BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Jaminan Hutang Dalam
5. Asas hukum dalam pengurusan piutang negara
Asas-asas hukum dalam pelaksanaan sistem pengurusan piutang negara oleh Soleman Mantayborbir dan Iman Jauhari, antara lain:26
a) Asas kepercayaan
Seseorang dapat mengadakan perjanjian dengan pihak lain, karena adanya saling mempercayai di antara kedua belah pihak itu bahwa satu sama lain akan memegang teguh janjinya, dengan kata lain akan memenuhi prestasinya di kemudian hari. Tanpa adanya kepercayaan itu, maka perjanjian itu tidak akan mungkin diadakan.
b) Asas kepribadian
Asas ini, mempunyai arti bahwa perjanjian hanya dapat mengikat bagi para pihak yang membuat perjanjian tersebut, pengecualian dapat diatur dalam Pasal 1317 KUH Perdata yang menyebutkan bahwa lagipun diperbolehkan juga untuk meminta ditetapkannya suatu janji guna kepentingan seorang pihak ketiga apabila suatu penetapan janji yang dibuat oleh seorang untuk dirinya sendiri atau suatu pemberian yang dilakukannya kepada seorang lain, memuat suatu janji yang seperti itu.
c) Asas konsensualisme (persesuaian kehendak)
Sandra Irani : Kajian Hukum Terhadap Pembatalan Eksekusi Lelang Jaminan Hutang Kebendaan Milik Penanggung
26
S. Mantayborbir dan Iman Jauhari, Hukum Lelang Negara di Indonesia, Penerbit Pustaka Bangsa Press, Jakarta, 2003, hal. 203-206
Asas ini, sangat erat kaitannya dengan asas kebebasan dalam mengadakan perjanjian, dimana di antara kedua belah pihak harus terjadi kesepakatan. d) Asas kehati-hatian
Asas ini, menghendaki bahwa para pihak dalam membuat suatu perjanjian harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, dalam hal ini, antara penjual dengan pihak pembeli.
e) Asas bargaining position
Asas ini, memberikan gambaran yang objektif, dimana penjual/ pemohon lelang berada pada kondisi sebagai institusi negara sedangkan pembeli atau peminat lelang sebagai warga masyarakat berada pada posisi yang lemah dalam melakukan suatu perbuatan hukum.
f) Asas bargaining power
Asas ini, berlaku terhadap para pihak yang mengadakan suatu perjanjian/ perbuatan hukum, dimana pihak pemohon/penjual dalam mengadakan perjanjian selalu berada pada posisi yang kuat karena sebagai institusi negara maupun karena kewenangannya dalam melaksanakan tugas negara. Sedangkan pembeli lelang atau peminat lelang berada pada posisi yang lemah. Dengan perkataan lain bahwa para pihak dalam membuat suatu perjanjian berlandaskan kepada kebebasan dan di antara kedua belah pihak harus terjadi kesepakatan serta terjadi penyesuaian kehendak.
g) Asas kekuatan mengikat
Asas ini, adalah bahwa terikatnya para pihak pada suatu perjanjian tidak semata-mata terbatas pada apa yang diperjanjikan, akan tetapi terhadap beberapa hal lain sepanjang yang dikehendaki oleh kebiasaan dan kepatuhan serta moral.
h) Asas beritikad baik
Asas ini berlaku terhadap pihak penjual dan pihak pembeli lelang, dan dalam mengadakan suatu perjanjian harus dilakukan dengan sepenuh hati dalam artian berkarakter baik dan jujur sebagai dasar dan atau landasan yang kuat dalam menciptakan dan mewujudkan suatu perjanjian.
i) Asas public policy
Asas ini, memberikan gambaran yang jelas bahwa penjual/pejabat lelang dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai suatu institusi atau lembaga negara senantiasa menerapkan kebijaksanaan umum terhadap seorang warga negara/pembeli dalam melakukan suatu perbuatan hukum.
j) Asas kepatutan
Asas ini, berkaitan dengan ketentuan mengenai isi perjanjian. Melalui asas ini ukuran tentang hubungan hukum itu ditentukan juga oleh rasa keadilan masyarakat, terutama terhadap nasabah debitur itu sendiri dalam menyelesaikan kewajibannya.
k) Asas horisontal
Asas ini, menghendaki bahwa para pihak dalam membuat dan mengadakan suatu perjanjian mempunyai kedudukan yang sama dan seimbang, terutama hak dan kewajiban.
l) Asas keadilan
Asas ini, menghendaki bahwa para pihak dalam membuat suatu perjanjian/ perbuatan hukum harus dilaksanakan secara lebih baik, benar, jujur, adil dalam bertindak dan berbuat.
m) Asas otoritas
Asas ini, merupakan tindakan hukum dari suatu institusi yang tugasnya dapat mempengaruhi dan mengikat seluruh warga masyarakat termasuk pembeli lelang.
n) Asas transparan
Asas ini, memberikan suatu landasan hukum bagi para pihak di dalam suatu perjanjian dan harus dilakukan secara terbuka dan atau transparan bagi para pihak yang membuat perjanjian.
o) Asas kepastian hukum
Asas ini, merupakan suatu perbuatan hukum dalam suatu perjanjian yang mengandung prinsip kepastian hukum. Kepastian hukum ini terungkap dari kekuatan mengikat di dalam suatu perjanjian, yaitu sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.
p) Asas moral
Asas ini, merupakan suatu perbuatan hukum bagi para pihak dalam membuat suatu perjanjian yang dilakukan dengan etika dan moral.
q) Asas kesadaran hukum
Asas ini, menghendaki bahwa bagi para pihak yang membuat suatu perjanjian harus dilakukan dengan penuh kesadaran hukum.
r) Asas accountability
Asas ini, menghendaki bahwa para pihak di dalam melakukan suatu perjanjian atau perbuatan hukum harus dapat dipertanggung-jawabkan.
s) Asas dalam hukum kontrak atau perjanjian
Asas ini menghendaki bahwa para pihak di dalam melakukan suatu kontrak/ perbuatan hukum harus berlandaskan kepada hukum perjanjian.
t) Asas perlindungan kepentingan umum
Asas ini menghendaki bahwa bagi para pihak yang membuat suatu perjanjian harus memperhatikan kepentingan umum.
u) Asas motivasi terhadap setiap keputusan.
Asas ini, menghendaki bahwa institusi/penguasa di dalam melakukan sesuatu tindakan/perbuatan hukum, terutama terhadap pelaksanaan tugas operasional, senantiasa konsekuen dan konsisten terhadap keputusan yang telah ditetapkan.
v) Asas penyalahgunaan kekuasaan
Asas ini menghendaki, bahwa para pihak di dalam membuat suatu perjanjian atau perbuatan hukum harus memperhatikan norma etika hukum sehingga tidak terjadi benturan hukum.
w) Asas efisiensi dan efektifitas
Asas ini menghendaki, bahwa para pihak di dalam melakukan sesuatu perjanjian/perbuatan hukum harus dilakukan secara tepat guna dan berhasil guna.
x) Asas kebijaksanaan (principle of the wise)
Asas ini menghendaki, bahwa para pihak di dalam melakukan sesuatu perjanjian/perbuatan hukum harus dilakukan dengan penuh rasa keadilan dan bijaksana.
y) Asas dalam hukum jaminan
Asas ini, menghendaki bahwa para pihak dalam membuat suatu perjanjian/ perbuatan hukum untuk memperoleh sesuatu fasilitas kredit diharuskan untuk memberikan sesuatu jaminan kebendaan demi pengamanan di masa mendatang.
z) Asas parate eksekusi
Asas ini menghendaki bahwa para pihak yang membuat perjanjian/ perbuatan hukum merupakan tindakan hukum yang sudah final dan mengikat seluruh warga masyarakat Indonesia termasuk badan peradilan.