• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Aspek – aspek Ketenagakerjaan

Surya (2006:90), megemukakan bahwa kualifikasi seorang pegawai (tenaga kerja) tidak semata-mata ditentukan oleh pemilikan gelar akademik, tetapi juga ditentukan oleh pemilikan keterampilan. Bagi pengguna tenaga kerja, yang diinginkan adalah calon yang terampil dan bisa bekerja, meskipun tidak memiliki gelar akademik tinggi.

Pernyataan tersebut di atas menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia sangat dibutuhkan untuk menhasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, karena keterampilan seseorang tidak dapat diukur hanya dengan secarik ijazah yang diperolehnya di bangku sekolah.

Sejalan dengan pernyataan diatas Hamalik (2000:7) menyatakan bahwa tenaga kerja (ketenagakerjaan) adalah sumber daya manusia yang memiliki potensi, kemampuan, yang tepat guna, berdaya guna, berpribadi dalam kategori tertentu untuk bekerja dan berperan serta dalam pembangunan, sehingga berhasil guna bagi dirinya dan masyarakat secara keseluruhan.

Selanjutnya Sumarsono (2003:4), menyatakan bahwa Sumber daya Manusia (human resources) mengandung dua pengertian, pertama, sumber daya manusia (SDM) mengandung pengertian usaha kerja atau jasa yang dapat diberikan dalam

proses produksi. Dalam hal ini SDM mencerminkan usaha yang diberikan oleh seseorang dalam waktu tertentu untuk menghasilkan barang dan jasa. Kedua, SDM menyangkut manusia yang mampu bekerja untuk memberikan jasa atau usaha kerja tersebut.

Jadi pengertian tenaga kerja adalah semua orang yang bersedia untuk sanggup bekerja menghasilkan suatu output (hasil kerja) kemudian hasil kerja tersebut diukur dengan upah (penghasilan). Jika berbicara mengenai ketenagakerjaan tentu tidak terlepas dari produktivitas dan upah yang diperoleh seseorang dalam bekerja.

Ada 4 (empat) hal yang berkaitan dengan tenaga kerja (Sumarsono, 2003:7, yaitu : 1) Bekerja (employed), jumlah ini dipakai sebagai petunjuk tentang luasnya kesempatan kerja (employment). Dalam pengkajian ketenagakerjaan kesempatan kerja sering dipicu sebagai permintaan tenaga kerja, 2) Pencari Kerja (Unemployed), penduduk yang menawarkan tenaga kerja tetapi belum berhasil memperoleh pekerjaan dianggap terus mencari pekerjaan, 3) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (Labor Force Participation Rate), 4) Profil Angkatan Kerja.

Teori ketenagakerjaan (SAKERNAS,2009) adalah Konsep Dasar Angkatan Kerja (Standard Labor Force Concept) dimana penduduk dikelompokkan menjadi penduduk usia kerja dan bukan usia kerja. Pengukurannya didasarkan pada periode hunjukan (time reference), yaitu kegiatan yang dilakukan selama seminggu yang lalu sehari sebelum pencacahan. Angkatan Kerja terdiri dari penduduk yang bekerja dan pengangguran Bukan Angkatan Kerja terdiri dari penduduk yang pada periode hunjukan tidak mempunyai/melakukan aktivitas ekonomi, baik karena sekolah,

mengurus rumah tangga, atau lainnya (pensiun, penerima transfer/kiriman, penerima deposito/bunga bank, jompo atau alasan lainnya).

Yang dimaksud dengan bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan paling sedikit selama satu jam dalam seminggu yang lalu. Bekerja selama satu jam tersebut harus dilakukan berturut-turut dan tidak terputus. Penghasilan atau keuntungan mencakup upah/gaji/pendapatan termasuk semua tunjangan dan bonus bagi pekerja/karyawan/pegawai dan hasil usaha berupa sewa, bunga atau keuntungan baik berupa uang atau barang bagi pengusaha. Kegiatan bekerja ini mencakup, baik yang sedang bekerja maupun yang punya pekerjaan tetapi dalam seminggu yang lalu sementara tidak aktif bekerja, misal karena cuti, sakit dan sebagainya.

Pengangguran meliputi penduduk yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan, atau mempersiapkan suatu usaha, atau merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan (putus asa), atau sudah diterima bekerja, tetapi belum mulai bekerja.

Mencari pekerjaan adalah upaya yang dilakukan untuk memperoleh pekerjaan pada suatu periode hunjukan. .

Mempersiapkan usaha adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mempersiapkan suatu usaha yang ” baru ” yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan atas resiko sendiri, baik dengan atau tanpa mempekerjakan buruh/karyawan/pegawai dibayar maupun tak dibayar.

Merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan (putus asa) adalah alasan bagi mereka yang berkali-kali mencari pekerjaan tetapi tidak berhasil mendapatkan pekerjaan sehingga ia merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan yang diinginkan.

2.3.2 Lapangan kerja dan Kesempatan Kerja

Lapangan kerja adalah bidang/jenis pekerjaan yang mampu memberikan kesempatan kepada seseorang melakukan aktivitas kegiatan untuk menghasilkan upah (gaji). Lapangan pekerjaan ini terdiri dari berbagai sektor yaitu, 1) industri pengolahan, 2) pertanian, peternakan dan perikanan, 3) pertambangan dan penggalian, 4) listrik, gas dan air, 5) bangunan/konstruksi, 6) perdagangan, hotel dan restoran, 7) angkatan, pergudangan dan komunikasi, 8) keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan/tanah dan jasa perusahaan, 9) jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan.

Adanya permintaan tenaga kerja oleh perusahaan-perusahaan tentunya merupakan peluang kesempatan untuk memperoleh pekerjaan bagi para pencari karja. Karena kebijaksanaan perluasan kerja erat hubungannya dengan kebijaksanaan kependudukan dan sumber utama penawaran tenaga kerja adalah penduduk. Tidak semua penduduk menawarkan tenaga kerjanya dipasar tenaga kerja, hal ini karena mereka lebih dulu mempertimbangkan kelayakan bekerja berdasarkan kesesuaian pekerjaan dengan upah yang diterimnanya, selain itu kemampuannya untuk melakukan pekerjaan tersebut juga merupakan bahan pertimbangan baginya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa tidak semua tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja siap bekerja.

Secara umum penyediaan (penawaran) tenaga kerja suatu negara atau daerah dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jumlah penduduk, tenaga kerja, pendidikan, perkembangan ekonomi dan lain sebagainya (Sumarsono, 2003:41).

Semakin sempitnya daya serap sektor modern terhadap perluasan kesempatan kerja telah menyebabkan sektor tradisional menjadi tempat penampungan angkatan kerja. Hal ini terjadi karena langkanya tenaga yang cukup terdidik karena ekonomi industri membutuhkan tenaga kerja yang mendidik. Mutu angkatan kerja Indonesia dilihat dari keperluan proses industrialisasi sangat tidak memadai.

Menurut perkiraan para ahli, sekitar 70%-78% dari angkatan kerja pada tahun 1990 sampai dengan 1995, jumlah pekerja yang secara pasti mendapat pekerjaan disektor modern hanya sebesar 22%-30% atau berkisar 11 juta sampai dengan 23 juta pekerja (Buchori, 1995:32).

Dari pernyataan tersebut diatas dapat dilihat bahwa jumlah pekerja yang mendapat pekerjaan disektor modern sangat kecil sekali. Hal ini terjadi bukan saja dikarenakan peluang atau kesempatan kerja yang tidak ada namun sering juga disebabkan karena tidak adanya tenaga yang dibutuhkan untuk menempati suatu lowongan pekerjaan. Oleh karena itu untuk mengisi peluang tersebut diperlukan adanya pasar tenaga kerja. Menurut Sumarsono (2003:99), pasar kerja merupakan seluruh aktivitas dari para pelaku yang tujuannya adalah mempertemukan pencari kerja dan lowongan kerja. Sedangkan pasar tenaga kerja (Sumarsono, 2003:103),

yaitu seluruh aktivitas dari pelaku-pelaku yang mempertemukan pencari kerja dan lowongan kerja. Pelaku-pelaku ini terdiri dari : 1) pengusaha yang membutuhkan tenaga kerja, 2) pencari kerja, dan 3) perantara atau pihak ketiga yang memberikan kemudahan bagi pengusaha dan pencari kerja untuk saling berhubungan.

Dalam permintaan tenaga kerja biasanya perusahaan selalu memperhatikan dari berbagai aspek, salah satunya adalah bagaimana mengisi lowongan yang ada dengan ornag yang sesuai (Sumarsono, 2003:108). Jadi dalan hal ini harus ada kesesuaian antara lowongan pekerjaan dengan tingkat pendidikan dan keterampilan dari calon tenaga kerja tersebut.

Jika berbicara mengenai tenaga kerja yang memiliki tingkat pendidikan dan keterampilan maka kita dapat membedakan pusat tenaga kerja yang terdidik dan tidak terdidik. Pasar tenaga kerja terdidik adalah pasar tenaga kerja yang membutuhkan persyaratan dengan kualifikasi khusus yang biasanya diperoleh melalui jenjang pendidikan formal dan membutuhkan waktu yang lama serta biaya pendidikan yang cukup besar. Sedangkan pasar tenaga kerja tidak terdidik merupakan pasar kerja yang menawarkan dan meminta tenaga kerja yang tidak membutuhkan kualifikasi dan tingkat pendidikan yang relatif rendah.

2.4 Keterkaitan antara Pendidikan, Ketenagakerjaan dengan Pengembangan

Dokumen terkait