Bab X. Pedoman Transisidan Kaidah Pelaksanaan, berisi pedoman menyelesaikan masalah-masalah pembangunan beserta kaidah
A. Proporsi Panjang Jaringan Jalan dalam Kondisi Baik
Secara umum tren panjang jaringan jalan dalam kondisi baik mengalami penurunan (Gambar 2.31). Pada 2011, proporsi panjang jaringan jalan dengan kondisi baik sebesar 60,72% dari total panjang jalan keseluruhan. Kondisi ini masih menunjukkan penurunan sampai dengan tahun 2014 dan 2015 dengan proporsi masing-masing sebesar 67,13% dan 68,57%.
Gambar 2.31. Proporsi Panjang Jaringan Jalan dalam Kondisi Baik di Kota Batam Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Batam
Tabel 2.32. Ruas Jalan Arteri Primer (JAP) di Kota Batam berdasarkan Kepmen PUPR
Batam Centre – Sp. Franky (Jl. A. Yani) Sp. Frangky – Sp. Kabil (Jl. A. Yani) Sp. Kabil – Muka Kuning (Jl. A. Yani) Muka Kuning – Tembesi (Jl. Letjen Suprapto)
Tembesi – Tanjung Berikat
Sp. Kabil – Sp. Jam (Jl, Jend Sudirman) Sp. Jam – Sei Harapan (Jl. Gajah
Batu Besar – Nongsa (Jl. Hang Jebat, Jl. Hang Lekiu)
Sp. Punggur – Telaga Punggur (Jl.
Hasanuddin)
Tembesi – Batu Aji (Jl. Letjen Suprapto)
Batu Aji – Tanjung uncang (Jl. Brigjrn Katamso)
Jl. Diponegoro (Sp. Sei Harapan – Sp.
Basecamp Batu Aji)
Jl. Duyung (Pel. Batu Ampar – Sp.
Baloi Centre)
Baloi Centre – Sp. Sei Ladi (UIB)
1,72
Sumber : Kepmen PUPR Nomor 248/KPTS/M/2015
Tabel 2.33. Ruas Jalan Kolektor Primer 1 (JKP-1) di Prov Kepulauan Riau (Kota Batam)
Kepmen PUPR Nomor 248/KPTS/M/2015
N
Tanjung Berikat – Sp. Sembulang Sp. Sembulang – Pel. Galang
25,83 30,03
Kota Batam Kota Batam
TOTAL 55,86 Kota Batam
Sumber : Kepmen PUPR Nomor 248/KPTS/M/2015
Tabel 2.34. Ruas Jalan Kolektor Primer (JKP) di Provinsi Kepulauan Riau (Kota Batam)
SK Gubernur No 1863 Tahun 2016
No Nama Ruas Panjan
Simp. Muka Kuning – Tanjung piayu (Jl. S.
Parman)
Simp.Sei Harapan – Sei Temiang (Kh.
Ahmad Dahlan)
Simp. Kalista - Simp. Frangky - Simp.
Underpass Pelita (Jln. Laksamana Bintan) - Simp. Telkom (Jln. Sriwijaya)
Simp. Patung KudaSei. Panas - Simp.
Bengkong Seken (Jl. Raya Sei Panas) Simp. Garama - Golden Prawn (Jl. Yos Sudarso, Jl. Sumatera)
Simp. Marina City - Simp. Base Camp Pelabuhan Sagulung - Simp. Polsek Tanjung Uncang
Simp. Industri Taiwan - Simp. Batu Besar (Jl. Hang Kesturi)
Simp. Jam - Simp. Masjid Raya Batam Centre (Jl. Raja Haji Fisabililah)
Simp. Jam – Batu Ampar (Jl. YosSudarso) Simp. Kalista - Simp. Kantor Camat Batam Kota (Jl. Orchad Boulevard)
Simp. Trakindo/BintangIndustri - Tj.
Sengkuang (Jl. Kerapu)
Simp. Bundaran Ob - Simp. Baru Ocarina (Jl. Ibnu Sutowo)
Simp. Arteri Kda - Simp. Bi - Bundaran Ob (Jl. Raja Isa, Jl. Engku Putri Timur, Jl.
Engku Putri Utara)
Simp. KDA - Simp. ArteriDotamana (Jl.
Selasih, Jl. Raja M. Saleh)
Simp. Dotamana - Simp. Sman 3 - Simp.
Bandara (Jl. Tengku Sulung, Jl. Hang Nadim)
Bundaran Tuah Madani – Ocarina Simp. Kawasan Industri - Indah Puri (Patam Lestari)
Simp. Trans Barelang - Kantor Camat Sembulang (Jl. Batin Limat)
No Nama Ruas Panjan g Ruas
(Km) Lokasi Simp. Tobing - Simp. Taman Makam
Pahlawan
Simp. Unrika - Simp. Mkgr Batuaji Simp. Mitra Mall - Simp. Hidayatullah Batuaji
Simp. Pertamina Tongkang - Kaw.
Industri Bosowa Kabil
Jalan Lingkar Kawasan Industri Batamex Tanjung Uncang
Sp. Indomobil – Sp. Baloi Center (Jl.
Bunga Raya)
Saluran drainase di Kota Batam pada umumnya memanfaatkan sungai-sungai kecil yang ada sebagai saluran primer, yang mengalir secara gravitasi. Selain itu, tidak ditemui pompa di sekitar saluran primer yang biasanya digunakan untuk memompa air saat hujan besar. Dengan kondisi topografi yang berbukit, genangan yang terjadi tidak lama dan tidak luas, jika dibandingkan dengan yang terjadi di tanah berkontur datar. Adapun permasalahan dalam penanggulangan banjir di Kota Batam antara lain adalah :
a. Jaringan drainase yang masih berbentuk saluran alam dan kapasitas drainase yang kurang memadai serta belum optimalnya sistem saluran drainase eksisting.
b. Lokasi/kawasan yang sudah terbangun memiliki elevasi tidak memadai sehingga selalu menjadi lokasi/kawasan yang rentan terjadi adanya kegiatan cut and fill (grading plan).
Tabel 2.35. Indikator Keluaran Kegiatan Dinas PU Kota Batam
No Indikator Tahun
2011 2012 2013 2014 2015
1 Panjang saluran drainase yang dipelihara (m)
40.000 45000 40.000 40.000 40.000
2 Panjang saluran drainase yang dibangun/
ditingkatkan (m)
0 107 1.105 4.4745 3.595
3 Panjang jalan yang dipelihara
9.423 9.498 9.767 10.253 10.553 6. Terbangunnya
sarana sanitasi limbah domestik (unit)
2 4 - - 2
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Batam
Terdapat 2 (dua) kewenangan untuk urusan pekerjaan umum di Kota Batam, yakni Dinas PU dan BP Batam. Oleh karena itu, perlu koordinasi yang intens antara kedua instansi tersebut, khususnya dalam memperjelas kewenangannya untuk urusan pekerjaan umum. Sehingga tercipta sinergi positif untuk menghasilkan insfrastruktur yang handal di Kota Batam. Adapun indikator keluaran kegiatan Dinas PU Kota Batam periode 2011-2015 disampaikan dalam Tabel 2.35. berikut.
2.4.1.4 Perumahan dan Permukiman
Tingginya mobilitas pendatang dan pertumbuhan penduduk telah berdampak kepada permasalahan sosial dan kerusakan lingkungan di Kota Batam. Hal tersebut terlihat dari menjamurnya rumah bermasalah dan kios-kios yang tidak sesuai dengan peruntukan lahan.
Permasalahan umum kawasan permukiman terutama pada kawasan yang dikategorikan dalam kawasan permukiman kumuh adalah infrastruktur permukiman yang buruk seperti jaringan jalan lingkungan, jaringan drainase, jaringan persampahan, dan jaringan air bersih. Jaringan jalan pada kawasan
permukiman sebagian besar masih berupa jalan tanah dan belum dilakukan peningkatan konstruksi. Pada saat hujan menjadi becek dan berlumpur sehingga mengganggu aksesibilitas internal kawasan.
Permasalahan jaringan drainase lebih kepada belum adanya pembangunan jaringan dengan konstruksi permanen sehingga mempermudah terjadinya sedimentasi. Kondisi ini diperburuk dengan minimnya kegiatan perawatan terhadap jaringan yang sudah ada.
Jaringan persampahan secara umum dapat dikatakan kurang terlayani dengan baik, serta tidak terdapat fasilitas pendukung dan manajemen persampahan.
Hal ini dipengaruhi juga oleh aksesibilitas internal kawasan yang buruk sehingga menghambat pengangkutan sampah dari rumah tangga menuju TPS.
Jaringan air bersih sudah dapat melayani seluruh kawasan. Selain itu, debit air bersih juga sudah cukup untuk melayani kawasan. Permasalahan yang ada yaitu tekanan pada Sambungan Rumah (SR) yang lemah terutama pada saat peak hour.
Permasalahan penyediaan infrastruktur masih menjadi permasalahan yang belum terpecahkan sampai saat ini. Masyarakat yang sebagian besar adalah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) tidak mampu secara swadaya untuk menyediakan infrastruktur dasar. Selain infrastruktur dasar yang menjadi kendala adalah kualitas fisik hunian yang cenderung rendah (masih terdapat hunian tanpa finishing pada dinding rumah). Kondisi ini disebabkan oleh tingkat kemampuan masyarakat yang rendah. Permasalahan infrastruktur dan kualitas hunian tidak hanya bisa dipandang sebagai dampak dari pembangunan sektor infrastruktur dan rumah yang masih kurang, akan tetapi juga harus dilihat dari sisi kebijakan dan regulasi yang mengatur pembangunan infrastruktur permukiman dan skema pembiayaan perumahan.
Berdasarkan SK Walikota Batam Nomor 68/HK/I/2015, luasan kawasan kumuh yang ada di Kota Batam adalah seluas 178 Ha, yang tersebar di 10 Kelurahan yaitu sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 2.36 berikut.
Tabel 2.36. Lokasi Kawasan Permukiman Kumuh di Kota Batam
NO KAWASAN LUAS
(Ha)
KELURAHAN TINGKAT