BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Pembahasan
3. Dari Aspek Keuangan
Pengembangan alat PACS membutuhkan investasi sebesar Rp.
3.089.800.000,-. Pengembangan alat tersebut direncanakan menggunakan
100% anggaran Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari pemerintah
Republik Indonesia dan sudah masuk dalam e planning tahun 2017.
a. Nilai aset dari investasi keseluruhan untuk pengembangan alat PACS
sebesar Rp. 3.089.800.000,00.
Tabel 4.11 menunjukkan bahwa tarif Rp. 120.000,00 serta utilisasi
sesuai perkiraan permintaan yaitu 25.078 pemeriksaan dengan asumsi
tiap tahun naik 5%, diperkirakan aliran kas masuk selama tahun 2017
sampai dengan tahun 2021 sebesar Rp. 16.628.613.659,00, aliran kas
keluar sebesar Rp. 10.661.848.645,00, sehingga aliran kas bersih
b. Berdasarkan perhitungan / analisa Payback Period yang telah
dilakukan:
1) Pada tabel 4.11, terlihat bahwa tarif Rp. 120.000,00 (JP 40 %)
dengan asumsi 25.078 jumlah pemeriksaan, investasi / modal akan
kembali dalam jangka waktu 2 tahun 243,2 hari.
2) Pada tabel 4.12 menunjukkan bahwa tarif Rp. 120.000,00 (JP 40 %)
dengan asumsi 12.539 jumlah pemeriksaan, sampai dengan tahun ke
lima (5) investasi / modal belum dapat kembali.
c. Dalam perhitungan NPV diperlukan discount factor berdasarkan suku
bunga bank yang berlaku saat itu. Suku bunga Bank Indonesia / BI rate
yang berlaku pada semester 1 tahun 2016 adalah 6,5 %, sehingga discount factor yang digunakan adalah 6,5 %. Berdasarkan perhitungan di atas pada tabel 4.13, dengan asumsi jumlah pemeriksaan 25.078
pasien, didapatkan nilai Rp. 1.855.516.083,84. NPV bernilai positif dan
nilainya > 0, maka rencana pengembangan investasi yang akan
dilakukan layak untuk dilakukan.
d. Berdasarkan perhitungan diatas pada tabel 4.14, nilai IRR yang
diperoleh adalah sebesar 26 % , lebih besar dari suku bunga Bank
A. Kesimpulan
1. Kelayakan aspek teknis
Rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro telah mempertimbangkan dari sub
aspek pemilihan jenis alat, lokasi, dan tenaga, yang semuanya telah
memenuhi. Dengan demikian ditinjau dari aspek teknis pengadaan alat
PACS layak diadakan oleh rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro.
2. Kelayakan aspek pasar
a. Rumah sakit yang ada di ketiga provinsi tersebut diatas yaitu Sumatera
Barat, Kepulauan Riau dan Bengkulu potensial menjadi rumah sakit yang
diampu oleh rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro.
b. Rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro telah mengantisipasi bahwa kecil
kemungkinan timbulnya persaingan karena dari beberapa rumah sakit di
Indonesia yang sudah menerapkan teleradiologi, hanya 4 rumah sakit
yang menggunakan alat PACS dan penggunaannya masih sebatas lokal.
c. Perhitungan tarif yang diperoleh akan mampu bersaing dengan rumah
sakit pesaing.
Dengan demikian ditinjau dari aspek pasar pengadaan alat PACS layak
diadakan oleh rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro.
3. Kelayakan aspek keuangan
telah dilakukan, didapatkan hasil perhitungan Payback Period akan lebih
cepat dari masa manfaat / nilai ekonomis alat, maka investasi alat PACS
layak dan dapat dikembangkan.
b. Berdasarkan perhitungan di atas, NPV nya bernilai positif dan nilainya
> 0, maka rencana pengembangan investasi alat PACS layak untuk
dilakukan.
c. Berdasarkan perhitungan diatas, nilai IRR yang diperoleh adalah sebesar
26 %, lebih besar dari suku bunga Bank Indonesia yang berlaku sebesar
6,5 % maka rencana pengembangan investasi alat PACS layak untuk
dilakukan.
Dengan demikian ditinjau dari aspek keuangan pengadaan alat PACS layak
diadakan oleh rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro.
B. Saran
1. Perlu upaya promosi yang intensif untuk dapat menjalin kerjasama dengan
minimal 2 rumah sakit yang diampu, dengan target jumlah pemeriksaan
minimal sebesar 25.078 pasien pada tahun pertama dan kenaikannya 5 %
tiap tahun agar investasi / modal bisa kembali dalam masa manfaat /
ekonomis alat selama maksimal 5 tahun.
2. Untuk menuju rumah sakit klas A sesuai Rencana Strategis Bisnis rumah
sakit dr Soeradji Tirtonegoro 2015 – 2019 pada tahun 2019, dimana salah satu program layanan unggulannya adalah teleradiologi, perlu menambah 2
orang dokter spesialis radiologi dan 11 orang radiografer sehingga aspek
3. Rumah sakit perlu mengantisipasi kemungkinan terjadinya hambatan dalam
jaringan internet.
4. Rumah sakit perlu segera mendorong pemerintah untuk menerbitkan
regulasi yang mengatur pelayanan teleradiologi di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Aditiya, 2014, ‘Analisis investasi pembangunan bangsal kelas 3 di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit 2’, Tesis Magister Manajemen Rumah Sakit UMY, Yogyakarta.
Asali, A, 2011, ‘Teleradiologi : layanan medis elektronik jarak jauh’, Artikel Info Sehat, 25 November 2011.
Budyatmoko, Bambang, 2011, Standar pelayanan radiologi, PDSRI, Jakarta.
Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan, 2015, Pedoman Pengelolaan Peralatan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Jakarta.
Dewi, SL, 2013, ‘Kebijakan untuk daerah dengan jumlah tenaga kesehatan rendah’, Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, volume 02, nomor 1. Fahrudin dan Samopa, 2014, ‘Perencanaan strategis sistem informasi / teknologi
informasi pada rumah sakit X di Surabaya’, Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XX, 1 Februari 2014, Program Studi MMT-ITS, Surabaya.
Hariri,A, 2015, ‘HIS, RIS, PACS dan teleradiologi’, Portal Radiografi, 5 Agustus 2015.
Harlan, Johan, 2012, ‘Teleradiologi di Indonesia Belum Berkembang’, Kebijakan Kesehatan Indonesia, 24 Oktober 2012.
Hidayati, Nur, 2004, ‘Evaluasi kelayakan investasi alat medis bone densitometer rumah sakit daerah Panembahan Senopati Bantul’, Tesis Magister Manajemen Rumah Sakit UGM, Yogyakarta.
Husnan S & Muhammad S, 2010, Studi kelayakan proyek. UPP AMP YKPN, Yogyakarta.
Indartono K, 2013, ‘Sistim telemedika berbasis ICT untuk manajemen fasilitas Unit Gawat Darurat’, Jurnal Teknik Elektro, volume 5, nomor 1.
Irawan, 2011, ‘Evaluasi Contracting Out dan Keputusan Investasi Peralatan Foto Rontgen di RSU PKU Muhammadiyah Delanggu’, Tesis Magister Manajemen Rumah Sakit UGM, Yogyakarta.
Kasmir & Jakfar, 2007, Studi kelayakan bisnis, edisi 2, Jakarta, Kencana Pranada Media Group.
Kementerian Kesehatan RI, 2012, Pedoman penyusunan studi kelayakan (Feasibility Study) rumah sakit, Jakarta.
Keputusan Menteri Keuangan RI nomor 59 tahun 2013, Tabel masa manfaat dalam rangka penyusutan barang milik negara berupa aset tetap pada entitas pemerintah pusat, Jakarta.
Lalita, I.K, 2007, ‘Evaluasi investasi laparascopy surgery ( minimal invasive surgery) di RS Bethesda’, Tesis Magister Manajemen UGM, Yogyakarta. Lestari, D, 2011, ‘Evaluasi pengembangan instalasi gizi di rumah sakit umum
PKU Muhammadiyah Nanggulan’, Tesis Magister Manajemen Rumah Sakit UMY, Yogyakarta.
Luthfi, 2014, ‘Telemedicine, Layanan Medis Jarak Jauh’, Teknopreneur.com, Jakarta.
Masa M, 2014, ‘Strategi pengembangan implementasi telemedicine di Sulawesi Selatan’, Jurnal Telekomunikasi dan Komputer, volume 5, nomor 3. Nursalam, 2003, Pedoman skripsi tesis dan instrumen penelitian keperawatan,
Salemba Medika, Jakarta.
Peraturan Pemerintah RI nomor 23 tahun 2005, Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 780 tahun 2008, Penyelenggaraan pelayanan radiologi, Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 1014 tahun 2008, Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik, Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 56 tahun 2014, Klasifikasi dan perijinan rumah sakit, Jakarta.
Puspitasari, 2015, ‘Studi kelayakan pengembangan poliklinik dan RS bersalin Rejosari Husada Delanggu menjadi RSU ditinjau dari analisis keuangan dan investasi’, Tesis Magister Manajemen Rumah Sakit UGM, Yogyakarta.
Rangkuti, F, 2009, Analisis SWOT teknik membedah kasus bisnis, Cetakan Keenambelas, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Rangkuti, F, 2010, Business plan, Cetakan Ketiga, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Rangkuti, F, 2014. Analisis SWOT : Teknik Membedah Kasus Bisnis Cara Perhitungan Bobot, Rating dan OCAI. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Riyanto, B, 2013, Dasar – dasar pembelanjaan perusahaan, edisi 4, BPFE Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sugiarto, 2008, ‘Sistem teleradiologi’, Jurnal Info radiologi, dari posradiografer. blogspot.com/2008/03/sistem-teleradiografi.html.
Sutojo, S, 1993, Studi Kelayakan Proyek, Teori dan Praktek, Midas Surya Grafindo, Jakarta.
Sri Muryani, 1995, ‘Studi Kelayakan Pengadaan Peralatan Medis pada Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta (Pengadaan Peralatan MRI sebagai bahan kajian)’, Tesis Magister Manajemen UGM, Yogyakarta.
Suliyanto, 2010, Teknik proyeksi bisnis, Andi Publisher, Yogyakarta.
Sunariyah, 2010, Pengantar pengetahuan pasar modal, edisi 6, UPP STIM YKPN, Jakarta.
Suratman, 2001, Studi kelayakan proyek, Jogjakarta.
Trisnantoro, 2004, Memahami penggunaan ilmu ekonomi dalam manajemen rumah sakit, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009, Rumah sakit, Jakarta.
Wotulo, Deki, 2009, ‘Analisis kelayakan investasi alat foto rontgen panoramik di RSUD Undata Palu Propinsi Sulawesi Tengah’, Tesis Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat UGM, Yogyakarta.
Yin, R.K. (2012) Studi kasus, desain dan metode, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Zelman, W.N, Mc.Cue, M.J, Milikan, A.R. (2000), Financial management of health care organizations: an introduction to fundamental tools, concepts and applications. Malden MA: Blackwell Publishers Inc.