• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 PEMBAHASAN

4.4.1 Hubungan Waktu dan Konsentrasi Katalis Terhadap

terhadap bilangan iodin pada suhu reaksi 700C dan kecepatan pengadukan 500 rpm.

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Waktu reaksi dan Konsentrasi Katalis terhadap Bilangan Iodin pada suhu reaksi 700C dan kecepatan pengadukan 500 rpm.

Pada Gambar 4.2 diatas dapat dilihat bahwa semakin lama waktu reaksi maka bilangan iod yang dihasilkan cenderung semakin menurun pada kelima variasi konsentrasi katalis yang dicoba yaitu 1,5%, 2,0%, 2,5%, 3,0% dan 3,5%. Pada gafik diatas dapat juga dilihat bahwa bilangan iodin yang rendah adalah pada konsentrasi katalis 3,5%. Penurunan bilangan iodin pada setiap konsentrasi katalis yang dicoba dapat dilhat pada tabel berikut. Bilangan iodin adalah untuk menentukan besarnya tingkat ketidakjenuhan suatu minyak / lemak, bilangan iodin sebanding dengan ketidakjenuhan suatu asam atau lemak, karena suatu bilangan iodin yang tinggi menunjukkan ketidakjenuhan minyak atau lemak yang tinggi, begitu juga sebaliknya, bilangan iodin yang rendah menunjukkan ketidakjenuhan suatu minyak atau lemak yang rendah pula [35]. Pada reaksi epoksidasi asam lemak sawit destilat terjadi pemutusan ikatan rangkap oleh asam peroksi untuk membentuk gugus oksiran [24]. Hasil yang telah diperoleh terjadi penurunan bilangan iodin, Dari hasil tersebut dapat disimpulkan selama reaksi berlangsung terjadi penurunan bilangan iod.

Berdasarkan Hasil penelitian diatas, semakin lama waktu reaksi maka bilangan iod yang dihasilkan cenderung menurun pada kelima variasi konsentrasi katalis yang di coba yaitu 1,5%, 2,0%, 2,5%, 3,0% dan 3,5%. Hasil penelitian tersebut telah sesuai dengan hasil yang dilaporkan oleh sinaga [24] bahwa bilangan iod pada reaksi epoksidasi dengan penambahan katalis cenderung mengalami penurunan dan hasil yang dilaporkan oleh ariatmi [23] pada semua kadar katalis, bilangan iod menurun dengan bertambahnya waktu reaksi. Pada penelitian ini didapat bilangan iod tertinggi sebesar 36,70 pada katalis 1,5% dan pada waktu reaksi 1 jam dan bilangan iod terendah adalah 13,89 pada katalis 3,5% pada waktu reaksi 5 jam.

4.4.2 Hubungan Waktu dan konsentrasi Katalis Terhadap Oksigen Oksiran Dibawah ini merupakan grafik hubungan waktu dan konsentrasi katalis terhadap oksigen oksiran pada suhu reaksi 70 0C dan kecepatan pengadukan 500 rpm.

Gambar 4.3 Grafik Hubungan Waktu dan Konsentrasi Katalis terhadap Oksigen Oksiran pada suhu reaksi 700C dan kecepatan pengadukan 500 rpm.

Pada Gambar 4.3 diatas dapat dilihat bahwa semakin lama waktu reaksi (60 jam sampai 180 menit ) dan bertambahnya konsentrasi katalis (1,5%, 2,0%,3,0% dan 3,5%) nilai oksigen oksiran meningkat dan pada waktu reaksi (240 sampai menit ke- 300) nilai oksigen oksiran menurun, hal ini dapat dilihat terutama pada konsentrasi katalis 1,5%. Pada grafik diatas dapat juga dilihat bahwa pada katalis 2,5% nilai oksigen oksiran meningkat dari menit 60 sampai menit ke- 120 kemudian pada waktu reaksi (180 menit – 300 menit) oksigen oksiran mengalami penurunan setelah penambahan katalis.

Semakin lama waktu reaksi, maka semakin besar pula nilai oksiran yang diperoleh wibowo [36] Tetapi setelah kondisi optimum tercapai, yaitu pada waktu reaksi 2 jam, terjadi penurunan bilangan oksiran [36]. Hal ini disebabkan dengan makin lamanya waktu reaksi, maka kesempatan reaktan untuk saling bertumbukan semakin besar yang mengakibatkan semakin besar peluang untuk terjadinya reaksi samping. Reaksi samping inilah yang dapat memicu terbukanya cincin oksiran yang berakibat turunnya nilai oksiran yang terkandung dalam epoksi. Hal ini menunjukkan

0.0

bahwa waktu reaksi yang lebih lama dari 3 jam tidak memberikan hasil bilangan oksiran yang lebih baik.

Kenaikan konsentrasi katalis cenderung menurunkan bilangan oksiran yang berarti ada kemungkinan terjadi reaksi samping sehingga cincin oksiran tidak terbentuk seluruhnya. Namun demikian bilangan oksiran pada semua konsentrasi katalis meningkat dengan penambahan waktu reaksi [5]. Peningkatan konsentrasi katalis menyebabkan reaksi pemutusan ikatan rangkap berlangsung lebih cepat, Semakin bertambahnya konsentrasi katalis menyebabkan peningkatan jumlah proton yang terdapat dalam media reaksi [37]. Proton ini akan mengaktivasi epoksi dan selanjutnya mengalami serangan nukleopilik seperti yang diperlihatkan pada mekanisme reaksi di bawah ini. Serangan nukleopilik ini akan semakin mudah dengan adanya asam lemak jenuh yang terdapat pada bahan baku [37].

Hasil penelitian tersebut telah sesuai dengan penelitian yang dilaporkan oleh [36] yang berbahan baku minyak jarak pagar, dimana dikatakan Semakin lama waktu reaksi, maka semakin besar pula nilai oksiran yang diperoleh, Tetapi setelah kondisi optimum tercapai, yaitu pada waktu reaksi 2 jam, terjadi penurunan bilangan oksiran.

Nilai oksigen oksiran yang rendah adalah pada konsentrasi katalis 3,5% pada waktu reaksi 60 menit yaitu sebesar 0,96% dan Nilai bilangan oksiran tertinggi yang diperoleh pada penelitian ini adalah 3,20%, pada konsentrasi katalis 2,5% pada waktu reaksi 120 menit.

4.4.3 Pengaruh Waktu dan Konsentrasi Katalis terhadap Konversi Oksigen Oksiran

Hubungan antara waktu reaksi dan konsentrasi katalis terhadap bilangan konversi pada suhu 70 ℃ dan kecepatan pengadukan 500 rpm dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.4 Hubungan antara Waktu Reaksi dan Konsentrasi Katalis terhadap Konversi Oksigen Oksiran pada suhu reaksi 70 ℃ dan Kecepatan Pengadukan 500 rpm

Berdasarkan Gambar 4.4 dapat dilihat bahwa semakin lama waktu reaksi (60, 120, 180 menit) maka konversi oksigen oksiran yang dihasilkan akan semakin tinggi pada variasi konsentrasi katalis yang dilakukan (1,5, 2,0, 3,0, dan 3,5%). Tetapi pada waktu reaksi (240-300 menit) terjadi penurunan konversi yang diperoleh.

Namun pada konsentrasi katalis 2,5 % terjadi kenaikan konversi oksigen oksiran pada waktu reaksi (60-120 menit) tetapi pada waktu reaksi (180, 240 dan 300 menit) terjadi penurunan konversi oksigen oksiran yang diperoleh.

Meningkatnya konversi disebabkan kesempatan molekul-molekul zat pereaksi untuk saling bertumbukan semakin luas seiring dengan bertambahnya waktu reaksi [23] sehingga diperoleh konversi minyak nabati yang semakin besar.

Selanjutnya mengalami penurunan bilangan oksiran, karena epoksidasi merupakan 0

reaksi bolak balik yang berpotensi untuk diikuti reaksi samping, sehingga epoksidasi sebaiknya dilakukan sesingkat mungkin [23]

Dilihat dari konsentrasi katalis yang digunakan, menurut [11] peningkatan konsentrasi katalis asam sulfat memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap konversi oksigen oksiran. Pada grafik dapat dilihat bahwa pada konsentrasi katalis 30

% konversi menurun, hal ini disebabkan oleh tinginya konsentrasi katalis yang digunakan.

Dimana pada grafik diatas terliat bahwa seiring dengan meningkatnya waktu maka konversi akan meningkat dan kemudian akan mengalami penurunan karena adanya reaksi bolak balik dan konsentrasi katalis yang terlalu tinggi akan menyebabkan konversi semakin kecil.

4.4.4 Hubungan Bilangan Iod dengan oksigen oksiran

Dibawah ini merupakan grafik hubungan Bilangan Iod dengan oksigen oksiran pada suhu reaksi 700C dan kecepatan pengadukan 500 rpm.

Gambar 4.5 Grafik Perbandingan Bilangan Iod dengan oksigen oksiran pada suhu reaksi 700C dan kecepatan pengadukan 500 rpm.

0

Berdasarkan Gambar 4.5 secara umum bertambahnya konsentrasi katalis maka akan terjadi penurunan bilangan iod dan oksigen oksiran meningkat namun setelah tercapai kondisi optimum (Waktu dan konsentrasi katalis) terjadi penurunan oksigen oksiran. Turunnya bilangan iod yang tidak diikuti dengan kenaikan nilai oksigen oksiran terjadi karena adanya degradasi gugus oksiran.

Keberhasilan reaksi epoksidasi dievaluasi melalui perhitungan bilangan iodin dan oksiran. Bilangan iod menunjukkan banyaknya jumlah ikatan rangkap (tidak jenuh) dalam minyak dan lemak. Bilangan iod juga sebagai indikator tingkat epoksidasi dimana bilangan iod akan mengalami penurunan seiring dengan semakin tingginya tingkat epoksi. Penurunan bilangan iodin disebabkan degredasi ikatan rangkap oleh senyawa asam peroksi menghasilkan senyawa epoksi [4]. Bilangan iodin merupakan ukuran ketidak jenuhan atau banyaknya ikatan rangkap pada asam lemak. Sementara itu, nilai oksiran merupakan ukuran banyaknya jumlah gugus oksiran (epoksi) yang terbentuk. Kedua nilai ini saling berkebalikan, semakin rendah nilai iod yang dihasilkan maka semakin tinggi nilai oksiran yang terbentuk [16], dimana pada grafik diatas terlihat bahwa bilangan iodin dan oksigen oksiran berbanding terbalik.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bilangan iod terendah yang didapat sebesar 13,89 gI2/100 g

2. Nilai oksigen oksiran optimum yaitu sebesar 0,96 % dengan kondisi optimum pada waktu 60 menit dan konsentrasi katalis 3,5 %

3. konversi tertinggi yaitu sebesar 81,61% dengan kondisi optimum pada waktu reaksi 120 menit dan konsentrasi katalis 2,5%

4. Keberhasilan reaksi ini ditunjukkan oleh nilai bilangan iod dan bilangan oksirannya, yang nilainya saling berkebalikan.

5.1 Saran

Adapun saran yang dapat diberikan antara lain :

1. Untuk meningkatkan hasil yang diperoleh sebaiknya bahan baku yang digunakan di kristalisasi terlebih dahulu.

2. Penelitian berikutnya disarankan untuk mengganti jenis katalis dan pelarut yang digunakan untuk mendapatkan konversi oksigen oksiran yang lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Kurniasih, Eka. 2008. Pemanfaatan Asam Lemak Sawit Distilat Sebagai Bahan Baku Dietanolamida Menggunakan Lipase (Rhizhomucor meihei). Tesis. Sekolah Pascasarjana. Universitas Sumatera Utara.

[2] Natthapon, S Dan S. Krit. 2015. Optimizaton Of Methyl Ester Production From Palm Fatty Acid Distilate Using Single-Step Esterification : Aresponse Surface Methodology Approach. ARPN Journal Of Engineering And Applied Sciences. Vol.10, No.16.

[3] Ramos Maria Jesus, Carmen Maria Fernande, Abraham Casas, Lourdes Rodrigus, Angel Perez. 2009. Influence of fatty acid composition of raw materials on biodiesel properties. Departament de Ingenieria Quinica. Instituto de Tecnologia Tecnologia y Mediaombiental, Universidad de Castilla-La Mancha. Spain.

[4] Tarigan, Azhar Ramadhani, 2009. Pembuatan senyawa epoksi dari metil ester asam lemak sawit destilat secara enzimatis. Universitas Sumatera Utara. Medan.

[5] Redjeki Athiek Sri dan Nurul Hidayati Fithriyah. 2015. Pembuatan Kadar Katalis Nikel dari Limbah Industri Elektroplating pada Besarnya Bilangan Oksiran dan Bilangan Iod dari Reaksi Epoksidasi Metil Oleat. Jurusan Teknik Kimia. Universitas Muhammadiyh. Jakarta.

[6] Shabiri Akhmad Nadji, Rizky Salaam Ritonga dan M. Hendra S.Ginting. 2014.

Pengaruh Rasio Epoksi/Ampas Tebu dan Perlakuan Alkali pada Ampas Tebu terhadap Kekuatan Bentur Komposit Partikel Epoksi Berpengisi Serat Ampas Tebu. Universitas Sumatera Utara. Medan

[7] Fiser, Snezana Sinadivonic., Milovan Jankovic dan Olga Boroto. 2012. ” Epoxidation of Castor Oil With Peratic Acid Formed In Situ In the Presence of An Ion Exchange Resin”. Chemichal Engineering and Processing. Vol 62 : 106-113.

[8] Rachmaniah Orchidea, Yi-Hsu Ju, Shaik Ramjan Vali Horn Jeng, dan Chau-Chin Lei. Biodiesel berbahan Baku Minyak Mentah Dedak Padi. Program Magister Jurusan Teknik Kimia, NTUST, Taiwan.

[9] Rachmaniah Orchidea , Yi-Hsu Ju dan Shaik Ramjan Vali. Potensi Minyak Mentah Dedak Padi sebagai Bahan Baku Pembuatan Biodiesel. Chemical Engineering Department, National Taiwan University of Science and Technology, 43 Sec.4 Keelung Rd., Taipei 106-107, TAIWAN.

[10] Nihul Pratiksha G , Shashank T. Mhaske dan Vikrant V. Shertukde. 2014.

Epoxidized rice bran oil (ERBO) as a plasticizer for poly(vinyl chloride) (PVC). Iran Polymer and Petrochemical Institute.

[11] Nasution Syawaluddin, 2009. Pembuatan Senyawa Epoksi dari Metil Ester Asam Lemak Sawit Destilat Menggunakan Katalis Amberlite. Universitas Sumatera Utara.

Medan

[12] Purwanto Edy, 2010. The Synthesis of Polyol from Rice Bran Oil (RBO) through Epoxidation and Hydroxylation Reactions. School of Chemical Engineering. The University of Adelaide

[13] Allundaru, Revina dan Sitio Tanty Wisley. “Studi Kinetika Reaksi Epoksidasi Minyak Sawit”. Skripsi. Jurusan Teknik Kimia. Fakultas Teknik. Universitas Diponegoro. 2010.

[14] Carlson, R.D, and S.P. Chang. Chemical Epoxidation of a Natural Unsaturated Epoxy Seed Oil From Verononia Galamensis and a Look at Epoxy Oil Market. JAOCS 62 (5): 924-939. 1985.

[15] Wibowo, Tri Yogo., Bayu Rusmandana., dan Astuti. Degradasi Cincin Oksiran dari Epoksi Asam Oleat dalam Suatu Sistem Reaksi Katalis Cair. Jurnal Teknologi Pertanian. Vol. 14. No. 1 hal : 29-34. 2013.

[16] Kinasih Norma A dan Adi Cifriadi. 2013. Perkembangan Riset dan Penggunaan Minyak Nabati Terepoksidasi sebagai Bahan Pemlastis Karet dan Plastik.

[17] Allundaru, Revina dan Sitio Tanty Wisley. “Studi Kinetika Reaksi Epoksidasi Minyak Sawit”. Skripsi. Jurusan Teknik Kimia. Fakultas Teknik. Universitas Diponegoro. 2010.

[18] Abdullah Syamsudin,. Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap Bilangan Hidroksil Pada Pembentukan Polyol Dari Epoksidasi CPO Dan CURCAS OIL. Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta. KONVERSI Vol. 1 No. 1 April 2012.

[19] Purnama Herry , Tri Yogo Wibowo , Novita Widiana dan Kiswari Diah Puspita.

2013. Pengaruh Rasio Mol Peroksida dan Pers entase Katalis pada Epoksidasi Metil Oleat dengan Katalis Padat. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

[20] Goud, V.V., Patwardhan, A.V., and Pradhan N.C. Studies on the Epoxidation of Mahua Oil (Madhumica Indica) by Hydrogen Peroxide. Bioresour Technol. 2006.

[21] Krik dan othmer. 1998. Encyclopedia of Chemical Technology. 4th Edition New York : John Wiley dan Sous, Inc

[22] Gan Tianyi 1#, Xuemei Zhao1#, Yan Huang1,Yuhui Zhang1*, Enming Qing2, Hui li3, Yingxian Sun4, Lin Zhang5, Xiaojuan Bai6, Wenxian Liu2, Yinong Jiang7, Peng Qu8, Bingqi Wei1, Qiong Zhou1, Shiming Ji1 and Jian Zhang1. A Comparison of Haemodynamic Effects and Safety between Domestic Levosimendan versus Dobutamine for Hospitalized Patients with Acute Decompensated Heart Failure. Department of Cardiology, Second Affiliated Hospital of Dalian Medical University, Dalian, China.2016

[23] Ariatmi Ratri, Djumali Mangunwidjaja, Ani Suryani, Machfud dan Sudradjat.

Optimasi Proses dan Kinetika Reaksi Epoksidasi Minyak Jarak Pagar dengan Hidrogen Peroksida. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan: Bogor.2013.

[24]Sinaga, Mersi S. Pengaruh Katalis H2SO4 pada Reaksi Epoksidasi Metil Ester PFAD (Palm Fatty Acid Distilate). Universitas Sumatera Utara. 2007.

[25] Mungroo, Pardhan, N.C., Goud VV, and Dalai, A.K. Epoxidation of Canola Oil Cholesterol Ratio is Influenced More Favorably by Exchanging Saturated with Unsaturated Fat than by Reducing Saturated Fat in The Diet of Women. J Nutr. 2003.

[29] Ketaren, S. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI-Press. Jakarta.

1986.

[30] de Roos NM, Bots ML, Katan MB. Replacement of Dietary Saturated Fatty Acids by Trans Fatty Acids Lowers Serum HDL Cholesterol and Impairs Endothelial Function in Healthy Men and Women. Arterioscler Thromb Vasc Biol. 2001;21(7):1233-7. 2001.

[31] Almatsier S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama .p.52-76.

2001.

[32] Setyawardhani, Dwi A., Sperisa Distantina, Hary Sulistyo, Suprihastuti Sri Rahayu.

Pemisahan Asam Lemak Tak Jenuh dalam Minyak Nabati dengan Ekstraksi Pelarut dan Hidrolisa Multistage. Teknik Kimia. UNS dan UGM. 2007.

[33] Kristianigrum, Susila dan Hardayani, Sri. 2005. “Penentuan Angka Iod Minyak Jagung dan Minyak Kelapa Sawit dengan Metode Wijs dan Hanus”. Jurnal Kimia.

No.3. Tahun 2005. ISSN 1412-8691.

[34] Kouroosh Saremi; Taghi Tabarsa; Alireza Shakeri; and Ahmad Babanalbandi.

Epoxidation of Soybean Oil. Scholars Research Library. ISSN 0976-1233 CODEN (USA): ABRNBW. (http://scholarsresearchlibrary.com/ archive.html). Annals of Biological Research, 2012, 3 (9) : 4254-4258. 2012.

[35] Ningsih Ernita, Penentuan Kadar Bilangan Iodin Dari RBD PALM OLEIN Dengan Metode Pelarut Campuran N-HEKSANA_ASAM ASETAT Dan Pelarut Campuran SIKLOHEKSANA-ASAM ASETAT. Depatemen Kimia, Program Studi Diploma 3 Kimia Analisa, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara. Medan. 2008.

[36] Wibowo Tri Yogo, Rusmandana Bayu, Astuti. Degradasi Cincin Oksiran DariEpoksi Asam Oleat Dalam Suatu Sistem Reaksi Katalis Cair. Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 14 No. 1 [April 2013].

[37] Sudarmaji S, Haryono b dan Suhardi, 1997. Analisys procedure for foodand Agricultural materials, 4th , edn, Liberty, Yogyakarta

[38] G Siggia S, 1963. Quantitative Organic Analisys, 3th edn, John Wiley & Sons, Inc , New York

LAMPIRAN A

LA.2 Bilangan Iod Dan Bilangan Oksiran Bahan Baku Asam Lemak Sawit Destilat Tabel L1.2 Hasil Analisa Bahan Baku Asam Lemak Sawit Destilat (ALSD)

Parameter Hasil

Bilangan Oksigen Oksiran (%) 0,08

Bilangan iod (gI/ 100 g Oil) 62,69

LAMPIRAN B DATA PENELITIAN

LB.1 DATA BILANGAN IOD SENYAWA EPOKSI

Hasil analisis bilangan iod dari senyawa epoksi yang diperoleh dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut pada tabel LB.1

Tabel LB.1 Hasil Analisis Bilangan iod Senyawa Epoksi

No Katalis

LB.2 DATA BILANGAN OKSIRAN SENYAWA EPOKSI

Hasil analisis bilangan Oksiran dari senyawa epoksi yang diperoleh dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut pada tabel LB.2

Tabel LB.2 Hasil Analisis Bilangan Oksiran Senyawa Epoksi

No Katalis

LB.3 DATA KONVERSI SENYAWA EPOKSI

Hasil analisis konversi dari senyawa epoksi yang diperoleh dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut pada tabel LB.3

LAMPIRAN C

CONTOH PERHITUNGAN

LC.1 PERHITUNGAN BAHAN

Dibawah ini adalah perhitungan bahan yang dibutuhkan pada saat reaksi epoksidasi,

 𝑛 𝐴𝑠𝑎𝑚 𝑂𝑙𝑒𝑎𝑡 =(0,5492)(20)

maka total mol asam lemak sawit destilat = 0,0716 mol 2. Kebutuhan Acetid Acid

Perbandingan rasio asam astetat dengan bahan baku= 0,5:1

 Asam asetat glacial (100%),

Mol Hidrogen peroksida dengan bahan baku = 2 :1

 Hidrogen peroksida (30%)

BM = 34,01 dan densitas (ρ) = 1,10g/ml

Mol hidrogen peroksida = (2)(0,0716)= 0,14 mol Massa hidrogen peroksida = (0,14)(34,01) = 4,76 gram Massa larutan hidrogen peroksida = 100

30 (4,76) = 15,87 𝑔𝑟𝑎𝑚 Volume hidrogen peroksida = 15,87/1,10 = 14,43 ml

4. Kebutuhan Toluena

Massa katalis divariasikan (1,5: 2,0: 2,5: 3,0 dan 3,5%) dari total massa hidrogrn peroksida dan asam asetat

Bilangan iodin didapatkan dengan menggunakan persaman sebagai berikut:

Bilangan iod = (V2 – V 1)× N ×12,69

w [38]

Dimana : V1 : volume titrasi contoh uji, dinyatakan dalam mililiter, V2 : volume titrasi blangko, dinyatakan dalam mililiter, N : normalitas Na2S2O3,

W : berat contoh uji, dinyatakan dalam gram, 12,69 : bobot setara dari bilangan iod

Untuk Run 1: V1 = 44,80 ml, V2 = 45,10 ml W= 0,50 g

N = 0,092

Bilangan iod = (30,50 – 44,95)× 0,092 ×12,69

0,50 = 36,70

Untuk run selanjutnya analog seperti rumus di atas

Tabel LC.2 Hasil Analisis Bilangan Iod Senyawa Epoksi

No Katalis

LC.3 PERHITUNGAN OKSIRAN OKSIRAN

Bilangan oksiran dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

% 𝑂𝑘𝑠𝑖𝑔𝑒𝑛 𝑂𝑘𝑠𝑖𝑟𝑎𝑛 =𝑉𝑏−𝑉𝑠 𝑥 𝑁 𝑥 16 𝑥 100 Untuk run selanjutnya analog seperti rumus di atas

Tabel LC.3 Hasil Analisis Bilangan Oksiran Senyawa Epoksi

No Katalis

18 3,0 3 2,24

Oksigen Oksiran teoritis dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut

Dimana : Bil,iod bahan baku = 62,69

Mr (I2) = 126,9 g/mol Mr (O2) = 16 g/mol

 Konversi Oksigen Oksiran

Untuk Run 1 : oksigen oksiran praktek = 1,44 𝑂𝑘𝑠𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑂𝑘𝑠𝑖𝑔𝑒𝑛 𝑇𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 =

Konversi oksigen oksiran =Oksiran Oksigen teoritis−Oksiran Oksigen Praktek

Oksiran Oksigen teoritis x 100 %

Konversi oksigen oksiran =3,92−1,443,92 x 100 % = 36,73 %

Untuk run selanjutnya analog seperti rumus di atas

LAMPIRAN D

HASIL ANALISIS BAHAN BAKU DAN SENYAWA EPOKSI

LD.1 HASIL ANALISIS KOMPONEN ASAM LEMAK

Gambar LD.1 Hasil Analisis Komponen Asam Lemak

LD.2 HASIL ANALISIS GUGUS FUNGSI ASAM LEMAK SAWIT DESTILAT

Gambar LD.2 Hasil Analisis Gugus Fungsi Asam Lemak Sawit Destilat

LD.3 HASIL ANALISIS GUGUS FUNGSI SENYAWA EPOKSI

Gambar LD.3 Hasil Analisis Gugus Fungsi Senyawa Epoksi

LAMPIRAN E

DOKUMENTASI PENELITIAN

LE.1 Gambar Pemisahan Asam Lemak Jenuh Dan Asam Lemak Tak Jenuh

Gambar LE-1 Pemisahan Asam Lemak Jenuh Dan Asam Lemak Tak Jenuh

LE.2 Gambar Bahan Baku Asam Lemak Sawit Destilat

Gambar LE.2 Bahan Baku Asam Lemak Sawit Destilat

LE.3 Gambar Proses Reaksi Epoksidasi

Gambar LE.3 Proses Reaksi Epoksidasi

LE.4 Gambar Proses Pencucian Hasil Reaksi Epoksidasi

Gambar LE.4 Proses Pencucian Hasil Reaksi Epoksidasi

LE.5 Gambar Analisa Bilangan Iod

Gambar LE.5 Analisa Bilangan Iod

LE.6 Gambar Analisa Bilangan Oksiran Oksigen

Gambar LE.6 Analisa Bilangan Oksiran Oksigen

LE.7 Gambar Produk Senyawa Epoksi

Gambar LE.7 Produk Senyawa Epoksi

Dokumen terkait