• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari daerah asal inilah kemudian orang Batak Toba tersebar ke desa na

ualu, atau delapan penjuru. Pertambahan jumlah penduduk bukan saja

menimbulkan permasalahan pada lahan pertanian, tetapi juga bagi perkampungan. Untuk itu warga dari satu huta mulai marserak atau bermigrasi ke daerah sekitar Toba. Marserak ialah menyebar keseluruh wilayah yang ada di sekitarnya yang dianggap belum ada pemiliknya dengan menjadikan daerah tersebut sebagai wilayah perkampungan dan pertanian. Tujuannya adalah untuk untuk memperbaiki ekonomi dan kesejaahteraan hidup, bahasa setempat disebut

padenggan ngolu32. Marserak dilakukan juga untuk tujuan memiliki harajaon

sendirinya menjadi marga sipungka huta didaerah tersebut dan mereka menjadi raja huta di huta yang didirikannya.

Marga yang pertama mendirikan huta menjadi pemilik huta dan keturunannya kelak yang akan menjadi pimpinan huta atau raja huta yang mengatur huta. Mereka berhak memerintah semua yang tinggal di huta yang didirikannya dan membuat kebijakan-kebijakan yang dibutuhkan. Huta merupakan wilayah kekuasaan dari marga pendiri. Huta yang mereka dirikan disebut juga golat dalam hukum kepemilikan tanah. Mereka yang memiliki disebut sebagai pargolat. Raja huta sebagai pargolat berhak memberikan tanah kepada anak-anaknya laki-laki atau perempuan atau marga pendatang sebagai marga penumpang dari marga boru. Untuk yang terakhir ini, mereka, apabila sudah tinggal selama lebih dari tiga generasi di huta marga tanah, dapat mendirikan satu huta sendiri di wilayah kampung marga tanah yang menjadi hula-hulanya. Sekalipun pendiri huta atau keturunannya meninggalkan huta yang didirikannya, huta dan tanah yang didirikanya itu tetap menjadi miliknya atau milik marganya. Marga mengukuhkan hak atas tanah yang didirikannya. Ini merupakan hak penguasaan tanah yang dipegang oleh marga atau kelompok suku. Karena itu migrasi Batak Toba dilakukan tidak hanya sekedar untuk mencapai

hagabeon dan hamoraon melainkan juga hasangapon. Hagabeon berkaitan

dengan banyak keturunan serta panjang umur dan sehat; hamoraon (kekayaan) berkenaan dengan pemilikan harta benda (ternak dan panen) yang melimpah dan sejahtera, sedangkan hasangapon (kemuliaan) berkenaan dengan pemilikan kekuasaan dan pangkat atau jabatan.

Orang Batak Toba percaya bahwa orang na gabe, na mora dan na sangap adalah pertanda lahiriah bahwa orang itu memiliki sahala, yaitu sahala hagabeon,

sahala hamoraon, dan sahala hasangapon. Sementara pertanda lahiriah bahwa sahala meninggalkan seseorang adalah menyusutnya jumlah kekuatan galur

karena rendahnya angka kelahiran dan tingginya angka kematian sebagai tanda tidak memiliki sahala hagabeon atau meninggalkannya; panen buruk, ternak sakit dan miskin sebagai tanda tidak memiliki sahala hamoraon atau meninggalkannya; serta kalah perang, tidak dihormati, tanpa jabatan sebagai tanda seseorang tidak memiliki sahala hasangapon atau meninggalkannya.

Dari Pusuk Buhit desa Sianjur Mulamula sebagai pusat asal leluhur Batak Toba inilah leluhur etnik Batak Toba menyebar atau bermigrasi ke daerah sekitarnya. Inilah migrasi pertama. Adapun pasogit lobu parserakan, atau desa tempat memencar cenderung terpolakan mengikuti kelompok marga33 Sumba dan Ilontungon dan Borbor. Marga-marga yang tergolong dalam Marga Sumba (keturunan dari Raja Isumbaon) menyebar di tiga wilayah:

1. Bius Patane Bale Onan Pangururan di daerah Samosir merupakan tempat migrasi bagi kelompok Tuan Sorba Di Julu keturunan dari Naiambaton (Bolontua, Tambatua, Saragitua, Muntetua).

2. Bius Patane Bale Onan Nagodang, di daerah Uluan tempat migrasi bagi kelompok Tuan Sorba ni Jae keturunan dari Nairasaon (Manurung, Sitorus, Sirait, Butar-butar).

3. Bius Patane Bale Onan Balige di daerah Baligeraja menjadi tempat migrasi bagi kelompok Tuan Sorba ni Banua keturunan dari Naisuanon (Bagotnipohan, Paettua, sementara Lahisabungan, Oloan dan Huta Lima kemudian meninggalkan tempat ini akibat perselisihan dengan Bagotnipohan).

Dengan demikian, Bius Patane Bale Onan Pangururan, Bius Patane Bale Onan Balige dan Bius Patane Bale Onan Nagodang menjadi bona atau tano

pasogit dan sekaligus menjadi lobu parserahan atau daerah tempat berserak dari

marga-marga keturunan kelompok Sumba yang disebut parpustaha Tumbaga Holing Torsa ni Harajaon. Sementara itu, marga-marga keturunan dari Guru Satia/Tatea Bulan atau Raja Ilontungon parpustaha laklak Raksa ni Hadatuon, sebagian tetap tinggal di Desa Sianjur Mulana dan sebagian lagi menyebar ke daerah lain. Lima anak Guru Tatea Bulan (1.Raja Biak-biak, 2.Sariburaja, 3.Limbong, 4.Sagala Raja, 5.Malau Raja) dan empat putri (1.Siboru Paromas, 2.Siboru Pareme, 3.Siboru Bidinglaut, 4.Siboru Nan Tonjo). Limbong, Sagala dan Malau tetap tinggal di Sianjur Mula-mula. Marga Limbong kemudian mendirikan desa yang baru yang dinamakan Huta Limbong sebagai bona atau

tano pasogit sedangkan keturunan marga Sagala mendirikan desa yang disebut

huta Sagala dan dianggap menjadi bona atau tano pasogit.

Dikemudian hari, raja Biak-biak maupun Sariburaja, keduanya pindah dari Sianjur Mula-mula. Menurut ceritera, Raja Biakbiak pergi ke daerah Aceh; sedangkan Sariburaja dan Siborupareme tinggal di Sabulan di daerah yang disebut Banuaraja. Mereka memiliki seorang anak bernama Raja Lontung Raja Lontung memiliki tujuh anak laki yaitu: Situmorang, Sinaga, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Siregar, Aritonang, dan dua anak perempuan yaitu Siboruamakpandan dan Siboru Panggabean. Mereka berserak ke banyak daerah. Situmorang dan Sinaga di daerah Palipi dan Urat, Pandiangan di daerah Onan Runggu, Nainggolan di daerah Nainggolan di Pulau Samosir. Sementara Simatupang, Siregar dan Aritonang ke daerah Muara. Jadi, semua etnik Toba pada awalnya menyebar dan tinggal di Daerah Toba. Tentang nama tempat “Toba”, Meerwaldt pada akhir abad ke-19 melaporkan pengamatannya sebagai berikut:

Sungguh mengherankan bahwa ketika berangkat dari selatan menuju utara Tanah-tanah Batak, semakin kita merasa mendekati Toba yang sesungguhnya, semakin Toba mundur menjauh. Di Angkola, istilah “Toba” menunjuk semua

yang ada di sisi seberang Sungai Aek Poli, berarti di sebelah utara lembah Sungai Batang Toru. Namun, begitu kita sampai di Sungai Aek Poli, kita mendengar bahwa “Toba” bermula di lembah Silindung. Penduduk Silindung sendiri menamakan “Toba” daerah yang ada di utara rantai pegunungan yang menutup lembah tersebut. Jika kita berjalan lebih jauh lagi dan tiba di dataran tinggi, kita disuruh melanjutkan sampai dilayah tepi danau. Baru di sanalah kita menemukan orang-orang yang menamakan tanah mereka “Toba” dan menyebut dirinya “halak Toba34.

Dari daerah Toba inilah etnik Batak Toba kemudian menyebar dan bermigrasi ke daerah sekitarnya yang lebih luas yaitu daerah Mandailing dan daerah Angkola. Disini mereka menjadi satu suku yang disebut suku Mandailing. Dalam pemerintahan Orde Baru wilayah Mandailing dan Angkola masuk daerah Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Tapanuli Selatan. Wilayah Toba masuk Daerah Kabupaten Tapanuli Utara. Tetapi di era reformasi, daerah ini direformasi atau dimekarkan menjadi 5 kabupaten sesuai dengan lima subetnik Batak Toba. Masing-masing dari etnik Batak Toba menempati suatu wilayah tertentu baik dalam peta Pemerintah Kolonialisme Belanda tahun 1930-an dan Pemerintahan Indonesia pasca otonomi daerah atau era orde reformasi (Tabel 2.4).

Toba Samosir menempati daerah Samosir (pada masa kolonialisme Belanda disebut Onderafdeeling35 Samosir), suatu daerah yang mencakup pulau Samosir dan daerah pantai barat Danau Toba, meliputi deratan lembah subur seperti Sagala, Limbong, Harianboho, Sihotang, Tamba, Sabulan, Janjiraja. Sementara Samosir merupakan tanah tandus berbatu-batu.

Toba Holbung menempati daerah Toba Holbung (pada masa kolonialisme Belanda disebut Onderafdeeling Toba), yang meliputi Balige dan Porsea dan sekitarnya dan merupakan daerah persawahan terluas yang berada di sepanjang garis pantai selatan Danau Toba.

Tabel 2.4: WilayahAadministratif Tanah Batak Toba

Etnik Toba Kolonialisme Belanda

Afdeeling Batak Tobalanden

Indonesia Pasca Orde Baru Daerah Kabupaten

• Samosir Onderafdeeling Samosir (Pangururan) Daerah Kabupaten Samosir dengan ibu kota Pangururan. • Holbung Onderafdeeling Toba (Balige) Kabupaten Toba Samosir dengan ibu kota Balige. • Humbang

Hoogvlankte van Toba

(Siborongborong).

Kabupaten Humbang-Habinsaran dengan ibu kota Dolok Sanggul

Toba Humbang menempati daerah Humbang (pada masa kolonialisme Belanda disebut Onderafdeeling Hoogvlankte van Toba). Daerah Humbang memiliki wilayah yang terdiri dari padang-padang luas dan pegunungan berhutan lebat. Hanya sedikit lahan untuk persawahan.

Toba Silindung menempati daerah Silindung (pada masa kolonialisme Belanda disebut Onderafdeeling Silindung). Daerah ini memiliki daerah persawahan kedua setelah Toba Holbung, termasuk persawahan hingga lembah subur Pahae. Wilayah ini sampai ke lembah-lembah di pantai Danau Toba, seperti Bakara dan Muara.

Jadi, tempat penyebaran utama dari etnik Batak Toba adalah Wilayah Toba yang meliputi Samosir, Holbung, Humbang dan Silindung. Dikemudian hari, orang Toba yang tinggal atau berasal dari Samosir disebut parsamosir, orang Toba yang tinggal di atau berasal dari Holbung disebut parholbung atau lebih sering disebut partobaholbung, orang Toba yang tinggal di atau berasal dari Humbang disebut parhumbang, dan orang Toba yang tinggal di atau berasal dari Silindung disebut parsilindung. Pada tahun 1820-an, sebelum missioner Jerman datang, beberapa wilayah sudah memiliki jumlah penduduk yang relatif besar dan sudah padat dihuni penduduk. Daerah Toba Silindung berisi 82 huta dengan penduduk antara 80.000 – 100.000 jiwa. Penduduk Toba Holbung lebih banyak lagi dan Toba Humbang masih di atasnya36. Pada pertengahan abad ke-19, sebelum kolonialisme Belanda menguasai daerah Toba, jumlah penduduk daerah Toba berkisar 200.000 jiwa. Pada tahun 1920 penduduk Tapanuli diperkirakan sebanyak 369.041 jiwa, dan tahun 1930 diperkirakan berjumlah 412.889 jiwa (Tabel 2.5).