• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Bahasa Inggris

2.5.1. Aspek – aspek dalam Kemampuan Bahasa Inggris

Menurut Susanti (2002) Belajar bahasa itu mencakup 4 aspek yaitu: Reading (Membaca), Writing (Menulis), Speaking (Berbicara), Listening (Mendengarkan). Sebagaimana dalam kurikulum 2004 (KBK) yang kemudian disempurnakan dengan kurikulum 2006 (KTSP) mata pelajaran bahasa Inggris di Sekolah disebutkan bahwa salah satu tujuan pengajaran bahasa Inggris adalah mengembangkan kemampuan dalam bahasa tersebut, dalam bentuk lisan dan tulis. Kemampuan berkomunikasi meliputi mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing). Menurut Pattison (1987) komunikasi melibatkan empat

keterampilan berbahasa yaitu listening (menyimak), speaking (berbicara), reading (membaca), dan writing (menulis)

1. Reading (Membaca)

Walaupun kini telah banyak sarana-sarana informasi untuk menambah pengetahuan , seperti misalnya radio, televisi dan internet, membaca masih merupakan hal penting untuk membuka jendela informasi, lagi pula dalam internet sarana informasi yang tercanggih saat ini, kemampuan membaca yang tinggi tetap dituntut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia : Membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis ( dengan melisankan atau hanya di hati ). Kamus Webster mendefinisikan membaca: To read is to understand and grasp the full sense of (such mental formulation) either with or without vocal reproduction. The World Book Encyclopedia menyatakan bahwa : Reading is the act of getting meaning from printed or written words. It is basic to learning and one of the most important skills ineveryday life. Secara sederhana pengertian membaca adalah mengenali huruf-huruf dan kumpulan huruf yang memiliki arti tertentu yang mengekspresikan ide secara tertulis atau tercetak.

Pada waktu membaca teks berbahasa Inggris, pembaca akan dihadapkan kepada lebih dari satu paragraf. Kadang-kadang pembaca mengerti semua kalimat dalam materi bacaan, tetapi tidak bisa menangkap apa yang sebenarnya disampaikan oleh penulis sebagai keseluruhan. Untuk memahami pesan atau informasi yang disampaikan oleh penulis melalui paragraf itu secara keseluruhan, maka pembaca harus mampu :

a Mengetahui ciri dan struktur paragraph Inggris

Paragraf Inggris cenderung bersifat inear, disusun menurut time space, dan logic. Paragraf yang logis hanya menampilkan satu ide yang terbatas dan selanjutnya ide ini dikembangkan, didukung oleh sejumlah uraian penunjang (supporting details). Antara ide dan uraian pendukung dihubungkan oleh transitional devices. Paragraf Inggris memiliki ciri unity dan coherence dalam artian bahwa suatu paragraf tidak saja merupakan kumpulan kalimat tetapi merupakan suatu kesatuan (unit) yang memuat satu topik dan penulisnya harus selalu menulis tentang topik itu saja didukung oleh uraian yang relevan.

b Mengetahui jenis paragraph yang mungkin dihadapi

Penyusunan paragraf merupakan kerangka kerja komunikatif di mana suatu ide dipresentasikan dalam bahasa tertulis. Penyusunan ini memerlukan suatu pengaturan informasi yang sifatnya artifisial. Dengan demikian cara pengembangan paragraf yang berbeda akan menghasilkan jenis paragraf yang berbeda pula. Di antara berbagai jenis paragraf yang ada yang paling umum dijumpai dalam tulisan ilmiah adalah:

a) Paragraf yang dikembangkan dengan contoh

Dalam paragraf ini penulis memberikan pembacanya fakta-fakta yang membantu membuat topik paragraf itu lebih konkret dan lebih gampang dimengerti. Teknik ini biasarsya digunakan bila topik paragraf dipandang cukup luas dan abstrak.

b) Paragraf sebab – akibat yakni jenis paragraf yang memperlihatkan hubungan antara dua pernyataan. Yang satu merupakan akibat dari yang lainnya.

c) Paragraf perbandingan dan kontras yang mengungkapkan persamaan atau perbedaan antara dua item dengan menunjukkan sejumlah elemen dari masing-masing item.

d) Paragraf definisi

Paragraf ini dikembangkan bila penulis menggunakan kata atau istilah yang mungkin bisa membuat pembaca bingung dan salah mengerti. Untuk mengatasinya dia menjelaskan arti kata/istilah itu untuk pembaca dengan memberi batasan atau padanan kata, beberapa contoh dan penjelasan arti. Tentu saja masih terdapat jenis paragraf lain seperti misalnya paragraf analogi,. deduktif, iriduktif dan lain sebagainya, namun pada kesempatan ini tidak dibicarakan mengingat keterbatasan tempat dan waktu di samping banyaknya aspek yang bisa diteliti dan dikembangkan mengenai paragraf. c Mencari topik dalam paragraph

Topik paragraf merupakan inti pembicaraan atau ide sentral dalam suatu paragraf. Tiap paragraf terdiri dari sebuah kalunat topik (topic sentence) dan kalimat- kalimat penunjang (supporting sentences). Pembaca bisa menemui topik paragraf dalam kalimat topik karena kalimat ini merupakan ide yang disarikan dari paragraf. Dalam paragraf Inggris kalimat topik bisa ditemui pada awal, di tengah atau di akhir paragraf. Bahkan kadang-kadang topik itu tersirat.

Kalau demikian ide ini cenderung bersifat abstrak sedangkan kalimat-kalimat pendukungnya biasanya konkrit.

d Mencari ide pokok

Setelah menemukan topik paragraf pembaca harus bisa mencari ide utama/pokok. Ide ini merupakan "controlling idea" yakni titik tolak pembicaraan dalam pengembangan paragraf. Controlling idea ini bisa ditemukan dalam kalimat topik atau kalimat yang berdekatan dengannya. Wujudnya bisa berupa definisi, klasifikasi, tujuan atau penyelasan topik. Idea utama atau,controlling idea ini mungkin diekspresikan melalui :

a) frasa : two main types; several reasons; three groups; the following results; these effects; several problems; three disadvantages; several ways three main causes; four aims; three kinds; three routes dan sebagainya,

b) kata sifat : suitable unsuitable good bad successful unsuccessful beneficial harmful fortunate unfortunate beautiful ugly healthy unhealthy; dan an sebagainya.

e Mencari uraian penunjang (supporting details)

Langkah selanjutnya yang diambil oleh pembaca apabila sudah menemukan topik paragraf dan controlling idea adalah berusaha mencari uraian pendukung sehingga ide atau informasi yang disampaikan penulis secara keseluruhan akan bisa ditangkap sepenuhnya. Uraian ini biasanya memberikan identitas kepada paragraf itu sendiri sebagai pendukung ide utama.

Ada beberapa jenis fungsi uraian pendukung yang bisa digunakan sebagai petunjuk dalam membaca tulisan ilmiah berbahasa Inggris seperti :

a) uraian yang mendefinisikan yakni suatu uraian yang mendukung ide utama dengan memberikan suatu definisi Lerhadap sesuatu yang dipresentasikan dalam ide utama itu,

b) uraian yang mengklasifikasikan yakni uraian yang mengembangkan ide utama dengan mengklasifikasikan sesuatu yang ditunjukkan dalam ide utama itu, c) uraian yang memberikan penjelJsan terhadap ide utama seperti pada

umumnya menguraikan suatu proses, ukuran, bentuk, ciricirl, fungsi, dan sebagainya,

d) uraian yang mengembangkan ide utama dengan memberikan contoh-contoh ilustratif. Ini bisa dilihat melalui signal words seperti that is, for example, such as, include, for instance, dan sebagainya,

e) uraian yang memberikan perbandingan/kontras dengan mengembangkan ide utama melalui mengutarakan persamaan atau perbedaan suatu benda atau konsep,

f) uraian yang mengembangkan ide utama dengan mengemukakan hubungan sebab-akibat dan menggunakan signal words seperti that is why, consequently, as a result, for this reason, hence, dan sebagainya,

g) uraian yang dimaksudkan mengulang kembali ide utama dengan menggunakan cara lainnya atau dengan menyimpulkannya; ini dapat ditandai

oleh pembaca dengan mengetahui signal words yang biasa dipakai seperti in other words, that is, in short, in conclusion, dan sebagainya.

2. Writing (Menulis)

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa dan merupakan suatu kegiatan yang mempunyai hubungan dengan proses berpikir serta keterampilan ekspresi dalam bentuk tulisan walaupun menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa, tetapi dalam proses pembelajaran bahasa tidak mungkin dipisahkan dengan keterampilan berbahasa yang lain seperti mendengarkan, berbicara dan membaca. Keempat keterampilan berbahasa itu terdapat saling melengkapi. Berkomunikasi secara lisan dan tulis dengan menggunakan ragam bahasa yang sesuai secara lancar dan akurat dalam wacana interaksional dan atau monolog yang melibatkan wacana berbentuk, deskriptif, naratif, spoofl, recount, prosedur, report, news item, anekdot, eksposisi, explanation, discussion, commentary, dan review dengan variasi ungkapan makna interpersonal, ideasional, dan tekstual sederhana (Depdiknas, 2004). Pengajaran keterampilan menulis bahasa Inggris untuk siswa diarahkan ke pencapaian kompetensi yang dapat terlibat dalam kemampuan siswa mengungkapkan berbagai makna dengan langkah-langkah retorika yang benar di dalam teks tertulis tentang suatu topik berkaitan dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual), dengan penekanan ciri-ciri ragam bahasa tulis. Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang terpadu, yang ditujukan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan. Menurut Akhadiah, dkk (1988 ) bahsa menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematik serta

mengungkapkannya secara tersurat. Dalam proses pembelajaran keterampilan ini bisa diwujudkan dalam bentuk materi menulis dengan berbagai indikatornya. Sebagaimana materi lainnya, materi inipun seharusnya disajikan secara bertahap, karena menulis merupakan keterampilan lanjutan yang cukup kompleks.

Kegiatan menulis, khususnya menulis Bahasa Inggris, adalah suatu proses kognitif dan kreatif yang terjadi secara berulang-ulang tetapi tidak linier. Proses menulis adalah suatu kegiatan kognitif. Sebagai suatu proses kognitif, menulis adalah suatu alat yang digunakan untuk menuangkan buah pikiran. Secara kognitif, di dalam pikiran terdapat suatu skema yang mengandung potensi makna. Potensi ini berkembang karena adanya stimulus dari luar dan akan terjadi suatu transaksi antara potensi itu dengan pengaruh luar tersebut. Jadi untuk berkembang dengaan optimal, diperlukan faktor mediasi (Confrey, 1995), yaitu suatu intervensi lingkungan yang membangkitkan potensi yang ada dan menjadikannya suatu kemampuan.

Menulis juga suatu proses kreatif. Kreativitas dikaitkan dengan fungsi dasar manusia, yaitu berpikir, merasa, menginderakan, dan intuisi (Semiawan, 1997). Kreativitas merupakan ekspresi tertinggi dari sintesa atas semua fungsi dasar manusia tersebut. Kreativitas dalam proses menulis tercermin dari topik yang dipilih, cara mengembangkan alur (plot) tulisan, serta pemilihan kosakata dan pola-pola kalimat yang menunjukkan gaya (style) seorang penulis. Hasil transaksi tersebut merupakan sesuatu yang baru dan unik. Karena peran unsur kreativitas ini, setiap karya tulis tidak pernah ada yang persis sama satu sama lain. Keunikan suatu karya tulis mencerminkan kreativitas penulisnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa

tulisan adalah refleksi dari pikiran kreatif, dan karena ia merupakan hasil transaksi maka ia sekaligus juga mengembangkan pikiran (menambah skema yang telah ada sebelumnya). Secara umum, ramuan kognitif dan kreatif di atas dalam proses menulis dapat dilihat pada tiga tahap utama proses menulis, yaitu pramenulis, menulis, dan merevisi.

Kemampuan menulis merupakan suatu kemampuan yang dihasilkan dari suatu proses menulis yang melibatkan faktor kognitif dan kreativitas dimana potensi yang dimiliki dan pengaruh faktor lingkungan bertransaksi untuk membentuk kemampuan menulis yang mencakup lima dimensi kemampuan yaitu kemampuan menemukan ide (isi) tulisan, susunan/organisasi ide, struktur kalimat, kosakata dan gaya (style).

3. Speaking (Berbicara)

Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi Finochiaro dalam Azis (1964:8) mengatakan bahwa: “Language is a system of arbitary, vocal symbols which permit all people in a given culture, or other people who have learned the system of that culture to communicate or to interact.” Sementara itu Wardhaugh dalam Azis (1972:3) mendefinisikan bahasa: “Language is a system of arbitary vocal symbols used human communication.”

Kedua defenisi bahasa di atas sangat mirip dengan pernyataan bahwa bahasa adalah sistem arbitrer yang dilambangkan dengan bunyi-bunyi ujaran yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Komunikasi yang dilakukan manusia dapat berbentuk lisan yang dihasilkan alat ucap manusia dan juga berbentuk tulisan yang terdiri dari lambang-lambang yang berupa huruf dan tanda baca. Menurut Maidar dan Mukti

(1993:17) berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka, ditambah dengan gerak tangan dan air muka (mimik) pada saat berbicara.

Komunikasi baik lisan maupun tulis baru akan berfungsi jika pelaku komunikasi saling dapat menjalankan perannya dengan baik. Partisipasi dan keterlibatan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat akan terganggu karena ketidamampuannya dalam memahami informasi isi, misalnya: siaran radio, siaran televisi, surat kabar, pengumuman-pengumuman, pelajaran kuliah, film, dan sebagainya. Berkenaan dengan keterampilan berbicara Rivers (1980) mengatakan: “we must not forget, however, that aural comprehension is an essential elemen of an act of communication which has frequently been neglected in language classroom. That student should have convidence in their ability to comprehend all kinds of spoken messages should be a goal of intruction from the early stage.”

Dilihat dari cara mengevaluasi, Madsen (1983) menjelaskan bahwa komunikasi merupakan suatu kegiatan yang sangat kompleks. Maka dari itu tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan berkomunikasi juga menjadi sangat kompleks, yaitu tidak hanya sekedar mengukur pengetahuan tentang bahasa melainkan bagaimana menggunakan pengetahuan bahasa tersebut dalam berkomunikasi. Hal serupa juga dikemukakan oleh Sirait (1985:154) bahwa evaluasi pembelajaran keterampilan berbahasa seyogianya bertujuan untuk mengukur keterampilan berbahasa siswa baik lisan maupun tulis. Harus diakui bahwa mengukur

keterampilan jauh lebih sulit dibandingkan mengukur pengetahuan. Para guru menyadari bahwa pengujian keterampilan memang sangat diperlukank, namun sering diabaikan. Hal ini disebabkan pelaksanaan tes keterampilan lebih sukar daripada pelaksanaan tes pengetahuan. Dalam persiapan dan pelaksanaan tes ini diperlukan waktu lebih banyak dan pemberian skornya bersifat subyektif.

Sehubungan dengan evaluasi, dari keempat keterampilan berbahasa tersebut dikatakan oleh Madsen bahwa tes keterampilan berbahasa merupakan tes yang mempunyai tantangan yang paling berat dalam hal persiapan, pengadministrasian dan penilaian. Madsen (1983:147) juga menambahkan bahwa: “What are some of the reasons why speaking tests seem so challenging? One reason is that the nature of speaking skill itself is not usually well defined. Understandably then, there is some disagreement on just what critria to choose in evaluating oral communication. Grammar, vocabulary, and pronunciation are often named as ingredients. But matters such as fluency and appropriatness of expression are usually regarded as equally important.”

Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dalam mempersiapkan dan melaksanakan tes keterampilan berbahasa guru/dosen harus memahami konsep- konsep tentang keterampilan berbahasa tersebut. Sedangkan komponen atau kriteria yang dinilai yaitu Task Achievement, Pronunciation, Fluency, Vocabulary, dan Grammar.

Halim (1974:116) menuliskan sekurang-kurangnya terdapat lima unsur dalam berbicara, yaitu: (1) lafal atau ucapan termasuk vocal, konsonan, pola-pola, intonasi,

dan tekanan; (2) tata bahasa; (3) kosakata; (4) kefasihan (kelancaran dan kecepatan berbicara; (5) pemahaman.

Nurgiantoro (1987:253) menjelaskan bahwa bentuk-bentuk kemampuan berbicara yang dipilih seharusnya memungkinkan siswa untuk tidak hanya mengungkapkan kemampuan berbahasanya, melainkan juga mengungkapkan gagasan, pikiran atau perasaannya. Dengan demikian tes tersebut bersifat fungsional. Adapun bentuk-bentuk tes tersebut dapat berupa: (1) berbicara berdasarkan gambar, (2) wawancara, (3) bercerita, (4) pidato, (5) diskusi.

Evaluasi keterampilan berbicara bertujuan mengukur kemampuan siswa dalam menyampaikan dan mengekspresikan pikiran/gagasan dan perasaannya secara lisan dengan cara merangkum kata-kata disertai dengan unsur-unsur prosodi seperti: tekanan, nada, jeda yang tepat dan artikulasi bunyi yang jelas. Bentuk soal tes keterampilan berbicara dapat berupa pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari testi atau berupa skenario yang harus diceritakan atau diperankan testi. Soal-soal ini disusun secara cermat sehingga benar-benar dapat mengukut tujuan yang hendak dicapai. Dalam pelaksanaan ujian mahasiswa berhadapan langsung dengan penguji.

4. Listening (Mendengar)

Rivers (1981) mengatakan : “No matter the approach, however, the beginning lesson should provide frequent opportunities for hearing certain segments of language to develop familiarity with the phonological and syntactical patterning.” Pentingnya keterampilan menyimak/ mendengar bagi siswa untuk tujuan ‘familiarity’

terhadap fonem-fonem umum Bahasa Inggris sedini mungkin, bila kita/guru mengiginkan siswanya benar-benar menjadi ‘effective listeners’. Selanjutnya Penny Ur (1984) mengatakan : “I am not concerned here so much with his pronunciation but it is true that if he learns to pronounce the sounds accurately himself, it will be much easier for him to hear them correctly when said by someone else.” Rivers (1981) berpendapat bahwa materi yang digunakan untuk pengajaran menyimak terutama pada pengajaran tingkat pemula haruslah otentik yaitu materi harus berisi ujaran-ujaran yang sangat sering muncul. Dia jug mengatakan: “Teaching students to comprehend artificial language combination which would rarely be heard from a native speaker is a waste of time and energy, and can only confuse the student when later confronted with natural speech.”

Anderson dan Lynch dalam Pujiati, berpendapat bahwa menyimak/ mendengarkan itu merupakan hal yang kompleks. Untuk memahami bahan simakan, penyimak harus mengintegrasikan secara simultan keterampilan-keterampilan, yaitu: keterampilan mengidentifikasi bunyi-bunyi, keterampilan memahami arti kata, keterampilan memahami makna kalimat dalam ujaran, dan keterampilan merumuskan suatu respon dengan cepat. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian (juncture). Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka, ditambah dengan gerak tangan dan air muka (mimik) pembicara. Keterampilan menyimak adalah kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasikan bunyi-bunyi, memahami arti kata dan kalimat dalam ujaran serta merumuskan suatu respon dengan tepat. Dengan demikian, bentuk soal tes menyimak adalah berupa

ujaran yang dituturkan seseorang. Ujaran ini dapat dituturkan langsung oleh seorang penguji, dapat pula direkam dalam media kaset.

Selanjutnya menurut Rost (1994) Listening is vital in language classroom because it provides input for the learner. Ini artinya Mendengar atau menyimak merupakana kemampuan fundamental dalam bahasa, dengan mendengar atau menyimak siswa mampu mendapatakan infrormasi dari guru. Rost (2002) menambahkan bahwasannya Listening, in its brodest sense, as a process of receiving what he speaker actually says (receptive orientation); constructing and representing meaning (constructive orientation); negotiating menaing with the speaker and responding (collaborative orrientation); and creating meaning through involment, imagination and empathy (transformative orientation). Hal ini menunjukkan mendengar atau menyimak merupakan sebuah kemampuan yang bersifat kompleks yang berjalan pada kehidupan nyata melalui beberapa proses dimana pendengar harus aktif dan kreatif dalam meningkatkan kemampuannya karena keahlian dalam mendengar tidak hanya berhubungan dengan identifikasi phoneme,kata – kata, intonasi, penekanan pada kalimat, tetapi yang paling penting adalah identifikasi dari isi pesan tersebut. Melihat dari beberapa aspek – aspek penting dari mendengar atau menyimak, Underwood (1989) melihat ada masalah – masalah penting dalam mendengar atau menyimak, sebagai berikut:

(1) lack of control over the speed at which speaker speak, (2) not being able to get things repeated,

(4) failure to organize the signals, (5) problems of interpretation, (6) inability to concentrate.

Ada beberapa perbedaan dalam jenis dari mendengarkan atau menyimak. Rost (2002) mengklafikasikannya menjadi 3 jenis mendengarkan atau menyimak berdasarkan instructional design yang diuraikan sebagai berikut:

(1) Intensive listening refers to listening for precise sounds, words, phrases, grammatical units and prgmatic units. The prototypical intensive listening activity is dictation, the transcription of the exact words that a speker utters.

(2) Selective listening refers to listening for specific information rather than trying to understand and recall everything.

(3) Interactive listening refers to listening in collaborative conversation. Collaborative conversation, in which learners interact with each other or with native speakers, is established as vital means of language development.

Menurut Lucas (1992) Mendengar atau menyimak adalah kemampuan mengetahui, mengidentifikasi, mengerti, dan menyerap pesan atau informasi didalam bahasa yang disampaikan dengan cepat dan akurat. Hal ini menunjukkan pendengar harus dapat membedakan antara suara, memahami kosa kota dan struktur bahasa dalam memahami isi pesan tersebut. Selanjutnnya menurut Buck (2002) ada delapan kemampuan mendengar atau menyimak yang penting, antara lain: the ability to (1) process faster input, (2) process lower – frequency vocabulary, (3) process tests with higher vocabulary density, (4) process more complex structures, (5) process longer

segments, (6) process texts with a higher information density, (7) scan short segments to determine listening purpose, (8) synthesis scattered information, (9) use redundant information.

Nunan (1999) menyatakan Mendengar adalah sebuah proses konstruktif dalam memahami stimulasi linguistik, para pendengar harus mengkonsepsi tujuan yang orisinil dari pembicara dengan membuat proses bottom-up dan top-down dan mengetahui kemampuan yang mereka sudah ketahui untuk menggunakan ilmu baru. Ini artinya ada dua proses yang mencakup dalam kemampuan mendengar atau menyimak yang diuraikan sebagai berikut:

(1) Top-down processes

The influence of the information which stored in the memory in the form of prior knowledge is knowm as top-down processes. Listeners use top-down process when they use prior knowledge to understand the meaning of a massage. Prior knowledge can be knowledge of the topic, the listening context, the text- type,the culture or other information stored in long-term memory as schemata (typical sequences or common situations around which world knowledge is organized). Listeners use content words and contextual clues to form hypotheses in an exploratory fashion. Top-down include; listening for the main idea, predecting, drawing inferences and summarizing.

(2) Bottom-up process

The analysis of the sonsory information coming in from the outside is known as bottom-up process. Listeners also use bottom-up process when they use linguistic

knowledge to understand the meaning of a massage. They build menaing from lower level sounds to words to grammatical relationships to lexical meanings in order to arrive at the final massage. Bottom-up include; listening for specific details, recognizing cognates and word-order patterns.

2.6 Penelitian Terdahulu

Beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini, antara lain : Artini (2004) : Dynamic Qualities sebagai upaya Optimalisasi Potensi Berbahasa Inggris di Indonesia menunjukkan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah, sampai

Dokumen terkait