Kegiatan usaha peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya dihadapkan pada berbagai kondisi risiko. Risiko tersebut adalah risiko produksi dan risiko harga jual ayam broiler di pasaran. Kedua risiko tersebut diperlihatkan oleh indikasi risiko yakni fluktuasi pada harga jual dan jumlah produksi.
Tabel 6. Produksi Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya pada Kondisi Berbagai Risiko
Kondisi Produksi (kg)
Terbaik 8640,8
Normal (yang mungkin diperoleh) 8272,2
48 Risiko produksi pada peternakan ayam broiler terjadi ketika dalam proses pemeliharaan. Risiko produksi terjadi karena beberapa sebab diantaranya tingkat mortalitas, efisiensi konversi pakan ke bobot tubuh, cuaca, kegiatan pemeliharaan yang tidak sesuai dengan standard dan berbagai hal lainnya.
Faktor-faktor yang menimbulkan risiko produksi pada peternakan ayam broiler tersebut antara lain:
1) Tingkat mortalitas ayam broiler
Pemeliharaan yang baik selama proses budidaya per periode membuat tingkat mortalitas rendah. Rata-rata tingkat mortalitas yang dapat dipertahan peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya adalah 3,5 persen dari jumlah DOC awal yang dipelihara. Sampai dengan saat ini peternakan mampu menghasilkan output dengan kualitas dan kuantitas baik. Tingkat kematian dapat ditekan karena pengalaman maupun pengetahuan teknis yang dimiliki Bapak Marhaya dan anak kandang yang dipekerjakan telah memenuhi standar kompetensi.
2) Efisiensi konversi pakan ke bobot tubuh ayam broiler
Semakin besar efisiensi penggunaan pakan maka biaya variabel untuk pembelian pakan dapat ditekan. Penilaian ini juga merupakan salah satu pertimbangan bagi perusahaan kemitraan untuk pemberian intensif bagi peternakan. Oleh karena itu, selain biaya pakan yang rendah tingkat efisiensi konversi pakan yang baik merupakan peluang bagi peternakan untuk memperoleh tambahan penerimaan. Efisiensi dapat diperoleh dengan adanya pola pemberian paan yang tepat.
Pada saat suhu lingkungan sangat panas peternakan tidak memberikan pakan pada ayam broiler yang dipelihara. Hal tersebut dimaksudkan karena pada kondisi lingkungan tersebut pakan tidak dikonversi optimal ke bobot badan. Pada sat itu peternakan hanya menambahkan jumlah minum di siang hari. Proporsi pakan ditambahkan pada pagi dan malam hari. Pola teknis pemberian pakan ini sangat tepat sehingga tidak terjadi pemborosan biaya. 3) Cuaca dan penyakit
Perubahan cuaca yang tidak menentu membuat pemeliharaan ayam menjadi sulit dan semakin rentan terhadap serangan penyakit. Ayam yang
49 sakit pada saat panen akan mengakibatkan peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya mendapatkan potongan harga jual ayam dari kontrak sebesar Rp 500 per kilogram.
Langkah prefentif dilakukan oleh peternakan dengan peberian vaksin dan tambahan vitamin untuk mencegah ayam broiler terkena penyakit dan tahan terhadap perubahan cuaca. Perlakuan khusus pada ayam sakit berupa isolasi ditempat terpisah atau penguburan ayam mati akibat penyakit agar tidak menular pada ayam-ayam broiler yang lain. Kegiatan ini dilakukan karena peternakan menggunakan sistem pemeliharaan satu tempat mulai dari ayam broiler satu hari sampai ayam siap panen.
Selain risiko pada bidang produksi perubahan penerimaan juga dapat berasal dari harga jual daging ayam yang berlaku dipasar. Selama Sembilan periode berjalan peternakan ayam broiler milik bapak Marhaya mendapatkan beberapa perubahan harga jual daging.
Tabel 7. Harga Jual yang Diterima Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya pada Setiap Kondisi
Kondisi Harga Jual (Rp/Kilogram)
Kondisi Terbaik 14.480
Kondisi Normal 14.450
Kondisi Terburuk 14.400
Harga yang diterima peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya berubah sesuai kontrak yang disepakati di awal periode paroduksi dengan Dramaga Unggas Farm. Dalam sembilan periode terakhir peternakan menerima harga jual dengan perubahan harga yang tidak terlalu bervariasi. Harga yang diterima oleh peternakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
1) Tingkat permintaan
Selain berpengaruh pada jumlah ayam yang dipelihara permintaan yang tinggi juga berpengaruh pada harga jual daging unggas yang berlaku dipasaran. Harga jaual panen adalah harga kontrak. Namun apabila pada akhir periode ayam broiler siap panen harga yang terbentuk dipasar tinggi maka perusahaan Dramaga Unggas farm memberikan kompensasi Rp 150 per kilogram.
50 2) Kualitas daging ayam broiler
Ayam panen dengan kondisi sakit tidak menerima harga jual optimal bahkan tidak dapat dijual dipasaran. Kualitas yang tidak baik membuat hasil penerimaan penjualan ayam broiler tidak maksimal. Kondisi tersebut tentu saja merugikan peternakan karena biaya variabel telah dikeluarkan selama proses pemeliharaan.
Risiko harga tidak berpengaruh signifikan terhadap peternakan karena sistem kemitraan yang dijalin memberikan kepastian harga dan pasar bagi output yang dihasilkan. Risiko harga akan dialami jika ayam yang dipanen sakit. Peternak akan mendapat potongan harga sebesar Rp 500 per kilogram dari harga kontrak pada ayam yang sakit sebagai bentuk kompensasi mitra terhadap Perusahaan kemitraan.
VI HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1. Analisis Aspek Kelayakan Non Finansial
Belum ada keseragaman yang pasti tentang hal-hal yang perlu dikaji pada aspek kelayakan non finansial. Analisis yang dilakukan tergantung pada skala proyek yang sedang dikaji. Pada penelitian ini akan dikaji aspek pasar, teknis, manajemen, hukum dan sosial lingkungan.
6.1.1. Aspek Pasar
Pasar menjadi aspek yang penting dalam kajian suatu kelayakan karena aspek ini menentukan keberlangsungan kegiatan bisnis dimasa yang akan datang. Pada penelitian ini akan dilihat permintaan, penawaran dan strategi pemasaran. 1. Permintaan dan Penawaran
Kerjasama yang terjalin dengan perusahaan Dramga Unggas Farm membuat peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya menjual hasil produksi ke perusahaan kemitraan tersebut. Tidak ada ketentuan jumlah DOC yang harus dipelihara. Jumlah ayam yang dipelihara dibatasi dengan kapasitas kandang ayam yang dimiliki peterakan. Rata-rata per periode peternakan milik Bapak Marhaya mampu memelihara DOC sebanyak 5.500 ekor. Kondisi tersebut menjadikan Dramaga Unggas Farm merupakan konsumen bagi output ayam broiler yang dihasilkan peternakan.
Untuk produk sampingan pupuk kandang yang dihasilkan ada pengumpul yang selalu mendatangi kandang pada tiap akhir periode. Pembeli pupuk kandang menghargai pupuk kandang yang berisi kotoran ayam dan sekam padi per karung Rp 3.000.
Sistem kemitraan merupakan langkah tepat untuk pencapaian target produksi daging di Kabupaten Bogor. Pencapaian target pada tahun 2010 terealisasi sebesar 102 persen. Pada tahun 2010 produksi daging tingkat Kabupaten Bogor adalah 94.752.099 kilogram. Target produksi terus dinaikan dari tahun ke tahun. Keadaan tersebut merupakan suatu peluang pasar bagi peternakan daging khususnya ayam broiler skala rakyat untuk melakukan penambahan kapasitas produksi yang dimiliki. Selain dalam rangka pemenuhan kebutuhan daging lokal, produksi daging peternakan
52 berlebih dari Kabupaten Bogor dapat diarahkan untuk permintaan daerah sekitar wilayah seperti Jakarta, Depok dan Bekasi.
2. Pemasaran output
Output yang dihasilkan dari peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya adalah pupuk dan produk utama ayam broiler. Pengangkutan hasil output ayam broiler menggunakan angkutan yang diberikan oleh Dramaga Unggas Farm.
Saluran penjualan yang dilewati oleh produk yang dihasilkan melalui dua jalur saluran yang berbeda untuk ayam broiler dan pupuk kandang yang dihasilkan. Untuk saluran penjualan ayam broiler melalui Dramaga Unggas Farm kemudian oleh perusahaan kemitraan tersebut disalurkan ke pedagang besar atau pihak konsumen yang memesan dalam jumlah cukup banyak.
Saluran tersebut adalah saluran penjualan untuk peternakan sistem kemitraan. Rata-rata harga jual dengan saluran tersebut adalah Rp 14.400 per kilogram. Harga yang lebih tinggi akan didapat peternak sistem mandiri dengan selisih harga mencapai Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per kilogram. Dengan sistem peternakan mandiri peternak dapat mendapatkan selisih harga tersebut dengan melakukan penjualan langsung ke pedadang pengumpul ataupun pedagang pengecer. Namun, pada sistem mandiri peternakan harus harus mampu mencari informasi pasar dan pengelolaan keuangan dengan baik.
Gambar 2. Saluran Pemasaran Ayam Broiler pada Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya
Perternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya
Dramaga
Unggas Farm Pedagang Besar
Pedagang Pengecer
53 Untuk produk sampingan peternakan melakukan transaksi dikandang dengan pembeli yang datang ke kandang untuk melakukan pemeblian pupuk. Pada umumnya pembeli pupuk kandang adalah petani sekitar atau pemborong yang merupakan penjual pupuk kandang.
6.1.2. Aspek Teknis
1. Lokasi Peternakan
Berdasarkan prasyarat penting yang harus dipenuhi dalam penentuan lokasi kandang yang baik maka peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya memiliki lokasi yang cukup strategis. Variabel-variabel utama yang perlu diperhatikan untuk menentukan lokasi terpenuhi. Lokasi kandang yang dimiliki didirikan cukup jauh dari pemukiman warga sehingga tidak menimbulkan polusi.
Variabel utama lainnya adalah kedekatan lokasi dari sarana transportasi. Kandang berada sekitar 500 meter dari jalan raya dan telah memiliki akses yang cukup baik menuju kandang. Selain transportasi yang tidak bermasalah ketersediaan air cukup sepanjang tahun. Kualitas air yang diperoleh dari sumur galian baik dan memenuhi standar baku. Kandang dibuat menjadi dua tempat dengan kapasitas masing-masing 3.000 ekor. Hal tersebut dimaksudkan agar pengelolaan kegiatan produksi dapat dijalankan dengan baik dan terhindar dari risiko tertular dari penyakit antara kandang yang satu dengan kandang lainnya.
2. Luasan Produksi
Peternakan ayam broiler milik Bapak Marhaya adalah usaha pembesaran ayam broiler pedaging dengan hasil output utama ayam broiler hidup dan pupuk kandang. Daya tamping pemeliharaan maksimal yang
Pertenakan ayam broiler milik Bapak Marhaya
Pembeli pupuk partai besar
Petani/konsumen akhir
Gambar 3. Saluaran Pemasaran Pupuk Kandang pada Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya
54 mampu dipelihara kandang ternak yang dimulai sebesar 6.000 ekor. Kapasitas produksi yang diusahakan oleh peternakan milik Bapak Marhaya telah memenuhi skala ekonomis minimum. Tenaga kerja yang dimiliki tidak terikat dan pemilik peternakan memperkerjakan dua orang tenaga kerja sebagai anak kandang. Pemilik memiliki luasan tanah untuk pembangunan kandang seluas 1.200 meter persegi.
Luasan kandang pertama adalah 9 × 41 meter sedangkan kandang yang kedua memiliki luas 8 × 26 meter. Total luasan kandang yang digunakan sebagai tempat pembesaran ayam broiler adalah 577 meter persegi.
3. Letak Sumber bahan Baku
Sarana produksi peternakan yang dipakai peternakan milik Bapak Marhaya adalah pasokan dari sebuah perusahaan kemitraan Dramaga Unggas Farm yang terletak di jalan Raya Dramaga km. 8, Kabupaten Bogor. Tempat penampungan sarana produksi yang dimiliki perusahaan Dramaga Unggas Farm terletak sekitar 20 kilometer dari lokasi kandang berdiri.
Lokasi gudang penampungan tersebut cukup jauh. Namun, sarana transportasi dan jalan raya yang menghubungkan gudang dengan lokasi kandang cukup terawat walaupun terdapat kerusakan dibeberapa titik. Pasokan bahan baku peternakan yang dibutuhkan tersedia dengan kualitas dan kuantitas standar yang diperlukan dalam menjalankan kegiatan pemeliharaan ayam broiler.
4. Sarana dan Prasarana
Lokasi peternakan yang dimiliki Bapak Marhaya memiliki beberapa sarana penunjang seperti bangunan kandang, gudang pakan, sumur, tendon air dan berbagai peralatan standar untuk menjalankan kegiatan operasional.
55 Keterangan:
A : Gudang kandang dan tempat tidur anak kandang.
B : Tower air.
C : Kandang Pemeliharaan. D : Sumur.
Gambar 5. Bentuk dan Layout Kandang Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya Kandang yang didirikan terbuat dari bahan baku bambu dengan atap daun nipah dan sebagian bonet. Atap sengaja terbuat dari gabungan daun nipah dan bonet untuk menjaga suhu dalam kandang tetap dalam keadaan sejuk di siang hari. Disekeliling kandang diberikan terpal untuk menahan angin di malam hari serta mengatur udara masuk sirkulasi kandang. Bangunan kandang dibuat panggung dengan lantai dari bambu dengan jarak
Bonet Daun nipah Daun nipah Bonet Bambu
C
A B D56 antar bambu sekitar satu sampai 1,5 centimeter. Pemeliharaan dilakukan rutin terutama pada atap yang bocor.
5. Proses pembesaran ayam broiler
Ada dua kegiatan utama dalam pemeliharaan ayam broiler. Pengelolaan pada masa awal produksi dan pemeliharaan pada akhir produksi. Pengelolaan masa awal produksi dilakukan sebelum DOC ditempatkan dikandang. Diperlukan tahap persiapan produksi yang bertujuan untuk menjamin kebersihan dan fasilitas kandang dari penggunaan periode sebelumnya. Bapak Marhaya menggunakan sistem seumur hidup di satu tempat sehingga kebersihan dan sterilisasi kandang menjadi hal yang sangat penting.
Sebelum dimasukkan ke kandang, anak ayam disterilisai dengan air yang telah dicampur dengan disinfektan pembunuh kuman. Sebelumnya kandang juga telah dibersihkan dan dibiarkan selama beberapa waktu tertentu agar bersih dari kuman penyakit. Selain kandang, semua peralatan yang dipakai pada periode sebelumnya harus disterilisasi dengan bahan pembunuh kuman/fumingan.
Alas lantai yang dipakai adakah panggung bambu dengan jarak tertentu sehingga pada dua minggu pertama ala kandang diberikan lapisan karung dengan taburan sekam padi diatasnya. Pemeliharaan tiga hari pertama setelah DOC datang merupakan fase terpenting pemeliharaan. Anak kandang dan Bapak Marhaya berjaga selama 24 jam dalam sehari secara bergantian. Perawatan tiga hari pertama tersebut adalah menjaga ketersediaan air dan pakan serta suhu kandang agar tetap hangat terutama dimalam hari. Tungku penghangat yang terbuat dari drum terus dicek secara berkala untuk menjamin api tetap menyala.
Gambar 6. Proses Pengosongan Kandang pada Masa Jeda Pemeliharaan Ayam Broiler untuk Persiapan Pemeliharaan
57 Setelah empat belas hari ayam telah tumbuh cukup besar dan telah cukup kuat dari cuaca dingin. Pemeliharaan selanjutnya adalah pemeliharaan rutin seperti pemberian pakan dan minum berkala. Jarak drum penghangat sudah mulai disusun agak jarang.
Pemeliharaan masa akhir dimulai ketika ayam berumur sekitar empat minggu. Masa-masa ini merupakan masa akhir penambahan bobot ayam. Ada kegiatan pemisahan dengan pemberian sekat untuk anak ayam yang tingkat pertumbuhan bobot badannya berjalan lambat. Ayam yang beratnya kurang dengan ayam rata-rata dipisahkan dan diberi perlakuan khusus agar pertumbuhan berat badan optimal.
Pada umur lima, enam atau tujuh minggu ayam broiler telah siap panen. Pada waktu ini supervisi dari perusahaan kemitraan dilakukan untuk menentukan bobot badan ayam yang telah siap panen. Timbangan yang digunakan dibawa dari perusahaan dan ditimbang secara acak. Dengan mengambil lima ekor ayam secara acak dengan komposisi tiga ekor ayam besar dan da ekor ayam kecil. Penimbangan dilakukan sebanyak dua sampai tiga kali dan kemudian dirata-ratakan. Setelah bobot badan diperoleh maka keesokan harinya ayam dipanen.
6.1.3. Aspek Manajemen dan Hukum
Aspek manajemen dianalisis untuk meliat apakah kegiatan operasional peternakan telah direncanakan, diorganisasikan, diimplementasikan dan dievaluasi dengan baik oleh pemilik peternakan. Pada dasarnya analisis aspek manajemen dilakukan untuk melihat pengelolaan kegiatan peternakan dan struktur organisasi. Aspek ini menjadi penting karena terkait dengan pelaksanaan kegiatan
58 operasional pemeliharaan ayam broiler. Pelaksanaan kegiatan yang tepat akan menjadikan peternakan efektif dan efisien.
Peternakan yang dilakukan Bapak Marhaya merupakan peternakan dengan kepemilikan tunggal. Hubungan kerjasama hanya terkait dengan Dramaga Unggas Farm dalam hal supervisi, pengadaan input produksi dan penjualan hasil produksi. Bawahan yang dimiliki Bapak Marhaya adalah seorang anak kandang yang melakukan seluruh kegiatan operasional peternakan dengan bantuan dan pengawasan pemilik.
Anak kandang yang dipekerjakan pernah diganti beberapa kali karena bermasalah atau kurang berpengalaman dalam melaksanakan tugas pemeliharaan. Anak kandang yang dipekerjakan saat ini merupakan usulan yang diberikan dari pihak supervisi. Beberapa periode terakhir berjalan dengan baik dengantingkat mortalitas rendah karena anak kandang yang dipekerjakan sangat berkompeten dan bersifat jujur.
Sampai saat ini Bapak Marhaya belum terdaftar sebagai peternak ayam broiler di Dinas Kabupaten Bogor. Ijin yang dilakukan baru berupa ijin lisan dari masyarakat sekitar melalui Kepala Desa.
6.1.4. Aspek Sosial dan Lingkungan
Pendirian peternakan menimbulkan dampak positis dan negative bagi lingkungan masyarakat sekitar. Kotoran yang dihasilkan dapat menjadi sumber bau dan lalat. Dampak positip yang diberikan adalah meningkatnya kesejahteraan
Dramaga Unggas Farm
Bapak Marhaya (pemilik peternakan)
Anak kandang
Gambar 8. Struktur Organisasi pada Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Marhaya
59 pemilik dan mampu memperkerjakan seorang karyawan sebagai anak kandang. Sedangkan dampak negatip yang ditimbulkan adalah kotoran yang dihasilkan dapat menjadi sumber bau dan lalat.
Untuk menghindari timbulnya permasalahan dengan warga dan sebagai bentuk tanggung jawab sosial Bapak Marhaya memberikan ayam broiler saat panen pada rumah-rumah warga yang berada disekitar lokasi kandang ternak. Cara ini sangat efektif karena selain terhindar dari masalah dengan warga pemilik juga menjadi akrab dalam berhubungan sosial di masyarakat.