• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSATAKA

2.5.3. Aspek Penanggulangan Malaria dengan Surveilans

Program penanggulangan malaria mencakup berbagai kegiatan antara lain epidemiologi malaria, penemuan penderita malaria, pengambilan sampel darah masal untuk mendeteksi penderita malaria, survei demam dan pengawasan migran, pengawasan deteksi aktif dan pasif, deteksi dan kontrol epidemik, langkah-langkah

lain seperti larvaciding penyediaan sarana deteksi malaria seperti alat diagnosis cepat

(Rapid Diagnostic Test /RDT) dan mikroskop, membagi kelambu berinsektisida,

penyemprotan dan menyediakan obat malaria gratis bagi warga kurang mampu, dan melatih tenaga kesehatan yang ada di daerah, melakukan kerjasama antar lintas sektor untuk mengintensifkan upaya pemberantasan malaria serta partisipasi komunitas dalam upaya penanggulangan (Depkes RI, 2006).

Kegiatan penanggulangan malaria tersebut diatas dirangkum dalam program sebagai berikut: diagnosis dini dan pengobatan cepat dan tepat serta pemantauan, surveilans, pengendalian vektor dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan yang kesemuanya ditujukan untuk memutus mata rantai penularan malaria (Depkes RI, 2008).

a. Definisi Surveilans Malaria

Surveilans epidemiologi adalah suatu rangkaian proses pengamatan secara terus menerus, sitematik dan berkesinambungan dalam pengumpulan, analisa dan interpretasi data kesehatan dalam upaya untuk mengurai dan memantau suatu peristiwa kesehatan agar dapat dilakukan penanggulangan yang efektif dan efisien terhadap suatu masalah kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2007).

Berdasarkan pemahaman terhadap definisi surveilans tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa surveilans malaria adalah kegiatan yang terus menerus, teratur dan sistematis dalam pengumpulan, pengolahan, analisa dan interpretasi data malaria untuk menghasilkan informasi yang akurat, yang dapat disebarluaskan dan digunakan

sebagai dasar untuk melaksanakan tindakan penanggulangan yang cepat dan tepat disesuaikan dengan kondisi setempat (Depkes RI, 2007).

b. Tujuan Surveilans Malaria

Surveilans dalam program pemberantasan malaria bertujuan untuk:

1. Melakukan pengamatan dini yaitu Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) malaria di Puskesmas dan unit pelayanan kesehatan lainnya dalam rangka mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria.

2. Menghasilkan informasi yang cepat dan akurat yang dapat disebarluaskan dan digunakan sebagai dasar penanggulangan malaria yang cepat dan tepat, yaitu melakukan perencanaan yang sesuai dengan permasalahannya.

3. Penanggulangan KLB malaria secara dini

4. Mendapatkan trend penyakit malaria dari waktu ke waktu

5. Mendapatkan gambaran distribusi penyakit malaria menurut orang, tempat dan waktu.

c. Kegiatan Surveilans Malaria

Kegiatan surveilans malaria terbagi menjadi 3 periode, yaitu:

1. Surveilans periode kewaspadaan sebelum Kejadian Luar Biasa (KLB) atau surveilans Periode Peringatan Dini (PPD) adalah: Suatu kegiatan untuk memantau secara terartur perkembangan penyakit malaria di suatu wilayah dan mengambil tindakan pendahuluan untuk mencegah timbulnya KLB.

2. Surveilans Periode KLB yaitu kegiatan yang dilakukan dalam periode dimana kasus malaria menunjukan proporsi kenaikan dua kali atau lebih dari

biasanya/sebelumnya dan terjadi peningkatan yang bermakna baik penderita malaria klinis maupun penderita malaria positif atau dijumpai keadaan penederita plasmodium falciparum dominan atau ada kasus bayi positif baik disertai ada kematian karena atau diduga malaria dan adanya keresahan masyarakat karena malaria. Data yang dikumpulkan yaitu yaitu:

a. Data jumlah penduduk wilayah desa/Puskesmas terkena resiko KLB b. Data kematian

c. Data kasus malaria dan trendnya d. Data vektor

e. Data lingkungan yang berkaitan dengan vektor (luas tempat perindukan, curah hujan, ternak)

f. Data Mass Fever Survey(MFS) untuk konfirmasi KLB g. Data logistik

3. Surveilans Paska KLB yaitu kegiatannya sama seperti pada periode peringatan dini. Monitoring dilakukan dengan cara pengamatan rutin atau melakukan survei secara periodik pada lokasi KLB (MFS atau MS) juga melakukan survei vektor dan lingkungan.

Kegiatan Surveilans PPD adalah sebagai berikut: (a) Pengumpulan Data

Jenis data kasus malaria yang dikumpulkan di setiap jenjang baik di tingkat Puskesmas, Kabupaten, Propinsi dan Pusat merupakan data situasi malaria yang

secara umum dapat di bagi menjadi beberapa periode, yaitu: periode peringatan dini dan penanggulangan KLB. Data yang dikumpulkan adalah:

1) Data Kasus

a) Data kematian per desa/dusun per minggu

b) Pengamatan kasus malaria klinis per desa per minggu

c) Pengamatan kasus malaria positif dan spesiesnya per desa per minggu

d) Kelompok umur penderita (bayi, balita, anak sekolah dan dewasa) per desa per minggu.

e) Penyelidikan epidemiologi pada semua penderita malaria positif f) Penderita malaria diobati klinis dan radikal

g) Penderita yang masih positif setelah diberi pengobatan 2) Data Upaya Pemberantasan Vektor

a) Penyemprotan rumah

b) Larvaciding, dengan sasaran luas tempat perindukan yang akan diaplikasi c) Biological Control, atau penebaran ikan pemakan jentik

d) Pemolesan Kelambu

e) Survei Pendahuluan Source Reduction 3) Data Vektor

a) Pengamatan jentik per bulan b) Kepadatan nyamuk dewasa 4) Data Logistik

b) Bahan laboratorium c) Peralatan

5) Data Demografi

a) Jumlah penduduk per desa/dusun

b) Jumlah penduduk menurut golongan umur, pekerjaan dan lain-lain 6) Data Lingkungan

a) Data stratifikasi daerah, seperti: daerah persawahan, hutan, pantai dan lain- lain

b) Data curah hujan.

(b) Pengolahan dan Analisa Data

Pengolahan dan analisa data dilakukan dengan cara memindahkan data dari formulir yang satu ke formulir yang lain. Pengolah data tersebut dapat dilakukan dengan cara menjumlahkan, mengurangi, mengalikan dan membagi sesuai dengan kebutuhan “Pedoman Pengumpulan, Pengolahan dan Penyajian Data” yang telah ditetapkan dan berlaku bagi setiap tingkat/jenjang unit organisasi. Pengolahan data dalam rangka pemberantasan malaria mencakup beberapa hal, antara lain:

1) Kasus Malaria Positif atau Malaria Klinis

Laporan kasus malaria positif dan klinis dapat diolah dengan menggunakan rumus:

Rata-rata per bulan =

bulan 12 satu tahun selama kasus Jumlah

2) Data Daerah Malaria

a. Puskesmas dengan Pemeriksaan Klinis diperiksa Laboratorium

Data malaria positif diolah untuk mendapatkan Annual Parasite Insidence (API) masing-masing desa didapat dari Active Case Detection (ACD), Passive

Case Detection (PCD) dan dari kegiatan lainnya, dicari dengan rumus sebagai

berikut: API = Penduduk Jumlah satu tahun selama kasus Jumlah x 1000‰

b. Puskesmas dengan Pemeriksaan Laboratorium

Data malaria klinis diolah untuk menetapkan Annual Malaria Incidence=‰

(AMI) per desa berdasarkan catatan laporan selama setahun dari puskesmas.

AMI didapatkan dengan cara rumus sebagai berikut:

AMI = Penduduk Jumlah satu tahun selama kasus Jumlah x 1000‰

Setelah diketahui angka AMI dari setiap desa/puskesmas, kemudian tentukan desa-desa dengan API>50‰, dan selanjutnya dibuat juga table desa yang melakukan pemberantasan vektor yang mencakup: jumlah jiwa, jenis pemberantasan vektor, demikian juga dengan Parasite Rate (PR) dari hasil malariometrik survei evaluasi.

3) Pemetaan

Hasil pengolahan data yang ada selanjutnya dibuat data stratifikasi wilayah puskesmas dengan batas desa, kemudian daerah itu dibagi berdasarkan

reseptivitas, infrastrukur, data entomologi, pemberantasan vektor dan API per desa. API dikelompokkan sebagai berikut:

a. HCI (High Case Incidence) API > 5‰ penduduk b. MCI (Moderate Case Incidence) API < 5‰ penduduk c. LCI (Low Case Incidence) API < 1‰ penduduk 4) Pola Musim Penularan

a. Menentukan pola musim penularan, pola penularan penyakit yang bersifat musiman dapat dihitung dengan menghimpun data dengan unit waktu bulanan selama minimal lima tahun.

b. Langkah-langkah menentukan pola musim penularan perlu dilakukan pengumpulan, pengolahan dan penyajian data secara tertib, teratur dan terus menerus selama lima tahun terakhir.

5) Indeks Curah Hujan

Data yang dibutuhkan adalah jumlah curah hujan dari hari hujan setiap bulan. Data diambil dari beberapa tahun terakhir, minimal 3 tahun.

6) Catatan Serial Penyemprotan

Hasil penyemprotan rumah diolah dengan cara menata data sebagai berikut: nama desa yang disemprot, tahun mulai disemprot, nama racun serangga yang digunakan, jumlah rumah yang disemprot dan yang tidak disemprot, jumlah jiwa yang dilindungi. Hasil evaluasi malariometrik survei, penderita positif, PR nya dihitung masing-masing desa yang disemprot, waktu survei dilakukan.

(c) Pelaporan

Pelaporan data surveilans malaria dilakukan dengan alur sebagai berikut: a. Data awal diperoleh dari Puskesmas Pembantu, bidan dan kader

b. Data dari ketiga elemen tersebut diperoleh oleh Puskesmas

c. Kemudian data dari Puskesmas dan rumah sakit dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten.

d. Dari Dinas Kesehatan Kabupaten dilaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi bersama data dari rumah sakit di wilayah kerja Dinas Kesehatan Provinsi dan Balai Labkesda Provinsi.

e. Dari Dinas Kesehatan Propinsi kemudian dilaporkan ke Ditjen PPM&PLP Subdit Malaria.

(d) Visualisasi Data

Untuk memudahkan pengamatan, maka semua data disajikan atau divisualisasikan dalam bentuk yang mudah dipahami yaitu diubah dalam bentuk: tabel, grafik (garis berganda, batang, histogram, lingkaran), peta dan sebagainya. (e) Tindak Lanjut

Bila terjadi kecenderungan peningkatan penderita malaria, dilakukan upaya penanggulangan sebagai berikut:

1) Mass Fever Survey (MFS)

a) Pemeriksaan spesimen darah tersangka malaria pada semua penderita demam dan dilakukan pengobatan klinis atau pengobatan radikal terhadap semua penderita malaria positif.

b) Penyelidikan Epidemiologi (PE) dilakukan untuk mengetahui apakah kasus yang terjadi indigenous atau import serta untuk mengetahui sampai sejauh mana penyebaran kasus. PE dilakukan pada semua kasus malaria positif. 2) Pengamatan Vektor

Dilakukan pengamatan vektor untuk mengetahui jenis vektor yang sudah dikonfirmasi maupun suspek vektor, dan perilaku vektor.

3) Pemberantasan Vektor

Untuk menekan penularan malaria, dilakukan upaya pemberantasan vektor dengan berbagai metode yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

(f) Jejaring

1. Tingkat Kabupaten: Puskesmas, Rumah Sakit, Laboratorium, Kesehatan Lingkungan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM/NGO), Bappeda, DPRD, SLPV dan DEST.

2. Tingkat Propinsi: Rumah Sakit, Labkesda, Kesehatan Lingkungan, Dinas Kabupaten/Kota, DPRD, Bappeda, Universitas, SLPV, DEST, Surveilans/pengamatan.

3. Tingkat Pusat, Subdit Malaria, Kesehatan Lingkunga, Subdit Pengamatan Epidemiologi Penyakit, Pusdakes, BPP, Subdit Pengendalian vektor, Ditlabkes, Dit Promosi Kesehatan, NEST.

2.6. Landasan Teori

Penanggulangan malaria adalah salah satu program prioritas Dinas Kesehatan sebagai organisasi pemerintah dalam mewujudkan derajad kesehatan masyarakat

guna mencapai Indonesia Sehat 2010. Salah satu program penanggulangan malaria yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan melakukan kegiatan surveilans malaria. Kegitan surveilans terbagi menjadi 3 periode, yaitu: survelans periode kewaspadaan sebelum Kejadian Luar Biasa (KLB) atau survelans Periode Peringatan Dini (PPD), penanggulangan KLB dan pasca KLB. Dalam penelitian ini, survelans malaria yang diteliti adalah surveilans Periode Peringatan Dini (PPD), karena tidak semua wilayah pernah mengalami KLB malaria.

Langkah-langkah penanggulangan malaria dengan metode surveilans malaria terdiri atas: pengumpulan data (kasus, upaya pemberantasan vektor, logistik, demografi, data lingkungan), pengolahan data dan analisa data (kasus malaria positif atau klinis, daerah malaria, pemetaan, pola musim penularan, indeks curah hujan, catatan serial penyemprotan), pelaporan, visualisasi data dan tindak lanjut.

Dalam melakukan tindakan surveilans malaria, para petugas kesehatan sangat dipengaruhi oleh kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan perilaku kerja) dan imbalan yang diterima (imbalan finansial dan imbalan non finansial).

Menurut Gibson (1987), variabel kemampuan dan keterampilan merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja individu. Kelompok variabel organisasi terdiri dari variabel sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur dan desain pekerjaan. Variabel kemampuan dan ketrampilan merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja individu sedangkan variabel demografis mempunyai pengaruh yang tidak langsung.

Menurut Simamora (2002), pada umumnya komponen kompensasi dapat dibagi menjadi:

1. Kompensasi finansial langsung (finansial compensation)

2. Kompensasi finansial tidak langsung (indirect financial compensation)

Kompensasi finansial langsung (direct financial compensation) terdiri dari bayaran (pay) yang diperoleh seseorang dalam bentuk gaji, upah, bonus dan kompensasi. Kompensasi finansial tidak langsung (indirect financial compensation) yang disebut dengan tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi langsung”. Kompensasi non finansial (nonfinancial compensation) terdiri atas kepuasan kerja yang diperoleh seseorang dari pekerjaan itu sendiri, atau dari lingkungan psikologis di mana orang itu bekerja. Tipe kompensasi non finansial meliputi kepuasan yang didapat dari pelaksanaan tugas yang signifikan yang berhubungan dengan pekerjaan.

Menurut Wirawan (2009), Kinerja mempunyai hubungan kausal dengan kompetensi (competency atau ability). Kinerja merupakan fungsi dari kompetensi, sikap dan tindakan. Kompetensi melukiskan karakteristik pengetahuan, keterampilan, perilaku dan pengalaman untuk melakukan suatu pekerjaan atau peran serta tertentu secara efektif. Selanjutnya menurut Wirawan, upah merupakan tolok ukur kinerja karyawan, upah diberikan setelah karyawan menghasilkan kinerja tertentu. Harapan organisasi dikemukakan dalam bentuk deskripsi tugas (job description) jika seorang karyawan menghasilkan kinerja yang diharapkan manajemen, ia akan mendapat kompensasi tertentu. Dalam waktu tertentu ia akan mendapat kenaikan kompensasi

tertentu jika memenuhi kriteria kinerja yang ditetapkan manajemen organisasi. Bagi karyawan, upah menentukan standart dan kualitas hidupnya. Upah merupakan ukuran tenaga, pikiran, waktu, resiko kerja, dan kinerja yang ia berikan kepada majikannya. Upah juga mencerminkan kualitas dan kebahagiaan hidupnya dihari tua.

2.7. Kerangka Konsep

Berdasarkan landasan teori, maka peneliti merumuskan kerangka konsep penelitian sebagai berikut :

Gambar 2. Kerangka Konsep Kompetensi 1. Pengetahuan 2. Keterampilan 3. Perilaku Kerja Sistem Imbalan 1. Imbalan Finansial 2. Imbalan Non Finansial Kinerja Petugas P2PM Puskesmas dalam Kegiatan Surveilans :

1. Pengumpulan data

2. Pengolahan dan analisa data 3. Pelaporan

4. Visualisasi data 5. Tindak lanjut 6. Jejaring

Dokumen terkait