BAB III METODOLOGI PENELITIAN
H. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
I. Teknik Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif, pengabsahan data merupakan salah satu faktor yang sangat penting, karena tanpa pengabsahan data yang diperoleh dari lapangan maka akan sulit peneliti untuk mempertanggunjawabkan hasil penelitinya.
Keabsahan data adalah upaya yang dilakukan dengan cara menganalisa atau memeriksa data, mengorganisasikan data, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting berdasarkan kebutuhan dalam penelitian dan memutuskan apa yang dapat dipublikasikan. Langkah analisis data akan melalui beberapatahapyaitu, mengelompokanya, memilih dan memilah data lalu kemudian menganalisanya. Untuk memperkuat keabsahan data, maka peneliti melakukan usaha-usaha yaitu diteliti kredibilitasnya dengan melakukan teknik-teknik sebagai berikut:
1. Perpanjangan Pengamatan
Dengan perpanjangan pengamatan berarti peneliti melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data atau menambah (memperpanjang) waktu
untuk observasi. Wawancara yang awalnya hanya satu minggu, maka akan ditambah waktu satu minggu lagi. Dan jika dalam penelitian ini, data yang diperoleh tidak sesuai dan belum cocok maka dari itu dilakukan perpanjangan pengamatan untuk mengecek keabsahan data. Bila setelah diteliti kembali ke lapangan data sudah benar berarti kredibel, maka waktu perpanjangan pengamatan dapat diakhiri.
2. Meningkatkan Ketekunan
Untuk meningkatkan ketekunan, peneliti bisa melakukan dengan sering menguji data dengan teknik pengumpulan data yaitu pada saat pengumpulan data dengan teknik observasi dan wawancara, maka peneliti lebih rajin mencatat hal-hal yang detail dan tidak menunda-nunda dalam merekam data kembali, juga tidak menganggap mudah / enteng data dan informasi.
3. Trianggulasi
Trianggulasi merupakan teknik yang digunakan untuk menguji kepercayaan data (memeriksa keabsahan data atau verifikasi data), atau istilah lain dikenal dengan trustworthhinnes, yang digunakan untuk keperluan mengadakan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yag telah dikumpulkan.
a. Trianggulasi Sumber
Trianggulasi sumber adalah untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber, maksudnya bahwa apabila data yang diterima dari satu sumber adalah meragukan, maka harus mengecek kembali kesumber lain, tetapi sumber data tersebut harus setara derajatnya. Kemudian peneliti menganalisis data tersebut
sehingga menghasilkan suatu kesimpulan dan dimintakan kesempatan dengan sumber-sumber data tersebut.
b. Trianggulasi Teknik
Trianggulasi Teknik adalah untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, yaitu yang awalnya menggunakan teknik observasi, maka dilakukan lagi teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara kepada sumber data yang sama dan juga melakukan teknik dokumentasi.
c. Trianggulasi waktu
Trianggulasi waktu adalah pengujian data yang telah dikumpulkan dengan memverifikasi kembali data melalui informan yang sama pada waktu yang berbeda.
d. Trianggulasi peneliti
Tringgulasi peneliti adalah membandingkan hasil pekerjaan seorang peneliti dengan peneliti lainnya (peneliti yang berbeda) tida lain untuk mengecek kembali tingkat kepercayaan data, dengan begitu akan memberi kemungkinan bahwa hasil penelitian yang diperoleh akan lebih dipercaya.
34
GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Singkat Kabupaten Bulukumba
Mitos ini pertama kali muncul pada abad ke–17 Masehi ketika terjadi perang saudara antara dua kerajaan besar di Sulawesi yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Di pesisir pantai yang bernama “Tanahkongkong“, disitulah
utusan Raja Gowa dan Raja Bone bertemu, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah pengaruh kerajaan masing-masing. “Bangkeng Buki”, yang merupakan barisan lereng bukit dari Gunung Lompo Battang diklaim oleh pihak kerajaan Gowa sebagai batas wilayah kekuasaannya mulai dari Kindang sampai ke wilayah bagian Timur. Namun pihak kerajaan Bone berkeras mempertahankan Bangkeng Buki sebagai wilayah kekuasaannya mulai dari Barat sampai ke Selatan. Berawal dari peristiwa tersebut kemudian tercetuslah kalimat dalam bahasa Bugis “Bulukumupa”, yang kemudian pada tingkatan dialek tertentu
mengalami perubahan proses bunyi menjadi “Bulukumba”. Konon sejak itulah nama Bulukumba mulai ada, dan hingga saat ini resmi menjadi sebuah kabupaten.
B. Letak Dan Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang menjadi fokus pengambilan data dalam penelitian ini adalah masyarakat yang ada di Desa Bontomanai, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba.
1. Aspek Geografis
Desa Bontomanai terletak di Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan dan termasuk salah satu desa diantara 13 desa dan 1 Kelurahan di Kecamtan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba. Luas Wilayah Desa Bontomanai : 10,40 km2, terdiri dari Pemukiman Penduduk, Pasar, Lahan Pertanian, Lahan Perkebunan, Perkantoran, Sekolah, Pekuburan Umum, Lapangan Sepak Bola, Kawasan Hutan, dll.Curah Hujan di desa Bontomanai 2,500 MM dengan Suhu rata – rata per hari 19-24 C .Desa Bontomanai berada diketingian 900MDL dari permukaan laut dan wilayahnya merupakan daerah dataran tinggi. Jarak dari Kota Kecamatan Rilau Ale + 7 Km dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Roda Empat dan Kendaraan Roda Dua , atau kendaraan lainnya dengan waktu tempuh + 15 Menit. Sedangakan jarak Desa Bontomanai ke Kota Kabupaten Bulukumba + 15 Km, dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Roda Empat dan Kendaraan Roda Dua , atau kendaraan lainnya dengan waktu tempuh + 30 Menit.Dan jarak Desa Bontomanai ke Ibu Kota Provinsi + 160 Km , dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Roda Empat dan Kendaraan Roda Dua , atau kendaraan lainnya dengan waktu tempuh + 3 Jam. Desa ini memiliki tingkat kemiringan tanah yakni 45 Derajat, dan tingkat erosii tanah dan banjir Ringan sebesar 123 Ha/M, dan Erosi Tanah dan Banjir Berat 90 Ha/M. Luas tanah erosi dan Banjir 213 Ha/M. Serta di dalam desa bontomanai terdapat 5 dusun yaitu dusun Mattarodeceng, Masowani, Macinna, Bontomanai, Bontosumange.
Adapun batas-batas Desa Bontomanai sebagai berikut:
a. Sebelah Utara : Desa Bulolohe, Kecamatan Rilau Ale b. Sebelah Timur : Desa Lonrong, Kecamatan Ujung Loe c. Sebelah Selatan : Desa Topanda, Kecamatan Rilau Ale d. Sebelah Barat : Desa Anrang, Kecamatan Rilau Ale
Gambar 4.2 Peta Wilayah Desa Bontomanai
Gambar 2.2 Peta Wilayah Desa Bontomanai, Kec. Rilau Ale Kab Bulukumba (Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015)
2. Aspek Demografis
Keadaan demografi merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kaitannya dengan pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi yang mempengaruhi proses mobilitas sosial masyarakat. Faktor penduduk ini menempati posisi yang paling utama, karna seperti yang kita ketahui bahwa pembangunan itu adalah suatu upaya manusia untuk merubah pola hidup dan posisi sosial mereka untuk tetap memenuhi kebutuhan hidupnya.
a. Kependudukan
adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah, struktur, umur, jenis kelamin, agama, kelahiran, perkawinan, kehamilan, kematian, persebaran, mobilitas dan kualitas serta ketahanannya yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Dari data potensi di Desa Bontomanai tahun 2015, penduduk di Desa Bontomanai menurut jenis kelamin laki-laki 1.835 orang dan perempuan sebanyak 2.124 orang dan jumlah total penduduknya sebanyak 3.959 orang. Angka ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-lakinya lebih kecil dibandingkan dengan jumlah perempuannya.
Tabel 4.1Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia Dan Jenis Kelamin
No Usia jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak di banding jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki yaitu penduduk yang berjenis
kelamin perempuan tercatat dengan jumlah 2.124 jiwa sedangkan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tarcatat dengan jumlah 1.835 jiwa.
Di usia 0-14 misalnya dari jumlah jiwa secara keseluruhan yang tercatat sebanyak 1.201 jiwa, penduduk yang berjenis kelamin perempuan jumlahnya lebih banyak di banding penduduk yang berjenis kelamin laki-laki, yaitu penduduk yang berjenis kelamin perempuan tercatat sebanyak 605 jiwa, sedangkan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tercatat sebanyak 596 jiwa.
Usia 15-29 dimana jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan tercatat sebanyak 513 jiwa dan jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tercatat sebanyak 395 jiwa. Usia 30-44 pun demikian, penduduk berjenis kelamin perempuan tercatat sebanyak 481 jiwa dan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tercatat sebanyak 399 jiwa. Kemudian usia 45-59 penduduk berjenis kelamin perempuan tercatat sebanyak 295 jiwa dan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tercatat sebanyak 252 jiwa. Dan yang terakhir usia 60 ke atas penduduk berjenis kelamin perempuan tercatat sebanyak 230 jiwa dan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tercatat sebanyak 193 jiwa.
b. Pendidikan
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.
Dari data potensi di Desa Bontomanai tahun 2015, jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Bontomanai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, D1-D3 dan SI sebanyak 894 orang.
Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015
Dari data pada tabel di atas jika dilihat dari jumlah secara keseluruhan, penduduk berdasarkan tingkat pendidikan yang paling besar jumlahnya tingkat pendidikan SMA dengan jumlah 257 orang, kemudian tingkat pendidikan SMP berjumlah 253, posisi ke tiga tingkat pendidikan SD berjumlah 216 orang, selanjutnya tingkat pendidikan TK berjumlah 93 orang, kemudian tingkat pendidikan S1 berjumlah 53 orang dan yang terakhir yang paling sedikit jumlahnya D1-D3 berjumlah 22 orang di Desa Bontomanai.
c. Mata Pencaharian
pekerjaan atau pencaharian utama (yang dikerjakan untuk biaya sehari-hari).
No Tingkat Pendidikan Jumlah
1 TK 93
2 SD 216
3 SMP/SLTP 253
4 SMA/SLTA 257
5 AKADEMI (D1-D3) 22
6 SARJANA (S1) 53
Jumlah 894
Dari data potensi di Desa Bontomanai tahun 2015, jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian di Desa Bontomanai, berdasarkan pekerjaan sebagai Petani, Pedagang, Wirasuasta, PNS, Polisi dan TNI berjumlah 531 orang.
Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pecaharian
Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015
Dari data pada tabel di atas jika dilihat dari jumlah secara keseluruhan, penduduk berdasarkan tingkat mata pecaharian mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian hal ini terlihat jumlahnya 428 orang, kemudian pekerjaan sebagai Wirasuasta berjumlah 34, posisi ke tiga pekerjaan sebagai PNS berjumlah 31 orang, selanjutnya pekerjaan sebagai Pedagang berjumlah 25 orang, kemudian pekerjaan sebagai TNI berjumlah 8 orang dan yang terakhir yang paling sedikit jumlahnya Polisi berjumlah 5 orang di Desa Bontomanai.
d. Agama
Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan.
No Pekerjaan Jumlah
1 Petani 428
2 Pedagang 25
3 Wirasuasta 34
4 PNS 31
5 Polisi 5
6 TNI 8
Jumlah 531
Dari data potensi di Desa Bontomanai tahun 2015, jumlah penduduk berdasarkan agama di Desa Bontomanai, berdasarkan agama antara lain Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Khonghucu berjumlah 3.959 orang.
Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama
Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015
Dari data pada tabel di atas jika dilihat dari jumlah secara keseluruhan, penduduk berdasarkan agama semua penduduk Desa Bontomonai memeluk Agama Islam yang tercatat berjumlah 3.959.
e. Sarana dan Prasarana Umum
Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan, proyek). Untuk lebih memudahkan membedakan keduanya.Sarana lebih ditujukan untuk benda-benda yang bergerak seperti komputer dan mesin-mesin, sedangkan prasarana lebih ditujukan untuk benda-benda yang tidak bergerak seperti gedung.
No Agama Jumlah
1 Islam 3.959
2 Kristen
-3 Katholik
-4 Hindu
-5 Budha
-6 Khonghucu
-Jumlah 3.959
Dari data potensi di Desa Bontomanai tahun 2015, jumlah sarana dan prasarana umumdi Desa Bontomanai, sarana dan prasarana umum antara lain Mesjid, Kuburan Umum, Pasar puskesmas pembantu, posyandu dan Musolah berjumlah 15.
Tabel 4.5 Jumlah Sarana dan Prasarana Umum
Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015
Dari data pada tabel di atas jika dilihat dari jumlah secara keseluruhan, sarana dan prasarana umum masjid dan posyandu yang paling banyak masing-masing 5 unit, keberadaan masjid tentungnya di dukung semua masyarakat Desa Bontomanai memeluk agama Islam dan posyandu yang di miliki setiap dusun.
Kemudian musolah 2 unit dan Kuburan umum, Puskesmas pembantu dan Pasar masing-masing 1 unit.
No Sarana dan Prasarana Jumlah
1 Mesjid 5
2 Kuburan Umum 1
3 Pasar 1
4 Musolah 2
5 Puskesmas Pembantu 1
6 Posyandu 5
Jumlah 15
f. Sarana dan Prasarana Pendidikan
sarana pendidikan sebagai segala macam alat yang digunakan secara langsung dalam proses pendidikan. Sementara prasarana pendidikan adalah segala macam alat yang tidak secara langsung digunakan dalam proses pendidikan.
Dari data potensi di Desa Bontomanai tahun 2015, jumlah sarana dan prasarana pendidikan di Desa Bontomanai, sarana dan prasarana pendidikan antara lain Play Group, TK, SD, SMP dan SMA berjumlah 6 unit.
Tabel 4.6 Jumlah Sarana dan Prasarana Pendidikan
Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015
Dari data pada tabel di atas jika dilihat dari jumlah secara keseluruhan, sarana dan prasarana pendidikan SD paling banyak tercatat 3 unit, kemudian TK tercatat 2 unit, SMP 1 unit, namun Desa Bontomanai tidak memiliki gedung SMA dan Play Group.
No Sarana dan Prasarana Jumlah
1 Play Group
-2 TK 2
3 SD 3
4 SMP 1
5 SMA
-Jumlah 6
g. Pemerintahan
penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Gambar 4.2 Bagan Struktur Organisasi Desa Bontomanai
Gambar 2.3 Struktur Organisasi Desa Bontomanai (Sumber, Kantor Desa Bontomanai 2015)
45
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan pada bab IV ini didasarkan pada seluruh data yangberhasil di himpun pada saat penulis melakukan penelitian lapangan di Desa Bontomanai, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba. Data yang di maksud dalam hal ini merupakan data primer yang bersumber dari jawaban para informan dengan menggunakan pedoman wawancara atau wawancara secara langsung sebagai media pengumpulan data atau instrumen yang di pakai untuk keperluan tersebut.
Dari data ini diperoleh beberapa jawaban menyangkut “Simbiosis Parasitisme Keberadaan Pabrik Batu Kerikil dan Masyarakat Sekitar” di Desa Bontomanai, termasuk Resolusi yang dapat di tempuh untuk menangani Simbiosis Parasitisme.
A. Profil Informan.
Jumlah informan dalam penelitian ini adalah sebanyak 8 orang yang berhubungan dengan Simbiosis Parasitisme Keberadaan Pabrik Batu Kerikil dan Masyarakat Sekitar, dimana dalam menentukan sampel dilakukan secara sengaja (purposive sampling) yaitu memilih orang yang berkaitan dengan penelitian ini.
Identitas informan yang dipilih didasarkan atas beberapa identifikasi seperti : Nama, pekerjaan, umur, agama, jabatan, pendidikan terakhir, dan mengenai simbiosis parasitisme keberadaan pabrik batu kerikil dan masyarakat sekitar di Desa Bontomanai, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba.
1. Informan “LS” Laki-Laki
Hari jum’at tanggal 8 Juli 2016, penulis mengunjungi informan LS
dikantor Desa Bontomanai sekitar jam 9 pagi karena bapak LS merupakan kepala Desa Bontomanai dan beliau lumayan sibuk maka atas izin beliau bisa diwawancarai pada jam tersebut, setibanya saya di kantor desa kemudian memberi salam dan dijawab sambil menyambut saya dengan senang hati oleh pegawai desa, kemudian saya menyampaikan maksud dan tujuan saya kepada pegawai desa, selanjutnya saya di persilahkan masuk keruangan kepala desa untuk bertemu dengan bapak LS diruang kepala desa, beliau langsung menyuruh saya untuk bertanya sebanyak mungkin tentang penelitian saya karena beliau ada katanya keperluan dikota. Saya mengetahui bahwa bapak LS merupakan kepala desa sudah menjabat selama dua periode, pertama saya menanyakan tentang nama, umur, pekerjaan, agama, dan pendidikan terakhir. Bapak LS berusia sekitar 48 tahun, ia lahir dan dibesarkan di Desa Bontomanai beliau tinggal di dusun Mattarodeceng, menganut agama Islam, pendidikan terakhir yaitu SMA. Sambil merokok bapak LS menyuruh penulis untuk bertanya sebanyak yang diperlukan karena beliau akan dengan senang hati menjawabnya, pertanyaan berikutnya yang saya ajukan tentang respon terhadap keberadaan pabrik batu kerikil, menurut bapak LS saya dan masyarakat awalnya menerima keberadaan pabrik batu kerikil, namun setelah sekitar 3 bulan bukan hal yang baik di terima kami malah sebaliknya banyak laporan dari masyarakat tentang jalan yang berlubang dan debu pada saat mobil pabrik beroperasi, kemudian saya selalu menperingatkan pihak pabrik untuk mengunakan jalan satu jalur saja tetapi hanya di dengarkan
sementara, pihak pabrik mengunakan tiga jalur yaitu di jalan Pahlawan, jalan Takwa dan jalan Tani untuk akses ke pabriknya ke tiga jalan tersebut mengalami kerusakan parah, selanjutnya saya bertanya mengenai solusi yang dapat ditempuh, menurut bapak LS kami dan masyarakat hanya meminta perbaikkan jalan yang sudah saya sampaikan pihak pabrik.
2. Informan “FM” Laki-Laki
Penulis mendatangi rumah informan FM pada tanggal 9 Juli 2016 pada jam 5 sore, penulis harus bisa memperkirakan waktu yang tepat untuk mendatangi informan dikarenakan bulan Juli bertepatan dengan bulan masa panen cengkeh jadi, kebanyakan petani sibuk dengan perkebunan mereka. kebetulan pada saat kunjungan peneliti bapak FM sedang bersantai bersama istri dan empat anaknya didepan rumah duduk diatas tempat duduk yang terbuat dari bambu luasnya sekitar 2 X 1,5 meter, yang orang bugis namakan „bale-bale‟, pada saat itu istri
bapak FM sedang menyapu halaman dan bapak FM sendiri baru pulang dari kebun istirahat sejenak sambil bermain dengan anak bungsunya berusia sekitar 3 tahun. Mereka menyambut kami dengan ramah pada saat saya ragu untuk mengajukan pertanyaan tetapi beliau mempersilahkan saya untuk bertanya.
Pertanyaan pertama yang saya ajukan kepada bapak FM mengenai profil umum nama lengkap, umur, agama, pekerjaan, dan pendidikan terakhir. Bapak FM berusia sekitar 40 tahun, ia lahir dan dibesarkan di Desa Bontomanai tepatnya di Dusun Bontomanai, ia bekerja sebagai petani kebun dan beternak beragama Islam, pendidikan terakhir yang pernah dirasakan adalah bangku sekolah menengah pertama. bapak FM menyuruh saya untuk bertanya sebanyak yang
diperlukan karena beliau akan dengan senang hati menjawabnya, pertanyaan berikutnya yang saya ajukan tentang respon terhadap keberadaan pabrik batu kerikil, menurut bapak FM saya sangat menolak keberadaan pabrik batu kerikil karena jalan di depan rumah saya berlobang-lobang dan becek saat hujan yang dulunya masih bagus dan saya meletakkan kayu dan bambu dijalan agar mobil pabrik tidak biasa lewat, selanjutnya saya bertanya mengenai solusi yang dapat ditempuh, menurut bapak FM kami sekeluargamengingikan pabrik batu kerikil itu di tutup saja.
3. Informan “AM” Laki-Laki
Penulis mengunjungi informan AM pada tanggal 11 Juli 2016 hari senin jam 7 malam, pada saat saya datang dan memberi salam yang menyambut saya dengan ramah adalah istrinya yang sedang bersantai bersama tiga anaknya sambil menonton televisi, kebetulan pada saat itu bapak AMingin berangkat menuju masjid untuk menunaikan shalat isya, maka dari itu saya dipersilahkan untuk menunggu sejenak sekitar 45 menit sambil bercengkrama dengan ibu FT sambil ikut menonton televisi, saya menyampaikan maksud dan tujuan saya datang kerumahnya, setelah berbincang biasa dengan istri bapak AM sekitar 40 menit kemudian datanglah bapak AM dari masjid, kemudian beliau menyuruh saya untuk bertanya,Pertanyaan pertama yang saya ajukan kepada bapak AM mengenai profil umum nama lengkap, umur, agama, pekerjaan, dan pendidikan terakhir.
Bapak AM berusia sekitar 32 tahun, ia lahir dan dibesarkan di Desa Bontomanai tepatnya di Dusun Bontomanai yang tidak jauh dari pabrik batu kerikil sekitar 10 M, ia bekerja sebagai petani kebun dan beternak beragama Islam, pendidikan
terakhir yang pernah dirasakan adalah bangku sekolah menengah pertama.
Pertanyaan berikutnya yang saya ajukan tentang respon terhadap keberadaan pabrik batu kerikil, menurut bapak AM saya sangat menolak rumah saya berdekatan dengan pabrik dimana suara pabrik sangat ribut atau bising, selanjutnya saya bertanya mengenai solusi yang dapat ditempuh, menurut bapak MA serahkan saja kepada pihak yang terkait.
4. Informan “MA” Laki-Laki
Penulis mengunjungi rumah informan MApada tanggal 13 Juli 2016 hari Rabu pada jam 7 malam seperti informan MA, penulis sengaja berkunjung pada malam hari karena khawatir mengganggu kesibukan informan yang sedari pagi buta hingga petang berada disawah, pada saat kunjungan saya sampai didepan pintu saya mengucapkan salam dan disambut oleh anaknya yang hampir seusia dengan saya, lalu mempersilahkan saya masuk diruang tamu terlihat dua anak bapak MA yang satunya berusia sekitar 12 tahun sedang menulis pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya, saya menyampaikan maksud dan tujuan saya berkunjung maka, anak beliau yang pertama memanggil bapak MA. Beliaupun dengan senang hati menyambut saya dan bersedia untuk diwawancarai.Pertama yang saya tanyakan seperti informan sebelumnya profil umum maka beliau menjawabnya bapak MA berusia sekitar 49 tahun, ia dilahirkan dan dibesarkan di Desa Bontomanai, bekerja sebagai petani sawah dan berkebun, kebun beliau berada di samping pabrik batu kerikil. Agama yang dianut yaitu agama Islam, berpendidikan terakhir SMP, Pertanyaan berikutnya yang saya ajukan tentang respon terhadap keberadaan pabrik batu kerikil, menurut bapak MA saya
betul-betul menolak karena kebun cengkeh saya yang berada di dekat pabrik hitam-hitam dan mati akibat asap dari pabrik, selanjutnya saya bertanya mengenai solusi yang dapat ditempuh, menurut bapak MA ditutup saja karena saya dirugikan.
5. Informan “FN” Laki-Laki
Hari minggu tanggal 17 Juli 2016, penulis mengunjungi informan FN dikebun beliau yang telah disepakati dengan penulis sekitar jam 8 pagi, selanjutnya saya di persilahkan untuk bertanya pertama saya menanyakan tentang
Hari minggu tanggal 17 Juli 2016, penulis mengunjungi informan FN dikebun beliau yang telah disepakati dengan penulis sekitar jam 8 pagi, selanjutnya saya di persilahkan untuk bertanya pertama saya menanyakan tentang