• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

A. Kecemasan

2. Aspek- aspek Kecemasan

Aspek kecemasan yang disusun oleh Lovibond dan Lovibond (1995) dianggap sebagai tanda kecemasan, selanjutnya dirinci oleh Crawford (2003) sampai ke indikasinya. Rincian tersebut terurai sebagai berikut:

a. Rangsangan saraf otonom, diindikasikan dengan meningkatnya aktivitas jantung, berkeringat, mulut kering, sulit bernafas dan sulit menelan.

b. Respon otot rangka, diindikasikan dengan kondisi lemah lunglai dan gemetar.

c. Kecemasan situasional, diindikasikan dengan kekhawatiran, kecemasan dan perasaan ‘terbuang’.

d. Perasaan cemas yang subyektif, diindikasikan dengan perasaan panik, perasaan ngeri, perasaan takut dan merasa akan pingsan

Snaith (1976) dalam skala kecemasan Leeds Scales for the Self-Assessment of Anxiety mengindikasikan kecemasan dengan keadaan panik, kurang istirahat, ketakutan terhadap tempat luas/ umum, mudah terkejut, jantung berdebar-debar, ketakutan yang berlebihan dan tekanan psikis. Jika dihubungkan dengan aspek kecemasan menurut Lovibond maka indikasi yang dikemukakan oleh Snaith dapat diurai sebagai berikut:

a. indikasi jantung berdebar-debar masuk dalam aspek rangsangan saraf otonom.

b. indikasi kurang istirahat, ketakutan terhadap tempat luas/ umum dan tekanan psikis dapat digolongkan ke dalam aspek kecemasan situasional. c. indikasi kecemasan seperti mudah terkejut, ketakutan yang berlebihan dan

tekanan psikis dapat digolongkan ke dalam aspek perasaan cemas yang subjektif.

Jika dibandingkan dengan aspek kecemasan menurut Lovibond, indikasi kecemasan dari Snaith belum mencakup aspek respon otot rangka, dengan kata lain aspek kecemasan Snaith kurang lengkap dan kurang rinci dibanding dengan aspek kecemasan Lovibond.

Dalam penelitian survey yang dilakukan oleh Frazier dkk (2002) yang ditujukan pada anggota American Association of Critical Care Nurses

dipaparkan adanya empat aspek utama indikasi kecemasan, yaitu:

a. Aspek Fisiologis, diindikasikan dengan meningkatnya tekanan darah dan denyut jantung.

b. Aspek Behavioral, diindikasikan dengan agitation, keluhan ‘cemas’ dan kurang istirahat.

c. Aspek Somatis, diindikasikan dengan sakit dada, nafas pendek dan sulit menelan.

d. Aspek Psikologis, diindikasikan dengan rasa takut dan marah

Jika keempat aspek di atas dihubungkan dengan aspek kecemasan menurut Lovibond terdapat beberapa kesamaan yaitu aspek rangsangan saraf otonom milik Lovibond dan Lovibond mencakup aspek fisiologis dan somatis milik Frazier; sedangkan aspek kecemasan situasional milik Lovibond sesuai dengan aspek behavioral milik Frazier; dan aspek perasaan cemas yang subjektif milik Lovibond sesuai dengan aspek psikologis milik Frazier. Dari perbandingan tersebut maka tampak bahwa aspek respon otot rangka milik Lovibond tidak muncul dalam aspek kecemasan yang disusun oleh Frazier.

Schwartz (1978) dalam skala kecemasan Cognitive Somatic Anxiety Questionnaire menggolongkan aspek kecemasan dari segi kognitif dan somatik. Aspek kognitif ditunjukkan dengan kondisi psikis seseorang, sedangkan aspek somatik ditunjukkan dengan kondisi fisik. Jika dibandingkan dengan aspek kecemasan milik Lovibond perbedaan yang terlihat adalah,

Schwartz menggolongkan aspek kecemasan secara lebih umum dan Lovibond menggolongkan aspek kecemasan secara lebih khusus, karena aspek kognitif milik Schwartz mencakup aspek kecemasan situasional dan perasaan cemas yang subyektif milik Lovibond, sedangkan aspek somatik mencakup aspek rangsangan saraf otonom dan respon otot rangka milik Lovibond.

Menurut Bucklew (dalam Sri Rahayu 2005), secara garis besar kecemasan termanifestasi di dalam dua tema besar yaitu reaksi psikologis dan reaksi fisiologis. Reaksi psikologis adalah kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan dan reaksi fisiologis adalah kecemasan yang berwujud sebagai gejala fisik. Keempat aspek kecemasan yang disusun oleh Lovibond dan Lovibond sudah termasuk dalam dua tema besar manifestasi dari kecemasan, dimana aspek saraf otonom dan respon otot rangka tergolong dalam reaksi fisiologis, sedangkan aspek kecemasan situasional dan perasaan cemas yang subyektif tergolong dalam reaksi psikologis.

Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat bahwa aspek kecemasan menurut Lovibond dan Lovibond sudah mewakili aspek kecemasan menurut Snaith, lebih lengkap daripada aspek kecemasan menurut Frazier, dan lebih rinci dibanding aspek kecemasan menurut Schwartz dan Bucklew. Berdasarkan hal tersebut aspek kecemasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah aspek kecemasan yang disusun oleh Lovibond dan Lovibond, yang terdiri atas rangsangan saraf otonom, respon otot rangka, kecemasan situasional dan perasaan cemas yang subyektif.

3. Jenis-jenis Kecemasan

Menurut Freud Kecemasan berdasarkan sumbernya dibagi menjadi tiga (dalam Shinta 2006), yaitu:

a. Kecemasan Neurotik

Ketakutan terhadap suatu bahaya yang tidak jelas, berasal dari tidak terkendalinya naluri-naluriyang menyebabkan seseorang melakukan tindakan bisa mendatangkan hukuman bagi dirinya. Kecemasan ini merupakan akibat konflik antara id dengan ego.

b. Kecemasan Realistik

Perasaan yang tidak menyenangkan dan tidak spesifik yang menyangkut tentang bahaya yang ada, kecemasan ini juga dikenal dengan kecemasan obyektif karena taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman atau bahaya yang ada.

c. Kecemasan Moral

Kecemasan yang terjadi akibat adanya konflik antara ego dan superego sehingga terjadi ketakutan terhadap hati nurani sendiri.seseorang yang hati nuraninya berkembang baik, cenderung merasa berdosa apabila melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kode moral yang dimilikinya.

Berbeda dengan Freud, Lazarus (dalam Dionisius 2003), membagi kecemasan sebagai suatu respon kedalam dua tema besar yaitu:

a. State Anxiety (Keadaan Cemas)

Kecemasan yang timbul jika individu dihadapkan pada situasi tertentu dan gejalanya selalu tetap selama situasi itu ada.

b. Trait Anxiety (Sifat Cemas)

Kecemasan yang timbul sebagai suatu yang menetap pada diri individu. Kecemasan ini berhubungan dengan kepribadian individu yang mengalaminya.

Berdasarkan penjabaran diatas maka dalam yang dimaksud kecemasan dalam penelitian ini State Anxiety yaitu keadaan cemas pada penderita hipertensi.

4. Alat Ukur Kecemasan

a. Depression Anxiety Stress Scale (DASS)

DASS disusun oleh Lovibond & Lovibond pada tahun 1995. DASS adalah alat ukur depresi, kecemasan dan stres dengan model self report

yang terdiri dari tiga sub bagian, yaitu DASS-Depression (DASS-D), DASS-Anxiety (DASS-A) dan DASS-Stress (DASS-S). Setiap sub bagian pada DASS terdiri dari 14 item pernyataan (item total berjumlah 42). Respon dari tiap item dalam DASS menggunakan skala Likert dari 0, 1, 2, hingga 3 (Nieuwenhuijsen 2003). Norma DASS terdiri dari lima golongan, yaitu 0-78 normal; 78-87 ringan; 87-95 sedang; 95-98 berat; 98-100 sangat berat (Crawford 2003).

Dalam penelitian Lovibond & Lovibond (1995) DASS diberikan pada 717 responden (pelajar). Dalam penelitian ini, DASS dikorelasikan dengan Beck Anxiety Inventory (BAI) dan Beck Depression Inventory (BDI), hasilnya adalah korelasi DASS-A dan BAI adalah 0,81, sedangkan DASS-D dan BDI adalah 0,74. Selebihnya penelitian Antony dkk (1998) menemukan hasil yang sama pada sampel klinis (Crawford 2003). Selanjutnya dalam penelitian Crawford (2003) yang diterapkan pada 1.771 (965 wanita dan 806 laki-laki) sampel non klinis ditemukan adanya korelasi antara DASS-A dan

The Personal Disturbance Scale-sub Anxiety (sAD-A) adalah 0,72 dan korelasi antara DASS-A dan The Hospital Anxiety and Depression Scale- sub Anxiety (HADS-A) sebesar 0.62 (p<0.001), hasil korelasi antara DASS-A dan HDASS-ADS-DASS-A ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Nieuwenhuijsen (2003) yaitu r = 0.66. Selanjutnya dalam penelitian Crawford (2003), korelasi antara DASS-A dan Positive and Negative Affect Schedule sebesar -0.29 untuk sub skala positive affect (PANAS-PA) dan 0.60 untuk sub skala negative affect (PANAS-NA).

Dalam penelitian Lovibond & Lovibond pada sampel non klinis (N= 2.914) ditemukan bahwa reliabilitas DASS dengan menggunakan Alpha Cronbach adalah 0.91 untuk sub skala depresi; 0.84 untuk sub skala kecemasan dan; 0.90 untuk sub skala stres (Crawford 2003). Selebihnya, pada penelitian Crawford (2003) dihasilkan konsistensi internal (reliabilitas) DASS dengan Alpha Cronbach adalah 0.897 pada sub skala kecemasan; 0.947 pada sub skala depresi dan; 0.933 pada sub skala stres. Dalam

penelitan yang dilakukan oleh Nieuwenhuijsen (2003) didapatkan perhitungan statistik khususnya reliabilitas pada tiap sub skala depresi, kecemasan dan stres secara berurutan adalah 0.94; 0.88; 0.93. Dengan demikian baik DASS-D, DASS-A, maupun DASS-S dapat dikatakan valid dan reliabel.

b. Cognitive Somatic Anxiety Questionnaire (CSAQ)

Skala kecemasan CASQ disusun oleh Schwartz dkk. pada tahun 1978 dengan memandang kecemasan dari segi psikobiologikal. Skala ini diujicobakan pada 77 pekerja. Dalam penelitiannya, mereka mengimplementasikan latihan fisik dan meditasi untuk menurunkan gejala somatik dan kognitif pada kecemasan. CASQ terdiri dari 14 item (7 item kognitif dan 7 item somatik). Skala respon tiap item terdiri dari 5 anchor (1- tidak sama sekali hingga 5- sangat tepat).

Korelasi antara CSAQ dengan STAI (Spielberg State-Trait Inventory) adalah 0.67.sedangkan korelasi antara sub skala somatik dan sub skala kognitif sendiri adalah 0,42.

Contoh item pernyataan CSAQ: Kognitif:

“ Saya merasa susah berkonsentrasi karena pikiran tidak terkontrol ”

“ Saya Khawatir secara berlebihan terhadap sesuatu yang tidak perlu dicemaskan”

Somatik

“ Jantung saya berdetak lebih cepat “ ” Saya merasa tubuh saya gelisah “ “ Saya mengalami diare “

c. Leeds Scales for the Self-Assessment of Anxiety and Depression (Leeds SAAD)

Leeds SAAD diciptakan oleh Snaith dkk, pada tahun 1976. Leeds SAAD merupakan skala improvisasi (ubahan) dari Wakefield Self Assessment of Depression Inventory, yang juga diciptakan oleh Snaith pada tahun 1971, dengan menambah beberapa item. Leeds SAAD terdiri dari 22 item, dengan item no 21 dan 22 diambil dari Anxiety Scale of the Symptom Rating Test yang disusun oleh Kellner dan Shefield pada tahun 1973. Respon dari tiap item terdiri dari 4 anchor (0- tidak sama sekali; 1- tidak begitu; 2- kadang-kadang; 3- pasti) (Snaith 1976)

Korelasi antara Leeds SAAD- sub skala depresi dengan Hamilton Depression Rating Scale sebesar 0.94, sedangkan korelasi antara Leeds SAAD- sub skala kecemasan dengan Hamilton Anxiety Rating Scale sebesar 0.90.

Contoh item Leeds SAAD sub skala kecemasan:

“ Saya merasa sangat ketakutan/ panik terhadap sesuatu yang tidak beralasan “

“ Saya merasa cemas ketika keluar rumah sendiri “ “ Saya merasa ketakutan “

“ Saya merasa tegang “

d. Hospital Anxiety Depression Scale (HADS)

HADS diciptakan oleh Zigmond & Snaith pada tahun 1983. Skala ini digunakan untuk mengetahui tingkat depresi dan kecemasan dalam lingkungan non-psikiatris klinis.HADS terdiri dari 14 item (7 item depresi dan 7 item kecemasan). Dalam skal ini responden diminta untuk mendeskripsikan dirinya dengan memilih jawaban yang paling mendekati sesuai keadaan mereka dalam 1 minggu terakhir (Crawford 2003 dan Nieuwenhuijsen 2003).

Contoh item pernyataan HADS-A:

“ Saya merasa tidak bisa beristirahat seakan harus bergerak “ “ Saya cepat merasa panik “

“ Saya merasa tertekan “

e. Personal Disturbance Scale (sAD)

Skala ini diambil dari Delusions-Symptoms States Invent (DSSI) yang diciptakan Bedford dan Foulds (1978). Skala ini terdiri dari 14 item (7 item kecemasan dan 7 item depresi) (Crawford 2003).

f. Positive and Negative Affect Schedule (PANAS)

PANAS diciptakan oleh Watson dkk. pada tahun 1988. Skala dengan model self report ini berisi mengenai perasaan positif dan negatif dengan jumlah item sebanyak 20 (Crawford 2003)

g. Beck Anxiety Inventory (BAI)

BAI dibentuk oleh Aaron T. Beck. Skala ini terdiri dari 21 item kecemasan, tiap item memiliki respon dengan skala 4 poin (dari 0 sampai 3). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Contreras dkk (2004) dihasilkan bahwa reliabilitas BAI sebesar 0,82.

h. Spielberg State Trait Anxiety Inventory (STAI)

STAI diciptakan oleh Charles D. Spielberg. Skala ini terdiri dari 40 item total (20 sifat cemas dan 20 keadaan cemas). Seluruh respon tiap item terdiri dari 4 skala likert, yaitu untuk sifat cemas (Trait Anxiety) terdiri dari 1- hampir tidak pernah, 2- kadang-kadang, 3- sering dan 4- selalu sedangkan untuk keadaan cemas (State Anxiety) adalah 1- tidak sama sekali, 2- agak, 3- cenderung begitu, dan 4- sangat tepat

i. Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS atau HAS atau HAM-A)

HARS disusun oleh Max Hamilton pada tahun 1959. Skala ini terdiri dari 14 item, tiap item memiliki respon dengan skala 5 poin (0-4) (Lipsig,

www.atlantapsychiatri.com 2008)

Berdasarkan uraian berbagai macam alat ukur kecemasan, peneliti memutuskan untuk menggunakan dan mengadaptasi DASS sub skala

anxiety (kecemasan) sebagai alat ukur tingkat kecemasan penderita hipertensi. Selain karena DASS mengandung aspek kecemasan dari Lovibond, juga merupakan alat ukur kecemasan yang paling baru dengan korelasi dan reliabilitas skala yang tinggi. Selebihnya menurut Nieuwenhuijsen (2003) skala ini dapat digunakan dalam sampel klinis

maupun non-klinis, bahkan tepat untuk digunakan dalam penanganan kesehatan. Sebagai alat ukur kecemasan, depresi dan stres, DASS memiliki tingkat pembeda yang cukup tinggi karena sudah memisahkan ketiga faktor tersebut dalam indikator-indikator yang jelas (tidak ambigu).

B. Hipertensi

Dokumen terkait