• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Perusahaan

2. Penilaian Investas

Hasil perhitungan kelayakan finansial pada Usaha Jamur Mandiri pada ketiga skerio menunjukan bahwa usaha ini layak untuk dijalankan dan akan lebih menguntungkan jika dilakukan pengembangan. Kriteria-kriteria investasi tanpa proyek pengembangan (skenario A ) seperti NPV, IRR, Net B/C, Gross B/C, PR, dan PBP lebih kecil jika dibandingkan dengan adanya proyek pengembangan usaha (Skenario B dan C). Nilai-nilai kriteria investasi selengkapnya dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Nilai-nilai Kriteria Penilaian Invetasi Usaha Jamur Mandiri

Kriteria Investasi Skenario A Skenario B Skenario C

NPV Rp. 31.249.250 Rp. 123.041.025 Rp. 76.000.577 IRR 34,4% 127,16% 35,67% Net B/C 1,68 5,42 2,40 Gross B/C 1,15 1,34 1,21 PR 2,47 3,84 3,45 PBP 5 tahun 11 bulan 23 hari 2tahun 10 bulan 24 hari 5 tahun 6 bulan 16 hari

46 

 

a. Net Present Value (NPV)

Nilai NPV yang diperoleh pada skenario A sebesar Rp. 31.249.250,00, pada skenario B Rp. 123.041.025,00, dan pada skenario C sebesar Rp. 76.000.577,00. Nilai masing-masing NPV ini menunjukan nilai yang positif. Nilai NPV ini merupakan hasil dari pengurangan nilai arus kas masuk atau penerimaan dengan arus kas keluar yang telah didiskontokan. Tingkat suku bunga diskonto yang digunakan pada skenario A dan B disesuaikan dengan tingkat suku bunga kredit mikro Bank BJB pada tahun 2011 yaitu sebesar 12%. Sedangkan pada skenario C disesuaikan dengan tingkat suku bunga kredit mikro Bank BJB pada tahun 2008 yaitu sebesar 14% (Lampiran 13, 23, dan 31).

Penggunaan tingkat diskonto yang berbeda didasarkan pada perbedaan awal tahun analisis proyek. Pada skenario A dan B menggunakan awal tahun analisis proyek dimulai pada tahun 2012. Pada tahun tersebut Usaha Jamur Mandiri telah melunasi biaya kredit dari pinjaman yang diperoleh pada tahun 2008, akan tetapi masih melakukan pembayaran cicilan pada pinjaman yang diperoleh pada tahun 2011 dengan tingkat suku bunga 12%. Sedangkan pada skenario C menggunakan awal tahun analisis proyek dimulai pada tahun 2008, dimana tingkat suku bunga kredit dari pinjaman adalah 14%.

Nilai NPV pada pada proyek pengembangan (skenario B dan C) lebih besar dibandingkan dengan nilai NPV pada kondisi tanpa proyek pengembangan (skenario A). Hal ini disebabkan karena, peningkatan penerimaan dari penjualan pada saat proyek pengembangan, lebih besar dibandingkan dengan peningkatan biaya-biaya yang dikeluarkan, sehingga keuntungan yang diperoleh lebih besar. Nilai NPV pada kondisi tanpa proyek pengembangan maupun dengan proyek pengembangan menunjukan bahwa usaha ini layak, karena berdasarkan kriteria investasi ini, usaha layak untuk dijalankan atau dikembangkan jika NPV>0.

b. Internal Rate of Return(IRR)

Analisis ini dilakukan untuk melihat seberapa besar pengembalian bisnis terhadap investasi yang ditanamkan. Nilai IRR yang diperoleh pada skenario A adalah 34,4%, pada skenario B adalah 127,16%, dan pada skenario C adalah 35,67%. Nilai dari masing-masing IRR ini lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat diskonto yang digunakan yaitu 14 % dan 12 %. Hal ini menunjukan bahwa

47 

 

berinvestasi pada Usaha Jamur Mandiri akan lebih menguntungkan dibandingkan jika dana yang dimiliki saat ini ditabung di bank. Sehingga, Usaha Jamur Mandiri layak untuk dijalankan berdasarkan kriteria investasi ini (Lampiran 14, 24, dan 32).

Nilai IRR yang diperoleh pada skenario B terlihat sangat besar. Hal ini terjadi karena rencana peningkatan produksi pada skenario B, menyebabkan peningkatan jumlah pendapatan yang besar. Akan tetapi pada cash flow, modal investasi dan modal kerja yang dikeluarkan pada tahun 2008-2011 tidak dihitung. Sehingga, jumlah pendapatannya lebih besar dibandingkan dengan jumlah biaya yang dibutuhkan.

Nilai IRR pada kondisi dengan proyek pengembangan (skenario B dan C) lebih besar dibandingkan pada kondisi tanpa pengembangan (skenario A). Hal ini menunjukan bahwa Usaha Jamur Mandiri akan lebih menguntungkan jika dilakukan proyek pengembangan. Hal ini pun dapat menjadi pertimbangan bagi pemilik usaha untuk merealisasikan rencana pengembangan usahanya.

c. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Analisis kriteria ini dilakukan untuk melihat seberapa besar pengaruh dari adanya tambahan biaya terhadap tanbahan manfaat yang diterima oleh suatu usaha. Nilai Net B/C diperoleh dari hasil bagi antara jumlah arus penerimaan bersih setelah didiskontokan yang bernilai positif dengan yang bernilai negatif.

Nilai Net B/C pada skenario A adalah 1,68, pada skenario B 5,42, dan pada skenario C 2,40. Hal ini menunjukan bahwa setiap rupiah biaya yang dikeluarkan untuk budidaya jamur tiram putih, akan menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp. 1,68 pada skenario A, Rp. 5,42 pada skenario B, dan Rp. 2,40 pada skenario C. Ketiga nilai tersebut lebih dari satu, yang menunjukan bahwa usaha ini layak untuk dijalankan dan dikembangkan menurut kiteria ini (Lampiran 14, 24, dan 32).

Seperti halnya nilai IRR, nilai Net B/C pada skenario B terlihat sangat besar. Hal ini terjadi karena nilai NPV positif yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai NPV negatif nya. Nilai NPV positif yang lebih besar dari NPV negatif disebabkan karena rencana peningkatan produksi pada skenario B, menyebabkan peningkatan jumlah pendapatan yang besar. Akan tetapi pada cash flow, modal investasi dan modal kerja yang dikeluarkan pada tahun 2008-2011

48 

 

tidak dihitung. Sehingga, jumlah pendapatannya lebih besar dibandingkan dengan jumlah biaya yang dibutuhkan.

Nilai Net B/C pada kondisi dengan proyek pengembangan (skenario B dan C) lebih besar dibandingkan dengan kondisi tanpa proyek pengembangan (skenario A). Hal ini menunjukan bahwa, jika Usaha Jamur Mandiri merealisasikan perencanaan pengembangannya, maka akan memberikan keuntungan yang lebih besar.

d. Gross Benefit Cost Ratio ( Gross B/C)

Analisis kriteria ini menunjukan pengaruh adanya tambahan biaya terhadap manfaat. Nilai gross B/C ini diperoleh dari hasil bagi antara arus kas penerimaan kotor yang telah didiskontokan yang bernilai positif dengan yang bernilai negatif. Nilai gross B/C pada skenario A 1,15, pada skenario B adalah 1,34, dan pada skenario C adalah 1,21. Ketiga nilai tersebut bernilai lebih dari satu. Oleh karena itu, Usaha Jamur Mandiri layak untuk dijalankan dan dikembangkan berdasarkan kriteria penilaian investasi ini (Lampiran 15, 25 dan 33).

Seperti halnya Nilai Net B/C, nilai gross B/C pada kondisi dengan proyek pengembangan (skenario B dan C) lebih besar dibandingkan dengan kondisi tanpa proyek pengembangan (skenario A). Hal ini menunjukan bahwa, jika Usaha Jamur Mandiri merealisasikan perencanaan pengembangannya, maka usaha ini akan memberikan keuntungan yang lebih besar .

e. Profitability Ratio (PR)

Analisis kriteria ini bertujuan untuk melihat perbandingan antara penerimaan (benefit) dengan biaya modal atau biaya investasi. Dari hasil analisis diperoleh nilai PR pada skenario A adalah 2,47, pada skenario B 3,84, dan pada skenario C 3,45. Nilai PR pada kondisi dengan proyek pengembangan (skenario B dan C) lebih besar dibandingkan dengan kondisi tanpa proyek pengembangan (skenario A). Hal ini menunjukan bahwa, penerimaan bersih akan lebih banyak diperoleh apabila proyek pengembangan direalisasikan. Niali PR pada ketiga kondisi menunjukan nilai yang lebih dari satu, dengan demikian Usaha Jamur Mandiri Layak untuk dijalankan dan dikembangkan berdasarkan kriteria investasi ini (Lampiran 15, 25 dan 33).

49 

 

f. Pay back Period (PBP)

Analisis kriteria investasi ini dilakukan untuk melihat seberapa cepat investasi yang ditanamkan pada usaha dapat kembali. Waktu pengembalian investasi pada skenario A adalah 5 tahun 11 bulan 23 hari, pada skenario B adalah 2 tahun 10 bulan 24 hari dan pada skenario C 5 tahun 6 bulan 16 hari. Ketiga nilai tersebut menunjukan bahwa waktu pengembalian investasi dari Usaha Jamur Mandiri kurang dari tahun analisa proyek. Sehingga, berdasarkan kriteria investasi ini, Usaha Jamur Mandiri layak untuk dijalankan dan dikembangkan (Lampiran 16, 26 dan 34).

Waktu pengembalian investasi dengan proyek pengembangan (skenario B dan C) lebih cepat jika dibandingkan dengan kondisi tanpa proyek pengembangan (skenario A). Hal ini menunjukan bahwa, jika proyek pengembangan direalisasikan, maka Usaha Jamur Mandiri akan lebih cepat memperoleh pengembalian investasi yang telah dikeluarkan.

g. Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas digunakan untuk melihat dampak dari suatu keadaan yang berubah-ubah terhadap hasil suatu analisis kelayakan. Variabel yang digunakan pada analisis sensitivitas ini adalah perubahan tingkat inflasi. Variabel inflasi ini dipilih dengan asumsi bahwa jika inflasi meningkat, maka biaya-biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan usaha pun akan meningkat dan mengurangi keuntungan yang diperoleh Usaha Jamur Mandiri, serta akan memengaruhi nilai- nilai kriteria investasi pada aspek finansial.

Berdasarkan hasil analisis sensitivitas dengan metode switching value, diketahui bahwa tingkat inflasi maksimum yang bisa ditoleransi untuk Usaha Jamur Mandiri pada skenario A adalah 15,21%, pada skenario B adalah 28,97%, dan pada skenaio C adalah 19,24%. Jika tingkat inflasi melebihi tingkat inflasi maksimum yang dapat ditoleransi, maka Usaha Jamur Mandiri akan mengalami kerugian.

Tingkat inflasi yang dapat ditoleransi Usaha Jamur Mandiri pada kondisi tanpa proyek pengembangan (skenario A) lebih rendah, dibandingkan pada kondisi dengan proyek pengembangan (skenario B dan C). Hal ini menunjukan

50 

 

bahwa, Usaha Jamur Mandiri akan lebih peka terhadap perubahan tingkat inflasi dan memiliki risiko kerugian yang lebih besar pada kondisi tanpa proyek pengembangan.

Dokumen terkait