MELALUI KATEKESE
B. Arti, Tujuan, dan Model-model Katekese 1.Arti Katekese
Dalam kehidupan Gerejawi, istilah katekese tidaklah asing bagi umat kristiani. Katekese dilaksanakan di setiap lingkungan dan umat juga diharapkan dapat terlibat serta berperan aktif dalam kegiatan katekese. Sehubungan dengan hal tersebut, maka diuraikan pengertian katekese.
Menurut Marianus Telaumbanua (1999: 5), katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman agar seorang kristen semakin dewasa dalam iman, sedangkan dalam anjuran apostolik Catechesi Tredendae, Sri Paus Yohanes Paulus II mengatakan: katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang-orang dewasa dalam iman yang khususnya meliputi penyampaian ajaran kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup kristiani.
Dalam berbagai tulisan terdapat berbagai istilah atau pengertian mengenai katekese. Katekese bukan hal baru bagi umat Kristiani, meskipun beberapa daerah belum mengenal sama sekali apa itu katekese contohnya di lingkungan tempat tinggal penulis yaitu Lingkungan Belimbing Paroki Kuala Dua Kalimantan Barat. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu katekese. Katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman agar orang-orang kristiani semakin dewasa dalam iman. Maka katekese biasanya diperuntukan bagi para calon baptis dalam berbagai persiapan untuk mengenal dan memahami iman kepada Allah. Dengan kata lain katekese adalah usaha-usaha dari pihak Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehar-hari. Katekese berpusat pada komunitas. Oleh karena itu, katekese meliputi seluruh aspek kehidupan, proses pergulatan yang dialami oleh umat manusia
dalam memaknai hidup dan semakin menyadari akan pentingnya hidup dengan perkembangan iman akan Allah sebagai Sang Juru Selamat dan penuntun hidup manusia.
2. Tujuan Katekese
Setiap pendampingan tentu memiliki tujuan yang mau dicapai, begitu pula halnya dengan katekese. Tujuan dari katekese adalah berkat bantuan Allah mengembangkan iman yang baru mulai tumbuh dan dari hari ke hari memekarkan menuju kepenuhannya serta semakin memantapkan peri-hidup kristen umat beriman, muda maupun tua (CT, art. 25). Menurut Marianus Telaumbanua (1999: 88) tujuan katekese adalah upaya dalam terang Injil, kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-hari, bertobat kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup kristiani sehari-hari, dengan demikian semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan hidup kristiani makin dikukuhkan, sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat.
Tujuan katekese yang khas adalah berkat bantuan Allah mengembangkan iman yang baru tumbuh yang dimiliki oleh umat beriman dari yang tua maupun yang muda, dan dari hari ke hari iman semakin berkembang menuju kepenuhannya. Kenyataan ini menuntut bukan hanya pengetahuan yang harus dikembangkan melainkan penghayatan iman akan Allah juga ditumbuhkembangkan. Dengan demikian diharapkan pertumbuhan iman yang ditaburkan oleh Roh Kudus melalui pewartaan semakin berkembang dan tumbuh menjadi iman yang utuh. Iman itu bukan hanya dihayati dalam hati, namun diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, maka iman yang dimiliki diharapkan dari hari ke hari juga semakin berkembang menuju
kepenuhannya, dimana umat semakin menghayati iman Kristiani yang dimiliki dan dihayati serta diwujudnyatakan dalam tindakan.
3. Model-model Katekese Umat
Katekese umat diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota jemaah/kelompok (Komisi Kateketik KWI, 1995: 11). Agar lebih memahami dan mendalami model-model katekese, Marianus Telaumbanua (Ilmu Kateketik, 1999: 5) membedakan katekese umat dalam tiga bentuk:
a. Bentuk praktis: Bentuk ini mengarahkan peserta katekese untuk bergiat dan rajin mempraktekan kehidupan agamanya: rajin beribadah, rajin berdoa, dan berdevosi, bergairah menghadiri perayaan Ekaristi dan perayaan lain, mengenal baik masa-masa liturgis dengan segala sarana dan peralatannya. Sumber utamanya adalah liturgi Gereja.
b. Bentuk Historis: Bentuk ini memperdalam pengenalan umat akan sejarah penyelamatan dari pihak Allah, yang diawali dengan janji-janji mesianis dalam PL dan memuncak dalam pribadi Yesus Kristus dalam PB. Sumber dan bahan utamanya adalah Kitab Suci. Dahulu pernah beredar buku “Sejarah Suci” yang berisi sejarah-sejarah alkitabiah. Di dalamnya campur tangan Allah dalam menyelamatkan umat manusia ditampakkan.
c. Bentuk Sistematis: Bentuk ini menyajikan kepada umat ajaran teologis dan dogmatis yang tersusun secara sistematis, singkat, dan padat. Sumbernya adalah buku katekismus.
Dalam skripsi ini model katekese yang akan digunakan adalah model Shared Christian Praxis (SCP). Shared Christian Praxis merupakan salah satu bentuk Katekese Umat. Melalui SCP umat dibantu agar permasalahan hidupnya diangkat dan diolah. Dalam pertemuan katekese permasalahan yang diolah sungguh-sungguh yang masih relevan, bahkan masalah yang sedang dihadapi oleh peserta saat itu, sehingga pengalaman-pengalaman tersebut sungguh dimiliki oleh setiap umat sebagai pengalaman iman untuk perkembangan menuju kedewasaan dalam iman pula.
Shared Christian praxis juga sangat cocok digunakan untuk katekese bagi kaum muda, karena pengalaman keterlibatan mereka dalam kegiatan kemanusiaan dan masalah hidup mereka akan sangat menarik untuk diangkat dan diolah bersama fasilitator. Shared Christian Praxis menekankan sifat dialogis partisipatif, supaya dapat mendorong peserta berdasarkan komunikasi antara tradisi dan visi hidup mereka dengan tradisi dan visi hidup kristiani, sehingga baik secara pribadi maupun bersama mampu mengadakan penegasan dan pengambilan keputusan demi terwujudnya nilai-nilai kerajaan Allah di dalam kehidupan manusia (Thomas. H. Groome. Shared Christian Praxis mengandung tiga komponen pokok yaitu:
a. Shared
Istilah ini menunjukan pengertian komunikasi timbal balik, sikap partisipatif dan kritis dari semua peserta, sikap egalitarian, terbuka (inklusif) baik untuk kedalaman diri pribadi, kehadiran sesama, maupun untuk rahmat Tuhan. Istilah ini juga menekankan proses katekese yang menggarisbawahi aspek dialog, kebersamaan, keterlibatan dan solidaritas. Dalam sharing semua peserta diharapkan secara terbuka siap mendengarkan dengan hati dan berkomunikasi dengan kebebasan hati (Thomas. H. Groomes, 1997: 1).
Namun sharing bukan berarti peserta harus berbicara terus menerus, karena sharing berarti bertukar atau berbagi pengalaman maka ada sifat saling atau timbal balik. Karena sifatnya bebas dan terbuka maka peserta dapat secara bebas membagikan pengalamnya atau tidak dalam kegiatan katekese, namun bukan berarti pasif. Peserta diharapkan aktif pada saat kegiatan katekese berlangsung.
b. Christian
Tradisi kristiani mengungkapkan pengalaman iman jemaat kristiani yang hidup dan dihidupi. Hal ini merupakan tanggapan manusia terhadap perwahyuan dari Allah yang terlaksana dalam kehidupan manusia. Dalam konteks ini, tradisi dipahami sebagai perjumpaan antara rahmat Allah dalam Kristus dan tanggapan manusia. Oleh karena itu, tradisi di sini tidak hanya berupa tradisi pengajaran Gereja tetapi juga meliputi Kitab Suci, spiritualitas, sakramen, liturgi, seni, nyanyian rohani, kepemimpinan dan kehidupan jemaat (Sumarno, 2006: 20-21).
c. Praxis
Dalam konteks ini, pengertian Praxis bukan hanya praktek (lawan dari teori), tetapi merupakan suatu tindakan yang sungguh-sungguh disadari dan direfleksikan. Praxis meliputi seluruh kegiatan manusia dalam dunia. Segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia dengan tujuan tertentu. Praxis mengacu pada tindakan manusia yang mempunyai tujuan untuk perubahan hidup yang di dalamnya terkandung kesatuan antara refleksi secara kritis dan kesadaran historis yaitu mengarah pada keterlibatan baru. Selain itu, praxis memiliki tiga
unsur pokok yang saling berkaitan yaitu: aktivis, refleksi, dan kreativitas. Ketiga unsur pokok ini berfungsi membangkitkan imajinasi, meneguhkan kehendak dan mendorong pada praxis baru (Sumarno, 2006: 20-21).
Ketiga prakxis itu dijelaskan oleh Thomas. H. Groome, 1997: 2 sebagai berikut:
1) Aktivitas
Aktivitas meliputi kegiatan mental dan visik, kesadaran, tindakan personal dan sosial, hidup pribadi dan kegiatan publik yang semuanya merupakan medan perwujudan diri manusia perlu ditempatkan di dalam konteks waktu dan tempat.
2) Refleksi
Di dalam komponen ini yang ditekankan adalah refleksi kritis terhadap tindakan historis dan sosial, terhadap praksis pribadi dan kehidupan masyarakat, serta terhadap tradisi dan visi iman kristiani sepanjang sejarah. Refleksi kritis memungkinkan peserta untuk menganalisa dan memahami tempat dan peran mereka, memahami keadaan masyarakat dan permasalahannya, serta membuka peluang selebar-lebarnya bagi mereka untuk berjumpa dengan kekayaan refleksi iman kristiani sepanjang sejarah bukan sebagai rumusan kaku dan beku tetapi sebagai sabda yang hidup dan pantas dihidupi.
3) Kreativitas
Kreativitas merupakan perpaduan antara aktivis dan refleksi yang menggarisbawahi sifat transenden manusia. Komponen ini juga menekankan dinamika praksis dimasa depan yang terus berkembang sehingga melahirkan praksis baru.
C. Program Katekese untuk Mengembangkan Semangat Kemanusiaan