• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODE PENELITIAN

4.2. Analisis Univariat

4.2.1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kompetens

a. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan

Aspek yang diukur pada variabel pengetahuan meliputi urutan surveilans malaria, periode surveilans, upaya penemuan kasus, stratifikasi vektor, langkah pemberantasan vektor, pelaporan, prinsip jejaring dan pemeriksaan darah untuk pembuktian apakah seseorang yang telah dicurigai menderita, benar-benar menderita penyakit malaria.

Berdasarkan hasil penelitian telah disajikan distribusi frekuensi pengetahuan petugas P2PM Puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan seperti yang disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Petugas P2PM Malaria Puskesmas di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan Tahun 2010

Pengetahuan Jumlah Responden Persentase (%)

Baik Sedang Kurang 37 12 0 75,5 24,5 0,0 Jumlah 49 100,0

Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan petugas P2PM Malaria tentang surveilans malaria, tertinggi pada kategori baik, yaitu 37 responden (75,5%), sedangkan kategori pengetahuan kurang 0 responden (0,0%).

b. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Keterampilan

Beberapa aspek yang diukur dalam variabel keterampilan petugas P2PM puskesmas dalam melakukan surveilans malaria mencakup: rencana penanggulangan kasus dan vektor malaria berdasarkan data yang telah diperoleh, jenis kegiatan penanggulangan berdasarkan rasio efektif, pengobatan, penanggulangan dengan metode biological control, penentuan desa dengan angka malaria, usaha untuk memperoleh dukungan politik dan kemampuan petugas melakukan diagnosa penderita tanpa pemeriksaan laboratorium.

Hasil pengukuran terhadap keterampilan petugas P2PM Puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Keterampilan Petugas P2PM Puskesmas di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan Tahun 2010

Keterampilan Jumlah Responden Persentase (%)

Baik Sedang Kurang 3 38 8 6,1 77,6 16,3 Jumlah 49 100,0

Distribusi frekuensi keterampilan petugas P2PM puskesmas tentang surveilans malaria, tertinggi pada kategori sedang, yaitu 38 responden (77,6%), sedangkan frekuensi terendah pada kategori kurang 3 responden (6,1%). Dari berbagai variabel pengukuran keterampilan petugas, aspek kemampuan petugas untuk melakukan diagnosa penderita malaria tanpa bantuan pemeriksaan laboratorium memperoleh proporsi tertinggi, yaitu 98%. Hal ini disebabkan oleh aspek klinis pada penderita malaria tidak saja dapat dipahami oleh petugas surveilans yang berasal dari ahli kesehatan (SKM, MPH), namun juga dapat dipahami oleh petugas P2PM malaria yang berasal dari tenaga kesehatan lain seperti (perawat dan bidan), mengingat penyakit malaria merupakan penyakit yang umum sehingga tenaga kesehatan lain juga telah memperoleh pendidikan tentang malaria sewaktu dalam pendidikan.

c. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Kerja

Sebagai salah satu variabel yang dapat mempengaruhi kinerja, perilaku petugas P2PM juga diukur dengan memasukkan beberapa aspek, yaitu: tanggung jawab petugas terhadap tugasnya sebagai petugas P2PM malaria, kerjasama dengan dengan petugas petugas kesehatan yang lain, perilaku pencarian informasi kasus, dan perilaku petugas terhadap laporan kasus.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh ddistribusi frekuensi perilaku kerja petugas P2PM Puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan sebagaimana yang disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Kerja Petugas P2PM Puskesmas di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan Tahun 2010

Perilaku Kerja Jumlah Responden Persentase (%)

Baik Sedang Kurang 38 11 0 77,6 22,4 0,0 Jumlah 49 100,0

Dari Tabel diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi perilaku kerja petugas P2PM puskesmas dalam surveilans malaria, tertinggi pada kategori baik, yaitu 38 responden (77,6%), sedangkan frekuensi terendah pada kategori kurang, yaitu 0 responden (0,0%). Sebagian besar petugas P2PM puskesmas juga menyatakan selalu mengerjakan setiap tugas kegiatan surveilans, yaitu sebesar 82%, namun hanya 54% yang menyatakan menyelesaikan tugas tersebut sesuai waktu yang diberikan. 4.2.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sistem Imbalan Petugas

P2PM Puskesmas

a. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sistem Imbalan Finansial

Pengukuran pada variabel sistem imbalan finansial meliputi jumlah imbalan dalam bentuk uang yang diperoleh, insentif atas prestasi, fasilitas transportasi dalam pencarian kasus, tunjangan dari pemerintah daerah dan ada tidaknya bantuan dana dalam pelatihan-pelatihan surveilans yang diikuti oleh petugas P2PM puskesmas.

Distribusi frekuensi imbalan finansial petugas P2PM Puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Imbalan Finansial pada Petugas P2PM Puskesmas di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan Tahun 2010

Imbalan Finansial Jumlah Responden Persentase (%) Baik Sedang Kurang 9 13 27 18,4 26,5 55,1 Jumlah 49 100,0

Berdasarkan Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa petugas P2PM puskesmas yang menyatakan memperoleh imbalan finansial pada kategori baik sebanyak 9 orang (18,4%), menyatakan memperoleh imbalan pada kategori sedang sebanyak 13 orang (26,5%) dan kategori kurang sebanyak 27 responden (55,1%),

b. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sistem Imbalan non Finansial Sebagai bagian dari variabel yang mempengaruhi kinerja petugas P2PM puskesmas, pengukuran pada variabel sistem imbalan non finansial meliputi: pernah tidaknya mengikuti pelatihan tentang surveilans, promosi jabatan atas prestasinya dalam menjalankan tugas surveilans, kepuasan petugas atas berbagai fasilitas penunjang yang diperoleh dan bagaimana simpati rekan kerja terhadap beban kerja yang dialami oleh petugas atas tugasnya sebagai P2PM puskesmas.

Berdasarkan hasil penelitian, maka diperoleh distribusi frekuensi sistem imbalan non finansial petugas P2PM Puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan sebagaimana yang disajikan dalam Tabel 4.8.

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Imbalan Non Finansial Petugas P2PM Puskesmas di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan Tahun 2010

Imbalan Non Finansial Jumlah Responden Persentase (%) Baik Sedang Kurang 6 15 28 12,2 30,6 57,1 Jumlah 49 100,0

Distribusi frekuensi imbalan finansial petugas P2PM puskesmas tentang surveilans malaria, tertinggi pada kategori kurang, yaitu 28 responden (57,1%), sedangkan frekuensi terendah pada kategori baik, yaitu 6 responden (12,2%).

4.2.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kinerja Petugas P2PM Malaria Puskesmas

Pengukuran pada variabel kinerja dilakukan dengan mengukur kinerja petugas P2PM puskesmas sesuai dengan tahap-tahap kegiatan surveilans, yaitu pengumpulan data, pengolahan dan analisa data, visualisasi, tindak lanjut dan jejaring kerja. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil kinerja petugas P2PM puskesmas wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan sebagaimana yang disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kinerja Petugas P2PM Malaria Puskesmas di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan Tahun 2010

Kinerja Jumlah Responden Persentase (%)

Baik Sedang Kurang 16 25 8 32,7 51,0 16,3 Jumlah 49 100,0

Dari hasil penelitian tersebut diperoleh bahwa kinerja petugas P2PM puskesmas tentang surveilans malaria, tertinggi pada kategori sedang, yaitu 25

responden (51,0%), sedangkan frekuensi terendah pada kategori kurang, yaitu 8 responden (16,3%).

Dokumen terkait