• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN TERHADAP SIKAP

B. Analisa terhadap Sikap Keberagamaan Siswa Tunanetra

1. Aspek Ideologis (keyakinan) Siswa Tunanetra

a. Mengimani agama Islam

Sebuah keimanan dalam agama Islam secara terperinci terdapat dalam rukun iman yang menjadi fondasi keberagamaan dalam Islam. Dimulai dari iman kepada Allah SWT sampai iman kepada Qadha dan Qadhar. Namun dalam pembahasan skripsi ini akan ditambahkan

95

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012), Cet. Ke-10, h. 29.

dengan keimanan terhadap agama Islam. Hal tersebut perlu dilakukan menimbang sebelum membahas keimanan terlebih lanjut, kita perlu membahas keyakinan seseorang terhadap agamanya sebagai jalan pertama dalam menelusuri keberagamaan seseorang.

Pada beberapa siswa yang penulis wawancara96, yaitu Siswa

Menengah Pertama dan Siswa Menengah Atas di Sekolah Luar Bisaa A Pembina Tingkat Nasional yang berlokasi di Lebak Bulus Jakrta Selatan, didapati beberapa tanggapan siswa yang beragam. Islam dimaknai sebagai agama yang damai, karena pemeluknya dinilai mencintai Allah. Islampun dipandang sebagai sebuah prinsip, karena manusia memiliki pendirian masing-masing. Dalam pandangan lain dinilai agama Islam sebagai agama yang suci yang dipahami sebagai agama yang paling benar, agama yang dianjurkan Allah dan dimuliakan-Nya, serta agama yang paten. Dan pendapat lain menuturkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kebenaran dan bukan agama yang mengajarkan kesesatan, Yang artinya secara kualitas, keberagamaan terlahir dari dua dasar yang berbeda yaitu agama didasari oleh sebuah kebenaran hakiki, dan agama didasari oleh sebuah keyakinan semu.

Seorang siswi menyatakan, “Islam itu adalah sebuah agama

yang mempelajari tentang bagaimana kita untuk berserah diri pada Allah, beribadah, berbuat sopan pada semua orang, mengajarkan kita

berbagai kebaikan”.97 Ungkapan tersebut menunjukan bahwa siswa

telah mengetahui bahwa Islam merupakan jalan untuk berserah diri kepada Allah. Sebagaimana dalam tinjauan terminologi, bahwa Islam merupakan Sebuah kepasrahan hamba kepada Penciptannya yaitu Allah. Siswi menyatakan bahwa Islam mengajarkan tentang kesopanan dan mengajarkan perihal kebaikan. Dalam hal ini siswi memahami Islam bukan hanya sebagai ajaran yang hanya menekankan ritual

96

Hasil Wawancara Pada Seluruh Informan Siswa Tunanetra, di SLB A Pembina Tingkat Nasional, Pada Tanggal 1-21 April 2016.

97

semata, melainkan pula sebagai ajaran yang membimbing manusia untuk membangun sistem tata perilaku intrapersonal, yaitu mengajarkan tentang moralitas. Sebagai mana siswa lain menyatakan, “Islam adalah agama yang mengajarkan ketauhidan, mengajarkan

adab, akhlak”.98

Maka, sebagian siswa telah memahami bahwa agama Islam bukan hanya sekedar menyangkut mengenai Eskatologis, melainkan pula sebagai moralitas yang membentuk sistem tata masyarakat yang dibangun dalam nilai keIslaman. Karena Ajaran Islam dalam hal ini tersimpul pada ibdat yang mengambil bentuk shalat, puasa, zakat, haji

dan ajaran–ajaran mengenai moral atau akhlak Islam. Karena memang

Nabi Muhammad diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak

manusia.99 Maka bila kita membicarakan masalah moral dalam

kaitannya dengan Islam, maka kita sedang membicarakan akhlak Islam sebagai suatu sistem moral yang dasarnya telah diatur ajaran secara

terperinci dari sumber utama agama Islam yaitu al-Qur’an dan as

-Sunnah.

Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa Islam dalam pandangan siswa tunanetra dipahami sebagai sebuah prinsip kehidupan manusia yang mengandung nilai kebenaran melalui ajaran mengenai ibadah, moral manusia dan kebajikan lainnya. Sehingga dari rangkaian tersebut terlahir sebagai sebuah keberagamaan yang dipandang hanif atau lurus, yang secara khusus dimuliakan oleh Allah SWT, dan agama yang dianjurkan untuk dipeluk oleh umat manusia dengan kualitas bahwa Islam sebagai agama yang paten. Artinya Islam adalah agama yang sempurna.

Adapun pengakuan siswa ketika ditanyakan mengenai keyakinan mereka terhadap agama Islam, dengan seragam, siswa menjawab dengan jawaban yang sama. yaitu siswa meyakini

98

Hasil Wawancara dengan Al-fathullah, Siswa Kelas VIII SMP-LB,. 99

Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, (Jakarta: UI-Press, 1985), Cet. Kelima, h. 30-31.

kebenaran agama Islam. Namun ketika perbandingan kebenaran Islam dengan agama yang lain, siswa menjawab dengan jawaban yang beragam.

Dari hasil wawancara100 kebanyakan siswa meyakini akan

kebenaran agama Islam, dengan tidak menyalahkan agama yang lainnya. Siswa memandang bahwa setiap agama itu benar karena mengajarkan kebenaran. Pandangan lain menyatakan setiap agama memiliki kepercayaan masing-masing, serta mengajarkan kebaikan. Dalam pemahaman siswa bahwa setiap kebaikan disamakan dengan kebenaran , maka setiap agama yang mengajarkan kebaikan dipahami sebagai sebuah kebenaran. Pendapat lain menyatakan setiap agama memiliki tuhan masing-masing. Artinya siswa memahami akan banyak

kepercayaan akan sosok yang dijadikannya sebagai objek

keberagamaan atau penyembahan. Tuhan merupakan sosok yang disembah, yang jika dipahami bahwa siswa memahami setiap tindakan penyembahan merupakan sebuah kebenaran atau setiap kepercayaan akan adanya tuhan dipandang sebagai sebuah kebenaran.

Seorang siswi menuturkan, “Islam itu agama yang benar,

karena mengajarkan kebenaran, dan bukan agama yang menyesatkan. Agama yang lain benar, karena agama tidak mengajarkan kesesatan,

karena orang yang menjalani yang mempercayai kebenaran itu.”.101

Siswi memiliki pemahaman bahwa semua agama benar karena mengajarkan kebenaran. Namun siswi memberikan tambahan bahwa

hanya penganutnya yang mempercayai kebenaran tersebut,

menunjukkan bahwa ada sebuah sudut pandang siswi yang memahami bahwa kebenaran agama bersifat personal. Yaitu didasari atas kepercayaan penganut terhadap kebenaran agama tersebut. Penganut sebuah agama mempercayai agamanya berarti yakin akan kebenaran agama yang dianutnya, setiap penganut yang meyakini kebenaran

100

Hasil Wawancara dengan seluruh informan Siswa Tunanetra, pada tanggal 1-21 April, 2016.

101

agamanya secara otomatis mengingkari kepercayaan lain yang menganggap benar akan agamanya. Maka agama dipercayai sebagai kebenaran bersifat persepsional, bergantung masing-masing penganut terhadap agamanya.

Beberapa penuturan lain mengungkapkan, “Islam itu sempurna

sebagai mana dalam al-Qur’an, sedangkan agama yang lain benar,

hanya saja tidak sempurna seperti agama Islam”.102Dari pernyataan

tersebut maka bisa dipahami bahwa agama dalam pandangan siswa dipandang sebagai sebuah kebenaran yang memiliki dua tingkatan yaitu Islam sebagai agama yang memiliki tingkatan sempurna, karena bersumber dari Allah yang secara langsung menghimbau manusia

untuk memeluknya sebagaimana dalam al-Qur’an, dan agama lain di

luar Islam dianggap agama yang benar pula, namun kurang sempurna. Hal demikian bisa diartikan siswa mengkategorisasikan akan kebenaran agama, yaitu agama Islam sebagai agama yang benar dan sempurna, dan agama lain sebagai agama yang benar namun tidak

sempurna. sebuah ungkapan salah seorang siswa, “tidak bisa benar

atau salah, kalau menilai salah, gimana?”103

. Dari uraian tersebut bisa terlihat bahwa ada sebuah keengganan siswa dalam menyalahkan agama lain di luar Islam, maka dari itulah terlahir sebuah kategorisasi yang menyebutkan bahwa Islam adalah agama yang benar dan sempurna dan agama yang lain juga benar tapi kurang sempurna.

Dari uraian diatas bisa dipahami bahwa sebagian siswa tunanetra memahami agama semuanya benar dan agama merekalah yaitu Islam yang paling benar. Namun pemahaman nampak perlu ditelusuri lebih jauh, dengan pertimbangan ada salah seorang siswa yang mengungkapkan dua penuturan yang nampak kontradiktif,

sebagai mana ungkapan seorang siswa, “agama yang lain tidak salah

karena memiliki kepercayaan masing-masing, kalau secara Islam,

102

Hasi Wawancara dengan Taufiq, Siswa KelasTiga SMA. 103

mempercayai Tuhan selain Allah itu salah, agama yang lain salah

karena memiliki tuhan selain Allah”104

. Dari ungkapan tersebut telihat dua anggapan yang berbeda, pertama, agama yang diluar isalam dianggap benar karena pertimbangan masing-masing pemeluk yang meyakini kebenaran agamanya. hal tersebut menunjukan ada sebuah pertimbangan yang bersifat perspektif yang menampakan adanya sebuah keniscayaan akan keberagamaan yang beragam, masing-masing pemeluk menganggap agamanya yang benar. Namun ada pula sebuah pertimbangan yang menyebutkan bahwa secara Islam yang mempertuhankan selain Allah itu adalah sebuah kesalahan, dan menyimpulkan bahwa agama yang lain di luar Islam itu dianggap salah karena tidak mempertuhankan Allah. Di sini terlihat ada sebuah pertimbanng perinsipil bahwa sebagai muslim kita wajib menuhankan Allah dan menyalahkan agama yang tidak menuhankan Allah.

Jadi siswa memahami agama sebagai sebuah kebenaran didasari atas dua pertimbangan yaitu pertimbangan sosial, yaitu agama sebagai sebuah kepercayaan yang beragam di tengah masyarakat yang masing masing mengklaim agamanya yang benar, maka agama secara sosial tersebut dimaknai sebagai sebuah kebenaran yang bersifat persepsional. Dan agama pun dianggap sebagai sebuah kebenaran berdasarkan pertimbangan prinsip. Maka secara prinsip, seorang muslim harus mentauhidkan Allah, dan mutlak menganggap salah agama yang di luar Islam dengan syarat tidak mengungkapkan secara premanistik melainkan cukup hanya dikalangan muslim.

Ada pula siswa yang memberikan pandangan yang berbeda. Yaitu siswa meyakini agama Islam sebagai agama yang dianutnya, serta mengakui kebenaran agama Islam tanpa memperhatikan kebenaran dari agama lainnya. Sebagaimana menurut salah serorang

siswa, “agama saya agama yang paling sempurna, agama lain

no-coment”. Siswa lain menyebutkan “agama yang lain tidak tahu, tidak

104

mengurusi agama orang, tidak mau tahu benar atau salahnya karena

takut diajakin105“. Dari dua pernyataan tersebut nampaklah bahwa ada

sebagian siswa yang lebih memilih bersikap ekslusif dalam beragama dan menghindari untuk memperhatikan atau pun bergaul dengan

non-muslim karena memiliki kekhawatiran akan terpengaruhi

keberagamaannya dengan agama lainnya. Hal tersebut menunjukkan ada sikap eksklusif yang ditonjolkan oleh sebagian siswa tunanetra, hal demikian dilatarbelakangi oleh adanya sikap prefentif, terhadap agama lainnnya jika melakukan sebuah hubungan baik secara sosial maupun intelektual khawatir akan memberikan dampak yang kurang baik terhadap keyakinan yang telah dianutnya.

Siswa lain menyatakan, “Agama lain kalau menurut

penganutnya benar, kalau menurut saya, cara mereka dibuat-buat jadi

salah. Agama Islam mengajarkan sebenar-benarnnya, tidak bid’ah.106“.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa memang seorang siswa mengakui akan keberagaman dalam beragama, dengan menganggap benar agama secara parsial. Jadi agama diyakini kebenarannya berdasarkan masing-masing penganutnya. Hanya saja, siswa memiliki dasar doktrin keagamaan yang kuat. Di dalam Islam, hanya Allah-lah yang patut disembah, sedangkan agama laani tidak lah menyembah Allah, maka secara prinsip , agama lain dianggap salah. Agama lain dianggap melakukan mengada-ngada, yang artinya menyembah tuhan yang dibuat oleh tangan penganutnya sendiri. Hal demikian lah yang dianggap mengada-ngadakan sesuatu hal yang sepantasnya tidak ada, yang dalam pemahaman siswa menganggapnya sebagai tindakan bid’ah, yaitu yang menurutnya merupakan sesuatu yang diada-adakan atau dibuat-buat.

Ada lagi seorang siswa yang menyatakan, “agama lain itu

salah, karena Tuhan itu satu. Tiada Tuhan Selain Allah. dan orang

105

Hasil Wawancara dengan Ahmad Ruyani dan Naufal, Siswa Kelas XII SMA-LB, 106

yang lain itu salah, karena menyembah selain Allah”.107 Hal demikian menunjukkan sebuah keyakinan yang diungkapkan dengan lebih ekstrim, yang memandang bahwa hanya Islamlah yang benar, dan agama yang lain merupakan sebuah kesesatan. Hal demikian memang sebuah prinsip yang patut dipertimbangkan, menimbang sebuah keyakinan terhadap agama merupakan dasar dari keberagamaan Islam. Bahkan jika kita lengah dengan akidah yang kita miliki, kemungkinan kita akan terjerumus kepada hal yang dianggap menyimpang atau bahkan musyrik dan bisa pula jatuh pada kekafiran diakibatkan kekurang hati-hatian kita dalam memelihara akidah yang kita miliki.

Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa tanggapan siswa tunanetra terhadap keyakinan atas agama yang dianutnya, terdiri dari tiga kategori tanggapan. Yaitu tanggapan pertama dari kelompok siswa yang memahami agama Islam adalah agama yang sempurna. Hal demikian berkaitan dengan tanggapan siswa terhadap agama di luar Islam yang menurut mereka merupakan sebuah kebenaran pula. Oleh karenanya, semua agama menurut sebagian siswa adalah benar berdasarkan pertimbangan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Kebaikan dalam pemahaman siswa disamakan dengan sebuah kebenaran, maka dari itu agama yang mengajarkan kebaikan disimpulkan dengan kebenaran maka semua agama mengajarkan kebaikan, artinya semua agama adalah benar.

Pendapat tersebut dilatarbelakangidari dua unsur utama yaitu unsure keberagamaan. Yaitu keberagaman dalam beragama merupakan sebuah kenyataan, yang dalam perinsipnya, semua penganut mempercayai sekaligus meyakini kebenaran agama masing-masing. Maka dari itu, agama bernilai kebenaran secara personal yang tergantung siapa penganut dari agama tertentu. Kemudian siswa pula merasa enggan untuk menilai benar dan salah agama lain di luar Islam. Hal demikianlah yang menimbulkan sikap apologetic terhadap

107

pembenaran agama lainnya sehingga timbul lah sebuah pernyataan bahwa Islam adalah agama yang paling benar dan sempurna, sedang agama lain kurang atau tidak sesempurna agama Islam. Dari ketiga pertimbangan di atas, sebagian siswa tunanetra memberikan tanggapan terhadap keyakinan dan kebenaran agama yang diyakininya.

Kemudian sebagian siswa menangggapi bahwa hanya agama Islamlah yang paling benar, sedangkan agama yang lainnya tidak perlu

ditanggapi apakah benar ataukah salahnya. Hal demikian

dilatarbelakangi atas dua hal, yang pertama siswa menanggapi bahwa agamanya yang paling benar karena Islam adalah agamanya sedangkan agama lain tidak perlu dinilai benar atau salah karena bukan agama mereka. Sikap tersebut merupakan sikap eksklusif yang secara prinsip tertutup terhadap ajaran yang lainnya, sehingga siswa tidak perlu menanggapi agama lain di luar Islam. Kemudian siswa merasa khawatir keyakinannnya akan terpengaruhi oleh ajaran lain. Dalam hal ini, sikap siswa pada kelompok ini lebih didasari sikap prefentif, siswa merasa enggan mengenal agama di luar Islam karena mereka khawatir jika mengenal agama di luar Islam akan berpengaruh terhadap keyakinannya, terlebih jika menjalin hubungan dengan penganut agama lainnya akan dicurigai mempengaruhi keyakinannya. Maka sisa pada kelompok kedua ini lebih eksklusif.

Adapun katagori ketiga dari tanggapan siswa, yaitu siswa mengakui kebenaran agama lain di luar Islam, hanya saja kebenaran tersebut bukan artinya siswa mengakui kebenaran secara prinsip, melainkan mengetahui keberagaman agama di tengah masyarakat yang menurut masing-masing penganutnya meyakini agama mereka. Namun secara prinsip peribadi, siswa memandang agama yang lain itu salah dikarenakan secara konseptual, keberagaman di luar Islam bertentangan dennga dengan Islam.

b. Intensitas Mengingat Allah SWT

merasa selalu diawasi. Umumnya siswa beralasan bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan lainnya sehingga siswa merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya. Seorang siswa

menyatakan, “kalau kita berbuat dosa, kita merasa amal ditulis”.108 Di

sini siswa merasa selalu diawasi oleh Allah berdasarkan perasaan bahwa tindakan keburukan siswa dicatat. Maka darinya siswa telah tumbuh perasaan akan kehadiran Allah.Ada pula siswa lain yang merasa diawasi dengan alasan jika tidak diawasi maka tidak akan ketahuan amal baik dan buruk, jika itu terjadi maka manusia akan

berbuat sewenang-wenang109. Pernyataan tersebut merupakan sebuah

keyakinan yang didasari oleh pertimbangan moral dan rasional.

Uraian di atas menggambarkan bahwa keberagamaan remaja yang sudah tumbuh kesadaran akan dosa dan pengawasan tuhan mempengaruhi cara pikir siswa terhadap pertimbangan moral siswa ,

disamlping pertimbangan rasionalnya. Sebagaimana Menurut

Ramayulis, “perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa

berdosa dan usaha untuk mencari proteksi”.110 Maka di sini

menunjukkan bahwa perkembangan pemikiran dan keberagamaan pada siswa tunanetra tidak jauh berbeda dengan siswa atau remaja pada umumnya.

Nilai utama dari beriman kepada Allah adalah seorang muslim bisa menyadari bahwa setiap perbuatan manusia baik dan buruknya akan di minta pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak. Dari hasil wawancara seluruh siswa meyakini dan menyadari hal demikian. Namun yang lebih penting lagi, ketika timbul kesadaran tersebut, manusia bisa sadar dan senantiasa mempersiapkan diri dalam menghadapi hari akhir tersebut, dengan selalu meningkatkan intensitas berbuat baik dan bertaubat atas setiap kesalahan yang telah dilakukan. Diantara sikap menyadari akan pentingnya petaubatan terhadap kesalahan, dalam konteks siswa tunanetra penulis mempertanyakan

108

Hasil Wawancara Dengan Nurul Hakim, Siswa Kelas XII SMA-LB, 109

Hasil Wawancara Dengan Taufiq, Siswa Kelas XII SMA-LB, 110

mengenai pengalaman atau perbuatan buruk siswa terkhusus dalam berbuat dusta.

Dalam hal ini, dari hasil wawancara111, hampir seluruh siswa

mengaku bahwa mereka pernah berdusta baik terhadap orang tua mereka, maupun terhadap teman dan orang lainnnya. Siswapun menyadari kesalahan tersebut, sehingga melakukan istigfar, meminta maaf kepada orang yang didustai, serta berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Di sini terlihat telah tumbuhnya kesadaran akan sebuah kesalahan yang akan diminta pertanggungjawaban kelak. dengan melakukan istigfar, siswa memahami bahwa ada kehadiran Allah yang menyaksikan kesalahan yang dilakukannya, serta meminta maaf kepada orang yang didustai, menunjukan siswa sudah menyadari akan hubungan dengan sesama manusia.

Siswa lain menyatakan ketika berbuat kesalahan berupa berdusta terhadap orang tua, ia memohon ampun terhadap Allah di

dalam shalat wajib dan pernah pula ketika tahajjud.112 Dari uraian

tersebut, menunjukkan siswa bukan hanya sekedar menyadari kesadaran akan kesalahannya, melainkan pula telah tumbuh kesadaran bahwa ibadat sebagai sebuah sarana untuk mencurahkan kesalahan dalam sebuah pertaubatan. Hal demikian menjadi gambaran bahwa siswa mulai memahami terhadap fungsi ritual ibadat.

Seorang siswa mengaku bahwa dirinya tidak pernah berdusta. Ia menuturkan bahwa dirinya bingung akan dosa yang dilakukannya, dan berpendapat bahwa dalam kesalahan kecil tidak perlu bertaubat. Siswa yang tidak melakukan pertaubatan karena tidak begitu tahu akan kesalaan yang dilakukannya serta menganggap bahwa kesalahan kecil tidak perlu bertaubat, menunjukan seorang siswa kurang menyadari akan sebuah kesalahan yang semestinya menjadi bahan pengingat akan pertanggung jawaban di hari akhir, dan sebagai bentuk penebusannya dengan memohon ampunan terhadap Allah. Disini siswa kurang sadar

111

Hasil Wawancara dengan Seluruh Informan Siswa Tunanetra, Pada Tanggal 1-21 april, 2016.

112

dan kurang memahami bahwa sebesar apapun atau sekecil apapun kesalahan, hendaklah memohon ampun kepada Allah dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut.

Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa umumnya siswa pernah berdusta, dan sebagian besar siswa sudah memahami kesalahan yang dilakukannya, meski ada siswa yang belum sepenuhnya sadar, namun siswa sudah memahami kesalahan harus meminta ampun kepada Allah dan tidak mengulangi kesalahan tersebut. Serta siswa sudah memahmi bahwa ibadat sebagai sebuah sarana pertaubatan. Adapun siswa yang belum menyadari kesalahan yang diperbuatnya, serta belum menyadari bahwa ibadah merupakan sbuah sarana dalam pertaubatan, menunjukkan siswa belum menyadari dan memahami akan sebuah kesalahan dan peribadatan sebagai sarana pertaubatan.

Dokumen terkait