BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
3. Aspek-aspek Gaya Kepemimpinan Transformasional
Menurut Bass dan Avolio (Patty, 2001) ada empat aspek yang mendasari gaya kepemimpinan transformasional. Keempat aspek gaya kepemimpinan transformasional itu adalah :
a. Karisma (charisma)
Kepemimpinan Karismatik merupakan proses pemimpin mempengaruhi bawahan dengan menimbulkan emosi-emosi yang kuat (Yukl, 1989) kepemimpinan karismatik berkaitan dengan reaksi bawahan terhadap pemimpin
dan pada pemimpin. Pemimpin diidentifikasikan dengan dijadikan sebagai penutan oleh bawahan, dipercaya, dihormati dan mempunyai misi dan visi yang jelas menurut persepsi bawahan dapat diwujudkan. Pemimpin mendapatkan standard yang tinggi dan sasaran yang menantang bagi bawahan (Bass,1985).
House (Purwanto, 2001) berpendapat bahwa pemimpin karismatik berdampak besar bagi para pengikutnya. Para pengikut merasa bahwa keyakinan pemimpin benar, sehingga meningkatkan ketaatan pada diri bawahan dalam menjalankan misinya. Pemimpin mempunyai kebutuhan akan kekuasaan yang tinggi, pendirian yang kuat, rasa percaya diri yang tinggi dan keyakinan terhadap nilai-nilai yang dianut, kesemuanya ini akhirnya berdampak pada peningkatan kepercayaan para pengikut terhadap apa yang dikemukakan oleh pemimpin tersebut.
Karisma merupakan kekuatan pemimpin yang besar untuk memotivasi mitra kerjanya dalam melaksanakan tugasnya. Bawahan mempercayai atasan karena mempunyai pandangan, nilai dan tujuan yang dianggap benar, oleh karena itu pemimpin yang mempunyai karisma lebih besar akan lebih mudah mempengaruhi dan mengarahkan mitra usahanya agar bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemimpinnya.
Pemimpin yang berkarisma adalah seorang pemimpin yang dapat memperlihatkan visi, kemampuan dan keahliannya serta tindakan mendahulukan kepentingan perusahaan dan kepentingan orang lain dari para kepentingan pribadi. Pemimpin yang berkarisma dapat dijadikan suri teladan, idola dan model bagi bawahannya.
b. Rangsangan intelektual (intellectual stimulation)
Menurut Bass (1985) rangsangan intelektual, berarti mengenalkan cara pemecahan masalah secara cerdik, rasional dan hati-hati sehingga anggota mampu berpikir tentang masalah dengan cara baru dan menghasilkan pemecahan yang kreatif. Rangsangan intelektual berarti menghargai kecerdasan, mengembangkan rasionalitas dan pengambilan keputusan secara hati-hati.
Kemampuan sang pemimpin untuk menstimuli pemikiran atau ide-ide
bawahannya (intellectual stimulation), dalam bahasa sederhana pemimpin
transformasional adalah seorang pemimpin yang cerdas sehingga ide-idenya atau analisanya mampu membuat pencerahan intelektual pada mitra usahanya. Seperti diterangkan oleh Seltzer dan Bass (1990) bahwa stimulasi intelektual ini, pemimpin merangsang kreatifitas bawahan dan mendorong untuk menemukan pendekatan-pendekatan baru terhadap masalah lama.
Menurut Bass (1985) melalui pendekatan ini bawahan di dorong utnuk berpikir tentang relevansi rasa, sistem nilai, kepercayaan, harapan dan bentuk organisasi yang ada saat ini. Bawahan juga didorong melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan dan berkreasi untuk mengembangkan kemampuan diri, serta didorong untuk menetapkan tujuan atau sasarannya yang menantang. Rangsangan intelektual adalah upaya pemimpin meningkatkan kesadaran bawahan terhadap persoalan-persoalan dan mempengaruhi bawahan untuk melihat persoalan tersebut melalui perspektif baru (Yukl, 1989).
Dengan ini maka dibutuhkan pula pemimpin yang dengan sendirinya terus menerus menjadi manusia pembelajar. Schein (Bagus, 2001) mengatakan
pemimpin dengan sendirinya adalah seorang “perceptual learner” atau pembelajar yang terus menerus yang tidak kenal lelah sehingga pemimpin harus perseptif atau tanggap terhadap persoalan, mampu memotivasi, memiliki kekuatan emosional dalam memenangkan kecemasan, mengubah asumsi budaya (mampu menjual visi dan konsep baru) dan mampu menciptakan keterlibatan dan partisipasi serta mempelajari budaya baru.
Ukuran dan efektifitas pemimpin adalah seberapa banyak kemampuan bawahan dalam menyelesaikan tugas tanpa kehadiran pemimpin (Bass dan Avolio, 1990). Bawahan belajar memecahkan masalah dengan cara sendiri secara kreatif dan inovatif. Melalui praktik intelektual ini, mitra kerja kita diberi kesempatan seluas-luasnya oleh pemimpinnya untuk bertindak secara kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan masalahnya. Dengan kata lain bawahan diberi kesempatan oleh pemimpin untuk berekspresi diri dan mengembangkan diri. c. Inspirasional (Inspiration)
Pemimpin inspirasional adalah seorang pemimpin yang bertindak dengan cara memotivasi dan menginspirasi bawahan yang berarti mampu mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi dari bawahannya, menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan pada kerja keras, mengekspresikan tujuan dengan cara sederhana. Selain itu, pemimpin inspirasional mampu mendorong bawahan untuk menetapkan suatu tujuan yang menantang dengan standard yang tinggi. Adanya tujuan yang menantang ini diharapkan akan mampu mendorong bawahan untuk memfokuskan pada usaha yang keras dalam mencapai target tersebut.
Pemimpin inspirasional mengembangkan suatu pemecahan masalah dengan menggunakan simbol-simbol untuk lebih mempermudah pemecahannya. Selain itu dalam upaya pemecahan masalah, seorang pemimpin harus menunjukkan kesan sebagai pemimpin yang pandai. Pemimpin inspirasional mampu memberikan arti yang jelas terhadap tindakan yang direncanakan, bersikap tenang dalam menghadapi krisis, memberi penghargaan terhadap tindakan bawahan yang berprestasi, menekankan pada persaingan yang sehat, memberikan gambaran mengenai masa depan yang menarik dan dapat dicapai dan menjelaskan mengenai langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut (Bass, 1990).
Pemimpin yang inspirasional oleh Bass dan Avolio (Yukl, 1994) diartikan sebagai sejauh mana seorang pemimpin mampu mengkomunikasikan suatu visi yang menarik, mampu menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan usaha-usaha mitra kerjanya dan memodelkan perilaku yang sesuai. Perilaku pemimpin yang inspirasional menurut Yukl dan Fleet (Bass, 1985) dapat merangsang antusiasme bawahan terhadap tugas kelompok dan mengatakan hal-hal yang dapat menumbuhkan kepercayaan terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan kelompok. Masih menurut Yukl (1989) membangun kepercayaan diri bawahan seperti itu merupakan elemen utama dari pemimpin yang inspirasional. Keyakinan diri yang besar terhadap apa yang dilakukan akan menimbulkan motif untuk berprestasi serta loyalitas dan usaha yang melebihi biasanya.
d. Perhatian Individual (Individualized consideration)
Perhatian secara individual merupakan cara yang digunakan oleh pemimpin untuk memperoleh kekuasaan dengan bertindak sebagai pembimbing, memberi perhatian secara individual dan dukungan secara pribadi kepada bawahannya. Menurut Bass (1985) perhatian individual merupakan suatu cara pemimpin memperoleh kekuasaan dengan bertindak sebagai pelatih, guru dan pembimbing yang memberikan perhatian secara individual dan dukungan kepada anggotanya secara pribadi.
Bass (1990) mengemukakan perhatian individu berarti memberi perhatian secara personal, memperlakukan bawahan secara individu, memberi saran dan memberikan bimbingan. Pemimpin perlu melakukan hubungan dengan bawahan secara individual, mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan dan aspirasi individu, mendengarkan dengan penuh perhatian, pengembangan jangka panjang, menasehati, mengajar, membina dan melatih (Bass, 1990).
Avolio (Purwanto, 2000) berpendapat bahwa pendelegasian wewenang merupakan fokus dari perhatian individual. Pendelegasian sebagai tugas untuk diselesaikan bawahan merupakan tantangan kerja bagi bawahan dan sekaligus memberi kesempatan kepada bawahan untuk belajar. Pendelegasian sebagian wewenang kepada bawahan menurut Bass (1990) dapat melalui orientasi terhadap pengembangan bawahan, orientasi terhadap individu dan mentoring.
Perhatian yang berorientasi pada pengembangan bawahan ditunjukkan melalui pendelegasian sebagian tugas kepada bawahan. Perhatian yang berorientasi kepada individu ditunjukkan dengan memberi dukungan dan memperlakukan
bawahan secara individu. Dengan demikian pemimpin dapat melihat adanya perbedaan yang terdapat pada bawahannya atau mitra kerjanya. Hal ini akan mempermudah pemimpin dalam memberikan perlakuan terhadap masing-masing bawahannya. Sedangkan mentoring merupakan bentuk perhatian yang individual yang ditunjukkan melalui konsultasi atasan kepada bawahan.
Perhatian seorang atasan kepada bawahannya merupakan kewajiban, karena sebagai figur pemimpin dituntut untuk senantiasa bisa memberikan bimbingan dan saran yang diperlukan bagi perkembangan bawahannya. Pemimpin transformasional membangkitkan rasa hormat dan pengabdian dari dalam diri tiap-tiap orang dengan menyediakan waktu untuk menyatakan bahwa mereka itu penting.
Berdasarkan empat aspek di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik dari gaya kepemimpinan transformasional, sebagai berikut :
Tabel 1.
Karakteristik Gaya Kepemimpinan Transformasional
Aspek Karakteristik
Karisma Memberi misi dan visi, menumbuhkan kebanggaan,
mampu mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat.
Rangsangan Intelektual Menghargai kecerdasan, mengembangkan rasionalitas
dan mengambil keputusan dengan hati-hati
Inspirasional mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi dari
bawahannya, menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan pada kerja keras, mengekspresikan tujuan dengan cara sederhana
Perhatian Individual memberi perhatian secara personal, memperlakukan
bawahan secara individu, memberi saran dan memberikan bimbingan
Keempat aspek gaya kepemimpinan transformasional tersebut digunakan dalam penyusunan skala gaya kepemimpinan transformasional dalam penelitian ini.