BAB II LANDASAN TEORI
4. Aspek-Aspek Pendidikan Islam
Aspek dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung beberapa pengertian yaitu tanda, sudut pandang, pemunculan atau penginterpretasian gagasan, masalah, situasi, dan sebagainya sebagai pertimbangan yang dilihat dari sudut pandang tertentu.60 Yang dimaksud dengan aspek adalah penjabaran konstrak ukur yang lebih operasional sebelum dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator perilaku yang lebih
58 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm.
59 M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 125.
60 Kamus Besar bahasa Indonesia V online.
operasional. Kebanyakan peneliti menamakan penjabaran ini sebagai aspek.pdf. Jadi, aspek merupakan indikator-indikator yang terkandung dalam pembahasan pokok suatu masalah kemudian indikator-indikator itu dibahas secara teoritis.
Aspek-aspek pendidikan Islam diartikan sebagai indikator-indikator yang terkandung dalam pendidikan Islam kemudian aspek-aspek tersebut dibahas atau dikaji. Pendidikan Islam sebagaimana pendidikan lainnya memiliki beberapa aspek di dalamnya. Salah satunya dapat dilihat dari segi materi pendidikannya. Menurut Abuddin Nata pendidikan Islam sekurang-kurangnya mencakup pendidikan fisik, akal, agama (akidah dan syariah) akhlak, kejiwaan, rasa keindahan dan sosial kemasyarakatan.61 Sedangkan menurut Agus dalam buku ilmu pendidikan Islam mengatakan bahwa pendidikan Islam menyangkut kepada empat aspek utama yaitu:
pendidikan ibadah, pendidikan nilai dan pengajaran Al-Qur‟an, pendidikan akhlak karimah, dan akidah Islamiyah.62
b. Macam-Macam Aspek pendidikan Islam
Haidar Putra Daulay dalam bukunya Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat membagi tujuh aspek-aspek pendidikan Islam sebagai berikut:
61 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 341.
62 Beni Ahmad Saebani. Op. Cit. hlm. 16.
1) Aspek pendidikan ketuhanan dan akhlak a) Pendidikan Ketuhanan (Akidah)
Menurut Mukni‟ah akidah secara etimologi dari asal kata
„aqada-ya‟qidu yang bermakna mengikat sesuatu, jika seseorang mengatakan aku ber‟itiqad begini artinya saya mengikat hati dan dhamir terhadap hal tersebut. Dengan demikian kata akidah secara terminologi bermakna sesuatu yang dinyakini seseorang, diimaninya dan dibenarkan dengan hatinya baik hak ataupun batil.63 Sedang Syekh Hasan al-Banna dalam bukunya al-„aqa‟id menyatakan akidah sebagai sesuatu yang seharusnya hati membenarkannya sehingga menjadi ketenangan jiwa, yang menjadikan kepercayaan bersih dari kebimbangan dan keraguan.64 Makna akidah ditinjau dari pengertian syariat Islam adalah beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab, dan rasul-rasul-Nya beriman kepada hari akhir dan taqdir (ketentuan) Allah yang baik maupun buruk.65 Rasulullah SAW bersabda:
ِاللاِبِ ُنِكْؤُ تْ نَا ُناَْيِْْاُا َس ِىِتَاِك َََكَس
ِىِلُوُرَس ِىِبُتُك ْؤُ تَس ِرِلَْلا ِ ْوَ هْلاَس
ِوِّرَشَس ِوِْيَْل ِرْدَاِْبِ َنِك
) لسك واسر(
Artinya:
63 Mukni‟ah. Op. Cit. hlm. 51.
64 Muhaimin, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pndekatan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2005), hlm. 259.
65 Mukni‟ah. Op. Cit. hlm. 51.
“Iman yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, utusan-utusan-Nya, hari akhir, engkau beriman kepada qadar yang baik dan buruk. (HR. Muslim)
Akidah diartikan sebagai keyakinan atau keimanan seseorang yang melahirkan ketenangan jiwa tanpa dipengaruhi oleh keraguan dan kebimbangan. Sebagian orang meyakini dan mengakui serta menyembah Allah yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini sebagian lain tidak mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Akidah sama halnya dengan tauhid yaitu sama-sama mengesakan Allah.
Tauhid dapat dibagi dalam tiga bagian:
(1) Tauhid rububiyah, yaitu meyakini bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang menciptakan alam ini, yang memilikinya, yang mengatur perjalanannya, yang menghidupkan, dan yang mematikan.66 Allah menciptakan semua makhluk diatas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah juga mengakui keesaan rububiyah-Nya.67
(2) Tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan
66 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, ( Jakarta: Amzah, 2016), hlm. 183
67 Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Kitab Tauhid, (Solo: Ummul Qura, 2012), hlm. 15
seperti doa, nazar, kurban, raja‟ (pengharapan), takut, tawakkal, senang, takut dan tobat.68
(3) Tauhid asma‟ wa sifat, yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatnya sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah menurut apa yang pantas bagi Allah, tanpa ta‟wil, ta‟thil, takyif, dan tamsil.69
Pendidikan Akidah adalah proses pembinaan dan pemantapan kepercayaan dalam diri seseorang sehingga menjadi akidah yang kuat dan benar proses tersebut dapat dilakukan dalam bentuk pengajaran, bimbingan, dan latihan. Dalam penerapannya pendidik dapat menggunakan berbagai metode yang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai.70 Aspek pendidikan ketuhanan atau akidah adalah penanaman jiwa beragama yang kokoh meliputi akidah Islam dalam arti sesunguhnya dan mampu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
b) Pendidikan Ibadah
Ibadah secara bahasa berasal dari kata „abada-
ya‟budu-„ibadatan yang artinya mengabdi, menyembah mengesakan, beribadah. Ibadah juga berarti menghinakan atau merendahkan diri, ketaatan, patuh, tunduk, mengikuti terhadap sesuatu yang
68 Ibid. hlm. 39
69 Ibid. hal. 71
70 Bukhari Umar, Hadis Tarbawi, ( Jakarta: Aamzah , 2012), hal. 38.
diperintahkan oleh Allah.71 Sedangkan ibadah menurut Syeikh Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar ialah ketaatan, kepatuhan serta sifat tunduk kepada Allah yang mencapai batas puncak paling tinggi. Artinya tidak ada bentuk ketaatan dan kepatuhan yang melebihi kepatuhan dan ketaatan kepada Allah.
Sedangkan menurut Ibnu Taimiyah pengertian ibadah ialah tunduk, merendahkan diri (az-zull) dan cinta (al-hubb) dalam tingkat yang sempurna.72 Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariat ayat 56 yang berbunyi:
Artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Ibadah secara umum terbagi dalam dua bagian yaitu: 73 (1) Ibadah Khusus (mahdah)
Ibadah khusus adalah bentuk ibadah langsung kepada Allah yang tata cara pelaksanaannya telah diatur dan ditetapkan oleh Allah atau dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Oleh karena itu pelaksanaan ibadah ini sangat ketat yaitu harus sesuai contoh Rasulullah SAW. Macam-macam ibadah
71 Rois Mahfud. Op. Cit. hlm.10.
72 Abdullah Arief Cholil, dkk, Studi Islam II, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm. 26.
73 Sudirman. Op. Cit. hlm. 136.
khusus adalah shalat termasuk di dalamnya thaharah sebagai syaratnya puasa, zakat, dan haji.
(2) Ibadah Umum (ghairu mahdah)
Ibadah Umum adalah bentuk hubungan manusia dengan manusia atau manusia dengan alam yang memiliki makna ibadah. Syariat Islam tidak menentukan bentuk dan macam ibadah ini karena apa saja kegiatan seorang Muslim dapat bernilai ibadah asalkan kegiatan tersebut bukan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya serta diniatkan karena Allah.
Menurut Bukhari Umar pendidikan ibadah yang dimaksud disini adalah proses pengajaran, pelatihan, dan bimbingan dalam pengamalan ibadah khusus.74 Sedangkan menurut Muhammad Hasbi Ash-Shieddieqy yang dikutip oleh Abdul Kahar pendidikan ibadah adalah suatu usaha memberikan kesadaran beribadah kepada manusia agar mengerti tentang eksistensi dirinya sebagai seorang hamba Allah dengan tunduk yang setinggi-tingginya.75 Sedangkan menurut Muhibbin Syah yang dikutip oleh Fatimah Ari Widayanti pendidikan ibadah adalah usaha sadar dalam proses membimbing dan mengarahkan potensi insan (manusia) dalam
74 Bukhari Umar. Op. Cit. hlm. 41.
75 Abdul Kahar, Pendidikan Ibadah Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 12 No. 1 (Juni 2019), hlm. 26, diakses pada 9 Juli 2020, http://ejournal.uika-bogor.ac.id/index.php/TAWAZUN.
potensi kehambaan kepada Allah.76 Dapat disimpulkan bahwa pendidikan ibadah adalah proses mengajar, melatih, dan membimbing serta mengarahkan potensi manusia dalam memberikan kesadaran beribadah kepada Allah agar mengerti tentang eksisitensi dirinya sebagai hamba Allah.
Dalam pelaksanaan pendidikan ibadah ada beberapa komponen penting yang perlu diperhatikan, yaitu:
(1) Pendidik
Menurut Sukring pendidik merupakan orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan ruhaninya agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah, mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individu yang mandiri.77 Sedangkan menurut Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir adalah bapak rohani (spritual father) bagi peserta didik yang memberikan
76 Fatimah Ari Widayanti, Skripsi, Pola Asuh Orang Tua dalam Pendidikan Ibadah Anak pada keluarga Karyawan Pabrik, Surakarta: IAIN Surakarta, 2018), hlm. 26, http://eprints.iain-surakarta.ac.id/3063.
77 Sukring, Pendidik dan Peserta Didik dalam Pendidikan Islam. (Yogyakarta: Graha 2013), hlm. 81
santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk.78
Dalam konteks pendidikan Islam ditemukan kata ta‟lim, tarbiyah dan ta‟dib yang berarti pendidikan. Dikaitkan kepada orang yang melakukan pendidikan lahir kata mua‟llim (orang yang mengajar), murabbi orang yang mentarbiyah (mengajar dan mendidik), dan muaddib (orang yang melakukan pendidikan dan pengajaran. Perbedaannya menurut pakar pendidikan Islam kata mu‟allim lebih banyak mengisi otak menyampaikan ilmu berbentuk ilmu pengetahuan, kata murabbi berkaitan dengan pengisian otak dan hati manusia, dan muaddib berkaitan dengan pembentukan akhlak.79
(2) Peserta didik
Peserta didik dalam istilah tasawuf disebut dengan murid atau thalib. Murid secara etimologi berarti orang yang menghendaki. Secara terminologi murid adalah orang yang mencari bimbingan dan arahan seorang pembimbing spiritual (mursyid). Sedangkan thalib secara bahasa orang yang mencari. Dalam istilah tasawuf berarti orang yang menempuh
78 Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir. Op. Cit. hlm. 88.
79 Haidar Putra Daulay. Op. Cit. hlm. 102.
jalan spiritual untuk mencapai derajat sufi.80 Disamping itu, dijumpai istilah lain yang sering digunakan dalam bahasa Arab yaitu tilmidz yang berarti pelajar. Bentuk jamaknya adalah talamidz kata ini lebih merujuk pada pelajar yang belajar di madrasah. Kata lainnya adalah thalib yang artinya pencari ilmu, pelajar atau mahasiswa.81
(3) Materi
Menurut Ibnu Taimiyah yang dikutip oleh Juwariyah bahwa materi pendidikan Islam adalah semua ilmu pengetahuan yang menjadi dasar bagi kemajuan dan kejayaan manusia. Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun dalam kitab Mukaddimah membagi ilmu menjadi dua macam, pertama ilmu yang diturunkan Allah secara langsung melalui wahyu yaitu Imu Al-Qur‟an (pembacaan dan penafsirannya), ilmu hadits (perkataan, perbuatan, sikap Nabi), ilmu fiqh, ilmu tauhid, imu tasawuf, dan lain sebagainya. Kedua ilmu yang mesti diperoleh manusia melaui
80 Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir. Op. Cit. hlm. 104.
81 Sri Minarti, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2013) , hal 118-119.
penalaran yaitu ilmu logika, ilmu alam, ilmu kedokteran, ilmu pertanian, ilmu kimia, ilmu metafisika.82
(4) Metode
Kata metode berasal dari istilah Yunani meta yang berarti melalui dan hodos yang berarti jalan yang dilalui. Jadi metode berarti jalan yang dilalui. Dalam bahasa Arab metode diungkapkan dengan istilah thariqah atau uslub.83 Metode adalah jalan atau cara dalam mengembangkan potensi peserta didik disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik.
Ada beberapa metode pendidikan yang diungkapkan oleh Al-Qur‟an dan Hadits, yaitu:
(a) Metode keteladanan
Metode keteladanan adalah cara atau jalan yang ditempuh oleh pendidik dalam memberikan contoh perilaku yang baik kepada peserta didik dengan menampilkan sikap tersebut di dalam kelas terutama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam membentuk karakter peserta didik metode keteladanan sangat dihandalkan lewat keteladanan peserta didik dapat mencontoh perilaku
82 Juwariyah, Pengertian dan Komponen-Komponen Pendidikan Islam Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad „Athiyah Al-Abrasyi, Mukaddimah, Vol. XV (Januari-Juni 2009), hlm.78-79, diakses pada 14 Juli 2020, http://digilib.uin-suka.ac.id/8623/1/Juwairiyah.
83 Toto Suharto, Fisafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hal. 103.
yang terpuji dan menghindari diri dari perilaku yang tercela.84
(b) Metode dialog (tanya jawab)
Metode tanya jawab adalah penyampaian pelajaran dengan cara mengajukan pertanyaan dan murid menjawab. dengan kata lain, suatu di dalam pendidikan dimana guru bertanya dan murid menjawab tentang materi yang ingin diperolehnya pengertian lain adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab terutama dari guru kepada murid atau juga dari murid kepada guru. 85
(c) Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah penyampaian pelajaran oleh pendidik dengan sengaja untuk memperlihatkan suatu tata cara atau proses dalam melakukan sesuatu.
Seperti penyelenggaraan jenazah (memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan) memakai boneka sebagai model.86 Contoh lainnya tata cara melaksanakan shalat beserta urutannya.
84 Haidar Putra Daulay. Op. Cit. hlm. 126.
85 Bukhari Umar. Op. Cit. hlm. 128.
86 Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 200), hlm. 45.
(d) Metode pembiasaan
Kebiasaan adalah bagian dari metode pembentukan kepribadian dalam islam. Nasih Ulwan menyebutkan bahwa peserta didik mestilah didik pembiasaan dalam hal adab makan dan minum, adab salam, adab meminta izin, adab majelis, adab berbicara, adab senda gurau, adab tahniah (memberi ucapan selamat), adab mengunjungi yang sakit, adab akziah, adab bersin.87
(5) Evaluasi
Menurut Suharsimi Arikunto evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.88 Sedangkan menurut Ngalim Purwanto evaluasi adalah suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan.89
Evaluasi dalam pendidikan Islam mencakup sesuatu yang lebih luas. Meliputi sesuatu yang ditingkatkan dan
87 Haidar Putra Daulay. Op. Cit. hlm. 127.
88 Suharsimi Arikunto, Evaluasi Program Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), hal. 2
89 Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hal.3
dikurangi. Hal yang terpenting seseorang mampu mengevaluasi diri (muhasabah). Pembentukan kesadaran diri adalah arti evaluasi sesungguhnya dalam pandangan pendidikan Islam. Mengevaluasi diri dilakukan secara terus menerus menyadari dirinya masih banyak memiliki kekurangan.90
c) Pendidikan Akhlak
Akhlak dalam bahasa Arab berasal dai kata
َقَلَل
(khuluqun)berarti perangai, sedang jama‟nya adalah
َلا
(akhlakun). Dalam bahasa Indonesia perangai berarti tabi‟at, watak.91 Berikut ini ada beberapa pengertian akhlak menurut istilah yang dikemukakan oleh para ahli. Menurut Miqdad Yaljan akhlak adalah setiap tingkah laku yang mulia yang dilakukan oleh manusia dengan kemauan yang mulia dan untuk tujuan yang mulia pula.Sedangkan menurut Ahmad bin Mohd Salleh akhlak bukanlah tindakan yang lahir (nyata) akan tetapi meliputi pemikiran, perasaan dan niat baik secara individu maupun kelompok masyarakat. Menurut Al-Ghazali akhlak adalah Fakhlaqu
„ibaratun‟an haiatin fin nafsi raasikhatun „anha tashdaruln af‟alu
90 Haidar Putra Daulay. Op. Cit. hlm131.
91 Hasyim Syamhudi, Akhlak-Tasawuf, (Malang: Madani Media, 2015), hlm. 2.
bisuhuulatin wa yusrin min ghairi haajatin ila fikrin wa ru‟yatin.
Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dilakukan tanpa perlu kepada pemikiran dan pertimbangan.92
Pendidikan akhlak adalah proses pembinaan budi pekerti anak sehingga menjadi budi pekerti yang mulia (akhlak karimah).
Proses tersebut tidak terlepas dari pembinaan kehidupan beragama peserta didik secara total.93
2) Aspek pendidikan akal dan ilmu pengetahuan
Pendidikan akal adalah proses meningkatkan kemampuan intelektual dalam bidang ilmu alam, teknologi, sains modern sehingga anak mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan ilmu pengetahuan dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh-Nya. Sehubungan dengan ini ditemukan hadis sebagai berikut:
َ:اَا َ:اَا َرَمُع ِنْعا ِنَع ْسُرى اَفَ ت َاَُس ِهّللا ِءلآآ ِفِ اْسُرى اَفَ ت َ ى لَوَس ِىْهَلَع ُهّللا ىى لَص ِهّللا ُ:ْوُوَر
ِهّللا ِفِ ا
Artinya:
“Dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda,
“Berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah dan jangan kamu memikirkan Dzat-Nya.” (HR. Ath-Thabrani)
92 Muhammad Abdurrahman, Akhlak: Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2016), hlm. 7-8.
93 Bukhari Umar. Op. Cit. hlm. 42.
Dalam hadis ini rasulullah SAW mendorong umatnya agar berpikir sebebas-bebasnya asal di daerah ciptaan Allah, alam semesta.
Akan tetapi karena keterbatasan akal Dia melarang memikirkan Dzat-Nya karena akan menimbulkan kesalahan dan kerusakan.
3) Aspek pendidikan fisik (Jasmani)
Pendidikan Jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan total yang mencoba mencapai tujuan untuk mengembangkan kebugaran jasmani, mental, sosial, serta emosional bagi masyarakat dengan wahana aktivitas jasmani. Dalam pengertian ini terlihat bahwa pendidikan jasmani menekankan pada proses pendidikan yang menggunakan aktivitas jasmani untuk mendapatkan kebugaran dalam berbagai hal.
Diantara tujuan pendidikan jasmani adalah menjaga dan memelihara kesehatan badan termasuk organ-organ pernapasan, peredaran darah dan pencernaan, melatih otot-otot dan urat saraf serta melatih kecekatan dan ketangkasan. Sehubungan dengan ini ditemukan hadis sebagai berikut:
َ ي َِبَْ هِمْلا ىَلَع َوُيَس ق َ ى لَوَس ِىْهَلَع ُهّللا ىى لَص ِهّللا ُ:ْوُوَر ُ ْثَِسَ ُ:ْوُقَ ي ٍرِك اَع ِنْع َةَبْقُع ْنَع اْسُّدِعَاَس ُ:ْوُق
ى وُقْلا ى نِن َاَُأ ُيْكى رلا َةى وُقْلا ى نَن َاَُأ ٍةى وُ ا ْنِك ْ ُتْثَطَتْوا اَك ْ َُلَ
َةى وُقْلا ى نَن َاَُأ ُيْكى رلا َة ُيْكى رلا
Artinya:
“Uqbah bin Amir berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.
Ketahuilah bahwa ketika beliau sedang berada diatas mimbar,
“Siapkanlah untuk sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.”
(HR. Muslim)
Rasulullah SAW mempunyai perhatian yang serius terhadap olahraga ini. Hal itu dapat dipahami dari satu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Uqbah bin Amir Al-Juhani.
ِنِاَصَع ْدَقَ ف ُىْكَرَ ت ى ُثُ َيْكى رلا َ ى لَثَ ت ْنَك
Artinya:
“Barang siapa yang telah mempelajari memanah lalu ia tinggalkan berarti ia sudah mendurhakaiku
.”
(HR. Ibnu Majah)Dari hadis diatas dapat dipahami bahwa orang yang sudah terampil memanah harus memelihara keterampilan itu.
Meninggalkannya dipandang sebagai salah satu bentuk pelanggaran terhadap anjuran Rasulullah SAW. Itu berarti bahwa beliau sangat mementingkan olahraga ini. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani meriwayatkan bahwa beliau bersabda, “Hendaklah kamu memanah karena itu adalah permainanmu yang terbaik.” Senada dengan itu Al-Bukhari meriwayatkan bahwa beliau pernah memberikan motivasi kepada para sahabat agar mereka bergairah memanah. Memanah pada dasarnya adalah menggunakan senjata. Senjata dapat berkembang sesuai perkembangan zaman. Karena pada dasarnya saat ini senjata
sudah beraneka ragam, maka anjuran memanah itu dapat pula berarti anjuran menggunakan senjata yang modern.94
4) Aspek pendidikan kejiwaan
Aspek pendidikan kejiwaan intinya adalah agar setiap peserta didik memiliki jiwa yang sehat terhindar dari segala jenis penyakit kejiwaan. Yang dimaksud kesehatan jiwa itu adalah kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri yang bertujuan untuk mencapai integritas dan satuan pribadi, penerimaan terhadap dirinya, dan penerimaan orang lain terhadapnya.95 Pendidikan kejiwaan merupakan pendidikan yang bermula dari keluarga sejak usia dini untuk menjadi pribadi yang kuat, pemberani, mandiri, suka menolong, mampu mengendalikan dan mengontrol emosi serta menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji.96 Aspek ini melihat pertumbuhan yang ada di dalam diri anak yaitu mental yang dibangun sejak kecil. Dalam hal ini, orang tua menjadi orang pertama dalam mendidik mental anaknya sejak dini, kedua guru di sekolah. Disini guru harus memahami jiwa peserta didiknya. Merupakan salah satu
94 Bukhari Umar. Op. Cit. hlm 50-51.
95 Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2016), hlm. 84-85.
96 Umi Hani, Pendidikan Kejiwaan Dr. Abdullah Nasih „Ulwan: Konsep dan Implementasinya, Jurnal Studia Insania, Vol. 6 No.2, hlm. 92-93, diakses pada 28 Juni 2020, http://jurnal.uin-antasari.ac.id>Pdf Pendidikan Kejiwaan Dr. Abdullah Nasih „Ulwa- Jurnal UIN Antasari.
tugas guru dalam tugas mengajarnya. Keadaan mental atau kejiwaan yang dimiliki peserta didik akan berpengaruh kepada hasil belajarnya.
5) Aspek pendidikan keindahan (seni)
Pendidikan ini berusaha menanamkan rasa keindahan dalam diri manusia yang akan membawa manusia lebih menghayati kebesaran dan keindahan Allah Maha Pencipta.97 Dapat dilihat dari apa yang telah Allah berikan kepada manusia, langit, bumi beserta isinya. Dilihat dari sudut seni keindahan adalah identik dengan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu abadi dan memiliki daya tarik yang selalu bertambah.
Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah.98 Contohnya adalah Al-Qur‟an yang diturunkan sebagai pedoman dalam kehidupan manusia yang mengandung nilai kebenaran dan keindahan di dalamnya.
6) Aspek pendidikan keterampilan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia keterampilan ialah pembentukan kecakapan khusus bagi peserta didik.99 Menurut Haidar Putra Daulay manusia hidup membutuhkan beraneka ragam keperluan.
Untuk memenuhi kebutuhannya manusia mesti bekerja. Supaya
97 Ibid. hlm. 85.
98 Agus Syihabuddin, Konsep Keindahan Dalam Al-Qur‟an, Jurnal Sosioteknologi, Edisi 19 tahun 9 (April 2010), hlm. 836, diakses pada 17 Juni 2020, http://journals.itb.ac.id.
99 KBBI V online.
seorang terampil dalam bekerja maka dia mesti dididik dalam pekerjaan tersebut. Sedangkan menurut W. Gulo keterampilan tidak mungkin berkembang kalau tidak didukung oleh sikap, kemauan, dan pengetahuan. Manusia merupakan pribadi yang unik dimana aspek rohaniah, mental intelektual dan fisik merupakan satu kesatuan yang utuh.100
Dapat disimpulkan pendidikan keterampilan adalah pendidikan yang menekankan kepada aspek psikomotorik dibandingkan aspek kognitif (pengetahuan) dan aspek afektif (sikap) tanpa mengabaikan kedua aspek tersebut dalam memenuhi kebutuhan hidup. Aspek psikomotorik, aspek kognitif, dan aspek afektif merupakan tiga aspek yang terdapat dalam jiwa manusia yang merupakan anugerah dari Allah yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan tugas manusia yaitu berusaha untuk mengasah dan mengembangkannya. Maka keterampilan yang dimiliki selain memberikan manfaat bagi orang lain juga bisa menjadi peluang bisnis. Manusia diberi anugerah oleh Allah memilki keterampilan untuk saling tolong menolong dalam kehidupan.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang dalam kehidupannya membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup serta perbuatan baik yang dilakukan adalah untuk dirinya sendiri.
100 W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Grafindo 2002, 2002), hlm. 51.
7) Aspek pendidikan sosial
Pendidikan Sosial adalah proses pembinaan kesadaran sosial, sikap sosial dan keterampilan sosial agar anak dapat hidup dengan baik serta wajar di tengah-tengah lingkungan masyarakatnya.
Sehubungan dengan ini terdapat hadis berikut:
ْنَع ْنِك ًةَعْرُك ٍنِك ْؤُك ْنَع َسى فَ ن ْنَك قَ ى لَوَس ِىْهَلَع ُهّللا ىى لَص ِهّللا ُ:ْوُوَر َ:اَا قَ:اَا َةَرْ يَرُي ِْبَِأ ِبَرُك
ْنِك ًةَعْرُك ُىْهَع ُهّللا َسى فَ ن اَهْ نُّدلا َس اَهْ نُّدلا ِفِ ِىْهَلَع ُهّللا رى سَي ٍرِسْثُك ىَلَع َرى سَي ْنَك َس ِةَكاَهِقْلا َ ْوَ ي ِبَرُك
ْلا َناَك اَك ِدْبَثْلا ِنْوَع ِفِ ُهّللا َس ِةَرِل ْلآا َس اَهْ نُّدلا ِفِ ُهّللا َرَ تَو اًمِلْسُك َرَ تَو ْنَك َس ِةَرِل ْلآا ِنْوَع ِفِ ُدْبَث
ِىْهِلَأ
Artinya:
“Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,