• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN

B. Letak dan Lokasi Penelitian

2. Aspek Demografis

Keadaan demografi merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kaitannya dengan pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi yang mempengaruhi proses mobilitas sosial masyarakat. Faktor penduduk ini menempati posisi yang paling utama, karna seperti yang kita ketahui bahwa pembangunan itu adalah suatu upaya manusia untuk merubah pola hidup dan posisi sosial mereka untuk tetap memenuhi kebutuhan hidupnya.

a. Kependudukan

adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah, struktur, umur, jenis kelamin, agama, kelahiran, perkawinan, kehamilan, kematian, persebaran, mobilitas dan kualitas serta ketahanannya yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Dari data potensi di Desa Bontomanai tahun 2015, penduduk di Desa Bontomanai menurut jenis kelamin laki-laki 1.835 orang dan perempuan sebanyak 2.124 orang dan jumlah total penduduknya sebanyak 3.959 orang. Angka ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-lakinya lebih kecil dibandingkan dengan jumlah perempuannya.

Tabel 4.1Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia Dan Jenis Kelamin

No Usia jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak di banding jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki yaitu penduduk yang berjenis

kelamin perempuan tercatat dengan jumlah 2.124 jiwa sedangkan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tarcatat dengan jumlah 1.835 jiwa.

Di usia 0-14 misalnya dari jumlah jiwa secara keseluruhan yang tercatat sebanyak 1.201 jiwa, penduduk yang berjenis kelamin perempuan jumlahnya lebih banyak di banding penduduk yang berjenis kelamin laki-laki, yaitu penduduk yang berjenis kelamin perempuan tercatat sebanyak 605 jiwa, sedangkan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tercatat sebanyak 596 jiwa.

Usia 15-29 dimana jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan tercatat sebanyak 513 jiwa dan jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tercatat sebanyak 395 jiwa. Usia 30-44 pun demikian, penduduk berjenis kelamin perempuan tercatat sebanyak 481 jiwa dan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tercatat sebanyak 399 jiwa. Kemudian usia 45-59 penduduk berjenis kelamin perempuan tercatat sebanyak 295 jiwa dan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tercatat sebanyak 252 jiwa. Dan yang terakhir usia 60 ke atas penduduk berjenis kelamin perempuan tercatat sebanyak 230 jiwa dan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tercatat sebanyak 193 jiwa.

b. Pendidikan

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.

Dari data potensi di Desa Bontomanai tahun 2015, jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Bontomanai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, D1-D3 dan SI sebanyak 894 orang.

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015

Dari data pada tabel di atas jika dilihat dari jumlah secara keseluruhan, penduduk berdasarkan tingkat pendidikan yang paling besar jumlahnya tingkat pendidikan SMA dengan jumlah 257 orang, kemudian tingkat pendidikan SMP berjumlah 253, posisi ke tiga tingkat pendidikan SD berjumlah 216 orang, selanjutnya tingkat pendidikan TK berjumlah 93 orang, kemudian tingkat pendidikan S1 berjumlah 53 orang dan yang terakhir yang paling sedikit jumlahnya D1-D3 berjumlah 22 orang di Desa Bontomanai.

c. Mata Pencaharian

pekerjaan atau pencaharian utama (yang dikerjakan untuk biaya sehari-hari).

No Tingkat Pendidikan Jumlah

1 TK 93

2 SD 216

3 SMP/SLTP 253

4 SMA/SLTA 257

5 AKADEMI (D1-D3) 22

6 SARJANA (S1) 53

Jumlah 894

Dari data potensi di Desa Bontomanai tahun 2015, jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian di Desa Bontomanai, berdasarkan pekerjaan sebagai Petani, Pedagang, Wirasuasta, PNS, Polisi dan TNI berjumlah 531 orang.

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pecaharian

Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015

Dari data pada tabel di atas jika dilihat dari jumlah secara keseluruhan, penduduk berdasarkan tingkat mata pecaharian mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian hal ini terlihat jumlahnya 428 orang, kemudian pekerjaan sebagai Wirasuasta berjumlah 34, posisi ke tiga pekerjaan sebagai PNS berjumlah 31 orang, selanjutnya pekerjaan sebagai Pedagang berjumlah 25 orang, kemudian pekerjaan sebagai TNI berjumlah 8 orang dan yang terakhir yang paling sedikit jumlahnya Polisi berjumlah 5 orang di Desa Bontomanai.

d. Agama

Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan.

No Pekerjaan Jumlah

1 Petani 428

2 Pedagang 25

3 Wirasuasta 34

4 PNS 31

5 Polisi 5

6 TNI 8

Jumlah 531

Dari data potensi di Desa Bontomanai tahun 2015, jumlah penduduk berdasarkan agama di Desa Bontomanai, berdasarkan agama antara lain Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Khonghucu berjumlah 3.959 orang.

Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama

Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015

Dari data pada tabel di atas jika dilihat dari jumlah secara keseluruhan, penduduk berdasarkan agama semua penduduk Desa Bontomonai memeluk Agama Islam yang tercatat berjumlah 3.959.

e. Sarana dan Prasarana Umum

Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan, proyek). Untuk lebih memudahkan membedakan keduanya.Sarana lebih ditujukan untuk benda-benda yang bergerak seperti komputer dan mesin-mesin, sedangkan prasarana lebih ditujukan untuk benda-benda yang tidak bergerak seperti gedung.

No Agama Jumlah

1 Islam 3.959

2 Kristen

-3 Katholik

-4 Hindu

-5 Budha

-6 Khonghucu

-Jumlah 3.959

Dari data potensi di Desa Bontomanai tahun 2015, jumlah sarana dan prasarana umumdi Desa Bontomanai, sarana dan prasarana umum antara lain Mesjid, Kuburan Umum, Pasar puskesmas pembantu, posyandu dan Musolah berjumlah 15.

Tabel 4.5 Jumlah Sarana dan Prasarana Umum

Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015

Dari data pada tabel di atas jika dilihat dari jumlah secara keseluruhan, sarana dan prasarana umum masjid dan posyandu yang paling banyak masing-masing 5 unit, keberadaan masjid tentungnya di dukung semua masyarakat Desa Bontomanai memeluk agama Islam dan posyandu yang di miliki setiap dusun.

Kemudian musolah 2 unit dan Kuburan umum, Puskesmas pembantu dan Pasar masing-masing 1 unit.

No Sarana dan Prasarana Jumlah

1 Mesjid 5

2 Kuburan Umum 1

3 Pasar 1

4 Musolah 2

5 Puskesmas Pembantu 1

6 Posyandu 5

Jumlah 15

f. Sarana dan Prasarana Pendidikan

sarana pendidikan sebagai segala macam alat yang digunakan secara langsung dalam proses pendidikan. Sementara prasarana pendidikan adalah segala macam alat yang tidak secara langsung digunakan dalam proses pendidikan.

Dari data potensi di Desa Bontomanai tahun 2015, jumlah sarana dan prasarana pendidikan di Desa Bontomanai, sarana dan prasarana pendidikan antara lain Play Group, TK, SD, SMP dan SMA berjumlah 6 unit.

Tabel 4.6 Jumlah Sarana dan Prasarana Pendidikan

Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015

Dari data pada tabel di atas jika dilihat dari jumlah secara keseluruhan, sarana dan prasarana pendidikan SD paling banyak tercatat 3 unit, kemudian TK tercatat 2 unit, SMP 1 unit, namun Desa Bontomanai tidak memiliki gedung SMA dan Play Group.

No Sarana dan Prasarana Jumlah

1 Play Group

-2 TK 2

3 SD 3

4 SMP 1

5 SMA

-Jumlah 6

g. Pemerintahan

penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Gambar 4.2 Bagan Struktur Organisasi Desa Bontomanai

Gambar 2.3 Struktur Organisasi Desa Bontomanai (Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015)

45

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pembahasan pada bab IV ini didasarkan pada seluruh data yangberhasil di himpun pada saat penulis melakukan penelitian lapangan di Desa Bontomanai, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba. Data yang di maksud dalam hal ini merupakan data primer yang bersumber dari jawaban para informan dengan menggunakan pedoman wawancara atau wawancara secara langsung sebagai media pengumpulan data atau instrumen yang di pakai untuk keperluan tersebut.

Dari data ini diperoleh beberapa jawaban menyangkut “Simbiosis Parasitisme Keberadaan Pabrik Batu Kerikil dan Masyarakat Sekitar” di Desa Bontomanai, termasuk Resolusi yang dapat di tempuh untuk menangani Simbiosis Parasitisme.

A. Profil Informan.

Jumlah informan dalam penelitian ini adalah sebanyak 8 orang yang berhubungan dengan Simbiosis Parasitisme Keberadaan Pabrik Batu Kerikil dan Masyarakat Sekitar, dimana dalam menentukan sampel dilakukan secara sengaja (purposive sampling) yaitu memilih orang yang berkaitan dengan penelitian ini.

Identitas informan yang dipilih didasarkan atas beberapa identifikasi seperti : Nama, pekerjaan, umur, agama, jabatan, pendidikan terakhir, dan mengenai simbiosis parasitisme keberadaan pabrik batu kerikil dan masyarakat sekitar di Desa Bontomanai, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba.

1. Informan “LS” Laki-Laki

Hari jum’at tanggal 8 Juli 2016, penulis mengunjungi informan LS

dikantor Desa Bontomanai sekitar jam 9 pagi karena bapak LS merupakan kepala Desa Bontomanai dan beliau lumayan sibuk maka atas izin beliau bisa diwawancarai pada jam tersebut, setibanya saya di kantor desa kemudian memberi salam dan dijawab sambil menyambut saya dengan senang hati oleh pegawai desa, kemudian saya menyampaikan maksud dan tujuan saya kepada pegawai desa, selanjutnya saya di persilahkan masuk keruangan kepala desa untuk bertemu dengan bapak LS diruang kepala desa, beliau langsung menyuruh saya untuk bertanya sebanyak mungkin tentang penelitian saya karena beliau ada katanya keperluan dikota. Saya mengetahui bahwa bapak LS merupakan kepala desa sudah menjabat selama dua periode, pertama saya menanyakan tentang nama, umur, pekerjaan, agama, dan pendidikan terakhir. Bapak LS berusia sekitar 48 tahun, ia lahir dan dibesarkan di Desa Bontomanai beliau tinggal di dusun Mattarodeceng, menganut agama Islam, pendidikan terakhir yaitu SMA. Sambil merokok bapak LS menyuruh penulis untuk bertanya sebanyak yang diperlukan karena beliau akan dengan senang hati menjawabnya, pertanyaan berikutnya yang saya ajukan tentang respon terhadap keberadaan pabrik batu kerikil, menurut bapak LS saya dan masyarakat awalnya menerima keberadaan pabrik batu kerikil, namun setelah sekitar 3 bulan bukan hal yang baik di terima kami malah sebaliknya banyak laporan dari masyarakat tentang jalan yang berlubang dan debu pada saat mobil pabrik beroperasi, kemudian saya selalu menperingatkan pihak pabrik untuk mengunakan jalan satu jalur saja tetapi hanya di dengarkan

sementara, pihak pabrik mengunakan tiga jalur yaitu di jalan Pahlawan, jalan Takwa dan jalan Tani untuk akses ke pabriknya ke tiga jalan tersebut mengalami kerusakan parah, selanjutnya saya bertanya mengenai solusi yang dapat ditempuh, menurut bapak LS kami dan masyarakat hanya meminta perbaikkan jalan yang sudah saya sampaikan pihak pabrik.

2. Informan “FM” Laki-Laki

Penulis mendatangi rumah informan FM pada tanggal 9 Juli 2016 pada jam 5 sore, penulis harus bisa memperkirakan waktu yang tepat untuk mendatangi informan dikarenakan bulan Juli bertepatan dengan bulan masa panen cengkeh jadi, kebanyakan petani sibuk dengan perkebunan mereka. kebetulan pada saat kunjungan peneliti bapak FM sedang bersantai bersama istri dan empat anaknya didepan rumah duduk diatas tempat duduk yang terbuat dari bambu luasnya sekitar 2 X 1,5 meter, yang orang bugis namakan „bale-bale‟, pada saat itu istri

bapak FM sedang menyapu halaman dan bapak FM sendiri baru pulang dari kebun istirahat sejenak sambil bermain dengan anak bungsunya berusia sekitar 3 tahun. Mereka menyambut kami dengan ramah pada saat saya ragu untuk mengajukan pertanyaan tetapi beliau mempersilahkan saya untuk bertanya.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan kepada bapak FM mengenai profil umum nama lengkap, umur, agama, pekerjaan, dan pendidikan terakhir. Bapak FM berusia sekitar 40 tahun, ia lahir dan dibesarkan di Desa Bontomanai tepatnya di Dusun Bontomanai, ia bekerja sebagai petani kebun dan beternak beragama Islam, pendidikan terakhir yang pernah dirasakan adalah bangku sekolah menengah pertama. bapak FM menyuruh saya untuk bertanya sebanyak yang

diperlukan karena beliau akan dengan senang hati menjawabnya, pertanyaan berikutnya yang saya ajukan tentang respon terhadap keberadaan pabrik batu kerikil, menurut bapak FM saya sangat menolak keberadaan pabrik batu kerikil karena jalan di depan rumah saya berlobang-lobang dan becek saat hujan yang dulunya masih bagus dan saya meletakkan kayu dan bambu dijalan agar mobil pabrik tidak biasa lewat, selanjutnya saya bertanya mengenai solusi yang dapat ditempuh, menurut bapak FM kami sekeluargamengingikan pabrik batu kerikil itu di tutup saja.

3. Informan “AM” Laki-Laki

Penulis mengunjungi informan AM pada tanggal 11 Juli 2016 hari senin jam 7 malam, pada saat saya datang dan memberi salam yang menyambut saya dengan ramah adalah istrinya yang sedang bersantai bersama tiga anaknya sambil menonton televisi, kebetulan pada saat itu bapak AMingin berangkat menuju masjid untuk menunaikan shalat isya, maka dari itu saya dipersilahkan untuk menunggu sejenak sekitar 45 menit sambil bercengkrama dengan ibu FT sambil ikut menonton televisi, saya menyampaikan maksud dan tujuan saya datang kerumahnya, setelah berbincang biasa dengan istri bapak AM sekitar 40 menit kemudian datanglah bapak AM dari masjid, kemudian beliau menyuruh saya untuk bertanya,Pertanyaan pertama yang saya ajukan kepada bapak AM mengenai profil umum nama lengkap, umur, agama, pekerjaan, dan pendidikan terakhir.

Bapak AM berusia sekitar 32 tahun, ia lahir dan dibesarkan di Desa Bontomanai tepatnya di Dusun Bontomanai yang tidak jauh dari pabrik batu kerikil sekitar 10 M, ia bekerja sebagai petani kebun dan beternak beragama Islam, pendidikan

terakhir yang pernah dirasakan adalah bangku sekolah menengah pertama.

Pertanyaan berikutnya yang saya ajukan tentang respon terhadap keberadaan pabrik batu kerikil, menurut bapak AM saya sangat menolak rumah saya berdekatan dengan pabrik dimana suara pabrik sangat ribut atau bising, selanjutnya saya bertanya mengenai solusi yang dapat ditempuh, menurut bapak MA serahkan saja kepada pihak yang terkait.

4. Informan “MA” Laki-Laki

Penulis mengunjungi rumah informan MApada tanggal 13 Juli 2016 hari Rabu pada jam 7 malam seperti informan MA, penulis sengaja berkunjung pada malam hari karena khawatir mengganggu kesibukan informan yang sedari pagi buta hingga petang berada disawah, pada saat kunjungan saya sampai didepan pintu saya mengucapkan salam dan disambut oleh anaknya yang hampir seusia dengan saya, lalu mempersilahkan saya masuk diruang tamu terlihat dua anak bapak MA yang satunya berusia sekitar 12 tahun sedang menulis pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya, saya menyampaikan maksud dan tujuan saya berkunjung maka, anak beliau yang pertama memanggil bapak MA. Beliaupun dengan senang hati menyambut saya dan bersedia untuk diwawancarai.Pertama yang saya tanyakan seperti informan sebelumnya profil umum maka beliau menjawabnya bapak MA berusia sekitar 49 tahun, ia dilahirkan dan dibesarkan di Desa Bontomanai, bekerja sebagai petani sawah dan berkebun, kebun beliau berada di samping pabrik batu kerikil. Agama yang dianut yaitu agama Islam, berpendidikan terakhir SMP, Pertanyaan berikutnya yang saya ajukan tentang respon terhadap keberadaan pabrik batu kerikil, menurut bapak MA saya

betul-betul menolak karena kebun cengkeh saya yang berada di dekat pabrik hitam-hitam dan mati akibat asap dari pabrik, selanjutnya saya bertanya mengenai solusi yang dapat ditempuh, menurut bapak MA ditutup saja karena saya dirugikan.

5. Informan “FN” Laki-Laki

Hari minggu tanggal 17 Juli 2016, penulis mengunjungi informan FN dikebun beliau yang telah disepakati dengan penulis sekitar jam 8 pagi, selanjutnya saya di persilahkan untuk bertanya pertama saya menanyakan tentang nama, umur, pekerjaan, agama, dan pendidikan terakhir.Bapak FN berusia sekitar 37 tahun, ia lahir dan dibesarkan di Desa Bontomanai beliau tinggal di Dusun Masowani, menganut agama Islam, pendidikan terakhir yaitu SMA dan pekerjaannya selain berkebun beliau pernah bekerja di pabrik batu kerikil sebagai kerja sambilan katanya memaanfatkan waktu luang dan mengetahui aktivitas pabrik, namun hanya sekitar 1 bulan bekerja. Sambil merokok bapak FN menyuruh penulis untuk bertanya sebanyak yang diperlukan karena beliau akan dengan senang hati menjawabnya. Kemudian saya pun bertanya segala aktivitas pabrik batu kerikil selama beliau bekerja.

6. Informan“AA” Laki-Laki

Hari Minggu tanggal 24 Juli 2016, penulis mengunjungi informan AA di rumahnya beliau yang telah disepakati dengan penulis sekitar jam 7 malam seperti halnya dengan informan lain, setelah berbincang-bingcang biasa dengan beliau selanjutnya saya di persilahkan untuk bertanya, pertama saya menanyakan tentang nama, umur, pekerjaan, agama, dan pendidikan terakhir. bapak AA

berusia sekitar 50 tahun, ia lahir dan dibesarkan di Desa Bontomanai beliau tinggal di Dusun Masowani, menganut agama Islam, pendidikan terakhir yaitu S1 dan pekerjaannya selain berkebun beliau sebagai ketua BPD desa, selanjutnya saya bertanya tentang permasalahan pabrik batu kerikil.

7. Informan“NA” Perempuan

Hari selasa tanggal 2 Juli 2016, penulis mengunjungi informan NA di rumahnya beliau yang telah disepakati dengan penulis sekitar jam 10 pagi, setelah berbincang-bingcang biasa dengan beliau tentang maksud dan tujuan saya selanjutnya saya di persilahkan untuk bertanya, pertama saya menanyakan tentang nama, umur, pekerjaan, agama, dan pendidikan terakhir. ibu NA berusia sekitar 37 tahun, ia lahir dan dibesarkan di Desa Bontomanai beliau tinggal di Dusun Bontomanai, menganut agama Islam, pendidikan terakhir yaitu S1 dan pekerjaannya PNS, selanjutnya saya bertanya tentang permasalahan pabrik batu kerikil dan sebap akibat simbiosis parasitisme.

8. Informan“DI” Perempuan

Hari Rabu tanggal 20 Juli 2016, penulis mengunjungi informan DI di rumahnya beliau yang telah disepakati dengan penulis sekitar jam 5 sore seperti, setelah berbincang-bingcang biasa dengan beliau tentang maksud dan tujuan saya selanjutnya saya di persilahkan untuk bertanya, pertama saya menanyakan tentang nama, umur, pekerjaan, agama, dan pendidikan terakhir. ibu DI berusia sekitar 40 tahun, ia lahir dan dibesarkan di Desa Bontomanai beliau tinggal di Dusun Bontomanai, menganut agama Islam, pendidikan terakhir yaitu SMA dan

pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga, selanjutnya saya bertanya tentang permasalahan pabrik batu kerikil.

B. Faktor-Faktor Penyebap Terjadinya Simbiosis Parasitisme Keberadaan Pabrik Batu Kerikil Dan Masyarakat Sekitar Di Desa Bontomanai

Simbiosis parasitisme keberadaan pabrik batu kerikil di Desa Bontomanai di Kecamatan Rilau Ale Kabupaten Bulukumba sebenarnya disebapkan oleh berbagai faktor. Berikut penulis akan memaparkan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya simbiosis parasitisme keberadaan pabrik batu kerikil di Desa Bontomanai di Kecamatan Rilau Ale Kabupaten Bulukumba, berdasarkan sejumlah informasi yang penulis peroleh dari hasil wawancara penelitian yang telah dilalukan oleh penulis dengan sejumlah informan yang ada di Desa Bontomanai. Faktor-faktor tersebut antara lain :

1. Proses Sosialisasi Yang Tidak Berjalan Dengan Baik Sebelum Berdirinya Pabrik Batu Kerikil

Sosialisasi merupakan salah satu hal terpenting dalam kehidupan bermasyarakat.Sosialisasi dimaksudkan agar memudahkan seseorang atau sekelompok orang dalam memahami sesuatu hal. Proses sosialisasi yang tidak berjalan dengan baik dapat mengakibatkan pemahaman atau persepsi orang terhadap suatu hal tersebut akan berbeda-beda (multipersepsi).

Rogers dan Shoemaker (1971) menjelaskan bahwa proses difusi merupakan bagian dari proses perubahan sosial. Perubahan sosial adalah proses dimana perubahan terjadi dalam struktur dan fungsi sistem sosial. Perubahan sosial terjadi dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu: (a) Penemuan (invention), (b) difusi (diffusion), dan (c) konsekuensi (consequences). Penemuan adalah proses dimana

ide/gagasan baru diciptakan atau dikembangkan. Difusi adalah proses dimana ide/gagasan baru dikomunikasikan kepada anggota sistem sosial, sedangkan konsekuensi adalah suatu perubahan dalam sistem sosial sebagai hasil dari adopsi atau penolakan inovasi.

Seperti dalam kasus keberadaan pabrik batu kerikil di Desa Bontomanai, sosialisasi dan komunikasi yang di lakukan pemerintah dan pihak belum maksimal sehingga banyak masyarakat tidak mengetahui akan berdiri pabrik batu kerikil. Seharusnya pemerintah dan pihak pabrik menjelaskan kepada masyarakat mengenai berbagai manfaat atau keuntungan baik untuk masyarakat maupun bagi kemajuan Desa Bontomanai itu sendiri serta menjelaskan pula bagaimana dampaknya kedepan dan seperti apa AMDAL-nya, dengan senantiasa memperhatikan seperti apa kondisi geografis, Sosial-budayanya serta bagaimana kondisi ekonominya. Selanjutnya, kenapa pemerintah mengeluarkan kebijakkan tanpa memperhatikan persetujuan masyarakat terlebih dahulu, apakah masyarakat mendukung atau menolak berdirinya pabrik batu kerikil.

NA 37 tahun informan menuturkan mengenai tidak maksimalnya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat secara umum, sehingga masyarakat di rugikan sebagaiamana pernyataan beliau,

“Sosialisasi tidak dilakukan secara menyeluruh keseluruh lapisan masyarakat sehingga setelah berdirinya pabrik malah merugikan masyarakat”.

(wawancara, 2 Juli 2016) Hal yang sama dituturkan oleh Informan bapak MA 36 tahun mengunkapkan

“Seharusnya ada pemberi tahuan kepada kami sebelum berdiriki itu pabrik tapi tidak ada”.

(wawancara,13 Juli 2016) Informan bapak LS 48 tahun mengunkapkan

“pernah dilakukan pemberi tahuan dikantor desa yang diwakili tokoh masyarakat dan setiap masing-masing kepala dusun”.

(wawancara, 8Juli 2016)

Dari hasil wawancara para Informan di atas dapat ditarik kesimpulan Pemerintah Desa memang pernah melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pendirian pabrik batu kerikil tersebut, namun sosialisasi yang dilakukan dinilai tidak maksimal serta tidak berjalan dengan baik, karena tidak disampaikan secara menyeluruh keseluruh lapisan masyarakat, sosialisasi dilakukan hanya kepada tokoh-tokoh masyarakat, sehingga banyak masyarakat tidak mengetahui bahwa akan berdiri pabrik batu kerikil.

2. Pemerintah Kurang Terbuka Terhadap Masyarakat Mengenai Kebijakan Yang Akan Ditetapkannya Sebelum Berdirinya Pabrik Batu Kerikil

Tidak adanya sosialisasi dan komunikasi yang intensif terhadap

Tidak adanya sosialisasi dan komunikasi yang intensif terhadap