BAB VI PENUTUP
Foto 43. Artshop
(Dok. Tim Peneliti, by Toro BPNB Yog)
Foto 42. Cafe Resto
Kampung hotel atau kampung turis telah mengantarkan Prawirotaman menjadi kampung terkenal. Kehidupan warga lebih maju, karena memiliki kesempatan untuk memperoleh penghasilan. Namun, ada beberapa catatan perlu mendapat perhatian: (1) Ada kecenderungan penduduk lokal semakin terjepit dengan banyaknya pendatang yang menguasai lahan Kampung Prawirataman, (2) harga lahan menjadi sangat mahal yang mendorong warga melepas lahannya untuk dijual, (3) rumah khas milik juragan batik berubah total dibangun menjadi hotel megah, (4) gotong royong cenderung semakin menipis. Ini setidaknya gambaran Kampung Prawirataman setelah menjadi kampung turis.
Setiap ada hotel baru yang akan dibangun di Prawirataman, Rukun Warga (RW), Rukun Tetangga (RT) diberitahu dan pengurus kampung mengadakan rapat bersama untuk membicarakan dan menjaring kebutuhan warga yang perlu mendapat perhatian. Biasanya ada tanda tangan kontrak mengikuti aturan warga Prawirotaman. Hotel kepemilik- an menurut trah yang ada di Prawirotaman kurang lebih 27 hotel (tahun 1999), selain hotel yang dimiliki pengusaha dari luar Prawirotaman. Namun 15 tahun kemudian penginapan yang ada di Prawirotaman bertambah jumlahnya menjadi 47 atau sekitar 57 persen. Berdasar tabel 25, pada tahun 2011 di wilayah Kelurahan Brontokusuman terdapat 45 hotel. Apabila diasumsikan sebagian besar hotel tersebut berada di Prawirotaman maka angkanya tidak berbeda jauh.
Tabel 14
Jumlah Penginapan di Prawirotaman Tahun 2014
Jenis Hotel Jumlah
Hotel 23
Guest-House 17 Homestay 4 Wisma 3
Sumber: wawancara
Berdasarkan pendataan di RW 07, 08, 09 jumlah penginapan di Kampung Prawirotaman ada 47 penginapan. Bisa diperkirakan data
tahun 2014 jumlah penginapan bertambah dengan selisih lebih dari 57 persen.
Tabel 15
Jumlah hotel di Kampung Prawirotaman Tahun 2014
No Wilayah Jum. Hotel Keterangan
1 RW 07 11 Prawirotaman I 2 RW 08 31 Prawirotaman II 3 RW 09 5 Prawirotaman III
Jumlah 47
Sumber: Data dari RW 07,08,09
Tabel 16
Jumlah Hotel di Kelurahan Brontokusuman* 2011
Klas Penginapan Jumlah
Berbintang 5 Non Bintang 40
Jumlah 45
Sumber: Kecamatan Mergangsan Dalam Angka 2011
Keterangan: *Prawirotaman bagian dari Wilayah Kelurahan Brontokusuman
Berdasarkan data pada tabel 12 jumlah hotel paling banyak berada di wilayah RW 08. Hal ini mungkin karena Trah Prawirotama banyak yang bermukim di wilayah RW 08 tersebut. Seperti sudah disebutkan bahwa pemilik hotel adalah identik pemilik rumah batik yang turun-temurun dari Trah Prawiratama. Sekaligus data ini menunjukkan bahwa RW 08 memiliki potensi dengan kepadatan hotel yang ada di wilayah tersebut.
Kampung hotel atau kampung turis Prawirotaman memberikan peluang ekonomi kepada masyarakat untuk memanfaatkan menjadi sumber penghasilan warga setempat. Warga berpendapat setelah kampung Prawirotaman berubah banyak hotel, kemajuan kehidupan warga lebih cepat, karena bisa mengerjakan apa saja untuk menghasilkan uang. Warga menjadi sibuk memanfaatkan peluang, sehingga mengurangi pergaulan mereka untuk bertemu. Demikian juga di kalangan Trah Prawiratama,
satu sama lain jarang melakukan komunikasi. Tidak ada pertemuan antaranggota dalam trah misal antarketurunan Trah Werdayaprawira,
“sekarang jalan sendiri-sendiri kata seorang keturunan Trah Werdayaprawira, apalagi pertemuan antartrah sama sekali tidak pernah, ketemuannya ya kalo ada yang punya gawe baru ketemu”
Trah Prawiratama, yang terdiri dari Werdayaprawira, Suraprawira, Mangunprawira, yang terkenal dan menjadi panutan di era kejayaan batik, keberadaannya tidak terpelihara oleh anak keturunannya, tidak ada pertemuan-pertemuan yang dibangun dalam trah maupun antartrah.
Hal ini berbeda dengan trah yang ada di Laweyan, yang masih menjadwalkan pertemuan di lingkungan masing-masing, khususnya pada hari-hari besar agama. Pada hal Trah yang ada di Laweyan memiliki orientasi tokoh berbeda yang menjadi pedoman penarik garis keturunan. Di Laweyan rumah saudagar batik bertetangga, atau sederetan, mengelompok jarang yang terselip rumah warga bukan keturunan saudagar. Di Prawirataman menyebar di tiga RW.
Booming batik tahun 2004 menjadi magnet para saudagar Laweyan
untuk lebih memperkuat usaha batiknya dengan membuka rumahnya yang bertembok tinggi sebagai showroom. Lain halnya dengan para mantan juragan batik Prawirataman yang telah berubah haluan mengelola hotel. Walaupun booming batik relatif telah memberikan kesempatan yang menjanjikan untuk membuka peluang bisnis tetapi mereka mengatakan:
“sudah sulit untuk kembali, karena dibandingkan dengan mengelola hotel lebih mudah, tidak banyak mengeluarkan energi, lebih cepat mendapatkan hasilnya. Kalau mengelola batik lebih rumit menyiapkan ramuan batik, malam, pewarna, belum para pekerjanya yang bironi, babar, ngecap, kalau ada yang tidak masuk rangkaian kerja sudah terganggu, apalagi keluar, cari pengganti juga repot, sulit, dan membutuhkan tempat luas, tempatnya kotor, di samping itu peralatan untuk ngecap sudah pada dijual”.
Penjelasan senada ini disampaikan oleh beberapa pengusaha hotel. Hampir semua pengusaha hotel disebutkan sudah menjual peralatan
cap batiik mereka. Peralatan cap batik ini banyak diburu oleh turis asing. Para pengusaha batik banyak yang menjaual peralatan cap batik dengan harga yang lumayan. Tidak ada pengusaha batik yang menyimpan alat cap batiknya sebagai bagian dari sejarah warisan nenek leluhurnya.
1. Aktor-aktor dan permasalahan kampung
Aktor kampung. Boleh dikata pioner usaha fasilitas industri pariwisata yang berupa penginapan di Kampung Prawirotaman ini adalah Bapak Sugiyanto, anak dari Werdoyo Prawiro. Nama penginapannya Hotel Airlangga atau Airlangga Guest House, yang diikuti kemudian oleh kakaknya, Bapak Subarjo yang mendirikan Kirana Guest House. Lalu berikutnya Bapak Indro (kakak ipar Bapak Sugiyanto) mendirikan Wisma Gajah.
Pada tahun berikutnya, Bapak Sumaryo, anak dari Bapak Suro Prawiro (menantu Bapak Werdoyo Prawiro) juga mengikuti jejak melakukan usaha penginapan dengan nama Sumaryo Guest Houe. Kemudian diikuti kakak Bapak Sumaryo, Bapak Sugiyo mengikuti usaha yang sama, yakni mendirikan Duta Guest House. Berikutnya mulai bermunculan usaha penginapan lainnya, seperti Wisma Indah, Sriwijaya, dan Borobudur Guest House. Lalu pada tahun 1980-an mulai bermunculan usaha penginapan di komplek Jalan Prawirotaman ini.
Foto 44. Hotel Kirana Foto 45. Hotel Baru (pendatang)