Tabel 2.46 . Hasil Kinerja Urusan Ketenagakerjaan di Kota Batam
B. Tingkat Ketergantungan
2.6 ASPEK LINGKUNGAN .1 Kualitas Air
Air sebagai salah satu komponen lingkungan hidup sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Sebagai salah satu sumber daya alam yang sangat dibutuhkan, maka fungsi air tersebut harus dilestarikan agar tetap berada pada kondisi yang dapat memenuhi standar yang diperlukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pelestarian dan pengendalian. Pelestarian kualitas air merupakan upaya untuk memelihara fungsi air agar kualitasnya tetap pada kondisi alamiah.
Pemenuhan kebutuhan air bersih merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang dapat menunjang kesejahteraan dan kesehatan. Pengembangan jaringan penyediaan air bersih diarahkan untuk mendukung kegiatan budidaya dan kegiatan sosial-ekonomi penduduk. Pengadaan sistem penyediaan air bersih harus memenuhi standar yang telah ditentukan, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Seiring dengan keberhasilan pembangunan dan pengembangan Kota Batam sebagai daerah industri, maka kebutuhan akan air bersih semakin meningkat. Pengelola dan penyedia kebutuhan air bersih di Kota Batam adalah Badan Pengusahaan Kawasan (Otorita) Batam bekerjasama dengan pihak swasta PT. Adhya Tirta Batam (ATB), dimana sumber air bersih berasal dari air hujan yang ditampung di waduk-waduk yang ada di Kota Batam.
Penduduk yang belum terlayani air bersih oleh Perusahaan Air Minum (PAM), memenuhi kebutuhan air bersihnya melalui penampungan air hujan.
Sedangkan bagi penduduk yang tinggal di pulau-pulau yang di wilayahnya terdapat sumber air tanah memenuhi kebutuhan air bersih melalui pembuatan sumur-sumur, baik yang dikelola secara individu maupun secara komunal.
Adapun pulau-pulau yang terdapat sumber air tanah, diantaranya terdapat di Pulau Buluh dengan kedalaman sumur antara 6 hingga 90 meter, Pulau Bulan Lintang dengan kedalaman sumur antara 2 hingga 70 meter, Pulau Pemping serta di Daerah Belakang Padang yang mempunyai struktur batuan lulus air sehingga berfungsi sebagai akuifer tempat air tanah tersimpan, seperti Pulau Lengkana dengan kedalaman sumur antara 2,8–10 meter, Pulau Sekanak dan Pulau Melawa dengan kedalaman sumur bor antara 6–32 meter, Daerah Perigi Papan yang mempunyai mata air dengan debit 1 lt/dt, Pulau Denfang dan Pulau Air Asam Melawa dengan debit air antara 0,2–1 lt/dt, serta pulau-pulau lainnya.
Untuk pemenuhan kebutuhan air di Pulau Batam dan sekitarnya, telah dilakukan pembangunan sebanyak 7 (tujuh) DAM atau Waduk yang tersebar di Kota Batam. Luas dan volume air masing-masing DAM dapat dilihat pada Tabel 2.75 berikut:
Tabel 2.75. Waduk yang berada di Kota Batam
No Nama Luas (Ha) Volume (m3)
1 Waduk Duriangkang 1.692,92 78.180.000
2 Muka Kuning 151,67 12.720.000
3 Sei Harapan 87,17 3.600.000
4 Sei Baloi 8,99 270.000
5 Sei Ladi 120,03 9.490.000
6 Sei Nongsa 23,18 720.000
7 Tembesi - 41.876.000
Sumber : BP Batam,2011
Kualitas air yang jelek akan mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk, sehingga akan mempengaruhi kondisi kesehatan dan keselamatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Penurunan kualitas dan kuantitas air akan menurunkan daya guna dan manfaat air. Produktivitas akan menurunkan kekayaan sumber daya alam. Dampak negatif pencemaran air menurunkan nilai ekonomis, di samping nilai ekologis dan sosial budaya. Upaya pemulihan kondisi air tercemar jelas akan membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan nilai manfaat finansial dari kegiatan yang menimbulkan pencemaran. Demikian pula kondisi air yang tercemar akan menimbulkan
biaya untuk menanggulangi akibat atau dampak negatif yang ditimbulkan dari air tercemar. Parameter Chemical Oxygen Demand (COD) sebagai salah satu parameter dalam kualitas air di dam-dam yang ada di Kota Batam seperti tertera pada Gambar 2.44
Gambar 2.44. Parameter COD sebagai Salah Satu Parameter Kualitas Air Dam Kota Batam Tahun 2013-2015
Sumber: Bapedal Kota Batam, 2016
Grafik di atas menunjukkan parameter COD di DAM Sei Harapan dan Duriangkang telah melewati baku mutu lingkungan. Penyebab tingginya COD di DAM Duriangkang diprediksi berasal dari kegiatan industri, perumahan liar, dan kegiatan perikanan dan pertanian di sekitar DAM. Adapunpenyebab tingginya COD di DAM Sei Harapan diduga karena berdekatan dengan daerah perbengkelan dan pemukiman.
Untuk menjamin kualitas air baku, maka pemantauan kualitas air baku (air dam) dengan melakukan sampling adalah hal yang penting secara rutin dilakukan. Pengambilan sampling dilakukan terhadap 16 (enam belas) titik pemantauan dengan masing-masing frekuensi pemantauan 2 (dua) kali, yaitu pada musim hujan (basah) dan musim kemarau (kering). Pemantauan dilakukan pada 5 (lima) waduk, kecuali Dam Baloi dan Dam Tembesi.
Adapun parameter yang diukur sesuai dengan persyaratan dalam PP Nomor 82 Tahun 2001 atau perundang-undangan yang berlaku dalam pemantauan air baku untuk air bersih.
Tingkat persentase kualitas air dalam RPJMD Kota Batam adalah banyaknya parameter uji yang memenuhi persyaratan baku mutu dari kualitas air baku dari keseluruhan titik dibagi dengan parameter total yang dipersyaratkan dikali seratus persen.
2.6.2 Kualitas Udara
Konsekuensi adanya proses transformasi masyarakat agraris ke masyarakat industri, terutama di daerah perkotaan dan sub perkotaan, adalah terjadinva peningkatan pencemaran/polusi lingkungan. Polusi udara sebagai dampak adanya aktivitas industri dan transportasi menjadi sangat penting untuk diperhatikan, sehingga sangat diperlukan adanya suatu informasi yang cepat tentang pengembalian tingkat polusi udara terhadap waktu, terutama pada daerah pusat perkotaan. Informasi ini perlu dibuat secara sederhana sehingga masyarakat awam yang tidak mengetahui bcml tentang bahasa polusi udara dapat mengerti dengan mudah dan jelas tentang polusi udara.
Banyak cara untuk menyebarkan pengertian tentang kualitas udara, dari bentuk informasi yang terintegrasi sampai dengan bentuk secara rinci dari konsentrasi tiap-tiap individu polutan. Tentunya hal ini perlu dibuat bentuk informasi yang mudah dimengerti bagi masyarakat awam, atau bentuk gabungan yang dapat menginformasikan arti konsentrasi suatu polutan yang mengarah pada dampaknya. Indeks Kualitas Udara sebagai bentuk ballast polusi udara dapat dipergunakan untuk menjembatani pemberian informasi tentang kualitas udara suatu perkotaan kepada komunitas masyarakat awam yang tidak mengenal betul tentang polusi udara. Indeks Kualitas Udara merupakan salah satu metode tidak langsung yang digunakan untuk menginformasikan kondisi kualitas udara suatu perkotaan kepada masyarakat awam.
Kualitas udara setempat adalah masalah penting untuk masyarakat. Emisi dari nitrogen oksida (NOx), senyawa organik yang mudah menguap , karbon monoksida (CO), dan bahan partikel (PM) umumnya dianggap penyebab terpenting masalah kualitas udara. Beberapa pemantauan yang dilakukan untuk kualitas udara seperti Uji Petik Emisi Kendaraan Bermotor, Pemantauan Kualitas udara jalan raya “roadside monitoring”, Pemantauan kinerja lalu lintas
“Kecepatan dan Kerapatan”, Pemantauan Kualitas Bahan Bakar dan Pemantauan Kualitas Udara Ambien. Untuk pemantauan kualitas udara ambien telah rutin dilaksanakan dua kali dalam setahun sebanyak 19 titik lokasi yang tersebar di setiap kecamatan di Kota Batam.
Indeks kualitas udara didefinisikan sebagai gambaran atau nilai hasil tranformasi parameter-parameter (indikator) individual polusi udara yang saling berhubungan, seperti konsentrasi S02, NOx, SPM, Ox, CO menjadi satu nilai atau satu set nilai sehingga mudah dimengerti bagi masyarakat awam.
Sebagai hasilnya diperoleh suatu persamaan transformasi nilai parameter yang dapat mentransformasikan nilai-nilai parameter polusi udara seperti tersebut di atas menjadi satu nilai yang informan dan tak berdimensi.
Bagaimanapun juga hal ini menunjukkan gambaran begitu kompleknya permasalahan polusi udara di dalam mengartikan kondisi lingkungan yang sebenarnya. Secara umum parameter-parameter yang dipergunakan dalam perhitungan indeks kualitas udara adalah SPM (Suspended Particulate Matter) atau TSP (Total Suspended Particulate), S02 (Sulfur dioxide), CO (Carbon monoxide), Ox (dalam hal ini ozon), hidrokarbon dan visibilitas atau jarak pandang juga dapat diambil sebagai pertimbangan dalam penentuan indeks kualitas udara.
Data Indeks Standar Pencemar Udara diperoleh dari pengoperasian Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien Otomatis. Sedangkan Parameter Indeks Standar Pencemar Udara meliputi :
a. Partikulat (PM10) b. Karbondioksida (CO) c. Sulfur dioksida (SO2).
d. Nitrogen dioksida (NO2).
e. Ozon (O3)
Perhitungan dan pelaporan serta informasi Indeks Standar Pencemar Udara ditetapkan oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, yaitu Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 107 Tahun 1997 Tanggal 21 November 1997.
Tingkat persentase kualitas udara dalam RPJMD Kota Batam adalah banyaknya parameter uji yang memenuhi persyaratan baku mutu dari kualitas air baku dari keseluruhan titik dibagi dengan parameter total yang dipersyaratkan dikali seratus persen.
2.6.3 Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 4 Tahun 2016 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Peraturan Daerah (PERDA) Kota Batam Nomor 4 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup telah disahkan oleh DPRD Kota Batam dan Walikota Batam pada tanggal 9 Februari 2016 dan diregistrasi melalui Lembaran Daerah Kota Batam Tahun 2016 Nomor 4 dengan Nomor Register Provinsi Kepulauan Riau: (2/2016).
PERDA ini merupakan peraturan pelaksana dari Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Peran serta seluruh bagian elemen menjadi faktor penting dalam pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Elemen ini terdiri atas:
Pemerintah Kota Batam, Aparat Penegak Hukum, pengusaha, masyarakat industri, dan masyarakat umum. Meski telah berlangsung bagaimana Pemerintah Kota Batam melakukan koordinasi dengan aparat yang lain, seperti dengan Kepolisian, Kejaksaan, dan/atau TNI, di dalam Pasal 241 PERDA tersebut diuraikan bahwa Walikota dapat membentuk Tim Penegakan Hukum Lingkungan Terpadu.
Bagi elemen masyarakat industri atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terdapat materi pasal yang baru diluar pengaturan peraturan perundang-undangan sebelumnya, antara lain:
1. Jenis sanksi administratif lebih lengkap dan ketat dalam Pasal 225, meliputi: teguran tertulis, paksaan pemerintah, pembekuan izin lingkungan, pencabutan izin lingkungan, denda administratif, dan/atau pembatalan izin lingkungan. Hal ini berbeda dengan pengaturan pada UU No. 32 Tahun 2009, dimana tidak mencantumkan denda administratif dan pembatalan izin lingkungan. Hal ini menjadikan materi sanksi cukup represif dan tegas.
2. Pengenaan sanksi administratif pun lebih sistematis dapat dikenakan secara bertahap, tidak bertahap, atau kumulatif. Bahkan dalam Pasal 230, pengenaan denda sanksi administratif dilakukan pada setiap keterlambatan dalam melaksanakan sanksi Paksaan Pemerintah.
3. Hal yang berbeda dari peraturan yang ada di negeri ini dan untuk pertama kali adalah pengetatan terhadap pelaksanaan laporan berupa sanksi denda atas tidak melaksanakan kewajiban laporan, baik laporan
pelaksanaan izin lingkungan setiap semester, laporan pengelolaan limbah B3 setiap triwulan, dan/atau laporan pembuangan air limbah setiap triwulan. Sanksi denda ini tidak melepaskan kewajiban penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melaksanakan kewajiban laporan dan sanksi denda ini hanya dapat dikenakan paling banyak 3 (tiga) kali.
Setelahnya, penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat dikenakan sanksi pembekuan izin. Pasal 232 menguraikan terkait sanksi denda ini.
Bagi elemen masyarakat umum, pengaturan pada PERDA ini diberikan seluas-luasnya seperti diuraikan pada Bab X Pasal 140 s/d 156. Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk terlibat secara aktif maupun pasif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, meliputi:
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Masyarakat juga berhak mengajukan pengaduan melalui Pos Pengaduan Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup (P3SLH). Secara lengkap, PERDA ini dalam diunduh (download) pada alamat web: http://jdih.batamkota.go.id/peraturan/Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2016 – Lingkungan Hidup.pdf
2.7 Gambaran Umum Peran, Strategi, dan Kegiatan BP