BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 ASAM LEMAK SAWIT DESTILAT
Asam lemak pada umumnya bersifat reaktif terhadap oksigen dengan bertambahnya jumlah ikatan rangkap pada rantai molekul. Satu molekul oksigen bereaksi dengan ikatan jenuh menghasilkan oksida lemak dan secara simultan membebaskan atom oksigen aktif dimana oksigen aktif ini nantinya akan menyerang trigliserida [29]. Proses oksidasi tanpa melalui tahap pembentukan peroksida merupakan oksidasi langsung terhadap ikatan rangkap, sehingga menghasilkan peroksida siklis dan senyawa ini digolongkan dalam grup epoksida [21].
Asam Lemak Sawit Destilat merupakan derivate minyak nabati yang kurang dimanfaatkan disamping fraksi-fraksi lain seperti olein, stearate dan lain-lain dalam penggunaannya untuk aplikasi produk oleokimia. Oleh karena itu ASLD yang telah di transesterifikasikan menggunakan metanol menjadi metil erter asam lemak sawit destilat (ME-ASLD) dicoba diepoksidasikan secara enzimatis untuk mendapatkan senyawa epoksi menggunakan beberapa enzim lipaseimobilis seperti Rhizomicor miehei, Candida Antarctica, dan Carica papaya. Dimana dari ketika enzim tersebut merupakan enzim lipase hydrolase yang mampu mengkatalisis hidrolisa ikatan karbon [4].
Asam lemak sawit destilat merupakan hasil samping pada tahap refining dalam industri minyak goreng, ALSD yang dihasilkan berkisar 2,5-3,5 % dari minyak sawit yang diolah [30]. Komposisi asam lemak sawit destilat dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Proses Industri Kimia, Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih 5 bulan, April 2017 – Agustus 2017.
3.2 Bahan dan Peralatan 3.2.1 Bahan Penelitian
Bahan - bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Asam Lemak sawit Destilat (ALSD)
2. Toluena 3. Asam Asetat
4. Asam sulfat (H2SO4)
5. Hidrogen peroksida 30%
(H2O2)
6. Natrium tiosulfat (Na2S2O3) 7. Kloroform (CHCl3)
8. Amilum
9. Kalium Iodida 10% (KI) 10. Aquades (H2O)
11. Reagenwijs
3.2.2 Peralatan Penelitian dan Analisa
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Beaker glass
Pembuatan senyawa epoksi yang dilakukan dengan memodifikasi kinerja Sinaga (2005) yaitu bahan baku metil ester asam lemak sawit destilat yang dikristalisasi diganti dengan asam lemak sawit destilat tanpa kristalisasi dan pelarut heksana diganti dengan toluena. Dimana variabel tetap yaitu suhu reaksi, jumlah hidrogen peroksida (H2O2), jumlah pelarut toluena dan kecepatan pengadukan, dan variabel berubah yaitu waktu reaksi dan jumlah katalis reaksi epoksidasi. Berikut ini adalah Gambar 3.1 rancangan percobaan untuk dua variabel yang disusun dalam kombinasi perlakuan sebagai berikut:
6
Tahapan penelitian dilakukan secara bertahap sebagai berikut : 1. Preparasi Bahan Baku jenuh dari asam lemak sawit destilat. Pemisahan tersebut dilakukan dengan cara kristalisasi asam lemak sawit destilat dengan menggunakan pelarut methanol pada suhu 60oC dan lama waktu kristalisasi tertentu.
Metode kristalisasi ini didasarkan atas perbedaan kelarutan dari asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh di dalam pelarut organic pada suhu tertentu.
Metode ini diawali dengan melarutkan asam lemak sawit destilat dalam methanol dengan perbandingan 30 gram : 100 gram,
Asam lemak sawit destilat : Metanol 30 gram : 100 gram
kemudian didinginkan pada suhu 5oC selama 20 menit kemudian dipisahkan fraksi cair dari endapannya. Fraksi cair ini kemudian didinginkan kembali pada suhu 5oC selama 40 menit [31].
Endapan yang diperoleh banyak mengandung asam lemak jenuh, sedangkan filtratnya setelah pelarutnya diuapkan dengan rotary vacuum banyak mengandung asam lemak tidak jenuh.
Flowchart asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Flowchart Pemisahan Asam Lemak Jenuh dan Asam Lemak Tidak Jenuh Bahan baku untuk pembuatan senyawa epoksi
Asam lemak sawit destilat : Metanol
Didinginkan (pada suhu 5oC, 20 menit)
Dipisahkan, fraksi cair diambil
Didinginkan, 5oC, 40 menit
Dipisahkan
Fraksi Tidak Jenuh Fraksi Jenuh
Dievaporasi
3.4.2 Karakterisasi Bahan Baku
Analisa komposisi asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh pada asam lemak destilat sebagai bahan baku epoksi dilakukan dengan menggunakan gas kromatografi.
3.4.3 Reaksi Epoksidasi
Reaksi epoksidasi dimulai dengan menimbang asam lemak sawit destilat sebanyak 100 gram kemudian dimasukkan ke dalam labu leher tiga yang dilengkapi dengan refluks kondensor, thermometer dan magnetic stirrer dan Hot plate, selanjutnya ditambahkan toluena sebanyak 9,2ml yang digunakan sebagai pelarut, lalu ditambahkan asam asetat sebanyak 2,05 ml dan penambahan H2SO4 sebagai katalis yang divariasikan jumlahnya dan kemudian dipanaskan.
Setelah temperature campuran mencapai 50oC, kemudian ditambahkan hidrogen peroksida 30 persen sebanyak 14,81 ml secara perlahan-lahan temperature dipertahankan 50 oC selama penambahan hydrogen peroksida [12].
Setelah selesai penambahan hidrogen peroksida, campuran dipanaskan sesuai dengan suhu dan waktu yang ditentukan berdasarkan perlakuan percobaan. Diagram alir proses pembuatan senyawa epoksi dari asam lemak sawit destilat (ALSD) dapat dilihat pada gambar 3.1 dan 3.2.
3.4.4 Analisa Senyawa Epoksi
Analisa yang dilakukan terhadap senyawa epoksi adalah Analisa gugus fungsional senyawa epoksi dilakukan dengan Fourier Transform Infra Red (FTIR), analisa bilangan iodium (Iod) ditentukan dengan metode wijs [32].
3.4.4.1 Analisa Bilangan Iodium (Iod)
Sampel epoksi ditimbang sebanyak 0,5 gr kemudian dimasukan ke dalam erlenmeyer.
Larutkan minyak dengan 20 ml kloroform kemudian tambahkan 25 ml reagenwijs. Aduk
natrium tiosulfat yang digunakan dicatat untuk menghitung bilangan iodin sampel dengan menggunakan persamaan berikut :
Bilangan iod = (V2 – V 1)×N ×12,69
w [32]
Dimana : V1 : volume titrasi contoh uji, dinyatakan dalam mililiter.
V2 : volume titrasi blangko, dinyatakan dalam mililiter.
N : normalitas Na2S2O3.
W : berat contoh uji, dinyatakan dalam gram.
12,69 : bobot setara dari bilangan iod
3.5 Flowchart Percobaan
3.5.1 Flowchart Pembuatan Senyawa Epoksi dari Asam Lemak Sawit Destilat
Berikut adalah Flowchart pembuatan senyawa epoksi dari asam lemak sawit destilat.
Gambar 3.2 Flowchart Pembuatan Senyawa Epoksi dari Asam Lemak Sawit Destilat (ALSD) Mulai
Asam Lemak Sawit Destilat
Penambahan toluena 9,23 ml
Pengadukan 500 rpm
Penambahan asam Asetat 2,13 ml
Penambahan katalis H2SO4
Refluks
Penambahan Hidrogen Peroksida (H2O2) 30% 15,33 ml
+
Refluks hingga waktu yang ditentukan Selesai
3.6 Flowchart Analisa Senyawa Epoksi 3.6.1 Flowchart Analisa Bilangan Iodium (Iod)
Mulai
Dimasukkan sampel sebanyak 1 gr ke dalam erlenmeyer
Dilarutkan dengan pelarut kloroform
Ditambahkan 25 ml reagenwijs
Diaduk
Disimpan selama 1 jam diruangan yang gelap
Ditambahkan 20 ml KI dan 100 ml akuades
Dititrasi dengan natrium tioulfat 0,1 N
Apakah larutan sudah berwarna kuning pucat ?
A
Gambar 3.3 Flowchart Analisa Bilangan Iodium (Iod) Dicatat volume titran yang digunakan
Ditambahkan 2 ml amilum
Dititrasi dengan natrium tioulfat 0,1 N
Apakah larutan berwarna biru telah hilang ?
Dicatat volume titran yang digunakan
Selesai A
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penelitian Pendahuluan
4.1.1 Karakterisasi Bahan Baku Asam Lemak Sawit Destilat (ALSD)
Asam lemak sawit destilat (ALSD) terdiri dari asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Dalam pembuatan senyawa epoksi, bahan baku yang akan digunakan dianalisa terlebih dahulu komposisi asam lemaknya. Untuk dapat mengetahui komposisi asam lemak tidak jenuh dan asam lemak jenuh, maka bahan baku asam lemak sawit destilat (ALSD) dianalisis secara kromatografi gas. Pada lampiran LD.1 hasil analisa GC (Gas Chromatography) menunjukan komposisi asam lemak yang terkandung dalam asam lemak sawit destilat seperti terlihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Kandungan Asam Lemak Bahan Baku Asam Lemak Sawit Destilat (ALSD)
Jenis Asam Komponen Penyusun Komposisi (%)
- Asam Laurat C:12-0 0,2070
- Asam Miristat C:14-0 1,0278
Asam Lemak Jenuh Asam Palmitat C:16-0 44,3740
- Asam Stearat C:18-0 0,3055
- Asam Arakidat C:20-0 4,1780
Total 48,7864
- Asam Oleat C:18-1 38,9485
- Asam Linoleat C:18-2 9,3650
Asam Lemak Tak Jenuh Asam Gadoleat C:20-1 1,1123
- Asam Palmitoleinat C:16-1 0,1636
- Asam Linolenat C:18-3 0,3182
Total 51,2136
4.2 Proses Kristalisasi Bahan Baku Asam Lemak Sawit Destilat (ALSD)
Asam lemak sawit destilat (ALSD) terdiri dari asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh, kristalisasi dilakukan untuk memperoleh asam lemak tak jenuh yang lebih besar. Pemisahan dilakukan dengan menggunakan metode kristalisasi pelarut. Pelarut yang digunakan adalah metanol. Pada suhu 50C asam lemak tak
jenuh diperoleh dalam bentuk larutan, sedangkan asam lemak jenuh dalam bentuk endapan.
Larutan yang diperoleh dievaporasi untuk menghilangkan kandungan metanol, kemudian dianalisis menggunakan GC (Gas Chromatography) untuk mengetahui komposisinya. Hasil GC dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan dalam bentuk kromatogram disajikan pada Gambar LD.2.
Tabel 4.2 Komposisi Asam Lemak Sawit Destilat (ASLD) Setelah Proses Kristalisasi.
Jenis Asam Lemak No Komponen Penyusun Komposisi % (b/b) 1 Asam Laurat (C12:0) 0,22 dilihat bahwa setelah proses pretreatment, karakteristik asam lemak sawit destilat (ASLD) menjadi lebih baik. Hal ini terlihat dari kandungan asam lemak tak jenuh dari asam lemak sawit destilat yang meningkat. Dari hasil analisis gas kromatografi diperoleh kandungan asam lemak tak jenuh pada sampel asam lemak sawit destilat sebelum pretreatment adalah 51,2136% dan setelah pretreatment yaitu sebesar 68,97%. Hasil pretreatment tersebut selanjutnya digunakan sebagai bahan baku dalam proses epoksidasi.
Karakteristik bahan baku asam lemak sawit destilat sebagai bahan baku dalam pembuatan epoksi meliputi bilangan oksiran dan bilangan iodin dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3. Hasil Analisa Bahan Baku Asam Lemak Sawit Destilat (ALSD)
Parameter Hasil
Bilangan Oksigen Oksiran (%) 0,08 Bilangan iod (gI/ 100 g) 62,69
4.3 Analisis Fourier Transform Infra Red (FT-IR) Senyawa Epoksi
Analisa Fourier Transform Infra Red (FT-IR) pada senyawa epoksi dilakukan untuk mengidentifikasi gugus oksiran pada senyawa epoksi yang dihasilkan dengan konsentrasi katalis 2,5% dan waktu reaksi selama 120 menit pada suhu reaksi 700C dan kecepatan pengadukan 500 rpm. Dari analisis gugus fungsi menggunakan FT-IR diperoleh hasil spectrum dalam bentuk grafik yang dapat dilihat pada gambar 4.1.
Gambar 4.1 Hasil Analisis Fourier Transform Infra Red (FT-IR) Senyawa Epoksi
Hasil analisis FT-IR dari hasil reaksi epoksidasi menunjukkan bahwa pada konsentrasi katalis sebesar 2,5% dan waktu reaksi selama 120 menit menunjukkan
adanya gugus epoksi hidroksi dimana pita hidroksi ditunjukkan pada puncak 2921,89 cm-1 (ikatan O-H), ikatan alkil (ikatan C-H) 2853,04 cm-1 serta pita ester (C-O) 1708,30 cm-1 , sedangkan puncak pita oksiran (ikatan C-O-C) pada 1244,87 cm-1 dan 935,99 cm-1 (Lampiran D).
Menurut Kristianingrum menjelaskan bahwa ikatan O-H berada pada rentang 2500-2700 cm-1, ikatan C-H pada 2853-2962 cm-1, ikatan C-O-C pada 820-846 dan 1230-1270 cm-1, sementara ikatan C-O pada 1650 cm-1[33].
Hasil yang diperoleh telah sesuai dengan teori yang di kemukakan oleh kourosh saremi (2012) untuk senyawa epoksi dari minyak kacang keledai, yaitu pada bilangan gelombang sekitar 826 cm-1[34] Pada penelitian Nasution (2009), untuk senyawa epoksi dari metil ester asam lemak sawit destilat menggunakan katalis amberlite juga menghasilkan bilangan gelombang pada gugus epoksida sekitar 843 cm-1 dan 1247 cm-1[11]
4.4 Pembahasan
4.4.1 Hubungan Waktu dan konsentrasi Katalis Terhadap Bilangan Iodin Dibawah ini merupakan grafik hubungan waktu dan konsentrasi katalis terhadap bilangan iodin pada suhu reaksi 700C dan kecepatan pengadukan 500 rpm.
Gambar 4.2 Grafik Hubungan Waktu reaksi dan Konsentrasi Katalis terhadap Bilangan Iodin pada suhu reaksi 700C dan kecepatan pengadukan 500 rpm.
Pada Gambar 4.2 diatas dapat dilihat bahwa semakin lama waktu reaksi maka bilangan iod yang dihasilkan cenderung semakin menurun pada kelima variasi konsentrasi katalis yang dicoba yaitu 1,5%, 2,0%, 2,5%, 3,0% dan 3,5%. Pada gafik diatas dapat juga dilihat bahwa bilangan iodin yang rendah adalah pada konsentrasi katalis 3,5%. Penurunan bilangan iodin pada setiap konsentrasi katalis yang dicoba dapat dilhat pada tabel berikut. Bilangan iodin adalah untuk menentukan besarnya tingkat ketidakjenuhan suatu minyak / lemak, bilangan iodin sebanding dengan ketidakjenuhan suatu asam atau lemak, karena suatu bilangan iodin yang tinggi menunjukkan ketidakjenuhan minyak atau lemak yang tinggi, begitu juga sebaliknya, bilangan iodin yang rendah menunjukkan ketidakjenuhan suatu minyak atau lemak yang rendah pula [35]. Pada reaksi epoksidasi asam lemak sawit destilat terjadi pemutusan ikatan rangkap oleh asam peroksi untuk membentuk gugus oksiran [24]. Hasil yang telah diperoleh terjadi penurunan bilangan iodin, Dari hasil tersebut dapat disimpulkan selama reaksi berlangsung terjadi penurunan bilangan iod.
Berdasarkan Hasil penelitian diatas, semakin lama waktu reaksi maka bilangan iod yang dihasilkan cenderung menurun pada kelima variasi konsentrasi katalis yang di coba yaitu 1,5%, 2,0%, 2,5%, 3,0% dan 3,5%. Hasil penelitian tersebut telah sesuai dengan hasil yang dilaporkan oleh sinaga [24] bahwa bilangan iod pada reaksi epoksidasi dengan penambahan katalis cenderung mengalami penurunan dan hasil yang dilaporkan oleh ariatmi [23] pada semua kadar katalis, bilangan iod menurun dengan bertambahnya waktu reaksi. Pada penelitian ini didapat bilangan iod tertinggi sebesar 36,70 pada katalis 1,5% dan pada waktu reaksi 1 jam dan bilangan iod terendah adalah 13,89 pada katalis 3,5% pada waktu reaksi 5 jam.
4.4.2 Hubungan Waktu dan konsentrasi Katalis Terhadap Oksigen Oksiran Dibawah ini merupakan grafik hubungan waktu dan konsentrasi katalis terhadap oksigen oksiran pada suhu reaksi 70 0C dan kecepatan pengadukan 500 rpm.
Gambar 4.3 Grafik Hubungan Waktu dan Konsentrasi Katalis terhadap Oksigen Oksiran pada suhu reaksi 700C dan kecepatan pengadukan 500 rpm.
Pada Gambar 4.3 diatas dapat dilihat bahwa semakin lama waktu reaksi (60 jam sampai 180 menit ) dan bertambahnya konsentrasi katalis (1,5%, 2,0%,3,0% dan 3,5%) nilai oksigen oksiran meningkat dan pada waktu reaksi (240 sampai menit ke- 300) nilai oksigen oksiran menurun, hal ini dapat dilihat terutama pada konsentrasi katalis 1,5%. Pada grafik diatas dapat juga dilihat bahwa pada katalis 2,5% nilai oksigen oksiran meningkat dari menit 60 sampai menit ke- 120 kemudian pada waktu reaksi (180 menit – 300 menit) oksigen oksiran mengalami penurunan setelah penambahan katalis.
Semakin lama waktu reaksi, maka semakin besar pula nilai oksiran yang diperoleh wibowo [36] Tetapi setelah kondisi optimum tercapai, yaitu pada waktu reaksi 2 jam, terjadi penurunan bilangan oksiran [36]. Hal ini disebabkan dengan makin lamanya waktu reaksi, maka kesempatan reaktan untuk saling bertumbukan semakin besar yang mengakibatkan semakin besar peluang untuk terjadinya reaksi samping. Reaksi samping inilah yang dapat memicu terbukanya cincin oksiran yang berakibat turunnya nilai oksiran yang terkandung dalam epoksi. Hal ini menunjukkan
0.0
bahwa waktu reaksi yang lebih lama dari 3 jam tidak memberikan hasil bilangan oksiran yang lebih baik.
Kenaikan konsentrasi katalis cenderung menurunkan bilangan oksiran yang berarti ada kemungkinan terjadi reaksi samping sehingga cincin oksiran tidak terbentuk seluruhnya. Namun demikian bilangan oksiran pada semua konsentrasi katalis meningkat dengan penambahan waktu reaksi [5]. Peningkatan konsentrasi katalis menyebabkan reaksi pemutusan ikatan rangkap berlangsung lebih cepat, Semakin bertambahnya konsentrasi katalis menyebabkan peningkatan jumlah proton yang terdapat dalam media reaksi [37]. Proton ini akan mengaktivasi epoksi dan selanjutnya mengalami serangan nukleopilik seperti yang diperlihatkan pada mekanisme reaksi di bawah ini. Serangan nukleopilik ini akan semakin mudah dengan adanya asam lemak jenuh yang terdapat pada bahan baku [37].
Hasil penelitian tersebut telah sesuai dengan penelitian yang dilaporkan oleh [36] yang berbahan baku minyak jarak pagar, dimana dikatakan Semakin lama waktu reaksi, maka semakin besar pula nilai oksiran yang diperoleh, Tetapi setelah kondisi optimum tercapai, yaitu pada waktu reaksi 2 jam, terjadi penurunan bilangan oksiran.
Nilai oksigen oksiran yang rendah adalah pada konsentrasi katalis 3,5% pada waktu reaksi 60 menit yaitu sebesar 0,96% dan Nilai bilangan oksiran tertinggi yang diperoleh pada penelitian ini adalah 3,20%, pada konsentrasi katalis 2,5% pada waktu reaksi 120 menit.
4.4.3 Pengaruh Waktu dan Konsentrasi Katalis terhadap Konversi Oksigen Oksiran
Hubungan antara waktu reaksi dan konsentrasi katalis terhadap bilangan konversi pada suhu 70 ℃ dan kecepatan pengadukan 500 rpm dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.4 Hubungan antara Waktu Reaksi dan Konsentrasi Katalis terhadap Konversi Oksigen Oksiran pada suhu reaksi 70 ℃ dan Kecepatan Pengadukan 500 rpm
Berdasarkan Gambar 4.4 dapat dilihat bahwa semakin lama waktu reaksi (60, 120, 180 menit) maka konversi oksigen oksiran yang dihasilkan akan semakin tinggi pada variasi konsentrasi katalis yang dilakukan (1,5, 2,0, 3,0, dan 3,5%). Tetapi pada waktu reaksi (240-300 menit) terjadi penurunan konversi yang diperoleh.
Namun pada konsentrasi katalis 2,5 % terjadi kenaikan konversi oksigen oksiran pada waktu reaksi (60-120 menit) tetapi pada waktu reaksi (180, 240 dan 300 menit) terjadi penurunan konversi oksigen oksiran yang diperoleh.
Meningkatnya konversi disebabkan kesempatan molekul-molekul zat pereaksi untuk saling bertumbukan semakin luas seiring dengan bertambahnya waktu reaksi [23] sehingga diperoleh konversi minyak nabati yang semakin besar.
Selanjutnya mengalami penurunan bilangan oksiran, karena epoksidasi merupakan 0
reaksi bolak balik yang berpotensi untuk diikuti reaksi samping, sehingga epoksidasi sebaiknya dilakukan sesingkat mungkin [23]
Dilihat dari konsentrasi katalis yang digunakan, menurut [11] peningkatan konsentrasi katalis asam sulfat memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap konversi oksigen oksiran. Pada grafik dapat dilihat bahwa pada konsentrasi katalis 30
% konversi menurun, hal ini disebabkan oleh tinginya konsentrasi katalis yang digunakan.
Dimana pada grafik diatas terliat bahwa seiring dengan meningkatnya waktu maka konversi akan meningkat dan kemudian akan mengalami penurunan karena adanya reaksi bolak balik dan konsentrasi katalis yang terlalu tinggi akan menyebabkan konversi semakin kecil.
4.4.4 Hubungan Bilangan Iod dengan oksigen oksiran
Dibawah ini merupakan grafik hubungan Bilangan Iod dengan oksigen oksiran pada suhu reaksi 700C dan kecepatan pengadukan 500 rpm.
Gambar 4.5 Grafik Perbandingan Bilangan Iod dengan oksigen oksiran pada suhu reaksi 700C dan kecepatan pengadukan 500 rpm.
0
Berdasarkan Gambar 4.5 secara umum bertambahnya konsentrasi katalis maka akan terjadi penurunan bilangan iod dan oksigen oksiran meningkat namun setelah tercapai kondisi optimum (Waktu dan konsentrasi katalis) terjadi penurunan oksigen oksiran. Turunnya bilangan iod yang tidak diikuti dengan kenaikan nilai oksigen oksiran terjadi karena adanya degradasi gugus oksiran.
Keberhasilan reaksi epoksidasi dievaluasi melalui perhitungan bilangan iodin dan oksiran. Bilangan iod menunjukkan banyaknya jumlah ikatan rangkap (tidak jenuh) dalam minyak dan lemak. Bilangan iod juga sebagai indikator tingkat epoksidasi dimana bilangan iod akan mengalami penurunan seiring dengan semakin tingginya tingkat epoksi. Penurunan bilangan iodin disebabkan degredasi ikatan rangkap oleh senyawa asam peroksi menghasilkan senyawa epoksi [4]. Bilangan iodin merupakan ukuran ketidak jenuhan atau banyaknya ikatan rangkap pada asam lemak. Sementara itu, nilai oksiran merupakan ukuran banyaknya jumlah gugus oksiran (epoksi) yang terbentuk. Kedua nilai ini saling berkebalikan, semakin rendah nilai iod yang dihasilkan maka semakin tinggi nilai oksiran yang terbentuk [16], dimana pada grafik diatas terlihat bahwa bilangan iodin dan oksigen oksiran berbanding terbalik.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bilangan iod terendah yang didapat sebesar 13,89 gI2/100 g
2. Nilai oksigen oksiran optimum yaitu sebesar 0,96 % dengan kondisi optimum pada waktu 60 menit dan konsentrasi katalis 3,5 %
3. konversi tertinggi yaitu sebesar 81,61% dengan kondisi optimum pada waktu reaksi 120 menit dan konsentrasi katalis 2,5%
4. Keberhasilan reaksi ini ditunjukkan oleh nilai bilangan iod dan bilangan oksirannya, yang nilainya saling berkebalikan.
5.1 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan antara lain :
1. Untuk meningkatkan hasil yang diperoleh sebaiknya bahan baku yang digunakan di kristalisasi terlebih dahulu.
2. Penelitian berikutnya disarankan untuk mengganti jenis katalis dan pelarut yang digunakan untuk mendapatkan konversi oksigen oksiran yang lebih tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Kurniasih, Eka. 2008. Pemanfaatan Asam Lemak Sawit Distilat Sebagai Bahan Baku Dietanolamida Menggunakan Lipase (Rhizhomucor meihei). Tesis. Sekolah Pascasarjana. Universitas Sumatera Utara.
[2] Natthapon, S Dan S. Krit. 2015. Optimizaton Of Methyl Ester Production From Palm Fatty Acid Distilate Using Single-Step Esterification : Aresponse Surface Methodology Approach. ARPN Journal Of Engineering And Applied Sciences. Vol.10, No.16.
[3] Ramos Maria Jesus, Carmen Maria Fernande, Abraham Casas, Lourdes Rodrigus, Angel Perez. 2009. Influence of fatty acid composition of raw materials on biodiesel properties. Departament de Ingenieria Quinica. Instituto de Tecnologia Tecnologia y Mediaombiental, Universidad de Castilla-La Mancha. Spain.
[4] Tarigan, Azhar Ramadhani, 2009. Pembuatan senyawa epoksi dari metil ester asam lemak sawit destilat secara enzimatis. Universitas Sumatera Utara. Medan.
[5] Redjeki Athiek Sri dan Nurul Hidayati Fithriyah. 2015. Pembuatan Kadar Katalis Nikel dari Limbah Industri Elektroplating pada Besarnya Bilangan Oksiran dan Bilangan Iod dari Reaksi Epoksidasi Metil Oleat. Jurusan Teknik Kimia. Universitas Muhammadiyh. Jakarta.
[6] Shabiri Akhmad Nadji, Rizky Salaam Ritonga dan M. Hendra S.Ginting. 2014.
Pengaruh Rasio Epoksi/Ampas Tebu dan Perlakuan Alkali pada Ampas Tebu terhadap Kekuatan Bentur Komposit Partikel Epoksi Berpengisi Serat Ampas Tebu. Universitas Sumatera Utara. Medan
[7] Fiser, Snezana Sinadivonic., Milovan Jankovic dan Olga Boroto. 2012. ” Epoxidation of Castor Oil With Peratic Acid Formed In Situ In the Presence of An Ion Exchange Resin”. Chemichal Engineering and Processing. Vol 62 : 106-113.
[8] Rachmaniah Orchidea, Yi-Hsu Ju, Shaik Ramjan Vali Horn Jeng, dan Chau-Chin Lei. Biodiesel berbahan Baku Minyak Mentah Dedak Padi. Program Magister Jurusan Teknik Kimia, NTUST, Taiwan.
[9] Rachmaniah Orchidea , Yi-Hsu Ju dan Shaik Ramjan Vali. Potensi Minyak Mentah Dedak Padi sebagai Bahan Baku Pembuatan Biodiesel. Chemical Engineering Department, National Taiwan University of Science and Technology, 43 Sec.4 Keelung Rd., Taipei 106-107, TAIWAN.
[10] Nihul Pratiksha G , Shashank T. Mhaske dan Vikrant V. Shertukde. 2014.
Epoxidized rice bran oil (ERBO) as a plasticizer for poly(vinyl chloride) (PVC). Iran Polymer and Petrochemical Institute.
[11] Nasution Syawaluddin, 2009. Pembuatan Senyawa Epoksi dari Metil Ester Asam Lemak Sawit Destilat Menggunakan Katalis Amberlite. Universitas Sumatera Utara.
Medan
[12] Purwanto Edy, 2010. The Synthesis of Polyol from Rice Bran Oil (RBO) through Epoxidation and Hydroxylation Reactions. School of Chemical Engineering. The University of Adelaide
[13] Allundaru, Revina dan Sitio Tanty Wisley. “Studi Kinetika Reaksi Epoksidasi Minyak Sawit”. Skripsi. Jurusan Teknik Kimia. Fakultas Teknik. Universitas Diponegoro. 2010.
[14] Carlson, R.D, and S.P. Chang. Chemical Epoxidation of a Natural Unsaturated Epoxy Seed Oil From Verononia Galamensis and a Look at Epoxy Oil Market. JAOCS 62 (5): 924-939. 1985.
[15] Wibowo, Tri Yogo., Bayu Rusmandana., dan Astuti. Degradasi Cincin Oksiran dari Epoksi Asam Oleat dalam Suatu Sistem Reaksi Katalis Cair. Jurnal Teknologi Pertanian. Vol. 14. No. 1 hal : 29-34. 2013.
[16] Kinasih Norma A dan Adi Cifriadi. 2013. Perkembangan Riset dan Penggunaan Minyak Nabati Terepoksidasi sebagai Bahan Pemlastis Karet dan Plastik.
[17] Allundaru, Revina dan Sitio Tanty Wisley. “Studi Kinetika Reaksi Epoksidasi Minyak Sawit”. Skripsi. Jurusan Teknik Kimia. Fakultas Teknik. Universitas Diponegoro. 2010.
[18] Abdullah Syamsudin,. Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap Bilangan Hidroksil Pada
[18] Abdullah Syamsudin,. Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap Bilangan Hidroksil Pada