• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

E. Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data menggunakan data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan mengenakan alat pengukuran dan pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari (Azwar,1997). Dan dalam metode ini sebagai alat pengukurannya digunakan skala Likert dengan modifikasi.

Skala Likert merupakan skala yang berisi lima tingkat jawaban mengenai kesetujuan subjek terhadap pernyataan yang dikemukakan. Tingkat kesetujuan subjek terhadap pernyataan dalam angket diklasifikasi sebagai berikut :

SA = Strongly Agree = SS = Sangat Setuju

A = Agreee = S = Setuju

UD = Undecided = BM = Belum Memutuskan

DA = Disagree = TS = Tidak Setuju

SDA = Strongly Disagree = STS = Sangat Tidak Setuju

Menurut Hadi (1991), modifikasi skala Likert meniadakan jawaban yang ada di tengah, yaitu yang belum memutuskan (BM) berdasarkan tiga alasan, yaitu :

1. Kategori undecided itu mempunyai arti ganda; bisa dijadikan belum dapat

memutuskan atau memberi jawaban, dapat juga diartikan netral, setuju tidak, tidak setuju pun tidak atau bahkan ragu-ragu. Kategori yang jawaban yang ganda arti ini tentu tidak diharapkan dalam suatu instrumen.

2. Tersedianya jawaban di tengah itu menimbulkan kecenderungan menjawab ke

tengah; terutama bagi mereka yang ragu-ragu (kecenderungan jawabannya ke arah setuju ataukah ke arah tidak setuju).

3. Maksud kategorisasi jawaban SS – S – TS – STS adalah terutama untuk

melihat kecenderungan pendapat responden, ke arah setuju atau ke arah tidak setuju. Jika disediakan kategori jawaban itu, akan menghilangkan banyak data penelitian sehingga mengurangi banyaknya informasi yang dapat dijaring dari para responden.

Adapun skala yang akan digunakan untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut :

1. Skala Persepsi Salesman terhadap Gaya Kepemimpinan Transformasional Atasan

Skala persepsi salesman terhadap gaya kepemimpinan transformasional atasan

dibuat berdasarkan MLQ (Multifactor Leadership Questioner) yaitu skala

kepemimpinan faktor ganda yang disusun oleh Bass dan Avolio (1990). Skala ini terdiri dari 70 butir meliputi gaya kepemimpinan transformasional 40 aitem, yang

terdiri dari 10 aitem karisma (charisma 2), 10 aitem rangsangan intelektual

(intellectual stimulation), 10 aitem inspirasional (inspiration), 10 aitem perhatian

individual (individualized consideration); 20 aitem faktor kepemimpinan

transaksional terdiri dari 10 aitem contingent reward, 10 aitem management by exception (active-passive);dan 10 aitem faktor non-leader.

Dalam penelitian ini faktor non-leader tidak diambil karena menurut Hughes, dkk (1990) mengatakan bahwa faktor tersebut bukan bagian dari gaya kepemimpinan baik transformasional maupun transaksional (Purwanto, 2000). Sedangkan faktor kepemimpinan transaksional tidak diambil karena dalam penelitian ini peneliti hanya mengukur seberapa transformasional atasan

berdasarkan persepsi sales dan bagaimana hubungannya dengan komitmen

organisasi.

Jadi, untuk mengukur tinggi rendahnya tingkat persepsi salesman terhadap gaya kepemimpinan transformasional digunakan keempat aspek skala gaya

kepemimpinan transformasional yang didasari oleh teori Bass dan Avolio (Patty, 2001), yaitu :

a. Karisma (charisma). Jika skor yang dihasilkan tinggi hal tersebut

mengindikasikan tingginya juga karisma yang dimiliki pemimpin tersebut, namun jika skor yang dihasilkan rendah maka hal tersebut mengindikasikan rendahnya karisma yang dimiliki pemimpin tersebut.

b. Rangsangan intelektual (intellectual stimulation). Semakin tinggi skor yang dihasilkan menandakan pemimpin tersebut memiliki rangsangan intelektual yang tinggi dan demikian sebaliknya, jika skor yang dihasilkan rendah maka rangsangan intelektual yang dimiliki pemimpin juga rendah.

c. Inspirasi (inspiration). Jika skor yang dihasilkan tinggi hal tersebut

menunjukkan bahwa pemimpin memiliki kemampuan untuk menginspirasi bawahan yang tinggi, namun sebaliknya jika skor rendah menandakan pemimpin kurang mampu menginspirasi bawahannya.

d. Perhatian individual (individualized consideration). Semakin tinggi skor yang diperoleh menandakan pemimpin mempunyai perhatian individual yang tinggi, dan jika skor yang dihasilkan rendah menandakan pemimpin kurang memiliki perhatian individual terhadap bawahannya.

Jadi semakin tinggi skor yang diperoleh, berarti semakin tinggi gaya kepemimpinan transformasional yang dimiliki oleh pemimpin, dan jika semakin rendah skor yang diperoleh, berarti semakin rendah gaya kepemimpinan transformasional yang dimiliki pemimpin. Adapun yang dimaksud dengan pemimpin dalam penelitian ini adalah supervisor dalam perusahaan tersebut.

Distribusi atau penyebaran aitem dari skala gaya kepemimpinan transformasional adalah sebagai berikut :

Tabel 2.

Distribusi Aitem Skala Persespsi Saleman Terhadap Gaya Kepemimpinan Transformasional Atasan

No. Aspek Nomor Item Jumlah

1. Karisma 1,5,9,13,17,21,25,29,33,37 10

2. Rangsangan Intelektual 2,6,10,14,18,22,26,30,34,38 10

3. Inspirasi 3,7,11,15,19,23,27,31,35,39 10

4. Perhatian Individual 4,8,12,16,20,24,28,32,36,40 10

Jumlah 40

Dari ke 40 butir pernyataan tersebut, masing-masing butir mempunyai empat pilihan jawaban dengan skor berturut-turut : skor 4 untuk pilihan SS, skor 3 untuk pilihan S, skor 2 untuk pilihan TS dan skor 1 untuk pilihan STS.

2. Skala Komitmen Organisasi

Skala komitmen organisasi digunakan untuk mengetahui tinggi rendahnya komitmen karyawan terhadap organisasinya. Mowday, Steers dan Porter (Purwanto, 2001) menyatakan ada 3 karakteristik yang dapat mengungkapkan tinggi rendahnya komitmen karyawan terhadap organisasi tempat dia bekerja, yaitu :

a. Identifikasi. Jika skor yang diperoleh tinggi menunjukkan identifikasi yang dimiliki bawahan tinggi, namun jika rendah hal tersebut menunjukkan identifikasi yang dimiliki bawahan rendah.

b. Keterlibatan. Semakin tinggi skor yang diperoleh hal tersebut menunjukkan karyawan memiliki keterlibatan yang tinggi dalam perusahaan, dan jika skor rendah hal tersebut menunjukkan karyawan memiliki keterlibatan yang rendah terhadap perusahaan.

c. Loyalitas. Jika skor yang dihasilkan tinggi hal tersebut menandakan karyawan memiliki loyalitas yang tinggi, dan jika skor yang dihasilkan rendah hal tersebut menandakan loyalitas yang dimiliki karyawan rendah.

Jadi semakin tinggi skor yang diperoleh dari skala komitmen organiasi, berarti semakin tinggi komitmen organisasi karyawan terhadap organisasi-organisasi kerjanya, namun sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh, berarti semakin rendah komitmen organisasi karyawan terhadap organisasi-organisasi kerjanya. Skala komitmen organisasi dalam penelitian ini merupakan skala adaptasi dari penelitian Mowday yang dikutip oleh Purwanto (2001).

Distribusi atau penyebaran item dari skala komitmen adalah sebagai berikut :

Tabel 3.

Distribusi Aitem Skala Komitmen Organisasi

No. Aspek Nomor Item Favorable Nomor Item Unfavorable Jumlah

1. Identifikasi 1,7,13,19,25,31,37,43 4,10,16,22,28,34,40 15

2. Keterlibatan 5,11,17,23,29,35,41,44 2,8,14,20,26,32,38 15

3. Loyalitas 3,9,15,21,27,33,39 6,12,18,24,30,36,42,45 15

Jumlah 45

Dari ke 45 butir pernyataan tersebut, masing-masing butir mempunyai empat pilihan jawaban dengan skor berturut-turut : skor 4 untuk pilihan SS, skor 3 untuk

pilihan S, skor 2 untuk pilihan TS dan skor 1 untuk pilihan STS untuk item yang favorable. Untuk pernyataan yang unfavorable, penyekorannya terbalik.

Dokumen terkait