• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arus Kas Bersih (Net Cash Flow) pada PT Tunas Baru Lampung Tbk

IV.3 Analisis Peluang atau Risiko Investasi pada PT Tunas Baru Lampung Tbk

IV.3.2 Arus Kas Bersih (Net Cash Flow) pada PT Tunas Baru Lampung Tbk

Penulis memperoleh data arus kas bersih (net cash flow) dari laporan arus kas (statement of cash flow) selama kuartal 1 tahun 2000 sampai dengan kuartal 2 tahun 2008. Dari laporan arus kas (statement of cash flow) yang diperoleh, penulis juga melihat arus kas yang terjadi pada masing-masing aktivitas, maka dalam menidentifikasikan perkembangan net cash flow perusahaan penulis mencoba membandingkan pengeluaran atau penerimaan kas pada masing-masing aktivitas. Arus kas bersih (net cash flow) yang dialami oleh PT Tunas Baru Lampung Tbk menunjukkan trend yang beragam. Oleh sebab itu, penulis ingin menidentifikasikan nilai arus kas bersih (net cash flow) secara lebih mendalam. Berikut adalah tampilan gambar net cash flow pada hingga tahun 2008.

Net Cash Flow

Rp100,000.00 Rp50,000.00 Rp0.00 Rp50,000.00 Rp100,000.00 Rp150,000.00 Rp200,000.00 Rp250,000.00 Rp300,000.00 2 000 Q 1 2 000 Q 4 2 001 Q 3 2 002 Q 2 2 003 Q 1 2 003 Q 4 2 004 Q 3 2 005 Q 2 2 006 Q 1 2 006 Q 4 2 007 Q 3 2 008 Q 2 M ill io n s Periode R upi a h

Net Cash Flow

Keadaan net cash flow pada tahun 2000 menunjukkan angka yang positif. pada kuartal 1 tahun 2000, penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) merupakan penerimaan kas yang terendah selama tahun tersebut. Net cash flow yang positif disebabkan oleh adanya penerbitan harga saham baru dan peningkatan agio saham. Oleh sebab itu, aktivitas investasi (investing) yang terjadi pada kuartal tersebut bisa ditutupi dengan penerimaan kas dari aktivitas pendanaan (financing). Pada kuartal 2 tahun 2000, net cash flow perusahaan masih menunjukkan angka yang positif, di mana penerimaan dari aktivitas operasi (operating) mulai menunjukkan peningkatan, peningkatan arus kas juga dapat pula dilihat pada aktivitas investasi (investing) dan pendanaan (financing). Oleh sebab itu, keadaan net cash flow perusahaan pada tahap ini lebih kecil dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Penambakan kas yang diterima seiring pula dengan pengeluaran kas yang dilakukan. Berikut adalah tampilan tabel net cash flow pada tahun 2000.

Tabel 4.29 Net Cash Flow 2000 (dalam ribuan)

No

Net Cash from Operating

Activities

Net Cash from Investing Activities

Net Cash from Financing

Activities Net Cash Flow 2000 Q1 Rp 8,084,222.00 (Rp 133,270,929.00) Rp 147,385,415.00 Rp 22,198,708.00 2000 Q2 Rp 25,102,828.00 (Rp 229,700,697.00) Rp 220,776,125.00 Rp 16,178,256.00 2000 Q3 Rp 45,739,609.00 (Rp 237,521,821.00) Rp 206,733,453.00 Rp 14,951,241.00 2000 Q4 Rp 54,012,528.00 (Rp 141,422,201.00) Rp 168,539,339.00 Rp 81,129,666.00

Pada kuartal 3 tahun 2000, keadaan net cash flow perusahaan kurang lebih tidak jauh berbeda dengan kuartal sebelumnya. Penerimaan kas pada masing-masing aktivitas digunakan untuk menutupi pengeluaran. Hal ini menyebabkan net cash flow yang terjadi pada perusahaan lebih kecil daripada kuartal 2 tahun 2000. Pada kuartal ini terdapat penambahan perolehan aktiva tetap sebesar Rp 112,060,575,000.00. Sedangkan kondisi

net cash flow pada kuartal 4 tahun 2000 menunjukkan angka yang lebih besar daripada periode sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh penurunan aktivitas investasi (investing) yang dilakukan oleh perusahaan, aktivitas pendanaan perusahaan (financing) juga menunjukkan penurunan pada kuartal ini. Pada kuartal 4 tahun 2000 perusahaan mengalami penurunan perolehan aktiva tetap dan hutang bank jangka panjang yang diperoleh.

Pada kuartal pertama tahun 2001, net cash flow perusahaan menunjukkan angka yang negatif. Hal ini disebabkan oleh penerimaan dari aktivitas operasi (operating) tidak sebesar periode sebelumnya. Selain itu aktivitas pendanaan (financing) tidak memperoleh tambahan modal yang disetor atau penambahan penawaran umum saham atau agio yang lebih besar dari aktivitas investasi (investing). Pada kuartal pertama tahun 2001 perusahaan hanya melakukan investasi atas aktiva tetap sebesar Rp 44,018,824,000.00. Berikut adalah tampilan tabel net cash flow pada tahun 2001.

Tabel 4.30 Net Cash Flow 2001 (dalam ribuan)

No

Net Cash from Operating

Activities

Net Cash from Investing Activities

Net Cash from Financing

Activities Net Cash Flow 2001 Q1 Rp 4,967,329.00 (Rp 44,938,824.00) Rp 5,083,423.00 (Rp 34,888,072.00) 2001 Q2 Rp 33,774,271.00 (Rp 76,552,421.00) Rp 7,070,619.00 (Rp 35,707,531.00) 2001 Q3 Rp 71,678,563.00 (Rp 116,389,196.00) Rp 3,870,909.00 (Rp 40,839,724.00) 2001 Q4 Rp 84,930,065.00 (Rp 126,515,183.00) (Rp 24,972,720.00) (Rp 66,557,838.00)

Pada kuartal 2 tahun 2001 net cash flow perusahaan juga menunjukkan angka yang negatif, namun pada kuartal 2 tahun 2001 perusahaan sudah menunjukkan peningkatan penerimaan kas yang lebih besar dari aktivitas operasi (operating). Apabila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya penerimaan kas dari operating sudah menunjukkan trend yang meningkat ke arah postif. Meskipun aktivitas pendanaan

(financing) menunjukkan kondisi yang sama seperti kuartal sebelumnya, namun dalam hal pendanaan jangka panjang yang diperoleh dari bank, perusahaan memperoleh tambahan yang lebih besar dari kuartal 1 tahun 2000, pendanaan jangka panjang yang diperoleh sebesar Rp 20,189,086,000.00.

Pada kuartal 3 tahun 2001 terjadi peningkatan pada sisi operating dan investing perusahaan. Pada kuartal ini terjadi penambahan aktiva tetap yang lebih besar dari kuartal sebelumnya, namun penambahan aktiva tetap tidak diiringi oleh tambahan dana yang diperoleh dari aktivtas pendanaan. Hal ini disebabkan karena pada periode tersebut perusahaan melakukan pembayaran hutang yang cukup tinggi daripada kuartal 2 tahun 2001. Sedangkan pada kuartal 4 tahun 2001 net cash flow perusahaan masih menunjukkan angka yang negatif. Hal ini disebabkan oleh masalah yang sama seperti kuartal 3 tahun 2001, aktivitas operasi (operating) dan investasi (investing) tidak ditutupi dengan penerimaan kas yang diperoleh dari aktivitas pendanaan (financing), penerimaan dana dari tambahan modal atau penambahan penawaran umum saham tidak diperoleh pada kuartal tersebut.

Keadaan net cash flow pada tahun 2002 kurang lebih tidak jauh berbeda dengan net cash flow yang terjadi pada tahun 2001. Net cash flow yang ada pada tahun 2002 masih menunjukkan angka yang negatif, namun aktivitas operasi (operating) menunjukkan trend yang berbeda daripada tahun 2001. Keadaan net cash flow pada kuartal 1 tahun 2002 menunjukkan angka yang negatif, bila dilihat dari aktivitas operasi (operating) jumlah penerimaan kas perusahaan menunjukkan angka yang negatif. Hal ini disebabkan oleh pembayaran kas kepada pemasok melebihi jumlah penerimaan kas yang diterima selama periode tersebut. Namun pada kuartal 1 tahun 2002 jumlah penerimaan kas dari aktivitas pendanaan (financing) sudah mulai meningkat dari tahun sebelumnya.

Pinjaman jangka panjang yang diperoleh dari bank menghasilkan tambahan kas sebesar Rp 57,556,553,000.00. Berikut adalah tampilan tabel net cash flow pada tahun 2002.

Tabel 4.31 Net Cash Flow 2002 (dalam ribuan)

No

Net Cash from Operating

Activities

Net Cash from Investing Activities

Net Cash from Financing

Activities Net Cash Flow 2002 Q1 (Rp 47,929,835.00) (Rp 17,700,183.00) Rp 57,556,553.00 (Rp 8,073,465.00) 2002 Q2 (Rp 18,569,190.00) (Rp 45,688,740.00) Rp 57,983,721.00 (Rp 6,274,209.00) 2002 Q3 (Rp 18,177,635.00) (Rp 57,414,730.00) Rp 54,029,637.00 (Rp 21,562,728.00) 2002 Q4 (Rp 3,367,699.00) (Rp 65,229,806.00) Rp 45,841,449.00 (Rp 22,756,056.00)

Pada kuartal 2 tahun 2002, keadaan net cash flow masih menunjukkan angka yang negatif. Akan tetapi, yang membedakan dari kuartal 1 tahun 2002 adalah jumlah kas yang dibayarkan kepada pemasok menurun daripada kuartal 1 tahun 2002. Pinjaman bank jangka panjang yang diperoleh dari aktivitas pendanaan (financing) digunakan perusahaan untuk melakukan penambahan atas aktiva tetap yang ada pada perusahaan.

Penambahan aktiva tetap pada kuartal 2 tahun 2002 menunjukkan angka Rp 45,688,740,000.00. Sedangkan kondisi net cash flow pada kuartal 3 tahun 2002

masih menunjukkan angka yang negatif. Hal ini disebabkan karena adanya penambahan aktiva tetap yang tidak bisa ditutupi oleh penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) dan pinjaman bank jangka panjang yang diperoleh dari aktivitas pendanaan (financing). Pada kuartal 4 tahun 2002 penerimaan kas operasi dari aktivitas operasi (operating) sudah menunjukkan trend yang meningkat, di mana jumlah penerimaan kas dari pelanggan lebih besar apabila dibandingkan dengan kuartal 3 tahun 2002. Selain itu pada kuartal 4 tahun 2002 terjadi pelunasan hutang bank jangka panjang sebesar Rp 36,654,000,000.00.

Keadaan net cash flow tahun 2003 masih menunjukkan angka yang negatif apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya , maka angka negatif yang terdapat pada net cash flow perusahaan sudah menunjukkan peningkatan ke nilai yang positif. Pada kuartal 1 tahun 2003 pengeluaran kas dari aktivitas investasi (investing) tidak bisa ditutupi dengan pendapatan kas dari aktivitas operasi (operating) dan aktivitas pendanaan (financing). Pada kuartal tersebut aktivitas pendanaan (financing) mengalami nilai yang negatif. Adanya pembayaran hutang jangka panjang menjadi penyebab penerimaan kas dari aktivitas pendanaan (financing) menjadi negatif. Hal ini juga pernah terjadi pada kuartal 2 tahun 2001. Berikut adalah tampilan tabel net cash flow pada tahun 2003.

Tabel 4.32 Net Cash Flow 2003 (dalam ribuan)

No

Net Cash from Operating

Activities

Net Cash from Investing Activities

Net Cash from Financing

Activities Net Cash Flow 2003 Q1 Rp 3,693,323.00 (Rp 12,679,591.00) (Rp1,616,871.00) (Rp 10,603,139.00) 2003 Q2 (Rp 20,914,568.00) (Rp 30,262,667.00) Rp 43,539,133.00 (Rp 7,638,102.00) 2003 Q3 Rp 6,936,155.00 (Rp 46,642,883.00) Rp 37,142,399.00 (Rp 2,564,329.00) 2003 Q4 Rp 11,250,443.00 (Rp 48,032,141.00) Rp 36,381,096.00 (Rp 400,602.00)

Keadaan net cash flow pada kuartal 2 tahun 2003 kurang lebih hampir sama dengan keadaan net cash flow yang terjadi pada tahun 2002. Penerimaan kas yang berasal dari aktivitas operasi (operating) menunjukkan angka yang negatif. Adanya pembayaran beban bunga dan pajak menjadikan kas yang diperoleh dari operasi menjadi negatif, namun pinjaman bank yang diperoleh pada kuartal ini lebih meningkat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pada kuartal ini terdapat pinjaman hutang bank jangka panjang sebesar Rp 60,054,991,000.00.

Pada kuartal 3 tahun 2003, keadaan net cash flow perusahaan sudah menunjukkan trend ke arah nilai yang positif, yaitu –Rp 2,564,329,000.00. Hal ini disebabkan aktivitas investasi (investing) tidak mampu ditutupi oleh penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) dan aktivitas pendanaan (financing). Pembelian aktiva tetap yang terjadi pada tahun tersebut lebih besar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya pada tahun yang sama. Akan tetapi penerimaan tambahan pinjaman hutang bank jangka panjang terjadi penurunan bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pada kuartal 3 tahun 2003 terjadi pelunasan hutang bank yang jatuh tempo apabila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya pelunasan hutang bank yang jatuh tempo mengalami sedikit peningkatan.

Keadaan net cash flow pada kuartal 4 tahun 2003 masih menunjukkan angka yang negatif, namun dalam hal penerimaan kas yang diperoleh dari aktivitas operasi (operating). Arus kas yang diperoleh menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan kuartal 3 tahun 2003, sedangkan penerimaan kas yang diperoleh dari pemasok pada kuartal 4 tahun 2003 cukup untuk menutupi pembayaran beban bunga dan pajak pada kuartal tersebut. Pembelian aktiva tetap menjadi penyebab nilai net cash flow menjadi negatif. Meskipun adanya penerimaan hutang bank jangka panjang pada periode tersebut, namun penambahan aktiva tetap menjadikan keadaan net cash flow perusahaan menjadi negatif.

Arus kas bersih (net cash flow) pada tahun 2004 sudah mengalami peningkatan ke arah yang positif, hanya pada kuartal 1 tahun 2004 net cash flow perusahaan menunjukkan angka penerimaan yang negatif. Hal tersebut dikarenakan penambahan aktiva tetap perusahaan tidak bisa ditutupi dengan penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) dan aktivitas investasi (investing). Pinjaman hutang bank jangka panjang

yang dilakukan pada kuartal 1 tahun 2004 merupakan pinjaman hutang bank jangka panjang yang terendah selama tahun tersebut. Sedangkan kondisi net cash flow pada kuartal 2 tahun 2004 sudah menunjukkan angka positif, namun hal ini tidak diiringi dengan peningkatan pada penerimaan kas yang diperoleh dari aktivitas operasi (operating). Penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) menunjukkan angka yang negatif. Hal ini disebabkan karena pada saat periode tersebut, pembayaran kas kepada pemasok melebihi penerimaan kas dari pelanggan. Keadaan net cash flow yang positif pada kuartal tersebut didukung oleh penerimaan hutang obligasi yang ada pada periode tersebut, hutang obligasi yang diperoleh sebesar Rp 289,500,000,000.00. Selain dari penambahan hutang obligasi, aktivitas pendanaan (financing) juga diisi dengan penambahan hutang bank jangka panjang dan jangka pendek. Berikut adalah tampilan tabel net cash flow pada tahun 2004.

Tabel 4.33 Net Cash Flow 2004 (dalam ribuan)

No

Net Cash from Operating

Activities

Net Cash from Investing Activities

Net Cash from Financing

Activities Net Cash Flow 2004 Q1 Rp 15,909,002.00 (Rp 23,423,473.00) Rp 2,471,952.00 (Rp 5,042,519.00) 2004 Q2 Rp 85,899,196.00 (Rp 39,995,470.00) Rp 162,723,427.00 Rp 122,727,957.00 2004 Q3 (Rp 71,205,840.00) (Rp 80,724,671.00) Rp 192,332,826.00 Rp 40,402,315.00 2004 Q4 Rp 147,077,068.00 (Rp 206,182,258.00) Rp 62,374,608.00 Rp 3,269,418.00

Pada kuartal 3 tahun 2004 keadaan net cash flow perusahaan menunjukkan angka yang positif, kegiatan penerimaan atau pengeluaran kas dari aktivitas operasi (operating), investasi (investing), pendanaan (financing) kurang lebih tidak jauh berbeda dengan kuartal 2 tahun 2004. Pembayaran kas kepada pemasok melebihi penerimaan kas yang diterima dari pelanggan, sehingga mengakibatkan penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) menunjukkan angka yang negatif. Penambahan aktiva tetap dan penerimaan

kas dari aktivitas pendanaan (financing) juga mengalami peningkatan dibandingkan dengan kuartal 2 tahun 2004. Adanya penambahan hutang bank jangka panjang mengakibatkan penerimaan kas dari aktivitas pendanaan (financing) menunjukkan angka yang positif.

Keadaan net cash flow kuartal 4 tahun 2004 menunjukkan angka yang positif, namun jika dibandingkan dengan kuartal 3 tahun 2004 kondisi net cash flow lebih cenderung mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh penambahan aktiva tetap sebesar dua kali lebih banyak jika dibandingkan dengan kuartal 3 tahun 2004. Pada kuartal 4 tahun 2004 perusahaan juga melakukan pembayaran atas hutang bank jangka pendek sebesar Rp 203,325,237,000.00 dan pembayaran hutang bank jangka pendek sebesar Rp 15,903,111,000.00. Aktivitas pendanaan (financing) juga memperoleh tambahan dana dari penambahan hutang obilgasi sebesar Rp 300,000,000,000.00. Namun dalam hal penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) perusahaan memperoleh tambahan dana yang lebih besar daripada kuartal sebelumnya.

Keadaan net cash flow pada tahun 2005 menunjukkan angka yang positif, penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) yang diperoleh pada tahun tersebut merupakan penerimaan kas yang terbesar selama periode 2000-2005. Aktivitas investasi (investing) yang terjadi pada tahun 2005 menunjukkan angka yang yang lebih besar bila dibandingkan dengan tahun 2004. Sedangkan pada kuartal 1 tahun 2005 penerimaan kas dari aktivitas pendanaan (financing) menjadi sumber perolehan dana untuk membiayai pengeluaran kas pada aktivitas operasi (operating) dan aktivitas pendanaan (financing).

Penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) merupakan penerimaan kas yang menunjukkan angka negatif pada tahun 2005. Pada kuartal ini terdapat

penambahan hutang bank jangka panjang sebesar Rp 110,836,512,000.00. Berikut adalah tampilan tabel net cash flow pada tahun 2005.

Tabel 4.34 Net Cash Flow 2005 (dalam ribuan)

No

Net Cash from Operating

Activities

Net Cash from Investing Activities

Net Cash from Financing

Activities Net Cash Flow 2005 Q1 (Rp17,234,137.00) (Rp 50,157,032.00) Rp 76,064,922.00 Rp 8,673,753.00 2005 Q2 Rp 115,223,064.00 (Rp 89,064,524.00) (Rp 8,333,951.00) Rp 17,824,589.00 2005 Q3 Rp 212,742,960.00 (Rp 109,169,545.00) (Rp 99,151,093.00) Rp 4,422,322.00 2005 Q4 Rp 219,863,657.00 (Rp 192,032,954.00) (Rp 24,038,177.00) Rp 3,792,526.00

Pada kuartal 2 tahun 2005, keadaan net cash flow perusahaan menunjukkan angka yang positif, dimana penerimaan kas pelanggan melebihi jumlah pembayaran kepada pemasok. Pada kuartal tersebut kas yang diperoleh dari aktivitas operasi (operating) digunakan untuk menutupi pengeluaran kas yang berasal dari aktivitas investasi (investing). Penambahan aktiva tetap yang terjadi pada kuartal 2 tahun 2005 menunjukkan jumlah sebesar sebesar Rp 69,485,032,000.00.

Aktivitas pendanaan (financing) pada kuartal tersebut menunjukkan angka yang negatif. Hal tersebut terjadi karena penambahan hutang bank jangka panjang yang diperoleh perusahaan tidak mampu menutupi pembayaran hutang bank yang jatuh tempo dan pembayaran atas beban yang ditangguhkan. Sedangkan kondisi net cash flow pada kuartal 3 tahun 2005 masih menunjukkan angka yang positif, kegiatan penerimaan atau pengeluaran kas dari masing-masing aktivitas menunjukkan angka yang tidak jauh berbeda dengan kuartal 2 tahun 2005. Penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) menjadi sumber dana yang digunakan untuk menutupi pengeluaran pada aktivitas investasi (investing) dan aktivitas pendanaan (financing). Pembayaran hutang bank

jangka panjang, pembayaran hutang bank jatuh tempo dan pembayaran beban yang ditangguhkan diperoleh dari dana yang diterima dari aktivitas operasi (operating).

Pada kuartal 4 tahun 2005 keadaan net cash flow menunjukkan angka yang positif, keadaan penerimaan atau pengeluaran kas dari aktivitas operasi (operating), investasi (investing), dan pendanaan (financing) tidak jauh berbeda dengan 3 tahun 2005, namun penambahan aktiva tetap lebih meningkat dibandingkan dengan kuartal 3 tahun 2005. Penambahan tersebut mengakibatkan arus kas bersih (net cash flow) yang terjadi lebih turun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Arus kas bersih (net cash flow) yang terjadi pada tahun 2006 diawali dengan perolehan angka yang negatif. Pada kuartal 1 tahun 2006 perusahaan tidak melakukan penambahan pinjaman hutang bank, sebaliknya perusahaan melakukan pembayaran atas hutang yang sudah jatuh tempo. Meskipun penerimaan kas pada kuartal tersebut menunjukkan angka yang tinggi, namun penerimaan kas tersebut tidak mampu menutupi pengeluaran kas dari aktivitas investasi (investing) dan pendanaan (financing). Berikut adalah tampilan tabel net cash flow pada tahun 2006.

Tabel 4.35 Net Cash Flow 2006 (dalam ribuan)

No

Net Cash from Operating

Activities

Net Cash from Investing Activities

Net Cash from Financing

Activities Net Cash Flow 2006 Q1 Rp 182,311,422.00 (Rp 63,177,067.00) (Rp 119,986,784.00) (Rp 852,429.00) 2006 Q2 Rp 128,407,681.00 (Rp 126,041,179.00) Rp 1,164,009.00 Rp 3,530,511.00 2006 Q3 Rp 280,461,668.00 (Rp 192,750,108.00) Rp 148,692,357.00 Rp 236,403,917.00 2006 Q4 Rp 364,180,938.00 (Rp 436,203,300.00) Rp 203,114,480.00 Rp 131,092,118.00

Pada kuartal 2 tahun 2006 kegiatan pada masing-masing aktivitas kurang lebih tidak jauh berbeda dengan kuartal 1 tahun 2006. Namun pada kuartal ini net cash flow perusahaan sudah menunjukkan angka yang positif. Pembayaran hutang bank yang

sudah jatuh tempo sudah berkurang dibandingkan dengan kuartal 1 tahun 2006. Pada periode ini terdapat pinjaman hutang bank jangka pendek sebesar Rp 87,790,103,000.00. Penambahan aktiva tetap pada kuartal ini menunjukkan angka yang lebih besar daripada periode sebelumnya. Selain dari penambahan aktiva tetap, penerimaan kas yang diterima dari pelanggan juga menunjukkan angka yang meningkat jika dibandingkan dengan kuartal 2 tahun 2006.

Keadaan net cash flow pada kuartal 3 tahun 2006 merupakan keadaan yang paling menunjukkan angka positif selama periode 2000-2006. Hal ini disebabkan karena adanya penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) dua kali lebih besar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pada kuartal ini, penerimaan kas dari aktivitas pendanaan (financing) mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena adanya penerimaan dari penawaran umum terbatas.

Arus kas bersih (net cash flow) pada kurtal 4 tahun 2006 kurang lebih tidak jauh berbeda dengan kuartal sebelumnya. Penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) menghasilkan angka yang tertinggi pada tahun tersebut. Penerimaan yang diperoleh dari pelanggan melebihi pembayaran yang seharusnya dilakukan. Penambahan aktiva tetap merupakan penambahan yang paling tinggi selama periode 2000-2006. Aktivitas investasi (investing) yang dilakukan menunjukkan angka tertinggi selama periode 2000-2006. Pada kuartal 4 tahun 2006 aktivitas pendanaan (financing) menunjukkan angka yang lebih tinggi daripada kuartal 5 tahun 2006.

Pada kuartal 1 tahun 2007 keadaan net cash flow menunjukkan angka yang positif, meskipun aktivitas pendanaan (financing) dan aktivitas investasi (investing) menunjukkan angka yang negatif. Pengeluaran kas yang terjadi pada aktivitas pendanaan (financing) disebabkan oleh pembayaran hutang bank yang sudah jatuh tempo dan

pembayaran beban bunga. Sedangkan kondisi net cash flow pada kuartal 2 tahun 2007 kurang lebih tidak jauh berbeda dengan kuartal sebelumnya, di mana net cash flow masih menunjukkan angka yang positif. Selain itu, pengeluaran kas yang terjadi pada aktivitas investasi (investing) ditutupi dengan penerimaan kas yang diperoleh dari aktivitas operasi (operating) dan aktivitas pendanaan (financing). Penambahan aktiva tetap pada periode ini cenderung menurun bila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) juga menunjukkan penurunan bila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Berikut adalah tampilan tabel net cash flow pada tahun 2007.

Tabel 4.36 Net Cash Flow 2007 (dalam ribuan)

No

Net Cash from Operating

Activities

Net Cash from Investing Activities

Net Cash from Financing

Activities Net Cash Flow 2007 Q1 Rp 241,969,263.00 (Rp 70,866,745.00) (Rp 92,568,647.00) Rp 78,533,871.00 2007 Q2 Rp 110,756,679.00 (Rp 59,755,419.00) Rp 22,975,896.00 Rp 73,977,156.00 2007 Q3 Rp 465,509,459.00 (Rp 230,171,357.00) (Rp 122,018,177.00) Rp 113,319,925.00 2007 Q4 (Rp 55,829,318.00) (Rp 81,879,456.00) Rp 205,970,531.00 Rp 68,261,757.00

Arus kas bersih (net cash flow) pada kuartal 3 tahun 2007 kurang lebih tidak jauh berbeda dengan kuartal 2 tahu 2007. Penerimaan kas yang diperoleh dari aktivitas operasi (operating) merupakan penerimaan kas yang tertinggi selama tahun tersebut, pada kuartal tersebut terdapat pembayaran hutang obligasi yang jatuh tempo. Sedangkan pada aktivitas pendanaan (financing) terdapat penambahan hutang bank jangka panjang, penambahan tersebut digunakan perusahaan untuk melunasi hutang obligasi yang jatuh tempo.

Keadaan net cash flow pada kuartal 4 tahun 2007 menunjukkan angka yang positif. Pada kuartal ini penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) dan aktivitas

investasi (investing) menunjukkan angka yang negatif, namun hal ini bisa ditutupi dengan penerimaan dari kas yang berasal dari aktivitas pendanaan (financing). Adanya penerimaan hutang bank jangka panjang sebesar Rp 563,526,139,000.00 merupakan pinjaman hutang bank jangka panjang yang paling besar selama periode 2000-2007.

Pada tahun 2008 penulis hanya mampu menganalisis keadaan arus kas bersih (net cash flow) sampai pada kuartal 2. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan data yang diperoleh selama proses riset berlangsung. Pada kuartal 1 tahun 2008, keadaan net cash flow perusahaan menunjukkan angka yang negatif. Hal ini terjadi juga pada tahun 2001,2002, 2003, kuartal 1 tahun 2004 dan kuartal 1 tahun 2006. Berikut adalah tampilan tabel net cash flow pada tahun 2008.

Tabel 4.37 Net Cash Flow 2008 (dalam ribuan)

No

Net Cash from Operating

Activities

Net Cash from Investing Activities

Net Cash from Financing

Activities Net Cash Flow 2008 Q1 Rp 97,690,538.00 (Rp 63,935,643.00) (Rp 57,023,531.00) (Rp 23,268,636.00) 2008 Q2 Rp 144,869,704.00 (Rp 121,632,130.00) (Rp 60,933,046.00) (Rp 37,695,472.00)

Penerimaan kas dari aktivitas operasi (operating) tidak mampu menutupi pengeluaran kas yang terjadi pada aktivitas investasi (investing) dan aktivitas pendanaan (financing). Adanya pembayaran hutang bank yang sudah jatuh tempo menjadi salah satu penyebab aktivitas pendanaan (financing) menunjukkan angka yang negatif. Sedangkan pada kuartal 2 tahun 2008, keadaan net cash flow perusahaan juga kurang lebih tidak jauh berbeda dengan kuartal sebelumnya. Berikut adalah grafik arus kas dari masing-masing aktivitas secara keseluruhan.

Net Cash from Activities (Rp500,000.00) (Rp400,000.00) (Rp300,000.00) (Rp200,000.00) (Rp100,000.00) Rp0.00 Rp100,000.00 Rp200,000.00 Rp300,000.00 Rp400,000.00 Rp500,000.00 Rp600,000.00 20 00 Q 1 20 00 Q 3 20 01 Q 1 20 01 Q 3 20 02 Q 1 20 02 Q 3 20 03 Q 1 20 03 Q 3 20 04 Q 1 20 04 Q 3 20 05 Q 1 20 05 Q 3 20 06 Q 1 20 06 Q 3 20 07 Q 1 20 07 Q 3 20 08 Q 1 Mill io n s Periode Ru pi a h Operating Activities Investing Activities Financing Activities

Gambar 4.8 Net Cash from Activities

Agar dapat menganalisis peluang atau risiko pada PT Tunas Baru Lampung Tbk maka analisis terhadap net cash flow perusahaan harus dibandingkan dengan analisis debt to equity ratio (DER) dan total assets turnover (TATO). Tabel di bawah ini adalah hasil perhitungan debt to equity ratio (DER) pada PT Tunas Baru Lampung Tbk.

Tabel 4.38 Debt to Equity Ratio (DER)

Year Total Liabilities Total Stockholder's

Equity DER 2000 Rp 488,559,329.00 Rp 408,101,273.00 1.20 2001 Rp 497,860,317.00 Rp 401,665,559.00 1.24 2002 Rp 541,524,438.00 Rp 479,665,927.00 1.13 2003 Rp 648,645,786.00 Rp 502,209,691.00 1.29 2004 Rp 840,285,468.00 Rp 510,587,539.00 1.65 2005 Rp 938,257,268.00 Rp 511,960,250.00 1.83 2006 Rp 1,183,409,316.00 Rp 864,441,083.00 1.37 2007 Rp 1,518,219,189.00 Rp 934,959,637.00 1.62 2008 Rp 1,698,277,804.00 Rp 1,177,115,610.00 1.44

Tabel 4.39 Total Assets Turnover (TATO)

Year Total Sales Total Assets TATO 2000 Rp 666,675,546.00 Rp 935,029,142.00 71.30% 2001 Rp 614,997,703.00 Rp 936,636,766.00 65.66% 2002 Rp 626,648,673.00 Rp 1,021,667,855.00 61.34% 2003 Rp 715,576,441.00 Rp 1,151,280,525.00 62.15% 2004 Rp 1,191,009,913.00 Rp 1,352,091,974.00 88.09% 2005 Rp 1,220,635,658.00 Rp 1,451,438,727.00 84.10% 2006 Rp 1,193,998,873.00 Rp 2,049,162,958.00 58.27% 2007 Rp 1,844,206,985.00 Rp 2,457,120,118.00 75.06% 2008 Rp 2,498,443,812.00 Rp 2,880,647,337.00 86.73%

Jika data kedua tabel di atas dijadikan grafik, maka akan memberikan hasil seperti gambar di bawah ini.

Gambar 4.9 Perbandingan DER dan TATO

Pada grafik perbandingan di atas dapat dilihat bahwa PT Tunas Baru Lampung Tbk. mengalami dua kondisi yang tidak lazim. Kondisi yang pertama terjadi pada tahun 2001, di mana nilai debt to equity ratio (DER) menunjukkan trend yang meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2000. Hal ini menggambarkan bahwa perusahaan memperolehan tambahan dana untuk meningkatkan kegiatan investasi, sedangkan pada

tahun 2001, nilai total asset turnover (TATO) yang diperoleh perusahaan menunjukkan trend yang menurun. Hal ini menunjukkan kondisi yang tidak normal, dana yang diperoleh oleh perusahaan meningkat akan tetapi investasi yang dilakukan mengalami penurunan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa perusahaan mengunakan dana pinjaman yang diperoleh untuk melakukan pembayaran atas pengeluaran lain (bukan investasi). Jika dilihat pada kondisi yang sebenarnya, perusahaan tidak membagikan dividend pada tahun 2001. Maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan menggunakan dana pinjaman

Dokumen terkait