• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK DALAM PERJANJIAN

C. Asas Kebebasan Berkontrak dalam Kontrak Berlangganan

Komunikasi sebagai kebutuhan mendasar manusia, membuat perkembangan teknologi komunikasi berkembang pesat. Perkembangan ini memberikan implikasi adanya mobilitas manusia yang semakin tinggi. Hal ini menyebabkan perusahaan-perusahaan di bidang telekomunikasi semakin merebak. Saat ini di Indonesia terdapat 3 (tiga) operator GSM (Global system for Mobile Communications) dan 4 (empat) operator CDMA (Code Division Multiple Access). Dipihak GSM ada Telkomsel, Indosat, dan XL. Di arena CDMA yang bersaing adalah Indosat, Bakrie Telecom, Telkom, dan Mobile 8.53

Dalam hukum perdata yang berlaku di Indonesia, kebebasan berkontrak dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yang menyatakan bahwa semua kontrak (perjanjian) yang dibuat secara sah berlaku sebagai

52 Ibid

undang bagi mereka yang membuatnya. Sumber dari kebebasan berkontrak adalah kebebasan individu, sehingga yang dilindungi adalah kepentingan individu pula.54

Didalam pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata menyatakan tentang berlakunya asas itikad baik dalam melaksanakan perjanjian. Berlakunya asas itikad baik hendaknya tidak hanya pada saat perjanjian dilaksanakan, melainkan sudah mulai berlaku pada waktu perjanjian dibuat. Dengan demikian, asas itukad baik mengandung pengertian bahwa kebebasan dalam membuat suatu perjanjian tidak berarti bebas tanpa batas, namun dibatasi oleh itikad baik.

Oleh karena Kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi” merupakan perjanjian yang dibuat secara tertulis, maka syarat-syarat sahnya suatu kontrak tersebut sama dengan syarat-syarat sahnya suatu perjanjian. Pasal 1320 KUH Perdata menentukan bahwa untuk sahnya perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat :

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3. Suatu hal tertentu;

4. Suatu sebab atau causa yang halal.55

54 Rosa Agustina T Pangaribuan, Asas Kebebasan Berkontrak dan Batas-batasnya dalam Hukum Perjanjian, (www.thelici.com), 2000, hal. 1.

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya

Ayat ini mempunyai arti bahwa perjanjian tidak sah apabila dibuat tanpa adanya konsensus atau kata sepakat dari para pihak yang membuatnya. Ketentuan tersebut mengandung pengertian bahwa kebebasan suatu pihak untuk menentukan isi perjanjian dibatasi oleh sepakat pihak lainnya. Dengan kata lain asas kebebasan berkontrak dibatasi oleh kesepakatan para pihak.56

Pada kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi”, calon pelanggan datang secara langsung ke plasa Telkom. Calon pelanggan diberi formulir TEL 2 PELANGGAN yang diantara lain berisi identitas diri calon pelanggan, kemudian apabila dinilai telah memenuhi syarat dan lokasi memungkinkan, maka calon pelanggan diminta untuk melengkapi persyaratan admunistrasi. Sebelum menandatangani formulir tersebut, petugas Plasa Telkom memberi kesempatan pada calon pelanggan untuk membaca dan mempelajari terlebih dahulu isi perjanjian tersebut, bahkan PT. Telkom juga memberi kesempatan jika calon pelanggan ingin membawa pulang perjanjian tersebut untuk dipelajari dirumah, akan tetapi dalam kenyataannya selama ini belum pernah ada calon pelanggan yang minta untuk mempelajari isi perjanjian dirumah. Calon pelanggan biasanya langsung menandatangani kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi” tersebut saat itu juga. Calon pelanggan juga terkesan enggan untuk membaca dan mempelajari

terlebih dahulu isi perjanjian secara cermat. Jika ada calon pelanggan yang bertanya pada petugas Plasa Telkom, biasanya hanya yang berkaitan dengan biaya pasang baru, kesalahan-kesalahan pelanggan yang dapat menyebabkan sambungan ”TELKOMFlexi” yang dicabut oleh PT. Telkom, maupun besarnya abodemen yang dikenakan setiap bulannya.57

Sebelum calon pelanggan menandatangani formulir TEL 2 PELANGGAN, pihak PT. Telkom sudah memberikan anjuran agar para calon pelanggan membaca terlebih dahulu isi dari kontrak berlangganan tersebut, dan jika calon pelanggan merasa terdapat hal-hal yang dianggap kurang jelas, maka mereka dapat segera menanyakan secara langsung kepada petugas Plasa Telkom, tetapi apabila telah diberi kesempatan, namun tidak dipergunakan calon pelanggan, maka secara otomatis pihak PT. Telkom beranggapan bahwa calon pelanggan sudah mengerti mengenai isi perjanjian tersebut.58

Penandantanganan suatu kontrak mengandung arti bahwa para pihak sudah setuju dengan kontrak tersebut, termasuk sudah setuju dengan isinya. Ketentuan ini menyimpulkan bahwa sebelum menandatangani suatu kontrak para pihak mestilah terlebih dahulu membaca kontrak dan mengerti terhadap isi kontrak

57 Wawancara dengan Ibu Sugiastuti, (karyawan Plasa PT.Telkom, di Medan), September 2010.

tersebut. Inilah yang disebut dengan ”kewajiban membaca” (duty read) terhadap suatu kontrak.59

Hal yang sama diungkapkan oleh bapak Jamal SH. M.Hum yaitu bahwa dengan adanya tanda tangan yang dibubukan pada formulir kontrak berlangganan tersebut, yang kemudian ditempelkan materai seharga Rp 6000 sebagai tanda lunas pajak, maka perjanjian tersebut telah dianggap disepakati oleh kedua belah pihak yaitu PT. Telkom dan pelanggan serta mengikat sebagai undang-undang.60

Berdasarkan keterangan dari beberapa pelanggan mereka mengatakan bahwa sebelum menandatangani kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi” dengan PT. Telkom, mereka juga telah membaca terlebih dahulu isi perjanjian tersebut. Namun mereka mengakui bahwa mereka tidak membaca isi perjanjian tersebut dengan cermat akan tetapi pada dasarnya mereka telah mengerti mengenai hak dan kewajiban mereka sebagai pelanggan “TELKOMFlexi”.61

Konsekuensi dari adanya kewajiban membaca kontrak ini adalah, bahwa pada prinsipnya para pihak tidak bisa dikemudian hari mengelak untuk melaksanakan kontrak dengan alasan bahwa dia sebenarnya tidak membaca klausula kontrak tersebut atau terjebak dengan klausula kontrak yang bersangkutan. Jadi pada prinsipnya yang berlaku adalah prinsip ”Kontrak adalah Kontrak” (Contract is

59 Munir Fuady, Hukum Kontrak (dari sudut Pandang Bisnis), Buku ke 2, Citra Aditya Bhakti, Medan, 2003, hal. 89.

60 Wawancara dengan Bapak Jamal, Op Cit.

61 Wawancara dengan Ibu Nani dan Bapak Fuad (Pelanggan ”TELKOMFlexi”) September 2010.

Contract). Ketentauan seperti ini merupakan hukum yang berlaku umum dan berlaku dimana-mana.62

Stein dalam Sutan Rhemy Sjadheini berpendapat bahwa perjanjian baku dapat diterima sebagai perjanjian berdasarkan fiksi adanya kemauan dan kepercayaan (fictie van will en vertrouwen) yang membangkitkan kepercayaan bahwa para pihak mengikatkan diri pada perjanjian itu. Jika dia menerima dokumen perjanjian itu, berarti ia secara sukarela pada isi perjanjian itu.63

Asser Rutteen dalam Sutan Rhemy Sjadheini mengatakan bahwa pula setiap orang menandatangani perjanjian, bertanggung jawab pada isi dan apa yang ditandatanganinya. Jika ada orang yang membubuhkan tandatangan pada suatu formulir perjanjian baku, tandatangan itu membangkitkan kepercayaan bahwa orang yang bertandatangan mengetahui dan menghendaki isi formulir perjanjian yang ditandatanganinya. Tidak mungkin seseorang menandatangani apa yang tidak diketahui isinya.64

Dengan berdasarkan beberapa pendapat di atas, jelaslah sudah kiranya bahwa setelah ditandatanganinya perjanjian oleh kedua belah pihak, maka perjanjian tersebut menjadi sah dan mengikat sebagai undang-undang berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Sehingga adalah merupakan hal yang wajar apabila setelah pelanggan membubuhkan tanda tangannya pada formulir perjanjian, pihak PT. Telkom

62 Munir Fuady, Op Cit. hal. 90.

63 Ibid, hal. 68.

menganggap bahwa pelanggan telah mengetahui isi dan maksud dari perjanjian yang dibuat, sehingga memberikan persetujuannya.

Mengenai adanya hak yang dimiliki oleh pelanggan sebagai salah satu pihak dalam perjanjian untuk ikut serta dalam membuat isi perjanjian, dinilai sangat tidak mungkin diterapkan dalam Kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi”. Hal ini disebabkan, karena dalam perjanjian ini pihak PT. Telkom menggunakan jenis perjanjian dalam bentuk baku, dimana isi perjanjian tersebut telah dibuat secara sepihak oleh PT. Telkom dengan tidak ada kemungkinan lagi untuk mengandakan tawar menawar mengenai isinya. Pertimbangan dari pihak PT. Telkom untuk menggunakan bentuk perjanjian baku adalah untuk kepentingan efisiensi waktu dan biaya, baik bagi PT. Telkom maupun bagi pelanggan sendiri, lagi pula bentuk perjanjian baku yang disediakan oleh PT. Telkom tidak serumit perjanjian baku yang digunakan pada instansi atau perusahaan lainnya, seperti pada perjanjian asuransi atau perjanjian pemberian kredit oleh Bank, sehingga memudahkan calon pelanggan untuk mempelajari dan mengerti mengenai isi yang terkandung di dalamnya.65

Berlakunya asas konsesualisme menurut hukum perjanjian Indonesia memantapkan adanya asas kebebasan berkontrak. Tanpa kesepakatan dari kedua belah pihak yang membuat perjanjian, maka perjanjian tersebut akan dibatalkan, seseorang tidak dapat dipaksakan untuk memberikan sepakatnya. Sepakat yang

diberikan dengan paksa adalah Contradictio Interminis. Adanya paksaan menunjukan tidak adanya sepakat yang mungkin dilakukan oleh pihak lain untuk memberikan pilihan kepadanya, yaitu untuk setuju mengikat diri pada perjanjian yang dimaksud, atau menolak mengikatkan diri pada perjanjian, dengan akibat transaksi yang diinginkan tidak terlaksana (take it or leave it).66

Pada saat pembuatan Kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi”, PT. Telkom tidak menggunakan unsur-unsur paksaan pada pelanggan untuk menyetujui perjanjian tersebut. Hal ini dapat dilihat pada kenyataan yang ada, bahwa semenjak penghapusan hak monopoli PT. Telkom sebagai penyelenggara jasa telekomunikasi dalam negeri berdasarkan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999, perusahaan-perusahaan lain baik perusahaan asing, seperti WorldCom, Global One dan NTT, dan juga perusahaan dalam negeri Indosat telah bersaing dengan PT. Telkom sebagai penyelenggara jasa telekomunikasi di Indonesia. Hal ini telah menyebabkan PT. Telkom bukan lagi menjadi satu-satunya alternatif penyelenggara jasa telekomunikasi yang akan dituju oleh para pemakai jasa telekomunikasi, yang berakibat masyarakat sebagai konsumen sekarang bebas menentukan pilihannya untuk berlangganan pada perusahaan yang mereka kehendaki. Hal ini merupakan salah satu bentuk kebebasan yang diberikan PT. Telkom, yaitu kebebasan dengan ”siapa” ingin mengadakan perjanjian.67

66 Rosa Agustina T. Pangaribuan, Op Cit, hal. 1.

Dengan semakin ketatnya persaingan di bidang penyelenggara jasa telekomunikasi, mengakibatkan semakin ketat pula persaingan perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang yang sama, untuk mencari pelanggan yang sebanyak-banyaknya. Demikian halnya juga dengan PT. Telkom, untuk lebih memikat calon pelanggan PT. Telkom berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan. Hal ini sesuai dengan Kredo PT. Telkom yang baru

COMMITED 2 U, dimana kepuasan dan kenyamanan pelanggan menjadi hal yang utama bagi PT. Telkom. Hal ini dibuktikan PT. Telkom dengan cara menawarkan produk dan layanan baru yang menarik kepada pelanggan dengan harga yang kompetitif, serta berusaha untuk terus meningkatkan mutu pelayanannya. Dari sudut pandang inilah PT. Telkom menilai bahwa kesepakatan yang diberikan pelanggan pada saat membuat perjanjian tidak mengandung adanya unsur-unsur paksaan. Dengan tidak adanya unsur-unsur paksaan inilah, maka dapat dikatakan bahwa pelanggan telah menggunakan haknya untuk membuat perjanjian dengan pihak yang mereka kehendaki.68

Mengenai sistem penawaran yang berupa take it or leave it kepada calon pelanggannya, PT. Telkom mengakui masih tetap menggunakannya sampai sekarang, karena jenis perjanjian yang digunakan adalah perjanjian baku, dimana dalam bentuk perjanjian semacam ini tidak dimungkinkan lagi untuk diadakan tawar menawar

68 Wawancara dengan Bapak Salim (Manager Sales Planning “TELKOMFlexi”, Medan) Agustus 2010.

dengan calon pelanggan mengenai isi perjanjian. Namun dalam pembuatan isi perjanjian tersebut pihak PT. Telkom sangat memperhatikan adanya keseimbangan hak dan kewajiban antara PT. Telkom dengan pelanggannya, sehingga isi perjanjian dapat meminimalkan ketidakseimbangan kedudukan antara kedua belah pihak, karena pada kenyataannya dalam perjanjian tidak pernah ada kedudukan para pihak yang benar-benar seimbang.69

Mengenai bentuk perjanjian yang telah dibuat PT. Telkom dalam bentuk baku, pelanggan tidak merasa keberatan, bahkan mereka menganggapnya sebagai hal yang sudah biasa dalam suatu usaha. Mereka juga mengatakan bahwa dalam menandatangani Kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi” tersebut, mereka tanpa merasa dalam keadaan terpaksa, karena mereka juga membandingkan antara layanan jasa “TELKOMFlexi” yang diberikan PT. Telkom, dengan kewajiban yang harus mereka penuhi sebagai pelanggan merupakan sesuatu yang wajar dan tidak memberatkan pihaknya secara berlebihan.70

2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan.

Ayat ini mengandung pengertian bahwa kebebasan seseorang dalam membuat perjanjian dibatasi oleh kecakapannya untuk membuat perjanjian. Bagi seseorang yang menurut ketentuan undang-undang tidak cakap untuk membuat

69 Wawancara dengan Bapak Jamal, Op Cit.

perjanjian, sama sekali tidak mempunyai kebebasan untuk membuat perjanjian. Menurut Pasal 1330 KUH Perdata, orang yang belum dewasa dan orang yang diletakkan di bawah pengampuan tidak mempunyai kecakapan untuk membuat perjanjian. Demikian juga halnya dengan istri (wanita yang telah bersuami) menurut Pasal 108 dan 110 KUH Perdata tidak berwenang untuk melakukan perbuatan hukum tanpa bantuan atau izin suaminya. Namun berdasarkan fatwa Mahkamah Agung melalui Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 1963 tanggal 5 September, menyatakan bahwa ketentuan yang terdapat pada Pasal 108 dan 110 KUH Perdata tidak berlaku lagi.71

Ukuran bagi seseorang untuk dianggap telah dewasa menurut Pasal 330 KUH Perdata adalah apabila seseorang tersebut telah berusia 21 tahun atau telah/pernah kawin, walaupun sudah cerai. Bagi PT. Telkom untuk mengetahui apakah calon pelanggan yang membuat perjanjian dengan pihaknya sudah dewasa atau belum dapat dilihat dari identitas diri yang diserahkan pada waktu mendaftar sebagai calon pelanggan, sehingga dengan demikian PT. Telkom mengetahui bahwa calon pelanggan tersebut telah memenuhi syarat untuk melakukan perbuatan hukum, yaitu membuat Kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi” dengan pihaknya.72

71 Subekti, Op Cit, hal. 18-19.

Ketentuan lain yang menyatakan apakah seseorang dianggap cakap untuk membuat perjanjian terdapat pada Pasal 433 KUH Perdata yaitu, jika seseorang tersebut tidak sedang di bawah pengampuan. Mengenai keadaan seseorang yang berada di bawah pengampuan ini Telkom tidak begitu mempermasalahkan. Karena walaupun pada kenyataannya pelanggan yang membuat Kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi” dengannya berada dibawah pengampuan (dungu, sakit otak, mata gelap walaupun kadang-kadang cakap mempergunakan pikirannya dan juga seseorang yang boros), selama tidak ada klaim dari pihak pelanggan tersebut atau pihak ketiga untuk membatalkan perjanjian yang telah dibuat dengan alasan bahwa pelanggan tidak cakap untuk melakukan perbuatan hukum (membuat perjanjian dengan pihak PT. Telkom), maka perjanjian tersebut akan tetap sah dan mengikat kedua belah pihak. Lagi pula apabila dipandang dari sudut pandang bisnis, PT. Telkom sebagai perusahaan sudah pasti bertujuan untuk mendapat keuntungan dari usahanya. Apabila seseorang pelanggan ternyata pada kenyataannya berada di bawah pengampuan, akan tetapi mempunyai kemampuan untuk memenuhi kewajibannya sebagai pelanggan pada pihak PT. Telkom, maka hal itu tidak menjadi masalah, karena akan lebih baik bagi PT. Telkom membuat perjanjian dengan pelanggan yang ternyata berada di bawah pengampuan tetapi tidak mampu memenuhi kewajibannya sebagai pelanggan, selama tidak ada klaim dari pihak pelanggan

maupun pihak ketiga untuk membatalkan perjanjian dengan alasan pelanggan berada dibawah pengampuan.73

KUH Perdata Indonesia maupun mengenai ketentuan perundang-undangan lainnya tidak melarang bagi seseorang untuk membuat perjanjian dengan pihak manapun juga dikehendakinya. Undang-undang hanya menentukan bahwa orang-orang tertentu tidak cakap untuk membuat perjanjian yaitu sebagaimana dapat disimpulkan dari Pasal 1330 KUH Perdata. Dari ketentuan ini dapat disimpulkan bahwa setiap orang bebas untuk memilih pihak dengan siapa ia menginginkan untuk membuat perjanjian, asalkan pihak tersebut bukan pihak yang tidak cakap untuk membuat perjanjian. Bahkan menurut Pasal 1331 KUH Perdata, bila seseorang membuat perjanjian dengan seseorang lain yang menurut undang-undang tidak cakap untuk membuat perjanjian, maka perjanjian itu tetap sah selama tidak dituntut pembatalannya oleh pihak yang tidak cakap.74

Pada kenyataannya PT. Telkom belum pernah menerima klaim pembatalan Kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi” dari pelanggan atau pihak ketiga dengan alasan bahwa pelanggan yang membuat perjanjian berada di bawah pengampuan, lagi pula tidak mungkin bagi PT. Telkom untuk meneliti terlebih dahulu satu persatu apakah seorang calon pelanggan yang datang untuk berlangganan “TELKOMFlexi” berada di bawah pengampuan atau

73 Wawancara dengan Bapak Jamal, Op Cit.

tidak. Hal ini menurut PT. Telkom merupakan salah satu bentuk kebebasan juga, yaitu terlepas apakah seseorang itu di bawah pengampuan atau tidak, apabila mereka membutuhkan jasa pelayanan PT. Telkom yang berupa berlangganan sambungan “TELKOMFlexi”, maka PT. Telkom akan memberikan pelayanan yang sama dengan pelanggan lainnya.75

3. Suatu hal tertentu

Syarat ini menentukan bahwa obyek dari suatu perjanjian harus dapat ditentukan. Suatu hak tertentu atau sekurang-kurangnya dapat ditentukan. Apa yang diperjanjikan harus cukup jelas ditentukan jenisnya, mengenai jumlahnya boleh tidak disebutkan asalkan dapat dihitung atau ditetapkan.76

Syarat bahwa prestasi harus tertentu atau dapat ditentukan, adalah untuk menetapkan hak dan kewajiban kedua belah pihak jika timbul perselisihan dalam pelaksanaan perjanjian. Jika prestasi kabur atau dirasakan kurang jelas akan menyebabkan perjanjian itu tidak dapat dilaksanakan, sehingga dianggap tidak mempunyai obyek perjanjian, yang mengakibatkan perjanjian itu batal demi hukum.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa sebelum calon pelanggan menandatangani Kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi

75 Wawancara dengan Bapak Suparja, Op Cit.

”TELKOMFlexi”, mereka telah terlebih dahulu diberi kesempatan untuk membaca, mempelajari, dan menanyakan kepada petugas Plasa PT. Telkom apabila mereka kurang jelas dengan isi perjanjian. Dalam formulir TEL 2 PELANGGAN mengenai obyek perjanjian, disebutkan dengan jelas pada Pasal 1 huruf (a) yang berbunyi: ”Kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi “TELKOMFlexi” ini adalah Kontrak antara TELKOM dengan PELANGGAN yang mengatur tentang ketentuan-ketentuan berlangganan sambungan telekomunikasi yang tertuang dalam pasal-pasal ini, formulir Permohonan dan Prosedur yang disampaikan TELKOM kepada PELANGGAN yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari kontrak ini”. Apabila setelah membaca dan mempelajari isi perjanjian, pelanggan merasa kurang jelas tetapi tidak menanyakan pada petugas Plasa PT. Telkom mengenai hal-hal yang belum jelas, maka wajar apabila pihak PT. Telkom menganggap bahwa pelanggan sudah mengerti mengenai obyek perjanjian yang diperjanjikan. Dengan demikian maka perjanjian tidak ”batal demi hukum”, apabila dikemudian hari pelanggan mengajukan klaim pada PT. Telkom dengan alasan tidak mengetahui obyek perjanjian yang diperjanjikan. Pihak PT. Telkom dalam hal ini tidak bisa dipersalahkan, karena ketidaktahuannya pelanggan mengenai obyek perjanjian adalah akibat kesalahan sendiri, yang tidak mempelajari isi perjanjian dengan

teliti. Namun dalam kenyataannya sampai pada saat ini khususnya PT. Telkom Medan belum pernah dijumpai kasus seperti di atas.77

Berdasarkan hasil survey dengan beberapa pelanggan “TELKOMFlexi”, ditemukan fakta bahwa walaupun rata-rata para pelanggan tidak mengerti mengenai isi perjanjian secara keseluruhan, akan tetapi mereka cukup mengerti mengenai tujuan mereka membuat perjanjian dengan PT. Telkom adalah untuk berlangganan “TELKOMFlexi” (obyek Perjanjian) dengan disertai adanya hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai pelanggan.78

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa para pelanggan secara garis besar telah mengetahui mengenai obyek perjanjian yang mereka buat dengan pihak PT. Telkom, maka dapat dikatakan bahwa berdasarkan suatu hal tertentu perjanjian baku yang telah dibuat dan disepakati antara PT. Telkom dan pelanggannya tidak melanggar asas kebebasan berkontrak.

4. Suatu sebab atau causa yang halal

Dalam Pasal 1320 ayat (4) jo Pasal 1337 KUH Perdata dinyatakan bahwa suatu sebab adalah terlarang apabila dilarang oleh undang-undang atau apabila berlawanan dengan kesusilaan dan ketertiban umum.

77 Wawancara dengan Bapak Salim, Op Cit.

Kata sebab (bahasa Belanda oorzaak, bahasa Latin causa) ini yang dimaksud tidak lain adalah isi dari perjanjian itu sendiri. Dengan segera harus dihilangkan suatu kemungkinan salah sangka, bahwa sebab itu adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang membuat perjanjian yang termaksud. Bukan itu yang dimaksudkan undang-undang dengan sebab yang halal. Sesuatu yang menyebabkan seseorang membuat suatu perjanjian atau dorongan jiwa untuk membuat suatu perjanjian pada asasnya tidak diperdulikan oleh undang-undang. Hukum pada asasnya tidak menghiraukan apa yang berada dalam gagasan seseorang atau apa yang dicita-citakan seseorang, yang diperhatikan oleh hukum atau undang-undang hanyalah tindakan orang-orang dalam masyarakat.79

Jadi yang dimaksudkan dengan sebab atau causa dari suatu perjanjian adalah isi dari perjanjian itu sendiri. Dalam suatu perjanjian jual beli, isinya adalah pihak yang satu menghendaki barang dan pihak yang lain menghendaki uang. Dengan demikian kalau seseorang membeli sebuah pisau di toko dengan maksud untuk membunuh seseorang dengan pisau tadi, maka jual beli pisau tersebut tetap mempunyai suatu sebab atau causa yang halal, seperti perjanjian jual beli barang-barang yang lain, tetapi lain halnya apabila soal membunuh itu dimasukkan dalam perjanjian, misalnya: si penjual hanya bersedia menjual pisaunya, kalau si pembeli membunuh seseorang. Jika demikian maka isi dari perjanjian itu menjadi

terlarang.80 Hal ini akan menjadi sama dengan Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi” di PT. Telkom. Pada Kontrak Berlangganan Sambungan Telekomunikasi ”TELKOMFlexi” terdapat dua pihak yang terlibat dalam pembuatan perjanjian. Pihak pertama yaitu PT. Telkom selaku penyedia layanan jasa telekomunikasi, membuat kontrak Berlangganan Sambungan