Salah satu persoalan yang belum terselesaikan bahkan masih tetap menjadi polemik hingga sekarang ini adalah tentang asal usul etnik Batak Toba. Belum ditemukan dokumen yang sahih dan dipercaya. Para ahli dan peneliti sejarah dan antropologi serta berbagai pihak yang tertarik dengan etnik Batak, khususnya etnik Batak Toba, masih menunjukkan pendapat yang berbeda satu dengan lainnya tentang asal usul dan keberadaan etnik Batak (Toba) di Sumatera Utara. Ada banyak versi tentang asal usul etnik Batak2. Tetapi, ada dua versi pendekatan yang dapat digunakan untuk menelusuri asal usul dan keberadaan etnik Batak di Sumatera Utara. Pertama adalah pendekatan mitologi dan kedua adalah pendekatan histori.
Mitologi
Dalam pendekatan mitologi, para Datu atau Guru – ahli pengobatan, sihir dan ramalan – menuliskan mitos tentang leluhur Batak. Ditemukan berbagai macam versi mitos3. Satu mitos yang sangat populer ialah mitologi “Siboru Deak Parujar”. Mitos inipun diungkapkan dengan berbagai versi. Tetapi dari aneka macam versi mitos tersebut memiliki kesamaan. Pertama, leluhur Batak datang dari langit dari tempat para dewata4. Kedua, Sianjur Mulamula di lereng Dolok Pusuk Bukit, salah satu puncak di barat Danau Toba5, adalah tempat bermukim pertama leluhur Batak Toba. Sianjur Mulamula di Pusuk Buhit dianggap sebagai
hasampean ni ompunta Singaraja Batak. Ketiga, Sianjur Mulamula menjadi
tempat suci dan sakral bagi masyarakat Batak Toba. Dalam tonggo-tonggo atau doa-doa masyarakat Batak Toba Sianjur Mulamula digambarkan sebagai berikut: Sianjur mula-mula, Sianjur mula toppa.
Parsirangan ni aek, pardomuan ni hosa. Sianjur mula-mula, Sianjur mula jadi. Mula ni sombayang, mula ni sombauasi. Parpansur golang-golang, partapian jabi-jabi. Parsuapon manogot, paranggiron bodari.
Histori
Manusia Indonesia yang tertua sudah ada kira-kira satu juta tahun yang lalu. Waktu itu Asia Tenggara bagian benua dan bagian kepulauan masih bersambung menjadi satu. Manusia prehistori yang tinggal di Indonesia Timur suka makan binatang hasil buruan, sedangkan di Indonesia Barat orang suka makan binatang kerang. Sisa-sisa kulit kerangnya mereka buang di suatu tempat timbunan sampah di luar perkampungan mereka dan juga sering ikut terbuang di dalam timbunan sampah itu alat-alat yang tidak terpakau. Sekarang tempat itu berupa bukit-bukit kerang yang mengandung alat-alat dari zaman prehistori dengan suatu corak tertentu seperti kapak genggam. Contoh yang paling terkenal dari bukit-bukit
kerang serupa itu telah ditemukan di Sumatera Timur dan Utara dekat Medan, dekat Langsa di Aceh. Proses persebaran bangsa-bangsa tersebut di atas terjadi dalam satu jaman, tetapi sukar untuk memperhitungkan jaman itu dengan ukuran waktu yang eksak6.
Kemudian terjadi gelombang kedua persebaran manusia pembawa kebudayaan neolitik yang datang ke Indonesia dari benua Asia bagian Tenggara sekitar 3000 tahun Sebelum Masehi. Bentuk fisik mereka dapat diperkirakan mengandung banyak ciri-ciri Mongoloid. Penyebaran mulai dari daerah-daerah lembah-lembah sungai di Cina Selatan, mereka berpindah-pindah menyusur daerah lembah-lembah sungai-sungai besar ke arah barat daya, sampai hilir sungai Salween, ke selatan sampai di hilir sungai mekong, dan juga ke timur lama-lama sampai di pantai Cina Tenggara, Quemoy sekarang. Di tempat hilir sungai-sungai itu mereka mengembangkan suatu kebudayaan maritim dengan perahu bercadik dan dengan demikian mereka menyeberang ke daerah kepulauan Pasifik Selatan seperti Taiwan, Filipina, Sulawesi Utara, Halmahera, dan Maluku Selatan7.
Gelombang berikutnya dari persebaran bangsa-bangsa adalah suatu persebaran yang juga datang dari benua Asia Bagian Tenggara, tetapi yang masuk kepulauan Indonesia dari arah barat kira-kira 2500 tahun Sebelum Masehi. Serupa dengan Proto-Aistronesia, mereka tentu memiliki ciri-ciri fisik bersifat Mongoloid. Dari tempat asalnya di daerah lembah-lembah sungai-sungai di Cina Selatan, mereka menyebar ke selatan, ke arah hilir sungai-sungai besar, terus ke Semenanjung Melayu, untuk kemudian menduduki Sumatera, Jawa dan lain-lain pulau-pulau Indonesia bagian barat, sampai Kalimantan Barat, Nusa Tenggara sampai Flores, Sulawesi dan terus ke Filipina. Tetapi mereka tidak pernah sampai ke bagian timur dari kepulauan Insdonesia8.
Seperti halnya dengan negara-negara dan masyarakat tertua di benua Asia Tenggara sekitar abad pertama terpengaruh oleh unsur-unsur kebudayaan Cina, kebudayaan-kebudayaan dalam negara-negara tertua dan masyarakat di Indonesia terpengaruh oleh unsur-unsur kebudayaan yang terjadi karena campuran antara kebudayaan pribumi dan unsur-unsur Cina. Baru pada abad ke tiga dan keempat Masehi, mulailah tampak pengaruh unsur-unsur kebudayaan yang berasal dari India, ialah unsur-unsur kebudayaan yang terbawa ke Asia Tenggara dengan persebaran agama Hindu dan Budha ke daerah itu. Dengan persebaran agama Hindu dan Budha mulailah suatu babak baru dalam sejarah kebudayaan bangsa-bangsa di Asia Tenggara pada umumnya, dan di Indonesia pada khususnya. Dengan itu berhentilah abad-abad prehistori, dan mulailah abad-abad histori atau abad sejarah bangsa Indonesia9.
Bagaimana dengan etnik Batak Toba. Dari mana asalnya?. Dari perspektif histori atau sejarah juga ditemukan berbagai versi. Satu versi sejarah mengatakan bahwa pada periode sekitar 2000 SM - 2500 SM sekelompok orang datang dari
benua Asia Bagian Tenggara dari Hindia Belakang masuk dari daerah Barus. Dari Barus mereka terus memasuki pedalaman hingga tiba dan menetap di satu daerah yang disebut Sianjur Mulana di Sumatera Utara10. Kelompok ini yang kemudian menjadi etnik Batak Toba. Sianjur Mulana atau Sianjur Mulamula diakui sebagai tempat pemukiman pertama sekelompok masyarakat yang disebut Batak Toba. Masyarakat ini pun dikemudian hari ikut dipengaruhi oleh unsur-unsur kebudayaan yang berasal dari India, ialah unsur-unsur kebudayaan yang terbawa ke Asia Tenggara dengan persebaran agama Hindu dan Budha pada abad ke-3 dan ke-4 Masehi.
Kebudayaan Batak Toba sebagai kebudayaan masyarakat agraris mengandung banyak unsur yang berasal dari Hindu. Kebudayaan Hindu beserta kesusasteraan Hindu masuk dan mempengaruhi kebudayaan Batak Toba. alfabet dan banyak kosa kata seperti nama-nama hari dan bulan dalam masyarakat Batak Toba dipengaruhi oleh kesusasteraan Hindu. Sementara struktur sosial dan keagamaan dan juga sistem pemerintahan dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu. Kebudayaan Hindu dalam jaman itu, dan juga kebudayaan intelektual dari agama Hindu mempengaruhi dunia Asia Tenggara jaman itu. Dalam hal negara dan pemerintahan, misalnya, semua golongan diorientasikan ke atas ialah sang raja, yang dianggap keturunan dewa, yang bersifat keramat, yang merupakan puncak dari segala hal dalam negara dan pemerintahan dan yang merupakan pusat dari alam semesta. Konsepsi tentang arti raja di Indonesia diambil oleh negara-negara dan masyarakat pedalaman yang ekonominya berdasarkan sistem pertanian padi dengan irigasi di sawah-sawah11.
Versi lain mengatakan, bahwa kira-kira 1000 tahun SM sekelompok orang di Hindia Belakang meninggalkan daerah mereka ke arah selatan bahkan ke seberang lautan untuk mencari daerah baru. Mereka terdesak oleh Bangsa Mongol yang dikenal bengis dan mempunyai kemajuan teknologi yang lebih tinggi. Sebagian dari mereka datang dari utara menuju Samudra Pasai Aceh dan mendarat di Teluk Haru. Mereka terus ke arah tenggara hingga ke daerah Gayo. Sebagian dari mereka menetap disini dan menjadi suku bangsa yang disebut Gayo. Tempat mereka bermukim disebut Tanah Gayo. Sebagian lagi dari mereka terus melanjutkan perjalanan ke daerah yang lebih jauh ialah daerah Alas (Aceh Tenggara). Sebagian dari mereka menetap di sini dan menjadi suku bangsa yang disebut Alas. Daerah tempat tinggal mereka disebut tanah Alas.
Sebagian lagi dari kelompok imigran tersebut terus menuju ke pedalaman melewati perbukitan dataran tinggi Toba sekarang ini hingga ke daerah di kaki Pusuk Buhit di tepi Danau Toba. Di tempat ini mereka tinggal dan bermukim dan tempat pemukiman mereka disebut Sianjur Mulana atau Sianjur Mulamula di kaki Pusuk Buhit di tepi Danau Toba kira-kira 8 km arah barat kota Pangururan sekarang. Kelompok yang bermukim di Sianjur Mulamula ini kemudian menjadi
suku bangsa yang disebut Batak Toba. Daerah tempat tinggal mereka disebut tanah Batak. Karena itu Gayo dan Alas sering dimasukkan menjadi suku bangsa Batak yaitu Batak Gayo dan Batak Alas.
Apakah masuk dari Barus atau Teluk Haru dari Samudra Pasai Aceh, beberapa penulis Belanda maupun Batak mengemukakan bahwa sekelompok orang yang menjadi suku bangsa Batak di Sumatera berasal dari perbatasan Burma (sekarang disebut Miyanmar) dan Siam (sekarang disebut Thailand). Adapun Pendapat yang mengatakan bahwa suku Batak di Tapanuli berasal dari keturunan yang sama dengan suku Batak Palawan di Pilipina kurang didukung oleh fakta. Itu terlihat dari perbedaan cara hidup dan kebiasaan sehari-hari antara orang Batak Palawan di Filipina dengan orang Batak Tapanuli di Indonesia (lihat tabel 2.1) 12.
Leluhur suku bangsa Batak Tapanuli Indonesia yaitu Si Raja Batak lebih diyakini berasal dari atau setidaknya mereka memiliki rumpun yang sama dengan suku Karen yang hidup di perbatasan Burma (Miyanmar) dan Siam (Thailand) yang bermigrasi hingga ke tanah Batak. Itu karena dalam banyak hal suku ini mirip dengan orang Batak Toba di Tapanuli Sumatera Indonesia (Tabel 2.2)13.
Tabel 2.1: Perbedaanm Ciri Batak Tapanuli di Indonesia vs Batak Palawan Filipina.
Ciri-ciri Batak Tapanuli Indonesia Batak Palawan Filipina
Ras Melayu Tua Negrito
Rambut Lurus Keriting
Pemukiman Menetap di satu tempat pemukiman alias tidak suka berpindah-pindah
Pengembara atau berpindah-pindah Sumber
penghidupan
Bercocok tanam Berburu dan mengumpul-kan hasil hutan
Persediaan makanan
Menyimpan persediaan dalam lumbung
Mencari makanan untuk kebutuhan setiap hari Bentuk rumah Mendirikan rumah di atas
tiang balok kayu yang besar, kokoh, berat dan tinggi, menggunakan atap injuk, rumah melengkung seperti perahu.
Mendirikan rumah di atas tiang kayu atau bambu yang ringan,
menggunakan atap rumbia, rumah lurus panjang,
Pakayan tradisional pada abad 18
Terbuat dari kulit kayu Terbuat dari Ulos Cara ibu-ibu
membawa barang
Menggendong di punggung
Bahwa etnik Batak berasal dari perbatasan antara Burma-Siam dijelaskan oleh Batara Sangti sebagai berikut:
Apakala kita perhatikan dengan seksama fakta-fakta dan data sejarah dan kebudayaan Batak Toba dari segi asal bahasa, seni ukir dan lukis, adat istiadat, sistem kekeluargaan, pengetahuan alam, ilmu pertanian, ketataprajaan, falsafah hidup, kepercayaan dan lain sebagainya yang termasuk unik dan tersendiri; tidak sangsi lagi kita mengatakan, bahwa asal suku bangsa Batak Toba umumnya, terutama puak Batak Toba-tua khususnya, pastilah datang dari tanah pegunungan Burma yang berbatasan dengan tanah Thai (Siam), di mana pada suatu ketika telah berserak dari sana ke tanah Melayu sebelah Utara, dan setelah bermukim ditanah Melayu beberapa lama, lalu menyeberang ke kawasan Sumatera Utara.14
Jadi, ada beberapa bukti yang membenarkan pendapat bahwa kakek moyang dari masyarakat Batak berasal dari salah satu suku yang hidup di perbatasan Burma dan Siam. Bukti-bukti tersebut terkait dengan persamaan dari sejumlah ciri-ciri menyolok dalam kebudayaan yang bersangkutan yang disebut culture
area baik kebudayaan fisik, seperti: alat berburu, bertani, transpor, senjata,
ornamen perhiasan, pakaian, tempat kediaman atau pola perkampungan, dan seni musik; dan juga unsur-unsur kebudayaan yang lebih abstrak dari sistem sosial atau sistem budaya, seperti halnya organisasi kemasyarakatan, sistem perekonomian, upacara keagamaan, cara berfikir dan adat istiadat.15 Beberapa di antaranya adalah:
1. Di tanah pegunungan Burma-Siam, Kuta-kuta selalu didirikan di tempat-tempat strategis, dikelilingi pagar bambu di atas benteng yang dapat ditutup di waktu malam, agar supaya mudah dipertahankan pada setiap saat dari serangan
Tabel 2.2: Persamaan Ciri Suku Karen dan Suku Batak Toba Tapanuli 1. Menenun pakaian dengan alattenun dari kayu yang sangat sederhana 2. Pakaian dari
3. Mata Pencaharian Bertani dan beternak
4. Keluarga makan bersama dari sebuah piring besar dan menggunakan jari tangan
5. Makanan utama Nasi
6. Kebiasaan wanita dan pria makan sirih
7. Wanita mengerjakan semua jenis pekerjaan, sedangkan laki-laki tidak 8. Perkawinan menganut paham monogami
9. Mengutamakan anak laki-laki daripada perempuan 10. Menggendong anak di punggung
11. Mempunyai banyak tabu atau pantangan 12. Hapal semua hukum dan larangan 13. Percaya bahwa manusia memiliki roh
14. Secara teratur mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa agar panen melimpah dan dijauhkan dari marabahaya
musuh. Tidak ada obahnya dengan Kuta-kuta masyarakat Batak Toba-tua di kawasan Sumatera Utara.16
2. Bangsa Karen yang bermukim di pegunungan antara Burma (Myanmar) dan Siam (Thailand), sama dengan rumpun suku Batak Toba; sesuai dengan ya tipenya, ikat kepalanya, ya kainnya/ulosnya yang mirip dengan ulos ragi “bolean” Batak Toba dan memakai gelang gading gajah di lengannya seperti dahulu raja-raja Batak Toba memakainya.17 Adat istiadat mereka dan aksesoris pakaian yang dimiliki seperti pernik dan warna ulos mirip dengan pakaian Batak Toba.
3. Adanya hubungan musik Batak dengan musik Burma, yaitu gendang, umpamanya jelas tampak pada keseragamannya.18
Satu culture area merupakan suatu penggabungan atau penggolongan dari suku-suku bangsa yang dalam masing-masing kebudayaannya yang beraneka warna toh mempunyai beberapa unsur dan ciri-ciri menyolok serupa. Demikian suatu sistem penggolongan daerah kebudayaan sebenarnya merupakan suatu sistem klasifikasi yang mengklaskan beraneka warna suku bangsa yang tersebar di suatu daerah atau benua besar ke dalam golongan-golongan berdasarkan atas beberapa persamaan unsur dalam kebudayaannya. Berdasarkan apa yang disebut dalam antropologi sebagai culture area (wilayah kebudayaan), maka suku bangsa Batak ada kaitan dengan suku Karen yang tinggal di perbatasan antara Burma-Siam dapat dibenarkan19.
Gambar 2.1. Peta kediaman etnik Batak Toba
Baik mitologi maupun histori20, di antara keduanya tampak ada kesamaan yaitu bahwa nenek moyang orang “Batak Toba” pertama kali bermukim di Sianjur
Mulamula atau Sianjur Mulana”. Sianjur Mulana merupakan suatu daerah yang
terletak di sebelah barat lereng Dolok Pusuk Buhit (Gunung Pusuk Buhit) salah satu puncak di barat pinggir Danau Toba21 dengan ketinggian 2005 m di atas permukaan laut, di pegunungan Bukit Barisan kira-kira 8 Km dari Kota Pangururan, Kabupaten22 Samosir Sumatera Utara. Selama beberapa abad mereka tinggal di Sianjur Mulamula dan pergaulan mereka sangat terbatas dengan suku lain. Pada waktu itu etnik Toba masih menganut agama suku dan sistem pemerintahan bersifat kerajaan yang mandiri dalam bentuk harajaon huta,
harajaon horja, harajaon bius. Setelah mereka berdiam di daerah Sianjur
Mulamula dan sekitarnya selama beberapa abad, maka masuklah pengaruh dari luar. Pengaruh luar itu datang melalui daerah Barus sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan dunia untuk kapur barus dan kemenyan yang membawa budaya Hindu. Tetapi pertanyaan yang belum terjawab ialah kapan nenek moyang orang Batak tiba di Sianjur Mulamula atau sudah berapa tahun mereka menempati Sianjur Mulamula. Menggunakan silsilah untuk menentukan generasi untuk menghitung kapan nenekmoyang orang Batak Toba tiba di Sianjur Mulana kurang tepat digunakan karena berapa generasi silsilah juga tidak dapat dipastikan.