• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.2. Analisis Aspek Finansial

6.2.2. Arus Biaya (Outflow)

Komponen biaya yang dikeluarkan dalam usaha peternakan ayam broiler mencakup biaya investasi dan biaya reinvestasi serta biaya operasional yaitu biaya variabel dan biaya tetap. Pengeluaran biaya investasi dan pengeluaran biaya operasional pada kondisi tanpa risiko berdasarkan data hasil pengumpulan. Sedangkan dua kondisi risiko harga dan kodisi risiko produksi menggunakan asumsi biaya tetap hasil dari rata-rata produksi. Berikut komponen arus biaya yang ada dalam usaha peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya:

1) Biaya Investasi dan Biaya Reinvestasi

Biaya invetasi yang ada pada peternakan ayam broiler dikeluarkan pada saat usaha akan dijalankan. Biaya ini merupakan dana dalam pengadaan barang- barang investasi.

Tabel 9. Biaya Investasi Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya

No Jenis Investasi Jumlah Harga Satuan (Rp) Total (Rp)

1 Lahan 1200 20.000 24.000.000

2 Bangunan Kandang 2 69.240.000 69.240.000

3 drum/tungku penghangat 6 60.000 360.000

4 Tower / tandon air 2 750.000 1.500.000

5 Dudukan Tower Air 2 500.000 1.000.000

6 Alat Pompa Air 2 3.000.000 6.000.000

7 Sumur 2 600.000 1.200.000

8 Tempat Pakan Ternak 185 17.000 3.145.000

9 Tempat Minum Ternak 185 16.500 3.052.500

10 Alat-alat Rutin:

11 Suntikan 2 400.000 800.000

12 Gunting Operasi 3 25.000 75.000

13 Ember 4 25.000 100.000

14 Sendok (Ciduk Ransum) 4 5.000 20.000

62 Besarnya dana investasi awal yang dieluarkan Bapak Marhaya adalah Rp110,492,500. Barang-barang modal yang didapat dari dana investasi tersebut adalah lahan, bangunan kandang, drum penghangat, tendon air, alat pompa air, dudukan tower air, sumur dan peralatan-peralatan rutin dalam budidaya ayam broiler. Berikut rincian biaya investasi untuk barang-barang modal dapat dilihat pada Tabel 9 di atas.

Biaya investasi yang dikeluarkan pada awal pendirian usaha mengalami penyusutan tiap tahunnya dengan proporsi yang berbeda. Penyusutan barang- barang investasi dipengaruhi umur teknis yang mampu diperoleh dari masing- masing barang investasi. Dasar penentuan umur teknis adalah lama tingkat pakai kemampuan barang untuk masih layak digunakan. Umur teknis dari kandang adlah sepuluh tahun. Umur dari kandang hanya sepuluh tahun karena kanang ayam broiler yang didirikan menggunakan bahan baku dari bambu yang rata-rata hanya mampu dipakai secara layak dalam waktu sepuluh tahun saja. Setelah sepuluh tahun kandang masih tetap dapat dipakai namun memerlukan biaya perawatan yang cukup besar.

Peralatan-peralatan lain seperi drum penghangat, tower, tempat pakan ternak, tempat minum ternak, suntikan dan gunting operasi masih layak digunakan dalam waktu lima tahun. Sedangkan ember cuci dan ciduk ransum hanya memiliki umur teknis selama dua tahun. Setelah umur teknis suatu barang investasi telah habis maka barang tersebut harus diganti dengan barang investasi baru. Penggantian barang investasi lama menjadi barang investasi baru memerlukan sejumlah dana yang disebut dengan biaya reinvestasi. Biaya reinvestasi dikeluarkan pada tahun baru setelah tahun pemakaian berakhir.

Peternakan mengeluarkan biaya sebesar Rp 120.000 pada tahun ke tiga untuk pengadaan ember dan ciduk ransum. Pada tahun ke enam peternakan akan mengeluarkan biaya reinvestasi sebesar Rp 8.432.500 untuk drum penghangat, tandon air, tempat pakan, tempat minum, suntikan dan gunting operasi. Sedangkan untuk tahun kesebelas pemilik perlu mengeluarkan dana reinvestasi sebesar Rp 76.240.000 dalam pengadaan investasi ulang kandang, dudukan tower, alat pompa air. Tabel 10 menunjukkan nilai biaya reinvetasi yang harus dikeluarkan pemilik peternakan.

63 Barang-barang investasi tersebut mengalami penyusutan nilai tiap tahunnya. Nilai barang di akhir tahun teknis pemakaian akan lebih kecil daripada nilai barang di awal tahun pembelian karena proses pemakaian barang yang terus- menerus. Nilai penyusutan ditentukan dengan menggunakan metode garis lurus. Metode garis lurus dihitung dengan cara harga beli aset dikurangi dengan nilai sisa hasil pengurangan kedua nilai tersebut lalu dibagi dengan umur teknis, nilai sisa ditentukan dengan proporsi lima persen dari nilai awal pembelian barang.

Setiap nilai aset dari suatu barang akan memiliki nilai yang berbeda karena ditentukan dari tiga faktor yang masuk kedalam unsur perhitungan nilai penyusutan tersebut yakni nilai awal, nilai sisa dan umur teknis. Nilai sisa merupakan salah satu komponen dari perhitungan laba rugi dan nilai sisa merupakan salah satu komponen penerimaan kegiatan proyek.

Tabel 10. Biaya Reinvestasi yang Dikeluarkan Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya

No Jenis Investasi Harga Satuan (Rp) Jumlah (Unit) Umur Teknis (tahun) Reinvestasi (Rp) 1 Kandang 69.240.000 2 10 69.240.000 2 Drum Penghangat 360.000 6 5 360.000 3 Tandon Air 1.500.000 2 5 1.500.000 4 Dudukan Tower 1.000.000 2 10 1.000.000

5 Alat Pompa Air 6.000.000 2 10 6.000.000

6 Peralatan: 1. Tempat pakan 3.145.000 185 5 3.145.000 2. Tempat minum 3.052.500 185 5 3.052.500 3. Alat-alat rutin: Suntikan 800.000 2 5 800.000 Gunting operasi 75.000 3 5 75.000 Ember 100.000 4 2 100.000 Ciduk Ransum 20.000 4 2 20.000 Total 85.292.500

Total nilai penyusutan dari barang-barang modal dalam usaha peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya adalah Rp 9.008.725. Nilai penyusutan

64 terbesar disumbang oleh bangunan kandang dengan nilai Rp 6.577.800. Kandang memiliki nilai penyusutan tertinggi karena dalam usaha peternakan ayam broiler, pengadaan kandang adalah barang investasi terbesar sehingga juga merupakan patokan dalam menentukan umur proyek. Rincian perhitungan nilai peyusutan dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Penyusutan dari Barang Investasi Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya

No Jenis Investasi Penyusutan

(Rp)

1 Bangunan Kandang 6.577.800

2 Drum/Tungku Penghangat 68.400

3 Tower / Tandon Air 285.000

4 Instalasi Dudukan Tower Air 95.000

5 Alat Pompa Air 570.000

6 Peralatan-Peralatan Budidaya Ayam Broiler:

1. Tempat Pakan Ternak 597.550

2. Tempat Minum Ternak 579.975

3. Alat-alat Rutin:

Suntikan 160.000

Gunting operasi 15.000

Ember 50.000

Sendok (ciduk ransum) 10.000

Total 9.008.725

2) Biaya Variabel

Biaya variabel merupakan salah satu komponen biaya operasional dalam kegiatan bisnis. Biaya variabel yang dikeluarkan oleh peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya terdiri dari tenaga kerja harian, tenaga kerja panen, konsumsi harian anak kandang, DOC, pakan ternak, obat-obatan, vitamin, vaksin, kayu bakar dan sekam padi.

Biaya variabel yang dikeluarkan peternakan dimulai pada tahun pertama umur proyek. Biaya ini keluar hanya pada saat peternakan melakukan kegiatan pembesaran ayam broiler. Sedangkan pada masa istirahat setelah periode berakhir

65 biaya ini tidak dikeluarkan peternakan. Besaran nilai biaya variabel tergantung pada jumlah ayam broiler yang dibesarkan pada tiap periodenya. Semakin banyak ayam yang dipelihara maka biaya variabel yang dibutuhkan akan semakin besar dan sebaliknya. Biaya variabel yang diperlukan untuk membesarkan ayam DOC sebanyak 4.519 ekor sebesar Rp 97.826.104 per periode. Dalam satu tahun Peternakan mampu melakukan kegiatan produksi sebanyak enam periode sehingga akumulasi biaya variabel per tahun sebesar Rp 586.956.624 di tahun pertama. Besaran biaya variabel dipengaruhi harga sarana produksi peternakan di pasar. Rincian biaya variabel yang dikeluarkan peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya dapat dilihat pada Tabel 12.

Pakan (ransum) merupakan komponen terbesar pada biaya variabel. Untuk pemeliharaan ayam broiler sebanyak 4519 ekor DOC diperlukan biaya pakan sebesar Rp 67.901.904. Dengan besaran biaya tersebut maka proporsi biaya pakan ternak adalah 69,82 persen. Biaya terbesar kedua dengan proporsi 24,63 persen adalah biaya pembelian DOC. Pengadaan 4519 ekor DOC memerlukan biaya total Rp 23.950.700. Kondisi tersebut menjadikan perubahan harga pakan dan DOC di pasar sangat berpengaruh pada perhitungan laba rugi dan kelayakan usaha.

Peternakan menggunakan tenaga kerja harian dan tenaga kerja panen yang dipekerjakan ketika proses panen berlangsung. Tenaga kerja panen bertugas mengangkut hasil panen ternak dari kandang menuju mobil angkut panen. Tenaga kerja harian dibayar Rp 350 per ekor ayam hidup pada masa panen. Untuk pemeliharaan ayam hidup panen sebanyak 4.346 ekor diperlukan biaya tenaga kerja harian sebesar Rp 1.521.100.

Tenaga kerja panen diberikan bayaran sebesar Rp 50 per ekor ayam yang diangkut. Besaran biaya panen untuk mengangkut ayam broiler siap panen 4.346 ekor sebesar Rp 217.300. Selain mendapatkan bayaran dari pemeliharaan ayam broiler tenaga kerja harian juga dibayar Rp 15.000 per hari untuk konsumsi harian di kandang.

Pengeluaran biaya obat, vaksin dan vitamin adalah Rp 300 per ekor. Untuk pemeliharaan ayam broiler sebanyak 4.519 ekor diperlukan biaya variabel sebesar Rp 1.303.800. Besaran biaya kayu bakar untuk kegiatan pengaturan suhu panas kandang sama dengan besaran biaya obat, vaksin dan vitamin yakni Rp 1.303.800.

66 Harga satu karung sekam padi sebesar Rp 3.500. Sekam padi diperlukan selama 14 hari pertama proses pemeliharaan. Sekam padi diperlukan untuk menjaga pijakan ayam tetap kering dari kotoran. Untuk pemeliharaan DOC 4.516 ekor diperlukan sekam padi sebanyak 165 karung. Sehingga biaya yang diperlukan untuk sekam padi adalah Rp 577.500.

Tabel 12. Biaya Variabel yang Dikeluarkan Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya (4346 ekor)

No Komponen Satuan Harga Satuan (Rp) Jumlah biaya per periode (Rp) Total biaya per tahun (Rp) 1 Tenaga Kerja:

Tenaga Kerja Harian 4346 350 1.521.100 9.126.600 Tenaga Kerja Panen 4346 50 217.300 1.303.800

Konsumsi Harian 1.050.000 6.300.000

2 DOC 4519 5.300 23.950.700 43.704.200

3 Pakan Ternak 10778 6.300 67.901.904 407.411.424 4 Obat,Vaksin dan Vitamin 4346 300 1.303.800 7.822.800

5 Kayu Bakar 4346 300 1.303.800 7.822.800

6 Sekam Padi 165 3500 577.500 3.465.000

Total 97.826.104 586.956.624

3) Biaya Tetap

Biaya tetap merupakan komponen terakhir dalam biaya operasional setelah biaya variabel. Tidak seperti biaya variabel besaran biaya tetap yang dikeluarkan peternakan tidak dipengaruhi jumlah ayam yang dibesarkan per periodenya.

Ada empat komponen utama yang dikeluarkan peternakan dalam setiap satu kali siklus periode. Keempat biaya tetap tersebut adalah tunjangan kinerja, pemeliharaan peralatan, pemeliharaan kandang, listrik dan pajak bumi dan bangunan untuk pembayaran lahan dan kandang.

Biaya tunjangan kinerja diberikan kepada anak kandang apabila kinerja yang dilakukan selama proses pembesaran berjalan baik. Ukuran kinerja dari anak kandang adalah tingkat konversi pakan ke bobot badan ternak. Biaya ini tergolong biaya tetap karena kinerja anak kandang selama ini berjalan dengan baik dan jumlah tunjangan yang diberikan besarannya adalah sama. Untuk tunjangan kinerja yang diberikan peternakan pada anak kandang sebesar Rp 200.000 per periode. Tunjangan lain yang diberikan pada anak kandang dan tergolong dalam

67 komponen biaya tetap adalah tunjangan hari raya. Tunjangan hari raya diberikan dalam bentuk bingkisan dan uang riil dengan jumlah nominal Rp 250.000 per tahunnya.

Listrik dan PBB merupakan dua komponen terakhir yang tergolong dalam biaya tetap. Listrik yang dikeluarkan hanya berupa biaya operasi per periode dan bukan merupakan biaya pemasangan rekening listrik baru. Rata-rata biaya listrik per periode sebesar Rp 130.380 sehingga dalam satu tahun peternakan mengeluarkan biaya listrik sebesar Rp 782.280 karena dalam satu tahun peternakan melakukan enam kali proses pembesaran ayam broiler. Sedangkan biaya PBB untuk lahan dan bangunan per tahun adalah Rp 932.400. Rincian biaya tetap dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Biaya Tetap Yang dikeluarkan Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya

No Komponen Biaya Tetap Total Biaya/Tahun (Rp)

1 Tenaga Kerja:

Tunjangan Kinerja 2.400.000

Tunjangan Hari Raya 500.000

2 Pemeliharaan Peralatan 720.000

3 Pemeliharaan Kandang 1.500.000

4 Listrik 782.280

5 PBB 932.400

Total 6.834.680

6.2.3. Kelayakan Investasi Usaha Usaha Peternakan Milik Bapak Marhaya

Dokumen terkait