BAB III METODOLOGI PENELITIAN
E. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian hendaknya melakukan sebuah usaha untuk memperoleh data yang menjadi bahan kajian dalam suatu penelitian. Tindakan demikian bisa dikatakan sebagai usaha pengumpulan data yang dalam
64
, Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Rosda Karya, 2004), Cet. Ke-20, h. 224.
65
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011), Cet. 13, h. 218-219.
66
pelaksanaannya menggunakan cara yang dalam penyebutannya sering disebut dengan instrument penelitian.
Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam penelitian kualitatif manusia sebagai instrument utama. Dalam penelitian kualitatif yang menjadi insrumen atau alat penggali informasi dalam penelitian adalah peneliti itu
sendiri. Oleh karena itu, peneliti sebagai instrument juga harus “divalidasi”
seberapa jauh seorang peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang
selanjutnya terjun ke lapangan.67
1. Interview atau Wawancara
Wawancara digunakan untuk meperoleh data dari informan yang
dinilai bisa memberikan data relevan. Menurut Lexy J. Moleong,
“Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu
dil oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan
pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban
atas pertanyaan itu.68
Peneliti akan mewawancarai siswa tunanetra sebagai sumber data utama, ditambah lagi guru agama dan guru lainnya serta kepala sekolah yang mungkin akan memberikan informasi yang relevan terkait data yang keberagamaan dan situasi keagamaan siswa tunanetra.
Secara garis besar, ada dua pedoman dalam wawancara yakni wawancara tidak terstruktur dan wawancara terstruktur. Wawancara tidak terstruktur adalah pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Pada jenis ini kreativitas pewawancara amat menentukan bahkan hasil wawancara tergantung pewawancara itu sendiri. Sedangkan wawancara terstruktur adalah pedoman wawancara yang
disusun secara terperinci .69
Wawancara tidak testruktur disebut pula wawancara informal. Pada
67Ibid, h. 222. 68
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Rosda Karya, 2004), Cet. Ke-20h. 186.
69
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2013), Cet. Kelimabelas h. 270.
hal ini wawancara dilakukan dengan biasa tanpa ada rekayasa secara resmi. Pertanyaan yang diajukan bersifat spontan dan mengalir apa
adanya. Menurut Moleong, “jenis wawancara ini pertanyaan yang diajukan
sangat bergantung pada pewawancara itu sendiri, jadi bergantung pada
spontanitasnya dalam mengajukan pertanyaan kepada terwawancara”.70
Adapun wawancara terstruktur disebut pula dengan wawancara baku. Pada wawancara ini pertanyaan bersifat sistematis dan alur pertanyaan yang terencana dengan jelas sejak semula. Menurut Moleong,
“jenis wawancara ini adalah wawancara yang menggunakan seperangkat
pertanyaan baku, urutan pertanyaaan, kata-katanya, dan cara penyajiannya
pun sama untuk setiap responden”.71
Dari kedua teknik wawancara di atas kiranya menjadi pijakan dalam pengambilan data. Namun bagi penulis kedua jenis tersebut dinilai bisa dipakai dalam penelitian ini. Penulis akan menggunakan wawancara yang terstruktur, sekaligus tidak terlalu formal dalam mewawancara. Oleh karenanya penulis mengambil pendapat yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto bahwa pedoman wawancara yang banyak digunakan bentuk
“semi structured”. Dalam hal ini mula-mula interviwer menanyakan
serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu
diperdalam dalam mengorek keterangan lebih lanjut.72
Pertanyaan yang akan diajukan adalah sebagaimana terdapat dalam bab II (dua), dengan menggunakan pendekatan melalui lima dimensi keberagamaan yang dirumuskan oleh C. Y. Glock dan R. Stark serta berbagai hal yang relevan dengan penelitian sebagaimana termuat dalam nilai-nilai ilahiyah atau moral yang bersumber dari keagamaan. Dalam hal ini ada tiga bentuk pertanyaan yaitu terkait hubungannya dengan akidah, kemudian nilai ibadah yang bisa ditanamkan dalam kehidupan, ditanamkan serta muamalah sebagai bentuk sosial keberagamaan. Dengan
70
Moloeng, Op.cit, h. 187. 71Ibid, h. 188.
72
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2013), Cet. Kelimabelas h. 270.
demikian penulis akan menjadikan pertanyaan dalam wawancara akan dibuat lebih terstruktur dan terencana.
Namun penulis menilai pertanyaan yang kaku kurang memberikan informasi yang mendalam. Oleh karenanya, penulis akan menanyakan pertanyaan lain yang sifatnya spontan guna mendapatkan informasi yang jauh lebih mendalam.
2. Observasi
Observasi dalam pembagiannya, dibagi atas dua jenis yaitu
observasi berperan serta (participant observation). Adalah seorang peneliti
terlibat dalam kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau orang yang menjadi sumber data penelitian. Sedangkan observasi non partisipan adalah seorang peneliti tidak terlibat dalam kegiatan informan dan
berperan sebagai pengamat yang independen.73
Dalam hal ini peneliti memilih observasi lebih fleksibel, dalam satu kondisi penulis menggunakan observasi partisipan. Karena peneliti mengamati secara langsung dengan melibatkan diri dalam kegiatan di sekolah. Oleh karena itu, peneliti sembari melakukan kegiatan belajar mengajar, peneliti pun melakukan observasi atau pengamatan terhadap prilaku siswa. Namun di lain kondisi peneliti hanya mengamati dan tidak melibatkan langsung dalam kegiatan siswa tunanetra. Hal demikian bersifat kondisional. Pada intinya peneliti melakukan kegiatan pengamatan untuk memperoleh data yang relevan dengan penelitian.
Adapun dalam instrument-nya observasi memiliki dua jenis yaitu observasi terstruktur dan observasi tidak terstruktur. Observasi terstruktur yaitu observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya. Sedangkan observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis
tentang apa yang akan diobservasi.74
Dalam hal ini, Peneliti menggunakan observasi terstruktur. Yaitu
73
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011), Cet. 13, h. 145.
peneliti memiliki tujuan yang sudah jelas sebelumnya yaitu akan melakukan kegiatan penelitian yang terkait sikap keberagamaan siswa dengan waktu dan tempat ditentukan.
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah usaha mencari data melalui data-data berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, dan lainnya yang
terkait dengan data yang sifatnya tertulis.75
Penulis dalam penelitian ini menggunakan data pendukung lain yaitu berbagai buku yang relevan dengan pengkajian skripsi ini. Melalui buku yang bertemakan keagamaan semisal buku yang ditulis oleh Nurcholis Madjid, Harun Nasution, dan lainnya. Semua buku tersebut turut menjembatani penulis dalam mengkaji serta memperoleh data yang menjadi objek penelitian dalam skripsi ini.
Bukan hanya itu penulis-pun mencari data-data tertulis yang bersumber dari sekolah semisal data mengenai kegiatan sekolah, siswa, dan terkait program keagamaan yang diselenggarakan di sekolah. Semua data tersebut dinilai bisa memberikan dukungan dalam keberhasilan penelitian ini.
Penulis akan melakukan pemotretan dari hasil pengamatan lapangan dan foto kegiatan keagamaan siswa yang di miliki sekolah. semua itu sebagai validitas data penelitian. Bukan hanya itu peneliti pun akan melakukan kegiatan perekaman yang dilakukan ketika kegiatan wawancara. Semua itu sebagai usaha dalam memvalidasi data yang didapatkan dari informan.
4. Catatan Lapangan
Kegiatan penelitian yang dilakukan di lapangan, lazimnya mendapati berbagai situasi yang menjadi data penelitian, baik yang sudah terencana maupun yang spontan. Melalui pengamatan, mendengar, bertanya dan lainnya menjadikan peneliti berusaha untuk mengambil data
75
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2013), Cet. Kelimabelas h. 274.
relevan dari kondisi serta situasi yang kiranya menjadi bahan kajian dalam skripsi ini. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi peneliti berinisiatif untuk melakukan pencatatan yang secara istilah penelitian disebut catatan lapangan.
Catatan lapangan terdiri dari beberapa jenis. Adapun yang peneliti gunakan adalah catatan pengamatan langsung. Yaitu seorang peneliti menulis segera setelah meninggalkan lapangan kemudian setelah itu, catatan harus disusun secara kronologis. Catatan tersebut merupakan suatu deskripsi terperinci tentang apa yang di dengar dan dilihat sebagai sesuatu
yang dinilai kongkret dan khusus.76
Penulis akan menggunakan catatan lapangan sebagai bagian dari sumber data yang akan memberikan informasi pendukung. Maka setelah catatan lapangan dibuat, peneliti akan melibatkannya dengan berbagai data yang kirannya bisa bersesuaian dengan kajian dalam penelitian ini.