• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR TABEL

DAFTAR LAMPIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

1. Persiapan Bahan

2.4. Studi Kelayakan Bisnis

2.4.2. Aspek Finansial

Menurut Kasmir dan Jakfar (2009), aspek finansial dilakukan untuk menilai biaya-biaya apa saja yang akan dikeluarkan dan seberapa besar pendapatan yang akan diterima jika bisnis dijalankan. Analisis ini meliputi seberapa lama investasi yang ditanamkan akan kembali, dari mana saja sumber pembiayaan bisnis tersebut, dan bagaimana tingkat suku bunga yang berlaku, sehingga apabila dihitung dengan formula penilaian investasi sangat menguntungkan.

Menurut Nurmalina et,al (2009), studi kelayakan bisnis pada dasarnya bertujuan untuk menentukan kelayakan berdasarkan kritera investasi. Beberapa kriteria investasi tersebut diantaranya:

1. Net Present Value (NPV)

Net present value atau nilai kini manfaat bersih adalah selisih antara total present value manfaat dengan total present value dari biaya, atau jumlah present value dari manfaat bersih tambahan selama umur bisnis. Nilai yang dihasilkan dalam perhitungan NPV adalah dalam satuan mata uang (rupiah).

Suatu bisnis dikatakan layak jika NPV lebih besar dari nol (NPV>0) yang artinya bisnis menguntungkan atau memberikan manfaat. Sebaliknya, suatu bisnis yang mempunyai NPV lebih kecil dari nol (NPV<0), maka bisnis tersebut tidak layak untuk dijalankan.

2. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Net B/C adalah rasio antara manfaat bersih yang bernilai positif dengan manfaat bersih yanng bernilai negatif. Dengan kata lain, manfaat bersih yang menguntungkan bisnis yang dihasilkan terhadap setiap satu satuan kerugian dari bisnis tersebut.

Suatu bisnis atau kegiatan investasi dapat dikatakan layak bila Net B/C lebih besar dari satu (Net B/C>1) dan dikatakan tidak layak bila Net B/C lebih kecil dari satu (Net B/C<1).

3. Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C)

Gross B/C merupakan kriteria kelayakan lain yang bisa digunakan dalam analisis bisnis. Baik manfaat maupun biaya adalah nilai kotor (gross). Dengan

14 

 

menggunakan kriteria ini akan lebih menggambarkan pengaruh dari adanya tambahan biaya terhadap tambahan manfaat yang diterima.

Kriteria ini memberikan pedoman bahwa bisnis layak untuk dijalankan apabila Gross B/C lebih besar dari satu (Gross B/C>1) dan bisnis tidak layak untuk dijalankan jika Gross B/C lebih kecil dari satu (Gross B/C<1).

4. Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rate of Return (IRR) menunjukan seberapa besar pengembalian bisnis terhadap investasi yang ditanamkan. IRR adalah tingkat discount rate (DR) yang menghasilkan NPV sama dengan nol. Besaran yang dihasilkan dari perhitungan ini adalah dalam satuan persentase (%).

Dalam praktek, perhitungan IRR dilakukan dengan interpolasi diantara discount rate yang lebih rendah (yang menghasilkan NPV positif) dengan discount rate yang lebih tinggi (yang menghasilkan NPV negatif). Sebuah usaha dikatakan layak apabila IRR lebih besar dari opportunity cost of capital (DR). 5. Pay Back Period (PBP)

Metode ini mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali. Usaha atau bisnis yang PBP nya lebih cepat, maka bisnis tersebut termasuk bisnis yang kemungkinan besar layak untuk dijalankan.

6. Profitability Ratio (PR)

Profitability Ratio (PR) menunjukan perbandingan antara penerimaan (benefit) dengan biaya modal yang digunakan. Rasio ini dipakai sebagai perhitungan rentabilitas dari suatu investasi.

Bila PR lebih besar dari satu (PR>1), maka bisnis layak untuk dilaksanakan (dipilih). Bila PR kurang dari satu (PR<1), maka bisnis tidak layak untuk dilaksanakan (ditolak).

2.4.3. Aspek Pasar dan Pemasaran

Pasar merupakan tempat berkumpul para penjual yang menawarkan barang ataupun jasa kepada para pembeli yang mempunyai kemampuan dan keinginan untuk memiliki barang dan jasa tersebut, hingga terjadinya kesepakatan transaksi atau transfer atas kepemilikan barang atau kenikmatan jasa (Johan, 2011).

15 

 

a. Permintaan dan Penawaran

Menurut Husein Umar (2009), permintaan dapat diartikan sebagai jumlah barang yang dibutuhkan konsumen yang mempunyai kemampuan membeli pada berbagai tingkat harga. Permintaan yang didasarkan oleh kekuatan tenaga beli disebut permintaan efektif, sedangkan permintaan yang didukung oleh kebutuhan saja disebut sebagai permintaan potensial. Hukum permintaan mengatakan bahwa, bila harga suatu barang meningkat, maka kuantitas barang yang diminta akan bekurang. Sebaliknya, jika harga suatu barang menurun, maka kuantitas barang yang diminta akan meningkat.

Penawaran diartikan sebagai kuantitas barang yang ditawarkan di pasar pada berbagai tingkat harga. Dalam fungsi ini, bila harga meningkat maka penjual ingin meningkatkan jumlah barang yang dijualnya. Sampai di mana penjual ingin menawarkan barangnya pada berbagai tingkat harga ditentukan oleh berbagai faktor, di antaranya: harga barang itu sendiri, harga barang lain, ongkos produksi, tingkat teknologi, dan tujuan-tujuan perusahaan.

Pemasaran meliputi keseluruhan sistem yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan usaha, yang bertujuan merencanakan, menentukan harga, hingga mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang atau jasa yang memuaskan kebutuhan pembeli, baik yang aktual maupun yang potensial.

Tiga kegiatan besar dalam aspek pemasaran adalah:

1. Penentuan segmen, target, dan posisi produk pada pasarnya.

2. Kajian untuk mengetahui hal-hal utama dari konsumen potensial, seperti perihal sikap, perilaku, serta kepuasan mereka atas produk-produk sejenis. 3. Menetukan strategi, kebijakan, dan program pemasaran.

Menurut Umar (2009), bentuk pasar dapat dilihat dari sisi produsen atau penjual dan dari sisi konsumen. Dari sisi produsen pasar dapat dibedakan atas: 1. Pasar Persaingan Sempurna

Pada jenis pasar persaingan sempurna, aktivitas persaingan tidaklah tampak karena tidak terbatasnya jumlah produsen (sehingga pangsa pasarnya menjadi terkotak-kotak atau kecil-kecil) dan konsumen dapat membeli atau menjual berapa saja tanpa ada batas, asal bersedia membeli atau menjual pada harga pasar.

16 

 

2. Pasar Monopoli

Pasar monopoli adalah sebuah bentuk pasar yang dikuasai oleh satu penjual saja. Dalam hal ini tidak ada barang subtitusi terhadap barang yang dijual oleh penjual tunggal tersebut, serta adanya hambatan untuk masuknya pesaing dari luar.

3. Pasar Oligopoli

Pasar oligopoli merupakan perluasan dari pasar monopoli. Dalam menentukan tingkat harga dan kuantitas produksi, karena pengaruh dari pesaing sangat terasa, tindakan atau aktivitas pesaing perlu dimasukan dalam perhitungan. 4. Pasar Persaingan Monopolistik

Pasar persaingan ini merupakan bentuk campuran antara persaingan sempurna dan monopoli. Dikatakan mirip pasar persaingan sempurna karena ada kebebasan bagi perusahaan untuk keluar masuk pasar. Selain itu, barang yang dijualpun tidak homogen. Karena barang yang heterogen itu dimiliki oleh beberapa perusahaan besar saja, pasar ini mirip dengan monopoli.

Sedangkan dari sisi konsumen, pasar dapat dibedakan atas empat bentuk, yaitu: 1. Pasar konsumen

Pasar ini merupakan pasar untuk barang dan jasa yang dibeli atau disewakan oleh perorangan atau keluarga dalam rangka penggunaan pribadi.

2. Pasar Industri

Pasar ini adalah pasar untuk barang dan jasa yang dibeli atau disewa oleh perorangan atau organisasi untuk digunakan pada produksi barang atau jasa lain, baik untuk dijual atau disewakan (dipakai untuk proses lebih lanjut).

3. Pasar Penjual Kembali (Reseller)

Merupakan suatu pasar yang terdiri dari perorangan atau organisasi yang biasa disebut para pedagang menengah yang terdiri dari dealer, distributor, grossier, agent, dan retailer. Kesemua reseller ini melakukan penjualan kembali dalam rangka mendapatkan keuntungan.

4. Pasar Pemerintah

Merupakan pasar yang terdiri dari unit-unit pemerintah yang membeli atau menyewa barang atau jasa untuk menjalankan tugas-tugas pemerintah.

17 

 

Manajemen pemasaran akan dipecah atas beberapa kebijakan pemasaran yang disebut dengan bauran pemasaran (marketing mix). Bauran pemasaran untuk produk barang terdiri dari empat komponen, yaitu produk (product), harga (price), distribusi (place), dan promosi (promotion). Sedangkan bauran pemasaran untuk jasa terdiri dari produk (product), harga (price), distribusi (place), promosi (promotion), orang (people), bukti fisik (physical evidence), dan proses jasa itu sendiri (process).

2.4.4. Aspek Teknik dan Teknologi

Menurut Johan (2011), analisis aspek teknik dan teknologi bertujuan untuk menentukan bentuk teknologi yang akan dipakai dengan desain produk yang akan dipasarkan dan kebutuhan investasi baik itu mesin, lokasi, kendaraan, maupun yang lainnya. Pada dasarnya aspek ini dapat dibagi ke dalam tiga bagian utama, yaitu :

a. Penentuan produk yang akan diproduksi dan bagaimana memproduksinya b. Lokasi produksi yang akan digunakan dan lay out

c. Hambatan-hambatan yang perlu diperhatikan dalam menjalankan produksi. 2.4.5. Aspek Manajemen dan Hukum

Menurut Kasmir dan Jakfar (2009), yang dinilai dalam aspek manajemen adalah para pengelola usaha dan struktur organisasi yang ada. Proyek yang dijalankan akan berhasil apabila dijalankan oleh orang-orang yang profesional. Mulai dari merencanakan, melaksanakan, sampai dengan mengendalikannya apabila terjadi penyimpangan. Demikian pula dengan struktur organisasi yang dipilih harus sesuai dengan bentuk dan tujuan perusahaan.

Menurut Nurmalina et.al (2009), aspek hukum mempelajari tentang bentuk badan usaha yang akan digunakan (dikaitkan dengan kekuatan hukum dan konsekuensinya) dan mempelajari jaminan-jaminan yang bisa disediakan bila akan menggunakan sumber dana yang berupa jaminan, berbagai akta, sertifikat, dan ijin.

2.4.6. Aspek Lingkungan Hidup

Menurut Nurmalina et.al (2009), aspek lingkungan mempelajari bagaimana pengaruh bisnis terhadap lingkungan, apakah dengan adanya bisnis menciptakan lingkungan semakin baik atau semakin rusak.

18 

 

Dokumen terkait