Tanggal 1 Januari 2014 / 31 Desember 2013: 1 Januari 2014 /
13. ASET TIDAK LANCAR LAINNYA - BERSIH (lanjutan)
(ii) Tagihan pajak sehubungan dengan pajak penghasilan badan untuk tahun-tahun sebelumnya adalah sebagai berikut:
Tahun Pajak
31 Maret 2015 31 Desember 2014
1 Januari 2014 / 31 Desember
2013
I. Terkait ketidakpastian posisi perpajakan
a. Perusahaan - 2009 65.570 65.570 65.570
b. Perusahaan - 2007 110.413 110.413 -
b. Perusahaan - 2008 97.132 97.132 -
II. Tidak terkait dengan ketidakpastian posisi perpajakan
Perusahaan - 2012 422 422 132.316 Perusahaan - 2013 231.643 231.643 - Perusahaan - 2014 117.031 - - IMM - 2012 3.500 - 32.493 SMT - 2011 677 677 - Jumlah 626.388 505.857 230.379
a. Pajak penghasilan badan Perusahaan tahun 2009
Pada tanggal 21 April 2011, Perusahaan menerima Surat Keputusan Pajak Lebih Bayar (“SKPLB”) dari Direktorat Jenderal Pajak (“DJP”) untuk pajak penghasilan badan Perusahaan tahun pajak 2009 sebesar Rp29.272. Perusahaan menerima sebagian dari koreksi tersebut sebesar Rp836, yang dibebankan pada usaha tahun 2011. Pada tanggal 31 Mei 2011, Perusahaan menerima pengembalian pajak dari tagihannya atas pajak penghasilan badan tahun pajak 2009 sebesar Rp23.695 setelah dikurangi dengan koreksi PPN untuk periode Januari - Desember 2009. Pada tanggal 20 Juli 2011, Perusahaan mengajukan surat keberatan kepada Kantor Pajak terkait koreksi pajak penghasilan badan Perusahaan tahun pajak 2009 yang tersisa sebesar Rp65.570. Pada tanggal 29 Juni 2012, Perusahaan menerima surat keputusan dari DJP yang menolak keberatan Perusahaan. Pada tanggal 21 September 2012, Perusahaan mengajukan surat banding kepada Pengadilan Pajak terkait keberatan Perusahaan atas koreksi pajak penghasilan badan tahun pajak 2009. Sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan keuangan konsolidasian interim, Perusahaan belum menerima keputusan dari Pengadilan Pajak terkait surat banding tersebut.
b. Pajak penghasilan badan Perusahaan tahun 2007 dan 2008
Pada tanggal 27 Desember 2013, Perusahaan menerima beberapa Surat Keputusan Pajak Kurang Bayar (“SKPKB”) dari DJP untuk pajak penghasilan badan Perusahaan tahun pajak 2007 dan 2008 masing-masing sebesar Rp110.413 dan Rp97.132, yang dibayarkan oleh Perusahaan pada tanggal 24 Januari 2014. Pada tanggal 20 Maret 2014, Perusahaan mengajukan surat keberatan kepada Kantor Pajak terkait koreksi pajak penghasilan badan Perusahaan tahun pajak 2007 dan 2008 masing-masing sebesar Rp110.413 dan Rp97.132. Pada tanggal 17 dan 19 Maret 2015, Perusahaan menerima surat keputusan dari DJP yang menolak keberatan Perusahaan. Sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan keuangan konsolidasian interim, Perusahaan belum mengajukan surat banding kepada Pengadilan Pajak terkait surat keputusan tersebut.
13. ASET TIDAK LANCAR LAINNYA - BERSIH (lanjutan)
(ii) Tagihan pajak sehubungan dengan pajak penghasilan badan untuk tahun-tahun sebelumnya adalah sebagai berikut: (lanjutan)
c. Pajak penghasilan badan IMM tahun 2012
Pada tanggal 14 Juli 2014, IMM menerima SKPLB dari DJP untuk pajak penghasilan badan IMM tahun pajak 2012 sebesar Rp28.498. IMM menerima koreksi sebesar Rp3.995, yang dibebankan pada usaha tahun 2014 sebagai bagian dari “Beban Pajak Penghasilan - Tahun Berjalan” (Catatan 16). Pada tanggal yang sama, IMM juga menerima beberapa SKPKB untuk kurang bayar atas pajak penghasilan pasal 21, 23 dan 26 dan PPN untuk tahun pajak 2012 sejumlah Rp2.327 (termasuk denda dan bunga). Pada tanggal 28 Agustus 2014, IMM menerima pengembalian pajak atas tagihan pajak untuk pajak penghasilan badan tahun pajak 2012 sebesar Rp26.171, setelah disalinghapuskan dengan jumlah kurang bayar atas pajak penghasilan pasal 23 dan 26 dan PPN untuk tahun pajak 2012.
Berdasarkan SKPLB ini, DJP juga membuat koreksi seluruh akumulasi rugi pajak pada tanggal 31 Desember 2012. Oleh karena itu, pada tanggal 23 Juni 2014, IMM melakukan perhitungan kembali atas pajak penghasilan badan untuk tahun pajak 2013 dengan tidak memperhitungkan kompensasi rugi pajak pada tanggal 31 Desember 2012. Perhitungan kembali ini menyebabkan kurang bayar pajak sebesar Rp4.855, yang dibayarkan pada tanggal yang sama. IMM membebankan kurang bayar setelah disalinghapuskan dengan lebih bayar tahun pajak 2013 (sebelum perhitungan kembali; sebesar Rp708) sebesar Rp2.459 (setelah dikurangi pencadangan beban pajak pada tahun 2012 sebesar Rp3.104) pada usaha tahun 2014 sebagai bagian dari “Beban Pajak Penghasilan - Tahun Berjalan” (Catatan 16).
d. Pajak penghasilan badan Perusahaan tahun 2011
Pada tanggal 26 Juni 2013, Perusahaan menerima SKPLB dari DJP untuk pajak penghasilan badan Perusahaan tahun pajak 2011 sebesar Rp97.600. Pada tanggal 14 Agustus 2013, Perusahaan menerima pengembalian pajak tersebut dari DJP. Berdasarkan SKPLB ini, Kantor Pajak juga membuat dua koreksi sejumlah Rp409.921, yang mengurangi akumulasi rugi pajak pada tanggal 31 Desember 2011. Pada tanggal 23 September 2013, Perusahaan mengajukan surat keberatan kepada Kantor Pajak terkait dua koreksi tersebut. Namun, pada tanggal 16 Oktober 2013, Perusahaan mengajukan surat untuk membatalkan permohonan keberatan atas satu koreksi sebesar Rp165.944. Pada tanggal 2 September 2014, Perusahaan menerima surat keputusan dari DJP yang menerima lebih bayar Perusahaan sebesar Rp97.600 dan membuat koreksi atas perhitungan penghasilan kena pajak dari rugi pajak sebesar Rp266.924 menjadi penghasilan kena pajak sebesar Rp74.652. Pada bulan Desember 2014, Perusahaan memutuskan untuk menerima koreksi yang berkaitan dengan biaya promosi sebesar Rp175.632, yang mengurangi akumulasi rugi pajak pada tanggal 31 Desember 2011.
e. Pajak penghasilan badan Perusahaan tahun 2012
Pada tanggal 20 November 2014, Perusahaan menerima SKPLB dari DJP untuk pajak penghasilan badan Perusahaan tahun 2012 sebesar Rp131.894. Pada tanggal 20 Januari 2015, Perusahaan menerima pengembalian pajak tersebut dari DJP. Berdasarkan SKPLB ini, Kantor Pajak juga membuat dua koreksi sebesar Rp337.325, yang mengurangi akumulasi rugi pajak pada tanggal 31 Desember 2012. Perusahaan menerima sebagian dari koreksi tersebut sebesar Rp5.826. Pada tanggal 18 Februari 2015, Perusahaan mengajukan surat keberatan kepada Kantor Pajak terkait koreksi pajak penghasilan badan Perusahaan tahun pajak 2012 yang tersisa sebesar Rp331.499. Sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan keuangan konsolidasian interim, Perusahaan belum menerima keputusan dari Kantor Pajak atas keberatan tersebut.
13. ASET TIDAK LANCAR LAINNYA - BERSIH (lanjutan)
(iii) Tagihan pajak sehubungan dengan PPN dan lain-lain adalah sebagai berikut:
Tahun Pajak 31 Maret 2015 31 Desember
2014
1 Januari 2014 / 31 Desember
2013
I. Terkait ketidakpastian posisi perpajakan
1a. PPN Perusahaan tahun 2009 - - 50.347
1b. PPN Perusahaan tahun 2010 80.440 199.786 199.786
1c. PPN Perusahaan tahun 2011 127.624 119.344 131.091
1d. PPN Perusahaan tahun 2012 45.484 148.161 148.161
2. Pajak penghasilan pasal 23
Perusahaan tahun 2005 1.398 1.398 1.398
3. PPN SMT tahun 2011 4.660 4.660 -
Cadangan untuk penyesuaian pajak - (148.161) (159.908)
Bersih 259.606 325.188 370.875
II. Tidak terkait dengan ketidakpastian posisi perpajakan Restitusi PPN Perusahaan tahun
2011 dan 2012 - 53.765 53.765
Jumlah 259.606 378.953 424.640
1. PPN Perusahaan tahun 2009, 2010, 2011 dan 2012
a. Pada tanggal 21 April 2011, Perusahaan menerima beberapa SKPKB dari DJP atas PPN Perusahaan periode Januari - Desember 2009 sejumlah Rp182.800 (termasuk denda), yang dibayarkan pada tanggal 15 Juli 2011. Perusahaan menerima sebagian dari koreksi tersebut sebesar Rp4.160, yang dibebankan pada usaha tahun 2011. Pada tanggal 19 Juli 2011, Perusahaan mengajukan surat keberatan kepada Kantor Pajak mengenai koreksi PPN Perusahaan periode Januari - Desember 2009 yang tersisa. Pada tanggal 4 Juni 2012, Perusahaan menerima surat keputusan dari DJP yang menolak keberatan Perusahaan dan berdasarkan pemeriksaan mereka, DJP menambahkan kekurangan pembayaran kepada Perusahaan untuk periode Januari, Maret, April, Juni, Agustus - Desember 2009 sejumlah Rp57.166 dan lebih bayar untuk periode Februari, Mei dan Juli 2009 sejumlah Rp4.027. Pada tanggal 4 Juli 2012, Perusahaan membayar tambahan kurang bayar sebesar Rp57.166. Pada tanggal 24 dan 31 Agustus 2012, Perusahaan menerima pengembalian atas lebih bayar sejumlah Rp4.027. Pada tanggal 3 September 2012, Perusahaan mengajukan surat banding kepada Pengadilan Pajak mengenai koreksi PPN Perusahaan periode Januari - Desember 2009 yang tersisa sebesar Rp231.779.
Pada tanggal 12, 19 dan 20 Februari 2014, Perusahaan menerima Surat Keputusan Pengadilan Pajak masing-masing untuk PPN periode "Januari - Juni 2009", "Juli - Agustus, Oktober - Desember 2009" dan "September 2009", yang menerima banding Perusahaan untuk PPN periode Januari - Desember 2009 sejumlah Rp235.939. Namun, Pengadilan Pajak juga mengenakan secara terpisah PPN kurang bayar sebesar Rp180.930 untuk periode yang sama, menghasilkan lebih bayar bersih sebesar Rp55.009, di mana jumlah tersebut lebih tinggi Rp4.160 dari yang semula diakui oleh Perusahaan dalam laporan keuangan. Perusahaan menerima koreksi yang dibuat oleh Pengadilan Pajak dan dibebankan ke usaha tahun 2013. Selama tanggal 15 - 23 April 2014, Perusahaan telah menerima restitusi sejumlah Rp53.279 (setelah disalinghapuskan dengan kurang bayar Perusahaan atas pajak penghasilan pasal 21 yang sudah dibayar pada tanggal 17 April 2014).
13. ASET TIDAK LANCAR LAINNYA - BERSIH (lanjutan)
(iii) Tagihan pajak sehubungan dengan PPN dan lain-lain adalah sebagai berikut: (lanjutan)
1. PPN Perusahaan tahun 2009, 2010, 2011 dan 2012 (lanjutan)
Pada tanggal 28 Oktober 2014. Perusahaan menerima salinan Memori Permohonan Peninjauan Kembali dari Pengadilan Pajak kepada Mahkamah Agung atas Putusan Pengadilan Pajak tanggal 16 Oktober 2014 untuk kurang bayar PPN Perusahaan periode September 2009. Pada tanggal 21 November 2014, Perusahaan mengajukan Kontra Memorandum Permohonan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung atas PPN Perusahaan untuk periode September 2009. Pada tanggal 5 Januari 2015, Perusahaan menerima salinan Memori Permohonan Peninjauan Kembali dari Pengadilan Pajak kepada Mahkamah Agung atas Surat Keputusan Pengadilan Pajak tertanggal 19 Desember 2014 untuk kurang bayar PPN Perusahaan periode Januari - Maret dan Juni 2009. Pada tanggal 30 Januari 2015, Perusahaan mengajukan Kontra Memori Permohonan Peninjauan Kembali kepada Mahkamah Agung atas PPN Perusahaan untuk periode Januari - Maret dan Juni 2009. Sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan keuangan konsolidasian interim, Perusahaan belum menerima keputusan dari Mahkamah Agung atas Memorandum Permohonan Peninjauan kembali tersebut.
b. Pada tanggal 3 Juli 2012, Perusahaan menerima SKPLB dari DJP atas PPN Perusahaan periode Maret 2010 sebesar Rp28.545, di mana jumlah tersebut lebih rendah dari yang semula diakui oleh Perusahaan dalam laporan keuangan tahun 2012, dan beberapa SKPKB atas PPN Perusahaan periode Januari, Februari dan April - Desember 2010 sejumlah Rp98.011 (termasuk denda). Pada tanggal 2 Agustus 2012, Perusahaan membayar kekurangan pembayaran atas PPN Perusahaan sebesar Rp98.011. Pada tanggal 24 Agustus 2012, Perusahaan menerima kelebihan pembayaran atas PPN Perusahaan sebesar Rp28.545 dari DJP. Pada tanggal 1 dan 2 Oktober 2012, Perusahaan mengajukan surat keberatan kepada Kantor Pajak terkait SKPLB dan beberapa SKPKB PPN Perusahaan periode Januari - Desember 2010 sejumlah Rp106.619. Pada tanggal 17 dan 26 September 2013, Perusahaan menerima surat keputusan dari DJP yang menambahkan kekurangan pembayaran kepada Perusahaan untuk periode Januari - Desember 2010 sejumlah Rp93.167, yang dibayarkan pada tanggal 16 dan 25 Oktober 2013. Pada tanggal 10 Desember 2013, Perusahaan mengajukan surat banding kepada Pengadilan Pajak mengenai koreksi PPN Perusahaan periode Januari - Desember 2010 sejumlah Rp199.786. Pada tanggal 2 April 2015, Perusahaan menerima Surat Keputusan Pengadilan Pajak tertanggal 23 dan 25 Maret 2015 untuk PPN periode Januari - Juni 2010, yang menerima banding Perusahaan. Namun, Pengadilan Pajak juga mengenakan secara terpisah PPN kurang bayar sebesar Rp45.681 untuk periode Januari - Juni 2010 (Catatan 39h). Perusahaan menerima koreksi yang dibuat oleh Pengadilan Pajak dan dibebankan ke usaha tahun 2015.
13. ASET TIDAK LANCAR LAINNYA - BERSIH (lanjutan)
(iii) Tagihan pajak sehubungan dengan PPN dan lain-lain adalah sebagai berikut: (lanjutan)
1. PPN Perusahaan tahun 2009, 2010, 2011 dan 2012 (lanjutan)
c. Pada tanggal 26 Juni 2013, Perusahaan menerima beberapa SKPKB dari DJP atas PPN Perusahaan periode Januari - Desember 2011 sejumlah Rp133.160 (termasuk denda), yang dibayarkan pada tanggal 24 Juli 2013. Perusahaan menerima sebagian koreksi atas PPN sejumlah Rp2.069, yang dibebankan pada usaha tahun 2013. Pada tanggal 23 September 2013, Perusahaan mengajukan surat keberatan kepada Kantor Pajak mengenai koreksi PPN Perusahaan periode Januari - Desember 2011 yang tersisa. Pada tanggal 21 dan 25 Agustus dan 2, 4 dan 12 September 2014, Perusahaan menerima surat keputusan dari DJP yang menolak keberatan Perusahaan dan mengurangi denda untuk periode Juli - Desember 2011 sejumlah Rp1.962. Pada tanggal 20 November 2014, Perusahaan mengajukan surat banding kepada Pengadilan Pajak sehubungan dengan koreksi PPN Perusahaan untuk periode Januari - Desember 2011 sebesar Rp119.344. Sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan keuangan konsolidasian interim, Perusahaan belum menerima keputusan dari Pengadilan Pajak mengenai banding tersebut.
d. Pada tanggal 4 September 2013, Perusahaan menerima beberapa SKPKB dari DJP atas PPN Perusahaan periode Januari - Desember 2012 sejumlah Rp148.161 (termasuk denda), yang dibayarkan oleh Perusahaan pada tanggal 3 Oktober 2013. Pada tanggal 29 November 2013, Perusahaan mengajukan surat keberatan kepada Kantor Pajak mengenai PPN Perusahaan periode Januari - Desember 2012 sejumlah Rp148.161. Pada tanggal 21 dan 27 Agustus dan 1 September 2014, Perusahaan menerima surat keputusan dari DJP yang menolak seluruh keberatan Perusahaan. Pada tanggal 20 November 2014, Perusahaan mengajukan surat banding kepada Pengadilan Pajak sehubungan dengan koreksi PPN Perusahaan untuk periode Januari - Desember 2012 sebesar Rp148.161. Sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan keuangan konsolidasian interim, Perusahaan belum menerima keputusan dari Pengadilan Pajak mengenai banding tersebut.
Berdasarkan penilaian Perusahaan atas ketidakpastian posisi PPN yang disebutkan di atas, Perusahaan membentuk cadangan atas penyesuaian pada tagihan pajak masing-masing sebesar Rp nihil, Rp148.161 dan Rp159.908 pada tanggal 31 Maret 2015, 31 Desember 2014 dan 1 Januari 2014 / 31 Desember 2013 dan membentuk cadangan atas PPN masing-masing sebesar Rp255.251, Rp231.685 dan Rp125.486, pada tanggal 31 Maret 2015, 31 Desember 2014 dan 2013.