• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: KAJIAN PUSTAKA

A. Asertivitas

1. Pengertian Asertivitas

Asertivitas adalah kemampuan seseorang untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Dalam berperilaku asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanfaatkan atau pun merugikan pihak lain. (Rini, www.google.com).

Asertivitas adalah “ bersikap jelas, jujur, mengkomunikasikan yang benar tentang diri sendiri, sambil tetap mampu menghormati orang lain” (Adams, 1995:5). Asertivitas menunjukkan kesetaraan dalam hubungan manusia, yang memungkinkan kita untuk bertindak menurut kepentingan diri sendiri, untuk membela diri sendiri tanpa kecemasan yang tidak semestinya,

untuk mengekspresikan perasaan dengan jujur dan nyaman, untuk menerapkan hak-hak pribadi kita tanpa menyangkal hak-hak orang lain. (Alberti dan Emmons, 2002:41-42).

Perilaku asertif merupakan pengungkapan perasaan, pendapat, dan kebutuhan seseorang secara jujur dan wajar, sehingga memunculkan pernyataan diri yang positif dan menghargai orang lain dalam kehidupan. Memilih untuk berperilaku asertif melatih seseorang untuk menghargai diri sendiri dan juga orang lain.

Dari beberapa pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa asertivitas adalah kemampuan seseorang untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan kebutuhannya dengan jelas, jujur dan nyaman tanpa takut ditolak oleh penerima pesan. Asertivitas juga berarti mampu dan mau menghargai orang lain sebagai pribadi. Asertivitas membantu seseorang untuk membangun pikiran positif dan sikap positif sehingga selain menghargai diri sendiri juga menghargai orang lain.

Selain asertivitas, ada dua hal yang juga penting dibahas dalam kaitannya dengan asertivitas, yaitu perilaku non-asertif dan perilaku agresif. Perilaku non-asertif dan perilkau agresif merupakan dua perilaku yang bertentangan dengan perilaku asertif.

Perilaku yang agresif pada umumnya berakibat mengancam si penerima pesan. Seseorang yang agresif berperilaku cenderung memaksa orang lain di dalam proses membuat pilihan bagi mereka sendiri. Sementara itu orang dengan perilaku non-asertif atau pasif disebut sebagai “orang sulit”

karena tidak mampu bertindak atas kehendaknya sendiri sehingga hanya menuruti semua yang dikatakan orang lain (Alberti dan Emmons, 2002:44). Seseorang berperilaku non-asertif berarti tidak menyatakan perasaan, pikiran, kebutuhan, keinginan, pendapatnya kepada orang lain, kurang bertindak demi diri sendiri dalam memenuhi kebutuhan (Lenz, 1995:25).

Jika asertivitas membuat seseorang mampu bersikap tulus dan jujur dalam mengekspresikan perasaan, pikiran dan kebutuhannya kepada pihak lain tanpa merugikan pihak lain maka perilaku non-asertif membuat seseorang gagal mengekspresikan perasaan, pikiran dan kebutuhannya. Sikap non-asertif juga disebut sebagai sikap pasif. Sedangkan perilaku agresif mendorong seseorang cenderung untuk tidak melihat atau tidak mempertimbangkan kepentingan orang lain. Apa pun yang menjadi keinginannya itulah yang harus dilaksanakan. Perilaku agresif akan merugikan pihak lain karena bentuknya mempersalahkan, mempermalukan, menyerang (secara verbal atau pun fisik), marah-marah, menuntut, mengancam, ataupun menyindir penerima pesan. (Rini, www.google.com).

2. Aspek-aspek Asertivitas

Aspek-aspek asertivitas (Alberti dan Emmons, 2002:42) adalah sebagai berikut:

a. Kemampuan menunjukkan kesetaraan dalam hubungan manusia.

Orang yang asertif mampu menempatkan sesama secara setara. Orang asertif menempatkan diri setara dengan orang lain. Ia tidak menganggap

dirinya lebih tinggi atau lebih rendah daripada orang lain, dan mengusahakan setiap pihak diuntungkan dalam berbagai interaksi sosial (Hia, 2002:13).

b. Kemampuan bertindak demi kepentingan sendiri.

Kemampuan ini menunjukkan adanya kesanggupan orang asertif untuk membuat keputusan bagi dirinya sendiri dan bertindak demi dirinya sendiri. Keputusan ini dapat berupa hubungan dengan orang lain, tentang studi, mengatur jadwal dan mengorganisir kegiatan, berinisiatif mengawali pembicaraan dengan orang lain, menetapkan tujuan atas hidupnya dan berusaha meraihnya, serta terlibat dalam pergaulan.

c. Kemampuan menyadari dan mengungkapkan perasaan, keyakinan dan pikiran secara jelas, langsung, dan jujur tanpa merasa cemas atau merasa bersalah.

Orang asertif mampu mengungkapkan perasaan, pikiran, kebutuhan dan nilai-nilai hidup yang dipegangnya tanpa merasa cemas dan merasa bersalah, sanggup mengungkapkan ketidaksetujuan, berani mengakui perasaan takut dan cemas, mengekspresikan kasih sayang, serta bersikap spontan.

d. Kemampuan mempertahankan hak-hak pribadi dan membela diri sendiri. Kemampuan ini berhubungan dengan kesanggupan pribadi sebagai warga negara, sebagai anggota dari sebuah organisasi, sekolah, atau kelompok kerja untuk mengungkapkan pendapat, dan untuk menanggapi pelanggaran dari hak seseorang atau hak orang lain.

e. Kemampuan menghormati orang lain sebagai pribadi.

Orang asertif memperhitungkan hak-hak dan perasaan-perasaan orang lain. Ia mempertahankan hak-haknya dan mengungkapkan dirinya dengan tetap berlaku adil dan hormat kepada orang lain. Ia memenuhi kebutuhannya tanpa menyakiti orang lain, dan tanpa mengurangi kebebasan orang lain.

3. Manfaat Asertivitas dalam Bersosialisasi

Sebagai makhluk sosial, individu dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku.

Asertivitas memberikan manfaat bagi individu dalam menjalani hidup bersama dengan orang lain. Di bawah ini adalah berbagai manfaat asertivitas, yaitu :

a. Meningkatkan kepercayaan diri.

Pilihan seseorang untuk mempertahankan hak, mengungkapkan pikiran dan perasaan, meningkatkan penghargaan atau kepercayaan terhadap diri sendiri, dengan demikian rasa tidak aman menjadi berkurang. Seseorang menjadi lebih kreatif dan lebih berani mengambil resiko (Cawood, 1997:26).

b. Membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

Asertivitas memberikan sumbangan besar bagi seseorang dalam membangun hubungan dengan orang lain. Asertivitas membantu seseorang berani dan mampu untuk mengatasi berbagai kesulitan dalam kehidupan bersama orang lain., memperoleh banyak teman, membina hubungan yang lebih akrab dan lebih jujur dengan orang lain (Cawood, 1997:26).

c. Mengarahkan pikiran ke masa depan.

Asertivitas memampukan seseorang untuk mengarahkan pikirannya ke masa depan dan tidak hanya mengingat-ingat masa lalu (Hia, 2004:16). d. Mampu menghadapi situasi tidak menyenangkan.

Menghadapi kritik atau penolakan merupakan saat yang tidak menyenangkan, namun orang yang asertif mampu mengendalikan dirinya dengan memberi kesempatan kepada pengkritik menyampaikan pendapatnyasehingga orang tersebut merasa tetap dihargai.

e. Meningkatkan rasa tanggung jawab.

Asertivitas membuat seseorang merasa bertanggung jawab dan konsekuen untuk melaksanakan keputusannya sendiri. Dalam hal ini, ia bebas untuk mengemukakan berbagai keinginan, pendapat, dan perasaan secara terbuka sambil tetap memperhatikan pendapat orang lain (Susanto, www.google.com).

4. Hambatan-hambatan Mewujudkan Asertivitas

Hanbatan-hambatan yang mungkin dihadapi seseorang dalam mewujudkan asertivitas (Aaron Beck, dalam Alberti dan Emmons, 2002:96-98), yaitu :

a. Kecenderungan untuk berpikir kurang baik, terhadap diri sendiri. Misalnya, seorang siswa diminta menjadi ketua panitia untuk sebuah acara seni di sekolahnya. Sebenarnya dia memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas itu, tetapi dia merasa tidak pantas karena menganggap ada orang lain yang lebih mampu. Akhirnya dia menolak tugas itu dan minta digantikan dengan orang lain. Orang yang cenderung berpikir dirinya buruk merasa tidak layak untuk diserahi tanggung jawab.

b. Kecenderungan untuk membesar-besarkan masalah.

Masalah yang dibesar-besarkan tidak membantu terwujudnya asertivitas karena dengan membesarkan masalah terdapat unsur ketidakjujuran dalam menyampaikan suatu hal.

c. Sudut pandang egosentrik dalam menanggapi peristiwa-peristiwa dalam kehidupan.

Memilki kecenderungan menganggap segala hal buruk yang terjadi dalam kehidupan adalah kesalahan diri sendiri. Keyakinan seperti ini menghambat seseorang untuk maju karena enggan berusaha semaksimal mungkin. Hal ini membuat orang hanya pasrah pada keadaan, menerima dengan pasif kata-kata atau perbuatan orang lain

yang menrendahkan dirinya dan tidak memiliki kemampuan untuk mengungkapkan kebutuhan dan perasaannya.

d. Pandangan yang sempit.

Keyakinan bahwa hidup ini hanya dibatasi hitam-putih, ya-tidak, baik-buruk. Padahal pada faktanya masih ada sejumlah alternatif dalam berhubungan dengan orang lain dalam keidupan.

e. Keinginan untuk menyenangkan orang lain.

Keinginan ini disebabkan karena : 1) Membutuhkan persetujuan atau dukungan, 2) takut menyinggung perasaan orang lain, 3) takut mendapat penilaian yang tidak baik atau mendapat hukuman, 4) adanya perasaan bersalah, 5) ada perasaan diwajibkan atau diharuskan karena tugas, dan 6) keinginan mengorbankan diri demi kepentingn orang lain (Aaron Beck, dalam Alberti dan Emmons, 2002:96-98).

5. Langkah-langkah Meningkatkan Asertivitas

Peningkatan asertivitas dalam diri seseorang perlu proses dan langkah berkesinambungan. Alberti dan Emmons (2002:123-129) menyebutkan langkah-langkah untuk meningkatkan asertivitas, yaitu : a. Merefleksikan perilaku sendiri. Langkah ini mengajak kita memeriksa

diri apakah sudah merasa puas dalam hubungan antar pribadi dengan orang lain, dalam berhubungan dengan orang lain apakah sudah asertif atau belum.

b. Menetapkan tujuan yang realistik bagi diri sendiri. Maksud langkah ini adalah melakukan penilaian terhadap diri sendiri dengan cara menyeleksi target-target khusus bagi perkembangan asertivitas. Target-target khusus yang dimaksud adalah situasi dan dengan siapa ingin berkomunikasi asertif.

c. Memusatkan perhatian pada situasi tertentu. Maksudnya, memberi waktu pada diri sendiri untuk mengingat kembali kejadian-kejadian yang telah dialami. Setelah itu dengan berani mengungkapkan pendapat dan perasaan yang timbul saat kejadian itu terjadi kepada lawan bicara.

d. Memfokuskan diri pada pikiran-pikiran positif. Maksudnya, mencoba menenangkan diri apabila mulai cemas dan mengganti pikiran-pikiran yang negatif dengan pikiran-pikiran yang positif. Hal ini dapat diwujudkan dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang positif atau menampilkan reaksi yang positif pada setiap situasi (Hia, 2004:19). e. Meminta bantuan apabila membutuhkan. Maksudnya, apabila merasa

kesulitan untuk bersikap asertif, tidak enggan untuk meminta bantuan kepada orang lain yang diyakini lebih mampu.

Dokumen terkait