JENIS KARYA ILMIAH, POPULER, DAN REPRODUKSI BACAAN
D. Artikel Ilmiah dan Artikel Ilmiah Populer
Penulisan kata artikel dalam bahasa Inggris, yaitu “article” artinya
“karangan”, sedangkan pengertian kata “artikel” dalam bahasa Indonesia
adalah karangan di surat kabar, majalah, dan sebagainya. Selanjutnya, artikel terdiri atas dua macam berdasarkan isi dan tempat pemuatannya, yaitu artikel ilmiah dan artikel ilmiah populer.
a. Artikel Ilmiah untuk Jurnal
Artikel ilmiah untuk jurnal adalah makalah yang mengalami modifikasi, variatif, dan adaptasi tertentu berdasarkan aturan media yang menerbitkannya tanpa mengabaikan prinsip dari struktur, format,
126
sistematika, dan isi makalah ilmiah. Artikel ilmiah dapat ditulis secara khusus, dapat pula ditulis berdasarkan hasil penelitian, misalnya skripsi, tesis, disertasi, atau hasil penelitian lainnya dalam bentuk yang lebih praktis. Artikel ilmiah dimuat dalam jurnal ilmiah. Kekhasan artikel ilmiah dapat terlihat pada cara penyajiannya yang tidak panjang dan lebar, tetapi tidak mengurangi nilai keilmiahannya. Artikel ilmiah ditulis dengan tingkat kecermatan yang sangat memadai karena jurnal ilmiah yang memuat tulisan tersebut mensyaratkan berbagai aturan yang sangat ketat sebelum artikel itu dimuat. Selanjutnya, setiap komponen artikel ilmiah ada perhitungan bobot. Oleh karena itu, jurnal ilmiah dikelola oleh ilmuwan terkemuka yang ahli di bidangnya masing-masing. Jurnal ilmiah yang terakreditasi sangat menjaga pemuatan artikel.
Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang ditulis dengan tata cara ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Artikel ilmiah biasanya ditulis oleh mahasiswa, dosen, pustakawan, peneliti, dan pemerhati masalah sosial. Penulisan artikel ilmiah diangkat dari hasil penelitian lapangan, hasil pemikiran, dan kajian pustaka pengembangan proyek. Artikel ilmiah diharapkan berkonstribusi dalam pengembangan ilmu dan menjaga kebaruan ilmiah.
Sistematika penulisan dan isi artikel ilmiah dapat dikelompokkan menjadi dua macam tipe yaitu, artikel ilmiah hasil penelitian (research) dan artikel ilmiah nonpenelitian (nonresearch). Tipe artikel penelitian (research article) bersifat empirik kuantitatif, atau artikel ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil atau temuan kegiatan penelitian, sedangkan tipe artikel nonpenelitian (nonresearch article) bersifat reviuw, argumentatif, kualitatif, dan berdasarkan teori, atau biasa juga disebut artikel konseptual yang ditulis berdasarkan hasil pemikiran yang berupa gagasan atau telah dan analisis kritis.
Artikel ilmiah ditujukan untuk kalangan akademik atau ilmuwan, biasanya disajikan dengan bahasa yang baku sesuai dengan aturan yang belaku dalam jurnal yang menerbitkannya. Gaya bahasa artikel ilmiah lebih luwes daripada karya tulis ilmiah lainnya. Masalah yang diangkat dalam artikel ilmiah biasanya masalah aktual yang disertai alternatif pemecahannya atau menyertakan harapan dan saran kepada pembaca (Barnawi dan M. Arifin, 2015: 23).
Secara khusus, artikel jurnal ilmiah digunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat ilmiah. Bahkan, untuk masyarakat ilmiah dengan minat dan keahlian yang sama. Di sana dikembangkan istilah teknis untuk meningkatkan kemajuan suatu bidang ilmu.
127 Artikel ilmiah harus mampu menjawab sejumlah pertanyaan kunci. Pertanyaan yang dimaksud adalah apa masalah yang sedang dibahas, mengapa penting, bagaimana cara kita mempelajari masalah itu, hasilnya apa, dan apa implikasinya serta saran apa yang dapat diberikan untuk studi lanjut orang lain. Tujuan dan definisi artikel harus dinyatakan dengan jelas pada bagian pendahuluan sehingga dapat memperjelas pentingnya kehadiran artikel ini. Selanjutnya, diikuti dengan kajian literatur, deskripsi proses penelitian, metode yang digunakan, serta hasil dan pembahasan.
Selain substansi artikel, logika penalaran artikel ilmiah hendaknya relatif mudah untuk dipahami. Sebab, artikel ilmiah yang dikirim ke jurnal akan bersaing ketat dengan artikel yang lain. Kualitas keterbacaan menjadi salah satu pertimbangan dalam keputusan menerima atau menolak sebuah artikel sehingga struktur artikel harus jelas, logis, dan dikemas dalam cerita yang menarik. Masalah atau pertanyaan penelitian yang ada di bagian awal harus menjawab secara gamblang di bagian akhir artikel. Tugas bagin tengah artikel adalah menjelaskan logika tentang bagaimana hasil penelitian diperoleh. Setiap ketidaksesuaian antarbagian akan mengurangi kualitas artikel.
a. Struktur artikel ilmiah untuk jurnal
Menurut Belt, Mottonenand & Harkonen (2011: 12) menyatakan bahwa banyak literatur yang memberikan saran terhadap struktur artikel jurnal ilmiah. Salah satu contohnya adalah IMRAD, singkatan dari Introduction (pendahuluan), Method (Metode), Results (hasil), and Discussion (pembahasan). Dalam IMRAD, tinjauan pustaka diintegrasikan ke bagian pendahuluan, sedangkan bagian pembahasan meliputi interpretasi hasil penelitian, kesimpulan sekaligus saran.
Perlu dipahami bahwa tidak ada struktur artikel yang berlaku umum untuk semua jurnal. Setiap jurnal memiliki aturan sendiri. Yang terpenting bagi kita adalah memahami esensi dari unsur-unsur kuncinya agar lebih mudah menyesuaikan dengan struktur jurnal target. Untuk memudahkan memahami struktur artikel jurnal maka perlu dibandingkan dengan struktur laporan penelitian. Hal ini sangat penting karena laporan ilmiah berbeda dengan jurnal ilmiah. Perbedaan laporan penelitian dengan jurnal ilmiah dapat dicontohkan pada tabel berikut.
Laporan Penelitian Artikel Jurnal
Judul Judul
Abstrak Abstrak
Pendahuluan Pendahuluan
128
Hasil Hasil
Pembahasan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran Kesimpulan
Daftar Pustaka Ucapan Terima Kasih
Lampiran Daftar Pustaka
Setiap komponen tersebut hendaknya memiliki proporsi yang rasional antara abstrak, pendahuluan, metode, hasil, dan pembahasan serta ucapan terima kasih memiliki volume kata yang ideal. Proporsi artikel harus ideal karena artikel merupakan suatu bentuk kesatuan konsep berpikir rasional.
(1) Judul
Judul merupakan title (nama) dari artikel. Judul harus bersifat provokatif, singkat, informatif, dan mampu menggambarkan keadaan isi artikel (deskriptif). Judul harus memuat kata-kata kunci dan mencerminkan isi artikel dengan tepat. Judul tidak mengandung kata metafora, jargon, singkatan, ataupun rumus. Idealnya jumlah kata dalam judul artikel ilmiah antara 12-15 kata. Panjang pendeknya judul jurnal ilmiah bergantung pada aturan jurnal yang bersifat indikatif dan bersifat informatif. Judul yang bersifat informatif akan berpeluang lebih dari 15 kata. Oleh karena itu, sikap terbaik dalam menentukan judul adalah mengikuti aturan jurnal yang menjadi target publikasi. Kiat-kiat merebut hati editor melalui judul, ada dua hal yang perlu dilakukan, yaitu (a) judul harus mencerminkan isi artikel dan (b) judul memiliki kemampuan untuk menarik perhatian. Aspek judul harus mencerminkan isi artikel. Hal ini menjadi keharusan dan standar dalam setiap penulisan karangan apa pun jenisnya. Agar judul dapat menarik perhatian, caranya adalah menggunakan kata-kata atau istilah yang menawarkan solusi, yaitu menggunakan kata-kata yang menyinggung persoalan masa lalu yang belum sempat terjawab atau yang masih menimbulkan kontroversi.
(2) Nama penulis dan alamat
Nama penulis artikel ditulis tanpa menyertakan gelar. Penulisnya bisa tunggal atau bisa juga jamak. Urutan penulisan nama harus sudah disepakati antara penulis agar tidak terjadi perselisihan ketika artikel telah dimuat. Nama yang tercantum di dalam artikel adalah penanggungjawab atas isi yang ada di dalam artikel. Apabila sewaktu- waktu ada pembaca yang menghubungi penulis terkait dengan isi artikel, penulis artikel harus melayani dengan baik. Oleh karena itu, alamat penulis sebaiknya ditulis lengkap.
129 (3)Abstrak
Abstrak adalah paragraf ringkasan yang memungkinkan pembaca memahami sekilas tentang isi artikel. Paragraf ini muncul di awal sebuah artikel sehingga menjadi elemen yang sangat penting. Elemen ini dapat memengaruhi penerimaan orang terhadap suatu artikel. Bagian ini adalah ikut menentukan apakah artikel layak dibaca atau tidak. Apabila seseorang tertarik pada judul maka ia akan membaca abstrak untuk memeroleh informasi yang lebih lengkap. Oleh karena itu, biasanya abstrak jarang menyebutkan keterbatasan hasil penelitian. Biasanya abstrak ditulis agak menantang dan biasa juga ditulis seperti orang yang sedang merenung. Isinya singkat, membahas tentang tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan. Abstrak harus menjelaskan tujuan dari artikel, menjelaskan bagaimana penelitian dilakukan, dan menunjukkan beberapa tema kunci beserta implikasi praktisnya. Menurut Mikrajuddin dalam Barnawi & M. Arifin (2015: 149) pada umumnya struktur abstrak dalam artikel jurnal ilmiah terdiri atas pendahuluan, apa yang dikerjakan, apa yang dihasilkan, dan penutup. Pendahuluan dan penutup bersifat opsional, artinya boleh ada
dan boleh tidak ada, sedangkan “apa yang dikerjakan” dan “apa yang dihasilkan” wajib ada dalam abstrak.
Abstrak yang baik seharusnya dapat menjawab sejumlah pertanyaan inti. Secara umum, artikel yang ditulis berkaitan dengan bidang apa, tujuannya apa, dan bagaimana metode yang digunakan. Setelah itu, abstrak harus mampu menjawab hasil penelitian dan implikasi praktisnya. Implikasi praktis mengandung maksud bahwa hasil penelitian ini bermanfaat untuk siapa saja, misalnya masyarakat atau lembaga.
Beberapa jurnal memunyai persyaratan khusus untuk penulisan abstrak. Misalnya, jumlah kata, jumlah paragraf, dan struktur tulisan. persyaratan inilah sebaiknya diikuti penulis artikel ilmiah. Biasanya jumlah kata 150-200 kata. Tidak boleh ada pengajuan ke tabel, ilustrasi, atau referensi. Disarankan tidak mengulang judul artikel untuk menghemat kata. Disarankan juga tidak menggunakan singkatan. Apabila terpaksa harus menggunakannya maka harus dijelaskan. Pada bagian akhir abstrak ditulis kata-kata kunci untuk memudahkan orang dalam mencari di mesin pencari.
(4) Pendahuluan
Menurut Cook C et al. dalam Barnawi & M. Arifin (2015: 150) pendahuluan yang baik setidaknya mencakup empat konsep kunci, yaitu (a) significance of the topic, (2) the information gap in the available literature associated with the topic, (3) a literature review in support of the key questions, dan (4) subsequently developed purposes/
130
objectives and hypothese. Pendahuluan biasa juga disebut pengantar, hendaknya menampilkan pentingnya atau menariknya sebuah topik. Setelah itu, menyajikan masalah atau kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Kemudian, tinjauan pustaka yang berkaitan dengan pertanyaan kunci penelitian. Terakhir adalah menampilkan tujuan dan hipotesis.
Pendahuluan diawali dengan kalimat yang umum dan sederhana agar mudah dipahami oleh orang yang bukan ahli dalam topik. Pendahuluan harus mampu membangkitkan kesadaran pembaca tentang betapa pentingnya topik yang akan dibahas. Cara yang paling mudah adalah menunjukkan posisi artikel terhadap penelitian sebelumnya yang terbaru. Posisi artikel diperjelas dengan cara dikaitkan dengan penelitian sebelumnya. Situasi inilah yang disebut
dengan “diskusi ilmiah”, yang sangat disukai editor jurnal ilmiah.
Masalah penelitian dalam artikel dijelaskan pada akhir bagian pendahuluan. Masalah penelitian mayoritas masalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Agar lebih menantang, masalah penelitian dibuat dalam bentuk pertanyaan penelitian yang diikuti dengan hipotesisnya. Berdasarkan pertanyaan penelitian, diharapkan pembaca dapat merasa perlu untuk mempelajari masalah dalam artikel. Pertanyaan penelitian dapat membantu pembaca dalam memahami isi dan struktur penulisan artikel. Selain itu, pertanyaan penelitian juga dapat digunakan menalar selama membaca.
Perlu disampaikan bahwa tinjauan pustaka tidak ditulis pada satu bagian yang terpisah, tetapi tersebar ke seluruh bagian artikel. Tinjauan pustaka beserta teori yang menyertainya tersebar mulai dari pendahuluan, metode, sampai pembahasan. Pustaka yang dirujuk tidak terlalu melebar, tetapi fokus pada topik yang dibahas dan mendukung pertanyaan kunci. Acuan harus relevan dan sebaiknya diambil dari pustaka yang muktahir. Sumber acuan hendaknya berasal dari acuan primer, bukan acuan sekunder. Setiap pustaka yang diacu harus tercantum dalam daftar pustaka, tetapi tidak perlu terlalu ekstensif.
Contoh acuan sekunder “Ahmad dalam Syauqi (2015) menjelaskan . . .”.
(5) Metode
Bagian metode menggambarkan disain penelitian dan mendeskripsikan prosedur penelitian secara jelas. Bila perlu dilakukan visualisasi proses penelitian. Dengan menggambarkan metode penelitian secara jelas dan detail diharapkan peneliti lain dapat mengulangi penelitian. Pada bagian ini juga harus dapat diketahui bahwa metode yang dipilih sudah kuat untuk konteks penelitian yang dijalankan.
131 Kita dituntut transparan dalam menjelaskan pelaksanaan penelitian. Menurut Hooogenboom & Manske dalam Barnawi & M. Arifin (2015: 152) a clear methods section should contain the following information: (1) the population and equipment used in the study,
(2) how the population and equipment were prepared and what was done during the stud,
(3) the protocol used,
(4) the outcames and how they were measured, and (5) the methods used for data analysis.
Awal paragraf bagian metode dapat ditulis dengan cara menjelaskan desain dan prosedur penelitian secara umum. Pada paragraf pertama umumnya ada deskripsi yang membantu pembaca memahami populasi penelitian. Pada paragraf selanjutnya dijelaskan secara rinci prosedur penelitian. Pada paragraf terakhir menjelaskan metode statistik yang digunakan untuk menganalisis data.
(6) Hasil
Bagian hasil harus menggambarkan hasil penelitian apa adanya. Hasil penelitian dilaporkan secara netral karena yang disampaikan adalah sebuah temuan. Tidak ada pemaknaan hasil pada bagian ini karena akan disajikan dalam bagian pembahasan. Sajiannya tersistem dengan didukung oleh olahan data dan ilustrasi. Acuan penulisannya dapat melihat tujuan penelitian atau hipotesis. Tidak boleh ada data yang disampaikan secara berulang. Hanya data yang berkaitan dengan tujuan yang dipaparkan dalam bagian ini. Jika terdapat tabel yang besar dan rumit sebaiknya disederhanakan saja.
(7) Pembahasan
Bagian ini menjelaskan bagaimana data menjawab pertanyaan penellitian yang telah diajukan. Hasil atau temuan penelitian disoroti dengan saksama. Tidak hanya sekadar menarasikan hasil, tetapi juga menunjukkan hubungan antara fakta-fakta yang ditemukan. Dengan kata lain, tidak mengulang hasil secara ekstensif, tetapi menggali makna yang terkandung di dalamnya. Penulis melakukan analisis terhadap hasil penelitian sehingga akhirnya dapat membuktikan hipotesis atau mencapai tujuan penelitian. Dalam bagian ini harus muncul argumentasi logis dari seorang peneliti dalam memberikan tafsiran sehingga dapat diterima sebagai kebenaran ilmiah. Pembahasan juga harus mengidentifikasi keterbatasan penelitian sehingga terungkap pertanyaan penelitian yang perlu dijawab oleh peneliti masa depan.
(8) Kesimpulan dan Saran
Artikel ilmiah diakhiri dengan kesimpulan dan saran. Pada bagian inilah tempat dinyatakannya kembali tujuan, pertanyaan penelitian,
132
dan temuan yang signifikan. Kesimpulann yang diberikan harus selaras dengan bagian-bagian sebelumnya. Yang perlu diingat adalah kesimpulan bukanlah suatu bentuk pengulangan hasil atau temuan penelitian secara verbal, melainkan suatu generalisasi. Generalisasi juga harus dilakukan secara hati-hati dengan tetap memerhatikan keterbatasan hasil temuan. Implikasi temuan dan saran dapat ditulis pada bagian ini.
Menurut Belt. Mottonenand & Harkonen dalam Barnawi & M. Arifin (2015: 154) kesimpulan dan saran dapat ditulis dengan struktur berikut:
(a) pendahuluan,
(b) hasil (satu paragraf untuk satu pertanyaan penelitian), (c) keterbatasan,
(d) signifikansi penelitian atau implikasi praktis, misalnya untuk masyarakat, atau untuk lembaga,
(e) keterbatasan penelitian, dan
(f) rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut.
Penggunaan panduan struktur di atas akan lebih memudahkan menulis kesimpulan dan saran. Selain itu, pembaca akan lebih mudah mengikuti jalan pikiran peneliti dan membuka kemungkinan pembaca memahami inti artikel tanpa harus membaca habis isi artikel. Tidak lupa untuk menyertakan implikasi praktis agar hasil penelitian bermanfaat untuk para praktisi. Selain itu, saran yang diberikan harus benar-benar terkait dengan pelaksanaan atau hasil penelitian.
(9) Ucapan Terima Kasih
Apabila memerlukannya, artikel ilmiah dapat diberi satu paragraf untuk menyampaikan ucapan terima kasih. Ucapan terima kasih diberikan kepada mereka yang pantas. Misalnya, pemberi dana, penyedia sarana dan prasarana, dan sponsor. Pastikan nama yang dicantumkan sudah dikonfirmasi. Ungkapkan ucapan terima kasih secara wajar atau tidak berlebihan.
(10) Daftar Pustaka
Daftar pustaka wajib dicantumkan pada setiap jurnal. Perlu diperhatikan mutu pustaka yang diungkapkan sebagai acuan. Mutu pustaka dapat dilihat dari keprimeran dan kemuktakhirannya. Nama pengarang harus lengkap dan sesuai dengan acuan yang ada di dalam teks artikel. Selain itu, perlu diperiksa kelengkapan tahun terbit, judul pustaka, tempat terbit, dan nama penerbitnya.
b. Tahap penulisan artikel untuk jurnal
Penulisan artikel ilmiah untuk jurnal ilmiah memiliki tiga tahap dasar. Ketiga tahap itu adalah pratulis, proses menulis, dan pascatulis.
133 Tahap pratulis, tahap ini penulis artikel menyiapkan hasil penelitian yang dirancang untuk dipublikasikan. Hasil penelitian harus benar- benar sudah dianalisis dengan baik. Hasil penelitian sudah disederhanakan melalui proses tabulasi atau ilustrasi. Tabel dan grafik diperlukan untuk memudahkan pembaca dalam memahami isi artikel. Materi artikel harus sudah sampai pada suatu kesimpulan yang sebelumnya melalui proses pembahasan sehingga benar-benar telah dikuasai. Hal ini penting agar penulis artikel mampu menjawab dengan baik jika sewaktu-waktu ada pihak yang menanyakan lebih lanjut.
Dalam salah satu laporan penelitian dapat dibuat lebih dari satu artikel ilmiah. Pilih salah satu fokus masalah yang paling menarik untuk dipublikasikan. Berdasarkan fokus masalah tersebut, dibuatkan outline untuk membatasi masalah agar tetap fokus. Outline berisi perencanaan tentang hal-hal yang akan ditulis dan urutannya. Dengan adanya outline kita dapat melihat dengan jelas gagasan artikel secara utuh. Selain itu, outline juga memperlihatkan alur uraian gagasan secara logis. Oleh karena itu, outline yang baik adalah outline yang disusun secara sistematis logis dengan bahasa yang baik. Kemudian, outline tersebut dikembangkan menjadi sebuah artikel.
Perhatikan contoh jurnal ilmiah yang akan dituju untuk dipublikasi. Gunakan ketentuan yang berlaku pada jurnal target sebagai pedoman penulisan. Contoh, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Pedagogik membuat acuan penulisan ilmiah yang mengatur tentang persyaratan, ragam naskah yang dimuat, struktur naskah, dan fisik naskah.
134