BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Lampiran 4 Dasar Perhitungan Payback Period
Dasar perhitungan Payback Period dengan asumsi jumlah pemeriksaan tahun pertama 25.078 pasien, dan kenaikan 5 % tiap tahun selama 5 tahun. Biaya yang dikeluarkan terdiri atas : biaya operasional, biaya administrasi dan umum serta biaya lain.
ASUMSI (TOTAL PEMERIKSAAN) : PACS Hardware dan software (cloud)
1 Harga alat : 3.089.800.000
2 Tarif tiap tahun tetap : TOTAL JS JP
: 120.000 72.000 48.000
3 Utilitas / tahun : 25.078 kali pemeriksaan per tahun
4 Masa manfaat : 5 tahun
5 Biaya investasi (biaya penyusutan) dibebankan selama masa manfaat dan jumlah pemeriksaan : 25.078 kali
: 138.571 kali
: 3.089.800.000 = 22.298
6 Jasa sarana : 24147,02451
BHP DAN BIAYA TIDAK LANGSUNG PER PASIEN UNTUK PEMERIKSAAN PACS:
a. : 42.000.000 per tahun 1.675
b. Biaya penyusutan ALAT : ... x 22.298
h. Pemakaian listrik : 4.380.000 x 175
JUMLAH BIAYA PER PASIEN 24.147
7 Biaya pemeliharaan 5%
8 Biaya pemeliharaan tahun berikutnya naik 5% dari tahun kedua - Jumlah pemeriksaan selama 5 tahun
- Biaya penyusutan per pemeriksaaan
Biaya Internet
TARIF Rp 120.000
JUMLAH PEMERIKSAAN TAHUN PERTAMA 25.078 -
JUMLAH PEMERIKSAAN TAHUN KE 2 26.332
JUMLAH PEMERIKSAAN TAHUN KE 3 27.648
JUMLAH PEMERIKSAAN TAHUN KE 4 29.031
JUMLAH PEMERIKSAAN TAHUN KE 5 30.482
Jasa Pelayanan Jasa sarana JS + JP 48.000 Rp 24.147 72.147 1 Sharing Pendapatan 3.009.360.000 1.203.744.000 605.559.081 1.809.303.081 1.200.056.919 2 Sharing Pendapatan 3.159.828.000 1.263.931.200 635.837.035 1.899.768.235 1.260.059.765 3 Sharing Pendapatan 3.317.819.400 1.327.127.760 667.628.887 1.994.756.647 1.323.062.753 4 Sharing Pendapatan 3.483.710.370 1.393.484.148 701.010.331 2.094.494.479 1.389.215.891 5 Sharing Pendapatan 3.657.895.889 1.463.158.355 736.060.847 2.199.219.203 1.458.676.686 16.628.613.659 6.651.445.463 3.346.096.180 9.997.541.644 6.631.072.015
Kas Masuk (Pendapatan) = (tarif x jml pemeriksaan)
Kas Keluar
Uraian
Tahun Kas Bersih (tanpa
STUDI KELAYAKAN PENGADAAN ALAT
PICTURE ARCHIVING AND COMMUNICATION SYSTEM ( PACS) DI RSUP Dr. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN
NASKAH PUBLIKASI
Oleh :
RETNO DYAH PARWITASARI 20141030101
PROGRAM STUDI MANAJEMEN RUMAH SAKIT PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2016
STUDI KELAYAKAN PENGADAAN ALAT
PICTURE ARCHIVING AND COMMUNICATION SYSTEM ( PACS) DI RSUP Dr. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN
NASKAH PUBLIKASI
Diajukan Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 2
Program Studi Manajemen Rumah Sakit
Oleh :
RETNO DYAH PARWITASARI 20141030101
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2016
iii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya yang
bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Retno Dyah Parwitasari
NIM : 20141030101
Program Studi : Magister Manajemen Rumah Sakit
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-
exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Studi Kelayakan Pengadaan Alat Picture Archiving and Communication System
(PACS) di Rumah Sakit dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Universitas Muhammadiyah Yogyakarta berhak menyimpan,
mengalihmedia / formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),
merawat , dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan
nama saya (dengan atau tanpa nama Pembimbing Tesis) sebagai penulis / pencipta
dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Yogyakarta
Pada tanggal : 1 September 2016
Yang menyatakan
iv
FEASIBILITY STUDY
FOR EQUIPMENT PROCUREMENT OF
PICTURE ARCHIVING AND COMMUNICATION SYSTEM (PACS) IN SOERADJI TIRTONEGORO HOSPITAL KLATEN
Retno Dyah Parwitasari, Arlina Dewi
1. Program Magister Manajemen Rumah Sakit, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Email : [email protected]
2. Dosen Program Studi Manajemen Rumah Sakit Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
ABSTRACT
Background: Teleradiology development is a step in the Ministry of Health to overcome barriers to access to health services and is expected to be one of the solutions to improve the quality of health services in Indonesia. Dr. Soeradji Tirtonegoro as one of the vertical hospitals in the ranks of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, launched into hospital teleradiology service providers as one of the superior services in 2017. To achieve these objectives need to procurement Picture Archiving and Communication System (PACS) because without PACS teleradiology reliability can not be achieved. Goal: This study aimed to analyze the appropriateness of the technical, markets and financial aspects for the planned procurement of Picture Archiving and Communication System (PACS) in the General Hospital dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.
Method: This research is descriptive case studies, secondary data which has been collected processed with quantitative analysis.
Result: PACS appliance investment decisions in terms of the technical aspects and the market has has been fulfilled. From the aspect of finance, investment appraisal results using PP is 2 years 251.4 days, less than a specified useful life of 5 years means the investment is worth it. The results of the NPV method is Rp.1.875.508.315,25, greater than 0 means the investment is worth it. The results of the method IRR is 27%, greater than the specified rate of return of 6.5%, meaning that the investment is worth it.
Conclusion: Investment projects PACS instrument in the dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten feasible from a technical aspect, markets and financial.
Keyword: Feasibility Study, PP, NPV dan IRR Methods, PACS.
v
STUDI KELAYAKAN PENGADAAN ALAT
PICTURE ARCHIVING AND COMMUNICATION SYSTEM ( PACS) DI RSUP Dr. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN
Retno Dyah Parwitasari, Arlina Dewi
INTISARI
Latar belakang: Pengembangan teleradiologi merupakan langkah terobosan Kementerian Kesehatan RI mengatasi hambatan akses pelayanan kesehatan dan diharapkan menjadi salah satu solusi peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro sebagai salah satu rumah sakit vertikal di jajaran Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, mencanangkan menjadi rumah sakit pemberi pelayanan teleradiologi sebagai salah satu layanan unggulan pada tahun 2017. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu pengadaan alat Picture Archiving and Communication System (PACS) karena tanpa ada PACS yang baik kehandalan teleradiologi tidak akan dapat tercapai. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis layak tidaknya dari aspek teknis, pasar dan keuangan terhadap rencana pengadaan alat Picture Archiving and Communication System (PACS) di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.
Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian studi kasus deskriptif, data sekunder yang telah terkumpul diolah dengan analisis kuantitatif.
Hasil: Keputusan investasi alat PACS ditinjau dari aspek teknis dan pasar telah memenuhi. Dari aspek keuangan, hasil penilaian investasi menggunakan metode PP adalah 2 tahun 239,4 hari, kurang dari masa manfaat yang ditentukan, yaitu 5 tahun artinya investasi layak. Hasil metode NPV adalah Rp.1.875.508.315,25, artinya investasi layak. Hasil metode IRR adalah 27 %, lebih besar dari rate of return yang ditentukan yaitu 6,5 %, artinya investasi layak.
Kesimpulan: Proyek investasi alat PACS di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten layak dari aspek teknis, pasar dan keuangan.
PENDAHULUAN
Sasaran pokok Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 sesuai Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI salah satunya adalah terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan vaksin. Mengutip data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sampai 20 Maret 2014, terdapat 95.976 dokter yang teregistrasi dan bekerja pada sektor kesehatan di Indonesia baik di jajaran Pemerintah maupun swasta, dengan demikian rasio jumlah dokter terhadap penduduk di Indonesia yang saat ini berjumlah 243,6 juta jiwa adalah 1 dokter untuk 2.538 penduduk. Rasio ini lebih tinggi dari rasio dokter ideal menurut WHO, yaitu 1 dokter untuk 2.500 penduduk. Ketidakmerataan distribusi tenaga kesehatan (khususnya, namun tidak terbatas pada dokter dan dokter spesialis) di Indonesia merupakan salah satu hambatan dalam upaya peningkatan akses terhadap layanan kesehatan. Tenaga kesehatan menumpuk di daerah urban sementara Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) mengalami kekurangan tenaga (Dewi S.L, 2013).
Pada saat ini ketersediaan tenaga pelayanan radiologi masih belum merata di fasilitas pelayanan kesehatan sekunder khususnya rumah sakit kelas C dan D terutama di daerah perbatasan, terpencil dan kepulauan (DTPK). Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) online Kementerian Kesehatan R.I pada tanggal 1 Januari 2014, terdapat 2.228 rumah sakit baik pemerintah maupun swasta di Indonesia dan hanya tersedia 1.911 rumah sakit yang telah memiliki Dokter Spesialis Radiologi. Dari angka tersebut, sebesar 69,5% Dokter Spesialis Radiologi berada di Pulau Jawa dan jumlah terendah berada di Provinsi Sumatra Barat, Kepulauan Riau dan Bengkulu.
Berkaitan dengan ketidakmerataan tenaga kesehatan dan oleh karena kemajuan teknologi informasi saat ini telah berkembang sangat pesat, maka pemanfaatan perangkat elektronik bidang kesehatan memberikan alternatif dalam meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Salah satu alternatif adalah dengan mengembangkan teknologi teleradiologi.
Standar akreditasi Komite Akreditasi Rumah Sakit versi 2012 Asesmen Pasien 6.4, menetapkan jangka waktu pelaporan hasil pemeriksaan radiologi dan diagnostik imaging untuk pemeriksaan cito / kritis, akhir minggu dan diluar jam kerja di rumah sakit. Sesuai standar pelayanan minimal, khusus pemeriksaan cito / kritis harus sudah dilakukan ekspertise oleh dokter spesialis radiologi dalam jangka waktu maksimal 1 jam.
Teleradiologi dapat memberikan manfaat dalam peningkatan ketepatan dan kecepatan rujukan diagnosis medis serta konsultasi citra radiografi antar fasilitas pelayanan kesehatan jarak jauh. Pengembangan teleradiologi dilaksanakan dalam rangka memenuhi pelayanan rujukan ekspertis gambar radiografi yang berkualitas terutama bagi fasilitas kesehatan yang belum memiliki Dokter Spesialis Radiologi.
RSUP dr Soeradji Tirtonegoro mulai berdiri sejak tahun 1927 dan sesuai Rencana Strategis Bisnis tahun 2015 - 2019 mencanangkan menjadi rumah sakit umum kelas A pada tahun 2019. Sejalan dengan itu RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro sebagai salah satu rumah sakit vertikal di jajaran Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, mencoba mensukseskan program Kementrian Kesehatan dengan menjadi rumah sakit pemberi pelayanan teleradiologi sebagai salah satu layanan unggulan pada tahun 2017. Dengan sumber daya yang ada yaitu 4 orang dokter spesialis radiologi, RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro berharap mampu mengembangkan pelayanan teleradiologi.
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya penyesuaian kelengkapan sarana prasarana, dimana salah satunya adalah pengadaan Picture Archiving and Communication System (PACS) karena tanpa ada PACS yang baik kehandalan teleradiologi tidak akan dapat tercapai (Hariri, 2015).
Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1014 tahun 2008 tentang standar pelayanan radiologi diagnostik di sarana pelayanan kesehatan disebutkan bahwa salah satu peralatan radiologi yang harus ada di rumah sakit klas A adalah Picture Archiving Communication System (PACS).
Rumusan masalah penelitian ini, apakah rencana pengadaan alat Picture Archiving and Communication System (PACS) di Rumah Sakit Umum Pusat dr Soeradji Tirtonegoro Klaten layak dari aspek teknis, pasar dan keuangan?.
BAHAN DAN CARA
Jenis penelitian studi kelayakan ini adalah studi kasus dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Subyek penelitian ini adalah kepala bidang pelayanan medik dan kepala instalasi radiologi. Obyek penelitian ini adalah instalasi radiologi. Penelitian dilakukan pada bulan April - Mei 2016 di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro yang beralamat di Jalan dr. Soeradji Tirtonegoro nomor 1 Klaten. Pengumpulan Data berasal dari dua sumber data, yaitu : dokumen / rekaman arsip dan wawancara. Pengolahan Data dengan melakukan analisis dari aspek teknis yaitu untuk mendapatkan gambaran kelayakan terhadap kapasitas ekonomis, jenis teknologi yang paling cocok, lokasi yang paling menguntungkan dan pemenuhan ketenagaan, dari aspek pasar yaitu untuk mendapatkan gambaran kelayakan terhadap permintaan potensial, kemungkinan adanya persaingan, dan perkiraan penjualan, serta dari aspek keuangan yaitu dilakukan penilaian investasi dengan menggunakan metode Payback Period (PP), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR).
HASIL
a. Analisis aspek teknis
1) Pemilihan jenis alat PACS
a) Ada 2 jenis alat yang ditawarkan kepada rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro, yaitu local PACS dan cloud PACS. Diantara 2 jenis alat tersebut, cloud PACS mempunyai banyak kelebihan dibanding local PACS serta sesuai dengan yang dibutuhkan oleh rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro.
Tabel 1 Perbandingan local PACS dan Cloud PACS
Local PACS Cloud PACS
Membutuhkan Server lokal dan biaya hardware serta pengelolaan sistem Informasi dan Teknologi
Tidak membutuhkan Server lokal dan biaya hardware serta pengelolaan sistem Informasi dan Teknologi Membutuhkan pengelolaan software
lokal. Upgrade dan update secara manual
Tidak membutuhkan pengelolaan software lokal. upgrade dan update secara otomatis
Pengaturan user dalam pembacaan hasil terjadi tumpang tindih
Tidak terjadi karena tiap user punya kode pribadi
Resiko data dicuri, terkena virus atau hilang
Tidak terjadi
Pembacaan hasil terbatas di rumah sakit , hanya di komputer pribadi
Pembacaan hasil bisa dimana saja, kapan saja, di perangkat apa saja Harga : USD 132.500 Harga : USD 220.700
b) Adapun standar fasilitas minimal yang dibutuhkan, yaitu : 1) Spesifikasi Perangkat Komputer
a) Fasyankes perujuk (diampu) Perangkat Keras :
1) Pentium ®Dual core Processor –Equivalent or Higher 2) 2 GB RAM
3) Resolusi Monitor 1024*768, 32 bit true Color 4) UPS
Perangkat lunak :
1) Windows 7™ Professional / Ultimate 32 bit / Windows 8 2) Internet Explorer 9.0 or Higher, Chrome v22
3) Software teleradiologi (Upload)
4) Anti virus firewall, Antivirus & Anti-spy ware Internet Network :
1) Network speed 2 Mbps
2) 100/1000 Mbps Ethernet card Modalitas :
Standard DICOM Printer :
Dot matrix/laser printer
b) Server RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (pengampu) Perangkat Keras :
1) Intel Quad core Xeon Processor, 800 MHz2)
2) 4 GB RAM (Higher RAM recommended if number of user exceed 25)
3) 500 MB ruang hardisk kosong untuk aplikasi 4) 1 TB ruang hardisk kosong untuk data/citra 5) Resolusi Monitor 1024*768, 32 bit true Color 6) UPS
Perangkat lunak
1) Windows 2008 server (enterprise atau web server atau data center edition Internet Explorer 9.0 or Higher, Chrome v22 2) Internet Information Server 7.0
3) PACS server Network :
Network speed 4 Mbps
c) Workstation RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (pengampu) Perangkat Keras :
1) Pentium ®Dual core Processor –Equivalent or Higher. 2) 2 GB RAM.
3) Resolusi Monitor 1024*768,32 bit true Color (general radiologi).
4) Resolusi Monitor 5 MP FDA approved, 32 bit true Color (mammografi)
5) UPS
Perangkat lunak :
1) Windows 7™ Professional / Ultimate 32 bit / Windows 8 2) Internet Explorer 9.0 or Higher, Chrome v22
3) Software teleradiologi (Upload)
4) Anti virus firewall, Antivirus & Anti spy ware Internet Network :
1) Network speed 2 Mbps 2) 100/1000 Mbps Ethernet card
d) Mobile Viewer (browser) RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (pengampu)
1) Tablet dengan Resolusi Monitor 1024*768 2) Network speed 2 Mbps
2) Spesifikasi PACS
a) Mampu mengupload format DICOM, bmp, png, tiff, gif, jpeg, txt, pdf, doc, xls, avi, mpeg, mp4, flv, wmv, mov.
b) Pada daftar pasien tersedia opsi pemilihan yang fleksibel baik menurut tanggal upload, status expertis, yankes yang diampu, modalitas maupun dokter pengirim.
c) Dapat mengupload riwayat pasien atau dokumen pendukung lain seperti hasil laboratorium.
d) Dapat dilihat melalui WEB.
e) Dapat dilihat dengan dicom viewer dengan menu MPR, multiframe, mampu untuk membandingkan foto.
f) Tersedia fitur Turn Around Time (TAT).
g) Dapat dihubungkan dengan DICOM viewer dari merek lain, dapat digunakan untuk pengembangan teknologi radiologi.
h) Citra dapat diarahkan ke dokter tertentu untuk dilakukan ekspertis sehingga dapat dilakukan penjadwalan untuk dokter spesialis radiologi.
i) Ada menu untuk menandai prioritas citra sehingga pada pasien emergensi akan cepat di ekspertis.
j) Tersedia template yang dapat di atur sedemikian rupa k) Ada laporan melalui email setelah citra di lakukan ekspertis
l) Ada menu untuk melihat statistik citra yang diupload, diekspertis, jumlah citra yang diekspertis dokter tertentu.
m) Adanya tingkatan kewenangan akses untuk melihat citra, mengekspertis, mengupload dokumen pendukung dan melakukan administrasi.
n) Dapat memodifikasi kewenangan user baik dokter spesialis radiologi, radiografer, tenaga Informasi dan Teknologi maupun dokter pengirim.
Gambar 1 Skema Rujukan Teleradiologi c) Pelayanan purna jual
1) Pelatihan untuk operator akan diberikan oleh penyedia alat sampai benar-benar mahir.
2) Apabila terjadi kerusakan alat, penyedia alat memberikan jaminan / respon time dengan cepat melalui sistem remote service. Apabila terjadi masalah di hardware sehingga tidak bisa ditangani melalui sistem remote service, kedatangan teknisi secara onsite maksimal selama 3 x 24 jam. Apabila diperlukan akan diberikan backup alat. 3) Garansi suku cadang dan jasa pemeliharaan selama 1 tahun. 2) Lokasi
Sesuai keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1014/Menkes/SK/XI/2008 tentang standar pelayanan radiologi diagnostik
di sarana pelayanan kesehatan, standar ruang PACS adalah: a) Ukuran : minimal 3 m (p) x 3 m (l) x 2,8 m (t)
b) Dapat menampung : - tempat printer, processing dan rekam medik elektronik
c) Dilengkapi dengan AC. Suhu dan kelembaban disesuaikan kebutuhan alat.
Alat penunjang yang dibutuhkan adalah jaringan Local Area Network, koneksi internet, meja dan kursi untuk operator. Sedangkan bagi rumah sakit yang diampu cukup menyediakan perangkat komputer dan alat penunjang yang dibutuhkan adalah jaringan Local Area Network, koneksi internet, meja dan kursi untuk operator. Secara teknis, pemasangan peralatan berada dibawah tanggung jawab pemasok peralatan.
Rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro sebagai rumah sakit pengampu, sudah mempersiapkan ruang di instalasi radiologi seluas 22,4 m2 untuk memenuhi kebutuhan ruangan (workstation) bagi perangkat keras maupun perangkat lunak alat PACS. Direncanakan menggunakan ruang yang saat ini digunakan untuk ruang pembacaan radiologi dengan mengalihkan beberapa mebelair yaitu 2 almari dan 1 meja ke ruang lain. Denah / layout ruang yang dipersiapkan untuk alat PACS adalah sebagai berikut :
Gambar 3 Denah ruang untuk penempatan alat PACS
3) Ketenagaan
Jenis dan jumlah tenaga yang dibutuhkan dalam instalasi radiologi diagnostik berdasarkan jenis sarana pelayanan kesehatannya yaitu rumah sakit kelas A atau setara, adalah sesuai tabel dibawah.
Tabel 2 Persyaratan jenis dan jumlah tenaga medis dan radiografer rumah sakit kelas A atau setara
Jenis Tenaga Persyaratan Jumlah
RS kelas A 1. Spesialis radiologi Memiliki SIP 6 orang 2. Radiografer D3 Teknik Radiologi
Memiliki SIKR
2 orang/alat
Sumber: Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1014 tahun 2008 tentang standar pelayanan radiologi diagnostik di sarana pelayanan kesehatan
Tabel 3 Jenis dan jumlah tenaga medis dan radiografer di rumah sakit dr. Soeradji Tirtonegoro saat ini
Jenis Tenaga Persyaratan Jumlah
1. Spesialis radiologi Memiliki SIP 4 orang 2. Radiografer D3 Teknik Radiologi
Memiliki SIKR
13 orang
b. Analisis aspek pasar
Analisis aspek pasar dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran kelayakan terhadap permintaan potensial atau pengguna produk yang dihasilkan, kemungkinan adanya persaingan, serta perkiraan penjualan yang dapat dicapai (Sri Muryani, 1995). Menurut Nur Hidayati (2004) aspek pasar meliputi perkiraan permintaan, unit cost dan tarif. Investasi dari aspek pasar layak jika kecenderungan permintaan terus meningkat, tarif dibawah harga pesaing dan spesifikasi produk sebanding dengan pesaing.
1) Gambaran kelayakan terhadap permintaan potensial menggunakan alat PACS bisa diasumsikan dengan kinerja instalasi radiologi rumah sakit dr. Soeradji Tirtonegoro.
2) Perkiraan umur ekonomis dan tarif yang layak.
Untuk mengoperasionalkan alat tersebut, dibutuhkan tarif. Komponen penyusunan tarif selain harga PACS itu sendiri, diperlukan biaya-biaya berupa jasa Internet Service Provider, jasa instalasi perangkat keras dan lunak, back up data, listrik, AC ruang server, jasa dokter spesialis radiologi dan jasa tenaga radiografer.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan nomor 59 tahun 2013 tentang tabel masa manfaat dalam rangka penyusutan barang milik negara berupa aset tetap pada entitas pemerintah pusat, rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro memperkirakankan alat PACS memiliki masa manfaat / masa ekonomis 5 tahun dan pada akhir tahun ke 5 memiliki nilai sisa / residu sebesar 0.
3) Jangkauan pelayanan / perkiraan pengguna PACS
Sesuai data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) online Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tanggal 1 Januari 2014 bahwa saat ini ketersediaan tenaga pelayanan radiologi belum merata di fasilitas kesehatan sekunder khususnya rumah sakit kelas C dan D, terutama di daerah perbatasan, terpencil dan kepulauan (DPTK). Jumlah dokter
spesialis radiologi terendah berada di provinsi Sumatera Barat, Kepulauan Riau dan Bengkulu.
4) Kemungkinan timbulnya persaingan
Ada beberapa rumah sakit di Indonesia yang sudah mengembangkan pelayanan teleradiologi antara lain rumah sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, Pantai Indah Kapuk Jakarta, Pertamedika Sentul City Jakarta, Bunda Jakarta, Paru Jember, Kwaingga Papua dan Karel Satsuittubun Maluku.
c. Analisis aspek keuangan 1) Metode Payback Period
Hasil analisis investasi metode Payback Period dengan asumsi jumlah pemeriksaan / pasien tiap tahun naik 5%, selama masa manfaat 5 tahun. a) Berdasar asumsi 2 rumah sakit yang diampu
Tabel 4 Perhitungan Payback Period dengan tarif Rp.120.000,00 (JP 40 %) dan jumlah pemeriksaan 25.078 pasien
Berdasarkan tabel diatas dapat kita hitung Payback Period sebagai berikut :
Total investasi : Rp. 3.089.800.000,00 Pendapatan bersih tahun ke 1 : Rp. 1.200.056.919,00 _ Rp. 1.889.743.081,00 Pendapatan bersih tahun ke 2 : Rp. 1.105.569.765,00 _ Rp. 784.173.316,00
Dikarenakan pendapatan bersih untuk tahun ke 3 melampaui sisa investasi dari tahun ke 2 maka dapat kita hitung sebagai berikut : = Rp. 784.173.316,00 x 12 x 30 hari
Rp . 1.160.848.253,00 = 243,2 hari
Payback Period (PP) = 2 tahun 243,2 hari c) Berdasar asumsi 1 rumah sakit yang diampu
Tabel 5 Perhitungan Payback Period dengan tarif Rp.120.000,00 (JP 40 %) dan jumlah pemeriksaan 12.539 pasien
TARIF Rp 120.000
JML PEMERIKSAAN PER 12.539
Th Ura i a n Ni l a i Inves ta s i Ka s Ma s uk Ka s Kel ua r Ka s Bers i h PP Ha rga Al a t 3.089.800.000 Ca s h Fl ow Inves ta s i 1 Juml a h Pa s i en / ta hun 12.539 Penda pa ta n 1.504.680.000 1.504.680.000 JS + JP 1.207.435.116 1.504.680.000 1.207.435.116 297.244.884 297.244.884 2 Juml a h Pa s i en / ta hun 13.166 Penda pa ta n 1.579.914.000 1.579.914.000 JS + JP 1.267.806.872 Bi a ya Pemel i ha ra a n 5% 154.490.000 1.579.914.000 1.422.296.872 157.617.128 454.862.012 3 Juml a h Pa s i en / ta hun 13.824 Penda pa ta n 1.658.909.700 1.658.909.700 Sha ri ng Penda pa ta n 1.331.197.216 Bi a ya Pemel i ha ra a n 105% 162.214.500 1.658.909.700 1.493.411.716 165.497.984 620.359.996 4 Juml a h Pa s i en / ta hun 14.515 Penda pa ta n 1.741.855.185 1.741.855.185 JS + JP 1.397.757.076 Bi a ya Pemel i ha ra a n 110% 169.939.000 1.741.855.185 1.567.696.076 174.159.109 794.519.105 5 Juml a h Pa s i en / ta hun 15.241 Penda pa ta n 1.828.947.944 1.828.947.944 JS + JP 1.467.644.930 Bi a ya Pemel i ha ra a n 115% 177.663.500 1.828.947.944 1.645.308.430 183.639.514 978.158.619
Berdasarkan tabel diatas, Payback Period belum dapat dicapai sampai dengan tahun ke 5.
2) Metode Net Present Value (NPV)
Metode ini digunakan untuk mengukur kelayakan investasi, dimana seluruh proyeksi arus kas bersih di masa depan harus dinyatakan ke dalam nilai sekarang yang dikonversikan dengan tingkat suku bunga atau discount faktor. Perhitungan Net Present Value merupakan perkalian antara Net Cash Value atau pendapatan bersih setelah pajak dikalikan dengan discount faktor. Discount faktor yang dipakai peneliti disesuaikan dengan tingkat