapan yang telah menggunakan alat produksi modern seperti perahu payang (Jonso) dan kapal motor biasanya diisi oleh ABK atau buruh nelayan yang memiliki keahlian dan skil yang berbeda, sedangkan pada kelas pemilik alat produksi meliputi kelas atas dan kelas bahwah yang dinilai berdasarkan kekuatan modal dan alat produksi. Tingkatan skil dan keahlian serta kekutan modal dan kepemilikan alat produksi inilah yang menentukan posisi struktur sosial dalam kelompok nelayan, selanjutnya posisi struktur sosial pada tingkat kelompok nelayan ini juga berpengaruh terhadap posisi struktur dan stratifikasi sosial nelayan pada tingkat komunitas.
Perubahan moda produksi nelayan juga telah menyebabkan perubahan pada pola hubungan produksi pada kalangan nelayan di wilayah perairan laut Desa Bugis. Berdasarkan kondisi rill di lapangan, terjadi pergeseran pola hubungan produksi sebelum dan sesudah terjadinya perubahan moda produksi nelayan di wilayah perairan laut Desa Bugis. Pada saat sebelum terjadinya perubahan moda produksi pola hubungan produksi nelayan di wilayah perairan laut Desa Bugis belum menunjukan gejala eksploitatif namun setelah terjadinya perubahan moda prodiksi hubungan produksi nelayan berubah menjadi hubungan produksi yang cenderung bersifat eksploitasi khususnya terhadap nelayan kecil, misalnya pola hubungan produksi pada armada penangkapan modern seperti perahu payang (Jonso) dan kapal motor tidak lagi menggunakan sistem bagi hasil dalam pola hubungan produksi antara pemilik alat produksi dengan buruh nelayan akan tetapi sudah menggunakan sistem upah yang masih di bawah standar upah minimum regional ditambah dengan adanya penentuan target penangkapan yang harus dicapai oleh para ABK. Hal inilah yang mendorong terjadinya hubungan produksi dan pola kerja yang cenderung bersifat eksploitatif terhadap ABK atau buruh nelayan. Hal ini menujukan bahwa semakin maju teknologi armada penangkapan atau alat produksi yang digunakan maka ketimpangan pendapatan antara pemilik alat produksi dengan ABK atau buruh nelayan semakin lebar. Begitupun yang terjadi dengan pemilik alat produksi dengan dengan pemilik modal juga terjadi pola hubungan produksi yang bersifat eksploitatif terhadap pemilik perahu dan buruh nelayan, hal ini terlihat dengan adanya penentuan harga dibawah tingkat harga pasaran yang diberlakukan oleh pemilik modal kepada pemilik perahu atau kapal dengan dasar ikatan hutang-piutang.
Perubahan moda produksi nelayan juga tidak dapat dipungkiri telah menimbulkan berbagai potensi konflik pada kalangana nelayan. Adapun potensi
67 konflik yang mengemuka pada kasus komunitas nelayan di wilayah perairan laut Desa Bugis dapat dijabarkan dalam dua ranah potensi konflik yaitu Pertama, potensi konflik antar armada penangkapan yang meliputi potensi konflik pemamfatan sumberdaya wilayah penangkapan dan potensi konflik yang dipicu oleh perbedaan teknologi armada penangkapan. Potensi konflik antar armada pada umumnya disebabkan karena adanya tumpang tindih pemanfaatan wilayah penangkapan antara armada penangkapan modern dengan armada penangkapan tradisional dan perbedaan alat tangkap dan cara produksi antar nelayan lokal dan nelayan pendatang di wilayah perairan laut Desa Bugis. Kedua, potensi konflik pada pola hubungan produksi dapat terlihat pada hubungan antara pemilik modal dengan pemilik armada atau pemilik armada dengan buruh nelayan yang cenderung memperlihatkan pola hubungan yang bersifat eksploitatif. Para pemilik modal dapat menentukan harga ikan secara sepihak dibawah tingkat harga pasaran dengan dasar adanya ikatan hutang-piutang, dalam hal ini nelayan kecil tidak mampu berbuat banyak karena kuatnya dominansi pemilik modal, begitupun hubungan produksi antara pemilik alat produksi modern dengan ABK atau buruh nelayan tidak lagi menggunakan sistem bagi hasil dalam pola hubungan produksi akan tetapi sudah menggunakan sistem upah yang masih dibawah standar upah minimun regional, hal inilah yang mendorong terjadinya hubungan produksi dan pola kerja yang cenderung bersifat eksploitatif terhadap ABK atau buruh nelayan. Realitas yang dialami oleh nelayan kecil tersebut semakin memperkuat pandangan
Marx yang menguraiakan bahwa “dengan munculnya sistem ekonomi kapitalis akan terjadi pemisahan tajam antara mereka yang menguasai modal dan alat produksi dan mereka yang hanya mempunyai tenaga. Pengembangan ekonomi kapitalis akan semakin memperuncing kontradiksi antara kedua kategori sosial tersebut sehingga pada akhirnya akan memucu terjadinya konflik diantara dua kelas (Suseno, 2001).
Saran
Kebijakan modernisasi perikanan yang berdampak terhadap perubahan moda produksi pada hampir seluruh masyarakat nelayan, harus diiringi dengan upaya untuk :
Memperhatikan kondisi stratifikasi sosial dalam komunitas nelayan. Penelitian ini menujukan bahwa hanya kelas nelayan besar (pemilik modal) saja yang mampu mengakses alat produksi modern sedangkan nelayan kecil tetap berada pada posisi yang tidak menguntungkan bahkan menjadi sasaran eksploitasi para pemilik modal. Dengan demikian, upaya modernisasi moda produksi nelayan harus diarahkan sepenuhnya guna memberikan peluang kepada nelayan kecil untuk memperbaiki taraf hidupnya agar mereka memiliki peluang untuk melakukan mobilitas vertikal.
Meminimalisir kemungkinan terjadinya eksploitasi dalam pola hubungan produksi antar nelayan, misalnya terkait dengan sistem upah atau sistem bagi hasil pada semua lapisan komunitas nelayan baik antara nelayan pemilik alat produksi dengan buruh nelayan maupun antara pemilik modal dengan pemilik alat produksi yang cenderung merugikan nelayan kecil.
68
Seiring dengan bergulirnya perubahan moda produksi nelayan, perlu adanya aturan dan kesepakatan yang mendapatkan legalitas yang kuat terkait dengan sistem bagi hasil, sistem upah serta cara pemanfaatan wilayah perairan laut untuk menghindari terjadinya eksploitasi, pelanggaran-pelanggaran serta tumpang tindih dalam pemanfaatan wilayah penangkapan sehingga dapat meminimalisir potensi konflik antar nelayan.
Dimasa yang akan datang tentunya perlu pendekatan-pendekatan yang lebih konkrit dalam memperjuangkan kehidupan nelayan. Inisiatif pembangunan masyarakat nelayan tidak harus selalu dari atas, namun inisiatif dan input informasi dari nelayan sendiri merupaka konsep pembangunan masyarakat nelayan yang sangat mudah untuk dijalankan, karena berasal dari nelayan sendiri. Oleh karena itu peran serta masyarakat nelayan dalam perencanaan dan pengelolaan sumberdaya laut menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam memperjuangkan kehidupan masyarakat nelayan ke arah yang lebih baik.
69