BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pelaksanaan Pembatalan Eksekusi Lelang terhadap
Pengurusan Piutang Negara Macet
Dalam pelaksanaan pembatalan eksekusi lelang terdapat pihak-pihak yang telah ditentukan untuk dapat mengajukan permohonan pembatalan eksekusi lelang. Adapun yang dapat mengajukan permohonan pembatalan eksekusi lelang adalah Pemohon Lelang dan atau Pengadilan, dengan penjelasan sebagai berikut :
a. Dalam hal ini lelang eksekusi PUPN maka yang mengajukan permohonan pembatalan adalah Kepala KP2LN/Kepala seksi Piutang Negara,
b. Dalam hal ini lelang eksekusi Hak Tanggungan maka yang mengajukan permohonan pembatalan adalah Pemegangh Hak Tanggungan/Pemohon eksekusi (Bank yang bersangkutan atau pengadilan),
c. Dalam hal pembatalan karena adanya penetapan/keputusan dari pengadilan maka yang mengajukan adalah pengadilan yang bersangkutan.
Menurut Pasal 14 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 40/PMK.07/2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, pelaksanaan pembatalan eksekusi lelang dapat dilakukan sebagai berikut:
(1)Lelang yang akan dilaksanakan hanya dapat dibatalkan dengan
putusan/penetapan Lembaga Peradilan atau atas permintaan Penjual.
(2)Pembatalan lelang dengan putusan/penetapan Lembaga Peradilan disampaikan secara tertulis dan harus sudah diterima oleh Pejabat Lelang paling lambat 1 (satu) hari kerja sebelum pelaksanaan lelang, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan.
(3)Dalam hal terjadi pembatalan sebelum lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Penjual dan Pejabat Lelang wajib mengumumkan pada saat pelaksanaan lelang.
(4)Pembatalan lelang atas permintaan Penjual disampaikan secara tertulis dan harus sudah diterima Pejabat LElang paling lambat 3 (tiga) hari kerja sebelum pelaksanaan lelang, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan.
(5)Dalam hal terjadi pembatalan sebelum lelang sebagaimana dimaksud pada
ayat (4), Penjual wajib mengumumkan sebagaimana pelaksanaan
Pengumuman Lelang yang telah dilakukan sebelumnya.
(6)Pembataln lelang di luar ketentuan sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat dilakukan oleh Pejabat Lelang, dalam hal:
a. SKT untuk pelaksanaan lelang tanah atau tanah dan bangunan belum ada; b. barang yang akan lelang dalam status sita pidana;
c. terdapat perbedaan data pada dokumen persyaratan lelang;
d. asli dokumen kepemilikan tidak diperlihatkan atau diserahkan oleh Penjual kepada Pejabat Lelang/Peserta Lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1);
e. pengumuman lelang yang dilaksanakan Penjual tidak dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan;
f. keadaan memaksa (force majeur)/kahar;
g. lelang pertama diikuti kurang dari 2 (dua) Peserta Lelang;
h. penjual tidak menguasai secara fisik barang bergerak yang dilelang; atau i. khusus untuk Lelang Non Eksekusi, barang yang akan dilelang dalam
status sita jamnan/sita eksekusi.
(7)Dalam hal terjadi pembatalan lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) Peserta Lelang yang telah menyetorkan Uang Jaminan Penawaran Lelang tidak berhak menuntut ganti rugi.
Pembatalan Pelaksanaan eksekusi lelang berbeda dengan penundaan pelaksanaan eksekusi lelang. Penundaan pelaksanaan eksekusi dikarenakan yaitu:
a. Adanya penetapan dan/atau Putusan Penundaan Lelang dari Badan Peradilan yang diberitahukan 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan eksekusi lelang;
b. Adanya syarat-syarat eksekusi lelang yang tidak dapat dipenuhi sebelum pelaksanaan eksekusi lelang, misalnya SKT/SKPT Lelang belum terbit;
c. Barang jaminan hutang telah disita oleh Kejaksaan atau Kepolisian karena masalah pidana;
d. Adanya pembayaran angsuran pelunasan hutang oleh nasabah debitur yang besarnya paling rendah 30% (tiga puluh per seratus) dari jumlah yang dengan ketentuan: hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali; dan Penanggung Hutang/Penjamin Hutang harus membuat pernyataan secara tertulis di atas materai secukupnya untuk melunasi sisa hutangnya dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan dan apabila cidera janji, maka barang jaminan hutang tersebut dapat dilakukan eksekusi lelang kembali.103
Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat jumlah barang jaminan yang dimohonkan ke KP2LN Medan oleh penyerah piutang untuk dilakukan eksekusi lelang sebagai berikut:
Tabel 5.
Jumlah Jaminan Hutang Yang Akan Dilelang Tahun Fiskal 2004 – 2005
Jaminan Hutang
No. Penyerah Piutang
Barang Bergerak Barang Tidak Bergerak
1 Bank Mandiri 1 134 2 BRI 1 103 3 BNI - 52 4 BTN - 300 5 Bank Sumut 12 98 Jumlah 14 687
Sumber : Data pada KP2LN Medan Tahun Fiskal 2004 – 2005.
Sandra Irani : Kajian Hukum Terhadap Pembatalan Eksekusi Lelang Jaminan Hutang Kebendaan Milik Penanggung
103
Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa pihak kreditur lebih menyukai barang tidak bergerak sebagai jaminan pelunasan kredit pihak debitur. Kemudian dapat dijelaskan bahwa jumlah jaminan hutang tersebut di atas belum dikurangi dengan jaminan hutang yang akan dibatalkan, ditunda, ditahan, yang tidak ada penawarnya dan jaminan hutang yang laku dalam pelaksanaan lelang.
Menurut Edward Situmorang, selain bank-bank penyerah piutang yang tersebut di atas juga terdapat penyerah piutang lainnya yang non-perbankan. Namun pada kurun waktu tahun 2004-2005 tidak ada melakukan permohonan eksekusi lelang terhadap barang jaminan milik debitur atau penanggung hutang.104
Selanjutnya dapat diketahui tentang status barang jaminan yang akan di lelang di KP2LN Medan, sebagai berikut :
Tabel 6.
Jumlah Status Jaminan Hutang di KP2LN Medan Tahun Fiskal 2004 - 2005.
Ditunda Ditahan Tidak ada
Penawar Laku No. Penyerah Piutang B TB B TB B TB B TB 1 Bank Mandiri - 17 - 1 1 81 - 32 2 BRI - 25 - 3 - 70 - 4 3 BNI - 9 - - 1 34 - 5 4 BTN - 47 - 12 - 154 - 26 5 Bank Sumut - 10 - 2 12 68 - 11 Jumlah - 108 - 18 14 407 - 78
Sandra Irani : Kajian Hukum Terhadap Pembatalan Eksekusi Lelang Jaminan Hutang Kebendaan Milik Penanggung
104
Wawancara dengan Drs. Edward Situmorang, M.Si., Kepala Seksi Informasi dan Hukum KP2LN Medan, Tanggal 6 Maret 2006.
Sumber: Data pada KP2LN Medan Tahun Fiskal 2004 – 2005.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat jumlah barang jaminan dalam kurun waktu tahun 2004-2005 adalah sebagai berikut, yang ditunda sebanyak 108 barang jaminan, ditahan sebanyak 18 barang jaminan, barang jaminan yang tidak ada penawarnya terhadap barang bergerak sebanyak 14 barang jaminan dan terhadap barang tidak bergerak sebanyak 407 barang jaminan, sedangkan barang jaminan yang laku atau terlaksana eksekusi lelangnya oleh KP2LN Medan dari 701 barang jaminan yang dimohonkan untuk dilaksanakan eksekusi lelang oleh penyerah piutang sebanyak 78 barang jaminan yang semuanya berupa barang tidak bergerak.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat jumlah permohonan pembatalan ekseklusi lelang yang dikabulkan oleh KP2LN Medan sebagai berikut:
Tabel 7.
Pelaksanaan Pembatalan Eksekusi Lelang Terhadap Jaminan Hutang Milik Nasabah Debitur/Penjamin Hutang
dalam Tahun Fiskal 2003, 2004
No. Tahun Fiskal Total Kasus
1 2003 71
2 2004 5
Jumlah 76
Sumber: data pada KP2LN Medan Tahun Fiskal 2003, 2004.
Selanjutnya dapat diuraikan pelaksanaan pembatalan lelang terhadap jaminan hutang eksekusi lelang pada KP2LN Medan sebagai berikut:
Tabel 8.
Pelaksanaan Pembatalan Eksekusi Lelang Terhadap Jaminan Hutang Milik Nasabah Debitur/Penjamin Hutang
dalam Tahun Fiskal 2005
No. Jenis Jaminan Hutang Total Kasus
1 Jaminan Hutang Bergerak -
2 Jaminan Hutang Tidak Bergerak 76
Jumlah 76
Sumber : data pada KP2LN Medan Tahun Fiskal 2005.
Berdasarkan data tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pihak kreditur lebih menyukai berupa barang tidak bergerak sebagai jaminan pelunasan kredit pihak debitur. Dan berdasarkan data tersebut di atas, ternyata dalam kurun waktu tahun 2004 dan tahun 2005 jumlah pembatalan eksekusi lelang barang jaminan hanya terjadi pada jenis jaminan barang tidak bergerak, sedangkan terhadap jenis jaminan barang bergerak tidak pernah terjadi pembatalan eksekusi lelang.
Adapun pelaksanaan pembatalan eksekusi lelang barang jaminan nasabah Debitur/Penanggung Hutang pada Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara Medan adalah seperti diuraikan di bawah ini.
Pembatalan eksekusi lelang atas permintaan Pengadilan diajukan secara tertulis kepada Kantor Lelang dengan disertai putusan/penetapan Pengadilan
yang menyatakan bahwa eksekusi lelang tersebut dibatalkan. Kepala Subbagian Umum akan menerima surat pemberitahuan tersebut. Oleh Kepala KP2LN Medan, surat pemberitahuan tersebut di disposisikan kepada Kepala Seksi Pelayanan Lelang/Kepala Seksi Lelang untuk diteliti dan ditindaklanjuti. Kemudian surat tersebut dicatat dalam Register Permintaan Lelang, setelah itu surat disampaikan kepada Pejabat Lelang yang ditunjuk. Apabila pemberitahuan pembatalan eksekusi lelang diterima pada saat pelaksanaan eksekusi lelang, Pejabat Lelang dan Penjual lelang wajib mengumumkan kepada para peserta lelang yang hadir dalam pelaksanaan eksekusi lelang. Langkah selanjutnya, pemberitahuan pembatalan tersebut diteruskan kepada Kepala Subbagian Umum. Pembatalan lelang terhadap barang jaminan juga dapat terjadi karena barang jaminan tersebut disita untuk keperluan kasus pidana. Barang jaminan disita oleh kejaksaan atau kepolisian untuk kepentingan kasus pidana. Memang penyitaan terhadap barang jaminan yang akan dilelang tersebut merupakan wewenang pihak kejaksaan dan Kepolisian, akan tetapi ada baiknya jika dibuat suatu kesepakatan antara PUPN dengan pihak Kepolisian dan Kejaksaan, dimana di dalam melaksanaan penyitaan harus diberitahukan kepada pihak PUPN secepat mungkin agar KP2LN dapat membatalkan pelaksanaan lelang yang dimaksud.
PUPN melalui KP2LN dalam hal ini harus lebih aktif apabila mendapat informasi tentang adanya kaitan barang jaminan yang hendak dilelang dengan
perkara pidana untuk menjamin efektifitas dan kepastian pengurusan piutang negara.
Pembatalan eksekusi lelang atas permintaan Penjual dilakukan secara tertulis ke Kantor Lelang beserta alasan-alasan yang jelas. Pembatalan eksekusi lelang atas permintaan penjual hanya dapat dilakukan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja sebelum tanggal lelang, Pejabat lelang akan memungut Bea Lelang Batal sebesar Rp. 50.000,- (Lima puluh ribu rupiah) atas pembatalan yang dilakukan. Pejabat lelang wajib menyetorkan bea lelang batal kepada Bendaharawan Penerima, selajutnya disetorkan ke Kas Negara. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, pembayaran hutang menyebabkan batalnya pelaksanaan eksekusi lelang. Pembayaran hutang termasuk biaya administrasi pengurusan Piutang Negara dilakukan melalui rekening Bendaharawan Penerima Kantor Pelayanan atau Penyerah Piutang. Dalam hal Penanggung Hutang telah melunasi hutangnya atau telah lunas, oleh Panitia Cabang diterbitkan Surat Pernyataan Piutang Negara Lunas disampaikan kepada Nasabah Debitur/Penanggung Hutang dan Kreditur/ Penyerah Piutang.105
Pihak ketiga dapat mengajukan permohonan untuk menebus barang jaminan miliknya, dengan ketentuan paling sedikit sama dengan Nilai Pengikatan ditambah dengan Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara.
Sandra Irani : Kajian Hukum Terhadap Pembatalan Eksekusi Lelang Jaminan Hutang Kebendaan Milik Penanggung
105
Wawancara, Marlais Simanjuntak, Kepala Seksi Piutang Perbankan KP2LN Medan, tanggal 6 Maret 2006.
Permohonan penebus diajukan secara tertulis oleh Penjamin Hutang, yang memuat:
1. Uraian barang yang akan ditebus 2. Nilai penebusan
3. Cara pembayaran
Permohonan Penebusan sebesar Nilai Pengikatan dapat diajukan pada semua tingkat pengurasan, paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum pelaksanaan lelang. Demikian juga terhadap barang jaminan yang telah dilelang tapi belum laku, permohonan Penebusan dengan nilai di bawah Nilai Pengikatan tetap dapat dilakukan paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum pelaksanaan Lelang berikutnya kepada Kantor Pelayanan. Persetujuan Penebusan sebesar Nilai Peningkatan ditetapkan dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak surat permohonan penebusan diterima. Dalam hal Nilai Penebusan di bawah Nilai Pengikatan, permohonan Penebusan dapat disetujui dengan syarat-syarat sebagai berikut :
1. Nilai pasar barang yang akan ditebus berdasarkan Laporan Penelitian yang masih berlaku di bawah nilai pengikatan.
2. Adanya persetujuan dari Penyerah Piutang, ditandai dengan menyerahkan Keputusan Penebusan kepada Panitia Cabang/Kantor Pelayanan.
3. Mendapat persetujuan dari Penanggung Hutang.
Permintaan persetujuan di Kantor Pelayanan atas rencana Penebusan dengan nilai di bawah Nilai Pengikatan harus mendapat tanggapan dari Kreditur/Penyerah Piutang paling lama 15 (lima belas) hari kerja sejak surat permintaan persetujuan diterima oleh kreditur/Penyerah Piutang. Selanjutnya, apabila Kreditur/Penyerah Piutang keberatan atas rencana Penebusan dengan nilai di bawah Nilai Pengikatan, maka alasan keberatan tersebut disampaikan secara tertulis disertai Laporan Penilaian yang masih berlaku. kreditur/ Penyerah Piutang yang tidak menyampaikan tanggapan maka penebusan dengan nilai di bawah Nilai Pengikatan tetap dapat dilaksanakan. Apabila Penjamin Hutang wanprestasi terhadap syarat pembayaran, Kantor Pelayanan memberikan peringatan secara tertulis, jika tidak juga dipatuhi maka persetujuan Penebusan menjadi batal dan pembayaran yang telah dilakukan diperhitungkan sebagai pengurangan hutang.
Mulai dari permohonan Penebusan diterima Kantor Pelayanan sampai dengan terbitnya keputusan Panitia Cabang tentang Penebusan, Kantor Pelayanan tidak melakukan tindakan hukum pengurusan piutang negara lebih lanjut. Tindakan hukum pengurusan piutang negara dapat dilaksanakan terhadap barang lain yang tidak diajukan permohonan untuk ditebus.
Penanggung Hutang selaku pemilik barang jaminan dapat mengajukan permohonan penjualan tidak melalui lelang untuk menyelesaikan hutang, yang
dilakukan secara tertulis. Permohonan penjualan tidak melalui lelang ini memuat :
1. Uraian barang yang akan dijual 2. Nilai penjualan
3. Indentitas calon pembeli 4. Cara pembayaran
Menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 300/KMK.01/2002 tentang Pengurusan Piutang Negara, Permohonan penjualan tidak melalui lelang dapat diajukan pada semua tingkat pengurusan, dengan ketentuan permohonan diterima Kantor Pelayanan paling lama 14 (empat belas) hari kerja sebelum pelaksanaan lelang. Permohonan penjualan tidak melalui lelang dapat juga diajukan terhadap barang jaminan atau harta kekayaan lain yang telah dilelang tetapi belum laku terjual.
Persetujuan penjualan tidak melalui lelang ditetapkan oleh Panitia Cabang dengan ketentuan :
1. Berpedoman pada laporan penilaian yang masih berlaku 2. Nilai persetujuan paling sedikit sama dengan nilai pasar 3. Nilai pasar paling sedikit sama dengan nilai pengikatan
Kantor pelayanan menyampaikan permohonan mengenai nilai pasar di bawah nilai pengikatan kepada Kreditur/Penyerah Piutang, setelah Kreditur/Penyerah Piutang menyetujui dan menyatakan tidak keberatan maka
penjualan tidak melalui lelang dengan nilai pasar di bawah nilai pengikatan dapat dilaksanakan. Persetujuan dari Kreditur/Penyerah Piutang ditandai dengan menyerahkan keputusan penjualan kepada Panitia Cabang/Kantor Pelayanan, dan disampaikan paling lama 15 (lima belas) hari kerja surat pemintaan persetujuan diterima oleh Kreditur/Penyerah Piutang.
Dalam hal Kreditur/Penyerah Piutang keberatan atas rencana penjualan dengan nilai pasar di bawah nilai pengikatan maka Penyerah Piutang wajib menyampaikan secara tertulis alasan keberatan disertai Laporan Penilaian yang masih berlaku. Apabila Kreditur/Penyerah Piutang tidak menyampaikan tanggapan, penjualan tidak melalui lelang tetap dapat dilaksanakan persetujuan/penolakan Penjualan Tidak Melalui Lelang ditetapkan dalam jangka waktu paling lama 1 ( satu ) bulan sejak surat permohonan penjualan diterima. Untuk Nilai Pasar di bawah nilai Pengikatan, persetujuan/penolakan Penjualan Tidak Melalui Lelang sudah harus ditetapkan paling lama 2 (dua) bulan sejak surat permohonan penjualan diterima.
Nilai persetujuan perjualan tidak melalui lelang ditetapkan termasuk biaya administrasi pengurusan Piutang Negara. Pembayaran penjualan tidak melalui lelang dapat dilaksanakan secara tunai maupun angsuran. Bagi Pembeli yang wanprestasi terhadap syarat pembayaran akan diberikan peringatan secara tertulis oleh Kantor Pelayanan. Apabila tidak dipatuhi, persetujuan penjualan menjadi batal dan pembayaran yang telah dilakukan diperhitungkan sebagai
pengurangan jumlah hutang. Sejak permohonan penjualan diterima Kantor Pelayanan sampai terbitnya Keputusan Panitia Cabang tentang Penjualan Tidak Melalui Lelang, Kantor Pelayanan tidak melakukan tindakan hukum pengurusan Piutang negara lebih lanjut, tindakan hukum pengurusan piutang negara dapat dilaksanakan terhadap barang lain yang tidak diajukan permohonan untuk dijual. Berdasarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara Nomor : SE-10/PL/2001 Tentang Larangan Menerima Pembayaran Hutang Melalui Bendaharawan Penerima KP2LN bahwa pasal 41 Keputusan Kepala DJPLN Nomor 25/PN/2002 tentang Petunjuk Teknis Pengurusan Piutang Negara menyatakan bahwa pembayaran hutang termasuk Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara (Biad PPN) dilakukan melalui rekening Bendaharawan Penerima KP2LN, atau melalui Kreditur/Penyerah Piutang, berkaitan dengan hal tersebut, maka penerimaan pembayaran hasil pengurusan Piutang Negara melalui Bendarawan Penerima KP2LN berupa uang tunai, cek atau giro bilyet, dan atau wesel pos tidak diperkenankan.
Penerimaan pembayaran hutang dari hasil lelang juga tetap dilaksanakan melalui Rekening Bendaharawan Penerima KP2LN. Berkaitan dengan pengurusan Piutang Negara Khususnya menyangkut penerimaan hasil pengurusan piutang negara, bahwa penerapan hutang melalui Rekening Bendaharawan Penerima KP2LN dapat dilakukan secara :
(a) Langsung, yaitu apabila :
1. Pihak debitur menyetorkan pembayaran langsung ke bank tempat rekening bendaharawan penerima KP2LN berada. Penyetoran pembayaran dimaksud dilakukan dengan bukti/slip setoran, atau
2. Pihak debitur menyetorkan pembayaran langsung ke rekening
bendaharawan penerima KP2LN melalui bank sejenis yang sudah memiliki jaringan/sistem perbankan on-line. Penyetoran dimaksud dapat dilakukan dengan bukti/slip setoran dan melalui anjungan tunai mandiri (Automatic Teller Machinel/ ATM).
(b) Tidak langsung, yaitu apabila pihak debitur menyetorkan pembayaran ke rekening bendaharawan KP2LN dengan transfer antar bank.
Pembayaran hutang dilakukan melalui Kreditur/Penyerah Piutang apabila pihak Nasabah Debitur/Penanggung Hutang menyetorkan pembayaran hutang (termasuk Biaya PPN) kepada Kreditur/Bank dimana Nasabah Debitur/ Penanggung Hutang memperoleh Kredit atau dapat juga melalui rekening milik KP2LN pada bank lain yang ditunjuk. Hal ini dilakukan mengingat tidak di seluruh daerah terdapat bank dimana Penanggung Hutang memperoleh kredit, jadi pembayarannya diarahkan oleh KP2LN Medan pada bank yang ditunjuk yang terdapat di daerah tempat Penanggung Hutang berada. Sementara penyalurannya oleh KP2LN kepada bank pemberi kredit.106
Sandra Irani : Kajian Hukum Terhadap Pembatalan Eksekusi Lelang Jaminan Hutang Kebendaan Milik Penanggung
106
Wawancara, Marlais Simanjuntak, Kepala Seksi Piutang Perbankan KP2LN Medan, Tanggal 6 Maret 2006.
Apabila Penanggung Hutang tidak memenuhi pernyataan tertulis yang telah dibuatnya, maka penjualan lelang akan dilaksanakan kembali. Sementara itu, pembayaran atas persetujuan penjualan tidak melalui lelang dan pembayaran atas persetujuan penebusan, dapat dilakukan secara tunai maupun angsuran. KP2LN Medan akan memberikan peringatan 1 (satu) kali secara tertulis kepada pembeli yang tidak memenuhi pembayaran sesuai yang ditetapkan dalam persetujuan penebusan, paling lama 6 (enam) hari kerja sejak tidak dipenuhinya kewajiban. Bagi pembeli yang tidak memenuhi peringatan KP2LN Medan maka persetujuan penebusan batal dan pembayaran yang telah dilakukan diperhitungkan sebagai angsuran hutang.107
Seperti telah diuraikan di atas tentang pihak-pihak yang mengajukan permohonan pembatalan eksekusi lelang ke KP2LN Medan, bahwa tidak semua permohonan pembatalan eksekusi lelang yang diajukan ke KP2LN Medan tersebut diterima. Adapun yang menjadi alasan tidak diterimanya permohonan pembatalan eksekusi lelang yang dimohonkan oleh pemohon dikarenakan tidak terpenuhinya syarat pembatalan lelang sebagaimana yang telah diuraikan tentang syarat-syarat pembatalan eksekusi lelang di atas.
C. Kendala Dalam Pelaksanaan Pembatalan Eksekusi Lelang Terhadap Jaminan Hutang Milik Penanggung Hutang/Penjamin Hutang Dalam Kaitannya Dengan Dengan Sistem Pengurusan Piutang Negara
Dalam penelitian kredit sering kali terjadi wanprestasi, debitur tidak lagi mempunyai kesanggupan untuk melunasi hutangnya. Hal ini menjadikan perjalanan
Sandra Irani : Kajian Hukum Terhadap Pembatalan Eksekusi Lelang Jaminan Hutang Kebendaan Milik Penanggung
107
Wawancara, Marlais Simanjuntak, Kepala Seksi Piutang Perbankan KP2LN Medan, Tanggal 6 Maret 2006.
kredit itu menjadi macet. Faktor yang menyebabkan terjadinya keadaan kredit macet ini antara lain tingginya kebutuhan hidup, debitur gagal dalam mengalokasikan dana pinjaman, persaingan bisnis yang tidak sehat, pemakaian kredit secara konsumtif, karena bencana alam banjir sehingga bahan pokok usaha rusak.
Sementara itu dari pihak perbankan sendiri juga terjadi kesalahan, dimana pihak bank kurang memperhatikan kondisi sebenarnya dari Penanggung Hutang. Ini terjadi karena kurangnya tenaga staf/karyawan dan juga terlalu yakin dengan Nasabah/Penanggung Hutang pada saat pemberian kredit. 108
Negara sebagai kelompok masyarakat terbesar dan berdaulat, mempunyai hak dan kewajiban. Hak negara meliputi: hak menciptakan uang, hak mendatangkan hasil, hak melakukan pungutan, hak meminjam dan hak memaksa.109 Sedangkan kewajiban negara meliputi: menyelenggarakan tugas negara demi kepentingan masyarakat dan membayar hak-hak tagihan pihak ketiga.110 Didasarkan atas hak dan kewajiban dari Negara inilah sehingga kredit macet tersebut harus ditagih, karena merupakan hak dari negara berupa piutang negara.
Pada saat pemberian kredit, yang menjadi alasan pemberian kredit adalah barang jaminan. Sesuai dengan tujuannya, barang jaminan bukan untuk dimiliki kreditur, karena perjanjian utang-piutang bukan perjanjian jual beli yang mengakibatkan perpindahan hak milik atas suatu barang. Barang jaminan
Sandra Irani : Kajian Hukum Terhadap Pembatalan Eksekusi Lelang Jaminan Hutang Kebendaan Milik Penanggung
108
Wawancara, Novans H., Bagian Kredit Bank SUMUT Cabang Utama Medan, Tanggal 3 April 2006.
109
M. Subagio, Hukum Keuangan Negara RI, Penerbit Rajawali Pers. Jakarta, 1991, hal 11. 110
dipergunakan untuk melunasi utang, dengan cara sebagaimana peraturan yang berlaku, yaitu barang jaminan dijual lelang.111
Sebelum barang jaminan dijual lelang, ada langkah-langkah yang dijalankan terlebih dahulu. Langkah-langkah tersebut antara lain pihak Kreditur/Bank melakukan penyerahan piutang.
Penyerahan piutang oleh perbankan ini harus disertai dengan penyerahan bundel dokumen pemberian kredit, mulai dari perjanjian kredit, rekening koran atau