• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASPEK PENDIDIKAN IBADAH DALAM AL-QUR AN SURAT AL-BAQARAH AYAT SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ASPEK PENDIDIKAN IBADAH DALAM AL-QUR AN SURAT AL-BAQARAH AYAT SKRIPSI"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama

Islam Negeri (IAIN) Bukitinggi

Oleh : YULIANA SARI

NIM: 2116. 092

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BUKITTINGGI TA (1441 H/2020 M)

(2)

i ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Aspek Pendidikan Ibadah dalam Al-Qur‟an Surat Al- Baqarah Ayat 30-34” Disusun oleh Yuliana Sari, Nim: 2116.092 kata kunci : pendidikan ibadah. Pendidikan ibadah merupakan suatu proses membimbing dan mengarahkan potensi manusia dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Pendidikan ibadah merupakan pendidikan yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik).

Al-Qur‟an sebagai firman Allah yang mengandung petunjuk dan pedoman berupa akidah, ibadah dan muamalah, hukum dan kisah-kisah para nabi sebagai pengajaran dalam kehidupan manusia serta aspek-aspek dalam kehidupan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Termasuk aspek pendidikan ibadah yang merupakan merupakan asas pendidikan pertama dan utama dalam kehidupan setiap muslim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan lebih dalam tentang aspek pendidikan ibadah yang terdapat dalam Al-Qur‟an yaitu surat ke-2 Al-Baqarah ayat 30-34.

Jenis penelitian ini adalah studi pustaka atau kepustakaan yang data-datanya bersumber dari bahan-bahan tertulis seperti buku, jurnal dan sebagainya. Sumber data yang digunakan sumber data pokok (primer) terdiri dari Al-Qur‟an dan terjemahan, tafsir Al-Azhar dan tafsir Ibnu Katsir dan sumber data pendukung (sekunder) terdiri dari buku yang berjudul Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat, Ilmu Pendidikan Islam, Metodologi Studi Islam dan buku yang berkaitan dengan masalah penelitian. Dalam mengumpulkan data penulis menggunakan Data- data yang diperoleh dengan menggunakan metode dokumentasi yang diambil dari Al- Qur‟an dan Sunnah, buku-buku, kitab-kitab tafsir. Data-data dianalisis menggunakan kaedah induktif, deduktif dan komparatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, aspek pendidikan ibadah merupakan pendidikan yang berusaha membimbing dan mengarahkan potensi anak dengan berbagai komponen-komponen yang mendukung tercapainya kesadaran beribadah kepada Allah. Adapun aspek pendidikan ibadah yang terdapat dalam surat Al- Baqarah ayat 30-34 meliputi: (1) pendidik merupakan orang yang memberikan pengajaran dan bimbingan serta mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi jasmani dan rohani peserta didik (2) peserta didik merupakan orang yang diberi pengajaran, bimbingan dan arahan dalam mengembangkan potensi jasmani dan rohaninya (3) materi merupakan bahan pelajaran yang diberikan kepada peserta didik (4) metode merupakan cara-cara yang ditempuh pendidik dalam memberikan materi pelajaran agar dapat dipahami peserta didik dan (5) evaluasi merupakan proses penilaian dalam aspek pengetahuan (cognitive), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik).

Kata kunci : Pendidikan Ibadah

(3)

ii DAFTAR ISI

ABSTRAK DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Batasan dan Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan ... ... 10

D. Manfaat .... ... 10

E. Penjelasan Judul ... 11

F. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II LANDASAN TEORI A. Konsep Pendidikan Islam dan Aspek-Aspek Pendidikan Islam ... 13

1. Pengertian Pendidikan Islam ... 13

2. Sumber Pendidikan Islam ... 20

3. Tujuan Pendidikan Islam ... 26

4. Aspek-Aspek Pendidikan Islam ... 32

B. Penelitian Relevan ... 53

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 55

B. Tujuan Studi Kepustakaan ... 55

C. Sumber Data ... 55

(4)

iii

D. Teknik Pengumpulan Data ... 56

E. Teknik Analisis Data ... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Surat Al-Baqarah ... 58

1. Penamaan Surat Al-Baqarah ... 58

2. Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah ... 59

3. Munasabah ... 61

B. Analisis Mufassir Terkait Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 30-34 ... 65

C. Aspek Pendidikan Ibadah dalam Al-Qur‟an Surat Al-Baqarah ayat 30- 34 ... 84

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 99

B. Saran ... 100 DAFTAR KEPUSTAKAAN

(5)

1

Al-Qur‟an adalah mukjizat Islam yang abadi. Semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak kebenarannya. Allah menurunkan Al-Qur‟an kepada Nabi Muhammad SAW demi membebaskan manusia dari kegelapan hidup menuju cahaya Ilahi membimbing mereka ke jalan yang lurus. Al-Qur‟an merupakan kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur melalui perantara malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami dan diamalkan sebagai petunjuk dan pedoman seluruh aspek kehidupan manusia serta sumber utama hukum dalam ajaran Islam. Al-Qur‟an diturunkan menggunakan bahasa Arab dan sebagai petunjuk untuk seluruh manusia hingga akhir zaman yang isinya mencakup segala pokok-pokok ajaran Islam. Al-Qur‟an diturunkan dalam dua periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah.

Periode Mekkah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada saat bermukim di Mekkah (610-622M) sampai hijrah ke Madinah. Ayat-Ayat yang diturunkan pada periode ini disebut ayat-ayat makiyyah yang berjumlah 4.726 ayat dengan 89 surah. Periode kedua adalah pada waktu Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah (622-632M). Ayat-Ayat ini disebut ayat-ayat Madaniyah yang terdiri dari 1.510 ayat dengan 25 surah. Secara keseluruhan ayat-ayat tersebut

(6)

diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari.1 Diawali surat Al-Fatihah dan diakhiri surat An-Nas. Al-Qur‟an mempunyai banyak nama diantaranya al-furqan (pembeda), az-zikr (peringatan) dan hudan (petunjuk).

Tema pokok Al-Qur‟an mencakup aspek ketuhanan, manusia, alam semesta, kenabian, wahyu, akhir seluruh umat manusia dan makhluk-makhluk spiritual.Al-Qur‟an sebagai petunjuk bagi manusia, orang beriman dan orang yang bertakwa mengandung petunjuk menyangkut akidah, syariah (ibadah dan muamalah), akhlak, kisah masa lampau, berita yang akan datang dan ilmu pengetahuan.2 Al-Qur‟an menyatakan dirinya sebagai kitab petunjuk. Allah menjelaskan hal ini dalam QS. Al-Isra‟ ayat 9 yang berbunyi:



































Artinya:

“Sesungguhnya Al-Qur‟an ini memberikan petunjuk ke (jalan) yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengajarkan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”3

Ayat-ayat ini merupakan dakwah yang jelas dan tegas serta menyakinkan bagi seluruh umat manusia untuk mengimani Al-Qur‟anul Karim yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya untuk mengetaskan mereka dari

1 Moh. Pabundu Tika, Bukti Kebenaran Al-Quran dalam Fenomena Jagat Raya dan Geosfer (Jakarta: Amzah, 2017), hlm. 1

2 Ibid, hlm. 2.

3 Al-Qur‟anul Karim, Al-Isra‟: 9.

(7)

kegelapan menuju cahaya dan membahagiakan mereka di dunia dan akhirat.4 Al- Qur‟an sebagai petunjuk bagi manusia terpelihara kesucian dan kemurniannya untuk selama-lamanya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hijr ayat 9 yang berbunyi:

















Artinya:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur‟an dan pasti Kami pula yang memeliharanya.”5

Maksudnya sesungguhnya Allah adalah yang menurunkan Al-Quran kepada Rasul Nabi Muhammmad SAW dan Kami yang menjaga serta melindunginya dari penggantian dan perubahan yang terjadi pada seluruh kitab- kitab lain yang diturunkan yaitu pengantian lafal, bukan sekedar takwil.6

Dapat disimpulkan bahwa makna dipeliharanya Al-Qur‟an yaitu dari pemalsuan dan perubahan terhadap teks-teksnya tidak seperti yang terjadi terhadap Taurat dan Injil sebelumnya. Sejarah membuktikan setiap usaha untuk mengubah isi Al-Qur‟an selalu mengalami kegagalan. Salah satu buktinya lebih dari 14 abad sejak diturunkannya Al-Qur‟an ia masih tetap asli sama seperti saat diturunkan. Sekeras apapun usaha untuk merubah Al-Qur‟an tidak seorang pun bahkan penyair terkenal tidak mampu menandingi keindahan teks yang terdapat di dalam Al-Qur‟an yang bersumber dari Allah. Al-Qur‟an adalah bacaan yang

4 Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, Jakarta: Gema Insani, 2013), Terjemahan, Muhtadi, dkk, hlm. 357-358.

5 Al-Qur‟anul Karim, Al- Hijr: 9

6 Muhammad Nasib Ar-Rifai‟, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 2, hlm. 255.

(8)

indah dibaca dalam situasi dan kondisi bagaimanapun. Al-Qur‟an sungguh menyejukkan dibaca dalam keadaan suka maupun duka, secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, di rumah maupun di tempat-tempat ibadah bahkan di kendaraan sekalipun.7

Al-Qur‟an sebagai petunjuk bagi manusia membawa kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Al-Qur‟an yang bersumber dari Allah manusia dapat mencapai keberhasilannya. Kehidupan yang dijalani sesuai dengan kehendak dan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah.

Mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat dengan mempelajari, menggali, mengembangkan dan menggunakan Al-Qur‟an sebagai pedoman hidup yang berisi petunjuk-petunjuk yang menghindarkan manusia dari kesesatan dan kegelapan yang tidak ada keraguan di dalamnya menuntun manusia menuju jalan kebenaran. Allah. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 2 yang berbunyi:

















Artinya:

“Kitab (Al-Qur‟an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.8

Jika al-Kitab ditafsirkan sebagai Taurat dan Injil maka penafsiran ini jauh sekali dari kebenaran dan sebagai pemberlakuan sesuatu yang tidak diketahui oleh penafsir. Yang benar ialah al-kitab ditafsirkan sebagai Al-Qur‟an. “Tidak ada keraguan padanya,” yakni tidak ada kebimbangan di dalamnya. Kemudian

7 Muhammad Amin Suma, Ulumul Qur‟an, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm. 29.

8 Al-Qur‟anul Karim, Al-Baqarah: 2.

(9)

dilanjutkan membaca hudan lilmuttaqin. Hal itu karena memandang hudan sebagai al-kitab yang menyatukan.“Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,”

yakni sebagai cahaya bagi orang-orang mukmin yang memelihara dirinya dari menyekutukan Allah. Orang-orang mukmin yang mengesakan-Nya, beramaldengan menaati-Nya, takut terhadap azab-Nya, mengharapkan rahmat- Nya, dan menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan-Nya.9

Al-Qur‟an sebagai petunjuk bagi manusia merupakan pelopor kebenaran.

Al-Qur‟an mempelopori pola pikir yang mengakui kebenaran. Al-Qur‟an mengubah pola pikir jahiliyah dan fanatik menuju yang rasional. Al-Qur‟an menunjukkan kebenaran sehingga mendorong manusia bersikap ilmiah (rasional) dan hilmiyah (lemah lembut).10 Petunjuk yang terdapat dalam Al-Qur‟an benar- benar bersumber dari Allah bukan cerita hayalan yang dibuat. Mereka yang menggunakan Al-Qur‟an sebagai petunjuk dan pedoman hidupnya berarti telah mempersiapkan dirinya untuk hari akhir nanti. Al-Qur‟an adalah pemberi syafaat yang akan dikabulkan oleh Allah. Manusia yang mendekatkan diri kepada Al- Qur‟an salah satunya dengan menghafalkan Al-Qur‟an akan mendapat pertolongan disaat tidak ada pertolongan lain dihari akhir nanti dan terhindar dari penghitungan amal. Jika seseorang masuk syurga diangkatlah derajatnya sesuai dengan ayat terakhir yang dibacanya. Kabar gembira bagi penghafal Al-Qur‟an kedua orang tuanya mendapatkan syafaat dan kemuliaan yang tidak disangka.

9 Muhammad Nasib Ar-Rifai‟. Op. Cit. hlm. 62.

10 Wajihudin Al-Hafidz, Misi Al-Qur‟an, (Jakarta: Amzah, 2016), hlm. 79.

(10)

Membaca Al-Qur‟an saja memberikan ketenangan jiwa, sebagai obat bagi manusia, dan memberikan cahaya bagi pembacanya. Sebaliknya, manusia yang tidak pernah membaca Al-Qur‟an rumahnya bagaikan kuburan.

Selain sebagai petunjuk bagi manusia Al-Qur‟an dijadikan sebagai sumber pendidikan Islam yang pertama dan utama karena ia memiliki nilai absolut yang diturunkan dari Allah menciptakan manusia dan Dia pula yang mendidik manusia, yang mana isi pendidikan itu telah termaktub dalam wahyu-Nya. Tidak satu pun persoalan termasuk persoalan pendidikan tidak luput dari jangkauan dari Al-Qur‟an.11 Allah menjelaskan dalam firman-Nya, Al-Qur‟an sebagai penjelas segala sesuatu, petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri. Perkataan Allah memberikan isyarat bahwa pendidikan Islam digali dari sumber autentik Islam yaitu Al-Qur‟an. Pendidikan Islam bercita-cita mewujudkan kehidupan manusia di masa depan memiliki prinsip-prinsip Islami dalam setiap aspek kehidupannya, berusaha mempengaruhi jiwa peserta didik, menanamkan ketakwaan, serta memiliki akhlak mulia dalam dirinya. Dalam perkembangan dan pertumbuhan manusia pendidikan Islam menginginkan kehidupan manusia seimbang antara kehidupan dunia akhirat dan terciptanya manusia sesuai tujuan pendidikan Islam.

Dapat disimpulkan pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang berupaya membimbing, mengarahkan serta membina peserta didik mencakup

11 Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm.

32-33.

(11)

seluruh aspek kehidupannya dalam menanamkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, berilmu, berakhlak mulia serta memiliki prinsip-prinsip Islami dalam kehidupan masa depan sehingga tercapainya keseimbangan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Sebagai sumber pendidikan Islam Al-Qur‟an abadi selamanya, sesuai dengan perkembangan zaman, tanpa perubahan dan tidak ada yang mampu menandingi Al-Qur‟an. Di dalam Al-Qur‟an terdapat 114 surat yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia termasuk aspek pendidikan ibadah yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 30-34.

Surat Al-Baqarah yang berarti sapi betina adalah surat ke-2 dalam Al- Qur‟an. Surat ini terdiri dari 286 ayat dan tergolong surat Madaniyah. Sebagian besar ayat dalam surat ini diturunkan pada permulaan hijrah. Kecuali ayat 281 yang turun di Mina ketika Nabi Muhammad sedang menjalankan Hujjatul Wada‟

(haji penutup).12 Surat Al-Baqarah ayat 30-34 terkait tentang penciptaan Nabi Adam sebagai khalifah di bumi dan sebagai subjek pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara proses penciptaan Adam sebagai khalifah yang tertera dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 30-34 dengan pendidikan. Dikutip oleh Ahmad Munir dari kitab Syaikh Mahmud Syaltut yang berjudul Min Hady Al-Qur‟an bahwa Allah telah memberikan ilmu sebagai modal persiapan untuk memanfaatkan segala yang diciptakan Allah sehingga

12 Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi Juz I, Terj. K. Anshori Umar Sitanggal, dkk., (Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 1992), hlm. 55.

(12)

mampu mengemban tugas sebagai khalifah di bumi dengan memakmurkan dan melestarikan bumi.13 Allah memberikan potensi kepada manusia yaitu potensi akal dalam memahami sesuatu yamg diajarkan kepadanya.. Potensi tersebut dikembangkan melalui pendidikan. terutama pendidikan ibadah yang merupakan suatu proses mengenal akan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Maka tujuan pendidikan juga diarahkan kepada tujuan penciptaan manusia.

Untuk mengetahui hal tersebut penulis ingin mengkaji lebih dalam pemaparan mengenai aspek pendidikan ibadah dalam Al-Qur‟an surat Al- Baqarah. Untuk itu penulis tertarik untuk mengangkat topik yang berjudul

“ASPEK PENDIDIKAN IBADAH DALAM AL-QUR‟AN SURAT AL- BAQARAH” yang merujuk kepada Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 30-34 karena penulis ingin mengkaji isi kandungan Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 30-34 tentang aspek pendidikan Ibadah dan tafsiran Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 30-34. Berikut adalah surat Al-Baqarah ayat 30-34:











































































































13 Ahmad Munir, Tafsir Tarbawi, (Yogyakarta: Teras, 2008), hlm. 24.

(13)





















































































Artinya:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata:

"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:

"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang- orang yang benar! Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". Allah berfirman:

"Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang- orang yang kafir.”14

B. Batasan dan Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis kemukakan diatas maka rumusan masalah sebagai berikut: Aspek pendidikan Ibadah apa saja yang terdapat dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 30-34?

14 Alqur‟anul Karim, Al-Baqarah: 30-34.

(14)

Berdasarkan batasan masalah yang penulis ungkapkan diatas maka yang menjadi batasan masalah sebagai berikut: Aspek pendidikan Ibadah yang terdapat dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 30-34.

C. Tujuan

Untuk mengetahui aspek pendidikan ibadah yang terdapat dalam surat Al- Baqarah ayat 30-34.

D. Manfaat 1. Teoritis

a. Menambah wawasan penulis dalam pengembangan keilmuan tafsir terkait aspek-aspek pendidikan Islam.

b. Sumbangan pikiran khazanah intelektual dalam bidang tafsir.

2. Praktis

a. Untuk melengkapi syarat-syarat guna mencapai gelar sarjana pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Bukittinggi.

b. Memotivasi mahasiswa untuk membuat karya tulis melalui ayat-ayat Al- Qur‟an.

c. Sebagai referensi dan tambahan bahan bacaan bagi si pembaca terkait dengan tafsir.

(15)

E. Penjelasan Judul

Aspek : berarti sudut pandangan.15

Pendidikan Islam : Usaha membimbing, mengarahkan, dan mengembangkan potensi manusia baik jasmani maupun rohani agar menjadi pribadi Muslim seutuhnya yang mencakup seluruh aspek kehidupannya.

Al-Qur‟an : menurut bahasa Al-Qur‟an berarti bacaan (dari kata qaraa: membaca). Al-Qur‟an adalah kumpulan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang dihimpun dalam sebuah kitab suciyang menjadi pegangan bagi manusia.16

QS. Al-Baqarah : Terdiri dari 286 ayat adalah termasuk surat Madaniyah yang diturunkan pada tahun-tahun permulaan periode Nabi Muhammmad SAW di Madinah. Ia merupakan surah yang terpanjang dan terbanyak ayat-ayatnya diantara surah dalam Al-Qur‟an. Surah ini dinamai Al- Baqarah yang berarti seekor sapi, karena didalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil. Dalam pelaksanaannya penyembelihan sapi betina itu tampak

15 Kamus Besar bahasa Indonesia V Online.

16 Sudirman, Pilar-Pilar Islam, (Malang: UIN-Maliki Press, 2012), hlm. 161.

(16)

jelas sifat dan watak orang-orang yahudi pada umumnya.17

Berdasarkan penjelasan judul yang telah penulis uraikan diatas, maka maksud dari judul ini secara keseluruhan yaitu aspek pendidikan Ibadah yang terkandung dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30-34.

F. Sistematika Penulisan

BAB I, Pendahuluan yang menjelaskan tentang latar belakang, batasan dan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penjelasan judul, dan sistematika penulisan.

BAB II, bab ini berisi Landasan Teori yaitu teori-teori yang diambil dari buku yang didapatkan berdasarkan judul skripsi aspek pendidikan ibadah dalam surat Al-Baqarah 30-34, terdiri dari konsep pendidikan Islam dan aspek-aspek pendidikan Islam (pengertian pendidikan Islam, sumber pendidikan Islam dan tujuan pendidikan Islam, pengertian aspek dan macam-macam aspek pendidikan Islam), dan penelitian relevan.

BAB III, berisi Metodologi yang terdiri dari jenis penelitian, tujuan studi kepustakaan, sumber data, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.

BAB IV merupakan Hasil Penelitian, yang berisi hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh peneliti mengenai penafsiran surat Al-Baqarah ayat 30-34 dan aspek pendidikan ibadah dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 30-34, yang

17 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Tafsirnya, (Jakarta; Lentera Abadi), hlm. 31.

(17)

dijelaskan secara terperinci dan kemudian dianalisis melalui data yang sudah didapatkan pada bab sebelumnya.

BAB V Penutup, berisi kesimpulan dan saran yang menguraikan secara singkat telaah tafsir surat Al-Baqarah ayat 30-34 berupa aspek pendidikan ibadah, kemudian peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai pedoman dan berguna bagi si pembaca.

(18)

14 BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Konsep Pendidikan Islam dan Aspek-Aspek Pendidikan Islam 1. Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan kata dasarnya adalah “didik” yang artinya pelihara, bina ditambah imbuhan pe-kan menjadi pendidikan yang artinya proses atau tindakan dalam mendidik. Brodjonegoro dalam Suwarno menyebutkan beberapa istilah pendidikan diantaranya paedagogiek (ilmu menuntun anak), opveoding (membesarkan), panggulawentah (mengubah), educare (melatih dan mengajarkan), dan erzhicung (membangkitkan atau mengaktifkan).

Berdasarkan istilah-istilah tersebut kemudian Brodjonegoro menerjemahkan pendidikan sebagai tuntunan kepada pertumbuhan manusia mulai lahir sampai tercapainya kedewasaan secara jasmani dan rohani agar dapat memenuhi sendiri tugas hidupnya.18

Pendidikan dalam bahasa Arab adalah tarbiyah dengan kata kerja rabba. Tarbiyah diturunkan dari akar kata ar-rabb yang oleh sebagian ahli diartikan sebagai tuan, pemilik, memperbaiki, merawat dan memperindah.

Di dalam Al-Qur‟an dan hadits sebagai sumber utama ajaran Islan dapat ditemukan kata-kata atau istilah-istilah yang pengertiannya terkait dengan

18 Nanang Purwanto, Pengantar Pendidikan, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hlm.19-20.

(19)

pendidikan yaitu rabba, „allama, dan addaba. Dalam bahasa Arab kata-kata rabba, „allama, dan addaba mengandung pengertian sebagai berikut:

a. Kata kerja rabba yang masdarnya tarbiyatan memilki beberapa arti antara lain mengasuh, mendidik dan memelihara. Di samping kata rabba ada kata-kata yang serumpun dengannya yaitu rabba yang berarti memiliki, memimpin, memperbaiki, menambah. Rabba juga berarti tumbuh berkembang.

b. Kata kerja „allama yang masdarnya berarti mengajar yang lebih bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan, dan keterampilan.

c. Kata kerja addaba yang masdarnya ta‟diban dapat diartikan mendidik yang secara sempit mendidik budi pekerti dan secara luas meningkatkan paradaban.19

Tarbiyah menurut Muhammad Jamaluddin al-Qamisi berarti proses penyampaian sesuatu sampai pada batas kesempurnaan yang dilakukan secara tahap demi tahap. Tarbiyah juga dimaknai sebagai proses penamaan etika yang dimulai pada jiwa anak yang sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk dan nasihat, sehingga ia memiliki potensi-potensi dan kompetensi-kompetensi jiwa yang mantap yang dapat membuahkan sifat- sifat bijak, baik, cinta akan kreasi dan berguna bagi tanah airnya. Tarbiyah seperti yang dikatakan Atiyah al-Abrasy berarti upaya mempersiapkan

19 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 24-25.

(20)

individu untuk kehidupan yang benar, sempurna, kebahagiaan hidup, cinta tanah air, kekuatan raga, kesempurnaan etika, sistematik dalam berpikir, tajam, berperasaan, giat dalam bekerja, toleransi pada yang lain, berkompetensi dalam mengungkapkan bahasa lisan, dan terampil berkreativitas.20

Muhaimin secara sederhana dan terperinci memberikan pengertian tentang pendidikan Islam yang dapat dipahami sebagai berikut:

a. Pendidikan yang dipahami dan dikembangkan dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya yaitu Al-Qur‟an dan sunnah. Dalam pengertian pertama ini pendidikan Islam dapat dikembangkan dari sumber-sumber dasar tersebut.

b. Upaya memberikan pendidikan agama Islam agar menjadikannya sebagai pandangan dan sikap hidup si peserta didik. Dalam pengertian yang kedua ini pendidikan Islam dapat berwujud segenap kegiatan yang dilakukan seseorang atau lembaga tertentu untuk membantu peserta didik dalam menumbuh kembangkan ajaran Islam dan nilai-nilainya dan segenap fenomena atau peristiwa perjumpaan dua orang atau lebih yang berdampak dengan tumbuh kembangnya ajaran Islam dan nilai-nilai pada salah satu atau beberapa pihak.

c. Proses dan praktik penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam sejarah umat Islam. Artinya proses tumbuh

5 Rois Mahfud, Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta: Erlangga, 2011), hlm. 143-144.

(21)

kembangnya Islam dan umatnya, baik Islam dari sebagai agama, ajaran, maupun sistem budaya dan peradaban sejak zaman Nabi Muhammad sampai sekarang. Jadi dalam pengertian yang ketiga ini istilah pendidikan Islam dapat dipahami sebagai pembudayaan dan pewarisan ajaran agama, budaya dan peradaban umat Islam dari generasi ke generasi di sepanjang sejarahnya.21 Sementara itu, menurut seorang pakar pendidikan Islam kontemporer Said Ismail Aly mendefinisikan pendidikan Islam sebagai berikut:

Pendidikan Islam adalah suatu sistem yang lengkap dengan sistematika epistemik yang terdiri atas teori, praktik, metode, nilai dan pengorganisasian yang saling berhubungan melalui kerja sama yang harmonis dalam konsepsi Islami tentang Allah, alam, semesta, manusia dan masyarakat. 22

Pendidikan Islam merupakan suatu sistem yang saling terkait satu sama lain seperti akidah, syari‟ah, dan akhlak yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik yang berlandaskan Ideologi Islam. Maka pendidikan Islam suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah.23 Menurut Muhammad Fadhil al-Jamali pendidikan Islam adalah upaya mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia untuk lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang

21 Sri Minarti, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2013), hlml. 27-28.

22 Ibid. hlm. 28.

17 Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam II, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hlm. 13.

(22)

tinggi dan kehidupan yang mulia sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna baik yang berkaitan dengan akal, perasaan maupun perbuatan.24 Sedangkan menurut Ahmad D. Marimba pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain seringkali beliau menyatakan kepribadian utama dengan istilah kepribadian muslim yaitu kepribadian yang memilki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.25

Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang secara khas memiliki ciri Islami berbeda dengan konsep pendidikan lain yang kajiannya lebih memfokuskan pada pemberdayaan umat berdasarkan Al-Qur‟an dan hadis.

Artinya kajian pendidikan Islam bukan sekedar menyangkut aspek normatif ajaran Islam tetapi juga terapannya dalam ragam materi, institusi, budaya, nilai, dan dampaknya terhadap pemberdayaan umat. Oleh karena itu pemahaman tentang materi, institusi, kultur, dan sistem pendidikan merupakan satu kesatuan yang holistik, bukan parsial, dalam mengembangkan sumber daya manusia yang beriman, berIslam, dan berihsan. Jadi wajar jika para pakar atau praktisi dalam mendefinisikan pendidikan Islam tidak lepas dari sisi konstruksi peserta didik sebagai subjek

24 Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir. Op. Cit. hlm. 26.

25 Djamaluddin dan Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 9.

(23)

dan objek.26 M. Kamal Hasan sebagaimana dikutip, Taufiq Abdullah dan Sharon Shiddique memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses komprehensif dari pengembangan kepribadian manusia secara keseluruhan yang meliputi intelektual, spiritual, emosi, dan fisik. Dengan demikian seorang Muslim disiapkan dengan baik untuk melaksanakan tugasnya sebagai hamba dan wakil Tuhan di bumi.27

Pendidikan Islam adalah segala usaha sadar dan terencana yang dilakukan melalui proses panjang, memiliki tujuan, usaha mempersiapkan kualitas peserta didik baik jasmani maupun rohani menuju kesempurnaan.28 Pengertian pendidikan Islam dalam arti konkret adalah pendidikan yang diciptakan dilaksanakan dan ditujukan untuk umat Islam. Berdasarkan argumentasi ini maka pengertian pendidikan Islam dalam daratan konkret tertuju pada lembaga-lembaga pendidikan seperti: madrasah, sekolah Islam, pesantren, taman pengajian Al-Qur‟an (TPA/TPQ), majlis ta‟lim, mimbar khotbah, halaqah, dan mimbar pengajian keIslaman.29

Dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah rangkaian proses sistematis, terencana dan komprehensif dalam upaya mentransfer nilai-nilai kepada para peserta didik serta mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka sehingga mampu melaksanakan tugasnya di muka bumi dengan

26 Sri Minarti. Op. Cit. hlm. 25-26.

27 Ibid, hlm. 32.

28 Sukring, Pendidik dan Peserta Didik dalam Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), hlm. 20.

29 Jasa Ungguh Muliawan, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm. 15.

(24)

sebaik-baiknya sesuai dengan nilai-nilai Ilahiyah yang di dasarkan pada Al- Qur‟an dan hadis di semua dimensi kehidupan.30

2. Sumber Pendidikan Islam a. Al-Qur‟an

Al-Qur‟an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan mukjizat melalui perantara malaikat Jibril untuk disampaikan kepada umat manusia sebagai pedoman hidup sehingga manusia mendapat petunjuk untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Al-Qur‟an yang berisikan 30 juz, 86 surah diturunkan di Mekkah dan 28 surah diturunkan di Madinah sehingga seluruhnya berjumlah 114 surah.

Al-Qur‟an menurut bahasa mempunyai arti yang bermacam-macam salah satunya menurut pendapat yang lebih kuat adalah bahwa Al-Qur‟an berarti “bacaan” atau yang dibaca. Pendapat ini beralasan bahwa Al- Qur‟an adalah bentuk masdar dari kata Qara‟a-Yaqra‟u artinya

“membaca”.31

Secara terminologi Al-Qur‟an adalah kitab suci yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW yang disampaikan lewat Malaikat Jibril, yang dikomunikasikan dengan menggunakan bahasa Arab, yang

30 Sri Minarti. Op. Cit. hlm. 33.

31 Aminuddin, Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hlm. 45.

(25)

harus dipercayai kebenarannya tanpa syarat, dan menjadi pedoman hidup bagi para pengikutnya yaitu umat Islam di seluruh dunia.32

Abdul Wahab Khalaf mendefinisikan Al-Qur‟an sebagai firman Allah yang diturunkan melalui ruhul amin (Jibril) kepada Nabi Muhammad SAW dengan bahasa Arab. Isinya dijamin kebenarannya, dan sebagai hujjah kerasulannya, undang-undang bagi seluruh manusia dan petunjuk dalam beribadah serta di pandang ibadah dalam membacanya, yang terhimpun dalam mushaf yang dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas yang diriwayatkan kepada kita dengan jalan mutawatir.33

Al-Qur‟an menjelaskan dan membedakan jalan yang hak dari yang batil, yang hakiki dari yang imitasi, yang baik dari yang buruk, yang adil dari yang zalim, jalan yang menyelamatkan dari jalan yang menyesatkan, yang melapangkan dari yang menyempitka, yang memberikan keamanan dari yang membahayakan. Kemudian Al-Qur‟an memberikan bimbingan agar manusia terhindar dari kegembiraan yang palsu, kebahagiaan yang semu tidak terjerumus dalam kesesatan dan kemaksiata, memberikan petunjuk untuk mencapai kebahagiaan yang sejati dan keselamatan yang hakiki. Al-Qur‟an memotivasi umat manusia supaya hidup secara

32 Didiek Ahmad Supadie, dkk, Pengantar Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm.

169.

33 Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009), hlm.

63.

(26)

dinamis, memberikan dorongan untuk mencapai kejayaan hidup di dunia.

Al-Qur‟an pun memberikan tandzir (peringatan) tentang jalan yang mesti ditempuh untuk memperoleh keselamatan hidup di akhirat yang kekal abadi. Allah menurunkan Al-Qur‟an sebagai Nuran pelita yang tidak akan pernah pudar dan sinarnya selalu menerangi kegelapan hidup manusia sebagai rahmatan selalu membawa manusia kepada kasih sayang dan keridaan-Nya.34 Allah berfirman:

















Artinya:

“Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.”35

b. Sunnah

Sunnah merupakan sumber pendidikan Islam kedua setelah Al-Qur‟an.

Sunnah menurut bahasa adalah perjalanan (yang ditempuh) baik terpuji atau tidak jamaknya adalah sunan. Sunnah menurut ahli hadis adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, pengakuan, sifat, kelakuan maupun perjalanan hidup baik setelah diangkat atau pun sebelumnya.36

Makna Sunnah secara etimologi menurut Muhammad „Ajaj al-Khatib (1975) identik dengan hadits yaitu informasi yang disandarkan kepada

34 Ahmad Dimyathi Badruzzaman, Panduan Kuliah Agama Islam, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004), hlm. 49-50.

35 Al-Qur‟anul Karim, Al-Jaatsiyah: 20.

36 Mukni‟ah, Materi Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi Umum, (Jogjakarta:

Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 214.

(27)

Rasulullah SAW berupa ucapan, perbuatan dan keizinan.37 Sunnah merupakan salah satu nama dari dalil-dalil hukum. Apabila suatu hukum diterapkan berdasarkan sunnah maksudnya adalah dasar dari ketetapan hukum tersebut ialah keterangan dari Nabi Muhammad SAW baik berupa ucapan (sunnah qauliyah), perbuatan (sunnah fi‟liyah) maupun ketetapan (sunnah taqririyah).38 Dalam hubungannya dengan Al-Qur‟an maka Sunnah berfungsi sebagai:

1) Sunnah sebagai ta‟kid (penguat) Al-Qur‟an

Islam disandarkan kepada dua sumber, yaitu Al-Qur‟an dan Sunnah. Tidak heran kalau banyak sekali Sunnah yang menerangkan tentang kewajiban shalat, zakat, puasa, larangan musyrik, dan lain-lain.

2) Sunnah sebagai penjelas Al-Qur‟an

Sunnah adalah penjelas (bayan tasyri‟) sesuai dengan firman Allah surat An-Nahl ayat 44:



























Artinya:

“Telah Kami turunkan kitab kepadamu untuk memberikan penjelasan tentang apa-apa yang diturunkan kepada mereka supaya mereka berfikir.” (QS. An-Nahl: 44)

37 Sudirman, Pilar-Pilar Islam, (Malang: UIN: Maliki Press, 2012), hlm. 215.

38 Ibid. hlm. 215-216 .

(28)

Diakui bahwa sebagian umat Islam tidak mau menerima Sunnah padahal mereka mengetahui bahwa shalat Zhuhur itu empat raka‟at, Maghrib tiga raka‟at, dan sebagainya kalu bukan dai Sunnah.

Maka jelaslah bahwa Sunnah itu berperan penting dalam menjelaskan maksud-maksud yang terkandung dalam Al-Qur‟an sehingga dapat menghilangkan kekeliruan dalam memahami Al-Qur‟an. Penjelasan Sunnah terhadap Al-Qur‟an dapat dikategorikan menjadi tiga bagian:

a) Penjelasan terhadap hal yang global, seperti yang diperintahkannya shalat dalam Al-Qur‟an tidak diiringi penjelasan mengenai rukun, syarat dan ketentua-ketentuan shalat lainnya. Maka hal itu dijelaskan oleh Sunnah sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

ْىِّلَصُا ْ ِنِْوُمُتْ يَأَر اَمَك اْوُّلَص

Artinya:

“Shalatlah kamu semua sebagaimana aku shalat.”39

b) Penguat secara muthlaq, Sunnah merupakan penguat terhadap dalil-dalil yang umum yang ada dalam Al-Qur‟an.

c) Sunnah sebagai takhsis terhadap dalil-dali Al-Qur‟an yang masih umum.

39 HR. Bukhari Muslim.

(29)

3) Sebagai Musyari‟

Sunnah tidak diragukan lagi merupakan pembuat syari‟at dari yang tidak ada dalam Al-Qur‟an, misalnya diwajibkannya zakat fitrah, disunnahkan aqiqah dan lain-lain.40

c. Ijtihad

Secara etimologi pengertian al-ijtihad diambil dari kata al-juhdu yang mempunyai pengertian kesulitan, kemampuan atau kekuatan. Sedangkan menurut pengertian syara‟ ijtihad adalah menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum agama dengan jalan memetik/mengeluarkan dari Al-Qur‟an dan Sunnah.41

Secara terminologi ijtihad adalah menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum-hukum syari‟at. Dengan jalan mengeluarkannya dari Al-Qur‟an dan Sunnah atau mengerahkan kesanggupan seorang fuqaha untuk menghabiskan zhan (sangkaan) dengan menetapkan suatu hukum syara‟. Orang yang melakukannya disebut mujtahid.42

Ijtihad memiliki arti kesungguhan yaitu mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. Ijtihad dari sudut istilah berarti menggunakan seluruh potensi nalar secara maksimal dan optimal untuk mengistinbath suatu hukum agama yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok ulama

40 Rachmat Syafe‟i, Ilmu Ushul Fiqh, (Bnadung: CV Pustaka Setia, 2010), hlm. 65-67.

41 Mukni‟ah. Op. Cit. hlm. 230.

42 Beni Ahmad Saebani. Op. Cit. hlm. 94.

(30)

yang memenuhi persyaratan tertentu, pada waktu tertentu untuk merumuskan kepastian hukum mengenai suatu perkara yang tidak ada status hukumya dalam Al-Qur‟an dan sunnah dengan tetap berpedoman pada dua sumber utama. Dengan demikian ijtihad bukan berarti penalaran bebas dalam menggali hukum suatu peristiwa yang dilakukan mujtahid, melainkan tetap bersandar pada Al-Qur‟an dan suunah.43

Dari semua definisi tentang ijtihad dapat disimpulkan bahwa ijtihad adalah:

1) Pengerahan akal pikiran manusia yang berilmu

2) Berkaitan dengan segala hal yang nashnya masih samar dan bersifat amaliyah.

3) Penggalian kandungan Al-Qur‟an dan As-Sunnah dengan berbagai usaha dan pendekatan.

4) Hasil ijtihad berbentuk pemahaman para ulama yang mudah diamalkan.44

3. Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan atau cita-cita sangat penting di dalam aktivitas pendidikan karena merupakan arah yang hendak dicapai. Oleh sebab itu tujuan harus ada sebelum melangkah untuk mengerjakan sesuatu. Jika pendidikan dipandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berakhir pada tercapainya

43 Rois Mahfud. Op. Cit. hlm.115.

44 Beni Ahmad Saebani. Op. Cit. hlm. 95.

(31)

tujuan akhir. Oleh karena itu usaha yang tidak mempunyai tujuan tidaklah mempunyai arti apa-apa.45

Pendidikan Islam bertujuan membentuk pribadi Muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik jasmaniyah maupun ruhaniyah, menumbuhkan hubungan yang harmonis setiap pribadi manusia dengan Allah, manusia, dan alam semesta.46 Pendidikan Islam harus mampu menciptakan manusia Muslim yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi yang didasari dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan serta mampu menanamkan mengembangkannya dalam pribadi. Tujuan pendidikan Islam terkait dengan penciptaannya sebagai hamba yang menyembah dan berserah diri kepada Allah, mengembangkan segala kemampuan dan menanamkan akhlak mulia. Berkenaan dengan akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan dapat dilihat hadis berikut:

ُّللا َيِضَر َةَرْ يَرُي ِْبَِا ْنَع ِ ََْلَْاُا َ ِراَاَك َ َِّمّ ُِاُ ُ ْتِثُع اَى َِن َ ى لَوَس ِىْهَلَع ُّللا ىى لَص ِّللا ُ:ْوُوَر َ:اَا قَ:اَا ُىْهَع

Artinya:

“Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

(HR. Al.Baihaqi)47

Hadis diatas menunjukkan dengan tegas bahwa misi utama Rasululllah SAW adalah memperbaiki akhlak manusia. Beliau melaksanakan misi

45 Sri Minarti. Op. Cit. hlm. 102.

46 Haidar Purta Daulay. Op. Cit. hlm. 11.

47 Bukhari Umar. Op. Cit. hlm. 34.

(32)

tersebut dengan cara menghiasi dirinya dengan berbagai akhlak yang mulia dan menganjurkan agar umatnya senantiasa menerapkan akhlak tersebut dalam kehidupan sehari-hari.48

Menurut Zakiah Daradjat tujuan pendidikan Islam kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi insan kamil dengan pola takwa.49 Mengandung arti bahwa pendidikan Islam diharapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara serta mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam untuk kepentingan dunia dan akhirat sedangkan menurut Omar al-Toumy al-Syaibany menggariskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlak al-karimah. Tujuan ini sama dan sebangun dengan tujuan yang akan dicapai oleh misi kerasulan yaitu membimbing manusia agar berakhlak mulia.50

Pendidikan Islam bertujuan membangun karakter anak didik yang kuat menghadapi berbagai cobaan dalam kehidupan dan telaten, sabar, serta cerdas dalam memecahkan masalah yang dihadapi.51 Menurut Ibnu Khaldun tujuan pendidikan Islam adalah untuk membuat kaum muslimin percaya dan menyakini Tuhan melalui mempelajari Al-Qur‟an dan ilmu pengetahuan

48 Ibid. hlm. 35.

49 Nur Uhbiyati. Op. Cit. hlm. 41.

50 Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 92.

51 Beni Ahmad Saebani. Op. Cit. hlm. 147.

(33)

keagamaan.52 Ilmu pengetahuan yang yang berkenaan dengan keyakinan dan syari‟at Islam membuat kaum Muslimin mengetahui kenyataan yang kemudian diarahkan kepada akhlak yang baik. Sedangkan Abdurrahman Shaleh Abdullah mengatakan dalam bukunya “Educational Theory a Qur‟anic Outlook”, bahwa pendidikan Islam bertujuan membentuk kepribadian sebagai khalifah Allah atau sekurang-kurangnya mempersiapkan ke jalan yang mengacu kepada tujuan akhir. Tujuan utama khalifah Allah adalah beriman kepada Allah dan tunduk serta patuh secara total kepada- Nya.53 Sedangkan menurut Heri Jauhari Muchtar tujuan pendidikan Islam haruslah berusaha membina atau mengembalikan manusia kepada fitrahnya yaitu kepada rububiyah Allah sehingga mewujudkan manusia yang berjiwa tauhid, takwa kepada Allah, rajin beribadah dan beramal shalih, ulil albab serta berakhlakul karimah.54

Menurut Al-Ghazali sebagaimana yang dikutip oleh Fatiyah Hasan Sulaiman menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam dapat diklasifikasikan kepada:

a. Membentuk insan yang paripurna yang pada akhirnya dapat mendekatkan diri kepada Allah.

52 Zianuddin Alavi, Pemikiran Pendidikan Islam pada Abad Klasik dan Pertengahan, (Bandung: Angkasa, 2003), hlm. 72.

53 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 19.

54 Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2008), hlm. 128.

(34)

b. Membentuk insan purna untuk memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Dari kedua tujuan diatas dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan versi Al-Ghazali tidak hanya bersifat ukhrawi (mendekatkan diri kepada Allah) sebagaimana yang dikenal dengan kesufiannya tetapi juga bersifat duniawi. Karena itu Al-Ghazali memberi ruang yang cukup luas dalam sistem pendidikannya bagi perkembangan duniawi. Namun dunia hanya dimaksudkan sebagai jalan menuju kebahagiaan hidup di alam akhirat yang lebih utama dan kekal.55

Menurut Ibnu Taimiyah tujuan pendidikan Islam dibagi kepada tiga bagian, sebagai berikut:

a. Tujuan individual, pada bagian ini tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya pribadi Muslim yang baik, yaitu seseorang yang berpikir, merasa dan bekerja pada berbagai lapangan kehidupan pada setiap waktu sejalan dengan apa yang diperintahkan Al-Quran dan As-Sunnah.

b. Tujuan sosial, pada bagian ini Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa pendidikan juga harus diarahkan pada terciptanya masyarakat yang baik yang sejalan dengan ketentuan Al-Quran dan As-Sunnah.

55 Ibid. hlm. 22.

(35)

c. Tujuan da‟wah Islamiyah, tujuan ketiga yang harus dicapai oleh pendidikan menurut Ibnu Taimiyah adalah mengarahkan umat agar siap dan mampu memikul tugas da‟wah Islamiyah ke seluruh dunia.56

Menurut Ali Al-Jumbulati tujuan pendidikan Islam terdiri dari dua yaitu:

a) Tujuan keagamaan

Yang dimaksud tujuan keagamaan ini adalah bahwa setiap pribadi muslim beramal untuk akhirat atas petunjuk dan ilham keagamaan yang benar, yang tumbuh dan dikembangkan dari ajaran-ajaran Islam yang bersih dan suci. Di samping itu tujuan keagamaan juga mengandung makna luas yakni suatu petunjuk jalan yang benar di mana tiap pribadi muslim mengikutinya dengan ikhlas sepanjang hayatnya.

b) Tujuan keduniaan

Tujuan keduniaan diarahkan kepada pekerjaan yang berguna untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan masa depan.57

Menurut Hasil Konferensi Internasional Pendidikan Islam, pendidikan Islam ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan dari pribadi manusia secara menyeluruh melalui latihan kejiwaan, akal, pikiran, kecerdasan, panca indra. Oleh karena itu pendidikan Islam harus

56 Abuddin Nata, Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo persada, 2000), hlm. 142-143.

57 Ali Al-Jumbulati, Perbandingan Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994), hlm .37-38.

(36)

mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia baik spiritual, intelektual, imajinasi (fantasi), jasmaniah, keilmuan, bahasa baik secara individual maupun kelompok serta mendorong aspek-aspek itu ke arah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan hidup. Tujuan pendidikan Islam dapat dirujuk kepada tujuan pendidikan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berkepribadian, memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, sehat jasmani dan rohani, memiliki rasa seni, serta bertanggungjawab bagi masyarakat, bangsa, dan negara.58 Tujuan akhir pendidikan Islam adalah membentuk kemampuan dan bakat manusia agar mampu menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan yang penuh rahmat dan berkat Allah di seluruh penjuru alam ini.59

4. Aspek-Aspek Pendidikan Islam a. Pengertian Aspek

Aspek dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung beberapa pengertian yaitu tanda, sudut pandang, pemunculan atau penginterpretasian gagasan, masalah, situasi, dan sebagainya sebagai pertimbangan yang dilihat dari sudut pandang tertentu.60 Yang dimaksud dengan aspek adalah penjabaran konstrak ukur yang lebih operasional sebelum dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator perilaku yang lebih

58 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm.

59 M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 125.

60 Kamus Besar bahasa Indonesia V online.

(37)

operasional. Kebanyakan peneliti menamakan penjabaran ini sebagai aspek.pdf. Jadi, aspek merupakan indikator-indikator yang terkandung dalam pembahasan pokok suatu masalah kemudian indikator-indikator itu dibahas secara teoritis.

Aspek-aspek pendidikan Islam diartikan sebagai indikator- indikator yang terkandung dalam pendidikan Islam kemudian aspek-aspek tersebut dibahas atau dikaji. Pendidikan Islam sebagaimana pendidikan lainnya memiliki beberapa aspek di dalamnya. Salah satunya dapat dilihat dari segi materi pendidikannya. Menurut Abuddin Nata pendidikan Islam sekurang-kurangnya mencakup pendidikan fisik, akal, agama (akidah dan syariah) akhlak, kejiwaan, rasa keindahan dan sosial kemasyarakatan.61 Sedangkan menurut Agus dalam buku ilmu pendidikan Islam mengatakan bahwa pendidikan Islam menyangkut kepada empat aspek utama yaitu:

pendidikan ibadah, pendidikan nilai dan pengajaran Al-Qur‟an, pendidikan akhlak karimah, dan akidah Islamiyah.62

b. Macam-Macam Aspek pendidikan Islam

Haidar Putra Daulay dalam bukunya Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat membagi tujuh aspek-aspek pendidikan Islam sebagai berikut:

61 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 341.

62 Beni Ahmad Saebani. Op. Cit. hlm. 16.

(38)

1) Aspek pendidikan ketuhanan dan akhlak a) Pendidikan Ketuhanan (Akidah)

Menurut Mukni‟ah akidah secara etimologi dari asal kata

„aqada-ya‟qidu yang bermakna mengikat sesuatu, jika seseorang mengatakan aku ber‟itiqad begini artinya saya mengikat hati dan dhamir terhadap hal tersebut. Dengan demikian kata akidah secara terminologi bermakna sesuatu yang dinyakini seseorang, diimaninya dan dibenarkan dengan hatinya baik hak ataupun batil.63 Sedang Syekh Hasan al-Banna dalam bukunya al-„aqa‟id menyatakan akidah sebagai sesuatu yang seharusnya hati membenarkannya sehingga menjadi ketenangan jiwa, yang menjadikan kepercayaan bersih dari kebimbangan dan keraguan.64 Makna akidah ditinjau dari pengertian syariat Islam adalah beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab, dan rasul- rasul-Nya beriman kepada hari akhir dan taqdir (ketentuan) Allah yang baik maupun buruk.65 Rasulullah SAW bersabda:

ِاللاِبِ ُنِكْؤُ تْ نَا ُناَْيِْْاُا َس ِىِتَاِك َََكَس

ِىِلُوُرَس ِىِبُتُك ْؤُ تَس ِرِلَْلا ِ ْوَ هْلاَس

ِوِّرَشَس ِوِْيَْل ِرْدَاِْبِ َنِك

) لسك واسر(

Artinya:

63 Mukni‟ah. Op. Cit. hlm. 51.

64 Muhaimin, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pndekatan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2005), hlm. 259.

65 Mukni‟ah. Op. Cit. hlm. 51.

(39)

“Iman yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat- malaikat-Nya, utusan-utusan-Nya, hari akhir, engkau beriman kepada qadar yang baik dan buruk. (HR. Muslim)

Akidah diartikan sebagai keyakinan atau keimanan seseorang yang melahirkan ketenangan jiwa tanpa dipengaruhi oleh keraguan dan kebimbangan. Sebagian orang meyakini dan mengakui serta menyembah Allah yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini sebagian lain tidak mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Akidah sama halnya dengan tauhid yaitu sama-sama mengesakan Allah.

Tauhid dapat dibagi dalam tiga bagian:

(1) Tauhid rububiyah, yaitu meyakini bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang menciptakan alam ini, yang memilikinya, yang mengatur perjalanannya, yang menghidupkan, dan yang mematikan.66 Allah menciptakan semua makhluk diatas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah juga mengakui keesaan rububiyah-Nya.67

(2) Tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan

66 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, ( Jakarta: Amzah, 2016), hlm. 183

67 Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Kitab Tauhid, (Solo: Ummul Qura, 2012), hlm. 15

(40)

seperti doa, nazar, kurban, raja‟ (pengharapan), takut, tawakkal, senang, takut dan tobat.68

(3) Tauhid asma‟ wa sifat, yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatnya sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah menurut apa yang pantas bagi Allah, tanpa ta‟wil, ta‟thil, takyif, dan tamsil.69

Pendidikan Akidah adalah proses pembinaan dan pemantapan kepercayaan dalam diri seseorang sehingga menjadi akidah yang kuat dan benar proses tersebut dapat dilakukan dalam bentuk pengajaran, bimbingan, dan latihan. Dalam penerapannya pendidik dapat menggunakan berbagai metode yang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai.70 Aspek pendidikan ketuhanan atau akidah adalah penanaman jiwa beragama yang kokoh meliputi akidah Islam dalam arti sesunguhnya dan mampu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

b) Pendidikan Ibadah

Ibadah secara bahasa berasal dari kata „abada- ya‟budu-

„ibadatan yang artinya mengabdi, menyembah mengesakan, beribadah. Ibadah juga berarti menghinakan atau merendahkan diri, ketaatan, patuh, tunduk, mengikuti terhadap sesuatu yang

68 Ibid. hlm. 39

69 Ibid. hal. 71

70 Bukhari Umar, Hadis Tarbawi, ( Jakarta: Aamzah , 2012), hal. 38.

(41)

diperintahkan oleh Allah.71 Sedangkan ibadah menurut Syeikh Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar ialah ketaatan, kepatuhan serta sifat tunduk kepada Allah yang mencapai batas puncak paling tinggi. Artinya tidak ada bentuk ketaatan dan kepatuhan yang melebihi kepatuhan dan ketaatan kepada Allah.

Sedangkan menurut Ibnu Taimiyah pengertian ibadah ialah tunduk, merendahkan diri (az-zull) dan cinta (al-hubb) dalam tingkat yang sempurna.72 Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariat ayat 56 yang berbunyi:















Artinya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Ibadah secara umum terbagi dalam dua bagian yaitu: 73 (1) Ibadah Khusus (mahdah)

Ibadah khusus adalah bentuk ibadah langsung kepada Allah yang tata cara pelaksanaannya telah diatur dan ditetapkan oleh Allah atau dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Oleh karena itu pelaksanaan ibadah ini sangat ketat yaitu harus sesuai contoh Rasulullah SAW. Macam-macam ibadah

71 Rois Mahfud. Op. Cit. hlm.10.

72 Abdullah Arief Cholil, dkk, Studi Islam II, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm. 26.

73 Sudirman. Op. Cit. hlm. 136.

(42)

khusus adalah shalat termasuk di dalamnya thaharah sebagai syaratnya puasa, zakat, dan haji.

(2) Ibadah Umum (ghairu mahdah)

Ibadah Umum adalah bentuk hubungan manusia dengan manusia atau manusia dengan alam yang memiliki makna ibadah. Syariat Islam tidak menentukan bentuk dan macam ibadah ini karena apa saja kegiatan seorang Muslim dapat bernilai ibadah asalkan kegiatan tersebut bukan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya serta diniatkan karena Allah.

Menurut Bukhari Umar pendidikan ibadah yang dimaksud disini adalah proses pengajaran, pelatihan, dan bimbingan dalam pengamalan ibadah khusus.74 Sedangkan menurut Muhammad Hasbi Ash-Shieddieqy yang dikutip oleh Abdul Kahar pendidikan ibadah adalah suatu usaha memberikan kesadaran beribadah kepada manusia agar mengerti tentang eksistensi dirinya sebagai seorang hamba Allah dengan tunduk yang setinggi-tingginya.75 Sedangkan menurut Muhibbin Syah yang dikutip oleh Fatimah Ari Widayanti pendidikan ibadah adalah usaha sadar dalam proses membimbing dan mengarahkan potensi insan (manusia) dalam

74 Bukhari Umar. Op. Cit. hlm. 41.

75 Abdul Kahar, Pendidikan Ibadah Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 12 No. 1 (Juni 2019), hlm. 26, diakses pada 9 Juli 2020, http://ejournal.uika- bogor.ac.id/index.php/TAWAZUN.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun yang diharapkan adalah memberi kontribusi tentang penentuan sikap-sikap yang harus dimiliki manusia, dan memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya

Dengan demikian, menurut beliau ayat yang ke-105 dari Surat at-Taubah dimaknai: “Wahai Muhammad, katakanlah/lakukanlah apa yang kamu kehendaki, baik atau buruk, karena

Merujuk pada apa yang dijelaskan dalam surat al-baqarah ayat 168 dan surat al- A‟raf ayat 31, ada dua hal yang harus dipenuhi oleh konsumen agar konsumsi yang diterima

1. Para mufassir berpendapat bahwa kandungan surat Al-Israa‟ ayat 23-24 adalah Allah SWT memberi perintah kepada manusia supaya bertauhid dan beribadah kepadaNya

pengalaman yang di perolehnya di sana dapat dapat dijadikan bekal dalam menyukseskan tugas pokonya di bumi ini. Pengalaman tersebut antara lain adalah

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahwa tujuan pendidikan Islam menurut Al Qur‟an surat Al Baqarah ayat 247 dan surat Al Munafiqun ayat 4 adalah manusia

al- Ma’arij (70) ayat 19-35 adalah sebagai berikut: mengerjakan shalat pada setiap waktu yang ditetapkan, menunaikan zakat dan mengeluarkan sedekah, beriman kepada adanya

Skripsi ini menguraikan tentang sabar menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah yakni menahan jiwa dari cemas, lisan dari mengeluh dan menghadapi musibah dengan tenang dan lapang