• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Pelayanan Umum 1. Fokus Layanan Urusan Wajib

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 35-49)

Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu gerbang penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendidikan membuka peluang individu maupun masyarakat untuk mengembangkan diri dan mewujudkannya. Dalam konteks ini,

Kabupaten Lebak dengan jumlah penduduk yang sedemikian besar dan struktur umur yang kebanyakan berusia muda, relatif memiliki tanggungjawab besar untuk mengantarkan penduduk muda untuk memperoleh pendidikan yang layak. Selain masalah jumlah penduduk, persebarannya juga menjadi faktor penentu perkembangan pendidikan di Kabupaten Lebak.

Pembangunan bidang pendidikan mampu meningkatkan angka partisipasi sekolah mencakup angka partisipasi murni dan angka partisipasi kasar. Terkait dengan tingkat partisipasi sekolah ini, diperoleh data tentang jumlah anak tidak sekolah pada setiap jenjang pendidikan yang merupakan sasaran penting bagi program pembangunan pendidikan di Kabupaten Lebak, yaitu menuntaskan wajib belajar 9 tahun.

Pelayanan pendidikan juga dapat dilihat dari ketersediaan sekolah dan guru. Pada tahun 2006, rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah untuk pendidikan dasar adalah sebesar 0,006794 atau tersedia 67,94 sekolah per 10.000 penduduk usia sekolah, sedangkan rasio guru dengan murid sebesar 0,043028 atau tersedia 430,28 guru per 10.000 murid. Untuk pendidikan menengah, rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah sebesar 0,0010435, rasio guru dengan murid sebesar 0,063893. Kondisi ini menunjukan bahwa pelayanan pendidikan berupa penyediaan sekolah dan guru masih relatif rendah sehingga perlu ditingkatkan. Selain itu, meskipun telah terjadi berbagai peningkatan yang cukup berarti, pembangunan pendidikan belum sepenuhnya mampu memberi pelayanan merata, berkualitas dan terjangkau. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa biaya pendidikan masih relatif mahal dan pendidikan belum sepenuhnya mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sehingga belum dinilai sebagai bentuk investasi.

Mutu pendidikan berhasil atau tidaknya di suatu daerah tergantung pada capain angka putus sekolah dan angka kelulusan. Di Kabupaten Lebak capaian Angka putus sekolah pada tahun 2009 untuk jenjang pendidikan SD sebesar 0,46%, SLTP sebesar 0,97%, dan SLTA sebesar 0,68%. Sedangkan untuk Angka Kelulusan angka capaian pada tahun 2009 untuk jenjang pendidikan SD sebesar 94,14%, STLP sebesar 77,69%, dan SLTA sebesar 82,03%.

Kesehatan

Upaya Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan, Peningkatan Sumber Daya Kesehatan, Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Pembiayaan Kesehatan terus dilakukan, namun pencapaian beberapa indikator kesehatan masih berada dibawah rata-rata nasional. Pada tahun 2008, Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Lebak sebesar 42,27/1.000 KH, sedangkan AKB Nasional sebesar 34/1.000 KH (Target Nasional AKB 24/1000 KH pada tahun 2014 dan target MDGs AKB 23/1000 KH pada tahun 2015) . Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Lebak pada tahun 2008 adalah 2461/100.000 KH, Sedangkan AKI Nasional sebesar 228/100.000 ( Target Nasional AKI 118/100.000 KH pada tahun 2014 dan target MDGs AKI 102 /100.000 KH pada tahun 2015). Data tahun 2009 menunjukan jumlah kematian ibu maternal di Kabupaten Lebak mencapai 22 ibu dari 22.230 kelahiran hidup, dan jumlah kematian bayi 156 bayi dari 22.230 KH. Kondisi ini dipengaruhi dengan masih tingginya kasus gizi buruk yaitu 4.214 balita (4,10%), gizi kurang 8.679 balita (8,45%) dari 102.687 balita yang di timbang, dengan demikian angka tersebut masih dibawah Angka Target Nasional prevalensi gizi-kurang pada anak balita menjadi 15% pada tahun 2014 dan target MDGs 18,8 pada tahun 2015.

Faktor faktor yang menyebabkan rendahnya pencapaian indikator kesehatan (tingginya angka/jumlah kematian dan kesakitan) adalah masih kurangnya kemampuan beberapa untuk memenuhi aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan rujukan, melaksanakan penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan kejadian luar biasa serta melaksanakan upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan.

Dalam pencapaian SPM bidang kesehatan hal penting yang harus dipenuhi adalah ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar antara lain jumlah Puskesmas pada tahun 2009 berjumlah 40 dengan rasio puskesmas per 100.000 penduduk 3,30 (Standar 1 per 25.000 penduduk atau 4 per 100.000 penduduk) idealnya Kabupaten Lebak memiliki 48 Puskesmas, tetapi kurangnya jumlah Puskesmas dapat ditutupi dengan ada dan tersebarnya Puskesmas Pembantu

(PONED). Pada Tahun 2009 Jumlah Puskesmas PONED adalah 14 buah (Standar Puskesmas PONED adalah 1/50.000 penduduk) berarti Kabupaten Lebak membutuhkan sekitar 24 Puskesmas mampu PONED.

Sedangkan kondisi tenaga kesehatan di Kabupaten Lebak pada tahun 2009 adalah, jumlah dokter di Puskesmas adalah 111 orang (Standar 1 PKM 2 Dokter). Sedangkan tenaga bidan di Puskesmas yang ada 395 bidan selain itu didukung pula oleh tenaga paramedis sebanyak 421.

Lingkungan dan perilaku yang mempunyai pengaruh besar terhadap derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Lebak kondisinya juga masih sangat memprihatinkan bila dilihat dari kepala keluarga dengan akses air minum layak yang baru mencapai 45,46%. Dari aspek perilaku PHBS kondisi masyarakat Kabupaten Lebak masih sangat memprihatinkan dengan masih rendahnya persentase Rumah Tangga Sehat (berPHBS).

Berdasarkan kondisi diatas untuk mencapai derajat kesehatan yang diharapkan, upaya yang diperlukan antara lain adalah pertama peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan secara paripurna (preventif, promotif, kuratif dan rehabilitative) melalui peningkatan kualitas dan kelas RSUD serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya serta fasilitas pelayanan kesehatan dasar swasta lainnya, peningkatan Puskesmas mampu PONED, peningkatan Jumlah Mutu dan Penyebaran tenaga kesehatan, peningkatan pembiayaan kesehatan dan pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) Jawa Barat, peningkatan kemandirian untuk berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada masyarakat, memperkuat sistem kewaspadaan dini dan surveillance epidemiologi penyakit menular dan tidak menular, serta mengembangkan sistem regulasi untuk menjamin kualitas fasilitas pelayanan kesehatan, sarana kesehatan dan tenaga kesehatan serta menjamin terciptanya lingkungan sehat.

Pencapaian immunisasi dari 12 jenis imunisasi (antigen) dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 secara umum menunjukan angka flutuatif terkecuali pada imunisasi DPT-HB1 dan Polio 1 yang menunjukan trend meningkat dari tahun ketahunnya dan sebagian besar pencapaian imunisasi belum mencapai masing-masing target yang ditetapkan dan hanya 1 jenis imunisasi polio 4 mencapai target yang ditetapkan pada tahu 2005. Pencapaian terkecil adalah HB 0-7 hari (19%) dan terbesar imunisasi polio 1 (95,2%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.20

Capaian Imunisasi di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 No. Jenis Imunisasi (Antigen) Target (%) Cakupan Persentase

2005 2006 2007 2008 1. HB 0-7 Hari 75 68 19 45 42.5 2. BCG 98 87 88 92 88.5 3. DPT - HB 1 98 85 85 92 93.7 4. DPT - HB 2 95 85 77 87 88.4 5. DPT - HB 3 93 81 76 85 86.9 6. Polio 1 98 79 80 94 95.2 7. Polio 2 95 92 74 87 91.2 8. Polio 3 93 90 71 85 88.8 9. Polio 4 90 90 69 78 85 10. Campak 90 85 81 84 85.2 11. TT 1 95 69 80 81 57 12. TT2 90 66 74 75 53

Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Lebak, 2008

Pekerjaan Umum Jalan

Kondisi sarana dan prasarana jalan di Kabupaten Lebak adalah sebagai berikut :  Panjang Jalan Propinsi di Kabupaten Lebak adalah 302,87 Km, dengan jenis

permukaan hotmix 218,87 Km dan permukaan lapen 84,00 Km dengan kondisi baik 151,82 Km, kondisi sedang 8,95 Km, kondisi rusak ringan 75,00 Km dan kondisi rusak berat 67,10 Km. Apabila ditinjau dari kelas jalan, maka terdapat 4,4 Km jalan kelas II dan 298,47 Km jalan kelas III.

 Panjang Jalan Kabupaten adalah 856,21 Km, terdiri dari ruas-ruas jalan dalam Kota Rangkasbitung sepanjang 57,87 Km dan ruas-ruas jalan luar kota sepanjang 798,34 Km dengan jenis permukaan hotmix 542,61 Km, lapen 40,25 Km, batu 179,55 Km dan tanah 93,80 Km dengan kondisi jalan baik 477,61 Km (55,78%), kondisi sedang 124,75 Km (14,57%), kondisi rusak 134,00 Km (15,65%) dan rusak berat 119,85 Km (14%).

 Panjang jalan desa di Kabupaten Lebak adalah 5.647,2 Km terdiri dari jalan tanah sepanjang 2.571,85 Km dan jalan desa dengan kontruksi beraspal 3.075,35 Km, dengan kondisi baik 75,50 Km (2,45%), kondisi sedang 812,40 Km (26,42%) dan kondisi rusak 2.187,45 Km (71,13%).

Tabel 2.21

Jumlah Ruas Jalan, Panjang dan Kondisi Jalan Kabupaten Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008

No. Tahun Panjang Ruas Jalan (KM) Kondisi (KM)

Baik Sedang Ringan Rusak Rusak Berat

1 2004 827,80 464,30 246,00 54,90 62,60

2 2005 874,60 285,00 169,40 87,45 332,75

3 2006 892,20 285,00 168,60 87,55 351,05

4 2007 803,00 396,80 175,70 228,70 1,80

5 2008 856,21 477,61 124,75 134,00 119,85

Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak

Tabel 2.22

Jumlah Ruas Jalan, Panjang dan Kondisi Jalan Propinsi Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008

No. Tahun Panjang Ruas Jalan (KM) Kondisi (KM)

Baik Sedang Ringan Rusak Rusak Berat

1 2004 107,61 61,39 45,34 0,86 -

2 2005 106,74 61,39 45,34 0,87 -

3 2006 107,61 61,39 45,34 0,87 -

4 2007 281,71 177,26 0,00 51,63 52,82

5 2008 267,65 29,03 94,47 15,42 128,73

Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak

Tabel 2.23

Jumlah Ruas Jalan, Panjang dan Kondisi Jalan Nasional di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008

No. Tahun Panjang Ruas Jalan (KM) Kondisi (KM)

Baik Sedang Ringan Rusak Rusak Berat

1 2004 130,34 78,33 35,37 16,64 -

2 2005 130,34 78,33 35,37 16,64

3 2006 130,34 78,33 35,37 16,64 -

4 2007 140,00 128,00 0,00 12,00 -

5 2008 NR NR NR NR NR

Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak

Selain jalan nasional, Propinsi dan Kabupaten, Pemerintah Daerah juga telah melakukan terobosan yang sangat signifikan dengan pencanangan dan penanganan Jalan Poros Desa melalui Program Hotmik Masuk Desa (HMD).

Program tersebut mulai dilaksanakan pada tahun 2007 dan akan terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dengan tetap menentukan prioritas ruas jalan poros desa yang akan dibangun atau ditingkatkan berdasarkan criteria yang telah kita tetapkan. Adapun jumlah penanganan jumlah poros desa yang sudah ditangani dari tahun 2007 sampai dengan 2009 sepanjang 488,84 Km yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Lebak.

Tabel 2.24

Jumlah Penanganan Jalan Poros Desa (HMD) di Kabupaten Lebak Tahun 2007-2009

No. Tahun Jumlah Penanganan (Km) Keterangan

1 2007 104,37 Tersebar di seluruh Kecamatan

2 2008 190,04 Tersebar di seluruh Kecamatan

3 2009 194,43 Tersebar di seluruh Kecamatan

Jumlah 488,84

Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak

Sebagaimana kita ketahui bersama, jalan poros desa di Kabupaten Lebak berdasarkan dari usulan yang diajukan oleh para Kepala Desa mencapai sekitar 5000 Km. Oleh karena itu, program ini senantiasa harus terus dilaksanakan untuk menyediakan aksesibilitas di perdesaan yang mempunyai daya ungkit yang tinggi untuk mendorong kegiatan ekonomi produktif dan kegiatan social lainnya.

Sumber Daya Air / Irigasi

Kabupaten Lebak merupakan daerah penyangga stok pangan padi sawah di Propinsi Banten, mengingat kawasan Banten Utara yang meliputi Daerah Serang, Cilegon dan Tangerang yang sudah beralih fungsi penggunaan lahan pertaniannya menjadi lahan permukiman dan industri. Oleh karenanya pengembangan pertanian padi sawah diarahkan ke Kabupaten Lebak dan Pandeglang sebagai wilayah pengembangan budidaya pertanian tanaman pangan dan hortikultura, konservasi lahan kritis sebagai fungsi kawasan tangkapan air baku sungai dan situ

1) Irigasi Pemerintah sebanyak 358 Unit (48.367 Ha) yang terdiri dari : a. Irigasi Teknis 17 Unit, luas areal potensial 13.030 Ha (21,31%) b. Irigasi Semi Teknis 45 Unit, luas areal optensial 10.787 Ha (17,64%) c. Irigasi Sederhana 247 unit, luas areal potensial 24.550 Ha (40,14%) 2) Irigasi Pedesaan 123 Unit, luas areal potensial 12.791 Ha (20.91%)

Dari total luas areal potensial tersebut di atas (61.158 Ha), jaringan Irigasi yang berfungsi pada tahun 2003 adalah seluas 24.300 Ha. Adapun penanganan pembangunan baik pembangunan baru maupun rehabilitasi dari tahun 2004 sampai dengan 2008 sebanyak 243 Daerah Irigasi dengan luas areal 26.591 Ha sehingga total luas potensial sampai dengan tahun 2008 adalah 50.921 Ha.

Sedangkan potensi sawah tadah hujan baik yang bisa dikembangkan dan yang tidak bias dikembangkan adalah seluas 14.132 Ha dengan rincian :

a. Sawah yang bisa dikembangkan seluas 4.386 Ha b. Sawah yang tidak bisa dikembangkan seluas 9.746 Ha

Tempat Ibadah

Ketersediaan tempat ibadah merupakah salah satu dari pelayanan sarana dan prasarana umum yang disediakan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Tempat ibadah yang tersedia dibandingkan dengan jumlah penduduk di Kabupaten Lebak masih dirasakan kurang, hal ini dapat dilihat dari rasio tempat ibadah per satuan penduduk di Kabupaten Lebak hanya sebesar 3,85.

Perumahan

Prasarana dan Sarana Utilitas permukiman dan perumahan di Kabupaten Lebak pada umumnya meliputi : penyediaan sarana air bersih, penanganan jalan lingkungan, dan pembangunan serta rehabilitasi gedung-gedung pemerintahan dan bangunan lainnya.

Penyediaan sarana dan prasarana air bersih di Kabupaten Lebak dilaksanakan oleh tiga institusi, yaitu PDAM, Dinas Cipta Karya dan Dinas Kesehatan. Penyediaan sarana tersebut selalu terus dianggarkan setiap tahunnya karena hal ini ditujukan untuk terus meningkatkan cakupan air bersih yang sampai dengan tahun ini baru mencapai 45,46% (perkotaan dan perdesaaan). Untuk lebih rincinya berikut kami gambarkan cakupan air bersih setiap kecamatan di Kabupaten Lebak sampai dengan tahun 2008.

Tabel 2.25

Cakupan Air Bersih per Kecamatan Di Kabupaten Lebak Tahun 2008

No Kecamatan Jumlah KK KK Terlayani persentase

1 Rangkasbitung 20,864 14,417 69.10% 2 Kalanganyar 7,236 3,808 52.63% 3 Cibadak 12,559 10,156 80.87% 4 Warunggunung 11,555 4,328 37.46% 5 Cikulur 10,941 6,209 56.75% 6 Sajira 9,433 6,563 69.57% 7 Cipanas 11,314 6,296 55.65% 8 Lebak Gedong 4,172 1,708 40.94% 9 M A J A 11,316 6,468 57.16% 10 Curugbitung 7,601 4,449 58.53% 11 Muncang 6,980 2,484 35.59% 12 Sobang 7,452 2,346 31.48% 13 Cimarga 12,622 4,135 32.76% 14 Leuwidamar 12,489 4,227 33.85% 15 Cileles 12,776 1,134 8.88% 16 Gunung Kencana 7,449 2,919 39.19% 17 Cijaku 6,669 3,157 47.34% 18 Cigemblong 5,284 1,221 23.11% 19 Banjarsari 13,029 5,208 39.97% 20 Malingping 18,604 9,790 52.62% 21 Wanasalam 9,798 5,354 54.64% 22 Bojongmanik 4,841 913 18.86% 23 Cirinten 5,173 1,210 23.39% 24 Panggarangan 9,215 6,983 75.78% 25 Cihara 7,608 2,014 26.47% 26 Bayah 10,315 2,016 19.54% 27 Cilograng 5,720 1,707 29.84% 28 Cibeber 14,981 5,158 34.43% Jumlah 277,996 126,378 45.46%

Sumber : Kompilasi Dinas Kesehatan dan Dinas Cipta Karya, 2008

Penataan Ruang

Sumber daya kewilayahan harus dikelola secara bijaksana untuk mewujudkan pemerataan pertumbuhan wilayah dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Untuk itu, ketersediaan rencana tata ruang yang aplikatif dan partisipatif memegang peranan penting dalam pemanfaatan ruang termasuk sebagai instrumen dalam perijinan dan pengembangan investasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebagai penganti Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992 dan peraturan perundangan lainnya.

Dalam melaksanakan amanat undang-undang dimaksud Kabupaten Lebak dengan luas wilayah 304.472 ha atau 3044,72 KM² yang terdiri dari 28 kecamatan dengan 340 desa dan 5 kelurahan, telah melaksanakan penyusunan Rencana Tata Rang Wilayah Kabupaten yang dijabarkan kedalam rencana tata ruang kecamatan serta kawasan strategis. Sampai dengan tahun 2008 kecamatan yang telah memiliki rencana tata ruang sebanyak 10 kecamatan. Kecamatan yang telah memiliki rencana tata ruang yaitu Kecamatan Rangkasbitung, Warunggunung, Maja, Cimarga, Sajira, Malingping, Panggarangan, Bayah, Cibeber dan Cilograng. Sedangkan kecamatan yang belum memilki rencana tata ruang adalah Kecamatan Cibadak, Kalanganyar, Cikulur, Cipanas, Curugbitung, Lebakgedong, Bojongmanik, Muncang, Sobang, Leuwidamar, Gunungkencana, Cileles, Banjarsari, Wanasalam, Cijaku, Cigemblong, Cihara, dan Cirinten.

Berdasarkan intensitas dan frekuensi yang terjadi saat ini, di Kabupaten Lebak bagian Utara mempunyai intensitas kegiatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian Tengah maupun Selatan. Oleh karena itu dengan didasari pertimbangan intensitas kegiatan, Kabupaten Lebak didalam pengembangan struktur pemanfaatan ruangannya terbagi dalam 2 (dua) Wilayah Pengembangan yaitu Wilayah Pengembangan Utama dan Wilayah Pengembangan Penunjang. Kedua wilayah ini bila ditinjau berdasarkan karakteristiknya terdiri dari 7 (tujuh) wilayah pengembangan. Pengembangan sistem perwilayahan sebagaimana tergambar pada tabel 2.25.

Tabel 2.26

Sistem Perwilayahan Kabupaten Lebak Perwilayahan

Pembangunan Kecamatan Pertumbuhan Pusat Hirarki Fungsi Kawasan WP Utara

Rangkasbitung Kota Rangkasbitung I Pusat pemerintahan Kabupaten

Maja Kota Maja I Terminal regional

Caibadak Kota Cibadak II Pusat permukiman perkotaan

Kalanganyar III Pusat pelayanan & jasa regional

Warunggunung III Pusat pendidikan

Cikulur III Pusat industri kecil

Cimarga III Pusat perdagangan

Curugbitung III

Sajira III

WP Timur

Cipanas Kota Cipanas II Pusat koleksi-distribusi hasil pertanian Leuwidamar Kota Leuwidamar II Industri kecil/home industri

Muncang III Pengembangan permukiman kota

terbatas

Sobang III Pengembangan permukiman perdesaan

tersebar

Lebak Gedong III Pusat pengembangan pariwisata

Cirinten III Konservasi hutan

Bojongmanik III

WP Barat

Gunung Kencana Kota Gunung Kencana II Pusat koleksi-distribusi hasil pertanian

Cileles III Industri kecil/home industri

Banjarsari III Pengembangan permukiman perdesaan

WP Selatan

Malingping Kota Malingping I Pusat pelayanan sosial ekonomi sub regional

Bayah Kota Bayah I Sub terminal regional

Panggarangan Kota Panggarangan II Pusat koleksi-distribusi hasil pertanian

Cijaku III Industri kecil

Wanasalam III Pariwisata

Cibeber III Pusat pendaratan dan pelelangan ikan

Cilograng III Pengolahan hasil laut

Cigemblong III Pertambangan bersyarat

Cihara III

Sedangkan rencana pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Lebak dibagi menjadi 2 (dua) fungsi kawasan utama yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya (pertanian dan non pertanian), dimana luas dari masing-masing kawasan adalah 97.226 Ha (kawasan lindung) dan 188.770 Ha (kawasan budidaya). Lihat tabel 2.96 dan 2.97 mengenai rencana pemanfaatan ruang Kabupaten Lebak.

Tabel 2.27

Rencana Pemanfaatan Ruang Kabupaten Lebak

Rencana Pemanfaatan Ruang Luas (Ha) Persentase (Terhadap

luas total Kab. Lebak

Kawasan Lindung: 97.226 33,98

- Kawasan yang memberikan perlindungan pada

kawasan bawahannya 63.845 22,32

- Kawasan perlindungan setempat 10.595 3,70

- Kawasan suaka alam dan cagar budaya 21.482 7,51

- Kawasan rawan bencana 1.300 0,45

Kawasan Budidaya: 188.770 66,01

- Pertanian 153.485 53,67

- Non pertanian 35.285 12,34

Sumber: BAPPEDA Kab. Lebak, RTRW Kab. Lebak Tahun 2008-2028 Tabel 2.28

Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Budidaya Kabupaten Lebak Rencana Pemanfaatan Ruang Luas (Ha) Persentase (Terhadap luas total Kab. Lebak

Kawasan Pertanian: 153.485 53,66

- Pertanian lahan basah (Padi sawah, perikanan darat 17.400 6,08 - Pertanian lahan kering (Tanaman pangan lahan kering,

tanaman keras tahunan dan peternakan) 136.085 47,58

Kawasan Non Pertanian: 35.285 12,34

- Kawasan permukiman 28.835 10,08

- Kawasan industri 2000 0,70

- Kawasan pariwisata 4.450 1,36

Sumber: BAPPEDA Kab. Lebak, RTRW Kab. Lebak Tahun 2008-2028

Sumber daya kewilayahan harus dikelola secara bijaksana untuk mewujudkan pemerataan pertumbuhan wilayah dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Untuk itu, ketersediaan rencana tata ruang yang aplikatif dan partisipatif memegang peranan penting dalam pemanfaatan ruang termasuk sebagai instrumen dalam perijinan dan pengembangan investasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebagai penganti Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992 dan peraturan perundangan lainnya.

Dalam melaksanakan amanat undang-undang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kabupaten Lebak dengan luas wilayah 304.472 ha atau 3044,72 KM² yang terdiri dari 28 kecamatan dengan 340 desa dan 5 kelurahan, telah melaksanakan revisi penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten. Selanjutnya secara berkelanjutan, RTRW Kabupaten Lebak terus dilengkapi dengan rencana tata ruang turunannya seperti Rencana Detail dan Rencana Umum Tata Ruang Kecamatan. Hal ini perlu dilakukan untuk terus melaksanakan kegiatan penataan ruang yang efektif, efisien, berwawasan lingkungan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Sampai dengan tahun 2008 kecamatan yang telah memiliki rencana tata ruang sebanyak 12 kecamatan atau 39,28 %. Berikut status Kecamatam-kecamatan yang sudah dan belum ada RUTR-nya :

Tabel 2.29

Daftar Status Rencana Umum Tata Ruang Kecamatan di Wilayah Kabupaten Lebak

No. Kecamatan Status Dokumen RUTR

1 Rangkasbitung Sudah diperdakan

2 Cipanas Sudah, belum di-perda-kan

3 Muncang Sudah, belum di-perda-kan

4 Banjarsari Sudah, belum di-perda-kan

5 Warunggunung Sudah, belum di-perda-kan

6 Sajira Sudah, belum di-perda-kan

7 Maja Sudah, belum di-perda-kan

8 Bayah Sudah, belum di-perda-kan

9 Cimarga Sudah, belum di-perda-kan

10 Panggarangan Sudah, belum di-perda-kan

11 Cilograng Sudah, belum di-perda-kan

12 Malingping Sudah, belum di-perda-kan

13 Cibeber Sudah, belum di-perda-kan

14 Cibadak Belum ada dokumen

15 Cikulur Belum ada dokumen

16 Leuwidamar Belum ada dokumen

17 Curugbitung Belum ada dokumen

18 Bojongmanik Belum ada dokumen

19 Sobang Belum ada dokumen

20 Gunungkencana Belum ada dokumen

21 Cimarga Belum ada dokumen

22 Kalang Anyar Belum ada dokumen

Sebelum berbicara jauh mengenai perencanaan tata ruang kabupaten Lebak, kita perlu mengenali terlebih dahulu Isu-isu strategis penyelenggaraan penataan ruang di Kabupaten Lebak. Adapun isu-isu tersebut diantaranya :

1. Wilayah kabupaten yang sangat luas dengan ketinggian bervariasi meliputi dataran rendah, pegunungan dan pantai ;

2. Penyebaran penduduk yang tidak merata dengan pertumbuhan yang relatif sedang;

3. Potensi sumber daya alam terutama pertambangan dan pariwisata yang cukup besar namun belum dimanfaatkan secara optimal ;

4. Prasarana wilayah yang masih kurang sehingga menyebabkan masih banyaknya desa tertinggal ;

5. Pengembangan prasarana wilayah : transportasi dan bendungan ;

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lebak, RTRW Kabupaten Lebak mempunyai tujuan mewujudkan ruang wilayah Kabupaten Lebak yang memenuhi kebutuhan pembangunan dengan senantiasa berwawasan lingkungan, efisien dalam alokasi, bersinergi dan dapat dijadikan acuan dalam penyusunan program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut, perlu menetapkan strategi dan kebijakan penataan ruang di Kabupaten Lebak.

Strategi perencanaan tata ruang Kabupaten Lebak mengacu pada arahan struktur ruang wilayah nasional, provinsi Banten, pengaruh kawasan pantura Provinsi Banten dan Rencana Strategis Kabupaten Lebak. Arahan pemanfaatan ruang tersebut dituangkan kedalam perencanaan struktur dan pola ruang wilayah.

Menurut arahan RTRW Nasional dan Provinsi Banten, Kabupaten Lebak bersama-sama dengan Kabupaten Pandeglang berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) pada Wilayah Kerja Pembangunan 3 (WKP 3) yang mendukung Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Bojonegara-Merak-Cilegon (BMC) sebagai Kota Pelabuhan Nasional di Kota Cilegon. Adapun Perencanaan Pengembangan wilayah Kabupaten Lebak berdasarkan arahan tersebut diarahkan pada :

1. Sektor unggulan yang menujang wilayah ini adalah pertanian, pertambangan dan pariwisata.

2. Pusat-pusat utama di Kabupaten Lebak adalah Kota Rangkasbitung sebagai PKL dan Kota Maja sebagai pusat kegiatan sosial ekonomi.

3. DAS Ciujung dan Ciberang sebagai elemen pendukung konservasi air bersih (menetapkan Kabupaten Lebak sebagai Kawasan Hijau)

4. Sistem jaringan transportasi utama adalah jaringan jalan raya (kolektor primer) Rangkasbitung – Serang, Maja – Cikande, Labuan – Malingping – Bayah dan Rangkasbitung/Maja – Cipanas – Jasinga.

Selanjutnya berdasarkan nilai-nilai strategis yang dimiliki Provinsi Banten di wilayah Pantura (Cilegon, Serang Tangerang) dan kedekatan dengan Jakarta sebagai ibukota negara, Kabupaten Lebak diarahkan pada :

1. Peran Kawasan Pantura terhadap perkembangan Kabupaten Lebak, berdampak pada minat investasi swasta di Kecamatan Maja untuk mengembangkan dan membangun perumahan dan permukiman pada area sekitar ± 6.000 Ha.

2. Dukungan sistem transportasi jaringan jalan raya yang cukup baik antara Rangkasbitung dan Serang, serta antara Kecamatan Maja dan Cikande di Kawasan Pantura.

3. Prasarana dan sarana lingkungan perkotaan di Kota Rangkasbitung dan Maja yang cukup memadai, maka kedua kota tersebut cenderung menjadi pusat-pusat utama di Kabupaten Lebak yang berorientasi di Kawasan Pantura.

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 35-49)

Dokumen terkait