• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Penelitian Relevan

Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah:

1. Hasil penelitian Kifayatul Akhyar (2015) yang berjudul “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Yang Terkandung Dalam Kisah Luqman Al-Hakim Telaah Tafsir Qs. Luqman Ayat 12-19” menunjukkan bahwa terdapat tiga aspek nilai-nilai pendidikan Islam yaitu pendidikan aqidah, pendidikan syariah dan pendidikan akhlak. Persamaan penelitian Kifayatul Akhyar dengan penulis yaitu menggunakan penelitian kepustakaan dalam melakukan penelitian dan merujuk kepada kitab tafsir yang ada. Perbedaan penelitiannya terletak pada ayat yang dibahas serta aspek yang dibahas. Pada penelitian diatas peneliti membahas tiga aspek yaitu aqidah, syariah dan akhlak sedangkan penulis hanya membahas satu aspek yaitu ibadah.

2. Hasil Penelitian Dini Mulyani (2113.009) yang dilakukan pada tahun 2017 menggunakan penelitian kepustakaan (library reseach) yaitu dengan judul skripsi “Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Shalat Khusyuk (QS. Al-Mukminun Ayat 1-2) Menurut Kitab Tafsir Al-Azhar Karangan Buya Hamka”. Hasil dari penelitian ini, nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam shalat khusyuk berdasarkan Tafsir Al-Azhar Karangan Buya Hamka, yaitu nilai pendidikan religius dan nilai pendidikan moral

3. Fera Wati (2112.066) yang dilakukan pada tahun 2017 menggunakan penelitian kepustakaan (library reseach) yaitu dengan judul skripsi “Nilai-nilai Pendidikan Islam yang Terdapat dalam QS. Al-Baqarah Ayat 148 Tafsir Al-Azhar Karangan Buya Hamka” Hasil dari penelitian ini, nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah Ayat 148 Tafsir Al-Azhar Karangan Buya Hamka, yaitu nilai pendidikan i‟tiqadiyah, nilai pendidikan ibadah dan nilai pendidikan akhlak.

55 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka atau kepustakaan. Menurut Nashruddin Baidan dan Erwati Aziz penelitian kepustakaan ialah penelitian yang semua datanya berasal dari bahan-bahan tertulis berupa buku, naskah, dokumen, foto, dan lain-lain.101 Maka penulis mengambil sumber data yang berkaitan dengan pembahasan.

B. Tujuan Studi Kepustakaan

Kajian teoritik atau studi kepustakaan dilakukan oleh setiap peneliti dengan tujuan utama yaitu mencari dasar pijakan atau fondasi untuk memperoleh dan membangun landasan teori, kerangka berpikir dan menentukan dugaan sementara atau sering pula disebut sebagai hipotesis penelitian.102

C. Sumber Data

Penelitian kepustakaan ini mengkaji dan menganalisis sumber-sumber dari Al-Quran dan terjemahannya, beberapa tafsir, dan buku-buku yang berhubungan dengan judul skripsi. Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dalam memperoleh data dan informasi mengenai aspek

101 Nashruddin Baidan dan Erwati Aziz, Metodologi Khusus Penelitian Tafsir, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2016), hlm. 27-28.

102 Amri Darwis, Metode Penelitian Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm.

31.

pendidikan Ibadah yang terdapat dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 30-34 berdasarkan data primer dan sekunder.

1. Sumber Data Pokok (Primer)

Sumber Data pokok yaitu sumber utama yang menjadi pokok rujukan yang berkaitan dengan objek yang diteliti. Dalam penelitian ini sumber data pokok yang digunakan adalah Al-Quran dan terjemahannya, Tafsir Al-Azhar oleh Hamka penerbit Gema Insani, Jakarta, Tafsir Ibnu Katsir beserta ringkasan tafsirnya.

2. Sumber Data Pendukung (Sekunder)

Sumber Data Sekunder adalah sumber data pendukung dan pelengkap sumber data primer yaitu berupa dokumen-dokumen, buku-buku, karya ilmiah yang mengulas dan menunjang tentang surat Al-Baqarah ayat 30-34 mengenai aspek pendidikan Ibadah yang terdapat dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 30-34. Dalam penelitian ini sumber data pendukung yang digunakan adalah buku Haidar Putra Daulay yang berjudul Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat, buku Beni Ahmad Saebani yang berjudul Ilmu Pendidikan Islam, dan buku Abuddin Nata yang berjudul Metodologi Studi Islam.

D. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh hasil penelitian ini penulis menggunakan cara pengumpulan data dengan analisis dokumentasi yaitu cara atau teknik yang dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis sejumlah dokumen yang

terkait dengan masalah penelitian.103 Penulis meneliti dan menganalisis data dari surat Al-Baqarah kemudian mencari ayat-ayat yang mengandung masalah aspek pendidikan Ibadah yang terdapat dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 30-34.

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data merupakan suatu proses mengklasifikasi, memberikan kode-kode tertentu, mengolah dan menafsirkan data hasil penelitian sehingga data hasil penelitian menjadi bermakna. Dalam desain penelitiannya peneliti harus menjelaskan cara atau teknik apa yang digunakan untuk menganalisis data. Setidaknya ada empat cara yang bisa digunakan untuk mengumpulkan data yaitu: (1) analisis deskritif kualilatif (dengan kalimat tanpa angka-angka), (2) analisis diskriptif kuantitatif (dengan angka persentase, histogram atau diagram), (3) korelasi dan (4) komparasi.104

Dalam mengambil kesimpulan, penulis menggunakan analisis induktif, deduktif, atau komperatif.

a. Induktif yaitu mengemukakan masalah yang diawali dari hal-hal yang bersifat khusus untuk generalisasi yang bersifat umum.

b. Deduktif yaitu pembahasan yang di mulai dari persoalan yang bersifat umum kemudian baru diambil kesimpulan yang bersifat khusus.

103 Ibid. hlm. 57.

104 Ibid. hlm. 57-58.

c. Komperatif yaitu membandingkan beberapa pendapat para ahli yang terkait dengan masalah yang dibahas, selanjutnya diambil pendapat yang lebih tepat.

59 BAB IV Hasil Penelitian A. Gambaran Umum Surat Al-Baqarah

1. Penamaan Surat Al-Baqarah

Surat Al-Baqarah merupakan surat kedua dalam Al-Qur‟an yang berarti sapi betina. Disebut demikian karena ada kisah tentang Bani Israil yang disuruh oleh Nabi Musa untuk mencari seekor lembu betina yang akan disembelih. Surat Al-Baqarah adalah surat yang paling panjang diantara 114 surat dalam Al-Qur‟an, mengandung 286 ayat yang panjang-panjang, mengandung 2 juz lebih dari sepertiga Al-Qur‟an. Diturunkan di Madinah.105 Dalam surat Al-Baqarah terdapat ayat-ayat yang berkenaan dengan puasa, haji, perintah mengeluarkan zakat, memakan riba, memperbanyak sedekah, rumah tangga, perkawinan, dan perceraian. Khalid bin Ma‟dan berkata:”Surat Al-Baqarah disebut juga Fusthaatul Qur-aan (rangkuman Al-Qur‟an).” Sementara para Ulama menyatakan bahwa surat Al-Baqarah mengandung seribu kabar berita, seribu perintah, dan seribu larangan.106 Diantara pokok-pokok isinya ialah:

a. Keimanan: Dakwah Islamiyah yang ditujukan kepada Umat Islam, ahli kitab, dan orang-orang musyrik.

105 Hamka, Tafsir Al-Azhar Jilid I (Jakarta: Gema Insani, 2015), hlm. 93-94.

106 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid I , Terj. M Abdul Ghoffar E. M., (Pustaka Imam Asy- Syafi‟i, 2012), hlm. 51.

b. Hukum, perintah mengerjakan shalat, perintah menunaikan zakat, puasa, haji dan umrah, qisas, yang halal dan yang haram, bernafkah di jalan Allah, minum arak dan berjudi, cara bergaul dengan anak yatim, prinsip-prinsip ekonomi, larangan memakan riba, utang piutang, nafkah dan yang berhak menerimanya, wasiat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat, hukum sumpah, kewajiban menyampaikan amanat, sihir, hkum merusak masjid, hukum mengubah kitab-kitab Allah, haid, idah, talak, khulu‟, illa‟, hukum susuan, meminang, mahar, menikai wanita musyrik dan sebaliknya, hukum berperang, dan lain-lain.

c. Kisah, penciptaan Nabi Adam as, kisah Nabi Ibrahim as, dan kisah Nabi Musa dengan Bani Israil.

d. Lain-Lain seperti: sifat orang yang bertakwa, sifat-sifat orang munafik, sifat-sifat Allah, perumpamaan-perumpamaan, kiblat, dan kebangkitan sesudah mati.

2. Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah

Secara etimologis kata asbab al-nuzuul berasal dari kata asbaab dan nuzuul. Kata asbaab merupakan bentuk jamak dari kata sabaabun yang berarti sebab, alasan, ilat. Adapun kata nuzuul berasal dari kata kerja nazala yang berarti turun. Secara terminologi

asbaab al nuzzul dapat diartikan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat Al-Qur‟an.107

Menurut Az-Zarqani asbab an-nuzul adalah peristiwa yang menjadi sebab turunnya suatu ayat atau beberapa ayat, dimana ayat tersebut bercerita atau menjelaskan hukum mengenai suatu peristiwa tersebut pada waktu terjadinya. Atau suatu pertanyaan yang ditujukan kepada Nabi, dimana pertanyaan itu menjadi sebab turunnya suatu ayat sebagai jawaban atas pertanyaan itu.108 Ada beberapa rumusan yang dikemukakan para ahli ulumul Qur‟an.

Diantaranya Mann‟a al-Qathan dan Subhi as-Shalih.

a. Menurut Mann‟a al-Qathan sababun nuzul ialah sesuatu yang keadaan sesuai itu Al-Qur‟an diturunkan pada waktu sesuatu itu terjadi seperti suatu peristiwa atau pertanyaan.

b. Menurut Shubhi as-Shalih sabab nuzul ialah sesuatu yang karena sesuatu itu menyebabkan satu atau beberapa ayat Al-Qur‟an diturunkan (dalam rangka) mengcover, menjawab atau menjelaskan hukumnya di saat sesuatu itu terjadi.109

Dapat disimpulkan bahwa asbabun nuzul dapat diartikan sebagai sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al-Qur‟an disebabkan

107 Abdul Hamid, Pengantar Studi Al-Qur‟an, (Jakarta: Kencana, 2017), hlm. 102-103.

108 Kadar M. Yusuf, Studi Al-Qur‟an, (Jakarta: Amzah, 2014), hal. 86.

109 Muhammad Amin Suma, Ulumul Qur‟an, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hal.

204-205.

adanya suatu peristiwa yang terjadi pada waktu itu. Seperti surat Al-Kaafiruun turun karena adanya peristiwa orang-orang kafir meminta Nabi Muhammad SAW menyembah patung yang mereka sembah kemudian orang-orang kafir tersebut juga akan menyembah kepada Allah.

Pada pembahasan sebelumnya disebutkan surat Al-Baqarah terkandung di dalamnya ayat-ayat tentang puasa, haji zakat, haji, umrah, perkawinan, perceraian, sebagainya. Terkait dengan surat Al-Baqarah ayat 30-34 yang membahas tentang penciptaan Nabi Adam sebagai khalifah dibumi merupakan kehendak Allah bukan semata-mata ada suatu peristiwa yang menyebabkan turunnya surat Al-Baqarah ayat 30-34. Ayat-ayat tersebut diturunkan oleh Allah sebagai pemberitahuan bahwa Allah hendak menjadikan khalifah di bumi.

3. Munasabah (hubungan)

Munasabah diartikan sebagai sesuatu yang dekat dan yang berhubungan. Secara harfiah kata munasabah (ةبسانم) berarti perhubungan, pertautan, persesuaian, kecocokan, dan kepantasan.

Kata munasabah adalah sinonim (muradif) dengan kata al-muqarabah (

ةعراقلما

) dan al-musyakalah (

ةلاك اشلما)

yang masing masing berarti berdekatan dan persamaan. Adapun yang dimaksud dengan

munasabah dalam terminologi ahli-ahli ilmu Al-Qur‟an sesuai dengan pengertian harfiahnya ialah segi-segi hubungan atau persesuaian Al-Qur‟an antara bagian demi bagian dalam berbagai bentuknya. Yang dimaksud dengan segi hubungan atau persesuaian ialah semua pertalian yang merujuk kepada makna-makna yang mempertalikan satu bagian dengan bagian yang lain. Sedangkan yang dimaksud dengan bagian demi bagian ialah semisal antara kata/kalimat dengan kata/kalimat, antara ayat dengan ayat, antara awal surat dengan akhir surat, antara surat yang satu dengan surat yang lain, dan begitulah seterusnya hingga benar-benar tergambar bahwa Al-Qur‟an itu merupakan satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh (holistik).110

Ibnu Arabi sebagaimana dikutip oleh Imam As-Sayuti mendefinisikan munasabah itu kepada keterkaitan ayat-ayat Al-Qur‟an antara sebagiannya dengan sebagian yang lain sehingga terlihat jelas sebagai suatu ungkapan yang rapi dan sistematis.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa munasabah adalah suatu ilmu yang membahas tentang keterkaitan atau keserasian ayat-ayat Al-Qur‟an antara satu dengan yang lain.111

110 Ibid. hlm. 236-237.

111 Kadar M. Yusuf. Op. Cit. hlm. 96.

Berikut merupakan beberapa munasabah yang terdapat dalam surat Al-Baqarah yaitu:

a. Munasabah surat Al-Fatihah dengan surat Al-Baqarah

1) Surat Al-Fatihah merupakan pokok-pokok pembahasan yang akan dirinci dalam surat Al-Baqarah dan surat-surat sebelumnya.

2) Di bagian akhir surat Al-Fatihah disebutkan permohonan hamba agar diberi petunjuk oleh Allah ke jalan yang lurus sedang Surat Al-Baqarah dimulai dengan ayat yang menerangkan bahwa Al-Qur‟an adalah kitab yang menunjukkan jalan yang dimaksud itu.

3) Di akhir surat Al-Fatihah disebutkan tiga kelompok manusia yaitu yang diberi nikmat, yang dimurkai Allah dan orang yang sesat, sedangkan diawal surat Al-Baqarah juga disebutkan tiga kelompok manusia, yaitu orang yang bertakwa, orang kafir, dan orang munafik.112

b. Munasabah antara surat Al-Baqarah dan surat Ali Imran

1) Dalam surah Al-Baqarah disebutkan bahwa Nabi Adam a.s langsung diciptakan oleh Allah sedang dalam surah Ali

112 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Tafsirnya, (Jakarta: Lentera Abadi), hlm. 32.

Imran disebutkan tentang kelahiran Nabi a.s yang kedua-duanya diluar kebiasaan.

2) Dalam surat Al-Baqarah dibahas secara luas sifat dan perbuatan orang yahudi disertai dengan hujjah-hujjah yang membantah dan membetulkan kesesatan mereka sedang dalam surat Ali Imran dipaparkan hal-hal yang sama yang berhubungan dengan orang Nasrani.

3) Surat Al-Baqarah dimulai dengan menyebut tiga golongan manusia yaitu orang mukmin, orang kafir, dan orang munafik sedang surat Ali Imran menyebutkan orang-orang yang suka menakwilkan ayat-ayat yang mutasyabihat dengan takwil yang salah untuk memfitnah orang-orang mukmin dan menyebutkan orang yang mempunyai keahlian dalam menakwilkannya.

4) Surat Al-Baqarah diakhiri dengan menyebutkan permohonan kepada Allah agar diampuni atas kesalahan-kesalahan dan kealpaan dalam melaksanakan ketaatan sedang surat Ali Imran disudahi dengan permohonan kepada Allah agar memberi pahala atas amal kebaikan hamba-Nya.

5) Surat Al-Baqarah diakhiri dengan pengakuan terhadap kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya sedang surat Ali

Imran dimulai dengan menyebutkan bahwa Tuhan yang mereka mintakan pertolongan tersebut adalah Tuhan yang kekal abadi dan mengurus semua urusan makhluk-Nya.113 B. Analisis Mufassir Terkait Penafsiran Surat Al-Baqarah Ayat 30-34

1. Menurut Prof. Dr. Syaikh Abdullah bin Abdulkarim Amrullah (Hamka). Tafsir Al-Azhar

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Ada dua macam cara ulama-ulama ikutan kita kita menghadapi wahyu ini pertama ialah mazhab salaf. Mereka menerima berita wahyu itu dengan tidak bertanya-tanya dan berpanjang soal. Allah telah berkenan menceritakan dengan wahyu tentang suatu kejadian di dalam alam ghaib dengan kata

113 Ibid. hlm. 451.

yang dapat kita pahami tetapi akal kita tidak mempunyai daya upaya masuk lebih dalam ke arena ghaib itu. Sebab itu kita terima dia dengan sepenuh iman. Cara yang kedua ialah penafsiran scara khalaf yaitu secara ulama-ulama yang datang kemudian. Yaitu dipakai penafsiran-penafsiran yang masuk akal tetapi tidak melampaui garis yang layak bagi kita sebagai makhuk. Berdasar kepada ini, mazhab khalaf berpendapat bahwasanya apa yang dihikayatkan Allah ini niscaya tidak sebagaimana yang kita pikirkan. Niscaya pertemuan Allah dengan malaikat-Nya itu tidak terjadi di satu tempat karena kalau terjadi di satu tempat tentu bertempatlah Allah Ta‟ala.

Dan bukanlah malaikat itu duduk berhadap-hadapan dengan Allah. Karena kalau demikian tentulah sama kedudukan mereka, malaikat sebagai makhluk dan Allah sebagai khaliq.114 b. Al-Baqarah ayat 31-33





“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar! Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini".

Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Allah pun melanjutkan apa yang telah Dia tentukan yaitu menciptakan khalifah itu, itulah Adam. “Dan telah diajarkan-Nya kepada Adam nama-nama semuanya.”

(pangkal ayat 31). Diberilah oleh Allah kepada Adam itu semua ilmu. “Kemudian Dia kemukakan semuanya kepada malaikat, lalu Dia berfirman „Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama itu semua jika adalah kamu makhluk-makhluk yang benar” (ujung ayat 31). Sesudah Adam dijadikan kepadanya telah diajarkan oleh Allah nama-nama yang dapat dicapai oleh kekuatan manusia baik dengan panca indra maupun akal semata-mata, semuanya diajarkan kepadanya.

Kemudian Allah panggillah malaikat-malaikat itu dan tanyakan adakah mereka tahu nama-nama itu. Jika benar pendapat mereka selama ini bahwa khalifah itu terjadi akan timbul bahaya kerusakan dan pertumpahan darah, sekarang cobalah jawab pertanyaan Allah: dapatkah mereka menunjukkan nama-nama itu?

“Mereka menjawab, Maha Suci Engkau! Tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami, karena sesungguhnya Engkaulah Yang Mahatahu lagi Mahabijaksana.” (ayat 32). Di sini tampak penjawaban malaikat yang mengakui kekurangan mereka.

Tidak ada pada mereka pengetahuan kecuali apa yang diajarkan Allah juga. Mereka memohon ampun dan karunia, menjunjung kesucian Allah bahwasannya pengetahuan mereka tidak lebih daripada apa yang diajarkan jua, lain tidak. Yang mengetahui akan semua hanya Allah. Yang bijaksana membagi-bagikan ilmu kepada siapa yang Dia kehendaki, hanyalah Dia juga.

Sekarang Allah menghadapka pertanyaan-Nya kepada Adam, “Berkata Dia, „Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu semuanya.” (pangkal ayat 33). Oleh Adam titah Allah itu pun dijunjung. Segala yang ditanyakan oleh Allah dia jawab, dia terangkan semuanya

dihadapan malaikat banyak itu. Maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama itu semuanya, berfirmanlah Dia,

“Bukankah telah aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku lebih mengetahui rahasia semua langit dan bumi, dan lebih Aku ketahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.” (ujung ayat 33). Dari merenung ayat ini ahli-ahli tafsir dan keruhaian Islam mendapat kesimpulan bahwasanya dengan menjadikan manusia Allah memperlengkap pernyataan kuasa-Nya. Mereka namai tingkat-tingkat alam itu menurut tarafnya masing-masing. Ada alam malaikat yang disebut alam malakut sebagai kekuatan yang tersembunyi pada seluruh yang ada ini. Ada pula alam nabati yaitu alam tumbuh-tumbuhan yang mempunyai hidup juga tetapi hidup yang tidak mempunyai kemajuan. Ada alam hayawan yaitu alam binatang yang hidupnya dengan naluri belaka (instict, gharizah) dan sebagainya. Maka menciptakan manusia yang dinamai oleh setengah orang alam insan atau alam nasut.

Maka penciptaan insan itu lainlah dari yang lain. Kalau malaikat sebagai salah satu kekuatan bersembunyi dan pelaksana tugas-tugas tertentu, dan kalau hayawan (hewan) hanya hidup menuruti naluri maka insan diberi kekuatan lain

yang bernama akal. Insan adalah gabungan tubuh kasar yang terjadi dari tanah dan nyawa atau ruh yang terjadi dalam rahasia Allah termasuk di dalamnya akal itu sendiri. Dan akal itu tidak sekaligus diberikan tetapi diangsur sedikit demi sedikit. Mulai lahir ke dunia dia hanya pandai menangis tapi kelak lama kelamaan dia akan menjadi sarjana dia akan menjadi filusuf dia akan mengemukakan pendapat yang baru tentang rahasia alam ini. Dia bahkan akan membongkar rahasia alam yang masih tersembunyi untuk membuktikan kekayaan Allah. Dan dia akan menjadi nabi. Allah menciptakan manusia untuk menyatakan kekuasaan-Nya yang masih Dia sembunyikan dalam alam ini.

Bukan karena malaikat tidak sanggup berbuat demikian tetapi karena Allah telah menentukan tugas dan ilmu yang tertentu buat malaikat pula. Takdir Ilahi sebagai diakui oleh jawaban malaikat itu adalah Maha bijaksana. Untuk itulah manusia itu dijadikan khalifah. Tugas menjadi khalifah itu memang berat manusia itu pun selalu dipimpin. Itu sebab dikirim kelaknya rasul-rasul dan wahyu.115

115 Hamka. Op. Cit. hlm. 131-132.

c. Al-Baqarah ayat 34

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:

"Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Inilah kelanjutan dari pelaksanaan keputusan Allah mengangkat khalifah di bumi itu. Adam telah dijadikan dan telah diajarkan kepadanya berbagai nama dan banyak ilmu yang diberikan kepadanya yang tidak diberikan kepada malaikat. Kemudian diperintahkan Tuhanlah malaikat-malaikat itu menyatakan hormat kepada Adam dengan bersujud. Yang jelas dengan sujud itu terkandung sikap hormat dan memuliakan Adam dan bersujud yaitu sujud cara malaikat yang kita tidak tahu dan tidak perlu dikorek-korek lagi buat tahu.

Malaikat pun melaksanakan perintah kecuali satu makhluk yaitu iblis. Dia enggan menjalankan perintah Tuhan itu dan dia menyombong. Mengapa ia enggan dan menyombong? Di ujung ayat sudah ada penjelasannya yaitu karena memang dia telah mempunyai dasar buat kufur. Dan dalam ayat-ayat lain dia menyatakan sebab kesombongannya itu yaitu karena Tuhan

menjadikannya dari api, sedangkan manusia itu dijadikan Tuhan dari tanah. Dengan sikap Iblis yang menyombong sendiri itu, mulailah kita mendapat pelajaran bahwasanya Allah menakdirkan di dalam iradat-Nya bahwasanya tanda kekayaan Tuhan itu bukanlah jika Dia menjadikan ruh yang baik saja.

Disamping yang baik pun dijadikan-Nya yang buruk. Di samping yang patuh dijadikan-Nya pula yang durhaka. Ini sudah ada sejak dari permulaan.116

Disamping yang baik pun dijadikan-Nya yang buruk. Di samping yang patuh dijadikan-Nya pula yang durhaka. Ini sudah ada sejak dari permulaan.116

Dokumen terkait